Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di umum, pekerti bisnis dapat didefinisikan sebagai satu prinsip standar atau
moril diterapkan pada satu organisasi bisnis. Untuk berkelakuan pada satu secara etis
dan secara sosial cara bertanggung-jawab harus menjadi tanda dari tiap-tiap
perilakunya businessperson, domestik atau internasional. Masalah utama bangun dari
pertanyaan moral dari apa benar dan atau menyesuaikan bersikap itu beberapa dilema
untuk pemasar domestik. Masalah dari etika bisnis adalah infinitely lebih rumit pada
bisnis internasional karena pertimbangan menghargai membedakan secara luas antara
secara cultural group berbeda. Apa itu biasanya diterima seperti kanan di negara
sesuatu dengan sepenuhnya yang tidak dapat diterima pada lain. Di kertas ini,
beberapa aspek berhubungan ke pekerti bisnis di bisnis international meliputi definisi
dan teori dari etika, masalah etis di bisnis internasional, kode etis dari satu
kemasyarakatan organisasi bisnis dan perusahaan tanggungjawab dijelaskan.
Kegiatan bisnis yang meningkat di dunia dewasa ini, telah menimbulkan
tantangan baru, yaitu adanya tuntutan praktik bisnis yang baik, etis, dan menjadi
dasar kehidupan bisnis yang dapat diterima oleh banyak negara di dunia. Dalam
kegiatan bisnis internasional, perusahaan akan mampu bertahan apabila mampu
bersaing. Untuk dapat bersaing tentunya harus memiliki daya saing, yang di antaranya
dihasilkan dari produktivitas dan efisiensi. Untuk itu diperlukan etika dalam berusaha
atau berbisnis, karena praktik usaha yang tidak etis dapat menimbulkan kegagalan
pasar, mengurangi produktivitas dan meningkatkan ketidakefisienan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang di maksud dengan etika bisnis.?
2. Masalah-masalah apa saja yang timbul didalam Etika bisnis Internasional.?
3. Bagimana cara mengatasi kesenjangan-kesenjangannya.?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan teori dan pengertian etika bisnis

