Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia adalah individu dan makhluk sosial yang
tidak dapat hidup sendiri. Individu membutuhkan orang lain untuk memenuhi
kebutuhannya berinteraksi. Individu akan berkomunikasi, menyampaikan
kehendak, perasaan dan gagasan atau ide yang dimilikinya. Itulah sebabnya
kehidupan manusia ditandai dengan pergaulan diantara manusia dalam
keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat kerja, organisasi sosial, dan
sebagainya. Hal ini merupakan wujud dari dorongan kebutuhan dasar manusia
untuk dicintai dan dimiliki. Semua orang butuh cinta, baik mencintai maupun
untuk dicintai. Cinta tidak memandang usia, jenis kelamin dan status sosial.
Jatuh cinta kepada lawan jenis adalah suatu hal yang alamiah, hal ini terjadi
ketika orang mulai menginjak usia dewasa (Garcia VC and Gomez VA, 2014)
Di Indonesia, agar hubungan pria dan wanita diakui secara hukum
maka pernikahan diatur dalam suatu undang-undang. Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 pasal 1 tentang pernikahan, dijelaskan
bahwa pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita
sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam Undang-
Undang tersebut definisi pernikahan tidak hanya bersatunya pria dan wanita
secara lahir, namun juga secara batin dan juga mempunyai nilai yang luhur
karena dilandasi nilai ketuhanan pada proses pembentukannya.
Pernikahan di Indonesia merupakan satu-satunya hubungan legal
yang diakui antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk
mengekspresikan kebutuhan seksual, ekonomi, pengasuhan anak, dan
membagi peran diantara pasangan.
Pernikahan merupakan landasan natural bagi berkembangnya
konflik, karena setiap individu memiliki pengamatan dan harapan yang berbeda.
Ketika dua orang menikah, dalam beberapa kasus, mereka berharap pernikahan
mereka akan bertahan sepanjang hidup mereka. Yang lain percaya bahwa
hubungan mereka akan bertahan selama mereka mencintai orang lain. Ada juga
orang-orang yang mengkondisikan status pernikahan mereka untuk memuaskan
kebutuhan seksual dan kebutuhan mereka dalam hal kasih sayang dan
perlindungan. Di satu sisi, ketika orang hidup bersama sebagai pasangan,
mereka mungkin menilai kembali tujuan dan keinginan mereka untuk tetap
bersama dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan (Garcia VC and Gomez
VA, 2014).
Setiap pasangan tentunya menginginkan kehidupan perkawinannya
akan berlangsung lama, namun kadangkala sebuah perkawinan harus
menghadapi masa-masa sulit yang tidak dapat dielakkan lagi (Lavner JA et al,
2013). Salah satu masalah yang sering dihadari adalah perceraian. Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya perceraian meliputi cemburu, tekanan kebutuhan
ekonomi keluarga, tidak memiliki keturunan, poligami, kawin paksa, menikah
dibawah umur, KDRT, perbedaan prinsip, perbedaan agama dan gangguan
pihak keluarga (Calan, V.J., dkk, 2009).
Perceraian pasangan suami istri (Pasutri) di Indonesia setiap
tahunnya mengalami peningkatan dan berdasarkan data Bimbingan Masyarakat
(Bimas) Kementerian Agama, angka perceraian di Indonesia mencapai 10%
dalam setiap tahunnya. Perceraian dalam sebuah rumah tangga bukan hanya
berdampak pada suami istri semata, namun pada anak atau keturunannya.
Masalah-masalah lain yang dapat memicu terjadinya konflik adalah
masalah komunikasi, timbulnya kecemburuan, kurangnya perhatian dan kasih
sayang sampai kebutuhan seks akibat minimnya pertemuan antar pasangan.
Jarangnya bertemu antar pasangan ini juga bisa menimbulkan berlarut-karutnya
penyelesaian masalah yang timbul, yang pada akibatnya semakin memperbesar
konflik (Lavner JA et al, 2013).
Konflik dan bentuk frustasi lainnya merupakan salah satu sumber
kecemasan. Apabila seseorang individu menghadapi suatu masalah atau situasi
konflik maka akan terbentu suatu mekanisme pertahanan diri dalam bentuk
kecemasan. Kecemasan sebagai semacam kegelisahan, kekhawatiran dan
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas atau kabur. Dapat berupa perasaan
campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa
mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Tanda-tanda yang
biasanya muncul berupa perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan yang
kurang menyenangkan. Biasanya disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak
mampu, merasa rendah diri serta tidak sanggup untuk menyelesaikan masalah
(Jonas et al, 2014).
Di dalam tulisan ini akan dikaji bagaimana hubungan antara
kecemasan dengan konflik-konflik yang terjadi pada sebuah perkawinan,
dimana hal tersebut menyatukan dua individu yang memiliki kepribadian dan
karakter yang berbeda.
