Anda di halaman 1dari 5

REVIEW

PEMERINTAH LOKAL ORGANISASI DAN KEUANGAN: INDONESIA


 Sejarah Singkat Pemerintahan Daerah di Indonesia
Reformasi pemerintah daerah telah mendominasi kebijakan nasional agenda dalam beberapa
tahun terakhir di Indonesia, dan menyapu legislative dan perubahan administratif yang
memengaruhi organisasi, keuangan, dan fungsi pemerintah daerah telah diperkenalkan sejak
tahun 1999. Untuk sebagian besar sejarah modernnya, Indonesia diperintah melalui sebuah
sistem fiskal dan politik terpusat, menyisakan sedikit ruang untuk pengembangan lembaga
pemerintah daerah yang otonom. Pengembangan dari Sistem pemerintahan lokal di Indonesia
dikembalikan ke kotamadya (gemeenten) dan distrik (gewesten) yang dibuat oleh Pemerintahan
kolonial Belanda tetapi hanya untuk mengamati tugas administrasi tingkat tinggi di tingkat lokal.
Konstitusi pascakemerdekaan pertama (pada tahun 1945) menyerukan pembentukan pemerintah
daerah dan pemberlakuan dari tindakan pemerintah daerah dalam kerangka kesatuan. Undang-
undang pertama Republik ini tentang pemerintah daerah (UU 22/1948) terus mempertahankan
pendekatan yang cukup terpusat. Pada tahun 1949, perjuangan untuk merdeka akhirnya
menyebabkan pengakuan Belanda terhadap Republik Federal Jerman Amerika Serikat Indonesia.
 Sistem Pemerintahan Lokal Saat Ini: Hukum, Fiskal, dan Ikhtisar Politik
Sistem pertanggung jawaban lokal ini pada dasarnya disusun di sekitar hubungan segitiga
antara kepala daerah (walikota), lokal dewan perwakilan, dan masyarakat (pemilih). Awalnya,
akuntabilitas diselenggarakan secara tidak langsung, dengan walikota secara tidak langsung
dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada dewan perwakilan (World Bank 2003). anggota
dewan, pada gilirannya, seharusnya bertanggung jawab kepada masyarakat melalui pemilihan
umum multipartai reguler. Selama pemilihan umum pertama di Indonesia 1999, anggota
parlemen lokal dipilih atas dasar tertutup daftar partai, dengan 10 persen kursi disediakan untuk
militer dan polisi dan kandidat partai mendapat kursi atas dasar pangkat mereka di pesta daftar.
Akibatnya, anggota dewan perwakilan lokal secara resmi terutama bertanggung jawab kepada
pihak mereka, bukan kepada publik, yang dirongrong akuntabilitas mereka. Perundang-undangan
terbaru telah mereformasi baik pemilu sistem dan sistem checks and balances dalam sistem
subnasional. Hukum 32/2004 telah memperkenalkan pemilihan langsung untuk kedua walikota
dan gubernur pada saat yang sama, sistem pemilihan diubah menjadi sistem daftar terbuka.
Kedua langkah seharusnya memperkuat insentif politik pemerintah daerah untuk memberikan
kebijakan dan layanan yang diinginkan oleh konstituen mereka.
 Tanggung jawab Pengeluaran Pemerintah Daerah
Kebijakan desentralisasi terutama menekankan tingkat ketiga pemerintahan, karena provinsi
dianggap sebagai pendorong potensial disintegrasi politik. Dibandingkan dengan pemerintah
daerah, provinsi memiliki porsi pengeluaran yang jauh lebih besar. Tingkat provinsi memiliki
peran ganda sebagai pemerintah daerah otonom dan sebagai perwakilan regional pemerintah
nasional. Provinsi terutama bertanggung jawab untuk fungsi pengawasan dan seharusnya
melakukan intervensi dalam hal-hal yang memerlukan kerja sama lintas yurisdiksi.