1. Pengertian etika
Cukup banyak pengertian atau definisi mengenai etika. Secara etimologis, kata
“etika” berasal dari kata Yunani “ethos” (jamak : ta etha), yang berarti “adat istiadat” atau
“kebiasaan”. Dari pengertian ini, etika berkaitan dengan kebiasaan dan tata cara hidup yang
baik yang dianut suatu masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kebiasaan hidup yang baik ini kemudian dibakukan dalam bentuk kaidah, aturan atau norma
yang disebarluaskan, dikenal, dipahami, dan diajarkan secara lisan dalam masyarakat. Etika
secara lebih luas dipahami sebagai pedoman bagaimana manusia harus hidup, dan bertindak
sebagai orang yang baik. Etika memberi petunjuk, orientasi, arah bagaimana harus hidup
secara baik sebagai manusia.
Sebagai suatu ilmu, ilmu etika merupakan suatu ilmu yang mempelajari standard
moral dari seseorang atau suatu masyarakat (Velasquez, 2006). Standar moral merupakan
norma-norma mengenai tindakan-tindakan yang dipercaya secara moral benar dan salah, serta
nilai-nilai yang diberikan terhadap suatu obyek yang dipercaya secara moral adalah baik atau
buruk.
Etika sebagai suatu ilmu dapat dibagi dua, yaitu kajian yang bersifat normatif
(normative study) dan kajian yang bersifat deskriptif (descriptive study). Kajian yang bersifat
normatif merupakan investigasi yang mencoba untuk memperoleh kesimpulan mengenai
apakah sesuatu baik atau buruk dan apakah suatu tindakan benar atau salah. Misalnya, terkait
dengan pertanyaan : “Apakah penyuapan di dunia bisnis, baik atau buruk?”. Untuk menjawab
itu, ahli etika akan mencari jawabnya berdasarkan kajian normatif dengan menggunakan
berbagai teori yang ada, dan menyimpulkan apakah penyuapan di dunia bisnis baik atau
buruk. Sedangkan kajian yang bersifat deskriptif merupakan investigasi yang tidak mencoba
untuk mencapai suatu kesimpulan mengenai baik dan buruk atau benar dan salah. Hal ini
misalnya dilakukan oleh ahli anthropologi yang mempelajari standar moral dari suatu suku
bangsa. Mereka akan mencoba untuk menjelaskan secara akurat mengenai standar moral dari
suku bangsa tersebut dengan menggunakan berbagai teori, akan tetapi bukan tujuan mereka
untuk memberikan penilaian apakah moral dari suku bangsa tersebut baik atau buruk.
2. Teori Etika
Menurut Keraf (2002) terdapat tiga teori mengenai etika, yaitu teori deontologi, teori
teleologi dan etika keutamaan.
Istilah “deontologi” berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban, dan
“logos” yang berarti ilmu atau teori. Menurut teori ini, cara bertindak dalam suatu
situasi tertentu adalah melakukan apa yang menjadi kewajiban sebagaimana terungkap
dalam norma dan nilai-nilai moral yang ada. Suatu tindakan dinilai baik atau buruk
berdasarkan apakah tindakan tersebut sesuai atau tidak dengan kewajiban. Suatu tindakan
dianggap baik karena tindakan tersebut memang baik pada dirinya sendiri, sehingga
merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya, suatu tindakan dinilai buruk
secara moral karena tindakan tersebut memang buruk secara moral sehingga tidak menjadi
kewajiban untuk kita melakukannya.
Istilah “teleologi” berasal dari kata Yunani “telos” yang berarti tujuan, dan “logos”
yang berarti ilmu atau teori. Etika teleologi menjawab pertanyaan bagaimana bertindak dalam
situasi tertentu dengan melihat tujuan atau akibat dari suatu tindakan, atau dengan kata
lain menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat dari tindakan
tersebut. Dalam suatu situasi tertentu, tindakan yang harus dipilih adalah tindakan yang
membawa akibat yang baik, karena suatu tindakan dinilai baik apabila bertujuan baik dan
mendatangkan akibat baik. Etika teleologi lebih bersifat situasional dan subyektif, dimana
tindakan seseorang tergantung dari penilaiannya terhadap akibat dari tindakan tersebut.
Apabila dianggap baik, suatu tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan norma atau nilai
moral yang berlaku dapat dilakukan.
Berbeda dengan kedua teori etika yang lain, teori ini mendasarkan penilaian moral
pada pengembangan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul bukan dalam
bentuk aturan berupa larangan atau perintah, akan tetapi dalam bentuk teladan moral yang
nyata dipraktikkan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam masyarakat. Menurut teori ini, cara
bertindak secara moral di dalam situasi konkirt yang dilematis adalah meneladani sikap dan
perilaku moral tokoh-tokoh yang kita kenal, baik dalam masyarakat, sejarah atau cerita yang
kita ketahui, ketika mereka menghadapi situasi serupa.

3. Prinsip Etika Bisnis


Cukup banyak definisi mengenai etika bisnis. Secara umum etika bisnis dapat
didefinisikan sebagai suatu standar atau prinsip moral yang diterapkan di dalam lembaga atau
organisasi bisnis dan perilaku yang dapat diterima (benar) atau tidak dapat diterima (salah)
dari orang-orang yang bergerak di dunia bisnis. Sedangkan, etika bisnis internasional terkait
dengan standar moral yang diterapkan di dalam kegiatan bisnis internasional.
Sebagai suatu ilmu, etika bisnis merupakan ilmu yang mempelajari secara khusus
standar moral tersebut dan melakukan analisis dan evaluasi dari keputusan-keputusan bisnis
didasarkan pada konsep dan penilaian moral.

