Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indikator kesehatan suatu negara atau daerah diukur dengan skala :
1. Maternal mortality rate atau angka kematian ibu akibat langsung dari
kehamilan, persalinan nifas sampai 42 hari setelah melahirkan tanpa
memperhitungkan tuanya kehamilan
2. Infant mortality rate atau angka kematian bayi dibawah usia 1 tahun
3. Umur harapan hidup adalah suatu perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak
lahir yang dicapai oleh penduduk.
Semakin tinggi angka kematian ibu dan bayi maka akan semakin rendah
derajat kesehatan dan kesejahteraan suatu negara. Angka kematian ibu di semua
negara berkembang masih sangat tinggi demikian juga di Indonesia berkisar
antara 307 per 100.000 kelahiran hidup, yang tertinggi di NTB dan yang terendah
di daerah Istimewa Yogyakarta. Angka-angka ini merupakan problem dan
keperihatinan bagi semua negara karena dampak yang ditimbulkan akan sangat
berpengaruh terhadap ekonomi, politik dan kebijakan pembangunan. Pada
berbagai kesempatan pertemuan delegasi dari setiap megara di dunia telah di
sepakati upaya untuk menekan angka kematian ibu dan bayi dengan upaya “safe
mother-hood” yaitu program untuk menjaga dan menjamin keselamatan dan
kesehatan wanita selama hamil, bersalin, nifas dan wanita usia produktif. Untuk
mencegah kematian ibu dan menjaga kesehatan dan keselamatan ibu dengan 4
pilar safe mother-hood yaitu :
1. Keluarga berencana, dengan mengikuti keluarga berencana wanita akan
terhindar dari kehamilan yang tidak di inginkan dan kematian akibat
hamil, bersalin dan nifas
2. Antenatal care yaitu dengan pemeriksaan dan perawatan kehamilan yang
baik maka kelainan dan komplikasi kehamilan daoat di deteksi secara dini
dan dapat segera di atasi sehingga terhindar dari kematian ibu.

1
3. Persalinan bersih dan aman merupakan suatu uapaya yang dilakukan oleh
penolong persalinan untuk mencegah terjadinya infeksi intrapartum
maupun post partum yang ternyata merupakan penyebab kematian kedua
setelah pendarahan dan untuk keamanan sangat di anjurkan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan.
4. Pelayanan obstetri yaitu menyediakan pelayanan yang lengkap dan
berkualitas baik dari segi kualitas, sumber daya manusia (SDM) dan jenis
pelayanan kesehatan sehingga mampu mengatasi dan melakukan
pelayanan kasus gawat darurat di puskesmas dan rumah sakit. Safe
motherhood pada pilar 1 yaitu keluarga berencana (KB) meruoakan salah
satu cara yang tepat dan digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan
kesejahteraan keluarga khususnya wanita. Program KB pada awalnya
berorientasi pada tujuan pemerintah untuk menekan angka kelahiran,
menjarangkan dan menghentikan kehamilan. Untuk target pencapaian
program KB pada awal-awal tahun 70-an pelaksanaannya agak memaksa
peserta KB namun dengan berjalannya waktu serta meningkatnya
kesadaran masyarakat bahwa menjadi akseptor KB dapat meningkatkan
kualitas keluarga tersebut. Pemerintah dan produsen alat kontrasepsi selalu
meningkat kualitas dan jenis kontrasepsi yang disediakan sehingg
meningkatkan efektivitas alat kontrasepsi dan mengurangi seminim
mungkin efek samping yang di timbulkan dan hal itu berdampak bahwa
sekarang kontrasepsi sudah menjadi kebutuhan individu dan keluarga.

B. Rumusan Pembahasan
1. Pengertian kontrasepsi (KB)
2. Faktor yang mempengaruhi KB
3. Manfaat KB
4. Pengaruh KB terhadap kehidupan
5. Hubungan antropologi dengan keluarga berencana
6. Metode kontrasepsi

2
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian KB
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi KB
3. Untuk mengetahui manfaat KB
4. Untuk mengetahui pengaruh KB terhadap kehidupan
5. Untuk mengetahui antropologi dengan keluarga berencana
6. Untuk mengetahui metode kontrasepsi

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Keluarga Berencana


Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997:
keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk
menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang
memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol
waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan
jumlah anak dalam keluarga.
Di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun1999 dan
keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001, yang menyatakan bahwa sebagai
kewenangan bidang Keluarga Berencana diserahkan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah. Hal ini memeberikan konsekuensi logis terhadap pengadaan
alat dan obat kontrasepsi sebagai prasyarat kesinambungan program KB di daerah.
Untuk itu, program KB di daerah sepatutnya menjadi sebuah program prioritas
dan menjadi dasar dalam pengembangan program-program pembangunan lainnya,
mengingat program KB secara umum memiliki daya ungkit terhadap berbagai
sektor pembangunan nasional.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang No 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga
berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan
dengan memakai kontrasepsi.
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang
mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi
ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan
kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan
adanya perencanaan keluarga yang matang kehamilan merupakan suatu hal yang

4
memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk
mengakhiri kehamilan dengan aborsi.

