Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA

PERCOBAAN I

IMITASI PERBANDINGAN GENETIS

NAMA : FATIMAH KHURNIAWANTY M.

NIM : H411 16 025

HARI/TANGGAL PERCOBAAN : RABU/15 MARET 2017

KELOMPOK : II (DUA)

ASISTEN : IAN IMANUEL FIDHATAMI S.Si

LABORATORIUM GENETIKA
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa ada sifat-sifat yang diwariskan oleh induk

kepada keturunanya dan Mendel melakukan membuat suatu model pewarisan

sifat-sifat tersebut yang kebenaranya diakui sampai saat ini yaitu dengan

mengunakan metode matematis yang membantu menganalisis data yang

dihasilkan.

Faktor keturunan pada setiap individu terdapat secara berpasangan dalam

bentuk unit. Mendel berpendapat bahwa pasangan tersebut terpisah secara

seimbang dalam bentuk komponen reproduksi jantan dan betina (gamet). Dengan

demikian, masing-masing karakter ini akan diwariskan pada generasi berikutnya.

Dalam eksperimen yang dilakukan oleh Mendel menggunakan kacang ercis

Pisum sativum, Mendel menarik kesimpulan bahwa dua alel yang berlawanan

untuk sifat tertentu seperti fenotip tinggi dan pendek. Alasan Mendel memilih

kacang ercis dikarenakan kacang ercis mudah diamati fenotipnya, dapat hidup

relatif singkat.

Apabila kita menghadapi suatu peristiwa/kejadian yang tidak dapat di

pastikan akan kebenarannya biasanya digunakan berbagai macam istilah seperti

kemungkinan atau peluang dan sebagainya. Misalnya, mahasiswa yang

menantikan hasil ujiannya tentunya menghadapi kemungkinan apakah ia lulus

ataukah tidak. Seorang pemain bulu tangkis diwaktu bertanding tentunya

menghadapi kemungkinan apakah ia akan menang ataukah kalah. Jika seseorang


melempar mata uang logam ke atas, maka kemungkinan yang dihadapinya ialah

apakah uang itu akan jatuh terlentang atau tertelungkup di lantai. Seorang ibu yang

menghadapi kelahiran anaknya tentunya menghadapi kemungkinan apakah

anaknya laki-laki ataukah perempuan. Dalam ilmu Genetika, kemungkinan ikut

mengambil peranan penting. Misalnya, soal pemindahan gen-gen dari orang

tua/induk ke gamet-gamet, jenis spermatozoa yang membuahi sel telur,

berkumpulnya kembali gen-gen di dalam zigot sehingga terjadi berbagai

kombinasi (Suryo, 2011).

Berdasarkan hal diatas maka dilakukanlah percobaan untuk membuktikan

teori Mendel dengan rasio fenotip F2 yang diperoleh 9:3:3:1 melalui imitasi

perbandingan genetis dan untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan

gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu sehingga akan bertemu secara

acak atau random.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan mengenai Imitasi Perbandingan Genetis untuk

mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-

gamet tertentu dan akan bertemu secara acak atau random.

1.3 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2017 pukul

14.00-17.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Genetika, Departemen Biologi,

Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Imitasi Perbandingan Genetis

Imitasi merupakan bagian dari teori Social Learning (Teori Pembelajaran

Sosial). Prinsip dasar social learning menyatakan sebagian besar dari yang

dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation), penyajian contoh perilaku

(modeling) (Kusuma, 2012).

Perbandingan genetis merupakan suatu cara membedakan dua hal atau tiga

hal berbeda dalam pewarisan sifat dari orang tua kepada keturunannya yang akan

menghasilkan perbandingan yang signifikan (Cahyono, 2010).

Imitasi perbandingan genetis adalahperbandingan yang dimiliki makhluk

hidup yang tidak dimiliki oleh orang lain karena memperhitungkan sifat genetik

yang dimiliki seseorang masing-masing berbeda(Cahyono, 2010).

II.2 Hukum Mendel I

Hukum pewarisan Mendel adalah hukum yang mengatur pewarisan sifat

secara genetik dari satu organisme kepada keturunannya. Hukum ini didapat dari

hasil penelitian Gregor Johann Mendel, seorang biarawan Austria. Hukum Pertama

Mendel (hukum pemisahan atau segregation). Isi dari hukum segregasi: pada

waktu berlangsung pembentukan gamet, setiap pasang gen akan disegregasi ke

dalam masing-masing gamet yang terbentuk (Cahyono, 2010).