B. Permasalahan Etika Bisnis Dalam Bisnis Internasional

Pertanyaan terkait moral mengenai apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau
salah, seringkali menjadi dilema di dalam kegiatan bisnis internasional. Penilaian terhadap
suatu tindakan terkait bisnis yang dianggap baik atau buruk dan benar atau salah seringkali
berbeda di antara satu negara dengan negara lainnya. Bahkan di dalam suatu negarapun
penilaian ini sering berbeda dikarenakan perbedaan di dalam budaya dari masyarakatnya. Di
samping faktor budaya, perbedaan pandangan ini juga sering dipengaruhi oleh sistem
perekonomian dan sistem pemerintahan suatu negara, disamping kepercayaan dan agama
yang ada di masyarakat.
Permasalahan etika bisnis dapat muncul di berbagai aspek bisnis internasional. Dalam
bidang produksi, misalnya muncul permasalahan etika terkait perusahaan dengan lingkungan,
baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial, penggunaan binatang untuk uji coba obat-
obatan baru, cara transportasi ternak, dan diketemukannya teknologi baru seperti produk
transgenik atau genetically modified product dan cloning. Dalam bidang pemasaran, misalnya
muncul permasalahan etika terkait pelaksanaan promosi (seperti adanya unsur sex dalam
advertising), pemasaran langsung di sekolah, dan advertising yang menyesatkan dengan tidak
memberikan informasi produk yang sebenarnya. Dalam bidang keuangan, misalnya
terkait insider trading, pembayaran yang sangat besar terhadap CEO perusahaan
sebagai excutive compensation, dan pembuatan laporan keuangan yang tidak benar. Dalam
bidang HAKI (hak atas kekayaan intelektual), misalnya terkait pembajakan, pemalsuan merk,
dan business intelligence. Dalam tenaga kerja, misalnya terkait pemberian upah buruh yang
sangat rendah untuk memproduksi barang yang relatif mahal harganya, serta diskriminasi
gender, suku dan agama dalam pekerjaan.
Dengan perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi, terutama teknologi
informasi, komunikasi dan produksi, maka di masa-masa yang akan datang dapat muncul
permasalahan baru terkait etika dengan munculnya teknik, metode atau cara baru di bidang
bisnis. Misalnya dalam bidang proses produksi, pemasaran dan keuangan.

A. Prinsip Etika Bisnis

Dewasa ini, perusahaan-perusahaan bisnis internasional, terutama yang besar, pada


umumnya sudah memiliki pedoman etika bisnis di dalam perusahaannya. Kode etik
internasional pertama di bidang bisnis adalah ”The Caux Round-Table Principles for
Business” yang disepakati pada tahun 1994 oleh eksekutif puncak dari berbagai perusahaan
multinasional dari Jepang, Eropa dan Amerika Serikat (seperti Matsuhita, Philips, Ciba-
Geigy, Cummins, 3M dan Honeywell). Prinsip Caux berakar pada dua nilai ideal dasar dalam
etika, yaitu konsep Jepang “kyosei” yang berarti hidup dan bekerja bersama-sama demi
kesejahteraan umum, dan konsep barat “human dignity” (martabat manusia) yang mengacu
pada kesucian atau bernilainya setiap pribadi sebagai tujuan, tidak semata-mata sebagai
sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan orang lain atau bahkan untuk melaksanakan
kehendak mayoritas.
Kode etik ini terbagi dalam tiga bagian utama, yaitu mukadimah, prinsip-prinsip
umum, dan prinsip-prinsip stakeholder. Prinsip-prinsip umum dari ”The Caux Round-Table
Principles for Business” adalah sebagai berikut.

Prinsip 1. Tanggung Jawab Bisnis Dari “Shareholders” ke “Stakeholders”


Nilai organisasi bisnis bagi masyarakat ialah kekayaan dan lapangan kerja yang
diciptakannya serta produk dan jasa yang dipasarkan kepada konsumen dengan harga wajar
yang sebanding dengan mutu. Untuk mampu menciptakan nilai itu, sebuah organisasi bisnis
haruslah mempertahankan kesehatan dan kelangsungan hidupnya, namun kelangsungan
hidup bukanlah tujuan yang mencukupi.
Bisnis memainkan peranan untuk meningkatkan kehidupan semua pelanggan,
karyawan dan pemegang saham dengan membagikan kekayaan yang diciptakannya. Para
pemasok dan pesaingpun berharap bahwa organisasi-organisasi bisnis menghormati
kewajiban-kewajiban mereka dengan semangat kejujuran dan keadilan. Sebagai warga yang
bertanggung jawab dari komunitas lokal, nasional, regional dan global dimana mereka
beroperasi, organisasi-organisasi bisnis ikut serta dalam menentukan masa depan komunitas-
komunitas itu.

