Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kacang panjang (Vigna sinensis L.) sudah dikenal sejak lama, di luar Negeri maupun di Indonesia. Beberapa literatur mencatat bahwa
tanaman kacang panjang bukan tanaman asli Indonesia. Literatur yang lain menyebutkan bahwa asal mula kacang panjang adalah dari
India atau Cina, ada yang menyatakan dari kawasan benua Afrika, dan ada pula yang menyebutkan dari India dan Afrika Tengah.
Tanaman kacang panjang tumbuh menyebar di daerah-daerah Asia tropis dan banyak pula diusahakan di Timur jauh, termasuk
Bangladesh, India, Pakistan, Filipina, Indonesia, Karibia, dan sedikit di Afrika. Daerah sebaran kacang panjang cukup luas dan oleh
karena itu, kacang panjang memiliki banyak jenis lokal yang sesuai dengan Agroekosistem di daerah tempat tumbuhnya.
Sayur dan buah adalah makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita dan dikonsumsi setiap hari sebagai sumber vitamin bagi
tubuh. Ditemukan setiap hari dan mudah untuk didapat. Keduanya merupakan komoditi hortikultura yang banyak diusahakan oleh
masyarakat. Mempunyai manfaat dan nilai ekonomis tinggi di masyarakat. Karena nilai ekonominya ini banyak orang yang
mengusahakan tanaman-tanaman hortikultura tersebut, baik secara modern ataupun masih dengan teknik tradisional.
Diantara berbagai jenis sayuran yang dibudidayakan didaerah tropis, kacang panjang merupakan salah satu komoditi yang banyak
diusahakan oleh masyarakat. Tanaman yang berasal dari India dan Afrika Tengah ini banyak diminati oleh orang-orang Indonesia.
Sudah dibudidayakan selama berabad-abad, tajuk lembut, daun, polong muda, biji muda segar, dan biji kering adalah produk yang
dapat dimakan. Areal produksinya lebih dari 5 juta hektar berperan nyata memenuhi kebutuhan jutaan masyarakat akan protein. Nilai
tanaman ini sangat nyata di wilayah tropika dan subtrpika seperti Afrika. Di daerah ini kacang panjang merupakan produksi kacang
terpenting kedua(Rubatzky,1998)
Nama lain dari kacang panjang adalah kacang lanjaran (Jawa), kacang turus (Pasundan), taukok (Cina), sitao (Fillipina), kacang belut
(Malaysia), jurakusasage, paythenkai, yardlong bean, dan asparagus bean (Fachruddin; 2000). Kacang panjang atau Vigna sinensis ini
berkerabat dekat dengan kacang tunggak dan kacang Bombay. Ketiganya merupakan cultigroup atau subspecies dari Vigna sinensis.
Merupakan tanaman setahun yang memiliki akar tunggang yang kuat dengan banyak akar lateral (Rubatzky,1998)
Di masyarakat olahan kacang panjang ini beragam adanya. Mulai dari sayuran tumis, plecing, atau dimakan mentah sebagai lalapan.
Di Amerika Serikat, biji segar dan kering diolah melalui pengalengan dan pembekuan. Dipandang bergizi dengan kandungan
karbohidrat lebih dari 50% dan proteinnya 20% pada biji yang kering. Disamping itu juga mengandung lemak 0,3 gram dan Vitamin
A serta B1 (Rubatzky;1998).
Memandang begitu banyaknya manfaat yang diperoleh dari mengonsumsi kacang panjang, tidak heran jika sayuran ini banyak dicari.
Untuk memenuhi pesanan pasar maka diperlukan produksi komoditi yang mencukupi. Kehadiran kacang panjang di Indonesia diduga
terjadi sejak adanya perdagangan antar bangsa di Asia. Dewasa ini, kehadiran kacang panjang unggul dari luar Negeri semakin banyak
ragamnya. Kacang panjang yang semula hanya terkonsentrasi di daerah senura, selanjutnya berkembang serta menyebar ke berbagai
daerah sayuran di Jawa dan di luar Jawa.
Menurut Sunarjono (2008). Kacang panjang merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu. Tanaman ini bersifat memanjat
dengan membelit. Daunnya bersusun tiga-tiga helai. Batangnya panjang, liat, dan sedikit berbulu. Bunga kacang panjang seperti kupu-
kupu. Sementara buahnya bulat panjang dan ramping. Panjangnya ada yang mencapai 10-80 cm. yang disebut polong. Saat muda
buahnya berwarna hijau keputih-putihan, setelah tua berwarna putih kekuning-kuningan dan kering. Buah yang masih muda mudah
dipatahkan. Akan tetapi setelah tua menjadi liat karena banyak seratnya dan menjadi lemas jika kering.
Kacang panjang itu sangat digemari oleh setiap orang karena rasanya enak dan gurih. Selain itu, kacang panjang banyak
mengandung zat gizi seperti protein dan vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. kacang panjang itu sifatnya dwiguna, artinya sebagai
sayuran dan sebagai penyubur tanah. Tanaman sebagai penyubur tanah karena pada akar-akarnya terdapat bintil-bintil bakteri
Rhizobium. Bakteri tersebut berfungsi mengikat nitrogen bebas dari udara.
Tanaman kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun
dapat menghambat pertumbuhan bunga. Banyak tanaman yang melalui proses pemangkasan, hasil buahnya akan besar-besar, hal ini
disebabkan asimilasinya ditranslokasikan ke generatif. Sehingga diharapkan dengan melalui proses pemangkasan tanaman kacang
panjang dapat berproduksi secara optimal.
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari campuran kotoran ternak dan urine serta sisa-sisa pakan ternak. Pupuk kandang
mempunyai beberapa sifat yang lebih baik dari pupuk alam lainnya maupun dari pupuk anorganik (buatan). Sifat baik tersebut antara
lain : merupakan humus, sebagai sumber nitrogen, fosfor, kalium yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
menaikan daya menahan air, dan banyak mengandung mikroorganisme (Sarief, 1989).
Menurut Hardjowigeno (1992) pupuk kandang berfungsi sebagai pupuk organik yang mempunyai keistimewaan dapat
memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, seperti pemeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan
kation-kation tanah.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian tersebut, maka dalam penelitian ini perlu dipecahkan beberapa permasalahan sebagai berikut.
1. Kapan saat pemangkasan daun kacang panjang yang tepat untuk meningkatakan produksi kacang panjang.
2. Berapa dosis yang tepat pada pemberian pupuk kandang yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang
panjang.
3. Apakah terjadi interaksi antara saat pemangkasan daun dengan dosis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi
kacang panjang.