B. Tujuan
Mengetahui hubungan antara kecemasan dengan konflik pernikahan
C. Manfaat
1. Dapat menyelesaikan masalah dan mencari solusi terbaik saat terjadi
konflik dalam pernikahan
2. Dapat mengatasi kecemasan yang timbul sehingga tidak menjadi
kecemasan yang berlebihan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anxiety (Kecemasan)
1. Definisi
Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak
didukung oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman
atau takut atau mungkin memiliki firasat akan ditimpa malapetaka padahal
ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi (Amir,
2013)
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (2010) kecemasan adalah
respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang
normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau
yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti
hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun
cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan akan
menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya.
Jadi, kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu
yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena
adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu
yang buruk akan terjadi. Kecemasan adalah normal terjadi dalam
kehidupan, namun kecemasan dapat menjadi abnormal jika respons
terhadap stimulus berlebihan
2. Etiologi Cemas
Gejala-gejala kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-
masing orang. Kaplan, Sadock, & Grebb (2010) menyebutkan bahwa takut
dan cemas merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya
suatu bahaya. Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau
nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik bagi
individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri,
tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.
Menurut Keliat (2012) dalam Zakiyah (2014) anxietas atau
kecemasan adalah suatu keadaan perasaan yang kompleks berkaitan dengan
perasaan takut, sering disertai oleh sensasi fisik seperti jantung berdebar,
nafas pendek atau nyeri dada. Gangguan anxietas mungkin juga akibat
adanya gangguan di otak yang berhubungan dengan gangguan fisik atau
gangguan kejiwaan. Penyebab anxietas dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Genetik dan early learning
Gangguan anxietas cenderung diturunkan dalam keluarga. Bila ibu,
bapak, atau keluarga dekat lainnya menderita anxietas, anaknya
kemungkinan besar mengalami anxietas. Proses tumbuh kembang di
dalam keluarga dengan anxietas merupakan suatu pengalaman yang
dapat memicu pasien anxietas.
b. Biokimia otak
Anxietas berkaitan dengan fungsi pembawa pesan di otak
(biokimiawi otak) yang berhubungan dengan ketidakseimbangan
neurotransmitter serotonin dan dopamin.
c. Mekanisme Fight-flight
Apabila seseorang merasa dalam bahaya, tubuh akan menyiapkan
diri untuk mempertahankan diri (fight) atau melarikan diri dari
situasi yang membahayakan tersebut (flight). Mekanisme fight-
flight tersebut menyebabkan denyut jantung meningkat, pupil
dilatasi, dan tubuh menyiapkan diri terhadap situasi berbahaya
tersebut.
Kecemasan memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut
dan kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak
menyenangkan.Orang yang dilanda kecemasan bisa mengganggu
keseimbangan pribadi. Oleh sebab itu maka kecemasan ini perlu untuk
dikendalikan sehingga kecemasan tidak mengganggu kepribadian tetapi
sebaliknya menjadi sumber motivasi menuju ke arah kemajuan yang positif
(Hayat, 2014)
3. Jenis Kecemasan
Pendekatan eksistensial melihat ada dua jenis kecemasan, yaitu
kecemasan biasa (normal anxiety) dan kecemasan neurotik (neurotic
anxiety).
a. Kecemasan biasa (normal anxiety) merupakan tanggapan yang
cukup wajar terhadap peristiwa yang sedang dihadapi, kecemasan
ini tidak perlu dihilangkan sebab ini sebagai motivasi ke arah
perubahan.
b. Kecemasan neurotik (neurotic anxiety) adalah kecemasan yang
keluar dari proporsi yang ada, ia terjadi di luar kesadaran dan
cenderung untuk menjadikan orang tidak memiliki keseimbangan.
Sigmund Freud dalam Maramis (2009) mengemukakan, bahwa
kecemasan adalah keadaan tegang yang memaksa untuk berbuat sesuatu.
Ada tiga jenis kecemasan, yaitu; kecemasan realita (rality anxiety),
kecemasan neurotik (neurotic anxiety), dan kecemasan moral (moral
anxiety).
a. Kecemasan realita (rality anxiety) adalah rasa takut akan bahaya
yang datang dari dunia luar, dan derajat kecemasan semacam itu
sesuai dengan tingkat ancaman yang nyata.
b. Kecemasan neurotik (neurotic anxiety) adalah rasa takut kalau-kalau
insting akan keluar jalur dan menyebabkan seseorang berbuat
sesuatu yang akan menyebabkan ia dihukum.
c. Kecemasan moral (moral anxiety) adalah rasa takut terhadap hati
nuraninya sendiri. Orang dengan hati nuraninya yang cukup
berkembang cenderung untuk merasa bersalah apabila mereka
berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kode moral mereka atau
dengan introyeksi ibu bapak mereka.
4. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan
Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan
sebagian besar tergantung pada seluruh pengalaman hidup seseorang.
Peristiwa-peristiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya
serangan kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003) ada beberapa faktor
yang menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :
a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara
berfikirin dividu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini
disebabkan karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada
individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja.
Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.
b. Emosi yang ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu
menemukan jalan keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan
personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi
dalam jangka waktu yang sangat lama.
c. Sebab-sebab fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi
seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu
penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan
perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya
kecemasan.
Zakiah Daradjat dalam Kholil Lur Rochman (2010) mengemukakan
beberapa penyebab dari kecemasan yaitu :
a. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam
dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya
terlihat jelas didalam pikiran.
b. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-
halyang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini
sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-
kadang terlihat dalam bentuk yang umum.
c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk.
Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak
berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan
takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya.
Kecemasan hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu,
keduanya mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik
lingkungan keluarga, sekolah, maupun penyebabnya.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah :
a. Faktor fisik
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu
sehingga memudahkan timbulnya kecemasan.
b. Trauma atau konflik
Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada
kondisi individu, dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional
atau konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan
timbulnya gejala-gejala kecemasan.
c. Lingkungan awal yang tidak baik.
Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat
mempengaruhi kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik
maka akan menghalangi pembentukan kepribadian sehingga muncul
gejala-gejala kecemasan.
6. Jenis-jenis Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan
didalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan
dari luar. Mustamir Pedak (2009) membagi kecemasan menjadi tiga jenis
kecemasan, yaitu :
a. Kecemasan Rasional
Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang
memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian. Ketakutan
ini dianggap sebagai suatu unsur pokok normal dari mekanisme
pertahanan dasariah kita.
b. Kecemasan Irrasional
Berarti bahwa mereka mengalami emosi ini dibawah
keadaan – keadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
c. Kecemasan Fundamental
Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan
tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak
hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai kecemasan
eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan
manusia.
Sedangkan Kartono Kartini (2006) membagi kecemasan menjadi dua jenis
kecemasan, yaitu :
a. Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan dibagi menjadi dua kategori yaitu ringan
sebentar danringan lama. Kecemasan ini sangat bermanfaat bagi
perkembangan kepribadian seseorang, karena kecemasan ini dapat
menjadi suatu tantangan bagi seorang individu untuk mengatasinya.
Kecemasan ringanyang muncul sebentar adalah suatu kecemasan yang
wajar terjadi pada individu akibat situasi-situasi yang mengancam dan
individu tersebut tidak dapat mengatasinya, sehingga timbul kecemasan.
Kecemasan ini akan bermanfaat bagi individu untuk lebih berhati-hati
dalam menghadapi situasi-situasi yang sama di kemudian hari.
Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang dapat diatasi
tetapi karena individu tersebut tidak segera mengatasi penyebab
munculnya kecemasan, maka kecemasan tersebut akan mengendap lama
dalam diri individu.
b. Kecemasan Berat
Kecemasan berat adalah kecemasan yang terlalu berat dan
berakar secara mendalam dalam diri seseorang. Apabila seseorang
mengalami kecemasan semacam ini maka biasanya ia tidak dapat
mengatasinya. Kecemasan ini mempunyai akibat menghambat atau
merugikan perkembangan kepribadian seseorang. Kecemasan ini dibagi
menjadi dua yaitu kecemasan berat yang sebentar dan lama. Kecemasan
yang berat tetapi munculnya sebentar dapat menimbulkan traumatis
pada individu jika menghadapi situasi yang sama dengan situasi
penyebab munculnya kecemasan. Sedangakan kecemasan yang berat
tetapi munculnya lama akan merusak kepribadian individu. Hal ini akan
berlangsung terus menerus bertahun-tahun dan dapat merusak proses
kognisi individu. Kecemasan yang berat dan lama akan menimbulkan
berbagai macam penyakit seperti darah tinggi, tachycardia (percepatan
darah), excited (heboh, gempar).
Kecemasan dikatakan menjadi abnormal, ketika durasi dan
intensitasnya tidak proporsional dengan potensi untuk terjadinya ancaman,
terjadi pada situasi yang tidak membahayakan atau tidak ada ancaman yang
dikenali.
Hamilton (McDowell, 2006) membedakan kecemasan ke dalam 2
kategori yaitu
a. Kecemasan sebagai suatu bentuk reaksi yang normal terhadap bahaya;
yang sifatnya lebih ringan namun berlangsung lebih lama dibandingkan
ketakutan biasa dan membutuhkan perubahan biologis yang berguna
untuk mengelola stres.
b. Kecemasan sebagai suasana hati (mood) yang patologis yaitu reaksi
yang muncul bukan karena ancaman dari luar, namun dari dalam
dirinya sendiri.
