Anda di halaman 1dari 47

BAGIAN ILMU BEDAH LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN 21 FEBRUARI 2018


UNIVERSITAS PATTIMURA

RETENSI URIN ET CAUSA


SUSPEK BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA
DD SUSPEK STRICTURE URETHRAE

Disusun oleh:
Samuel Permana Ratuaman
(2017-84-036)

PEMBIMBING

Dr. Ninoy Mailoa, Sp.B

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. M. HAULUSSY
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yesus atas berkat dan
anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan refarat dengan
judul “Retensi Urin et Causa Suspek Benign Prostat Hyperplasia”. Laporan
kasus ini disusun guna memenuhi tugas sekaligus syarat mengikuti ujian
kepaniteraan klinik bagian ilmu bedah.
Penyusunan proposal ini dapat diselesaikan berkat adanya bantuan, bimbingan,

dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. dr. Ninoy Mailoa, Sp.B selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan

waktu, pikiran dan tenaga guna membantu penyelesaian proposal ini. .

2. Rekan-rekan Co-Ass sejawat yang turut membantu dan menyemangati penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari kata

sempurna, untuk itu saran dan masukan sangat penulis harapkan demi

kesempurnaan penulisan laporan kasus ini. Akhir kata semoga referat ini dapat

memberikan manfaat bagi semua pembacanya.

Ambon, 21 Februari 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Retensi urin adalah suatu ketidakmampuan untuk melakukan pengosongan Vesica

urinaria sepenuhnya. Retensi urin bisa terjadi secara akut atau kronis. Retensi urin

akut terjadi tiba-tiba dan berlangsung hanya dalam waktu singkat. Orang dengan

retensi urin akut tidak bisa buang air kecil sama sekali, meskipun Vesica urinaria

telah terisi penuh. Retensi urin akut dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa

sakit yang hebat, sehingga dapat menjadi kondisi medis yang berpotensi

mengancam jiwa dan memerlukan penanganan darurat segera.1

Retensi urin kronis merupakan suatu kondisi medis yang panjang. Orang dengan

retensi urin kronis mampu untuk buang air kecil secara teratur. Namun, pasien-

pasien tersebut tidak tahu bahwa tidak semua urin yang tertampung telah

dikeluarkan dari dari kandung kemihnya. Seringkali orang bahkan tidak sadar

bahwa mereka memiliki kondisi ini sampai mereka mengalami masalah lain, seperti

gangguan kencing, hilangnya kontrol kandung kemih, yang mengakibatkan

hilangnya urine atau infeksi saluran kemih (ISK), penyakit yang disebabkan oleh

bakteri berbahaya yang tumbuh di saluran kemih.1

Retensi urin lebih sering terjadi pada pria dan semakin meningkat seiring

bertambahnya usia. Pada pria berusia 40 sampai 83 tahun, kejadian retensi urin

terhadi sebanyak 5-7 per 1.000 pria. Untuk pria berusia 70-an, keseluruhan kejadian

meningkat menjadi 100 per 1.000 laki-laki. Pada pria berusia 80-an, kejadian

retensi urin akut adalah 300 per 1.000 laki-laki. Kasus retensi urin pada wanita

sangat jarang ditemukan dan sangat jarang dipublikasikan pada penelitian-

1
penelitian. Hal ini dikarenakan fokus penelitian mengenai retensi urin lebih sering

dikaitkan dengan kejadian prostat.2

Retensi urin dapat disebabkan oleh berbagai keadaan berikut yakni adanya

obstruksi Tractus urinarius (Benign Prostate Hyperplasia/BPH, Striktur Urethrae,

dll), kelemahan Mm. detrussor, gangguan persarafan dan penggunaan obat-obatan

tertententu yang dapat menekan fungsi saraf pada Vesica uriaria.3 Dalam laporan

kasus ini akan membahas kasus retensi urin dengan lebih mengaitkan pada keadaan

BPH dan Striktur Urethrae.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
 Nama : MM
 Umur : 63 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Agama : Islam
 Pendidikan : SMA
 Status perkawinan : Menikah
 Pekerjaan : Pensiunan PNS
 Tanggal pemeriksaan : 18 Desember 2017

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama: Pasien sulit buang air kecil.
Pasien masuk ke UGD dengan keluhan sulit buang air kecil (BAK) yang
dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. BAK terasa tidak puas, air seni keluar
tidak lancar dan menetes. Frekuensi kencing juga meningkat terutama
dimalam hari. Keluhan dirasakan bertambah buruk disertai adanya rasa
tidak nyaman diperut bawah yang dirasakan pasien seperti teregang.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya juga pernah mengalami riwayat sulit BAK 1 tahun yang
lalu, pada Oktober 2016. Pasien pernah di diagnosis menderita Benign
Prostat Hiperplasia (BPH). Riwayat pemasangan kateter berulang, terakhir
kateter foley sudah tidak bisa terpasang
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengaku tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang
sama dengan penderita.

3
4. Riwayat Pribadi dan Sosial
Pasien sehari-hari jarang melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga dan
lebih sering duduk. Pasien mempunya riwayat mengkonsumsi alkohol dan
menghisap rokok.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda Vital :
TD : 110/60 mmHg Tax: 36,8 oC
N : 106 x/menit, GCS: E4V5M6
RR : 24x/menit,
2. Status General :
 Kepala : Normocephali
 Mata : Anemia (-), ikterus (-), Refleks pupil +/+ isokor
 THT : Otorhea (-/-), rhinorhea (-), deviasi septum (-), T1/T2
 Mulut : Stomatitis (+), lidah kotor (+)
 Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
 Thorax :
Inspeksi : Dada datar, pengembangan dada simetris
Palpasi : nyeri tekan -/-
Perkusi : sonor
Auskultasi : - Cor: S1 S2 tunggal, regular, murmur (-)
-Po : vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/-
 Abdomen :
Inspeksi : Asimetris, Distensi (+) suprapubis, massa (-)
Auskultasi : Bising usus normal (12x/menit)
Palpasi : Massa (-), Hepar dan Lien tidak teraba, Defans muscular
(-), Distensi (+) pada suprapubic,
Perkusi : Redup pada regio suprapubic
 Genitalia : Dalam batas normal.
 Ektremitas : Akral hangat (+)

4
 Rectal Touche:
Inpeksi : terdapat lacerasi pada permukaan anus arah jam 12
Rectal Toucher: Teraba prostat menonjol dengan konsistensi kenyal,
permukaan licin, sulcus mediana masih teraba dan pole atas prostat
sedikit teraba.
3. Status lokalis
Abdomen :
Inspeksi : Asimetris, Distensi (+) suprapubis, massa (-)
Auskultasi : Bising usus normal (12x/menit)
Palpasi : Massa (-), Distensi (+) pada suprapubic,
Perkusi : Redup pada regio suprapubic

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG:
1. Darah Lengkap
 (19/12/2017):
WBC 5,7 (5-10)/ RBC 4,36 (3,5-5,5)/Hb 12,7 (P: 14-18)/Hct 36,0 (40-
52)/ PLT 15 (150-400)/ Lym 10,3 (20-40)/ Eusinofil 4,6 (1-3).
 (25/12/2017):
WBC 9,4 (5-10)/ RBC 3,47 (3,5-5,5)/Hb 9,9 (P: 14-18)/Hct 28,0 (40-52)/
PLT 180 (150-400)/ Lym 15,4 (20-40)/ Eusinofil 2,7 (1-3).
2. Darah Kimia
 (19/12/2017):
Glukosa Sewaktu 159 (<140)/ SGOT 74 (<33)/ SGPT 37 (<50)/ Ureum:
127 (10-50)/ Kreatinin: 4,8 (0,8-1,3)
 (21/12/2017)
Glukosa sewaktu 165 (<140)
 (22/12/2017)
Ureum 109 (10-50)/ Kreatinin 1,4
3. Pemeriksaan HIV (20/12/2017) : Non-reaktif
4. USG Abdomen (20/12/2017)
 Gambaran pembesaran prostat ukuran 5,2 x 5,5 x 3,6 cm