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui waktu yang tepat dalam pemangkasan daun pada tanaman kacang panjang.
2. Untuk mengetahui peranan pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan hasil produksi kacang panjang.
3. Untuk mengetahui peranan pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan hasil produksi kacang panjang.
4. Untuk mengetahui interaksi antara waktu saat pemangkasan daun dengan aplikasi pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan
produksi kacang panjang.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Dapat mengetahui waktu yang tepat dalam pemangkasan daun pada tanaman kacang panjang guna meningkatkan produksi
kacang panjang.
2. Dapat mengetahui aplikasi pupuk kandang yang baik untuk pertumbuhan dan produksi kacang panjang.
3. Dapat mengetahui adanya interaksi antara pemangkasan daun dan aplikasi pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan
produksi kacang panjang.

1.5 Kerangka Pemikiran


Pertumbuhan dan produksi kacang panjang ditentukan oleh interaksi antara faktor genetik tanaman dan lingkungannya. Oleh karena
itu, pertumbuhan dan produktivitas kacang panjang ditentukan oleh sifat genetik bahan tanaman dan interaksinya dengan lingkungan
tempat tumbuh. Produksi potensial ditentukan oleh sifat jenis bahan tanam yang digunakan, sedangkan produksi aktual di lapangan
ditentukan oleh lingkungan tumbuh. Pemilihan bahan tanam merupakan bahan dasar untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi
kacang panjang.
Menurut Karnomo dkk, (1989) dalam Hartono (2008) Pemangkasan adalah pekerjaan untuk mengurangi daun-daun pada tanaman
kacang panjang, guna mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang diharapkan. Banyak tanaman yang melalui proses pemangkasan,
hasil buahnya akan besar-besar, hal ini disebabkan asimilasinya ditranslokasikan ke generatif. Sehingga diharapkan dengan melalui
proses pemangkasan tanaman kacang panjang dapat berproduksi secara optimal.
Pemangkasan pada tanaman kacang-kacangan biasanya dilakukan pada fase vegetatif yaitu umur 3-4 minggu setelah tanam (Haryanto,
2001). Pada tanaman kacang panjang, pemangkasan daun dilakukan sebelum tanaman berbunga yaitu pada saat tanaman berumur 21
hari setelah tanam (Samadi, 2003).
Pemangkasan pada tanaman kacang panjang perlu dilakukan, terutama pada tanaman yang terlalu subur. Pada tanaman yang tumbuh
normal tidak perlu dilakukan pemangkasan. Tujuan pemangkasan ini untuk merangsang terbentuknya cabang baru yang produktif
agar terbentuk bunga dan buah secara maksimal.(Rahayu, dkk. 2007).
Pemangkasan daun dilakukan satu kali sebelum tanaman berbunga, yakni pada tanaman berumur 21-28 hari setelah tanam.
Bila pemangkasan dilakukan sampai dua kali atau lebih, biasanya tanaman kacang panjang akan semakin rimbun. Hal ini justru akan
mengurangi produksi kacang panjang. Cara pemangkasan adalah dengan memotong pucuk sekitar 2-3 ruas daun dengan menggunakan
pisau yang tajam (Rahayu, dkk. 2007).