Kecemasan muncul sebagai respon terhadap ancaman bahaya atau
tantangan terutama yang dinilai tidak dapat dikontrol, yang mengakibatkan
kegoyahan dalam struktur kognitif dan afektif, yang disertai ketakutan dan
kesiapan fisik untuk menghadapi peristiwa negatif yang akandatang.
Komponen afektif dapat dalambentuk perasaan tak berdaya karena merasa
tidak mampu untuk memprediksi atau mengontrol peristiwa diantisipasi
(Mc.Dowell, 2006).

Durand & Barlow (2003) menyatakan kecemasan merupakan kondisi mood


yang berorientasi pada masa yang akan datang yang ditandai rasa takut
karena ketidakmampuan memprediksi atau mengontrol kejadian yang akan
datang. Sedangkan ketakutan merupakan reaksi segera terhadap bahaya
yang terjadi saat itu dan ditandai tendensi yang kuat untuk melarikan diri
sehingga memacu bagian simpatetik dari sistem syaraf otonom.
Tanda-tanda yang biasa dialami dalam kecemasan antara lain
adanya tegangan emosional yang ditandai gejala dengan nyeri dada, jantung
berdebar-debar, nafas tersengal-sengal, pikiran yang mengganggu tentang
penyakit yang mungkin terjadi, merasa tidak normal, ragu-ragu karena
merasa terancam, merasa yakin menghadapi ancaman yang nyata, potensi
untuk melakukan koping terhadap masalah menjadi menurun (Stein,
Hollander, dan Rothbaum, 2009).
Manifestasi gejala kecemasan yang cukup kompleks dikemukakan
pula oleh Noyes dan Hoehn-Saric (2013), yang menyatakan bahwa
kecemasan merupakan pengalaman yang kompleks yang meliputi
manifestasi yang bersifat psikis, somatik dan hyperarousal, yaitu meliputi
respon yang dirasakan secara fisik dan kondisi mudah terbangkit secara
fisiologis. Manifestasi psikis terdiri dari reaksi afektif, yaitu kondisi tegang,
ketakutan hingga kondisi yang ekstrem berupa panik. Manifestasi pada
aspek kogitif ditandai dengan kegelisahan untuk menyesuaikan diri dengan
situasi dan ketidakpastian di masa yang akan datang, khawatir, antisipasi
bencana, takut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, takut
menjadi terlalu cemas sehingga mempermalukan diri sendiri didepan
publik. Taylor (McDowell, 2006; International Encyclopedia of the Social
Sciences, 2012) meninjau kecemasan berdasarkan teori dari Hull bahwa
individu yang dengan tingkat kecemasan yang tinggi akan menunjukkan
performansi yang lebih baik ketika dihadapkan pada tugas yang sederhana
sedangkan individu dengan kecemasan rendah akan menunjukkan
performansi yang lebih baik ketika dihadapkan pada tugas yang kompleks.
Berdasarkan teori Hull tersebut Taylor (McDowell, 2006)
mengembangkan The Manifest Anxiety Scale yang beranggapan bahwa
kecemasan dapat diketahui dari tingkat dorongan yang akan direfleksikan
dalam intensitas kecemasan yang manifes, yaitu kecemasan yang nyata dan
dirasakan oleh individu. Hasil pengukuran skala kecemasan menunjukkan
individu yang memiliki dorongan yang lebih tinggi atau kecemasan yang
termanifestasi, menunjukkan performansi yang lebih baik ketika
dihadapkan pada tugas-tugas yang mudah, namun menunjukkan
performansi yang lebih rendah ketika dihadapkan pada tugas-tugas yang
kompleks (McDowell,2006).

B. Pernikahan
Menurut UU No.1 tahun 1974 pasal 1 "Pernikahan adalah ikatan
lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
istri untuk tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa". Sedangkan pada pasal 2 ayat 1 berbunyi
sebagai berikut, “Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hokum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu” (Mukson, 2013).
Pernikahan pada umumnya berkaitan dengan suatu hubungan
yang dijalani oleh pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri
untuk menjadi satu keluarga baru. Pernikahan merupakan ikatan yang
suci antara pasangan dari seorang laki-laki dan seorang wanita sebab
hubungan pasangan suami istri tersebut telah di sahkan dalam suatu
acara keagamaan tertentu dan di sahkan pula oleh catatan pemerintahan
sipil, mereka sepakat untuk membina kehidupan rumah tangga dalam
suatu keluarga (Dariyo, 2008).
Pada umumnya mereka yang telah menikah adalah mereka yang
masuk pada fase dewasa awal (young adulthood) yaitu dengan rentang
usia antara 20-40 tahun (Papalia, Olds & Feldman, 2009). Pada orang
dewasa biasanya mempunyai pilihan untuk mengambil keputusan untuk
menikah dengan tujuan membentuk keluarga.