5
 Homogen, kista (-), nodul (-)
 Kesimpulan: BPH

E. DIAGNOSIS KERJA
Retensi Urin et Causa Suspek Benign Prostat Hyperplasia

F. DAGNOSIS BANDING
Suspek Striktur Urethrae

G. USULAN PEMERIKSAAN
 Uretrogram
 Pemeriksaan PSA
 USG Abdomen
 Biopsi Prostat

F. PLANNING THERAPY
 OP Sistotomi CITO oleh Dr.SpB
 Perbaiki keadaan umum : -
- IVFD RL 20 tetes per menit
- IV Ceftriakson ampul 1 g, 2 x 1

FOLLOW UP
Tanggal S O A P

19-12-2017  Regangan pada  TD : 110/90  Retensi  IVFD RL 20 TPM


H:1 perut bawah mmHg Urine ec  IV Ceftriaxone 2 x 1
berkurang pasca  N : 107x/menit Suspek gram/iv
pemasangan  S : 36,1’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
kateter  P : 20x/menit sukspek amp/iv
suprapubic.  SpO2: 95% Striktur  IV ketorolac 3 x 1
 Distensi Urethrae amp/iv
berkurang  Pantau pemasangan
 Defans muscular cateter suprapubic
(-) percobaan

6
 Urine :
1500cc/24 jam
 GCS : 15
(E4V5M6)

20-12-2017  Keadaan umum  TD : 100/70  Retensi  IVFD RL 20 TPM


H: 2 baik mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
 Pasien dapat tidur  N : 107 x/menit Suspek gram/iv
nyenyak semalam  S : 35,4’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Rasa nyeri pada  P : 18x/menit Suspek amp/iv
area pungsi  SpO2: 96 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
suprapubic  Nyeri tekan Urethrae amp/iv
suprapubis (+)  Pantau pemasangan
 Urine : cateter suprapubic
2800cc/24 jam
 GCS : 15
(E4V5M6)
21-12-2017  Pasien sulit tidur  TD : 130/60  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H:3  Nyeri masih mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
terasa  N : 99 x/menit Suspek gram/iv
 Demam (-)  S : 36,1 ’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 P : 28 x/menit Suspek amp/iv
 SpO2: 95 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
 Nyeri tekan Urethrae amp/iv
suprapubis (+),  CKD  Pantau pemasangan
inguinal dextra cateter suprapubic
(+), lumbar  Transfusi Trombosit
dextra (+)
 Distensi
abdomen (-)
 Urine :
2700cc/24 jam
 Ureum 127,7
mg/dl
 Kreatinin 4,8
mg/dl
 Trombosit
15x103/m2
GCS : 15
(E4V5M6)
22-12-2017  Keluhan nyeri  TD : 120/60  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H:4 mulai berkurang. mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
 Pasien kesulitan  N: 95 x/menit Suspek gram/iv
tidur.  S : 36,7 ’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Makan dan  P : 18 x/menit Suspek amp/iv
minum lancar  SpO2: 95 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
 Nyeri tekan Urethrae amp/iv
suprapubis (+),  CKD  Pantau pemasangan
inguinal dextra (-  DM cateter suprapubic
), lumbar dextra  Transfusi Trombosit
(-)  Metformin 2 x 500
 Distensi mg/tab
abdomen (-)

7
 Urine : 1900
cc/24 jam
 Ureum 109
mg/dl
 Kreatinin 1,4
mg/dl
 GDS 165 mg/dl
 Transfusi
trombosit 2 kolf
 GCS : 15
(E4V5M6)
23-12-2018  Nyeri di area  TD : 150/90  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H:5 sekitar pungsi mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
suprapubic  N: 103 x/menit Suspek gram/iv
 Sulit tidur  S : 36,6 ’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Pesien mengaku  P : 18 x/menit Suspek amp/iv
kemaren sudah di  SpO2: 96 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
transfuse 2  Nyeri tekan Urethrae amp/iv
kantung suprapubis (+),  CKD  Pantau pemasangan
inguinal dextra (-  DM cateter suprapubic
), lumbar dextra  Transfusi Trombosit
(-)  Metformin 2 x 500
 Distensi mg/tab
abdomen (-)
 Urine : 2100
cc/24 jam
 GCS : 15
(E4V5M6)
24-12-2017  Nyeri ringan di  TD : 160/90  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H:6 area sekitar mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
pungsi  N : 102 x/menit Suspek gram/iv
suprapubic  S : 36,6’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Sulit tidur  P : 20x/menit Suspek amp/iv
 SpO2: 96 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
 Nyeri tekan Urethrae amp/iv
suprapubis (+),  CKD  Pemasangan kembali
inguinal dextra (-  DM cateter suprapubic
), lumbar dextra percobaan, tunggu
(-) saat perut distensi.
 Distensi  Transfusi Trombosit
abdomen (-)  Metformin 2 x 500
 Urin sudah tidak mg/tab
mengalir lewat
pungsi
 Urine : 1500
cc/24 jam
GCS : 15
(E4V5M6)
25-12-2017  Tidur tidak  TD : 160/60  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H: 7 nyenyak. mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
 Pasien mengeluh  N : 105 x/menit Suspek gram/iv
demam semalam  S : 38,4’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Nyeri sekitar  P : 36 x/menit Suspek amp/iv
suprapubic

8
 Perut bawah  SpO2: 95 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
kembung sejak  Nyeri tekan Urethrae amp/iv
pagi dan urin suprapubis (+),  CKD  Pantau pemasangan
warna merah  Distensi  DM cateter suprapubic
abdomen (+)  ISK  Metformin 2 x 500
 Sudah transfuse mg/tab
4 kolf trombosit  Drips paracetamol 3
 Trombosit x 1g/iv
180x103/m2  Persiapan pra-OP,
 Urine : 1500 anjurkan pasien
cc/24 jam untuk puasa
 GCS : 15
(E4V5M6)
26-12-2017  Sulit tidur,  TD : 150/90  Retensi  IVFD RL 20 TPM
H: 8 ekspresi wajah mmHg Urine ec  Ceftriaxone 2 x 1
meringis  N : 145 x/menit Suspek gram/iv
 Perut kembung  S : 37,9’C BPH, dd  IV Ranitidin 2 x 1
 Urin warna merah  P : 44 x/menit Suspek amp/iv
 SpO2: 95 % Striktur  IV ketorolac 3 x 1
 Nyeri tekan Urethrae amp/iv
suprapubis (+),  CKD  Pantau
 Distensi  DM pemasangan
abdomen (+) ISK cateter suprapubic
 Perkusi redup  Metformin 2 x 500
suprapubic mg/tab
 Urine : 400 cc/24  Drips paracetamol
jam, warna 3 x 1g/iv
merah  Persiapan pra-OP,
anjurkan pasien
 GCS : 15
untuk puasa
(E4V5M6)
 Rencana masuk
OK jam 09.30
27-12-2017  Pasien bisa tidur  TD : 130/60  Post OP  IVFD RL 20 TPM
H: 9 nyenyak semalam mmHg Sistotomi ec  Ceftriaxone 2 x 1
H+1 Post  Perut sudah tidak  N : 95 x/menit Suspek gram/iv
kembung  S : 36,6’C Striktur  IV Ranitidin 2 x 1
OP  Urin warna  P : 28 x/menit Urethrae dd amp/iv
kuning tua.  SpO2: 95 % Suspek BPH  IV ketorolac 3 x 1
 Pasien post-OP  Nyeri tekan  CKD amp/iv
Sistotomi suprapubis (+)  DM  Pantau pemasangan
daerah cateter suprapubic
sistotomi  Metformin 2 x 500
 Distensi mg/tab
abdomen (-)
 Perkusi
timpani
 Urine : 500
cc/24 jam,
warna oranye
 GCS : 15
(E4V5M6)