Konsep yang salah bahwa gen homozigot tidak terjadi pemisahan. Individu

dengan genotipe BB atau bb disebut homozigot karena memiliki dua gamet yang

sama. Jika dikawinkan dengan sesamanya, individu homozigot tidak mengalami

pemisahan. Individu dengan genotipe Bb disebut individu heterozigot. Jika


dikawinkan sesamanya, individu heterozigot akan mengalami pemisahan. Misal

Bb disilangkan dengan Bb akan menghasilkan keturunan BB, Bb dan bb

(Nusantari, 2013).

Konsep yang benar adalah “Bila individu genotipe BB atau bb dikawinkan

sesamanya, maka tetap mengalami pemisahan atau mengalami Hukum Mendel I.

Hanya saja hasil pemisahan adalah gamet yang sama yakni B dan B atau b dan b.

Demikian juga individu heterozigot akan mengalami pemisahan menjadi B dan b.

Jadi semua individu dengan genotip homozigot atau heterozigot sama-sama akan

mengalami pemisahan sesuai hukum Mendel I (Nusantari, 2013).

Konsep yang salah bahwa pemisahan gen berlangsung apabila gen Aa dan

Bb letaknya (lokusnya) berjauhan. Jika kedua macam gen itu lokusnya berdekatan

maka gen akan sulit memisah secara bebas, dengan kata lain gen-gen itu berpautan

satu dengan yang lain. Jadi jika gen Aa dan Bb berpautan (AaBb) maka gamet

yang dihasilkannya hanya AB dan ab (Nusantari, 2013).

Kedua alel setiap karakter berpisah selama produksi gamet. Jika suatu

organisme mempunyai alel yang sama untuk karakter tertentu, maka organisme

tersebut merupakan galur murni karakter tersebut dan akan muncul salinannya di

semua gamet. Namun, jika ada alel-alel yang berlawanan, seperti hibrid F1, maka

50% dari gamet mendapat alel dominan, sedangkan 50% lainnya mendapat alel

resesif (Putri, 2013).

Dari hasil eksperimen Mendel pada kacang ercis, ia menarik kesimpulan

bahwa dua alternatif yang berlawanan untuk sifat tertentu seperti tinggi dan

pendek. Konsep ini dikenal dengan dominan dan resesif. Mengenai tinggi tanaman

pada ercis, tinggi adalah dominan terhadap pendek sedangkan mengenai warna

polong, hijau dominan terhadap kuning. Mendel melihat adanya konsistensi dalam
jumlah tipe parental pada F2. Nampaknya selalu ada rasio pada perbandingan 3 : 1.

Sumbangan pikiran Mendel tidak berhenti pada pengenalan rasio saja. Mendel

mengadakan hipotesis bahwa sifat-sifat tersebut ditentukan oleh sepasang unit, dan

hanya sebuah unit diteruskan kepada keturunannya oleh setiap induk. Hal ini

dikenal dengan Hukum Mendel I (segregasi bebas). Contoh persilangan

monohibrid (Agus, dkk., 2013):

P: ♀ Tinggi x Pendek ♂

DD dd

G: D d

F1 : Tinggi

Dd

Menyerbuk sendiri (Dd x Dd)

F2 :

Tabel II.1 Persilangan Monohibrid


Gamet D D

D DD Dd

(tinggi) (tinggi)

D Dd dd

(tinggi) (pendek)

Keterangan:

Tinggi (D-) : pendek (dd) = 3 : 1

DD : Dd : dd = 1 : 2 : 1
Dari percobaan monohibrid yang telah dilakukan Mendel dapat mengambil

kesimpulan bahwa pada saat pembentukan gamet-gamet (serbuk sari dan sel telur)

maka gen-gen yang menentukan suatu sifat mengadakan segregasi

(memisah/pemisahan), sehingga setiap gamet hanya menerima sebuah gen saja.

Berhubungan dengan itu prinsip ini dirumuskan sebagai Hukum I dari Mendel

yang dikenal dengan nama “The Law of Segregation of Allelic Genes” (Hukum

Pemisahan Gen yang sealel) (Suryo, 2011).