Menurut Erikson (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2009),
menikah adalah sebuah pilihan dalam kehidupan untuk membangun rasa
aman dan memberi pertumbuhan anak yang sehat dalam keluarga. Setiap
pasangan dalam pernikahan pasti menginginkan suatu hubungan dalam
keluarga yang berjalan dengan harmonis, langgeng atau berjalan lama.
Dengan adanya hubungan pasangan suami istri yang saling menghargai,
dan mencintai satu sama lain dalam keluarga, maka pasangan suami istri
tersebut akan dapat menjalani hubungan pernikahannya dengan baik.

C. Konflik Pernikahan
1. Definisi
Konflik pernikahan merupakan suatu keadaan suami istri yang
sedang menghadapi masalah dalam pernikahannya dan hal tersebut nampak
dalam perilaku mereka yang cenderung kurang harmonis ketika sedang
menghadapi konflik. Konflik dalam pernikahan terjadi dikarenakan masing-
masing individu membawa kebutuhan, keinginan dan latar belakang yang
unik dan berbeda (Christina, 2016).
Perselisihan, pertentangan dan konflik dalam suatu rumah tangga
merupakan sesuatu yang terkadang tidak bisa dihindari, tetapi harus
dihadapi. Hal ini karena dalam suatu perkawinan terdapat penyatuan dua
pribadi yang unik dengan membawa sistem keyakinan masing-masing
berdasar latar belakang budaya serta pengalaman yang berbeda-beda
(Lavner JA, 2014). Perbedaan yang ada tersebut perlu disesuaikan satu sama
lain untuk membentuk sistem keyakinan baru bagi keluarga mereka. Proses
inilah yang seringkali menimbulkan ketegangan, ditambah lagi dengan
sejumlah perubahan yang harus mereka hadapi, misalnya perubahan kondisi
hidup, perubahan kebiasaan atau perubahan kegiatan sosial.
Munculnya konflik perkawinan membawa individu pada suatu
pilihan untuk menyesuaikan diri. Apabila suami-istri menemui konflik tipe
personality based dan situational conflict, yaitu konflik yang didasari oleh
situasi dan latar belakang kepribadian, sehingga penyesuaian diri dapat
dilakukan dengan memulai aksi, memahami sebab-sebab terjadinya konflik,
atau dengan berusaha mengerti keadaan pasangan.
Maramis dan Yuwana (2009), menyatakan bahwa masalah sering
timbul dalam kehidupan perkawinan akan mempengaruhi tingkat konflik
perkawinan, di antaranya adalah masalah :
a. Komunikasi. Salah satu hal yang sampai saat ini diyakini sebagai
penyebab utama konflik atau masalah adalah komunikasi yang
buruk. Ini bisa berupa verbalisasi yang tidak jelas, cara bicara yang
menyakitkan, penggunaan kata-kata yang kurang baik, ekspresi
wajah yang tidak menyenangkan, nada suara yang merendahkan
atau melecehkan pihak lain, dan sebagainya (Dew JP and Stewart
R, 2012)
b. Pembagian peran. Pembagian peran dalam kehidupan rumah tangga
penting. Kalau pembagian itu tidak seimbang, maka dapat
dipastikan konflik akan muncul. Sejak awal pernikahan, setiap
pasangan suami-istri melakukan peran dalam menyelesaikan tugas-
tugas dalam pernikahannya. Pembagian peran bisa dijelaskan
berdasarkan jenis kelamin atau berdasarkan kemampuan dan
keterampilan masing-masing (Indrawati ES and Fauziah N, 2012).
c. Perbedaan individual. Potensi sumber masalah terbesar dalam
perkawinan adalah perbedaan individu suami-istri, terutama yang
bersumber pada sistem nilai dan ciri kepribadian masing-masing
suami-istri. Nilai-nilai yang berbeda sangat mudah menimbulkan
masalah, apalagi pada saat mengambil keputusan. (Askari M, Noah
SM, Hassan SA, Baba M, 2013).
2. Aspek Konflik Perkawinan
Skala konflik perkawinan mengacu pada aspek-aspek konflik
perkawinan, yaitu:
a. Partner violence, yakni kekerasan fisik pada pasangan, yang
ditandai dengan adanya perilaku yang menunjukkan kekerasan fisik
dari salah satu pasangan kepada pasangannya; atau kedua pasangan
tersebut menunjukkan kekerasan fisik. Contohnya menampar
pasangannya atau saling memukul.
b. Verbal aggression, yakni kekerasan secara verbal, ditandai dengan
adanya perilaku yang menunjukkan penghinaan, kecaman atau
ancaman yang dilontarkan oleh salah satu pasangan kepada
pasangannya; atau kedua-duanya saling menyerang secara verbal
yang berakibat menyakiti atau melukai perasaan pasangannya saat
konflik terjadi.