9
28-12-2017  Pasien bisa tidur  TD : 120/60  Post OP  IVFD RL 20 TPM
H: 10 nyenyak semalam mmHg Sistotomi ec  Ceftriaxone 2 x 1
H+2 Post OP  Perut sudah tidak  N : 86 x/menit Suspek gram/iv
kembung  S : 37’C Striktur  IV Ranitidin 2 x 1
 Urin warna  P : 24 x/menit Urethrae dd amp/iv
kuning tua.  SpO2: 95 % Suspek BPH  IV ketorolac 3 x 1
 Pasien post-OP  Nyeri tekan  CKD amp/iv
Sistotomi hari ke suprapubis (+)  DM  Pantau pemasangan
1 daerah cateter suprapubic
sistotomi  Metformin 2 x 500
 Distensi mg/tab
abdomen (-)
 Perkusi
timpani
 Urine : 500
cc/24 jam,
warna oranye
 GCS : 15
(E4V5M6)
Pasien pulang tanggal
28-12-2017

Gambar 1. Hasil foto USG pasien MM abdomen dengan kesan pembesaran


prostat.

10
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi

Sistem urinaria atau disebut juga dengan sistem ekskretori adalah sistem organ

yang memproduksi, menyimpan dan mengalirkan urin. Pada manusia normal,

organ ini terdiri dari ginjal beserta sistem pelvikalises, ureter, buli-buli dan

uretra.3

1. Ginjal

Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga

retroperitoneal bagian atas. Bentuk menyerupai kacang, dengan sisi

cekungnya menghadap ke arah medial. Cekungan ini disebut hilus renalis

yang di dalamnya terdapat apeks pelvis renalis dan struktur lain yang

merawat ginjal yakni pembuluh darah, sistem limfatik dan sistem

saraf.Berat dan besar ginjal sangat bervariasi, hal ini tergantung pada jenis

kelamin, umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Dalam hal ini,

ginjal lelaki relatif lebih besar ukurannya daripada perempuan. Ukuran

rerata ginjal orang dewasa adalah 11,5 cm (panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5cm

(tebal). Beratnya bervariasi antara 120-170 gram, atau kurang lebih 0,4%

dari berat badan.Struktur ginjal dibagi menjadi 2 bagian, yaitu korteks dan

medula ginjal. Korteks ginjal terletak lebih superfisial dan di dalamnya

terdapat berjuta-juta nefron. Nefron merupakan unit fungsional terkecil

ginjal. 3

11
Medula ginjal yang terletak lebih profundus banyak terdapat duktuli atau

saluran kecil yang mengalirkan hasil ultrafiltrasi berupa urin. Nefron

terdiri atas glomerulus, tubulus kontortus proksimalis, tubulus kontortus

distalis dan duktus kolegentes. Darah yang membawa sisa hasil

metabolisme tubuh difiltrasi (disaring) di dalam glomerulus dan kemudian

setelah sampai di tubulus ginjal, beberapa zat yang masih diperlukan tubuh

mengalami reabsorbsi dan zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh

tubuh mengalami sekresi membentuk urin. Urin yang terbentuk di dalam

nefron disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalis ginjal untuk

kemudian disalurkan ke dalam ureter. Sistem pelvikalis ginjal terdiri atas

kaliks minor, infundibulum, kaliks mayor dan pelvis renalis. Mukosa

sistem pelvikalis terdiri atas epitel transisional dan dindingnya terdiri atas

otot polos yang mampu berkontraksi untuk mengalirkan urin sampai ke

ureter.3, 4

Suplai darah ke ginjal diperankan oleh arteri dan vena renalis. Arteri

renalis merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis dan vena

renalis yang bermuara langsung ke dalam vena kava inferior. Vena dan

arteri renalis keduanya membentuk pedikel ginjal. Arteri renalis memasuki

ginjal dan vena keluar dari ginjal di dalam area yang disebut hilus renalis.

Arteri renalis bercabang menjadi arteri interlobaris, yang berjalan di dalam

kolumna Bertini (diantara piramida renalis), kemudian membelok

membentuk busur mengikuti basis piramida sebagai arteri arkuata, dan

selanjutnya menuju korteks sebagai arteri lobularis. Arteri ini bercabang

12
kecil menuju ke glomeruli sebagai arteri afferen dan dari glomeruli keluar

arteri eferen yang menuju ke tubulus ginjal. Sistem arteri ginjal adalah end

arteries, yaitu arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang

dari arteri lain.3, 4

Ginjal mendapatkan persarafan melalui pleksus renalis, yang seratnya

berjalan bersamaan dengan arteri renalis. Input dari sistem simpatetis

menyebabkan vasokontriksi yang menghambat aliran darah ke ginjal.

Impuls sensorik dari ginjal berjalan menuju korda spinalis segmen T10-

11. Fungsi ginjal diantaranya (1) mengkontrol sekresi hormon aldosteron

dan ADH (Anti Diuretic Hormone) yang berperan dalam mengatur jumlah

cairan tubuh, (2) mengatur metabolisme ion kalsium dan vitamin D, (3)

menghasilkan beberapa hormon antara lain: eritropoetin yang berperan

dalam pembentukan sel darah merah, renin yang berperan dalam mengatur

tekanan darah, serta hormon prostaglandin yang berguna dalam berbagai

mekanisme tubuh.3, 4, 5

Gambar 2. Struktur anatomi permukaan ginjal dari anterior.5

13
Gambar 3. Potongan coronal menunjukan vascularisasi ginjal.5

2. Ureter

Ureter adalah organ berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan

urin dari pielum (pelvis) ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang dewasa

panjangnya lebih kurang 25-30 cm, dan diameternya 3-4 mm. Dindingnya

terdiri atas (1) mukosa yang dilapisi oleh sel transisional, (2) otot polos

sirkuler, dan (3) otot polos logitudinal. Kontraksi dan relaksasi kedua otot

itulah yang memungkinkan terjadinya gerakan peristaltik ureter guna

mengalirkan urin ke dalam buli-buli. Ureter membentang dari pielum

hingga buli-buli, dan secara anatomis terdapat beberapa tempat yang

ukuran diameternya relatif lebih sempit daripada tempat lain. Tempat

penyempitan itu antara lain adalah (1) pada perbatasan antara pelvis renalis

dan ureter atau pelvicureter junction, (2) tempat pada saat ureter menyilang

arteri iliaka di rongga pelvis, dan (3) pada saat ureter masuk ke buli-buli.

Ureter masuk ke buli-buli dalam posisi miring dan berada di dalam otot

14
buli-buli (intramural); keadaan ini mencegah terjadinya aliran balik urin

dari buli-buli ke ureter pada saat buli-buli berkontraksi.Persarafan

simpatetik ureter terdiri dari serabut preganglionik dari segmen spinal

T10-L2; serabut postganglionik berasal dari coeliak, aortikorenal,

mesentrika superior dan pleksus otonomik hipogastrik inferior.