Menurut Sutedjo (2008) Pupuk kandang memang dapat menambah tersedianya bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat
diserapnya dari dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang ternyata mempunyai pengaruh yang positif (baik) terhadap sifat fisik dan
kimiawi tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik. Dengan perkataan lain pupuk kandang mempunyai kemampuan
mengubah berbagai faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah .
Pupuk kandang dapat diberikan sebagai pupuk dasar sebelum tanam. Penebarannya dilakukan secara merata diseluruh lahan, lalu
tanahnya diolah untuk terakhir kali. Biasanya pemberian pupuk kandang yang sudah matang dilakukan seminggu tanam.
Menurut Marsono (2006) untuk tanaman kacang panjang, pemupukan dapat dilakukan dengan cara disebar diantara guludan, ditutup
tipis dengan tanah, lalu ditugal untuk meletakkan benih. Untuk tanaman berumur pendek, apabila mau diberi pupuk susulan, caranya
sama dengan pemupukan sebagai pupuk dasar. Namun, biasanya pemupukan susulan sangat jarang dilakukan, kecuali kalau tidak
diberikan sebagai pupuk dasar. Walaupun demikian, pemupukan susulan dapat dilakukan. Ini disebabkan pupuk kandang dapat
mempercepat dan mempersubur pertumbuhan tanaman. Namun, jangan sampai pemberiannya terlalu banyak karena dapat
menyebabkan tanaman lupa berbuah.
Pupuk kambing terdiri dari 67% bahan padat (faeces) dan 33% bahan cair (urine). Sebagai pupuk kandang komposisi haranya 0,95%
N, 0,35% P2O5, dan 1,00% K2O. Kadar airnya cukup rendah dari kadar air pupuk sapi. Keadaan demikian merangsang jasad renik
melakukan perubahan-perubahan aktif, sehingga perubahan berlangsung dengan cepat. Pada perubahan-perubahan ini berlangsung
pula pembentukan panas, sehingga pupuk kambing dapat dicirikan sebagai pupuk panas. Namun pada pemakaian pupuk ini dalam
tanah sebaiknya dilakukan 1-2 minggu sebelum masa tanam (Sutedjo, 2008).

Dengan pemberian pupuk kandang kambing akan meningkatkan produksi kacang panjang, sebab pupuk kandang kambing kandungan
unsur N nya hanya 0,35 %. Akar tanaman kacang panjang dapat bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. Yang berperan mengikat
nitrogen dari udara, sehingga di dalam budidaya kacang panjang tidak boleh berlebihan menggunakan pupuk kandang yang
mengandung unsur N terlalu tinggi seperti pupuk kandang ayam, karena dengan menggunakan unsur hara yang kandungan N nya
tinggi, tanaman kacang panjang hanya tumbuh dengan fase vegetatif saja sehingga akan lupa dengan pertumbuhan generatif, yang
akhirnya tanaman kacang panjang hanya dipenuhi dengan daun yang terlalu rimbun sehingga tanaman kacang panjang tidak mampu
berproduksi secara maksimal.
Pupuk kandang kambing termasuk pupuk majemuk karena mengandung unsur hara makro (N,P,K) dan unsur mikro (Ca, Mg, Fe, Mn,
Bo, S, Zn, dan Co) yang dapat memperbaiki struktur kesuburan tanah. Pupuk kandang dapat memperbaiki porositas tanah. Pada tanah
berstruktur jelek seperti tanah liat dengan penambahan bahan organik akan Mengurangi kelengketan sehingga mudah diolah.
sementara pada tanah berpasir, penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan daya pegang tanah terhadap air dan hara.
Pada tanah asam, ion-ion yang dibutuhkan tanaman cenderung dalam kondisi terikat. Dengan adanya pupuk kandang akan terjadi
sistem pengikatan dan pelepasan ion dalam tanah sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Memperbaiki Kondisi Biologi
Tanah yaitu Pupuk kandang merangsang mikroorganisme tanah yang menguntungkan seperti rhizobium, mikoriza, dan bakteri
pengurai fosfat atau kalium. konsentrasi O2 dan CO2 dalam berhubungan dengan aktifitas biologi tanah. Memperbaiki Kondisi Fisik
Tanah Kemampuan mengikat air oleh pupuk kandang dapat menjadikan porositas tanah lebih baik sehingga dapat mendukung
respirasi dan pertumbuhan akar tanaman. Serta dalam Pemakaian pupuk kandang tidak meninggalkan residu pada hasil panen
sehingga tidak menimbulkan efek negatif bagi kesehatan manusia

1.5 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, dapat diambil simpulan sementara atau hipotesis sebagai berikut.
1. Diduga saat pemangkasan daun 20 hari setelah tanam merupakan waktu yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan
produksi kacang panjang.
2. Diduga tanaman kacang panjang memberikan respon pemberian dodis pupuk kandang 10 ton/ha. Terhadap pertumbuhan dan
produksi kacang panjang.
3. Diduga terjadi interaksi antara saat pemangkasan daun dan dosis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi kacang
panjang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi


Menurut Pitojo S. (2006). Tanaman kacang panjang dalam bahasa Latin disebut Vigna sinensis ssp. Sesquipedalis (L.) Van
Eseltine, dengan nama sinonim Vigna sinensis var. sesquipedalis (L.) Aschers & Schweinf, Vigna sinensis (L.) Savi ex Hassk, Vigna
sesquipedalis (L.) Fruwirth, Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis (L.) dan disebut juga sebagai Dolichos sesquipedalis L.