B. Sejarah Dan Perkembangan Program Keluarga Berencana


Gerakan KB bermula dari kepeloporan beberapa tokoh di dalam dan luar
negri. Pda awal abad 19 di Inggris upaya KB timbul atas prakarsa sekelompok
orang yang menaruh perhatian pada masalah kesehatan ibu antara lain Maria
Stopes pada tahun 1880-1950 yang mengatur kehamilan kaum buruh di Inggris.
Margareth Sanger, tahun 1883-1966 merupakan pelopor KB modern di AS yang
telah mengembangkan tentang Promgram Birh Control, bermula pada tahun 1917
mendirikan Nasional Birth Control (NBC) dan pada tahun 1921 diadakan
American NBC conference I. Hasil konferensi tersebut yaitu didirikannya
American Birth Control League dan Margaret Sanger sebagai ketuanya.
Pada tahun 1952 diresmikan brdirinya international planned parenthood
federation (IPPF), dan sejak saat itu bedirilah perkumpulan-perkumpulan KB di
seluruh dunia termasuk di indonesia. Pelopor KB di indonesia, yaitu Dr sulianti
saroso pada tahun 1952 menganjurkan para ibu untuk membatasi kelahiran,
karena angka kelahiran bayi sangat tinggi. Sedangkan di DKI jakarta mulai
dirintis dibagian kebidanan dan kandungan FKUI/RSCM oleh Prof.Sarwono
Prawirohardjo.
Pada tanggal 23 desember 1957 PKBI diresmikan oleh dr. R. soeharto
sebagai ketua, beliau memberjuangkan terwujudnya keluarga sejahtera melalui
tiga macam usaha yaitu:
Pertama mengatur kehamilan/menjarangkan kehamilan, kedua, mengobati
kemandulan dan ketiga memberi nasehat perkawinan. Pada februari 1967 telah
dilaksanakan kongres pertama PKBI yang mengharapkan agar program KB
dicanangkan sebagai program pemerintah. Dengan demikian, maka pada
november 1968 berdirilah Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang
diawasi dan dibimbing oleh menteri negara kesejahtraan rakyat, merupakan
kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijaksanaan. Untuk selanjutnya
pada tahun 1970 pengelolaan program KB dikelola oleh suatu badan independent,

5
yaitu badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggantikan
LKBN, yang pertanggung jawabannya langsung kepada presiden RI.
Program KB di Indonesia mengalami perkembangan pesat, ditinjau dari
sudut, tujuan, ruang lingkup geografi, pendekatan, cara operasional, dan
dampaknya terhadap pencegahan kelahiran. Pada tahun 50-an dan 60-an tujuan
KB ialah menjarangkan kehamilan dan pasangan mandul mendapatkan anak,
masalah kependudukan tidak disinggung. Jumlah anak yang dianggap ideal
disinggung LKBN melalui logo KB yaitu 4 anak; 2 wanita dan 2 laki-laki. Di
dalam program pembangunan nasional tahap I (Pelita I, periode 1969/70-1973/74)
KB disatukan dengan program kesehatan. Target demografis cukup sederhana,
yaitu mencakup jumlah akseptor 3 juta dalam 5 tahun. Dengan asumsi 600-700
ribu kelahiran dapat divegah, khususnya di daerah yang padat penduduk yaitu
pulau Jawa dan Bali. Keberhasilan program KB pada Pelita I mendorong
pemerintah untuk meluaskan program ke 10 propinsi di Pulau Jawa, untuk itu
pada Pelita II sasaran dicanangkan menjangkau luar pulau Jawa dan Bali I. Pada
Pelita III program di perluas ke seluruh Indonesia, kelompok propinsi terakhir
disebut luar Jawa dan Bali II.
Sejak Pelita III dampak demografis dari program KB memperhatikan target
penurunan tingkat kelahiran kasar, yaitu dengan menetapkan target penurunan
50% dari 44 pada tahun 1971 menjadi 22 pada tahun 1990. Sedangkan pada Pelita
V Program KB Nasional mencanangkan gerakan KB Nasional, yaitu gerakan
masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan
NKKBS.
Kebijaksanaan pemerintah untuk pelayanan kontrasepsi adalah :
1) Perluasan jangkauan pelayanan kontrasepsi dengan cara menyediakan
sarana yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi dan merata.
2) Pembinaan terhadap mutu pelayanan kontrasepsi dan pengayoman medis.
3) Meningkatkan mutu pelayanan kontrasepsi agar sesuai dengan standar
pelayanan kesehatan, serta
4) Menimbulkan kemandirian masyrakat dalam mendapatkan pelayanan
kontrasepsi maupun dalam mengelola pelayanan kontrasepsi

6
Tahap selanjutnya program KB menjadi gerakan KB yang ditujukan
terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilandasi oleh
Undang-undang No 10 tahun 1992 tentang kependudukan dan keluarga sejahtra.
Ini berartiu bahwa tahapan yang akan dilaksanakan merupakan tahap pembinaan
yang semakain teknis dalam mewujudkan keluarga sejahtera yang merupakan
upaya untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan masing-masing keluarga.
Strategi dengan pendekatan kemasyrakatan dan wilayah paripurna yang bersifat
aktif dan offensif untuk gerakan KB yang makin mandiri. Dengan demikian
komitmen dari oemerintah dan tenaga kesehtan yang terkait dengan pelayanan
kontrasepsi menggunakan pendektan mutu dan peningkatan kualitas pelayanan
terhadap keluarga dan masyarakat. Pelayanan yang di berikan dan strategi yang
digunakan selalu berupaya memuaskan pelanggan sehingga sekarang program KB
bukan semata-mata kepentingan pemerintah melainkan sudah menjaadi kebutuhan
masyarakat. Masyrakat dan calon akseptor sudah lebih memahami keuntungan
dan manfaat penggunaan kontrasepsi. Sistem pelayanan yang diterapkan sekarang
adalah sistem cafetaria dimana msyarakat sudah mampu memilih sendiri cara
kontrasepsi apa yang terbaik dan cocok untuknya. Petugas kesehatan memberikan
KIE (Keluarga Informasi Edukasi) atau konseling dan pengambil keputusan
adalah pasangan suami istri.

C. Tujuan Keluarga Berencana


Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:
1. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan
anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama
serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
2. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah
lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini
memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.
3. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan
yang akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai

7
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk
keluarga yang bahagia dan berkualitas.
4. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil
Bahagia dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga
berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi
sandang, pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi.
5. Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi.
6. Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.