Prinsip 2. Dampak Ekonomis dan Sosial dari Bisnis : Menuju Inovasi, Keadilan dan
Komunitas Dunia
Organisasi-organisasi bisnis yang didirikan di luar negeri untuk membangun,
memproduksi atau menjual juga harus memberi sumbangan pada pembangunan sosial
negara-negara itu dengan menciptakan lapangan kerja yang produktif dan membantu
meningkatkan daya beli warga negara setempat. Organisasi-organisasi bisnis harus juga
menyumbang pada hak-hak azasi manusia, pendidikan, kesejahteraan dan vitalisasi negara-
negara tempat mereka beroperasi.
Organisasi-organisasi bisnis harus menyumbang pada pembangunan ekonomi dan
sosial tidak hanya di negara-negara tempat mereka beroperasi, tetapi juga bagi komunitas
dunia pada umumnya, melalui penggunaan sumber-sumber secara efektif dan bijaksana,
kompetisi yang bebas dan adil, serta penekanan pada inovasi di bidang teknologi, metode-
metode produksi, pemasaran dan komunikasi.

Prinsip 3. Perilaku Bisnis : Dari Hukum Tersurat ke Semangat Saling Percaya


Dengan tetap mengakui keabsahan rahasia-rahasia dagang, organisasi-organisasi
bisnis haruslah menyadari bahwa kelurusan hati, ketulusan, kejujuran, sikap memegang teguh
janji, dan transparansi, bermanfaat tidak hanya bagi kredibilitas dan stabilitas bisnis sendiri,
tetapi juga bagi kelancaran dan efisiensi transaksi-transaksi bisnis, khususnya pada tingkat
internasional.

Prinsip 4. Sikap Menghormati Aturan


Untuk menghindari konflik-konflik dagang dan untuk menggalakkan perdagangan
yang lebih bebas, kondisi-kondisi adil dalam persaingan, perlakuan yang seimbang dan adil
bagi seluruh partisipan, organisasi-organisasi bisnis wajib menghormati aturan-aturan
internasional dan domestik. Disamping itu, bisnispun harus menyadari bahwa perilaku-
perilaku tertentu, biarpun tidak melanggar aturan, tetap saja dapat menimbulkan akibat-akibat
yang tidak diinginkan.

Prinsip 5. Dukungan Bagi Perdagangan Multilateral


Organisasi-organisasi bisnis wajib mendukung sistem perdagangan multilateral dari
GATT/WTO serta kesepakatan-kesepakatan internasional serupa. Mereka wajib bekerja sama
dalam upaya-upaya untuk memajukan liberalisasi perdagangan yang progresif dan sesuai
dengan akal sehat dan untuk mengendurkan ketentuan-ketentuian domestik yang secara tidak
masuk akal menghambat perniagaan global, dengan tetap menghormati tujuan-tujuan
kebijaksanaan nasional.

Prinsip 6. Sikap Hormat Bagi Lingkungan Alam


Bisnis wajib melindungi dan, dimana mungkin, meningkatkan lingkungan alam,
mendukung pembangunan yang berkelanjutan, dan mencegah terjadinya pemborosan
sumber-sumber daya alam.

Prinsip 7. Menghindari Operasi-Operasi Yang Tidak Etis


Bisnis wajib untuk tidak berpartisipasi dalam atau menutup mata terhadap penyuapan,
pencucian uang (money laundering), atau praktek-praktek korup lainnya, bahkan bisnis wajib
untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk membasmi praktek-praktek itu.
Bisnis wajib untuk tidak memperdagangkan senjata atau barang-barang lain yang
diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan teroris, perdagangan obat bius, atau kejahatan
terorganisasi lainnya.