2.1.1 Taksonomi
Kacang panjang di dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Dicotyledonae
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae atau Leguminosae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna sinensis (L.)
Tanaman ini membentuk bintil akar yang memfiksasi nitrogen, sehingga pemupukan N untuk tanaman ini dapat dikurangi.
2.1.2 Morfologi
Menurut Pitojo S. (2006). Bagian-bagian tanaman kacang panjang meliputi akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Secara
sepintas masing-masing bagian tanaman tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Akar
Akar tanaman kacang panjang terdiri atas akar tunggang, akar cabang, dan akar serabut. Perakaran tanaman dapat mencapai sedalam
60 cm. Akar tanaman kacang panjang dapat bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. Yang berperan mengikat nitrogen dari udara.
Ciri adanya simbiosis tersebut yaitu terdapat bintil-bintil akar disekitar pangkal akar. Aktivitas bintil akar ditandai oleh warna bintil
akar sewaktu dibelah. Jika bintil akar berwarna merah cerah, menandakan bintil akar tersebut efektif menambat nitrogen, sedangkan
bila bintil berwarna merah pucat, berarti penambatan nitrogen kurang efektif. Sebagian kebutuhan nitrogen dicukupi dari penambatan
nitrogen oleh bintil akar tersebut.
b. Batang
Batang tanaman kacang panjang berbuku-buku, liat, berbulu, dan berwarna hijau. Batang tumbuh keatas, membelit kerah kanan pada
lurus atau tegakan yang di dekatnya. Batang tanaman yang tidak mendapat tambatan akan tumbuh tak terarah. Batang membentuk
cabang sejak dari bagian bawah batang.
c. Daun
Daun tanaman kacang panjang berupa daun majemuk, melekat pada tangkai daun agak panjang. Pada satu tangkai terdapat tiga helai
daun, dua helai diantaranya terletak bersebelahan dan satu helai berada di ujung tangkai. Anak daun tipis, berbentuk hati, di bagian
pangkal lebar dan ujungnya meruncing, serta terasa kasar bila diraba. Daun berwarna hijau muda sampai hijau tua.
d. Bunga
Bunga kacang panjang adalah bunga kupu-kupu, terletak pada ujung tangkai. Panjang tangkai bunga sekitar 20 cm. satu tangkai
mampu memunculkan 4-6 kuntum bunga. Bunga kacang panjang mekar tidak bersamaan. Warna bunga ada yang putih, kuning, atau
kebiru-biruan. Setiap kuntum bunga memiliki tiga daun mahkota. Dua daun mahkota berada di bagian atas dan terletak bersebelahan,
sedangkan satu daun mahkota berada di bagian bawah. Bunga kacang panjang memiliki benang sari dan kepala putik
Bunga kacang panjang mekar pada pagi hari selama sekitar tiga jam, mulai pukul 06.00 dan menutup kembali sekitar pukul 09.00 jika
mekar, bunga kacang panjang sering didatangi oleh kumbang dan kupu-kupu. Kedua serangga tersebut membantu terjadinya proses
penyerbukan. Bunga mekar dan menutup selama lima hari, selanjutnya dan mahkota layu, dan akhirenya mongering. Bunga-bunmga
yang muncul awal biasanya dapat berlanjut menjadi buah, namun ada juga diantaranya yang gagal.
Kelopak bunga kemudian layu dan mengering, ada yang gugur dan ada yang tetap melekat pada ujung buah muda hingga buah
menjadi tua. Dengan keragaman mekanisme mekarnya bunga tersebut, pada tangkai buah terdapat beragam buah. Ada tangkai yang
tidak mendukung buah, ada yang dengan 1 buah, 2 buah, kadang-kadang 3 buah, dan relatif jarang yang memiliki 4 buah.
e. Buah
Buah kacang panjang adalah buah polong. Buah terbentuk panjang, gilig, dan ramping. Warna buah beragam, ada yang hijau keputih-
putihan, hijau, merah, atau kemerah-merahan. Selain itu, ada juga polong yang berwarna merah dan bergaris putih memanjang. Jika
telah tua, kulit buah kacang panjang menjadi lembek, berwarna putih kekuning-kuningan, dan akhirnya kecoklat-coklatan. Pada satu
tangkai biasanya terdapat antara 1-3 buah, paling banyak dua buah dan jarang yang lebih dari 4 buah.
Buah kacang panjang yang muncul pada tangkai pertama kali atau yang muncul hamper bersamaan biasanya tumbuh kuat, sedangkan
buah berikutnya tidak sepanjang dan sebesar buah yang tumbuh lebih awal. Buah kacang panjang pada tiap tangkai tidak selalu sama
kuat pertumbuhannya. Ada korelasi positif antara besar dan kuatnya tangkai buah dengan banyak serta panjangnya polong. Biasanya,
tangkai buah yang kecil hanya mampu menopang buah dalam jumlah sedikit dan polong berukuran pendek. Sebaliknya, tangkai buah
yang besar dan kuat umumnya mampu mendukung polong yang banyak dan panjang-panjang.
Jumlah biji yang terbentuk berkorelasi positif dengan panjang polong. Polong yang panjang berisi lebih banyak biji dibandingkan
dengan polong yang pendek. Dengan demikian, jika tanaman kacang panjang tumbuh baik dan membentuk tangkai bunga yang besar
dan kuat, akan mampu membentuk polong dan biji lebih banyak.
f. Biji
Biji kacang panjang berbentuk bulat agak memanjang, namun ada juga yang agak pipih. Pada bagian tengah biji terdapat bekas
tangkai yang menghubungkan antara biji dan kulit buah. Biji yang semakin tua akan semakin mengering. Kulit biji tua ada yang
berwarna putih, merah keputih-putihan, cokelat, dan hitam. Pada satu polong biasanya terdapat sekitar 15 biji atau lebih, tergantung
pada panjang polong dan dipengaruhi oleh pertumbuhan tanaman dan varietas kacang panjang.

