Anda di halaman 1dari 7

REFLEKSI KASUS I

Blighted Ovum

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. T
Usia : 30 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Watuduwur RT01/02 Bruno

II. Deskripsi Kasus


a. Keluhan utama : Nyeri perut
b. Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang dengan keluhan nyeri perut sejak 1 hari
SMRS. Pasien juga mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak 6 hari SMRS. Pada
awalnya perdarahan yang keluar dirasakan tidak banyak, berupa flek – flek, namun
kemudian perdarahan menjadi banyak disertai nyeri perut. Pasien menyangkal adanya
riwayat trauma dan dipijat.
c. Riwayat penyakit dahulu : Penyakit jantung, hipertensi, asma, dan diabetes mellitus
disangkal.
d. Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit
jantung, hipertensi, asma, dan diabetes mellitus.
e. Riwayat menstruasi
- Menarke : 12 tahun
- Siklus haid : 28 hari, selama 7 hari
- HPHT : 20 Desember 2017
- HPL : 27 September 2018
f. Riwayat pernikahan : Menikah 1 kali.
g. Riwayat Obstetric :
I. 2011, laki-laki, 2800 gram, aterm, spontan di bidan
II. Hamil ini
h. Riwayat KB : Suntik sejak 2011-2013

III. Pemeriksaan Fisik


a. Kesan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Vital Sign
- TD : 116/70 mmHg
-N : 82 x/menit
-R : 20 x/menit
-T : 36,7 oC
d. Pemeriksaan Antropometri
- Tinggi badan : 160 cm
- Berat badan : 60 kg
- IMT : 23,4
e. Pemeriksaan Head to toe
- Kepala : CA(-/-), SI(-/-)
- Leher : Pembesaran limfonodi (-)
- Thoraks : Retraksi (-), Vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), Sonor (+/+), S1-S2 reguler
- Abdomen : Distensi (-), Peristaltik (+) Normal, Timpani (+), Nyeri tekan (+)
- Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
f. Pemeriksaan dalam
VT: vagina & uretra tenang, dinding vagina licin, portio tebal tidak terbuka, STLD (-)

IV. Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hemoglobin 12,9 g/dL 11,7 – 15,5
Leukosit 12,6 103/µL 3,6 – 12.5
Hematokrit 36 % 35 – 47
Eritrosit 4,5 106/µL 3,20 – 5,20
Trombosit 343 103/µL 150 – 400
MCV 81 fL 80 – 100
MCH 29 Pg 26 – 34
MCHC 35 g/dL 32 – 36
Diff Count
Netrofil 70,10 % 50 – 70
Limfosit 22,50 % 25 – 40
Monosit 5,00 % 2–8
Eusinofil 2,10 % 2,00 – 4,00
Basofil 0,30 % 0–1
Imunologi
HbsAg negatif negatif

b. USG
Hasil: Gestasional sac (+) dengan ukuran 2,56 cm, umur kehamilan 7 minggu 2 hari, fetal
pole(-), tidak tampak massa intrauterine. Kesan: Blighted Ovum.

V. Diagnosis
Wanita 30 tahun G2P1A0 hamil 9 minggu dengan Blighted Ovum

VI. Penatalaksanaan
- Dilatasi (Misoprostol) dan Kuretase
- Pengawasan keadaan umum, perdarahan pervaginam dan tanda vital
PEMBAHASAN

Definisi
Blighted ovum meupakan kegagalan kehamilan awal (early pregnancy failure). Blighted
ovum adalah kehamilan tanpa janin (anembryonic pregancy), jadi cuma ada kantong gestasi
(kantong kehamilan) dan air ketuban saja. Kehamilan kosong menimbulkan gejala medis
dimana rahim atau kandungan ibu membesar seperti mendapatkan kehamilan walaupun di dalam
rahim tersebut tidak terdapat janin sama sekali.
Kondisi ini terjadi karena telur yang sudah dibuahi berhasil membentuk plasenta dan
membran, tetapi gagal terbentuk embrio. Diduga hal ini terjadi karena kelainan kromosom
pada telur yang sudah dibuahi tersebut. Blighted ovum biasanya terjadi pada minggu-minggu
awal kehamilan.