D. Manfaat Keluarga Berencana


1. Memungkinkan wanita untuk mengontrol kesuburan mereka sehingga
dapat memutuskan bila dan kapan mereka ingin hamil dan memiliki anak.
Wanita dapat mengambil jeda kehamilan selama sedikitnya dua tahun
setelah melahirkan, yang memberikan banyak manfaat bagi perempuan
dan bayi mereka.
2. Wanita yang hamil segera setelah melahirkan berisiko memiliki kehamilan
yang buruk. Mereka lebih mungkin menderita kondisi medis yang serius
atau meninggal selama kehamilan. Bayi mereka juga lebih cenderung
memiliki masalah kesehatan (misalnya lahir dengan berat badan rendah).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa secara global,
100.000 kematian ibu dapat dicegah setiap tahun, jika semua wanita yang
tidak ingin anak lagi mampu menghindari kehamilan. Kematian ini terjadi
sebagian besar di negara berkembang di mana cakupan kontrasepsi rendah.
3. Wanita lebih dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, mencari
pekerjaan dan meraih pendidikan ketika mereka menggunakan alat
kontrasepsi dan tidak berisiko hamil. Karena kegiatan ini umumnya
meningkatkan status perempuan dalam masyarakat, kontrasepsi secara
tidak langsung mempromosikan hak-hak dan status perempuan.
4. Memberikan manfaat kesehatan non-reproduksi. Metode kontrasepsi
hormonal gabungan (yaitu estrogen dan progesteron) dapat menurunkan
risiko kanker ovarium dan endometrium. Injeksi progesteron juga

8
melindungi terhadap kanker ini dan juga terhadap fibroid rahim.
Kontrasepsi implan dan sterilisasi wanita telah terbukti mengurangi risiko
penyakit radang panggul.
5. Mencegah efek kesehatan jiwa dari kehamilan yang tidak diinginkan dan
mengurangi aborsi.
6. Kemampuan untuk mengontrol kesuburan juga memungkinkan wanita
untuk lebih mengontrol aspek lain dari kehidupan mereka, misalnya
memutuskan kapan dan mengapa mereka menikah. Sejak kontrasepsi
tersedia secara luas pada 1970-an, pola perkawinan telah berubah. Wanita
sekarang menikah dan memiliki anak di usia yang lebih matang dan rata-
rata memiliki anak lebih sedikit. Perubahan demografis cenderung telah
mengurangi beban emosional dan ekonomi untuk membesarkan anak,
karena keluarga sekarang biasanya memiliki lebih banyak waktu untuk
mengumpulkan sumber daya keuangan sebelum kelahiran anak. Ukuran
keluarga yang lebih kecil juga berarti bahwa orang tua memiliki lebih
banyak waktu dan sumber daya yang diberikan per anak.

E. Strategi Pendekatan Program Keluarga Berencana (KB)


Strategi pendekatan dalam program keluarga berencana antara lain :
1. Pendekatan kemasyarakatan (community approach).
Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat
(kepedulian) yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.
2. Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach).
Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan
keluarga sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai kekuatan
yang sinergik dalam mencapai tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar.
3. Pendekatan integrative (integrative approach)
Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong dan
menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga dapat
menguntungkan dan memberi manfaat pada semua pihak.
4. Pendekatan kualitas (quality approach).

9
Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan
(provider) dan penerima pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi.
5. Pendekatan kemandirian (self rellant approach)
Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat
yang telah mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab dalam
pelaksanaan program KB nasional.
6. Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach).
Strategi tiga dimensi program kb sebagai pendekatan program kb nasional.
Strategi ini diterapkan atas dasar survei terhadap kecenderungan respon pasangan
usia subur (PUS) di Indonesia terhadap ajakan (KIE) untuk berkb.
Berdasarkan hasil survei tersebut respon pus terhadap KIE kb terbagi dalam 3
kelompok
1) 15% pus langsung merespon ya untuk berkb.
2) 15% - 55% pus merespon raguragu untuk berkb.
3) 30% pus merespon tidak untuk berkb.
Strategi 3 dimensi ini juga diterapkan untuk merespon kemendesakkannya
untuk scepatnya menurunkaj TFR dan membudayakan NKKBS sebagai
normaprogram KBN .
Selain itu, Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:
1. Strategi Dasar
 Meneguhkan kembali program di daerah
 Menjamin kesinambungan program
2. Strategi Operasional
 Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional2.
 Peningkatan kualitas dan prioritas program
 Penggalangan dan pemantapan komitmen
 Dukungan regulasi dan kebijakan
 Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

10
F. Metode Kontrasepsi
1. KB Suntik
Metode Keluarga Berencana ini dapat menghalangi ovulasi (masa subur),
mengubah lendir serviks (vagina) menjadi kental, menghambat sperma dan
menimbulkan perubahan pada rahim. Cara kerja KB suntik pun dapat mencegah
terjadinya pertemuan sel telur dengan sperma dan mengubah kecepatan
transportasi sel telur.
Suntikan Keluarga Berencana terbagi menjadi suntik perbulan atau suntikan
terpadu, contohnya dan suntikan per tiga bulan (suntikan progestin). Suntikan
progestin (Depo Provera atau Niisterat) atau suntikan yang diberikan tiap dua atau
tiga bulan sekali ini aman untuk ibu menyusui atau yang tidak boleh
menggunakan tambahan estrogen. Suntikan progestin lebih menyebabkan
perubahan seputar haid dan berat badan bertambah.
Suntikan perbulan atau suntikan terpadu, mengandung hormon progestin
dan estrogen. Jika Anda ingin siklus haid tetap teratur dapat menggunakan
kontrasepsi ini. Sayangnya, suntikan ini sulit diperolah dan biayanya mahal
dibandingkan suntikan progestin.
Suntikan terpadu memiliki efek samping yang sama dengan pil KB terpadu,
serta dilarang dipakai oleh ibu menyusui. Anda bisa menghentikan metode ini
kapan saja, namun baru bisa hamil satu tahun kemudian bahkan lebih, demikian
pula haid akan kembali normal setelah jangka waktu itu. Namun ada sebagian
perempuan yang mendapat haid serta hamil dalam waktu lebih cepat dari
itu.Selain menjadi kontrasepsi sementara yang paling baik, suntikan ini juga telah
mengurangi angka kegagalan kurang dari 0,1% per tahun.
Suntikan Keluarga Berencana tidak mengganggu kelancaran ASI, kecuali
Anda menggunakan suntikan terpadu. Alat kontrasepsi ini juga dapat melindungi
Anda dari anemia, dan memberikan perlindungan pada radang panggul. KB suntik
memiliki reaksi sangat cepat (kurang dari 24 jam), dapat digunakan perempuan di
atas 35 tahun, serta tidak menimbulkan ketergantungan, namun Anda harus rajin
kontrol setiap 1, 2 atau 3 bulan.