2.2 Syarat Tumbuh


Syarat tumbuh bagi tanaman harus dipenuhi agar pertanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Faktor iklim yang
mempengaruhi keberhasilan budidaya tanaman kacang panjang meliputi ketinggian tempat, curah hujan, cahaya, dan kelembaban
udara.
2.2.1 Tanah
Tanaman kacang panjang memiliki daerah sebaran lokasi cukup luas, antara 30˚ Lintang Utara dan 30˚ Lintang Selatan.
Sebagaimana layaknya tanaman semusim, kacang panjang menghendaki tanah yang subur dan berdrainase baik. Biasanya, sifat
tersebut memiliki oleh jenis tanah andosol, regosol, serta latosol. Namun demikian, tanaman kacang panjang juga dapat tumbuh pada
tanah yang telah biasa digunakan untuk budidaya tanaman walaupun relatif tidak banyak mengandung bahan organik. Kacang panjang
juga dapat tumbuh pada tanah berat, namun kurang baik pertumbuhannya karena tanah banyak mengandung air.
Tanah andosol biasanya terdapat di pegunungan, beriklim sedang, dengan curah hujan di atas 2500 mm pertahun. Tanah jenis
ini berwarna hitam, kaya dengan bahan organik, bertekstur lempung hingga berdebu, remah, gembur, dan mempunyai permeabilitas
sedang. Tanah regosol terdapat di daerah beriklim basah hingga kering, berwarna kelabu, cokelat, dan kunung. Bertekstur pasir, dan
permeabel. Sementara, tanah latosol terdapat di daerah basah hingga kering, berwarna cokelat kemerah-merahan, bertekstur lempung,
dan relatif permeabel.
Tanaman kacang panjang termasuk leguminosa yang atas bantuan bintil akar Rhizobium radicicola mampu menambah nitrogen bebas
dari udara. Kemampuan menambat nitrogen ini dipengaruhi oleh kelembaban tanah, pH, unsur Ca, P, K, Mo, Co, Mn, senyawa nitrat
dan ammonium, serta adanya faktor biologis penghambat berupa bakteriophage dan rhizophage di dalam tanah. Rhizobium aktif pada
pH antara 5,5-7,0 dan suhu optimal 18-28˚C.
Fiksasi nitrogen telah terjadi pada tanaman kacang panjang yang berumur dua minggu setelah tanam. Pada umur 14-21 hari, fiksasi
nitrogen rata-rata mencapai 0,62 mg per hari, pada umur 30-41 hari mencapai 2,44 mg per hari. Dan pada umur 41-58 hari mencapai
3,73 mg per hari (Mul Mulyani Sutedjo, dkk., 1991).
2.2.2 Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat berpengaruh terhadap keberhasilan tanaman kacang panjang. Tanaman kacang panjang dapat tumbuh dengan baik
di dataran rendah hingga dataran tinggi (Sekitar 1.500 meter dari atas permukaan laut). Penanaman di dataran tinggi terutama
ditujukan untuk keperluan konsumsi.
Tanaman ini tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah dan dataran tinggi ± 1500 m dpl, tetapi yang paling baik di
dataran rendah. Penanaman di dataran tinggi, umur panen relatif lama dari waktu tanam, tingkat produksi maupun produktivitasnya
lebih rendah bila dibanding dengan dataran rendah. Ketinggian optimum adalah kurang dari 800 meter di atas permukaan air laut.
dimasadityaperdana.blogspot.com/.../budidaya-kacang-panjang.html(diakses Rabu, 21 April 2010 Pukul 13.59)

2.2.3 Curah Hujan


Kacang panjang adalah tanaman palawija, yang tidak membutuhkan banyak air untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, tanaman ini
cocok dibudidayakan pada akhir musim hujan atau pada musim kemarau dengan jaminan pengairan yang memadai. Kacang panjang
memerlukan cukup air pada masa perkecambahan, pertumbuhan, awal pembungaan, dan pengisian polong. Tanaman ini toleran
terhadap curag hujan dengan variasi cukup besar, yakni 620-4100 mm/tahun. Namun demikian, curah hujan yang tinggi harus
dihindari sehingga diseyogiakan tidak bertanam pada musim hujan. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang panjang berkisar
antara 600-1.500 mm/tahun.
2.2.4 Suhu
Tanaman kacang panjang tumbuh dengan baik di daerah beriklim hangat, dengan kisaran suhu antara 12,5-27,4˚C dan rata-rata suhu
bulanan antara 20-35˚C. di daerah bersuhu rendah, yakni di bawah 20˚C. pertumbuhannya relatif lambat dan jumlah polong yang
terbentuk hanya sedikit. Tanaman kacang panjang peka terhadap pengaruh suhu dingin dan dapat mati jika terkendala frost (Suhu di
bawah 4˚C).
2.2.5 Cahaya
Tanaman kacang panjang memerlukan cahaya dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, tanaman ini sesuai ditanam di tempat terbuka
atau tanpa naungan karena dapat menerima cahaya matahari penuh. Cahaya matahari berperan dalam proses fotosintesis dan berguna
bagi pertumbuhan tanaman.
2.2.6 Kelembaban Udara
Tanaman kacang panjang sesuai tumbuh di daerah yang memiliki kelembaban udara kurang dari 50%. Daerah yang memiliki
kelembaban udara tinggi cenderung sesuai bagi perkembangan hama tertentu, antara lain aphis, dan penyakit. Pengaturan kelembaban
udara disekitar pertanaman kacang panjang dapat diupayakan dengan cara mengatur jarak tanam, mengadakan penjarangan, serta
mengadakan pengurangan tunas cabang tanaman, daun, dan sebagainya.