II.3 Hukum Mendel II

Hukum Kedua Mendel (hukum berpasangan secarabebas atau independent

assortment). Isi dari hukum pasangan bebas: Segregasi suatu pasangan gen tidak

bergantung kepada segregasi pasangan gen lainnya, sehingga didalam

gamet-gamet yang terbentuk akan terjadi pemilihan kombinasi gen-gen secara

bebas (Cahyono, 2010).

Dalam praktek dua individu dapat mempunyai beda sifat lebih dari satu,

misalnya beda mengenai bentuk dan warna biji kapri. Hasil persilangannya (F1)

dinamakan dihibrid. Mula-mula tanaman kapri yang bijinya berkerut hijau (bbkk)

disilangkan dengan tanaman yang bijinya bulat kuning homozigotik (BBKK).

Semua tanaman F1 (dihibrid) adalah seragam, yaitu berbiji bulat kunging (BbKk).

Persilangan tanaman F1 F1 menghasilkan keturunan F2 yang memperlihatkan 16

kombinasi terdiri dari 4 macam fenotip, ialah berbiji bulat kuning, bulat hijau

berkerut kuning, berkerut hijau (Suryo, 2011).

Mendel dapat mengambil kesimpulan bahwa anggota dari sepasang gen

memisah secara bebas (tidak saling mempengaruhi) ketika berlangsung meiosis

selama pembentukan gamet-gamet. Prinsip ini dirumuskan sebagai Hukum Mendel


II yang berbunyi: “The Law of Independent Assortment of Genes” (Hukum

pengelompokan gen secara bebas (Suryo, 2011).

Sebagai contoh marilah kita ikuti percobaan Mendel dengan menggunakan

tanaman kapri Pisum sativum ia memperhatikan dua sifat keturunan yang

ditentukan oleh dua pasang gen, yaitu (Suryo, 2011):

B = gen yang menentukan biji bulat

b = gen yang menentukan biji berkerut

K = gen yang menetukan biji berwarna kuning

k = gen yang menentukan biji berwarna hijau

P: ♀ BBKK  ♂bbkk
bulat kuning berkerut hijau
sel telur: BK serbuk sari: bk

F1: BbKk
bulat kuning
serbuk sari: BK, Bk, bK, bk
sel telur: BK, Bk, bK, bk

F2:
Tabel II.2 Persilangan Dihibrid
BK Bk bK bk
BK BBKK BBKk BbKk BbKk
bulat bulat bulat bulat
kuning kuning kuning kuning
Bk BBKk BBkk BbKk Bbkk
bulat bulat bulat bulat
kuning hijau kuning hijau
bK BbKK BbKk bbKK bbKk
bulat bulat berkeriput berkeriput
kuning kuning kuning kuning
bk BbKk Bbkk BbKK bbkk
bulat bulat berkeriput berkeriput
kuning hijau kuning hijau
II.4 Interaksi Gen

Interaksi gen adalah penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang

tidak melibatkan modifikasi nisbah fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe

yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik

(Ramandhani, 2013).

Selain terjadi interaksi antar alel, interaksi juga dapat terjadi secara genetik.

Selain mengalami berbagai modifikasi rasio fenotipe karena adanya peristiwa aksi

gen tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang

tidak melibatkan modifikasi rasio fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe

yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik.

Peristiwa interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C. Punnet

setelah mereka mengamati pola pewarisan bentuk jengger ayam (Suryo, 2011).

Persilangan ayam berjengger mawar dengan ayam berjengger ercis

menghasilkan keturunan dengan bentuk jengger yang sama sekali berbeda dengan

bentuk jengger kedua tetuanya. Ayam hibrid (hasil persilangan) ini memiliki

jengger berbentuk walnut. Selanjutnya, apabila ayam berjengger walnut

disilangkan dengan sesamanya, maka diperoleh generasi F2 dengan fenotipe walnut

: mawar : ercis : tunggal = 9 : 3 : 3 : 1. Dari fenotipe tersebut, terlihat adanya satu

kelas fenotipe yang sebelumnya tidak pernah dijumpai, yaitu bentuk jengger

tunggal (Ramandhani, 2013).

Munculnya fenotipe jengger tunggal dan walnut, mengindikasikan adanya

keterlibatan dua pasang gen nonalelik yang berinteraksi untuk menghasilkan suatu

fenotipe. Kedua pasang gen tersebut masing-masing ditunjukkan oleh fenotipe

mawar dan fenotipe ercis (Ramandhani, 2013).