11
Kerugian penggunaan KB suntik ialah Anda akan mengalami gangguan
haid, dimana siklus haid bisa memendek atau memanjang, pendarahan banyak
atau sedikit, spotting, sampai tidak haid sama sekali. KB suntik pun tidak dapat
dihentikan sewaktu-waktu, naiknya berat badan, terlambatnya kembali kesuburan
setelah penghentian pemakaian, dan jika digunakan dalam jangka panjang dapat
terjadi perubahan pada lipid serum, menurunkan densitas tulang, serta keringnya
vagina yang dapat menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, dan jerawat.
2. Pil KB
Komposisi Pil KB Andalan berbentuk kemasan untuk dikonsumsi selama 28
hari. Terdiri dari 21 tablet pil berwarna kuning yang setiap tabletnya mengandung
0.15 mg Levonorgestrel (hormon Progestin) dan 0.03 mg Etinilestradiol (hormon
Estrogen) dan 7 tablet salut gula berwarna putih yang tidak mengandung hormon.
Mekanisme KerjaPil KB Andalan akan mencegah pelepasan sel telur yang
telah diproduksi oleh indung telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan.
Hormon yang terkandung dalam pil KB Andalan akan memperkental lendir leher
rahim sehingga mempersulit sel sperma masuk kedalam rahim. Hal ini berguna
untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pembuahan dan kehamilan. Selain itu,
Pil KB Andalan akan menebalkan dinding rahim, sehingga tidak akan siap untuk
kehamilan.
Kualitas Apabila digunakan secara rutin dan tepat waktu, Pil KB Andalan
99,7% ampuh mencegah kehamilan. Kualitas telah memenuhi standard
internasional , Membantu mencegah kehamilan di luar rahim, kanker indung telur,
kanker rahim, kista dan kanker payudara.
Hormon yang terkandung pada setiap pil merupakan perpaduan bahan yang
sangat baik, sehingga kandungan hormon dan komposisi zat disetiap pil adalah
sama. Hal ini tentu sangat berpengaruh untuk meminimalisasi kemungkinan efek
samping dan meningkatkan efektifitas kerja dari pil ini.
Keunikan Setiap produk tentu saja memiliki keunikan. Pil KB Andalan
memiliki juga memiliki keunikan, antara lain:
 Untuk Efek samping rendah
 Nyaman

12
 Menjaga siklus haid agar lebih teratur
 Menjaga kestabilan berat badan
 Menjaga kesehatan kulit
 Kandungan hormon rendah
 Kembali subur dengan cepat
Efek Samping Pada umumnya, efek samping yang mungkin terjadi bersifat
individual dan sementara dan terjadi di awal pemakaian seperti:
 Mual
 Sakit kepala ringan
 Pada masa 3 bulan pertama mungkin akan terjadi spotting diantara
masa haid
Pada umumnya, efek samping yang mungkin terjadi bersifat individual dan
sementara dan terjadi di awal pemakaian seperti:
 Pil KB Andalan diminum di hari pertama haid
 Pil KB Andalan harus diminum satu tablet setiap hari pada waktu
yang sama untuk mengurangi kemungkinan efek samping
 Pil KB Andalan tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit
kelamin dan HIV/AIDS
 Bila lupa minum 1 butir pil hormonal (berwarna kuning) maka harus
minum 2 butir pil hormonal segera setelah Anda mengingatnya
 Apabila lupa meminum 2 butir atau lebih pil hormonal (berwarna
kuning), maka dalam 7 hari gunakan kondom apabila melakukan
hubungan seksual atau hindari hubungan seksual selama 7 hari
 Apabila lupa meminum 1 butir pil pengingat (berwarna putih) maka
buang pil pengingat yang terlupakan .
3. IUD / AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Komposisi Batang plastik berbentuk T berukuran 3 cm dengan balutan
tembaga seluas kurang lebih 380 mm2. Mekanisme Kerja IUD Andalan akan
mencegah pelepasan sel telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan. Selain itu
mengurangi mobilitas sperma ag`r tidak dapat membuahi sel telur serta mencegah

13
sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding Rahim . Kualitas IUD
Andalan efektif mencegah kehamilan hingga 99,4% apabila dipasang sesuai
dengan prosedur oleh bidan atau dokter terlatih.
Keunikan :
 Sangat murah dan efisien karena cukup sekali pemakaian yang
dibantu oleh tenaga medis
 Pilihan kontrasepsi non hormonal jangka panjang yang minim efek
samping
 Efektif mencegah kehamilan selama 10 tahun
 Cepat mengembalikan kesuburan, sehingga dapat segera hamil jika
diinginkan
 Tidak mempengaruhi produksi dan kualitas ASI
 Efektif mencegah kehamilan ektopik
Secara umum, efek samping yang timbul tidak akan bersifat permanen. Efek
samping hanya akan bersifat sementara tergantung dari penerimaan tubuh
terhadap IUD. Efek samping yang bersifat sementara tersebut antara lain:

 Perubahan siklus haid pada 3 bulan pertama pemakaian


 Pembengkakan panggul bisa terjadi setelah terkena infeksi penyakit
kelamin
 Tidak memberikan perlindungan terhadap IMS dan HIV dan AIDS
Perhatian :
 Anda hanya perlu sekali dalam setahun untuk datang ke dokter atau
bidan untuk memeriksakan keberadaan IUD Anda
 Pemasangan IUD harus dilakukan oleh tenaga medis yang telah dilatih
 IUD dapat dipasang segera setelah melahirkan, setelah plasenta keluar
 Kapan saja bisa dipasang tidak harus sedang haid asalkan Anda tidak
sedang hamil
4. Implan

