Anda di halaman 1dari 17

TEORI KEPRIBADIAN (FREUD)

A. ID
Id merupakan lokus berisi dorongan insting dan energi yang berfungsi sesuai prinsip
kenikmatan tanpa melihat tuntutan dari realita. Dapat juga diartikan sebagai reservoir energi
primordial.

B. EGO
Ego merupakan organisasi fungsi yang koheren, berfungsi untuk menghindari
ketidaknyamanan atau rasa sakit dengan melawan atau meregulasi dorongan insting agar
sesuai dengan tuntutan dunia eksternal. Ego memiliki fungsi dalam perservasi diri dengan
mengontrol tuntutan insting/stimulus internal dengan menginhibisi atau menundanya,
membentuk mekanisme pertahanan diri ketika stimuli eksternal berlebihan, membentuk
kapasitas berhubungan dengan objek, serta mempertahankan hubungan dengan realita.
Perkembangan ego meliputi proses-proses yang berkaitan dengan internalisasi, di
antaranya :
1. Inkorporasi, yaitu penyatuan diri dengan objek eksternal terutama objek maternal secara
total dan global, mengakibatkan regresi ketika objek tersebut hilang
2. Introjeksi, yaitu identifikasi objek yang hilang sebagai struktur internal dari psikis,
sehingga hubungan dengan objek dapat dipertahankan meskipun berupa fantasi, dengan
membentuk hubungan motivasional dan defensif sebagai mekanisme dasar pembentukan
superego
3. Identifikasi, yaitu strukturalisasi aktif di dalam diri ketika diri membentuk konstituensi
batin untuk regulasi berbasis elemen-elemen tertentu dari sebuah model. Identifikasi
merupakan aktivitas strukturalisasi intrasistemik yang berkesinambungan dengan fungsi
ego terhadap diri dan fungsi sintesisnya, mempengaruhi integrasi struktural pada semua
bagian aparatus psikis, termasuk ego dan superego.

C. SUPEREGO
Superego merupakan nilai moral, ideologi, larangan, dan standar imago parental yang
terinternalisasi.
LIFE CYCLE
A. Teori Psikoseksual Freud