c. Unbending stance, yaitu sikap bertahan sebagai bentuk upaya
membela diri saat konflik terjadi atau upaya mempertahankan diri
atas serangan umpatan dari pasangannya. Sikap ini bisa terjadi
secara verbal dan tidak verbal. Contohnya sikap secara verbal, yaitu
dengan sikap yang keras kepala dan menggunakan logika, individu
berusaha mempertahankan pendapatnya dan merasa pendapatnyalah
yang paling benar.
d. Withdraw from partner, yakni menarik diri dari interaksi
pasangannya, yaitu perilaku yang menunjukkan penghindaran
dengan pasangannya dan biasanya pasangannya menunjukkan
perilaku diam seribu bahasa daripada melontarkan kekecewaan
terhadap pasangannya (Indrawati ES and Fauziah N, 2012).
Efek negatif konflik perkawinan berdasarkan penelitian di Amerika
antara lain peningkatan risiko psikopatologi, kecelakaan, bunuh diri,
kekerasan antar pasangan, rentan berpenyakit, dan ketegangan psikis yang
mengakibatkan kematian. Apabila perselisihan atau konflik berkelanjutan,
hal itu dapat mengarah pada perceraian (Christina, 2016).
3. Sumber-sumber konflik pernikahan
Degenova (2008) menyatakan bahwa konflik bisa muncul karena
empat sumber. Sumber-sumber konflik tersebut terdiri dari:
a. Sumber pribadi
Konflik pribadi yang berasal dari dorongan dalam diri individu,
naluri (instinct) dan nilai-nilai yang berpengaruh dan saling berlawanan
satu sama lain. Adanya ketakutan irasional dan kecemasan neurotic yang
terjadi pada individu seperti terlalu posesif menjadi sumber dasar dari
perselisihan suami istri. Penyakit emosional lainnya seperti depresi juga
bisa menjadi sumber perselisihan. Penyebab konflik utama individu
melibatkan jauh di dalam jiwa individu tersebut, apalagi kecemasan yang
berasal dari pengalaman pada masa kanak-kanak.
b. Sumber fisik
Kelelahan fisik adalah salah satu sumber lainnya. Kelelahan dapat
menyebabkan individu cepat marah, tidak sabar, sedikitnya toleransi dan
frustasi. Hal ini menyebabkan seseorang dapat berkata atau melakukan
sesuatu yang tidakingin dilakukannya. Kelaparan, beban kerja berlebih,
gula darah yang menurun dan sakit kepala juga merupakan beberapa
sumber lainnya yang dapat menyebabkan konflik dalam pernikahan.
c. Sumber hubungan interpersonal
Konflik ini terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Orang-orang
yang tidak bahagia dalam pernikahannya lebih sering mengeluh tentang
perasaan diabaikan, kekurangan cinta, kasih sayang, kepuasan seksual
dan lainnya daripada orang-orang yang bahagia dalam pernikahannya.
Individu merasa bahwa pasangan mereka terlalu membesar-besarkan
masalah dan menganggap kecil usaha yang dilakukan serta menuduh
mereka akan sesuatu. Kesulitan menyelesaikan perbedaan dan
kekurangan komunikasi juga menyebabkan pernikahan tersebut menjadi
penuh konflik dan tidak bahagia.
d. Sumber lingkungan
Konflik ini meliputi kondisi tempat tinggal, tekanan sosial pada
anggota keluarga, ketegangan budaya diantara keluarga dengan
kelompok minoritas seperti diskriminasi dan kejadian yang tidak
diharapkan yang dapat mengganggu fungsi keluarga. Sumber stress
utama bagi keluarga adalah saat wanita yang memikul tanggung jawab
sebagai kepala keluarga, merawat anggota keluarga yang mengalami
penyakit kronik. Hal ini dapat menyebabkan stress dan kesejahteraan
dirinya menjadi berkurang dan pada akhirnya menimbulkan konflik
dalam hidupnya.
4. Metode-metode menghadapi konflik pernikahan
Degenova (2008) membagi konflik ke dalam beberapa metode.
Metode – metode ini digunakan individu untuk menghadapi konflik yang
terjadi dengan pasangannya, metode-metode tersebut adalah:
a. Avoidance conflict
Konflik pertama ini merupakan metode dimana pasangan
menghadapi konflik yang terjadi dengan cara menghindar. Mereka
mencoba mencegah konflik dengan menghindari orang yang
bersangkutan, situasinya dan hal-hal yang berhubungan dengan hal
tersebut. Dengan menghindari masalah, untuk sementara keadaan
memang cukup tenang tetapi masalahnya tidak akan selesai,
masalahakan berlarut-larut dan dapat merusak hubungan.
