Anda di halaman 1dari 7

BAB IX

ANALISA FLAVONOID DALAM TUMBUHAN OBAT

I. TUJUAN
Mahasiswa dapat mengisolasi dan mengidentifikasi kandungan flavonoid pada suatu
tumbuhan obat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Flavonoid adalah substansi yang berasal dari tumbuhan herbal. Flavonoid adalah
antioksidan yang potensial. Flavonoid terdapat pada buah, sayur, teh dan anggur merah.
Flavonoid terkenal mengandung :
1. Kadar rendah (<10 mg/kg) , yaitu kubis, wortel
2. Kadar agak tinggi (<50 mg/kg) , yaitu tomat, merica, kacang
3. Kadar tinggi (>50mg/kg), yaitu teh, daun seledri
Khasiatnya adalah mengurangi radikal bebas. Adapun cara kerjanya :
- mengurangi radikal bebas dengan bertindak sebagai agen
- mengurangi ion metal sehingga mengurangi kapasitas untuk menghasilkan radikal bebas
- menahan Vitamin E dan Betacarotene pada partikel LDL sehingga melindungi oksidasi dari
LDL (Soeharto, 2004).
Flavonoid adalah senyawa yang tersusun dari 15 atom karbon dan terdiri dari 2 cincin
benzen yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat membentuk cincin ketiga.
Flavonoid dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Flavonoid yang memiliki cincin ketiga berupa gugus piran. Flavonoid ini disebut flavan
atau fenilbenzopiran. Turunan flavan banyak digunakan sebagai astringen (turunan tanin).
2. Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus piron. Flavonoid ini disebut flavon
atau fenilbenzopiron. Turunan flavon adalah jenis flavonoid yang paling banyak memiliki
aktivitas farmakologi.
3. Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus pirilium. Flavonoid ini disebut
flavilium atau antosian. Turunan pirilium biasa digunakan sebagai pewarna alami.
Kerangka dasar karbon pada flavonoid merupakan kombinasi antara jalur sikhimat dan
jalur asetat-malonat yang merupakan dua jalur utama biosintesis cincin aromatik. Cincin
A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida (jalur asetat-malonat), yaitu
kondensasi tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari
rantai propan berasal dari jalur fenilpropanoid (jalur sikhimat) (Achmad, 1985).
Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol
yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi
(gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti
metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Disamping
itu dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung
menyebabkan flavonoid mudah larut dalam air. Senyawa-senyawa ini merupakan zat
warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan dalam
tumbuh-tumbuhan. Perkembangan pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid termasuk
salah satu kelompok senyawa aromatik yang termasuk polifenol dan mengandung
antioksidan.
Prinsip dari pemisahan (isolasi) adalah adanya perbedaan sifat fisik dan kimia dari
senyawa yaitu kecendrungan dari molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan),
kecenderungan molekul untuk menguap (keatsirian), kecenderungan molekul untuk
melekat pada permukaan serbuk labus (adsorpsi, penserapan) (Harborne, 1987).

III. ALAT DAN BAHAN


 ALAT
1. Spektrofotometer 6. Gelas ukur
2. Labu refluks 7. Cawan porselen
3. Pendingin balik 8. Chamber
4. Erlenmeyer 9. Pipa kapiler
5. Cuvet
 BAHAN
1. Kumis kucing 5. Plat silika gel GF 254
2. Aquadest 6. BAW 3: 1 : 1
3. Pelarut kloroform, heksana,
Etil asetat, dan metanol
4. Pereaksi geser Alcl3,HCl
IV. CARA KERJA
 EKSTRAKSI

Ditimbang 5 g simplisia kumis kucing

Dimasukkan dalam erlenmeyer 50 ml


Diekstraksi dengan 20 ml methanol, digojok selama 10
menit, dipisahkan sari melalui penyaringan (2x
meserasi)
Dibagi sari menjadi 2 bagian yang sama, dipekatkan
hingga 5-10 ml diatas penangas. Sari I digunakan
identifikasi flavonoid.dengan pereaksi geser,sari II
dihidrolisi dahulu

 HIDROLISIS

Sari II dihidrolisis ke dalam labu hidrolisis dan


ditambah HCL 2N, dipasang pendingin balik

Dilakukan hidrolisis selama 45 menit dengan


pemanasan air mendidih (100◦C)

Didinginkan hasil hidrolisis, tambah 5 ml aquadest


dalam corong pisah

Dilakukan partisi dengan etil asetat 3x masing-masing


5ml

Dikumpulkan fraksi etil asetat dan diuapkan ad 5-10


ml untuk penetapan pereaksi geser dengan metode
spektrofotometri.