1. Fase Oral (lahir-18 bulan)


Fase oral merupakan fase perkembangan paling awal ketika kebutuhan, persepsi, dan
ekspresi bayi terfokus pada mulut, bibir, lidah, dan organ lain yang berhubungan dengan
zona oral dan sekitar refleks menghisap. Kepuasan libidinal didapatkan dari pemenuhan
kebutuhan oral, dan dapat digambarkan dengan ekspresi agresi seperti menggigit,
mengunyah dan memuntahkan.
Tujuan dari fase ini adalah untuk membentuk hubungan kepercayaan pada objek yang
memenuhi kebutuhan oral tersebut dan membentuk ekspresi kebutuhan oral yang nyaman
tanpa adanya konflik.
Karakter dari hasil resolusi fase ini memiliki kapasitas untuk memberi dan menerima dari
orang lain tanpa adanya ketergantungan maupun iri hati, kapasitas untuk mempercayai
orang lain, serta kepercayaan terhadap diri sendiri dan kemandirian.
Gratifikasi oral yang berlebihan atau kurang dapat menimbulkan fiksasi pada fase ini
berupa kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan oral, seperti menggigit kuku,
menghisap jempol, dan merokok, atau berupa kepribadian dengan optimisme, narsisisme,
iri, serta dependensi terhadap orang lain yang berlebihan
2. Fase Anal (1-3 tahun)
Fase anal merupakan fase perkembangan psikoseksual yang ditandai dengan maturasi
kontrol neuromuskular terhadap sphincter, terutama sphincter anal, yang menimbulkan
kontrol volunter terhadap retensi dan ekspulsi feses. Pada fase ini konflik timbul dari
orang tua ketika melakukan toilet training untuk anaknya, dengan memberikan ketentuan
kapan ia harus ekspulsi atau retensi feses, serta konflik dari separasi, individuasi, dan
independensi. Anak kemudian menjadi sadar bahwa keinginan libidinal-nya dapat
menimbulkan konflik dengan tuntutan dunia luar (perkembangan ego dimulai).
Tujuan dari fase ini adalah untuk membentuk independensi dari kontrol orang tua serta
otonomi terhadap tubuh sendiri tanpa adanya rasa malu yang berlebihan dan keraguan
hilang kontrol.
Karakter dari hasil resolusi fase ini menjadi basis perkembangan otonomi personal dan
memiliki kapasitas untuk independensi dan inisiatif personal tanpa rasa bersalah,
kapasitas untuk menentukan nasib sendiri tanpa rasa malu atau ragu, serta kapasitas untuk
berkooperasi tanpa merasa dikalahkan atau terlalu menurut.
Fiksasi pada fase ini timbul dari retensi anal yang berlebihan yang menimbulkan karakter
keras kepala, kikir, obsesif terhadap kerapihan, serta sangat menghormati otoritas, atau
ekspulsi anal yang terlalu liberal yang menimbulkan karakter dengan tendensi
sadomasokistik, semrawut, ugal-ugalan, serta tidak menurut pada otoritas.
3. Fase Urethral
Fase ini merupakan fase transisi dari fase anal menuju fase phallic dan memiliki
karakteristik dari kedua fase tersebut. Kepuasan libidinal didapatkan dari kemampuan
urinasi dan retensi urin yang analog dengan fase anal, dan konflik didapatkan dari
kemampuan kontrol urinasi tersebut.
Tujuan dari fase ini mirip dengan fase anal, tetapi karakteristik yang dominan dari hasil
resolusi fase ini adalah berupa rasa bangga terhadap diri sendiri dan kompetensi diri, serta
terbentuknya basis dari identitas gender.
Fiksasi pada fase ini menimbulkan rasa malu terhadap diri sendiri yang tidak dapat
mengontrol urinasi.
4. Fase Phallic (3-5 tahun)
Fase phallic dikarakterisasi dengan fokus primer terhadap ketertarikan seksual dan
stimulasi area genital. Kepuasan libidinal didapatkan dari masturbasi dan individu
menjadi sadar dengan perbedaan seks secara anatomis. Penis menjadi pusat perhatian
pada individu dan adanya penis pada laki-laki serta tidak adanya penis pada perempuan
menimbulkan konflik berupa atraksi erotik, persaingan, kecemburuan, dan rasa takut
terhadap perasaan castration. Pada fase ini timbul ketertarikan seksual terhadap orangtua
yang berlawanan jenis sehingga dapat timbul oedipus complex untuk anak laki-laki dan
electra complex untuk anak perempuan.
Pada oedipus complex, anak menemukan resolusi terhadap keinginan seksualnya dengan
melakukan identifikasi terhadap peran dan perilaku maskulin dari ayah, sehingga anak
membentuk peran gender pria dan mengadopsi ide dan nilai mengenai peran tersebut
yang kemudian menjadi superego bagi anak. Pada electra complex, anak melakukan
represi sebagai resolusi terhadap keinginan seksualnya dan mensubstitusi keinginan
memiliki penis (dari penis envy) dengan keinginan memiliki anak. Anak kemudian akan
mengidentifikasi dengan peran ibu dan mengambil peran gender wanita.
Tujuan dari fase ini adalah untuk membentuk basis peran gender, menjadi waktu untuk
integrasi fase sebelumnya menjadi orientasi dominan genital-seksual, serta pembentukan
superego dengan dilakukannya identifikasi.
Karakter dari hasil resolusi fase ini memiliki pondasi untuk kesadaran identitas seksual,
keingintahuan tanpa rasa malu, inisiatif tanpa rasa bersalah, serta rasa menguasai
lingkungan (objek dan orang) dan proses/impuls internal. Resolusi dari konflik fase ini
juga membentuk kapasitas struktur internal untuk mengarahkan impuls ke arah yang
lebih konstruktif dengan berdasarkan ego dan superego.
Fiksasi pada fase ini menimbulkan castration anxiety serta penis envy pada wanita atau
bahkan oedipus dan electra complex.
5. Fase Laten (5 atau 6-11 atau 13 tahun)
Pada fase ini tidak banyak ditemukan perkembangan psikoseksual yang signifikan, tetapi
timbul perkembangan kompetensi diri, keahlian, dan maturasi fungsi ego untuk kontrol
diri yang rebih baik. Individu juga lebih banyak melakukan afiliasi dengan jenis kelamin
yang sama dan energi libidinal tersublimasi menjadi energi untuk belajar dan bermain.
6. Fase Genital (11 atau 13 tahun-dewasa)
Pada fase ini, maturasi fisiologis pada fungsi genital dan sistem hormonal menimbulkan
intensifikasi dorongan insting, terutama libidinal. Hal ini menyebabkan regresi dari
organisasi kepribadian yang akan menimbulkan konflik fase sebelumnya dari
perkembangan psikoseksual serta menyediakan kesempatan untuk mencapai re-resolusi
dari konflik ini, dengan maksud untuk mencapai identitas dewasa dan seksual matur
(individuasi kedua).
Tujuan dari fase ini adalah menimbulkan separasi terakhir dari keterikatan dengan
orangtua, membentuk hubungan matur dengan lawan jenis (heteroseksual), pencapaian
identitas personal matur dan integrasi peran dan fungsi dewasa yang disertai integrasi
adaptif dengan ekspektasi sosial dan nilai budaya.
Karakteristik hasil resolusi dari fase ini adalah kepribadian yang matur dengan kapasitas
untuk potensi genital yang mencukupi, identitas diri yang terintegrasi dan konsisten, serta
kapasitas untuk menyadari peran penting dalam pekerjaan, cinta, dan aplikasi kreatif dan
produktif untuk mencapai tujuan dan nilai yang bermakna.
Kegagalan dalam mencapai resolusi pada fase ini sangat kompleks dan multipel, karena
defek dapat berasal dari semua spektrum fase psikoseksual yang telah dilewati.