Parasimpatetik terdiri dari serabut vagal melalui coeliac ke ureter sebelah

atas; sedangkan serabut dari S2-4 ke ureter bawah.3

Gambar 4. Lokasi penyempitan pada ureter.5

3. Vesica urinaria

Buli-buli atau vesika urinaria adalah organ berongga yang terdiri atas 3

lapisan otot detrusor yang saling beranyaman, yakni (1) terletak paling

dalam adalah otot longitudinal, (2) di tengah merupakan otot sirkuler, dan

(3) paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas

sel transisional yang sama seperti pada mukosa pelvis renalis, ureter dan

uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara ureter dan meatus uretra

internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli-buli.Buli-

buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu (1) permukaan superior yang

15
berbatasan dengan rongga peritoneum, (2) dua permukaan inferiolateral,

dan (3) permukaan posterior. Permukaan superior merupakan lokus

minoris (daerah terlemah) dinding buli-buli.Pada saat kosong, buli-buli

terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat penuh berada di atas

simfisis sehingga dapat di palpasi dan di perksusi. Buli-buli mendapatkan

vaskularisasi dari cabang arteria iliaka interna yakni arteria vesikalis

superior, yang menyilang di depan ureter. Sistem vena dari buli-buli

bermuara ke dalam vena iliaka interna.3, 4

Gambar 5. Vesica urinaria dari posterior.4

16
Gambar 6. Struktur anatomi Cavum vesical urinaria.4

4. Urethra
Secara anatomis terbagi 2 bagian, yaitu uretra posterior dan uretra anterior.

Uretra dilengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada

perbatasan buli-buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak

pada per batasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri

atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem simpatetik sehingga pada saat

buli-buli penuh sfingter terbuka.Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot

bergaris yang dipersarafi oleh sistem somatik. 3, 4

Aktifitas sfingter uretra eksterna ini dapat diperintah sesuai dengan

keinginan seseorang. Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5 cm,

sedangkan uretra pria dewasa kurang lebih 23-25 cm. Uretra posterior pada

pria terdiri atas 1) uretra pars prostatika, yakni bagian uretra yang di

lingkupi oleh kelenjar prostat, dan 2) uretra pars membranasea. Uretra

17
anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum

penis. Uretra anterior terdiri atas (1) pars bulbosa, (2) pars pendularis, (3)

fossa navikularis, dan (4) meatus uretra eksterna. Panjang uretra wanita

lebih kurang 4 cm dengan diameter 8 mm. Berada dibawah simfisis pubis

dan bermuara di sebelah anterior vagina. Kurang lebih sepertiga medial

uretra, terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris.

Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot levator ani berfungsi

mempertahankan agar urin tetap berada di dalam buli-buli pada saat

perasaan ingin miksi.3

B. Fisiologi Berkemih

Seiring dengan pengisian kandung kemih, tampak tumpang tindih kurva

peningkatan kontraksi miksi, seperti yang ditunjukkan oleh kurva berbentuk

runcing terputus-putus. Kontraksi ini dihasilkan dari refleks regang yang dipicu

oleh reseptor regang sensorik di dalam dinding kandung kemih, terutama oleh

reseptor di uretra posterior ketika daerah ini mulai terisi dengan urine pada

tekanan kandung kemih yang lebih tinggi. Sinyal sensorik dari reseptor regang

kandung kemih dikirimkan ke segmen sakralis dari medula spinalis melalui

nervus pelvikus, dan kemudian dikembalikan secara refleks ke kandung kemih

melalui serat saraf parasimpatis dengan menggunakan persarafan yang sama.

Bila kandung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi miksi ini biasanya akan

berelaksasi secara spontan dalam waktu kurang dari semenit, otot detrusor

berhenti berkontraksi, dan tekanan turun kembali ke nilai dasar. Ketika kandung

18
kemih terus terisi, refleks miksi menjadi semakin sering dan menyebabkan

kontraksi otot detrusor yang lebih kuat. Sekali refleks miksi dimulai, refleks ini

bersifat regenerasi sendiri." Artinya, kontraksi awal kandung kemih akan

mengaktifkan reseptor regang yang menyebabkan peningkatan impuls sensorik

yang lebih banyak dari kandung kemih dan uretra posterior, sehingga

menyebabkan peningkatan refleks kontraksi kandung kemih selanjutnya; jadi,

siklus ini akan berulang terus-menerus sampai kandung kemih mencapai derajat

kontraksi yang cukup kuat. Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari

semenit, refleks yang beregenerasi sendiri ini mulai kelelahan dan siklus

regeneratif pada refleks miksi menjadi terhenti, memungkinkan kandung kemih

berelaksasi. Jadi, refleks miksi merupakan siklus yang lengkar, yang terdiri

atas:6

a. kenaikan tekanan secara cepat dan progresif,

b. periode tekanan menetap,

c. kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal.

Bila refleks miksi yang telah terjadi tidak mampu mengosongkan kandung

kemih, persarafan pada refleks ini biasanya akan tetap dalam keadaan terinhibisi

selama beberapa menit hingga 1 jam atau lebih, sebelum terjadi refleks miksi

berikutnya. Bila kandung kemih terus-menerus diisi, akan terjadi refleks miksi

yang semakin sering dan semakin kuat. 6

Bila refleks miksi sudah cukup kuat, akan memicu refleks lain yang berjalan

melalui nervus pudendus ke sfingter eksterna untuk menghambatnya. Jika

inhibisi ini lebih kuat di dalam otak daripada sinyal konstriktor volunter ke

19
sfingter eksterna, maka akan terjadi pengeluaran urine. Jika tidak, pengeluaran

urine tidak akan terjadi hingga kandung kemih terus terisi dan refleks miksi

menjadi lebih kuat lagi.6

C. Retensi Urin

1. Definisi

Retensi urin didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam

mengosongkan urin didalam Vesica urinaria secara komplit. Adanya

penyumbatan pada Urethrae, kontraksi Vesica urinaria yang tidak adekuat

atau gangguan koordinasi keduanya dapat menyebabkan retensi urin.3

2. Etiologi

Terdapat banyak sekali penyakit ataupun keadaan-keadaan yang dapat

menyebabkan terjadinya retensi urin. Penyebab-penyebab tersebut dibagi

menjadi empat kelompok berdasarkan perbedaan mekanisme terjadinya

retensi yakni: 1

 Obstruksi

Obstruksi uretra dapat menyebabkan retensi urin dengan menghalangi

aliran urin normal keluar dari tubuh. Keadaan-keadaan yang dapat

menyebabkan obstruksi antara lain BPH, striktur urethrae, batu saluran

kemih, sistokel, rektokel, konstipasi, dan tumor dan kanker tertentu dapat

menyebabkan penyumbatan.