II.5 Penyimpangan Hukum Mendel

Penyimpangan semu hukum Mendel terjadinya suatu kerjasama berbagai sifat

yang memberikan fenotip berlainan namun masih mengikuti hukum-hukum

perbandingan genotip dari Mendel (Susanto, 2011).

Penyimpangan semu terjadi karena interaksi antar alel dan genetik sebagai

berikut (Susanto, 2011):

a. Interaksi alel adalah berbagai bentuk interaksi alel yang merupakan interaksi

dominan tidak sempurna, kodominan, variasi dua atau lebih gen sealel (alel

ganda), dan alel letal.

b. Dominansi tidak sempurna (Incomplete Dominance) adalah alel dominan tidak

dapat menutupi alel resesif sepenuhnya sehingga keturunan yang heterozigot

memiliki sifat setengah dominan dan setengah resesif.

c. Kodominan adalah dua alel suatu gen yang menghasilkan produk berbeda

dengan alel yang satu tidak dipengaruhi oleh alel yang lain. Contohnya sapi

berwarna merah kodominan terhadap sapi putih menghasilkan anak sapi roan.

d. Alel ganda adalah fenomena adanya tiga atau lebih alel dari suatu gen.

Umumnya gen tersusun dari dua alel alternatifnya. Alel ganda dapat terjadi

akibat mutasi dan mutasi menyebabkan banyak variasi alel. Gejala adanya dua

atau lebih fenotipe yang muncul dalam suatu populasi dinamakan

polimorfisme.

e. Alel letal adalah alel yang dapat menyebabkan kematian bagi individu yang

memilikinya. Alel letal resesif adalah alel yang dalam keadaan homozigot

resesif dapat menyebabkan kematian. Contoh alel letal resesif adalah albino

pada tumbuhan dan sapi bulldog. Alel letal dominan adalah alel yang dalam

keadaan dominan dapat menyebabkan kematian. Contohnya ayam jambul.


f. Interaksi gen menyebabkan terjadinya atavisme, polimeri, kriptomeri, epistasis

dan hipostasis, serta komplementer. Interaksi ini menyebabkan rasio tidak

sesuai dengan Hukum Mendel, tetapi menunjukkan adanya variasi.

g. Atavisme adalah munculnya suatu sifat sebagai akibat interaksi dari beberapa

gen. Contoh atavisme adalah sifat genetis pada jengger ayam. Ada empat

bentuk jengger ayam, yaitu walnut (R_P_), rose (RRP_), pea (rrP_), dan single

(rrpp). Perbandingan fenotipenya adalah walnut : rose : pea : single = 9 : 3 : 3 :

1.

h. Polimeri adalah bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif atau saling

menambah. Polimeri terjadi akibat interaksi atara dua gen atau lebih sehingga

disebut juga sifat gen ganda. Contoh polimeri terdapat pada percobaan

persilangan gandum, dilakukan H. Nilsson-Ehle yang menghasilkan

perbandingan fenotipe 15 : 1.

i. Kriptomeri adalah sifat gen dominan yang tersembunyi, jika gen tersebut

berdiri sendiri, namun gen dominan tersebut berinteraksi dengan gen dominan

lainnya, maka sifat gen dominan yang tersembunyi sebelumnya akan muncul.

Contoh kriptomeri adalah persilangan pada bunga Linaria maroccana yang

menghasilkan perbandingan fenotipe bunga ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4.

j. Epistasis dan Hipostasis adalah persilangan dimana gen epistasis memiliki sifat

mempengaruhi gen hipostasis. Epistasis dibedakan menjadi epistasis dominan

dimana gen dengan alel dominan menutupi kerja gen lain, epistasis resesif

yaitu gen dengan alel homozigot resesif mempengaruhi gen lain, epistasis gen

dominan rangkap adalah peristiwa dua gen dominan atau lebih yang bekerja

untuk munculnya satu fenotipe tunggal, dan komplementer adalah interaksi


beberapa gen yang saling melengkapi. Interaksi gen tersebut disebut juga

epistasis gen resesif rangkap.

Persilangan resiprok (persilangan kebalikan) ialah persilangan tukar

kelamin atau persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan.

Persilangan yang merupakan kebalikan dari persilangan yang semula dilakukan.