B. Teori Siklus Hidup Erik Erikson

1. Trust vs. Mistrust (lahir-18 bulan)


Modalitas budaya : menerima sesuatu yang ditawarkan dan memperoleh sesuatu yang
diinginkan
Modalitas sosial : mengambil dan mempertahankan sesuatu
Keutamaan : harapan (anak belajar untuk mempercayai pengasuh dan menaruh harapan
pada orang selain diri sendiri
2. Autonomy vs. Shame (18 bulan-3 tahun)
Modalitas sosial : mempertahankan dan melepaskan sesuatu
Keutamaan : kemauan (anak belajar untuk kooperasi dengan kemauan sendiri serta
memperoleh rasa otonomi yang sehat)
3. Initiative vs Guilt (3-5 tahun)
Pada fase ini individu belajar untuk mengambil keputusan dan memiliki rasa inisiatif
untuk mendapatkan suatu tujuan tanpa rasa bersalah yang berlebihan.
Modalitas sosial : being on the make
Keutamaan : tujuan
4. Industry vs. Inferiority (5-13 tahun)
Fase laten ketika individu mempelajari kompetensi yang dinilai penting bagi masyarakat
dan anak memiliki rasa bangga terhadap apa yang diraihnya dari kompetensi tersebut.
Keutamaan : kompetensi
5. Ego Identity vs. Role Confusion (13-21 tahun)
Pada fase ini dimulai formasi identitas ego dan individu mulai belajar mengenai perannya
di masyarakat
Keutamaan : ketaatan
6. Intimacy vs. Isolation (21-40 tahun)
Pada fase ini individu memiliki kemampuan untuk menghormati komitmen dan
membentuk hubungan konkret dan intim dengan seseorang yang membutuhkan
pengorbanan dan kompromi.
Keutamaan : cinta
7. Generativity vs. Stagnation (40-60 tahun)
Pada fase ini individu mulai membentuk keluarga dan menyadari diri sebagai bagian dari
sesuatu yang besar.
Keutamaan : kepedulian
8. Ego Integrity vs. Despair (>60 tahun)
Pada fase ini individu mempertimbangkan kembali semua hal yang sudah didapat pada
fase sebelumnya dan mampu membentuk integritas dalam diri yang sempurna ketika
melihat diri sudah menjalani hidup yang sukses.
Keutamaan : kebijaksanaan
MEKANISME PERTAHANAN DIRI
A. NARCISSISTIC-PSYCHOTIC DEFENSES
Mekanisme pertahanan diri ini sering menjadi bagian dari proses psikotik, tetapi bisa terjadi
pada anak-anak dan dewasa bermimpi/berfantasi. Memiliki kesamaan tujun untuk
menghindari atau mendistorsikan kenyataan.
- Projection, yaitu persepsi dan bereaksi terhadap impuls dalam diri dan derivatnya seolah
berasal dari luar diri. Pada level psikotik biasanya menimbulkan delusi mengenai realitas
eksternal seperti persecutory atau delusi paranoid psikotik. Impuls dapat berasal dari id
atau superego (tuduhan halusinasi)
- Denial, yaitu menghindari persepsi pengalaman-pengalaman sensori untuk menghindari
diakuinya aspek menyakitkan dari realitas eksternal. Pada level psikotik biasanya realitas
yang dihindari digantikan dengan fantasi atau delusi.
- Distorsi, yaitu pembentukan ulang/rekonstruksi pengalaman realitas eksternal secara
kasar untuk memenuhi kebutuhan dalam diri, termasuk kepercayaan megalomaniak,
halusinasi, dan delusi.
B. IMMATURE DEFENSES
Mekanisme ini sering terjadi pada prepubertas dan gangguan karakter dewasa. Seringkali
dimobilisasi oleh kecemasan akibat keintiman atau kehilangannya, biasanya karakter terlihat
kaku secara sosial tapi kadang dengan kemajuan hubungan interpersonal atau maturitas
personal.
- Acting out, yaitu ekspresi keinginan yang tidak disadari secara langsung dalam bentuk
aksi untuk menghindari afeksi yang menyertainya (eg. throwing tantrum)
- Blocking, yaitu inhibisi terutama terhadap afeksi, tetapi bisa juga pada impuls atau
pemikiran dalam diri. Mirip represi tetapi menimbulkan ketegangan akibat inhibisi
tersebut.
- Hypochondriasis, yaitu transformasi perasaan negatif terhadap seseorang atau orang lain
menjadi perasaan negatif terhadap diri sendiri berupa keluhan somatik seperti nyeri
- Introjeksi, yaitu salah satu proses perkembangan ego yang merupakan proses