14
Implant adalah obat kontrasepsi yang berbentuk seperti tabung kecil, sebesar
korek api-lah kira-kira.Didalamnya terkandung hormon progesteron yang akan
dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Dosis
Norplant terdiri dari 6 kapsul silastik, dimana setiap kapsulnya berisi
levornorgestrel sebanyak 36 mg. Sedang Implanon terdiri 1 kapsul silastik yang
berisi etonogestrel sebanyak 68 mg, yang dilepas tiap hari kurang lebih 30
microgram/hari
Cara kerja Implant.
Dengan disusupkannya 6 kapsul/1 kapsul silastik implant di bawah kulit,
maka setiap hari dilepaskan secara tetap sejumlah leveonorgestrel ke dalam darah
melalui proses difusi dari kapsul-kapsul yang terbuat dari bahan silastik. Besar
kecilnya levonogestrel yang dilepas tergantung besar kecilnya permukaan kapsul
silastik dan ketebalan dari dinding kapsul tersebut.
Satu set Implant yang terdiri dari 6 kapsul dapat bekerja secara efektip
selama 5 tahun. Sedang Implanon yang terdiri dari 1 kapsul dapat bekerja secara
efektip selama 3 tahun.
Cara kerja dalam pencegahan kehamilan.
Dengan dilepaskannya hormon levonargestrel secara konstan dan kontinyu
maka cara kerja implant dalam mencegah kehamilan pada dasarnya terdiri atas 3
mekanisme dasar yaitu :
 Menghambat terjadinya ovulasi
 Menyebabkan endometrium tidak siap untuk nidasi
 Mempertebal lendir serviks
 Menipiskan lapisan endometrium.
Efektifitas sangat tinggi, kegagalannya teoritis 0,2%, dalam praktek 1 – 3%.
Keuntungan Implant :
 Tidak menekan produksi ASI
 Praktis, efektif
 Tidak ada faktor lupa
 Masa pakai panjang

15
 Membantu mencegah anaemia
 Khasiat kontrasepsi susuk berakhir segera setelah pengangkatan
 Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen.
Kekurangan Implant :
 Implant harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang
terlatih
 Petugas kesehatan harus dilatih khusus
 Implant mahal
 Implant sering mengubah pola haid. karena adanya hormon
progesterone yang terkandung di dalamnya, perdarahan ringan
diantara masa haid, juga timbul sakit kepala ringan. karena
mengandung hormone maka tentu saja akan berpengaruh pada
metabolism tubuh. Sama seperti halnya pil atau suntik, tidak jarang
pengguna implant yang tidak cocok akan mengalami masa menstruasi
yang berbeda-beda
 Susuk mungkin dapat terlihat dibawah kulit.
Sebelum tindakan pemasangan.
Perlu diberi konseling secara mantap untuk peserta KB mengingat pemkaian
kontrasepsi yang lama dan harga susuk yang mahal.
Pemasangan implant.
Pemasangan dilaksanakan pada bagian tubuh yang jarang bergerak.
Berdasarkan penelitian, lengan kiri merupakan tempat terbaik untuk pemasangan,
yang sebelumnya dilakukan anaestesi lokal.
Tahap Pasca tindakan.
 Peserta KB Susuk sebaiknya menjaga agar daerah sayatan tetap kering
minimal selama 3 hari untuk mempercepat penyembuhan dan
mengurangi kemungkinan infeksi.
 Lengan akseptor kadang-kadang terasa membengkak dan berwarna
kebiru-biruan. Hal tersebut biasanya akibat tindakan suntikan atau
pemasangan implant dan akan menghilang dalam 3 hari hingga 5 hari.

16
 Setelah 5 tahun implant atau 3 tahun untuk Implanon pemakaian,
implant dapat dilepas.
Kontraindikasi :
 Hamil atau diduga hamil
 Tumor
 Penyakit jantung, kelainan haid, darah tinggi, kencing manis
Efek samping.
Pada dasarnya keluhannya sama dengan kontrasepsi suntik yaitu :
 Gangguan haid
 Jerawat
 Perubahan libido
 Keputihan
 Peubahan berat badan
Bila terjadi hal-hal tersebut diatas konsultasikan kepada dokter anda untuk
memperoleh konseling dan penanggulangan.
5. Kontrasepsi Mantap Tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seorang perempuan secara permanen. Sterilisasi tuba bisa dilakukan
24-48 jam pasca melahirkan pada persalinan tanpa komplikasi dan bayi
diyakinkan sehat.
Kelebihan:
 Konseling mutlak diperlukan
 Tidak mempengaruhi proses menyusui
 Tidak mengganggu hubungan seks dan perubahan dalam fungsi
seksual
 Sangat efektif dan permanen
 Tindakan pembedahan yang aman dan sederhana
 Tidak ada efek samping
Kelemahan:
 Dapat menyesal di kemudian hari saat ingin memiliki anak lagi