Sebagai contoh dapat digunakan percobaan Mendel lainnya (Suryo, 2011):

H = Gen yang menentukan buah polong berwarna hijau

h = Gen yang menentukan buah polong berwarna kuning

Mula-mula, serbuk sari dan bunga pada tanaman berbuah polong hijau

diserbukkan pada putik bunga pada tanaman berbuah polong kuning. Pada

persilangan berikutnya cara tersebut diatas dibalik. Dari kedua macam persilangan

tersebut adalah ternyata didapatkan keturunan F1 atau F2 yang sama (Suryo, 2011).

II.6 Uji Chi-Square

Uji Chi Kuadrat adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara

frekuensi observasi yang benar-benar terjadi/aktual dengan frekuensi

harapan/ekspektasi (Putri, 2013).

Jika dalam suatu percobaan atau eksperimen hanya memiliki dua hasil

keluaran, sepertihalnya pelemparan mata uang, kita mendapatkan sisi depan dan

sisi belakang, maka distribusi normal dapat digunakan untuk menentukan apakah

frekuensi kedua hasil tersebut cukup signifikan terhadap frekuensi yang

diharapkan. Namun demikian, jika lebih dari dua hasil yang muncul, katakanlah

ada k- hasil, maka distribusi normal tidak dapat digunakan untuk menguji

perbedaan signifikan antara frekuensi hasil pengamatan dengan frekuensi yang

diharapkan. Untuk melakukan uji hipotesis menggunakan Uji Chi-Kuadrat (Chi-

Square Testing, dilambangkan dengan 2). Jika kita mempunyai frekuensi


observasi sebanyak k, yaitu o1, o2, o3, …., ok dan frekuensi harapan (expectation)

yaitu e1, e2, e3 , …, ek, maka rumusan chi-kuadrat dituliskan (Oktarisna, 2013):

Jika 2 = 0, maka ada kesesuaian sempurna antara hasil observasi dan nilai

harapan. Jika2> 0, maka antara hasil observasi dan nilai harapan tidak terjadi

kesesuaian sempurna. sSemakin besar nilai 2, ketidaksesuaian antara hasil

observasi dan nilai harapan juga semakin besar (Oktarisna, 2013).


BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alat tulis menulis dan

kalkulator ilmiah.

III.1.2 Bahan

Bahan yang diperlukan untuk percobaan ini adalah biji genetik berbagai

warna.

III.2 Cara Kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah:

1. Diterima 40 biji genetik dan dimasukkan pada 2 kantong, masing-masing

kantong berisi 20 biji genetik, terdiri dari 5 kuning hijau, 5 kuning hitam, 5

merah hijau dan 5 merah hitam.

2. Diambil satu biji genetik dari kantong kanan dengan tangan kanan dan satu biji

genetik dari kantong kiri dengan tangan kiri pada waktu yang bersamaan dan

akan menghasilkan sebiuah kombinasi genetik.

3. Dicatat hasilnya, dikembalikan kombinasi biji genetik itu ke kentong asalnya,

dan dikocok sepaya tercampur kembali.

4. Diulangi pengambilan (biji genetik), sampai 16 kali pengambilan dan dibuat

tabel dari hasil percobaan yang di lakukan.


5. Dilakukan 16 kali percobaan, maka masing-masing praktikan melaporkan

hasilnya pada asisten dan menulis hasil data kelas (data yang diperoleh dari

setiap praktikan) di papan tulis.

6. Dicatat data yang diperoleh dalam laporan praktikum.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

VI.1 Hasil

IV.1.1 Tabel Kelompok

a). Data Kelompok

K_B_ K_bb kkB_ Kkbb


Ke (Kuning (Kuning (Putih
(Putih Kisut)
Bernas) Kisut) Bernas)
1 √
2 √
3 √
4 √
5 √
6 √
7 √
8 √
9 √
10 √
11 √
12 √
13 √
14 √
15 √
16 √
Σ 7 5 3 1

a. Tabel X2 (chi square) data kelompok

K_B_ K_bb kkB_ Kkbb


(Kuning (Kuning (Putih (Putih
Bernas) Kisut) Bernas) Kisut)
O 7 5 3 1
E 9 3 3 1
D -2 2 0 0
𝑑2 0,44 1,33 1,33 0
𝑒
𝑥2 1.77
IV.1.2 Tabel Pengamatan Kelas

a. Data Kelas

K_B_ K_bb kkB_ Kkbb


Kelp. (Kuning (Kuning (Putih
(Putih Kisut)
Bernas) Kisut) Bernas)
I 11 2 2 1
II 7 5 3 1
III 9 2 3 2
IV 11 4 0 1
V 8 5 1 2
VI 6 7 2 1
VII 9 2 5 0
Σ 61 27 16 8

b. Tabel X2 (chi square) data kelas

K_B_ K_bb kkB_ Kkbb


(Kuning (Kuning (Putih
(Putih Kisut)
Bernas) Kisut) Bernas)
O 61 27 16 8
E 63 21 21 7
D -2 6 -5 1