B. Kode Etik Perusahaan


Di negara yang kegiatan bisnisnya sudah maju, seperti di Amerika Serikat dan Eropa,
sebagian besar perusahaan besar sudah mengembangkan kode etik perusahaannya masing-
masing. Kode etik itu antara lain menjelaskan harapan perusahaan agar karyawan mampu
mengenali masalah-masalah etis terkait kebijakan perusahaan, dan harapan menyangkut
perilaku karyawan dalam situasi tertentu.

Sebagai contoh, di dalam pedoman Etika Bisnis dari perusahaan Ericsson, dimuat tata
tertib mengenai tanggung jawab individu, serta tanggung jawab terhadap karyawan,
pelanggan, pemasok, pemegang saham dan para pemangku kepentingan lainnya, termasuk :
 mematuhi undang-undang, tata tertib dan peraturan;
 melindungi informasi rahasia perusahaan dan informasi para pelanggan
sertavendor perusahaan;
 perlindungan dan penggunaan aset perusahaan yang layak;
 memperlakukan karyawan dengan hormat dan melindungi hak azasi manusia;
 menangani konflik kepentingan;
 mendukung pengungkapan secara lengkap, adil, akurat, tepat waktu dan dapat
dipahami dalam laporan keuangan dan komunikasi publik lainnya;
 melindungi lingkungan; dan
 mendukung pelaporan tentang setiap perilaku yang melanggar hukum atau yang tidak
etis.

C. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility = CSR)

Salah satu konsep terkait dengan etika bisnis adalah Corporate Social
Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. CSR merupakan suatu konsep
mengenai tanggung jawab perusahaan untuk turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
lingkungan perusahaan, termasuk turut menjaga dan meningkatkan kondisi lingkungan
hidup. World Business Council for Sustainable Developmentmendefinisikan CSR sebagai
suatu komitmen berkelanjutan dari dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan
kontribusi terhadap pengembangan ekonomi masyarakat setempat maupun masyarakat luas,
bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.
Pertimbangan dasar konsep CSR adalah kenyataan bahwa suatu perusahaan banyak
memperoleh manfaat dari masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar perusahaan, termasuk
masyarakat sebagai konsumen yang menyebabkan perusahaan memperoleh laba. Oleh
karena itu, merupakan kewajiban perusahaan untuk turut membantu mensejahterakan
masyarakat. Apabila kondisi masyarakat tidak sejahtera, hal ini akan memberikan dampak
negatif terhadap perusahaan, seperti masyarakat tidak mampu membeli produk yang
dihasilkan perusahaan, terjadinya pelanggaran hak cipta dengan pembajakan atau peniruan
produk dan lain-lain. Perusahaan juga harus memperhatikan kondisi lingkungan masyarakat,
seperti jangan sampai proses produksi menghasilkan limbah sebagai hasil sampingan yang
merugikan atau menurunkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Di dalam menjalankan bisnis, pimpinan dan karyawan perusahaan harus mampu
menjaga dan memelihara kesehatan dan keselamatan masyarakat serta turut meningkatkan
kesejahteran mereka, dan memelihara kondisi dan keamanan lingkungan. Tujuan itu
diantaranya dapat dicapai dengan cara turut menyediakan fasilitas dan memajukan
pendidikan masyarakat, menyediakan fasilitas dan memajukan kesehatan masyarakat,
meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, memberikan informasi yang berguna bagi
masyarakat, membina lingkungan dan konservasi sumber daya alam, serta melakukan praktek
bisnis yang beretika.
Jadi secara umum, penerapan tanggung jawab sosial suatu perusahaan ditujukan
kepada :
(a) stakeholders (pemangku kepentingan) perusahaan, khususnya pemilik modal, karyawan,
dan konsumen;
(b) lingkungan hidup di sekitar kegiatan operasi perusahaan; dan
(c) kesejahteraan sosial umum.