17
 Rasa sakit atau tidak nyaman dalam jangka pendek setelah tindakan
 Harus dilakukan dojter terlatih atau dokter spesialis
 Harus dipertimbangkan dengan baik karena bersifat permanen (tidak
dapat dipulihkan kembali) kecuali dengan operasi rekanalisasi
6. Kontrasepsi Mantap Vasektomi
Sterilisasi berencana bisa dilakukan pada 6-8 minggu postpartum pada
pasangan yang benar-benar yakin dan bayi dalam keadaan sehat. Vasektomi
adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi prida dengan
jalan melakukan okusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma
terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.
Kelebihan:
 Sangat efektif dan permanen
 Tidak ada efek samping jangka panjang
 Konseling dan persetujuan mutlak diperlukan
Kelemahan:
Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat
tindakan, akibat reaksi anafilaksi yang disebabkan oleh penggunaan lidokain atau
manipulasi berlebihan terhadapa anyaman pembuluh darah di sekitar vasa
deferensia.
7. Ligasi tuba
Ligasi tuba adalah pemotongan dan pengikatan atau penyumbatan tuba
falopii (saluran telur dari ovarium ke rahim). Pada ligasi tuba dibuat sayatan pada
perut dan dilakukan pembiusan total. Ligasi tuba bisa dilakukan segera setelah
melahirkan atau dijadwalkan di kemudian hari. Sterilisasi pada wanita seringkali
dilakukan melalui laparoskopi. Selain pemotongan dan pengikatan,bisa juga
dilakukan kauterisasi (pemakaian arus listrik) untuk menutup saluran tuba.Untuk
menyumbat tuba bisa digunakan pita plastik dan klip berpegas. Pada penyumbatan
tuba,kesuburan akan lebih mudah kembali karena lebih sedikit terjadi kerusakan
jaringan.Teknik sterilisasi lainnya yang kadang digunakan pada wanita adalah
histerektomi (pengangkatan rahim) dan ooforektomi (pengangkatan
ovarium/indung telur).

18
G. Faktor-Faktor Yang Menghambat Pemakaian Alat Kontrasepsi
Selain memahami faktor yang mempengarui masyarakat menggunakan alat
kontrasepsi, disisi lain kita juga perlu memahami mengapa masyarakat masih
enggan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Beberapa factor yang menghambat
penggunaan alat kontrasepsi adaalah faktor sosial budaya, adat istiadat, agama,
pilihan jenis kelamin, pandangan nilai anak, pendidikan yang rendah, serta
ekonomi.
a) Faktor sosial budaya
Tidak dapat kita hindari bahwasanya faktor sosial budaya memegang
peranan penting dalam perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat untuk tidak
menggunakan alat kontrasepsi ternyata dipengarui oleh adat istiadat dan atau
kepercayaan dalam budaya tertentu. Misalkan saja: Senang banyak anak sebagai
aset. Mengawinkan anak pada usia muda untuk memperoleh keturunan.
Kurangnya pendidikan Ekonomi yang sulit(tidak punya uang) Pilihan jenis
kelamin(laki/perempuan) Contoh pada masyarakat bugis, harus ada anak
perempuan, sehingga jika belum memiliki anak perempuan,mereka mencoba terus
memiliki anak sampai mendapatkan anak perempuan.
b) Agama
Faktor yang kedua adalah faktor agama. Berkaitan dengan penggunaan alat
kontrasepsi, terdapat kelompok masyarakat agama yang menerima dan menolak
program tersebut. Dalam konteks ini tentunya sebagai tenaga kesehatan, kita perlu
memahami pandangan kepercayaan atau agama pada masyarakat yang menjadi
sasaran program KB. Tentunya kepercayaan agama bukanlah suatu yang dapat
kita paksakan, tetapi yang terpenting adalah kita memahaminya. Sebagai seorang
tenaga kesehatan yang memiliki tugas mensukseskan program ini, tentunya kita
menjadi paham bahwa kesuksesan suatu program kesehatan masyarakat tidak
hanya di pengarui oleh program itu sendiri, akan tetapi oleh faktor lain. Seperti
sosial budaya tersebut ditemukan oleh LIPSET dalam penelitiannya yang
menunjukkan bahwa pendapatan, pendidikan, dan status sosial merupakan factor
yang penting dalam partisipasi dalam program keluarga berencana (KB).

19
Dapat diambil beberapa kesimpulan yang amat berharga bagi para tenaga
Bidan yang menangani masalah KB.
 Tenaga kesehatan perlu menghormati hati nurani suami istri
 Tenaga kesehatan perlu semakin memanusiakan diri sendiri
 Tenaga kesehatan harus setia pada suara hatinya sendiri
 Tenaga kesehatan berpegang pada tujuan KB yang baik
 Tenaga kesehatan berpedoman pada perbuatan lahirlah KB yang baik

H. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di Indonesia


a. Sosial ekonomi
Tinggi rendahnya status social dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia
akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia.
Kemajuan program KB tidak bisa lepas dari tingkat ekonomi masyarakat karena
berkaitan erat dengan kemampuan untuk membeli alat kontrasepsi yang
digunakan. Contoh : keluarga dengan penghasilan cukup akan lebih mampu
mengikuti program KB dari pada keluarga yang tidak mampu, karena bagi
keluarga yang kurang mampu KB bukan merupakan kebutuhan pokok. Dengan
suksesnya program KB maka perekonomian suatau negara akan lebih baik karena
dengan anggota keluarga yang sedikit kebutuhan dapat lebih tercukupi dan
kesejahteraan dapat terjamin.
b. Budaya
Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode
kontrasepsi. Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat
mengenai berbagai metode, kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan
persepsi mengenai resiko kehamilan dan status wanita., Penyedia layanan harus
menyadari bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di
daerah mereka dan harus memantau perubahan –perubahan yang mungkin
mempengaruhi pemilihan metode.
c. Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan menggunakan
keluarga berencana tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah

20
memperlihatkan bahwa metode kalender lebih banyak digunakan oleh pasangan
yang lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa wanita yang berpendidikan
menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil
resiko yang terkait dengan sebagai metode kontrasepsi.
d. Agama
Di berbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien dalam
memilih metode. Sebagai contoh penganut katolik yang taat membatasi pemilihan
kontrasepsi mereka pada KB alami. Sebagai pemimpin islam pengklaim bahwa
sterilisasi dilarang sedangkan sebagian lainnya mengijinkan. Walaupun agama
islam tidak melarang metode kontrasepsi secara umum, para akseptor wanita
mungkin berpendapat bahwa pola perdarahan yang tidak teratur yang disebabkan
sebagian metode hormonal akan sangat menyulitkan mereka selama haid mereka
dilarang bersembahyang. Di sebagaian masyarakat, wanita hindu dilarang
mempersiapkan makanan selama haid sehingga pola haid yang tidak teratur dapat
menjadi masalah.
e. Status wanita
Status wanita dalam masyarakat mempengaruhi kemampuan mereka
memperoleh dan menggunakan berbagai metode kontrasepsi. Di daerah daerah
yang status wanitanya meningkat, sebagian wanita memiliki pemasukan yang
lebih besar untuk membayar metode-metode yang lebih mahal serta memiliki
lebih banyak suara dalam mengambil keputusan. Juga di daerah yang wanitanya
lebih dihargai, mungkin hanya dapat sedikit pembatasan dalam memperoleh
berbagai metode, misalnya peraturan yang mengharuskan persetujuan suami
sebelum layanan KB dapat diperoleh.