2.3 Pemangkasan Daun


Pemangkasan adalah pekerjaan untuk mengurangi daun-daun yang terlalu rimbun pada tanaman kacang panjang, guna mendapatkan
pertumbuhan dan meningkatkan produksi kacang panjang. Dengan pemangkasan daun, pertumbuhan vegetatif akan berkurang
sehingga akan merangsang pertumbuhan generatif, karena dengan pemangkasan daun akan mengurangi produksi auksin sehingga c/n-
nya menjadi lebih tinggi, selain itu cahaya matahari akan masuk ketanaman lebih banyak sehingga akan merangsang pembentukan
bunga.
Pemangkasan pada tanaman kacang-kacangan umumnya dilakukan pada fase vegetatif. Hal ini dapat mengakibatkan alokasi asimilat
dari pertumbuhan vegetatif dialihkan ke pertumbuhan generatif. Menurut Gardner dkk (1991), Pemangkasan daun pada fase vegetatif
dapat mengurangi persaingan dan pengambilan nutrisi pada fase vegetatif dan fase pembungaan, sehingga hasil asimilat dialihkan
untuk pembentukan polong.
Pemangkasan, berbeda dengan tanaman lain, untuk kacang panjang pemangkasan dapat dilakukan pada tanaman saat pada fase
vegetatif. Yang mana dilakukan pada pucuk daunnya antara 2-3 ruas terakhir. Pemangkasan pada kacang panjang ini, pada prinsipnya
lebih menekankan untuk mengarahkan tanaman agar segera berkonsentrasi pada pertumbuhan generatif, selain itu akan kurang baik
dampaknya bagi tanaman yang terlalu subur. Jadi sebaiknya cukup dilakukan sekali saja. Pucuk daun bekas pangkasan juga bisa
dimanfaatkan untuk sayuran (red. Lembayung).

2.4 Pupuk Kandang


Menurut Marsono (2006) menyatakan Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak, baik berupa kotoran padat
(feses) yang bercampur sisa makanan maupun air kencing (Urine). Itulah sebabnya pupuk kandang terdiri dari dua jenis, yaitu padat
dan cair. Walaupun demikian, sepertinya orang enggan membicarakan kotoran cair yang berupa urine ternak. Tidak jelas
penyebabnya, tetapi diduga bahwa orang tidak mau repot mengumpulkan urine. Dalam hal mengumpulkan fases memang jauh lebih
praktis dibanding urine ternak yang memang menyebarkan bau pesing.
Kadar hara pupuk kandang berbeda-beda karena masing-masing ternak mempunyai sifat khas tersendiri. Makanan masing-masing
ternak berbeda. Padahal makanan sangat menentukan kadar hara. Jika makanan yang diberikan kaya hara N, P dan K maka kotorannya
pun akan kaya zat tersebut. Hal lain yang perlu diperhatikan dari pupuk kandang adalah istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk
panas merupakan pupuk yang penguraiannya berjalan sangat cepat sehingga terbentuk panas. Kelemahan dari pupuk panas ini ialah
mudah menguap karena bahan organiknya tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah menjadi gas. Sementara
pupuk dingin merupakan pupuk yang penguraiannya berjalan sangat lambat sehingga tidak terbentuk panas.
Pupuk kandang siap digunakan kalau penguraian oleh mikroba sudah tidak terjadi lagi. Artinya, panas sudah tidak ada lagi dalam
kotoran. Dari pupuk tersebut sudah tidak tercium bau amoniak. Bentuknya sudah berupa tanah yang gembur kalau diremas, tampak
kering, dan berwarna cokelat tua. Penggunaan dosis pupuk kandang tergantung pada keadaan tanah. Namun, untuk di Indonesia
umumnya diberi pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha. Pupuk kandang dapat diberikan sebagai pupuk dasar sebelum tanam.
Penebaranya dilakukan secara merata diseluruh lahan, lalu tanahnya diolah untuk terakhir kali. Alangkah baiknya pemberian pupuk
kandang yang sudah matang dilakukan seminggu sebelum tanam.
Menurut Marsono (2006) menyatakan sampai tahun 1850 urusan menyuburkan tanah seluruhnya ditentukan oleh pupuk organik. Saat
itu, belum ada pupuk anorganik seperti urea. Dapat dimaklumi kalau tanah yang rata-rata masih subur secara alamiah kian subur saja
dengan adanya pupuk organik. Itulah sifat menonjol dari pupuk organik. Selain menambah unsure hara makro dan mikro di dalam
tanam, pupuk organik inipun terbukti sangat baik dalam memperbaiki struktur tanah pertanian. Pupuk organik tidak lain adalah bahan
yang dihasilkan dari pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia.
Pupuk kambing terdiri dari 67% bahan padat (faeces) dan 33% bahan cair (urine). Sebagai pupuk kandang komposisi haranya
0,95% N, 0,35% P2O5, dan 1,00% K2O. Keadaan demikian merangsang jasad renik melakukan perubahan-perubahan aktif, sehingga
perubahan berlangsung dengan cepat. Pada perubahan-perubahan ini berlangsung pula pembentukan panas, sehingga pupuk kambing
dapat dicirikan sebagai pupuk panas. Namun pada pemakaian pupuk ini dalam tanah sebaiknya dilakukan 1-2 minggu sebelum masa
tanam (Sutedjo, 2008).

