Anda di halaman 1dari 6

NAMA : Rizky Amalia

NIM : 03031381419110

PENGARUH RASIO REAKTAN DAN JUMLAH


KATALIS
TERHADAP KONVERSI MINYAK JAGUNG
MENJADI METIL ESTER
ABSTRAK

Biodiesel adalah nama untuk jenis fatty ester, umumnya merupakan


monoalkyl ester yang terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan (minyak nabati).
Biodiesel merupakan bahan bakar diesel alternatif yang menjanjikan sebagai
solusi untuk mengatasi kelangkaan BBM. Metil ester ini diperoleh dari reaksi
transesterifikasi antara minyak nabati dan alcohol dengan bantuan katalis basa.
Proses pembuatan biodiesel pada penelitian ini menggunakan minyak jagung,
methanol dan katalis basa NaOH. Katalis NaOH dipilih karena memiliki
keuntungan tidak dibutuhkannya suhu dan tekanan yang tinggi dalam reaksi.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh rasio perbandingan reaktan,
jumlah katalis dan waktu reaksi terhadap konversi minyak jagung menjadi metil
ester dan untuk mengetahui konstanta kecepatan reaksi (k). Variabel proses yang
digunakan adalah rasio minyak jagung dan metanol (R = 1:6, 1:8 dan 1:10),
jumlah katalis 1% dan 2%, dan waktu reaksi 30, 60, 90 dan 120 menit. Hasil
penelitian menunjukan bahwa konversi minyak nabati menjadi metil ester terbaik
sebesar 96,411% dan konstanta kecepatan reaksi terbaik sebesar 2,55 .10-2 menit -1
diperoleh pada rasio reaktan 1 :8 , jumlah katalis 2 % dan waktu reaksi 120 menit.

1. PENDAHULUAN
Salah satu masalah krusial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini
adalah energi. Kebutuhan energi masyarakat dan industri setiap tahun meningkat.
Mengingat cadangan minyak bumi Indonesia yang makin menipis, impor minyak
bumi yang semakin tinggi dan kenaikan harga minyak bumi dunia yang dapat
dipastikan akan diikuti oleh kenaikan harga BBM sehingga berdampak pada
kenaikan harga kebutuhan pokok di masyarakat maka diperlukan pengembangan
energi alternatif terbarukan.
Minyak jagung merupakan trigliserida yang disusun oleh gliserol dan
asam-asam lemak. Komposisi trigliserida yang tinggi membuat minyak jagung
juga cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Mengingat hal
tersebut, penelitian ini akan meneliti mengenai penggunaan minyak jagung pada
proses pembuatan biodiesel.
Masalah yang ditemui dalam pembuatan biodiesel dari bahan baku minyak
jagung adalah bagaimana pengaruh temperatur dan tekanan, jumlah katalis, dan
rasio reaktan terhadap konversi minyak jagung menjadi metil ester. Serta,
bagaimana menentukan kinetika reaksinya. Penelitian ini bertujuan untuk
memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut.
Agar didapat hasil yang memuaskan pada penelitian ini, maka ditetapkan
beberapa acuan sebagai ruang lingkup penelitian. Ruang lingkup penelitian ini
meliputi temperatur reaksi +70⁰C dan waktu reaksi 1-2 jam dengan interval 30
menit. Katalis dipilih NaOH dengan pertimbangan ekonomis. Kemudian Rasio
reaktan (minyak : methanol) yang digunakan adalah 1:6, 1:8 dan 1:10. Terakhir,
rasio jumlah katalis yang digunakan adalah 1% dan 2% dari jumlah massa
reaktan.

Biodiesel
Biodiesel berasal dari dua kata yaitu bio dan diesel. Bio berarti bahan
alami yang berasal dari mahluk hidup yang mudah diperbaharui serta mudah
kembali untuk terurai di alam. Sedangkan diesel berasal dari nama suatu mesin
injeksi yang diciptakan oleh Rudolph Diesel. Jadi, biodiesel merupakan bahan
bakar mesin diesel yang berasal dari minyak nabati atau hewani yang dapat
bekerja pada mesin diesel konvensional, sekalipun tanpa perlu ada modifikasi
ataupun dengan penambahan bahan pelindung (PL. Puppung, 1985).
Pada prinsipnya, proses pembuatan biodiesel sangat sederhana. Biodiesel
dihasilkan melalui proses yang disebut reaksi esterifikasi asam lemak bebas atau
reaksi transesterifikasi trigliserida dengan alkohol dengan bantuan katalis dan dari
reaksi ini akan dihasilkan metil ester/etil ester asam lemak dan gliserol :
Minyak lemak + alkohol/methanol katalis biodiesel + gliseril