 IDENTIFIKASI DENGAN KLT

Diaktifkan silica gel 254 nm dengan pemanasan

Dijenuhkan fase gerak didalam chamber

Dikeringkan dengan hairdryer, dimaukkan dalam


fase gerak
Diamati sampai mencapai batas elusi

Diangkat dari chamber lalu fase diam dikeringkan

Diamati pada sinar UV 254 nm

Disemprot dengan penampak bercak

Diamati warna bercak yang timbul

Hitung nilai Rf dan HRf nya

V. DATA PENGAMATAN

Bobot daun kumis kucing : 2,16 g

Fase gerak :

Butanol : Asam Asetat : Air (3 : 1 : 1)

Butanol : 3 / 5 x 8 ml = 4,8 ml

Asam Asetat : 1 / 5 x 8 ml = 1,6 ml

Air : 1 / 5 x 8 ml = 1,6 ml

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini melakukan analisa falvonoid dalam daun kumis kucing
sebagai sampel. Daun kumis kucing dikeringkan lalu ditimbang dan dimasukkan dalam
erlenmeyer lalu ditambahkan 20 ml metanol dan digojok selama 10 menit. Hal ini
dilakukan karena metanol merupakan pelarut polar yang dapat menarik senyawa
flavonoid dalam sampel secara maksimal.

Setelah itu larutan dipisahkan dengan bagian yang tidak larut sebanyak 2x agar
dapat terkumpul sari filtrat yang kemudian dipekatkan hingga 5-10 ml diatas penangas.
Sari II digunakan untuk identifikasi KLT sedangkan sari I digunakan untuk uji glikosida
dan uji flavonoid.

Pada uji glikosida didapatkan larutan berwarna hijau kekuningan yang menandakan
adanya kandungan glikosida dan pada uji reaksi flavonoid didapatkan larutan berwarna
hijau keputihan saat penambahan pb asetat 2 % dan warna kuning orange saat
penambahan Fecl3 2% munculnya warna-warna tersebut menandakan adanya kandungan
flavonoid dalam sampel.

Pada identifikasi KLT digunakan fase gerak BAW dikarenakan sifat sampel yang
non polar sehingga digunakan silika gel agar fase gerak dapat mencapai batas yang
ditentukan. Dalam uji KLT, pembanding yang digunakan adalah sari I. Hasil yang
didapatkan adalah Rf dan HRf sari I adalah 0,437 dan 43,7 sedangkan pada sari II adalah
0,525 dan 52,5. Warna bercaknya adalah ungu.

VII. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa analisa flavonoid dalam kumis kucing
dilakukan dengan cara ekstraksi dan hidrolisis sampel, lalu dilakukan uji glikosid dan
flavonoid. Dari hasil yang didapat sampel menunjukkan adanya kandungan flavonoid tetapi
pada uji KLT hasil yang didapat tidak sesuai dengan literatur.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A., 1985. Kimia Organik bahan Alam.Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan. Universitas Terbuka : Jakarta
Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB.
Soeharto, Iman. 2004. Pencegahan dan Penyembuhan Jantung. Jakarta : Gramedia

IX. LAMPIRAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FITOKIMIA

BAB IX

ANALISA FLAVONOID DALAM TUMBUHAN OBAT


DISUSUN OLEH :

QORRI AINUN NAIMAH A1162041

Anggota :

1. Hana Novi Kristanti A1162031


2. Nuzulul Berlianti N H A1162040
3. Weni Tyastuti A1162048

Semester Gasal

AKADEMI FARMASI NUSAPUTERA

SEMARANG

2017