2.4.1 Aplikasi pupuk kandang


Menurut Marsono (2006) menyatakan pupuk kandang siap digunakan kalau penguraian oleh mikroba sudah tidak terjadi lagi. Artinya,
panas sudah tidak ada lagi dalam kotoran. Dari pupuk tersebut sudah tidak tercium bau amoniak. Bentuknya sudah berupa tanah yang
gembur kalau diremas, tampak kering, dan berwarna kering tua. Pupuk kandang dapat diberikan sebagai pupuk dasar sebelum tanam.
Penebarannya dilakukan secara merata diseluruh lahan, lalu tanahnya diolah untuk terakhir kali. Pemberian pupuk kandang yang
sudah matang dilakukan seminggu sebelum tanam. Untuk tanaman kacang panjang, pemupukan dapat dilakukan dengan cara disebar
diantara guludan, ditutup tipis dengan tanah, lalu ditugal untuk meletakan benih.
Pada percobaan kali ini akan diaplikasikan pada sebelum dan sesudah tanam. Dalam pengaplikasian pupuk kandang ini
meliputi 3 taraf perlakuan dosis yaitu:
D1 = Pupuk Kandang, Dosis 0 ton/ha
D2 = Pupuk Kandang, Dosis 10 ton/ha
D3 = Pupuk Kandang, Dosis 20 ton/ha

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu


Penelitian ini akan dilaksanakan di depan kampus Universitas Pekalongan, Jalan Sriwijaya nomor 3 Pekalongan. Pada ketinggian
tempat 7 meter di atas permukaan laut. Dengan jenis tanah Alluvial. Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan. Yaitu mulai
bulan Mei sampai dengan Juli 2010.

3.2 Bahan dan Alat


Bahan yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah benih kacang panjang, pupuk kandang (kambing), Fungisida, ajir dari kayu
bambu, dan tali raffia.
Alat yang digunakan adalah sabit, cangkul, tugal, gembor, ember, papan nama, gunting, jangka sorong, timbangan, kertas label dan
alat tulis.

3.3 Metode Penelitian


3.3.1 Rancangan Percobaan
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK).
3.3.2 Rancangan Perlakuan
Perlakuan yang dicoba adalah 3 taraf saat pemangkasan daun dan 3 taraf aplikasi pupuk kandang kambing, yaitu:
 Saat Pemangkasan Daun (P)
P0 = Tidak ada pemangkasan / Kontrol (tidak ada perlakuan)
P1 = Pemangkasan daun 20 hst
P2 = Pemangkasan daun 35 hst

 Macam Aplikasi Pupuk Kandang (Dosis)


D1 = Pupuk Kandang, Dosis 0 ton/ha
D2 = Pupuk Kandang, Dosis 10 ton/ha
D3 = Pupuk Kandang, Dosis 20 ton/ha
Dengan demikian terdapat 9 kombinasi perlakuan, masing-masing kombinasi diulang tiga kali sehingga seluruhnya (3 x 3) x 3
= 27 satuan percobaan. Kombinasi perlakuan lengkap 2 faktor pemangkasan daun dan Aplikasi pupuk kandang kambing (Dosis).
Tabel 1. Kombinasi perlakuan dua faktor yaitu saat pemangkasan daun dan Aplikasi pupuk kandang.
Pemangkasan daun (P) Aplikasi pupuk kandang / dosis (D)
D1 D2 D3
P0 P0D1 P0D2 P0D3
P1 P1D1 P1D2 P1D3
P2 P2D1 P2D2 P2D3
3.4 Pelaksanaan Percobaan
3.4.1 Penyiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur, lalu dibuat bedengan dengan
ukuran lebar 60 - 80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi bedengan 30 cm, panjang tergantung lahan.
Pada saat pembentukan bedengan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur merata dengan tanah,
lalu diolah kembali supaya rata.
3.4.2 Teknik Penanaman
Jarak lubang tanam untuk kacang panjang adalah 20 x 50 cm. Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim
penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai. Cara Penanamannya adalah Benih dimasukkan ke dalam
lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

3.4.3 Pemeliharaan Tanaman


3.4.3.1 Penyulaman
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.
3.4.3.2 Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan
dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.
3.4.3.3 Pemangkasan
Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun. Karena tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat
pertumbuhan bunga.
3.4.3.4 Pemupukan
Pemupukan dapat diberikan sebanyak 2 kali, yang pertama pada sebelum tanam yang diberikan langsung pada saat pengolahan tanah,
dan yang kedua pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di samping kiri-kanan tanaman.
3.4.3.5 Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Karena tanaman kacang panjang akan
mudah stress apabila kekurangan air.