Minyak jagung
Minyak jagung merupakan trigliserida yang disusun oleh glliserol dan
asam-asam lemak. Presentase trigliserida sekitar 98,6%, sedangkan sisanya
merupakan bahan non minyak seperti abu, zat warna atau lilin. Asam lemak yang
menyusun minyak jagung terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tidak
jenuh. Dalam 100 kg jagung dengan kandungan air 16%,akan menghasilkan
sekitar 64 kg tepung butiran dan 3 kg minyak jagung.
Kelebihan minyak jagung dibandingkan dengan minyak nabati yang lain,
adalah kandungan asam lemak tidak jenuh yang tinggi, mengandung asam lemak
essensial (omega 3dan omega 6), serta vitamin E, sehingga sangat baik untuk
penurunan kadar kolesterol , mencegah penyakit jantung, stroke, kanker,
asma,dandiabetes.Seperti halnya lemak dan minyak lainnya, minyak kelapa sawit
terdiri atas trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul
asam lemak menurut reaksi sebagai berikut:
Metanol
Alkohol yang paling umum digunakan untuk transesterifikasi adalah
metanol, karena harganya lebih murah dan daya reaksinya lebih tinggi
dibandingkan dengan alkohol rantai panjang, sehingga metanol ini mampu
memproduksi biodiesel yang lebih stabil. Metanol disebut juga metil alkohol
merupakan senyawa paling sederhana dari gugus alkohol. Rumus kimianya adalah
CH3OH. Metanol berwujud cairan yang tidak berwarna, dan mudah menguap.
Metanol memiliki berat molekul 32,042, titik leleh -98oC dan titik didih 64oC.
(Andi Nur Alam Syah, 2006)
Biaya untuk memproduksi etanol absolut cukup tinggi. Akibatnya, bahan
bakar biodiesel berbasis etanol tidak berdaya saing secara ekonomis dengan metil
ester asam lemak, sehingga membiarkan bahan baker diesel fosil bertahan sendiri.
Disamping itu, harga alkohol juga tinggi sehingga menghambat penggunaannya
dalam produksi biodiesel dalam skala industri. (Erliza, dkk, 2007)

Katalis
Katalis adalah suatu bahan yang digunakan untuk memulai reaksi dengan
bahan lain. Katalis dimanfaatkan untuk mempercepat suatu reaksi, terlibat dalam
reaksi tetapi tidak ikut terkonsumsi menjadi produk Pemilihan katalis ini sangat
bergantung pada jenis asam lemak yang terkandung di dalam minyak tersebut.
Jenis asam lemak dalam minyak sangat berpengaruh terhadap karakteristik fisik
dan kimia biodiesel, karena asam lemak ini yang akan membentuk ester atau
biodiesel itu sendiri (Mardiah, dkk. tahun 2006). Biasanya, dalam pembuatan
biodiesel yang sering digunakan ialah katalis natrium hidroksida.

Proses Produksi Biodiesel


Secara umum reaksi transesterifikasi antara minyak nabati (trigliserida)
dan alkohol (metanol) dapat digambarkan sebagai berikut :

Beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi alkoholisis antara lain waktu


reaksi, temperatur, katalisator, kecepatan pengadukan, rasio reaktan dan
konsentrasi (Raharja , dkk tahun2000).
a) Waktu
Makin lama waktu reaksi, makin besar konversi reaksi, ini disebabkan
kesempatan zatzat pereaksi untuk saling bertumbukan makin besar. Tetapi apabila
konversi tidak berubah, penambahan waktu reaksi tidak menguntungkan.
b) Temperatur
Semakin tinggi temperatur (sampai pada batas tertentu), makin cepat
jalannya reaksi. Pengaruh temperatur terhadap kecepatan reaksi dipengaruhi oleh
katalisator yang digunakan.
c) Katalisator
Makin kecil tenaga aktivasi, konstanta kecepatan reaksi makin besar.
Tenaga aktivasi dapat diperkecil dengan mengaktifkan reaktan, yaitu dengan cara
menambah katalisator, sehingga menyebabkan tumbukan antara zat-zat pereaksi
makin besar. Katalisator yang digunakan bisa berupa asam, atau basa.
d) Pengadukan
Agar reaksi dapat berjalan dengan baik,diperlukan pencampuran sebaik-
baiknya, yakni dengan cara pengadukan agar menaikkan frekuensi tumbukan
sehingga kecepatan reaksi akan bertambah besar. Frekuensi tumbukan yang
semakin besar menyebabkan konstanta kecepatan reaksi makin besar pula .
e) Rasio Reaktan
Reaksi alkoholisis pada umumnya menggunakan alkohol yang berlebihan
agar reaksi dapat berjalan sempurna, karena menyebabkan reaksi bergeser ke
kanan (Widodo, 1993).