20
 Gangguan Saraf

Retensi urin bisa terjadi akibat adanya masalah pada saraf yang

mengendalikan Vesica urinaria dan sfingternya. Banyak kejadian atau

kondisinya bisa mengganggu sinyal syaraf antara otak dan Vesica

urinaria. Jika terjadi kerusakan pada saraf, otak mungkin tidak mendapat

sinyal bahwa Vesica urinaria sudah penuh. Bahkan bila seseorang

memiliki Vesica urinaria yang penuh, otot kandung kemih yang memeras

urin keluar mungkin tidak mendapatkan sinyal untuk mendorong urin

keluar atau sfingter mungkin tidak mendapatkan sinyal untuk melakukan

relaksasi.1, 3

Banyak pasien memiliki retensi urin tepat setelah operasi. Selama

operasi, anestesi sering digunakan untuk memblokir sinyal nyeri pada

saraf, dan cairan diberikan secara intravena untuk mengkompensasi

kemungkinan kehilangan darah. Kombinasi anestesi dan cairan intravena

(IV) dapat menyebabkan kandung kemih penuh dengan fungsi saraf yang

terganggu, menyebabkan retensi urin. Fungsi saraf kandung kemih

normal biasanya kembali setelah anestesi habis. Pasien kemudian akan

bisa mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.1, 3

 Medikasi

Berbagai kelas obat dapat menyebabkan retensi urin dengan mengganggu

sinyal saraf ke kandung kemih dan prostat. Obat-obatan ini termasuk

antihistamin untuk mengobati alergi, antikolinergik / antispasmodik

untuk mengobati kram perut, kejang otot, dan inkontinensia urin -

21
hyoscyamine (Levbid), antidepresan trisiklik untuk mengobati

kecemasan dan depresi - amitriptyline (Elavil) Obat lain yang terkait

dengan retensi urin meliputi :Dekongestan dan nifedipine (Procardia),

obat untuk mengobati tekanan darah tinggi dan nyeri dada.2, 3

 Kelemahan Mm. detrussor

Mm. detrussor merupakan struktur jaringan otot polos yang membentuk

dinding dari Vesica urinaria. Selain itu fungsi kontraksi otot ini juga turut

membantu dalam proses pengosongan urin. Kelemahan yang terjadi pada

otot ini dapat menyebabkan retensi urin.3

Gambar 7. Penyebab retensi urin.3

22
3. Manifestasi

Retensi urin dapat memunculkan berbagai gejala baik dari masalah

penyimpanan (storage) atau pun masalah proses pengeluaran urin (voiding).

Manifestasi tersebut dibagi menjadi akut dan kronis, yakni pada keadaan

akut :3, 7

 Ketidakmampuan untuk buang air kecil.

 Kebutuhan mendesak untuk buang air kecil.

 Rasa sakit atau ketidaknyamanan di perut bagian bawah.

 Kembung pada perut bagian bawah

Gejala retensi urin kronis yakni:3, 7

 Buang air kecil kencing delapan atau lebih kali sehari.

 Aliran urin yang lemah atau terganggu.

 Perlu waktu yang lama saat memulai berkemih.

 Tidak puas saat berkemih

 Frekuensi kecing lebih dari 8 kali dalam sehari

 Ketidaknyamanan ringan dan konstan di perut bagian bawah. Beberapa

orang dengan retensi urin kronis sering tidak memiliki gejala yang berat,

yang dapat menyebabkan mereka mencari perawatan medis. Orang yang

tidak sadar bahwa mereka memiliki retensi urin kronis memiliki

kesempatan lebih tinggi untuk terkena komplikasi seperti ISK, batu

saluran kemih dll.3, 7

23
D. Benign Prostat Hyperplasia

1. Definisi

Hiperplasia prostat jinak atau benign prostate hyperplasia (BPH) adalah

pembesaran pada kelenjar prostat akibat adanya tumor jinak pada kelenjar

sehingga uretra pars prostatika mengalami penyumbatan dan menyebabkan

terhambatnya aliran urin yang keluar dari vesika urinaria.3, 8

Gambar 8. Anatomi Prostat, (A) Normal, (B) terjadi hyperplasia pada


zona transisional

2. Etiologi

Penyebab pasti BPH belum dipastikan hingga saat ini, namun sering

dikaitkan dengan BPH yang bersifat multifaktoral, dipengaruhi oleh sistem

endokrin yakni peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses

menua. Beberapa hipotesis yang diduga menjadi penyebab timbulnya

hiperplasia prostat adalah sebagai berikut:3, 8, 9

24
a. Teori dihidrotestosteron

Dihidrotestosteron (DHT) merupakan metabolit androgen yang

dihasilkan dari reaksi perubahan testosteron oleh enzim 5 alfa-

reduktase dengan bantuan koenzim NADPH di dalam sel prostat yang

diperlukan dalam pertumbuhan sel kelenjar prostat. Pada BPH terjadi

peningkatan aktivitas enzim 5 alfa-reduktase dan jumlah reseptor

androgen, sehingga sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT

dan menyebabkan replikasi sel kelenjar prostat lebih banyak

dibandingkan dengan prostat normal. 3, 8, 9

Gambar 9. Perubahan testoteron menjadi DHT oleh enzim 5 alpha-


reduktase.9

b. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

Didalam prostat estrogen berperan dalam proliferasi sel-sel kelenjar

prostat dengan meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap

rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor

androgen, dan menurunkan jumlah apoptosis sel-sel prostat.Proses

menua pada laki-laki menyebabkan kadar testosteron mengalami

25
penurunan, sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga kadar

estrogen lebih banyak daripada testosteron. 3, 8, 9

3. Patofisiologi

Pembesaran prostat menyebabkan lumen uretra prostatika mengalami

penyempitan dan aliran urine terhambat, sehingga terjadi peningkatan

tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, kontraksi pada

vesika urinaria harus lebih kuat untuk melawan tahanan tersebut. Dalam

jangka panjang, kontraksi yang terjadi mengakibatkan perubahan secara

anatomik pada vesika urinaria berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi,

terbentuknya selula, sakula, dan divertikel vesika urinaria. Perubahan

tersebut oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih bagian

bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS). 3, 8, 9

Gambar 10. Bagan pengaruh hyperplasia Prostat pada saluran kemih.3

Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian vesika

urinaria sampai pada muara ureter dan menimbulkan aliran balik urine dari

26
vesika urinaria ke ureter (refluks vesikoureter). Refluks yang terjadi terus

menerus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, hingga gagal

ginjal. Penyumbatan uretra prostat oleh adanya massa prostat dan tonus

otot polos pada stroma prostat menyebabkan terjadinya obstruksi pada

leher vesika urinaria dan uretra. 3, 8, 9

4. Manifestasi klinis

Pada umumnya, pasien BPH memiliki gejala-gejala seperti berikut:

a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau lower urinary tract

symptom (LUTS), yang terbagi menjadi dua jenis gejala klinis yang

ditimbulkan, yaitu gejala obstruksi dan gejala iritasi. 3, 8

 Gejala obstruksi, sumbatan yang terjadi secara langsung pada uretra

mengakibatkan gejala obstruksi berupa miksi terputus, saat miksi

pasien harus menunggu sebelum urine keluar, pasien harus

mengedan saat mulai miksi, berkurangnya kekuatan dan pancaran

urine, sensasi tidak selesai berkemih, miksi ganda atau jangka waktu

berkemih untuk kedua kalinya < 2 jam, dan urine menetes pada akhir

miksi. Gejala iritasi yakni respons terhadap peningkatan resistensi

pengeluaran menyebabkan munculnya gejala iritasi berupa miksi

lebih sering, urgensi atau rasa miksi yang tidak dapat ditahan saat

ingin miksi, nokturia, dan inkontinensia. 3, 8

b. Gejala pada saluran kemih bagian atas

Keluhan yang muncul akibat adanya hyperplasia prostat pada saluran

kemih bagian atas dapat berupa nyeri pinggang, benjolan di pinggan

27
(tanda hidronefrosis), atau demam akibat adanya proses infeksi

(urosepsis). 3, 8, 9

c. Gejala di luar saluran kemih

Pasien BPH biasanya harus mengedan saat miksi sehingga

mengakibatkan peningkatan tekanan intra-abdominal sehingga dapat

muncul gejala berupa adanya hernia inguinalis atau hemoroid. 3, 8

5. Diagnosis

Untuk mendiagnosis BPH maka perlu dilakukan anamnesis terpimpin,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 3, 8, 9

