Anda di halaman 1dari 5

G.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa yang sering timbul pada penderita post operasi theroidectomy adalah

1. Gangguan jalan nafas yang berhubungan dengan obstruksi trakhea secunder terhadap
perdarahan, spasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan cuping hidung
sampai dengan sianosis.
2. Gangguan komunikasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang
ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot,
terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.
4. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai
dengan sering bertanya tentang penyakitnya.
5. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah
sekunder terhadap pembedahan.

H. PERENCANAAN

Rencana tindakan yang dilakukan pada klien post operasi thyroidectomy meliputi
Diagnosa pertama
1.Tujuan:
Jalan nafas klien efektif
2. Kriteria:
Tidak ada sumbatan pada trakhea
3. Rencana tindakan:

 Monitor pernafasan dan kedalaman dan kecepatan nafas.


 Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.
 Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.
 Atur posisi semifowler
 Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.
 Melakukan suction pada trakhea dan mulut.
 Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.

4. Rasional

 Mengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.


 Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.
 Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.
 Memberikan suasana yang lebih nyaman.
 Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilsassi
 Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.
 Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.

Diagnosa keperawatan kedua

1. Tujuan :

Klien dapat komunikasi secara verbal

2. Kriteria hasil:

Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.

3. Rencana tindakan:

 Kaji pembicaraan klien secara periodik


 Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.
 Kunjungi klien sesering mungkin
 Ciptakan lingkungan yang tenang.

4. Rasionalisasi:
 Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan /
sebagai efek pembedahan.
 Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.
 Mengurangi kecemasan klien
 Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan klien.

Diagnosa keperawatan ketiga

1. Tujuan:

Rasa nyeri berkurang

2. Kriteria hasil:

Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.

3. Rencana tindakan

 Atur posisi semi fowler, ganjal kepala /leher dengan bantal kecil
 Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.
 Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih
posisi .
 Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.
 Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

4. Rasionalisasi

 Mencegah hyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.
 Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.
 Mengurangi ketegangan otot.
 Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.
 Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.
Diagnosa keperawatan keempat

1. Tujuan:

Pengetahuan klien bertambah.

2. Kriteria hasil:

Klien berpartisipasi dalam program keperawatan

3. Rencana tindakan:

 Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.


 Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut,
kedelai, Lobak cina dll.
 Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.

4. Rasionalisasi:

 Mempertahankan daya tahan tubuh klien.


 Kontraindikasi pembedahan kelenjar thyroid.
 Memaksimalkan suplai dan absorbsi kalsium.

Diagnosa keperawatan kelima

1. Tujuan

Perdarahan tidak terjadi.

2. Kriteria hasil

Tidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.

3. Rencana tindakan:
 Observasi tanda-tanda vital.
 Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.
 Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).

4. Rasionalisasi:

 Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui


perdarahan secara dini.
 Dengan adanya balutan yang basah berarti adanya perdarahan pada luka operasi.
 Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.

I. EVALUASI

1. teruskan bila masalah masih ada.


2. Revisi/modifikasi bila masalah ada tetapi rencana dirubah.
3. Terpecahkan jika masalah berhasil dipecahkan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2000, Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa : Yasmin Asih, Editor : Tim Editor
EGC Edisi 26, EGC Jakarta

Prince S.A, Wilson L.M, 2006, Patofisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Penerbit Buku
Kedokteran : EGC, Jakarta

Brunner dan Suddarth, (2001) Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2, penerbit EGC.
Guyton, C. Arthur, (1991), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Missisipi; Departemen of
Physiology and Biophysis. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Junadi, Purnawan,(2000), Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke III, penerbit FKUI, Jakarta.
Long, Barbara C, (1996), Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Tucker, Susan Martin(1998), Standar Perawatan Pasien, Penerbit buku kedokteran, EGC.
Jakarta