internalisasi karakteristik suatu objek untuk mempertahankan keberadaan objek dalam
diri, meskipun objek tersebut telah hilang (eg. pada objek yang ditakuti dan bersifat
agresif  internalisasi karakteristik agresif objek  perilaku agresif)
C. PASSIVE-AGGRESSIVE BEHAVIOR
Mekanisme ini berupa agresi terhadap objek yang diekspresikan secara tidak langsung dan
tidak efektif melalui pasivitas, masokisme, dan melawan diri sendiri
- Projection, yaitu menghubungkan perasaan yang tidak terakui kepada orang lain berupa
terlalu berprasangka, penolakan keintiman akibat kecurigaan, serta kewaspadaan
berlebihan terhadap bahaya eksternal
- Regression, yaitu kembalinya individu ke fase perkembangan sebelumnya untuk
menghindari kecemasan atau bahaya pada fase lanjut akibat tendensi dasar untuk
mencapai gratifikasi instingtual atau melarikan diri dari tekanan insting.
- Schizoid fantasy, yaitu tendensi untuk menggunakan fantasi atau pengunduran diri dari
sosial secara autistik sebagai cara mencapai resolusi dan gratifikasi
- Somatization, yaitu konversi defensif derivat psikis menjadi gejala fisik
D. NEUROTIC BEHAVIOR
Mekanisme ini biasanya terjadi pada individu normal maupun dengan gangguan neurotik.
Berfungsi untuk mengurangi afeksi yang tidak menyenangkan dan dapat bersifat adaptif atau
diterima secara sosial.
- Controlling, yaitu usaha berlebihan untuk mengatur/meregulasi kejadian atau objek
untuk meminimalisir kecemasan dan menyelesaikan konflik internal
- Displacement, yang meliputi perubahan atau pergeseran tidak disadari dari suatu impuls
dan/atau investasi afektif dari suatu objek ke objek lain untuk menyelesaikan konflik
- Disociation, yaitu modifikasi karakter atau identitas personal yang drastis dan sementara
untuk menghindari kecemasan emosional
- Externalization, yaitu bentuk luas dari projection
- Inhibisi, yaitu membatasi fungsi ego spesifik secara tidak sadar untuk menghindari
kecemasan dari konflik dengan impuls insting, superego, atau figur lingkungan
- Intellectualization, yaitu kontrol afeksi dan impuls dengan memikirkannya, bukan
merasakannya
- Isolasi, yaitu pemisahan intrapsikis atau afeksi dari isi/ide
- Rationalization, yaitu justifikasi tingkah laku atau kepercayaan yang mungkin malah
tidak dapat diterima akibat aplikasi alasan justifikasi yang salah.
- Repression, yaitu menyingkirkan atau menahan diri dari kesadaran terhadap sebuah ide
atau perasaan
- Sexualization, yaitu memberikan signifikansi seksual pada suatu objek atau fungsi yang
sebelumnya tidak dimiliki objek/fungsi tersebut
E. MATURE DEFENSES
Mekanisme ini merupakan mekanisme yang sehat dan adaptif pada semua tahap siklus hidup,
membantu integraso kebutuhan personal, motif, kebutuhan sosial, dan relasi interpersonal
- Altruism, yaitu pemuasan insting melalui tindakan/memikirkan kesejahteraan orang lain
tanpa memikirkan diri sendiri, tanpa adanya tendensi masokisme
- Anticipation, yaitu antisipasi realistis terhadap ketidaknyamanan di masa depan
- Ascetism, yaitu eliminasi afeksi menyenangkan yang secara langsung berhubungan
dengan suatu pengalaman untuk menentukan nilai-nilai dari afeksi menyenangkan
tersebut
- Humor, yaitu ekspresi perasaan secara terang-terangan tanpa ketidaknyamanan personal
atau imobilisasi dan tanpa efek tidak menyenangkan pada orang lain dengan tujuan
untuk meringankan afeksi yang tidak menyenangkan dari situasi
- Sublimation, yaitu gratifikasi suatu impuls dengan mengubah sasaran dan objek dari
yang tidak dapat diterima secara sosial menjadi yang dapat diterima, tanpa mengubah
tujuan dari impuls tersebut (eg. marah  tidak meninju orang yang membuatnya marah -
 berolahraga)
- Supression, yaitu keputusan sadar atau semi-sadar untuk menunda perhatian terhadap
impuls sadar atau konflik
CLUSTER B PERSONALITY DISORDER
A. Antisocial Personality Disorder
1. Kriteria Diagnosis