a. Anamnesis

Tanyakan keluhan utama pasien dan sudah terjadi berapa lama. Tanyakan

mengenai gejala obstruksi dan iritasi secara lengkap. Tanyakan pula riwayat

penyakit lain dan penyakit yang terkait dengan saluran urogenital, dan

riwayat penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan miksi.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan yang sangat penting dilakukan pada kasus BPH yaitu colok

dubur dengan temuan berupa adanya pembesaran prostat disertai

konsistensinya yang kenyal (seperti meraba ujung hidung), simetris antar

lobus kiri dan kanan, tidak terdapat nodul. Selain itu, pemeriksaan yang

dapat dilakukan adalah berupa pemeriksaan region suprapubic untuk

menilai distensi vesika urinaria dan fungsi neuromuscular ekstremitas

bawah. 3, 8, 9

28
c. Pemeriksaan penunjang. 3, 8,

 Pemeriksaan laboratorium.

- Prostate specific antigen (PSA), dilakukan untuk menilai perjalanan

penyakit BPH selanjutnya. Kadar PSA yang lebih tinggi menunjukkan

bahwa laju pertumbuhan volume prostat lebih cepat, keluhan akibat

BPH lebih berat, atau retensi urine akut lebih mudah terjadi. Rentang

normal nilai PSA adalah 40-49 tahun = 0-2,5 ng/mL, 50-59 tahun = 0-

3,5 ng/mL, 60-69 tahun = 0-4,5 ng/mL, dan 70-79 tahun = 0-6,5

ng/mL. Jika kadar PSA > 4 mg/mL maka merupakan indikasi untuk

tindakan biopsi prostat. 3, 8

- Pemeriksaan sedimen urine, berguna untuk mencari kemungkinan

adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan

kultur urine berguna dalam mencari jenis mikroba penyebab infeksi

dan untuk menentukkan sensitifitas mikroba terhadap antimikroba

yang diujikan.,3, 8

 Flowmetri, berfungsi untuk menilai laju pancaran urine maksimal

(Qmax) yang biasanya mengalami penurunan < 15 cc pada pasien BPH.

 Voiding diaries, dilakukan dokumentasi waktu pengosongan urine,

volume urine, dan aktivitas yang terkait seperti asupan cairan dalam buku

harian. Voiding diaries juga dapat digunakan untuk mengevaluasi

efisiensi pengobatan. 3, 8

 Transrectal/Transabdominal Ultrasonography, biasanya dapat berguna

untuk mencari batu opak di salurah kemih, adanya batu/kalkulosa prostat,

29
dan kadang menunjukkan bayangan vesika urinaria yang terisi penuh

akibat adanya retensi urin. USG juga dapat dipertimbangkan untuk

mengevaluasi ukuran, bentuk, anatomi, dan potensial prostat untuk

mengalami keadaan patologi. USG transabdominal juga dapat menilai

urine residual pada vesika urinaria yang mungkin berkontribusi terhadap


3, 8, 9, 10
gejala pasien.

Gambar 11. USG transabdominal memperlihatkan kelenjar prostat. 10

6. Tatalaksana

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah untuk memperbaiki keluhan miksi,

meningkatkan kualitas hidup, mengurangi obstruksi infravesika,

mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, mengurangi volume

residu urine setelah miksa dan mencegah progresifitas penyakit. 3, 8

a. Watchful waiting

Pilihan tanpa terapi ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah

7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien

30
yang tidak mendapatkan terapi ini diberikan penjelasan mengenai hal-hal

yang dapat memperburuk keluhannya yaitu, tidak mengkonsumsi kopi atau

alcohol setelah makan malam, kurangi konsumsi makanan atau minuman

yang membuat iritasi pada vesika urinaria (kopi atau coklat), batasi

penggunaan obat-obatan influenza yang mengandung fenilpropanolamin,

kurangi makanan pedas dan asin, dan jangan menahan kencing terlalu lama.

Pasien juga diminta untuk melakukan control secara periodik serta

melakukan pemeriksaan laboratorium, residu urine dan flowmetri. 3, 8, 9

b. Medikamentosa 3, 8, 9

 Antagonis reseptor alfa-adrenergik

Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor adrenergik simpatik

sehingga menyebabkan relaksasi pada sel otot polos prostat dan vesika

urinaria. Beberapa golongan obat antagonis reseptor alfa-adrenergik

adalah prazosin yang diberikan dua kali sehari, selanjutnya terdapat

terazosin, afluzosin, dan doksazosin yang diberikan sekali sehari. Obat-

obat ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urine. 3, 8, 9

 5 alpha-reductase inhibitor

Obat ini bekerja dengan menghambat konversi testosteron yang

dikatalisis oleh enzim 5 alpha-reduktase menjadi DHT di dalam prostat,

sehingga mengakibatkan sintesis protein dan replikasi sel prostat

menurun dan menghambat hiperplasia prostat. Finasteride merupakan

salah satu golongan obat tersebut yang menyebabkan penurunan prostat

31
setelah pemberian 5 mg sekali sehari setelah enam bulan. Namun saat ini

terdapat preparat lainnya yaitu Duodart. 3, 8, 9

Gambar 12. Sistem Skor IPSS.8

 Tadalafil

Obat ini adalah inhibitor phosphodiesterase-5 yang digunakan untuk

mengobati disfungsi ereksi. Tadalafil menyebabkan relaksasi otot polos

detrusor, prostat, dan vaskular dari vesika urinaria, dan menurunkan

hiperplasia prostat dan vesika urinaria. Setelah 4 minggu penggunaan,

tadalafil dapat memperbaiki gejala saluran kencing serta kualitas hidup

32
yang lebih rendah, dan merupakan pilihan bagi pria yang menderita BPH

bersamaan dengan disfungsi ereksi. 3, 8, 9

c. Pembedahan

Perawatan bedah untuk BPH ditunjukkan saat perawatan medis gagal

mendapatkan respons yang memadai, bila gejalanya parah, jika ada

kekhawatiran akan komplikasi, atau jika pasien memiliki gagal ginjal,

hematuria refrakter, ISK rekuren, atau batu kandung kemih. Pilihan yang

disarankan termasuk operasi terbuka, reseksi transurethral prostat (TURP),

dan enaleasi laser holmium transurethral dari prostat (HoLEP). Pembedahan

terbuka melibatkan pemindahan adenoma prostat dari jaringan prostat yang

berdekatan. Dengan pembesaran prostat tidak lagi mengompresi uretra,

gejala void membaik pascaoperasi. Prosedur ini berisiko mengalami

beberapa komplikasi termasuk luka infeksi, hemoragik, ISK, dan sepsis.

TURP adalah gold standart untuk pengobatan BPH dan merupakan

prosedur yang paling umum dilakukan untuk pria yang menderita BPH.

Selama TURP, endoskopi dimasukkan melalui uretra dan adenoma prostat

dilepaskan melalui elektroda loop. TURP efektif untuk memperbaiki gejala.