Dalam prakteknya, distribusi tanggung jawab khusus diatur oleh sejumlah undang-undang
sektoral dan peraturan pemerintah dan keputusan menteri. Untuk sebagian besar sektor, tanggung
jawab dibagi di antara tingkat pemerintah, dengan pemerintah pusat juga terlibat dalam sektor
yang didesentralisasi secara formal. Peran nasional di sebagian besar sektor yang tercantum
dapat membantu, asalkan tidak membentuk kembali kontrol birokrasi pusat dan malah berfokus
untuk memberikan pengawasan finansial dan teknis serta pengawasan pemberian layanan.
Misalnya, masalah ekuitas mungkin memerlukan peran nasional yang kuat dalam pembiayaan
dan pengaturan standar dalam layanan publik dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.
 Pajak dan Biaya Sumber-Sumber Pemerintah Sendiri
Perpajakan subnasional diatur oleh UU 34/2000 tentang pajak daerah. Ada empat pajak
provinsi (pajak kendaraan bermotor, pajak transfer kendaraan bermotor, pajak cukai bahan bakar,
dan ekstraksi air tanah dan pajak penggunaan) dan tujuh pajak daerah (pajak hotel, pajak
restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pertambangan untuk
mineral kelas C, dan pajak parkir) . Pemerintah pusat menentukan basis pajak, dan ada batas atas
tarif untuk masing-masing pajak ini, di mana pemerintah subnasional dapat menetapkan tarifnya
Selain itu, pasal 2 UU 34/2000 menyatakan bahwa pemerintah daerah memiliki hak untuk
menerapkan pajak lokal baru selama pajak tersebut mematuhi delapan prinsip “pajak baik”
umum
1. Mereka adalah pajak, bukan biaya pengguna.
2. Basis pajak terletak di wilayah ini dan tidak bergerak
3. Pajak tidak berbenturan dengan kepentingan publik.
4. Basis pajak tidak dikenakan pajak provinsi dan nasional.
5. Potensi pendapatan sudah memadai.
6. Pajak tidak menggunakan distorsi ekonomi.
7. Masalah ekuitas diperhitungkan.
8. kelestarian lingkungan diperhitungkan
 Pajak dan Pendapatan Bersama
Ketentuan umum untuk pembagian pendapatan pajak dan nontax diatur dalam pasal 7 UU
25/1999. Peraturan Pemerintah 104/2000 menerjemahkan ketentuan umum ini ke dalam
pengaturan pembagian khusus. Pengaturan pembagian pajak penghasilan pribadi termasuk dalam
pasal 31 UU 17/2000 tentang pajak penghasilan. Pengaturan khusus mengenai pembagian
pendapatan untuk Aceh dan Papua termasuk dalam dua undang-undang otonomi khusus.
 Transfer Fiskal Antarpemerintah
Seperti telah dibahas sebelumnya, sistem fiskal Indonesia bergantung terutama pada transfer
fiskal pusat untuk membiayai operasi pemerintah daerah. Dua jenis transfer antar pemerintah
sedang digemari: (A) transfer nonmatching atau hibah alokasi umum tanpa syarat (hibah DAU)
dan (b) transfer kecocokan kondisional, hibah alokasi khusus (hibah DAK). .
 Alokasi Umum Hibah
Alokasi hibah umum adalah sumber utama pendapatan bagi sebagian besar pemerintah
daerah, akuntansi rata-rata untuk sekitar 61 persen dari total pendapatan daerah pada TA 2003.
DAU juga merupakan instrumen utama untuk kedua ver-vertikal (di tingkat pemerintah) dan
horizontal (di daerah gov-pemerintah-pemerintah) pemerataan. Alokasi DAU mengikuti
pendekatan berbasis formula yang bertujuan untuk menyelaraskan kapasitas fiskal dengan
kebutuhan fiskal dari gov-Pemerintah-pemerintah lokal. Berdasarkan UU 22/1999, formula ini
15