Permasalahan dalam penerapan CSR bagi suatu perusahaan yang bergerak dalam
bisnis internasional muncul dari luar perusahaan dan dari dalam perusahaan itu sendiri. Dari
luar perusahaan, permasalahan yang muncul terutama diakibatkan oleh perbedaan kondisi di
antara negara-negara dimana perusahaan melakukan kegiatannya. Kondisi ini meliputi antara
lain bagaimana peraturan terkait CSR dan lingkungan yang ada di negara tersebut, peran
pemerintah dan kondisi kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini seringkali menimbulkan
pendekatan yang berbeda antara satu negara dengan negara lain dalam penerapan SCR.
Dari dalam perusahaan, permasalahan muncul terutama diakibatkan dari sikap
pandang atau pendekatan perusahaan terhadap CSR. Secara umum, terdapat tiga sikap
pandang perusahaan, yaitu sikap pandang menghalangi, bertahan, dan proaktif. Perusahaan
yang mengambil sikap pandang menghalangi, biasanya melakukan sesedikit mungkin upaya
untuk mengatasi masalah sosial atau lingkungan. Perusahaan yang mengambil sikap pandang
bertahan akan melakukan segala sesuatu tidak lebih dari yang dipersyaratkan secara hukum.
Sedangkan perusahaan yang mengambil sikap pandang proaktif secara sungguh-sungguh
mendukung CSR dan secara proaktif membantu lingkungan dan masyarakat di sekitar
perusahaan. Permasalahan mungkin saja timbul apabila perusahaan menerapkan cara
pandang pertama dan kedua.
Permasalahan lainnya yang dapat muncul dalam penerapan CSR adalah terkait dengan
biaya yang harus disediakan perusahaan untuk melaksanakan program ini, yang seringkali
menjadi sangat besar. Misalnya biaya sosial yang harus dikeluarkan perusahaan dalam upaya
penanggulangan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan operasional perusahaan.

D. Masalah dumping dalam Dunia Bisnis Internasional

Dumping adalah menjual sejumlah produk dalam kuantitas besar di suatu negara
lain dengan harga dibawah harga pasar dan kadang-kadang malah dibawah
biayaproduksiSehingga merugikan produsen lokal.
Motif Dumping:
1. Penjual mempunyai persediaan yang terlalu besar, sehingga ia memutuskan untuk menjual
produk yang bersangkutan di bawah harga saja.
2. Motif lebih jelek adalah berusaha untuk merebut monopoli pasar dengan cara membanting
harga.
Dumping Produk tidak etis karena melanggar etika pasar bebas konsumen
diuntungkan jangka pendek karena dapat membeli produk yang lebih murah. Sedangkan para
produsen menderita kerugian karena tidak sanggup menawarkan produk dengan harga yang
semurah itu. Dalam panjang roda perekonomian akan lesu dan pengangguran akan
meningkat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Etika yaitu suatu kebiasaan dan tata cara hidup yang baik yang dianut suatu masyarakat
dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Secara umum etika bisnis dapat
didefinisikan sebagai suatu standar atau prinsip moral yang diterapkan di dalam lembaga atau
organisasi bisnis dan perilaku yang dapat diterima (benar) atau tidak dapat diterima (salah)
dari orang-orang yang bergerak di dunia bisnis. Sedangkan, etika bisnis internasional terkait
dengan standar moral yang diterapkan di dalam kegiatan bisnis internasional.

B. Saran dan Kritik


Saran:
“ Tugas adalah suatu kewajiban pokok yang diemban oleh mahasiswa, banyak yang
menyepelekan akan hal ini tanpa kita sadari bahwa dengan tugas, kita dapat memperluas
wawasan maupun wacana pemikiran kita yang lebih luas. Oleh karena itu, jangan sekali-kali
teman-teman meremahkan tugas yang telah diemban kepada kita oleh dosen pembimbing.”
Kritik:
“kritikan atau masukan dari teman-teman yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan karena, sudah kodrat-nya manusia tidak pernah luput dari kesalahan.”