33
BPH namun dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan,

hiponatremia, dan ejakulasi retrograde.3, 9

Gambar 13. Berbagai teknik Prostatektomi.3

Bipolar TURP menggunakan arus bipolar dan merupakan prosedur invasif

minimal yang terkait dengan komplikasi yang lebih sedikit dan masa inap

di rumah sakit yang lebih pendek. Karena larutan natrium klorida 0,9%

dapat digunakan untuk irigasi dan bukan glisin nonkonduktor seperti pada

TURP monopolar, prosedurnya bisa lebih lama dan komplikasi berkurang.

HoLEP melibatkan pengangkatan adenoma prostat dengan radiasi laser, dan

dapat dipertimbangkan pada pria yang tidak memenuhi syarat untuk TURP

karena ukuran prostat. Meskipun HoLEP adalah prosedur operasi yang lebih

lama daripada TURP, hal ini kurang umum karena terkait dengan

komplikasi dan memerlukan masa inap di rumah sakit yang lebih pendek.

Stent uretra sementara dan permanen juga digunakan untuk mengobati BPH

pada pasien berisiko tinggi yang tidak dapat menjalani operasi invasive.

Prosedur invasif minimal melibatkan penempatan stent endoskopik ke

34
uretra prostat, memperbaiki gejala BPH dan meminimalkan komplikasi

karena sayatan yang lebih kecil dan trauma yang berkurang pada jaringan

sekitarnya. Toksisitas Botulinum adalah pilihan pengobatan potensial lain

yang telah dieksplorasi namun tidak disetujui. Menyuntikkan racun ke

dalam prostat akan menghambat pelepasan asetilkolin, mengakibatkan

kelumpuhan otot halus dan atrofi jaringan. Amirasi akut diikuti oleh

jaringan parut dan penyusutan prostat. 3, 8, 9

E. Striktur Urethrae

1. Definsi

Striktur urethrae merupakan suatu penyempitan lumen urethrae karena

fibrosis pada dindingnya-dindingnya khususnya pada fibrosis Corpus

spongiosum yang parah. 1, 3

2. Etiologi

Striktur urethrae dapat disebabkan oleh oleh suatu infeksi, trauma dan

kelainan bawaan. Infeksi baketeri gonokokus merupakan merupakan

infeksi tersering yang menyebabkan terjadinya striktur. Keadaan striktur

sekarang sudah jarang dijumpai seiringan dengan pemakaian antibiotika

untuk memberantas infeksi.1, 3

Trauma yang menyebabkan striktur pada urethrae dapat disebabkan oleh

trauma tumpul pada selangkangan (Straddle injury), fraktur pelvis dan

tindakan medis transurethrae yang kurang hati-hati seperti pemasangan

kateter yang salah (false route) dapat menyebabkan striktur dikemudian

35
hari. Hal ini juga berlaku apabila fiksasi kateter pada saat pemasangannya

tidak berlangsung dengan benar yang menyebabkan penekanan pada

Urethro Bulbo-pendulare Border. Penekanan terus menerus pada area ini

dapat menimbulkan hipoksis Urethrae dan pada akhirnya dapat terbentuk

fistula dan striktur. 1, 3

3. Patofisiologi

Proses inflamasi atau peradangan akibat adanya trauma atau infeksi akan

menyebabkan terjadinya jaringan sikatriks dan fibrosis pada urethrae.

Jaringan sikatriks pada permukaan lumen urethrae akan menyebabkan

terjadinya hambatan aliran urine hingga retensi urin. Aliran urin yang

terhambat akan berusaha mencari jalan keluar sehingga akan terkumpul

pada rongga Periurethral yang jika pecah akan membentuk fistula

uretrokan. Pada keadaan tertentu akan juga ditemuka multipel fistula, yang

disebut sebagai fistula seruling. 3

4. Klasifikasi

Gambar 14. Derajad penyempitan lumen urethra.3

36
Berdasarkan derajad terhadap penyempitan lumen, striktur urethrae dibagi

menjadi tiga tingkatan yakni: 3

a. Ringan, yakni jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen

urthrae.

b. Sedang, yakni jika terjadi oklusis 1/3-1/2 diameter lumen urethrae.

c. Berat, jika oklusi yang terjadi lebih besar dai ½ diameter lumen

urethrae.

5. Manifestasi

Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran buang air seni kecil

dan bercabang. Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi,

urgensi, disuria, inkontinensia, urin yang menetes, kadang-kadang dengan

penis yang membengkak, infiltrat, abses dan fistel. Gejala lebih lanjutnya

adalah retensi urine. 3, 11

6. Pemeriksaan penunjang

a. Uroflowmetri 3, 11

Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan

pancaran urin. Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi

dengan lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada

pria adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan

pancaran kurang dari harga normal menandakan ada obstruksi. 3, 11

37
b. Radiologi

Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak

penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui

lebih lengkap mengenai panjang striktur adalah dengan membuat foto

bipolar sistouretrografi dengan cara memasukkan bahan kontras secara

antegrad dari buli-buli dan secara retrograd dari uretra. Dengan

pemeriksaan ini panjang striktur dapat diketahui sehingga penting

untuk perencanaan terapi atau operasi. 3, 11

Gambar 15. Uretrogram pada Urethrae yang normal.10

Gambar 16. Uretrogram pada multipel striktur Urethrae.10

38
c. Instrumentasi

Pada pasien dengan striktur uretra dilakukan percobaan dengan

memasukkan kateter Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba

dengan kateter dengan ukuran yang lebih kecil sampai dapat masuk ke

buli-buli. Apabila dengan kateter ukuran kecil dapat masuk

menandakan adanya penyempitan lumen uretra. 3, 11

d. Uretroskopi

Untuk melihat secara langsung adanya striktur di uretra. Jika

diketemukan adanya striktur langsung diikuti dengan uretrotomi

interna (sachse) yaitu memotong jaringan fibrotik dengan memakai

pisau sachse. 3

7. Terapi

Jika pasien datang dengan retensi urine kronis, secepatnya harus dilakukan

Sistotomi suprapubic untuk mengeluarkan urin. Jika terdapat adanya abses

periurethral, laukan insisi dan pemberian antibiotika. Beberapa tindakan

khusus yang dilakukan pada striktur urethral adalah: 3

a. Sistotomi

Sistotomi merupakan kateterisasi suprapubik adalah memasukkan

kateter dengan membuat lubang pada buli-buli melalui insisi

suprapubik dengan tujuan untuk mengeluarkan urine. Kateterisasi ini

biasanya dikerjakan pada:12

 Kegagalan pada saat melakukan kateterisasi uretra.

39
 Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan transuretra misalkan

pada reptur uretra atau dugaan adanya reptur uretra dengan retensi

urine.

 Jika ditakutkan akan terjadi kerusakan uretra pada pemakaian kateter

uretra yang terlalu lama.

 Untuk mengukur tekanan intravesikal pada studi sistotonometri.

 Mengurangi penyulit timbulnya sindroma intoksikasi air pada saat

TUR Prostat.