I. Dampak Program Keluarga Berencana (KB)


Program keluarga berencana memberikan dampak yaitu:
1. Penurunan angka kematian ibu dan anak
2. Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
3. Peningkatan kesejahteraan keluarga
4. Peningkatan derajat kesehatan

21
5. Peningkatan mutu dan layanan KB-KR
6. Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM
7. Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam
penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

J. Pengaruh Program Keluarga Berencana (KB)


Program Keluarga Berencana merupakan usaha langsung yang bertujuan
untuk mengurangi tingkat kelahiran melalui penggunaan alat kntrasepsi. Berhasil
atau tidaknya Pelaksaan Program Keluarga Berencana akan menetukan pula
berhasil atau tidaknya usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Pertambahan penduduk yang cepat, tidak seimbang dengan peningkatan produksi
akan mengakibatkan ketegangan – ketegangan sosial dengan segala akibat yang
luas.
1. Pengaruh positif Program KB
Dengan adanya program KB maka laju pertumbuhan penduduk dapat
ditekan untuk menghindari terjadinya peledakan penduduk yang luar biasa, karena
diperkirakan jika angka persentase kesetaraan jumlah penduduk yang ber-KB
dapat dinaikkan 1 % per tahun, maka diprediksikan jmlah penduduk Indonesia
pada tahun 2015 sekitar 237,8 juta jiwa, ini masih di bawah dari angka proyeksi
penduduk tahun 2015 yang diperkirakan sekitar 248 juta jiwa.
Dengan adanya kebijakan pemerintah unutk pengaturan laju pertumbuhan
penduduk dan pengaturan jumlah kelahiran di Indonesia merupakan bagian dari
kebijakan kependudukan nasional, yang dalam hal ini pelaksanaan program KB di
daerah pada era otonomi perlu ditentukan sasaran kinerja program untuk
mewujudkan keserasian kependudukan di berbagai bidang pembangunan. Dengan
terkendalinya jumlah penduduk, maka akan tercipta generasi yang berkualitas,
sehingga dapat meneruskan pembangunan Indonesia yang berkualiatas.
2. Pengaruh negatif Program KB
Selain mendatangkan pengaruh yang positif, program KB juga memiliki
pengruh yang kurang menguntungkan, ini dilihat dari semakin meningkatnya
partisipasi masyarakat dalam ber-KB, maka penggunaan metode KB berupa

22
penggunaan AKDR, implant, suntik KB, pil KB juga semakin meningkat, maka
biaya yang harus di keluarkan pemerintah untuk pengadaan alat – alat dan obat
untuk kontrasepsi di Indonesia dapat dikatakan cukup tinggi.
Menurut penelitian, dengan peggunaan metode untuk ber-KB maka dapat
mempercepat penuaan pada akseptornya, sehingga dapat dikatakan jumlah usia
lanjut akan semakin bertambah setiap tahunnya, sehingga biaya yang juga harus
dikeluarkan pemerintah untuk kesejahteraan para Usila juga meningkat.

K. Hubungan Antropologi Dengan Keluarga Berencana


Sistem Keluarga berencana belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh
masyarakat di Indonesia . Masih banyak masyarakat yang mengenyampingkan
KB akibat dari adanya mitos “Banyak Anak , Banyak Rejeki” . Dimana
sebenarnya pada zaman seperti sekarang ini yang terpenting bukanlah banyaknya
anak , tetapi bagaimana sebuah keluarga kecil memiliki anak-anak yang sehat dan
dapat mencukupi kebutuhannya sehingga menjadi anak-anak yang berkualitas
.Program KB berguna pula untuk membantu menciptakan suatu keluarga yang
sehat ,menjaga kesehatan ibu dan kesehatan anak itu sendiri.Keberhasilan
berjalannya program Keluarga Berencana kembali lagi kepada masyarakat itu
sendiri . Bagaimana masyarakat akan menjalankan Program ini dalam kehidupan
nyata.
Kepercayaan masyarakat desa tentang mitos “Banyak Anak Banyak Rejeki”
merupakan salah satu mitos yang harus diluruskan untuk mencapai program
Keluarga Berencana di Indonesia. Keadaan ekonomi keluarga yang melebihi dari
cukup dan dapat menafkahi keluarga secara penuh dikatakan boleh memiliki anak
lebih dari 2 , sedangkan keluarga yang kurang mampu harusnya bisa
menyesuaikan banyaknya anak dengan keadaan ekonomi mereka . Mitos “Banyak
Anak Banyak Rejeki” sudah tidak relevan lagi di zaman modern seperti sekarang
ini . Hal yang kini harus kita dan semua masyarakat pikirkan adalah bagaimana
anak bisa bersekolah setinggi mungkin , mencapi cita-cita mereka dan nantinya
dapat memberikan kehidupan yang layak pula bagi penerus mereka.