didasarkan pada dua compo-komponen-: (a) alokasi minimum, yang menerima pemerintah
daerah terlepas dari kesenjangan fiskal mereka, yang terdiri dari lump sum sama dibagi di semua
pemerintah daerah dan kompensasi sipil layanan tagihan upah, dan (b) komponen kesenjangan
fiskal, memperkirakan perbedaan antara kapasitas fiskal pemerintah daerah sendiri dan
kebutuhan fiskal. Sehingga transisi dari sistem prereform akan lebih halus, hasil alokasi berbasis
16

formula disesuaikan untuk mematuhi “membebaskan” ketentuan. Ketentuan ini memastikan


bahwa di bawah alokasi yang sebenarnya tidak ada pemerintah daerah akan menerima kurang
dari pada periode prereform, dengan mempertimbangkan SDO(subsidi Daerah otonomi, atau
subsidi otonom pemerintah sebelum desentralisasi) dan Inpres (hibah modal dialokasikan
sebelum desentralisasi) TA 2000 untuk tahun 2001 perhitungan dan DAU sebelumnya alokasi
TA untuk tahun-tahun berikutnya.
 Peminjaman Pemerintah Daerah
Akses ke pasar modal dapat membantu pemerintah daerah untuk menyesuaikan pengeluaran
dengan pendapatan dan dapat meningkatkan efisiensi dalam membiayai investasi yang
menghasilkan keuntungan jangka panjang. Pengalaman beberapa negara, di antaranya Brazil dan
Argentina pada tahun 1980an, menunjukkan bahwa, dengan tidak adanya konservatisme fiskal
dan disiplin pasar dan dengan harapan dana talangan, pinjaman lokal dapat membawa risiko
makroekonomi dan fiskal yang cukup besar (Fukasaku dan de Mello 1997). Di Indonesia,
kekhawatiran tentang ketidakstabilan ekonomi makro telah menyebabkan pemerintah untuk
secara hati-hati mengatur akses pemerintah daerah ke pasar modal. Kedua UU No. 25/1999 dan
UU 33/2004 mengizinkan peminjaman regional dari sumber domestik dan internasional dan
mengizinkan obligasi pemerintah yang dibukukan di pasar modal domestik. Selain itu,
pemerintah daerah juga dapat menjamin utang pihak ketiga. Itu peraturan pemerintah terkait
tentang pinjaman daerah menetapkan batasan ketat pada pendapatan utang dan rasio pendapatan
layanan utang: total utang dibatasi hingga 75 persen dari pendapatan dikurangi pengeluaran yang
diperlukan dan layanan utang dibatasi hingga 35 persen dari pendapatan dikurangi pengeluaran
yang diperlukan.
 Administrasi Pemerintahan Daerah
Reorganisasi tanggung jawab fungsional di tingkat pemerintah secara langsung
mempengaruhi struktur pemerintah daerah dan tingkat staf. Melalui UU 22/1999, tanggung
jawab untuk lebih dari 16.000 penyedia layanan (sekolah, pusat kesehatan masyarakat, dan
sebagainya) dipindahkan ke pemerintah subnasional. Selain itu, untuk fungsi-fungsi yang baru
saja didesentralisasi, kantor sektoral pemerintah nasional yang daerah (Kanwils) digabung
menjadi struktur pemerintahan lokal. Sebagai akibatnya, pemerintah daerah menyerap lebih dari
2,4 juta pegawai negeri nasional, termasuk anggota staf administrasi dan fungsional seperti guru
dan pekerja perawatan kesehatan.
 Pelajaran untuk Negara Berkembang
Sistem pemerintahan lokal yang terus berkembang di Indonesia, termasuk struktur organisasi
dan keuangannya, memberikan sejumlah pelajaran tentang bagaimana merancang reformasi
semacam itu di tempat lain.
1. Big Bang versus Reformasi Bertahap
2. Merampingkan Kerangka Peraturan
3. Tentukan Peran Baru Tingkat Pemerintahan
4. Memperkuat Sisi Pasokan melalui Pengembangan Kapasitas
5. Memperkuat Sisi Permintaan melalui Suara dan Akuntabilitas