Pemasangan kateter sistostomi dapat dikerjakan dengan cara operasi

terbuka atau dengan perkuatan (trokar) sistostomi.12

 Sistostomi Tertutup (Dengan Trokar)

Sistostomi trokar tidak boleh dikerjakan pada tumor buli-buli,

hematuri yang belum jelas sebabnya, riwayat pernah menjalani

operasi daerah abdomen/ pelvis, buli-buli yang ukurannya kecil

(contracted bladder), atau pasien yang mempergunakan alat

prostesis pada abdomen sebelah bawah. Tindakan ini dikerjakan

dengan anestesi lokal dan mempergunakan alat trokar.12

 Sistotomi terbuka

Sistostomi terbuka dikerjakan jika terdapat kontraindikasi pada

tindakan sistostomi trokar atau tidak tersedia alat trokar. Dianjurkan

melakukan sistostomi terbuka jika terdapat jaringan sikatriks/ bekas

operasi di suprasimfisis, sehabis mengalami trauma di daerah

panggul yang mencederai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan

40
darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan

peruretra. Tindakan ini dikerjakan dengan memakai anestesi lokal

atau anestesi umum.12

b. Businasi,

yakni dilatasi dengan menggunakan busi logam (buggie) yang

dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan kerusakan yang

lebih parah (false route). Sebelum melakukan dilatasi, periksalah kadar

hemoglobin pasien dan periksa adanya glukosa dan protein dalam urin.

Terdapat berbagai jenis bougie yakni bougi bengkok, bougie lurus dan

bougie filiformis. Bougie bengkok merupakan satu batang logam yang

ditekuk sesuai dengan kelengkungan uretra pria; bougie lurus, yang

juga terbuat dari logam, mempunyai ujung yang tumpul dan umumnya

hanya sedikit melengkung; bougie filiformis mempunyai diameter yang

lebih kecil dan terbuat dari bahan yang lebih lunak.3, 13

Berikan sedatif ringan sebelum memulai prosedur dan mulailah

pengobatan dengan antibiotik, yang diteruskan selama 3 hari.

Bersihkan glans penis dan meatus uretra dengan cermat dan persiapkan

kulit dengan antiseptik yang lembut. Masukkan gel lidokain ke dalam

uretra dan dipertahankan selama 5 menit. Tutupi pasien dengan sebuah

duk lubang untuk mengisolasi penis. 3, 13

Apabila striktur sangat tidak teratur, mulailah dengan memasukkan

sebuah bougie filiformis; biarkan bougie di dalam uretra dan teruskan

memasukkan bougie filiformis lain sampai bougie dapat melewati

41
striktur tersebut. Kemudian lanjutkan dengan dilatasi menggunakan

bougie lurus. Apabila striktur sedikit tidak teratur, mulailah dengan

bougie bengkok atau lurus ukuran sedang dan secara bertahap

dinaikkan ukurannya. 3, 13

Dilatasi dengan bougie logam yang dilakukan secara hati-hati.

Tindakan yang kasar tambah akan merusak uretra sehingga

menimbulkan luka baru yang pada akhirnya menimbulkan striktur lagi

yang lebih berat. Karena itu, setiap dokter yang bertugas di pusat

kesehatan yang terpencil harus dilatih dengan baik untuk memasukkan

bougie. Penyulit dapat mencakup trauma dengan perdarahan dan

bahkan dengan pembentukan jalan yang salah (false passage). Perkecil

kemungkinan terjadinya bakteremi, septikemi, dan syok septic dengan

tindakan asepsis dan dengan penggunaan antibiotik. 3, 13

c. Uretrotomi interna

Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi yang

memotong jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau

Sachse, laser atau elektrokoter. Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur

uretra anterior terutama bagian distal dari pendulans uretra dan fossa

navicularis, otis uretrotomi juga dilakukan pada wanita dengan striktur

uretra. Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat Sachse

adalah striktur uretra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun

kecil dan panjang tidak lebih dari 2 cm serta tidak ada fistel, kateter

dipasang selama 2-3 hari pasca tindakan. Setelah pasien dipulangkan,

42
pasien harus kontrol tiap minggu selama 1 bulan kemudian 2 minggu

sekali selama 6 bulan dan tiap 6 bulan sekali seumur hidup. Pada waktu

kontrol dilakukan pemeriksaan uroflowmetri, bila pancaran urinnya <

10 ml/det dilakukan bouginasi. 3, 13

d. Uretrotomi eksterna

Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis

kemudian dilakukan anastomosis end-to-end di antara jaringan uretra

yang masih sehat, cara ini tidak dapat dilakukan bila daerah strikur

lebih dari 1 cm. Cara Johansson; dilakukan bila daerah striktur panjang

dan banyak jaringan fibrotik. 3

Stadium I, daerah striktur disayat longitudinal dengan menyertakan

sedikit jaringan sehat di proksimal dan distalnya, lalu jaringan fibrotik

dieksisi. Mukosa uretra dijahit ke penis pendulans dan dipasang kateter

selama 5-7 hari. Stadium II, beberapa bulan kemudian bila daerah

striktur telah melunak, dilakukan pembuatan uretra baru.purnomo. 3

Uretroplasty dilakukan pada penderita dengan panjang striktur uretra

lebih dari 2 cm atau dengan fistel uretro-kutan atau penderita residif

striktur pasca Uretrotomi Sachse. Operasi uretroplasty ini bermacam-

macam, pada umumnya setelah daerah striktur di eksisi, uretra diganti

dengan kulit preputium atau kulit penis dan dengan free graft atau

pedikel graft yaitu dibuat tabung uretra baru dari kulit preputium/kulit

penis dengan menyertakan pembuluh darahnya. 3

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Urinary Retension. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney

Diseases.[Artikel] Juli 2014 [Diambil pada 30 Januari 2018]. Diambil dari:

https://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/urinary-

retension

2. Urethral Strciture. Mayo Clinic.[Artikel] 2017 [Diambil pada 30 Januari

2018]. Diambil dari : https://www.mayoclinic.org/diseases-

conditions/urethral-stricture/symptoms-causes/syc-20362330

3. Purnomo BB.Dasar-Dasar Urologi. Edisi III. Jakarta; Sagung Seto: 2015.

Hal.122-148

4. Paulsen F. & J. Waschke. Sobotta Atlas Anatomi Manusia : Anatomi Umum

dan Muskuloskeletal. Ed.23. Jakarta : EGC; 2013

5. Netter FH. Atlas of human anatomi. Ed 6. Philadelphia: Elsevier; 2014

6. Guyton, A C, Hall, J E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 12. Jakarta :

Saunders Elsevier ; 2011

7. Selius BA, Subedi R. Urinary retention in adults: diagnosis and initial

management. American Family Physician. 2008;77(5):643–650.

8. Gaol HL, Mochtar CA. Hiperplasia Prostat Jinak: Dalam: Kapita Selekta

Jilid I. Edisi 4. Jakarta; Media Aeculapius: 2016. Hal. 284-9

9. Skinder D, Zacharia I, Studin J, Covino J. Benign prostatic hyperplasia: A

Clinical Review. JAAPA Journal of the American Academy of Physician

Assistants. 2016 ;29 (8) :19-23

44
10. Patel PR. Lecture Note Radiologi. Edisi II. Jakarta; Penerbit Erlangga:

2007. Hal.183-5

11. S, Hadi SA, Firdaoessaleh, Safendra S, Kusuma GW, Umbas R, Manuputty

D, dkk. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Laki-Laki. Dalam: R.

Sjamsuhidajat & de Jong Buku Ajar Ilmu Bedah Volume 3. Edisi 4. Jakarta;

EGC: 2014. hal.878-92

12. Furqan. Evaluasi Biakan Urin Pada Penderita BPH Setelah Pemasangan

Kateter Menetap: Pertama Kali dan Berulang. Bagian Ilmu Bedah FK

USU.[Artikel] [Diambil pada 30 januari 2018]. Diambil dari :

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6206/3/bedah-

furqan.pdf.txt

13. Cook J, Sankaran B, Wasunna A.E.O. Uretra Pria, dalam: Penatalaksanaan

Bedah Umum di Rumah Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,

1995. Hal;165-166.

45