𝑑2 0,06 1,71 1,19 0,14


𝑒
𝑥2 3,11

IV.2 Pembahasan

Imitasi perbandingan genetik adalah perbandingan yang dimiliki makhluk

hidup yang tidak dimiliki oleh orang lain karena memperhitungkan sifat genetik

yang dimiliki seseorang masing-masing berbeda.

Dari hasil eksperimen Mendel pada kacang ercis, Mendel menarik

kesimpulan bahwa dua alternatif yang berlawanan untuk sifat tertentu seperti

tinggi dan pendek. Konsep ini dikenal dengan dominan dan resesif. Mengenai
tinggi tanaman pada ercis, tinggi adalah dominan terhadap pendek sedangkan

mengenai warna polong, hijau dominan terhadap kuning. Mendel melihat adanya

konsistensi dalam jumlah tipe parental pada F2. Nampaknya selalu ada rasio pada

perbandingan 3 : 1. Sumbangan pikiran Mendel tidak berhenti pada pengenalan

rasio saja. Mendel mengadakan hipotesis bahwa sifat-sifat tersebut ditentukan oleh

sepasang unit, dan hanya sebuah unit diteruskan kepada keturunannya oleh setiap

induk. Hal ini dikenal dengan Hukum Mendel I (segregasi bebas).

Untuk menguji kebenaran asumsinya mengenai unit pewarisan sifat (gen),

Mendel menggabungkan berbagai sifat menjadi galur murni, kemudian melakukan

hibridisasi tanaman-tanaman ini dan biarkan F1 melakukan penyerbukan sendiri.

Pada penyilangan dengan kombinasi sifat yang berbeda, Mendel memperoleh hasil

yang secara tetap sama dan tidak berubah-ubah. Pengamatan ini meghasilkan

formulasi Hukum Mendel II (asortasi bebas) yang menyatakan bahwa gen-gen

menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang

lain dan akan terjadi pilihan secara acak pada keturunannya.

Chi-square (Uji Chi Kuadrat) adalah pengujian hipotesis mengenai

perbandingan antara frekuensi observasi yang benar-benar terjadi/aktual dengan

frekuensi harapan/ekspektasi. Tujuan dari percobaan ini untuk mendapatkan

gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu

dan akan bertemu secara acak atau random. Metode yang digunakan adalah

metode papan catur dan pengujian kemungkinan dengan chi-square.

Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa dalam pewarisan sifat

terdapat dua hukum yang mengaturnya, yaitu Hukum Mendel I(segresi bebas) dan

Hukum Mendel II (asortasi bebas) dan untuk menguji hipotesis kemungkinan yang

dapat di peroleh dari persilangan dapat digunakan uji chi kuadrat (chi-square).
Dari hasil percobaan pada data kelompok diperoleh 7 K-B- (Kuning

bernas), 5 K-bb (Kuning kisut), 3 kkB- (Putih bernas), dan 1 kkbb (Putih kisut).

Jika menurut teori Mendel karena bersifat dihibrid (K-B-) maka perbandingan

fenotipnya 9:3:3:1. Maka ekspektasi yang sesuai dengan teori Mendel dihasilkan 9

K_B_ (Kuning bernas), 3 K_bb (Kuning kisut), 3 kkB_ (Putih bernas), dan 1 kkbb

(Putih kisut). Dari hasil perhitungantelah didapatkan 2 = 1,77. Oleh karena ada

empat kelas fenotip (yaitu kuning bernas, kuning kisut, putih bernas dan putih

kisut), berarti ada derajat kebebasan 4-1 = 3. Angka 1,77 tidak tercantum pada

tabel , tetapi angka itu terletak antara angka 1,42 dan 2,37. Nilai kemungkinannya

terletak antara 0,50 dan 0,70. Karena nilai kemungkinan itu lebih besar daripada

0,05 (batas signifikan) maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil percobaan itu

bagus (memenuhi perbandingan 9:3:3:1 menurut Hukum Mendel).

