Anda di halaman 1dari 8

Dasasr teori

Minyak Atsiri

2.4.1 Defenisi Minyak Atsiri

Minyak Atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenyawa padat
yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, kelarutan dalam pelarut organik dan keluratan
dalam air yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari
bunga.Minyak atsiri merupakan senyawa minyak yang berasal dari bahan tumbuhan dengan
beberapa sifat yaitu sangat mudah menguap bila dibiarkan diudara terbuka, memiliki bau khas
seperti tumbuhan aslinya, umumnya tidak berwarna tetapi memiliki warna gelap karena
mengalami oksidasi dan pendamaran. Karena sifatnya yang mudah menguap minyak atsiri sering
disebut sebagai minyak menguap atau minyak eteris. Minyak atsiri dikenal dengan beberapa nama
, yaitu :

a. Minyak menguap ( volatile oils )


Karena bila dibiarkan diudara terbuka mudah menguap tanpa meninggalkan bekas, juga karena
mengandung senyawa atau komponen yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih
yang berbeda.
b. Minyak essensial
Karena merupakan senyawa essential atau konstituen berbau dari tanaman penghasil.
c. Minyak eteris

2.4.2 Sifat Minyak Atsiri


a. Mudah menguap bila dibiarkan pada udara terbuka
b. Tidak larut dalam air
c. Larut dalam pelarut organik
d. Tidak berwarna, tetapi semakin lama menjadi gelap karena mengalami oksidasi dan pendamaran
e. Memiliki bau yang khas seperti pada tumbuhan aslinya

2.4.3 Metode Produksi (Pengambilan) Minyak Atsiri


Berdasarkan sifat tersebut diatas, minyak atsiri dapat dibuat dengan beberapa cara, yaitu
penyulingan, ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), ekstraksi dengan lemak
dingin (enfleurasi), ekstraksi dengan lemak panas (maserasi) dan pengepresan (pressing).
Ekstraksi minyak atsiri bisa dilakukan dengan berbagai cara, misal dengan destilasi, menggunakan
lemak (biasa digunakan untuk ekstraksi minyak atsiri dari bunga). Secara umum metode
pengambilan minyak atsiri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu cara mekanik dan cara
fisika-kimia.
 Cara Mekanik
Metode yang sering disebut expression ini merupakan cara cold pressing tidak ada panas
yang dibutuhkan pada cara ini. Prosesnya adalah penekanan/pemerasan (squeezing). Bahan dasar
yang bisa diambil minyaknya dengan pengepresan secara mekanik biasanya berupa biji-bijian atau
kacang-kacangan maupun buah-buahan (citrus oil). Beberapa buah yang mengandung citrus oil
diantaranya bergamot, grapefruit, lemon, lime, mandarin, orange, dan tangerine. Ada tiga cara
yang berbeda untuk memungut citrus oil :
1. Sponge, dulu dilakukan secara manual (dengan tangan). Daging buah dipisahkan, kulit
buah dan biji direndam dalam air panas. Setelah lebih elastis kemudian sponge/busa ditempelkan
pada kulit buah lalu diperas/ditekan. Minyak atsiri yang keluar akan terserap oleh sponge. Setelah
jenuh, dikumpulkan dengan cara memeras sponge.
2. Equelle a piquer, cara ini lebih hemat tenaga daripada sponge. Metode ini tidak lagi
dilakukan dengan cara manual tapi dengan alat yang yang diputar dan dilengkapi paku-paku pada
pinggirnya untuk menusuk oil cells pada kulit buah. Minyak atsiri dan pigmen dapat dikeluarkan
dari kulit buah, kemudian minyak atsirinya dapat dipisahkan.
3. Machine abrasion, hampir sama dengan cara 2. Mesin dapat melepaskan kulit buah dan
memasukkannya ke dalam centrifuge dengan menambahkan air. Pemisahan secara sentrifugal ini
berjalan sangat cepat, tetapi karena minyak atsiri bercampur dengan zat-zat lain, kemungkinan
dapat terjadi perubahan karena pengaruh enzim.
 Cara Kimia-fisika
1. Distilasi (Penyulingan)
Prinsipnya penyulingan destilasi merupakan suatu proses pemisahan komponen-komponen
suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap atau
berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut. Pada dasarnya terdapat
dua jenis penyulingan yaitu :
a. Hidrodestilasi adalah penyulingan suatu campuran yang berwujud cairan yang tidak saling
bercampur, hingga membentuk dua fasa atau dua lapisan. Proses ini dilakukan dengan bantuan air
maupun uap air. Hidrodestilasi memiliki 3 jenis metode berdasarkan cara penanganan bahan yang
diproses yaitu : destilasi air, destilasi uap dan air serta destilasi uap langsung.
b. Fraksinasi adalah penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna hingga hanya membentuk
satu lapisan. Proses ini dilakukan tanpa menggunakan uap air. Fraksinasi memiliki 3 jenis metode
yaitu kohobasi, rektifikasi dan destilasi fraksinasi.
2. Ekstraksi Pelarut, yang dapat berupa :
a. Maserasi
b. Enfleurage
c. Pelarut mudah menguap
d. Ekstraksi Hiperkritikal CO2

Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga
mengandung minyak atau lemak. Adapun cara ekstraksi ini bermacam–macam, yaitu rendering
(dry rendering dan wet rendering), mechanical expression dan solvent extraction.
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga
mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi Menurut pengerjaannya rendering
dibagi dalam dua cara yaitu: wet rendering dan dry rendering.
Dry Rendering merupakan cara rendering tanpa penambahan air selama proses berlangsung.
Pemanasan dilakukan pada suhu 2200F sampai 2300F (1050C-1100C). Ampas bahan yang telah
diambil minyaknya akan diendapkan pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang akan dihasilkan
akan dipisahkan dari ampas yang telah mengendapkan dan pengembilan minyak dilakukan pada
bagian atas ketel.
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan air selama berlangsungnya
proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel yang terbuka atau tertutup dengan menggunakan
temperatur yang tinggi serta tekanan 40 sampai 60 pound tekanan uap (40-60 psi) Penggunaan
temperatur rendah dalam proses wet rendering dilakukan jika diinginkan flavor netral dari minyak
atau lemak (Kataren,1986).
Beberapa macam metode Ekstraksi :
1. Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang sederhana yaitu dengan cara merendam sampel
dalam pelarut yang sesuai selama 3×5 hari.
Prinsip Maserasi :
Pelarut akan menembus ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, sehingga akan larut
karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel,
maka senyawa kimia yang terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Kecuali dinyatakan lain,
dilakukan dengan merendam 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat
kehalusan tertentu, dimasukkan kedalam bejana. Tambahkan pelarut sebanyak 70 bagian sebagai
penyari, tutup dan biarkan 3-5 hari pada tempat yang terlindung cahaya. Diaduk berulang- ulang
serta diperas, cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya, hingga didapatkan hasil maserasi
sbyk 100 bagian. Pindahkan kedalam bejana tertutup dan biarkan ditempat sejuk terlindung dari
cahaya selama 2 hari.
Keuntungan metoda maserasi :
Teknik pengerjaan dan alat yang digunakan sederhana serta dapat digunakan untuk
mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil.
2. Sokletasi

Alat Sokletasi
Sokletasi adalah metode penyarian secara berulang- ulang senyawa bahan alam dengan
menggunakan alat soklet. Sokletasi merupakan teknik penyarian dengan pelarut organik
menggunakan alat soklet. Pada cara ini pelarut dan sampel ditempatkan secara terpisah.
Prinsip Sokletasi :
Prinsipnya adalah penyarian yang dilakukan berulang-ulang sehingga penyarian lebih sempurna
dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyarian telah selesai maka pelarutnya dapat
diuapkan kembali dan sisanya berupa ekstrak yang mengandung komponen kimia tertentu.
Penyarian dihentikan bila pelarut yang turun melewati pipa kapiler tidak berwarna dan dapat
diperiksa dengan pereaksi yang cocok.
Keuntungan metode sokletasi :
– Sampel terekstraksi secar sempurna, karena dilakukan berulang kali dan kontinu.
– Pelarut yang digunakan tidak akan habis, karena selalu didinginkan dengan kondenser dan
dapat digunakan lagi setelah hasil isolasi dipisahkan.
– Proses ekstraksi lebih cepat (wkt nya singkat)
– Pelarut yang digunakan lebih sedikit.
Kelemahan Sokletasi :
– Tidak cocok untuk senyawa- senyawa yang tidak stabil terhadap panas (senyawa termobil),
contoh : Beta karoten.
Cara mengetahui ekstrak telah sempurna atau saat sokletasi harus dihentikan adlh :
– Pelarutnya sudah bening atau tidak berwarna lagi
– Jika pelarut bening, maka diuji dengan meneteskan setetes pelarut pada kaca arloji dan biarkan
menguap. Bila tidak ada lagi bercak noda, berarti sokletasi telah selesai.
– Untuk mengetahui senyawa hasil penyarian (kandungannya) , dapat dilakukan dengan tes
identifikasi dengan menggunakan beberapa pereaksi.
3. Perkolasi