Pasangan yang tidak pernah melakukan usaha untuk menghindari
pertentangan secara berkala akan menarik diri satu sama lainnya secara
perlahan-lahan dan pengasingan diri terjadi ketika pasangan berhenti
berkomunikasi dan memberi perhatian satu sama lainnya. Sebagai
hasilnya, akan terjadi peningkatan dalam kesendirian, hilangnya intimasi
dan berdampak pada hal lainnya seperti sexual intercourse.
b. Ventilation and catharsis conflict
Metode konflik yang kedua ini merupakan kebalikan dari avoidance,
yaitu individu mencoba menyalurkan konflik tersebut. Ventilation
artinya mengekspresikan emosi dan perasaan negatif. Sama halnya
dengan catharsis dimana individu yang sedang dalam masalah akan
menyalurkan emosi dan perasaan negatif yang dirasakannya, seperti
berteriak, bernyanyi sekeras-kerasnya, dan yang lainnya. Diharapkan
setelah proses ini dilakukan seluruh emosi dan perasaan negatif yang ada
akan keluar dan diganti dengan emosi dan perasaan yang lebih positif.
c. Constructive and destructive conflicts
Setiap pasangan tentu memiliki konflik, dan bagaimana seseorang
mengatasi konflik mempengaruhi perkembangan pribadi mereka.
Metode konstruktif (constructive) yaitu pasangan mengahadapi masalah
pernikahannya dengan lebih memahami dan berkompromi atau
menerima solusi yang ditawarkan untuk dipertimbangkan. Hal ini lebih
kepada meminimalisir emosi negatif, menaruh hormat dan percaya
kepada pasangan serta dapat menyebabkan hubungan menjadi lebih
dekat.
Metode destruktif (destructive) yaitu menyerang orang yang
bermasalah dengan dirinya. Mereka mencoba untuk mempermalukan
pasangannya, mengucilkan atau menghukum orang yang menjadi lawan
konfliknya dengan menghina dan menjelek-jelekkannya.

D. Hubungan Cemas dengan Konflik Pernikahan


Pernikahan merupakan suatu ikatan antara pria dan wanita dewasa
yang berdasarkan hukum, adat-istiadat, agama atau Undang-Undang.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan
adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana dapat
disimpulkan, bahwa di dalam suatu pernikahan terdapat persatuan antara
dua individu yang berbeda dan dua karakter yang berbeda.
Ketika dua orang menikah, mereka mungkin menilai kembali tujuan
dan keinginan mereka untuk tetap bersama dan memikirkan cara agar
kehidupan mereka tetap bertahan tanpa khawatir akan berakhir. Adanya
pemikiran tersebut secara terus menerus akan menimbulkan suatu emosi
dalam diri yang dikeluarkan dalam bentuk kecemasan.
Kecemasan merupakan gangguan yang ditandai dengan perasaan
ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi secara berlebihan. Kecemasan
merupakan respon emosional yang tidak menentu terhadap suatu obyek
yang tidak jelas. Manakala seseorang sedang mengalami cemas karena
perasaan atau konflik, maka perasaan itu akan muncul melalui berbagai
bentuk emosi yang disadari dan yang tidak disadari. Segi yang disadari dari
cemas tampak dalam segi seperti rasa takut, terkejut, rasa lemah, rasa
berdosa, rasa terancam. Oleh sebab itu, kecemasan ini perlu untuk
dikendalikan sehingga kecemasan tidak mengganggu kepribadian tetapi
sebaliknya menjadi sumber motivasi menuju ke arah kemajuan yang positif
(Hayat, 2014).
Menurut Savitri Ramaiah (2003:11) ada beberapa faktor yang
menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu lingkungan, emosi yang
ditekan, dan sebab-sebab fisik. Lingkungan utama didalam pernikahan
sendiri adalah sepasang suami isteri yang tidak jarang dapat menimbulkan
beberapa konflik kecil bahkan besar yang akan mengakibatkan
ketidaknyamanan terhadap lingkungannya dan menimbulkan kecemasan
antar individu, begitu pula apabila salah satu dari pasangan menekan rasa
marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama atas apa yang
pernah terjadi atau konflik-konflik yang terjadi, itupun dapat menimbulkan
kecemasan tersendiri kepada pernikahannya. Dalam sebab-sebab fisik yang
terjadi bisa berupa pikiran dan tubuh yang senantiasa saling berinteraksi dan
dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi
seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu
penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi seperti ini, perubahan-perubahan
perasaan lazim muncul, dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan atas
konflik-konflik yang terjadi dalam pernikahan.
Konflik pernikahan merupakan suatu keadaan suami istri yang
sedang menghadapi masalah dalam pernikahannya dan hal tersebut nampak
dalam perilaku mereka yang cenderung kurang harmonis ketika sedang
menghadapi konflik. Konflik dalam pernkahan terjadi dikarenakan masing-
masing individu membawa kebutuhan, keinginan dan latar belakang yang
unik dan berbeda (Christina, 2016).