2. METODOLOGI
Bahan dan alat
Bahan baku proses transesterifikasi pembentukan metil ester ini adalah
minyak jagung dengan % FFA yang rendah sebagai sumber asam lemak dan
metanol 96 %, dengan bantuan katalis NaOH. Bahan lain yang digunakan untuk
analisa antara lain : KOH, Phenolptalin, Etanol, HCl, Natrium asetat, Asam asetat
anhidrid dan aquadest.

Prosedur Penelitian
1) Minyak jagung dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang dilengkapi dengan
termometer, pemanas, dan kondensor. Kemudian, dipanaskan sampai suhu 70ºC.
Agar diharapkan pada waktu pencampuran,penurunan suhu tidak signifikan dari
suhu yang diharapkan yaitu 65oC.
2) Mencampurkan metanol dengan minyak jagung yang telah dipanaskan terlebih
dahulu, dengan perbandingan volume dari rasio reaktan 1:6 ke dalam beker gelas
dan katalis dengan jumlah 1% dari massa minyak. Kemudian, memanaskan
kembali campuran metanol dan minyak jagung tersebut sampai suhu 65ºC.
3) Pengambilan sampel sebanyak 10 ml pada interval waktu 30 menit selama 2
jam.
4) Sampel dimasukan ke dalam botol sampel dan didiamkan selama 24 jam agar
terlihat dua lapisan, kemudian sampel dipisahkan dengan pipet tetes.
5) Setelah mendapatkan campuran lapisan gliserol (pada lapisan
bawah).Kemudian, dilanjutkan menganalisa gliserol dengan Metode Griffin untuk
mengetahui konversi dari minyak nabati.
6) Lakukan kembali pada persen katalis 2 %, serta rasio reaktan 1:8 dan 1:10

Prosedur Analisa
Analisa Bahan Baku
Analisa bahan baku (minyak jagung) dilakukan untuk mengetahui nilai
FFA, ekuivalen asam lemak bebas, ekuivalen asam lemak total, dan berat jenis.
Analisa Kadar Gliserol
Gliserol dianalisa dengan cara Asetin (Griffin, 1955). Sampel dibiarkan
semalam didalam corong pemisah agar sisa metanol menguap hingga terbentuk
dua lapisan, yaitu lapisan gliserol berada di bawah dan metil ester di lapisan atas.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengaruh Jumlah Katalis Terhadap Konversi
Hubungan jumlah katalis dengan konversi reaksi ini dapat dilihat dengan
memvariasikan rasio reaktan dan waktu reaksi sebagaimana ditampilkan pada
Gambar 2. Grafik ini menunjukkan setiap kenaikan jumlah katalis mengakibatkan
kenaikan persen konversi. Untuk setiap selang waktu reaksi 30 menit terlihat
perbedaan metil ester yang terbentuk pada jumlah katalis 1% dan 2% pada variasi
rasio reaktan.

Pengaruh Ratio Reaktan Terhadap Konversi


Hubungan antara ratio raktan dengankonversi reaksi dapat dilihat dengan
cara memvariasikan ratio reaktan. Pada hasil penelitian mengenai pengaruh ratio
reaktan ini didapati bahwa kenaikan ratio metanol dalam reaktan meningkatkan
jumlah metil ester yang terbentuk ini dapat terlihat dari Gambar 5 dan Gambar 6.

Konstanta Kinetika Reaksi


Konstanta kinetika reaksi ditentukan dari slope persamaan –ln(1 – x) = k t
yang diturunkan dari persamaan laju reaksi orde satu karena metanol yang
digunakan berlebihan.Konstanta laju reaksi merupakan parameter penting yang
digunakan dalam perancangan reaktor. Konstanta laju reaksi dipengaruhi oleh
jumlah katalis dan rasio reaktan (minyak jagung dan metanol).

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1) Konversi minyak kelapa sawit meningkat dengan peningkatan rasio reaktan
dan jumlah katalis, konversi tertinggi diperoleh pada rasio reaktan 1 : 8, NaOH :
2% dan waktu reaksi 120 menit yaitu sebesar 96,411%.

2) Peningkatan rasio reaktan dan jumlah katalis dapat meningkatkan konstanta


kecepatan reaksi. Pada rasio reaktan 1 : 8, NaOH : 2% dan waktu reaksi 120
menit,diperoleh nilai k
tertinggi yaitu sebesar 2,55 x 10-2 menit-1.