Etiologi
Berikut ini penyebab dari blighted ovum:
1. Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel
telur dan sperma. Seandainya saja bakal janin yang memiliki kelainan kromosom tersebut
mampu bertahan hingga lahir, kemungkinan anak akan menderita kelainan bawaan.
2. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus,
3. Penyakit diabetes mellitus yang tidak terkontrol,
4. Rendahnya kadar beta HCG
5. Faktor imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan
blighted ovum
6. Usia suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun.
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat
berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan
hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam
di dalam rahim.
Gejala dan tanda
Pada awalnya, wanita merasakan gejala-gejala hamil, seperti mudah lelah, merasa ada
yang lain pada payudara atau mual-mual. Blighted ovum terjadi di kehamilan yang sangat dini,
pada umumnya pasien datang ke dokter karena keluhan berupa bercak pendarahan di usia
kehamilan kurang lebih 6-8 minggu. Selanjutnya, pertumbuhan plasenta berhenti dan kadar
hormon HCG kembali turun, dan akhirnya gejala kehamilan menghilang biasanya terjadi setelah
usia kehamilan 3 bulan. Pada saat tersebut, wanita akan merasa tidak nyaman di perut, atau
keluar bercak perdarahan dari vagina.
Gejala awal sama dengan wanita hamil dengan menunjukan hasil PP test (+) kadang
diikuti dengan :
1. Mual, muntah (morning sickness),
2. Nyeri kepala,
3. Nyeripayudara dan payudara mengeras,
4. Cepat lelah,
5. Flek-flek merah kecoklatan dari jalan lahir,
6. Kram perut,
7. Pertumbuhan rahim yang lambat tidak sesuai dengan umur kehamilan.

Patofisiologi
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat
berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan
hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam
di dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic gonadotropin) dimana
hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai
pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang
menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, dan menyebabkan tes
kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada
umumnya mengukur kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut
juga sebagai hormon kehamilan.
Diagnosis
Seorang wanita baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan
pemeriksaan USG transvaginal. Namun tindakan tersebut baru bisa dilakukan saat kehamilan
memasuki usia 6-7 minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16
milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya kantung
kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin.
Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan
setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan. Selain blighted ovum,
perut yang membesar seperti hamil, dapat disebabkan hamil anggur (mola hidatidosa), tumor
rahim atau penyakit usus.
Berdasarkan prosedur,ginekolog baru dapat menyimpulkan blighted ovum setelah usia
kehamilan di atas 7-8 minggu. Saat itu diameter kantong kehamilan sudah mencapai ukuran
antara 2,5-3 cm. Sementara jika dilakukan USG saat usia kehamilan masih di bawah 8 minggu,
dokter belum dapat melihat pertumbuhan janin karena kantong kehamilan yang terbentuk masih
kecil. Pada layar USG, besar kemungkinan hanya terlihat lingkaran kantong janin saja. Lain
halnya jika USG dilakukan saat usia kehamilan 8 minggu dan hanya terlihat kantong kehamilan
saja tanpa janin di dalamnya baru dapat di diagnosis sebagai blighted ovum.
USG diawal kehamilan untuk memastikan apakah ibu mengalami kehamilan kosong atau
tidak. Dengan USG, pada usia kehamilan 7-8 minggu biasanya dokter akan melihat
perkembangan janin apakah telah mencapai 20 mm apa belum. Bila janin tidak terlihat atau
ukurannya lebih kecil dari 20 mm maka dokter akan memastikan ibu mengalami gejala
kehamilan kosong dan biasanya pada kontrol selanjutnya dokter akan mengukur lagi
perkembangan janin.
Bila sejak awal kehamilan berjalan dengan baik dan normal tanpa tanda-tanda kelainan.
Kelainan biasanya baru diketahui saat kehamilan memasuki pertengahan trimester pertama. Saat
diperiksa, dokter tidak dapat mendeteksi denyut jantung janin atau tak melihat janin ketika
melakukan USG.
Penatalaksanaan
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan
hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa
penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati
sehingga kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program
imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan.

Komplikasi
Pada dasarnya kehamilan kosong tidak berdampak pada keselamatan si ibu. Hanya saja,
bahaya akan muncul sebagai akibat dari komplikasi tindakan yang dilakukan. Semisal kuretase.
Sementara sebelum dilakukan kuretase, umumnya si ibu sudah mengalami perdarahan. Bila
perdarahan yang terjadi tergolong berat, si ibu bisa kehabisan darah yang dapat mengancam
jiwanya. Dampak lain yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah faktor psikologis si ibu itu
sendiri.

Prognosis
Dengan penanganan yang tepat dan selama tidak terjadi komplikasi, prognosis dari
blighted ovum adalah dubia et bonam.