2. Hendaya
Sangat variabel
3. Komplikasi
Disforia, ketegangan, toleransi rendah terhadap kebosanan, mood depresif, kematian dini.
4. Epidemiologi
3% untuk pria dan 1% untuk wanita pada populasi umum, 3-30% pada populasi klinis
5. Genetik
Keluarga derajat pertama dengan gangguan kepribadian antisosial dan lingkungan
keluarga berpengaruh terhadap tingginya resiko gangguan kepribadian antisosial pada
anak.
6. Komorbiditas
Gangguan kontrol impuls, depresi mayor, penyalahgunaan/dependensi substansi,
pathological gambling, gangguan cemas, gangguan somatisasi, gangguan kepribadian
narsisistik, histrionik, atau borderline.
7. Diagnosis Diferensial
Gangguan bipolar, gangguan kepribadian narsisistik, histrionik, borderline, paranoid,
dan perilaku antisosial dewasa
8. Perkembangan Penyakit
Setelah usia 30 tahun, perilaku antisosial yang paling menonjol seperti berganti-ganti
pasangan seksual dan kejahatan dan perilaku yang kurang menonjol seperti penggunaan
substansi cenderung berkurang
B. Narcissistic Personality Disorder
1. Kriteria Diagnosis
2. Hendaya
Seringkali berat, termasuk masalah perkawinan dan hubungan interpersonal
3. Komplikasi
Penarikan diri dari sosial, mood depresif, gangguan distimik dan depresi mayor sebagai
reaksi terhadap kritik atau kegagalan
4. Epidemiologi
2-16% pada populasi klinis dan <1% pada populasi umum dengan prevalensi 50-75%
pada pria
5. Genetik
Orangtua dengan gangguan narsistik cenderung menurunkan pada anaknya
6. Komorbiditas
Gangguan depresi mayor, Gangguan penyalahgunaan substansi/dependensi, gangguan
kepribadian borderline, antisosial, histrionik, paranoid
7. Diagnosis Diferensial
Gangguan kepribadian antisosial, borderline, histrionik, gangguan obsesif kompulsif,
gangguan paranoid dan skizotipal
8. Perkembangan Penyakit
Kronis, tetapi gejala cenderung berkurang setelah usia 40 tahun
C. Histrionic Personality Disorder
1. Kriteria Diagnosis