Dari hasil pengamatan dengan data kelas diperoleh 61 K-B- (Kuning

bernas), 27 K-bb (Kuning kisut), 16 kkB- (Putih bernas), dan 8 kkbb (Putih kisut).

Jika menurut teori Mendel karena bersifat dihibrid (K-B-) maka perbandingan

fenotipnya 9:3:3:1. Maka ekspektasi yang sesuai dengan teori Mendel dihasilkan

63 K_B_ (Kuning bernas), 21 K_bb (Kuning kisut), 21 kkB_ (Putih bernas), dan 7

kkbb (Putih kisut). Hasil ekspektasi ini diperoleh dari perbandingan teori Mendel

dikali dengan jumlah total keseluruhan percobaan yaitu 112. Pada K_B_, menurut

teori Mendel dihasilkan 9/16 X 112 = 63 yang bersifat kuning bernas, namun dari

percobaan diperoleh 61 berarti terdapat deviasi sebesar -2, dimana deviasi ini

diperoleh dari hasil yang diperoleh dikurangi dengan ekspektasi. Pada K_bb dan

kkB_, menurut teori Mendel dihasilkan 3/16 X 112 = 21 yang bersifat kuning kisut

dan putih bernas, namun dari percobaan diperoleh 27 kuning kisut dan 16 putih

bernas berarti terdapat deviasi sebesar 6 pada kuning kisut dan -5 pada putih
bernas. Dan pada kkbb, menurut teori Mendel dihasilkan 1/16 X 112 = 7 yang

bersifat putih kisut, namun dari percobaan diperoleh 8 berarti terdapat deviasi

sebesar 1.

Dari data-data tersebut hasil dari total deviasi pangkat dua dibagi dengan

total ekspektasi maka diperoleh nilai X2 (chi-square) total sebesar 3,11. Nilai chi

square ini dicari untuk membuktikan data hasil percobaan yang dilakukan dalam

laboratorium sudah sesuai dengan teori yang ada supaya percobaan yang dilakukan

juga bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dari nilai chi square yang

diperoleh dikonversi ke dalam tabel chi square dengan memperhatikan derajat

kekebasannya.
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan biji

genetis sebagai imitasi perbandingan genetis diperoleh hasil yaitu perbandingan

7:5:3:1 dengan melakukan percobaan dengan cara mengambil dari kantong secara

acak atau random akan membentuk kombinasi-kombinasi yang menghasilkan

fenotipe dengan rasio mendekati perbandingan 9:3: 3:1, dan nilai kemungkinan

yang diperoleh terletak antara 0,50 dan 0,70. Karena nilai kemungkinan itu lebih

besar daripada 0,05 (batas signifikan) maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil

percobaan itu bagus (memenuhi perbandingan 9:3:3:1 menurut Hukum Mendel).

V.2 Saran

Sebaiknya pada praktikum selanjutnya pengolahan data lebih teliti dan

menggunakan peralatan laboratorium dengan baik serta menjaga kebersihan

laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, R., dan Sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika. Universitas


Hasanuddin. Makassar.

Cahyono, F., 2010. Kombinatorial dalam Hukum Pewarisan Mendel. Institut


Teknologi Bandung.

Kusuma, N. N., 2012. Hubungan Celebrity Worship Terhadap Idola K-POP


(Korean Pop) dengan Perilaku Imitasi Pada Remaja. Universitas
Brawijaya: Malang.

Nusantari, E., 2013. Jenis Miskonsepsi Genetika yang Ditemukan pada Buku Ajar
di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Pendidikan Sains. 1 (1): 59-60.

Oktarisna, F. A., Andy, S., Arifin, N. S., 2013. Pola Pewarisan Sifat Warna
Polong pada Hasil Persilangan Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris
L.) Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal. Jurnal Produksi
Tanaman. 1 (2): 82-84.

Putri E. D., 2013. Aplikasi Kombinator dalam Analisis Genetika Mendelian. Jurnal
Pendidikan Sains. 1(1): 23-26.

Ramandhani M. R., 2013. Penerapan Pattern Matching dalam Penentuan


Pewarisan Sifat Genetis Tetua pada Anaknya. Institut Teknologi
Bandung.

Suryo, 2011. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Susanto, A. H., 2011. Genetika. Graha Ilmu. Yogyakarta.