23
BAB III
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Penelitian


Penelitian karya ilmiah ini dilaksanakan di Kampung Sukamandi kecamatan
Neglasari yaitu tepatnya diwilayah kota Tangerang dengan waktu pelaksanaan
penelitian pada bulan Maret. Dalam pelaksanaannya metode penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan kuisioner berupa pertanyaan yang berhubungan
dengan judul karya ilmiah ini yaitu tentang KB. Adapun teknik pengumpulan data
yang digunakan pada penilitian ini yaitu dengan cara mengumpulkan data atau
sumber dari masyarakat setempat. Analisa data yang dilakukan yaitu dengan
menganalisis hasil data dan sumber yang penulis cari sehingga penulis dapat
menyimpulkan tentang faktor apa saja yang berhubungan dengan pemahaman
KB.
B. Karakteristik Responden
1. Umur
Umur Jumlah
15-25 tahun 4 orang
26-35 tahun 12 orang
36-45 tahun 10 orang
>45 tahun 4 orang
2. Pendidikan Responden
Pendidikan Jumlah
SD 10 orang
SMP 10 orang
SMA 7 orang
Perguruan Tinggi 3 orang
3. Jenis kontrsepsi
Kontrasepsi Jumlah
PIL 8 orang

24
Suntik 18 orang
Implan 2 orang
Cover T 2 orang
4. Jumlah Anak
Jumlah Anak Jumlah
1 Anak 7 orang
2 Anak 11 orang
>2 Anak 12 orang
5. Jarak Anak
Jarak Anak Jumlah
<4 tahun 20 orang
>4 tahun 10 orang

C. Pembahasan
1. Jenis kontrasepsi ibu pada desa Sukamandi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden
menggunakan alat kontrasepsi suntik sebanyak 35 orang (35,0%) dan responden
terkecil menggunakan alat kontrasepsi MOW/steril sebanyak 2 orang (2,0%).
Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma
(Suratun,dkk.2008). Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi hormonal yang berisi
komponen progesterone atau komponen progesterone dan estrogen yang diberikan
secara IM dalam pada Musculus Gluteus Maksimus di waktu tertentu (Rustama,
2003).
Manfaat KB suntik yaitu tidak perlu dilakukan setiap saat, tidak
meningkatkan resiko kanker payudara, kanker rahim, dan kanker serviks dan
menghindari nyeri menstruasi, pendarahan menstruasi berlebihan (termasuk
pendarahan yang disebabkan fibroid), premenstrual syndrome (PMS), dan
endometriosis (Hartanto, 2004). Banyak responden yang menggunakan
kontrasepsi suntik hal ini dikarenakan KB suntik efektif untuk mencegah

25
kehamilan hingga 99%, memberikan kenyamanan kepada pasangan suami istri,
karena dengan satu kali suntikan tidak perlu memikirkan kontrasepsi setiap hari.
Hasil penelitian didapatkan alasan wanita menggunakan KB suntik yaitu KB
suntik yaitu berjangka panjang sehingga ibu hanya perlu datang setiap 1 atau 3
bulan, tidak mengganggu hubungan seksual dan tidak mempengaruhi proses
menyusui (sangat cocok untuk ibu yang telah menyusui > 6 minggu).
KB suntik mempunyai efek samping yaitu mengalami gangguan haid seperti
siklus haid yang memendek atau memanjang, terjadi perdarahan yang sedikit
kadang juga banyak, perdarahan tidak teratur, tidak haid sama sekali atau
amenore, ibu sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus
kembali untuk jadwal suntikan berikutnya), tidak dapat dihentikan sewaktu-
waktu, harus menunggu sampai masa efektifnya habis (3 bulan) (Varney, 2007).

2. Alasan penggunaan kontrasepsi yang digunakan


Alasan menggunakan KB Jumlah presentase
Menjaga jarak kehamilan 5 18 %
Kemauan sendiri 1 5%
Mengatur jumlah anak 8 26%
Menghentikan kehamilan 1 4%
Mengurangi jumlah 2 10%
penduduk indonesia
Total 63 %
Tidak menggunakan kb 37%

3. Pengaruh pendidikan terhadap persepsi KB


Dari hasil penelitian yang kami temui dilapangan dapat disimpulkan bahwa
pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandang atau persepsi seseorang
terhadap KB (Keluarga Berencana), ibu-ibu yang tidak mendapatkan pengetahuan
tentang KB dibangku sekolah, mereka mendapatkan pengetahuan dari pengalaman
orang-orang terdekatnya terutama ibunya . Dan banyak ibu-ibu yang mempunyai
kepercayaan kuat terhadap budayanya seperti “banyak anak banyak rejeki”.

26
D. Keterbatasan Penelitian
Kendala yang peneliti dapatkan saat pelaksanaan penelitian adalah sebagian
dari responden merasa ketakutan saat dimintai partisipasinya untuk mengisi
kuisioner. Responden merasa takut karena kurangnya pengetahuan yang mereka
miliki, sehingga peniliti harus menjelaskan maksud dan tujuan dengan lebih jelas
tak jarang responden setelah diberikan penjelasan tetap merasakan takut karena
hal tersebut sehingga peniliti harus mencari responden yang lainnya.

27
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem Keluarga berencana di Indonesia belum sepenuhnya dipahami oleh
seluruh masyarakat di Indonesia.Masih banyak masyarakat yang
mengenyampingkan KB akibat dari adanya mitos “Banyak Anak , Banyak Rejeki”
semua ini juga dipengaruhi karna faktor pendidikan (pengetahuan tentang KB) .
banyak masyarakat mengetahui jika KB itu hanya usaha untuk menjarangkan atau
merencanakan jumlah anak. Di masyarakat banyak yang menggunakan KB
suntikan karena KB suntikan lebih praktis dan lebih aman.

B. Saran
Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hindari kontak langsung
dengan penderita kusta, memeriksakan diri apabila muncul tanda – tanda kusta.
Bila ditemukan sejak dini, kusta dapat disembuhkan dan tidak sampai
menimbulkan kecacatan pada tubuh. Dan juga, penyakit kusta bukanlah kutukan
atau guna-guna semacamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suratum, dkk. 2008. Pelayanan keluarga berencana dan pelayanan kontrasepsi.


Jakarta: Trans Info Medika

28
http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/07/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi.html

http://henisubekti.blogspot.co.id/2014/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-
program.html

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=14134

29