2. Hendaya
Seringkali ringan, menyangkut hubungan romantik
3. Komplikasi
Gestur dan ancaman bunuh diri untuk menerima kepedulian, hubungan interpersonal
yang tidak stabil dan dangkal, masalah perkawinan
4. Epidemiologi
2-3% pada populasi umum, 10-15% pada populasi klinis, lebih sering pada wanita
5. Genetik
Seringkali muncul dalam keluarga yang anggotanya memiliki gangguan histrionik
6. Komorbiditas
Depresi mayor, gangguan somatisasi, gangguan konversi, gangguan kepribadian
narsistik, borderline, antisosial, dependen
7. Diagnosis Diferensial
Gangguan kepribadian antisosial, borderline, narsistik
D. Borderline Personality Disorder
1. Kriteria Diagnosis

2. Hendaya
Seringkali berat, menimbulkan kehilangan pekerjaan, edukasi terhambat, masalah
pernikahan yang berujung perceraian
3. Komplikasi
Gejala mirip psikosis (halusinasi, distorsi imej tubuh, fenomena hipnagogik, delusi
referensial) sebagai respon terhadap stres, kematian dini atau kecacatan dari usaha bunuh
diri dan perilaku menyakiti diri sendiri.
4. Epidemiologi
2% pada populasi umum, 10% pada pasien psikiatrik rawat jalan, 20% pada pasien
psikiatrik rawat inap, 30-60% pada pasien dengan gangguan kepribadian
5. Genetik/Predisposisi
Kekerasan rumah tangga, kehilangan orangtua sejak dini dan konflik menjadi faktor
resiko. Lima kali lebih sering muncul pada saudara kandung.
6. Komorbiditas
Depresi mayor, gangguan penyalahgunaan substansi/dependensi, gangguan makan
(bulimia), PTSD, ADHD, sebagian besar gangguan kepribadian
7. Diagnosis Diferensial
Gangguan mood, gangguan distimik, gangguan siklotimia, gangguan identitas, seringkali
sulit dibedakan dengan banyak gangguan kepribadian lain.
8. Perkembangan Penyakit
Variabel