3.4.4 Pengendalian Hama dan Penyakit


3.4.4.1 Pengendalian Hama
a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna
kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak.
Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida
(cc/liter).
b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk
tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan
penyemprotan insektisida (Furadan 3G)
c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong.
Pengendalian: dengan peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama kimiawi dan insektisida.
d. Penggerek biji (Callosobruchus maculates L.)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%.
Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama.
e. Ulat bunga (Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan
menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida yang efektif seperti Sevin pada kosentrasi 0,1%-
0,2%.

3.4.4.2 Pengendalian Penyakit


a) Antraknose
Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum. Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker
berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan
fungisida dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.
b) Penyakit mozaik
Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak
beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan menggunakan benih yang sehat dan bebas virus,
disemprot dengan insektisida yang efektif untuk kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
c) Penyakit sapu
Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku)
batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan
pengendalian penyakit mosaik.
d) Layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman
mati.
Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati.
Namun apabila tanaman kacang panjang tidak terserang hama dan penyakit, tidak perlu diseprot dengan insektisida.

3.5 Variabel yang diamati


a. Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan setiap satu minggu sekali, dimulai pada 7, 14, 21, 28, dan 35 hst. Pengukuran dilakukan dari
permukaan tanah sampai ujung titik tumbuh kemudian hasilnya dirata-ratakan.
b. Saat berbunga (hst)
Pengamatan saat berbunga dihitung dalam hari setelah tanam.
c. Jumlah bunga pertanaman
Penghitungan jumlah bunga pertanaman dilakukan pada keluar bunga pertama sampai akhir pecobaan dengan cara menghitung jumlah
bunga pada masing-masing tanaman sample.
d. Jumlah buah pertanaman
Penghitungan jumlah buah pertanaman dilakukan pada saat panen pertama sampai panen kelima, dengan cara menghitung jumlah
buah pada masing-masing tanaman sample.
e. Panjang buah pertanaman (cm)
Pengukuran panjang buah dilakukan pada masing-masing buah tanaman sample, dengan cara mengukur panjang buah kacang panjang
dari pangkal buah sampai ujung buah.
f. Bobot buah per petak (kg/m2)
bobot buah per petak dilakukan dengan menimbang produksi kacang panjang yang telah dipanen dari masing-masing petak,
kemudian dihitung bobot rata-rata pertanaman.
g. Bobot buah (ton/ha) konversi
bobot buah (ton/ha) dilakukan pada panen pertama sampai panen ke lima, dengan cara menimbang semua buah kacang
panjang tersebut.
h. Bobot basah tanaman (gram)
Pengamatan bobot basah tanaman dilakukan dengan cara mencabut tanaman lalu ditimbang seluruh bagian tanaman basah tersebut
pada masing-masing tanaman sample, kemudian hasilnya dirata-ratakan. Pengamatan dilakukan pada akhir percobaan.
i. Bobot kering tanaman (gram)
Pengamatan bobot kering tanaman dilakukan dengan cara tanaman yang sudah dicabut lalu dikeringkan dengan cahaya sinar matahari
atau dengan cara dioven lalu setelah tanaman tersebut sudah kering maka tanaman tersebut ditimbang, kemudian hasilnya dirata-
ratakan.

3.6 Analisis data


Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F. jika antara faktor yang dicoba terdapat perbedaan nyata, maka analisis dilanjutkan dengan
uji beda nyata terkecil (BNT). Model matematik dari percobaan ini adalah:
Yij = U + Bk + Pi + Dj + (Pwij) + Eijk
Yij =Nilai pengamatan (Respon) dari kelompok ke- k yang memperoleh taraf ke-i dari faktor P dan taraf ke- j dari faktor D.
U = Nilai rata-rata sebenarnya
Bk = Pengaruh kelompok ke- k (k=1,2,3)
Pi = Pengaruh faktor saat Pemangkasan daun pada taraf ke- i (i = 1,2,3,4)
Dj = Pengaruh faktor aplikasi/dosis pupuk kandang pada taraf ke- j (j = 1,2,3)
(PD)ij = Pengaruh interaksi antara saat pemangkasan daun pada taraf ke-i (P) dengan dosis pupuk kandang pada taraf ke-j (D)
Eijk = Pengaruh galat percobaan pada kelompok ke-k yang memperoleh perlakuan taraf ke-i dari faktor (P) dan perlakuan ke-j dari
faktor (D).

DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, S. 2002. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta

Karnomo, dkk. 1989. Pengantar Produksi Tanaman Agronomi. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Marsono. 2006. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta

Pitojo, S. 2006. Benih Kacang Panjang. Kanisius. Yogyakarta

Rahayu, E. dkk. 2007. Budidaya Kacang Panjang. Penebar Swadaya. Jakarta

Rubatzky. 1998. Pengaturan Pengaturan Jarak Tanam. Jurusan Pendidikan Biologi. Universitas Pendidikan
Ganesha.Singaraja.
www.suryabrainsmart.blogspot.com/.../pengaruh-pengaturan-jarak-tanaman.html (diakses Rabu, 21 April 2010 Pukul 14.13).

-----------------. 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius. Yogyakarta.

Samadi, B. 2003. Usaha Tani Kacang Panjang. Kanisius. Yogyakarta.

Sunarjono, H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta

Sutedjo, MM. 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Syarief. ES. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanaman Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta

www.pupuk-organik.8m.com/ - diakses 14 Mei 2010. Pukul 09.32 Wib.

www.tanindo.com/abdi14/hal0601.htm - diakses 19 Mei 2010 Pu