Gambar 2. Metode Perkolasi

Merupakan teknik penyarian dengan pelarut organik yang sesuai secara lambat menggunakan
alat perkolator.
Prinsip Perkolator :
1. Dilakukan dg merendam 10 bagian sampel dg derajat kehalusan tertentu dg cairan penyari
sebyk 2,5- 5 bagian, perendaman sekurang-kurangnya selama 3 jam dalam bejana tertutup.
2. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dlm perkolator, sambil sesekali ditekan secara hati-
hati, tuang dg cairan penyari secukupnya hingga cairan penyari menetes (bahan harus terendam
cairan penyari).
3. Tutup perkolator biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes selam 1 ml/menit, tambahkan
berulang-ulang cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian perkolat.
4. Tutup dan biarkan selama 2 hari ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya.
5. Pada cara ini pelarut dialirkan melewati sampel sehingga penyarian lebih sempurna. Tapi
metoda ini membutuhkan pelarut yang relatif banyak.
4. Digestasi
Digestasi adalah proses penyarian yang sama seperti maserasi dengan menggunakan pemanasan
pada suhu 30-40oC. Metoda ini digunakan untuk simplisia yang tersari baik pada suhu biasa.
5. Dekokta
Proses penyarian dengan metoda ini hampir sama dengan infus, perbedaanya terletak pada
lamanya waktu pemanasan yang digunakan. Dekokta membutuhkan waktu pemanasan yang
lebih lama dibanding metoda infus, yaitu 30 menit dihitung setelah suhu mencapai 90oC. Metoda
ini jarang digunakan karena proses penyarian kurang sempurna dan tidak dapat digunakan untuk
mengekstraksi senyawa yang termolabil.
6. Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu
90oC selama 15 menit, kecuali dinyatakan lain, dilakukan dengan cara sebagai berikut : simplisia
dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkan kedalam panci dan ditambahkan air secukupnya,
panaskan diatas penangas air selama 15 menit, dihitung mulai suhu 90oC sambil sesekali diaduk,
serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga
diperoleh volume infus yang dikehendaki.
7. Fraksinasi
Fraksinasi merupakan teknik pemisahan atau pengelompokan kandungan kimia ekstrak
berdasarkan kepolaran. Pada proses fraksinasi digunakan dua pelarut yang tidak bercampur dan
memiliki tingkat kepolaran yang berbeda
Tujuan Fraksinasi :
Tujuan fraksinasi adalah memisahkan senyawa-senyawa kimia yang ada di dalam ekstrak
berdasarkan tingkat kepolarannya. Senyawa-senyawa yang bersifat non polar akan tertarik oleh
pelarut non polar seperti heksan & pertolium eter. Senyawa yg semipolar seperti golongan
terpenoid dan alkaloid akan tertarik oleh pelarut semi polar seperti etil asetat & DCM. Senyawa-
senyawa yang bersifat polar seperti golongan flavonoid dan glikosida akan tertarik oleh pelarut
polar seperti butanol dan etanol.
Destilasi
Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan perbedaan titik didik
atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi
terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan
kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi
menggunakan alat pemanas dan alat pendingin.
Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih
rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses
pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar condenser), sehingga
uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat
memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut.
2.3.1 Macam-Macam Destilasi

1. Distilasi Sederhana, prinsipnya memisahkan dua atau lebih komponen cairan berdasarkan
perbedaan titik didih yang jauh berbeda.
2. Distilasi Fraksionasi (Bertingkat), sama prinsipnya dengan distilasi sederhana, hanya
distilasi bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu
memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan.
3. Distilasi Azeotrop : memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen
yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat
memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Distilasi Kering : memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya.
Biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bata.
5. Distilasi Vakum: memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motede
yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm,
sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk
mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi (Van Winkel, 1967)

2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Destilasi

 Kelebihan Destilasi
1. Dapat memisahkan zat dengan perbedaan titik didih yang tinggi.
2. Produk yang dihasilkan benar-benar murni.
 Kekurangan Destilasi
1. Hanya dapat memisahkan zat yang memiliki perbedaan titik didih yang besar.
2. Biaya penggunaan alat ini relatif mahal.
Dasar teori

http://lukmanarifin5.blogspot.co.id/2013/05/ekstraksi-minyak-atsiri-daun-kayu-putih.html

Anonim1. 2013. Macam-Macam Distilasi. http://www.rajinbelajar.net. Diakses pada 20 Maret 2013.


Halaman : 1.
http://nafidyarokiji.blogspot.co.id/2015/10/macam-macam-metode-ekstraksi_14.html