Perselisihan, pertentangan dan konflik dalam suatu rumah tangga
merupakan sesuatu yang terkadang tidak bisa dihindari, tetapi harus
dihadapi. Hal ini karena dalam suatu perkawinan terdapat penyatuan dua
pribadi yang unik dengan membawa sistem keyakinan masing-masing
berdasar latar belakang budaya serta pengalaman yang berbeda-beda
(Lavner JA, 2014). Perbedaan yang ada tersebut perlu disesuaikan satu sama
lain untuk membentuk sistem keyakinan baru bagi keluarga mereka. Proses
inilah yang seringkali menimbulkan ketegangan, ditambah lagi dengan
sejumlah perubahan yang harus mereka hadapi, misalnya perubahan kondisi
hidup, perubahan kebiasaan atau perubahan kegiatan sosial.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan
wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Konflik yang terjadi dalam
pernikahan dapat dikarenakan adanya masalah komunikasi, pembagian peran
serta perbedaan individu. Perbedaan yang ada tersebut perlu disesuaikan satu
sama lain untuk membentuk sistem keyakinan baru bagi keluarga mereka
sehingga tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan.

B. Saran
Pengetahuan mengenai berbagai macam konflik yang dapat terjadi
dalam pernikahan perlu dimengerti sejak dini sehingga pada saat terjadi
masalah, suami istri dapat mengatur komunikasi yang baik sehingga
didapatkan solusi yang baik dalam hubungan pernikahan. Dengan begitu
kesulitan-kesulitan yang ada direspon dengan positif dan dukungan antar
individu sangat diperlukan dalam menghadapi konflik pernikahan.
DAFTAR PUSTAKA

Amir N (2013). Buku Ajar Psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI


Abbasi et al (2015). Evaluating the relationship between mental disorders and
marriage dissolution in Urmia of Iran. International Journal of Natural and
Social Sciences, Vol 2(5): pp 01-06
Askari M, Noah SM, Hassan SA, Baba M (2013). Comparison of the effects of
communication and conflict resolution skills training on mental health.
International Journal of Psychological Studies. Vol 5:1, pp 91-104.
Barr AB & Simons RL (2014). A dyadic Analysis of relationships and health: does
couple level context condition partner effects? Journal of Family
Psychology. Vol. 28:4, pp 448–459.
Bayrami et al (2011). Anxiety: Trait/Sate, sensation seeking and marital satisfaction
in married women. Procedia - Social and Behavioral Sciences. Vol 30, pp
765 – 770
Christina D (2016). Penyesuaian perkawinan, subjective well being dan konflik.
Persona, Jurnal Psikologi Indonesia. Vol 5:01, pp 1-14.
Dew JP, Stewart R (2012). A financial issue, a relationship issue, or both?
Examining the predictors of marital financial conflict. Journal of
Financial Therapy. Vol 3: 1, pp 43-59.Hayat A (2014). Kecemasan dan
Metode Pengendaliannya. Institut Agama Islam Negeri Antasari. Vol
12:01 pp 52-62.
Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto (2010). Buku Ajar Psikiatri. Badan
Penerbit FK UI. Jakarta.
Garcia VC, Goez VA (2014). Limitation of evolutionary theory in explaining
marital satisfaction and stability of couple relationship. Internasional
Journal Psychology. Vol 7:1, pp 81-93.
Ghoroghi et al (2015). Marital adjustment and duration of marriage among
postgraduate Iranian students in Malaysia. International Education Studies;
Vol. 8:2, pp 50-59
Hawari, D (2011). Depresi dalam Manajemen Stress, Kecemasan, Depresi. Jakarta:
FKUI
Indrawati ES and Fauziah N (2012). Attachment dan penyesuaian diri dalam
perkawinan. Jurnal Psikologi Undip. Vol 11:1, pp 40-49.
Jonas et al (2014). Advances in Experimental Social Psychology. Burlington:
Academic Press. pp. 219-286
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA (2010). Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi ke-7, Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
Lestari, S (2012). Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik
dalam Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Lavner JA (2014). Relationship problems over the early years of marriage:
stability or change?Journal of Family Psychologypp 1-7.
Lavner JA, Karney BR, Bradbury TN (2013). Newlyweds’ Optimistic Forecasts
of their Marriage: For Better or For Worse? J Fam Psychol. 27:4, pp 531-
540.
Maramis WF, Maramis AA (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Ed 2.
Surabaya: Airlangga University.
Muslimah, AI (2014). "Kepuasan pernikahan ditinjau dari keterampilan komunikasi
interpersonal". Jurnal Soul. Vol .7:2, pp 14-21
Puri, B.K., Laking, P.J., & Treasaden, I.H., (2011). Buku Ajar Psikiatri Edisi 2.
Jakarta : EGC
Reevy, G.M & Deason, G (2014). Predictors of depression, stress, and anxiety
among non-tenure track faculty. Frontiers in psychology.
www.frontiersion.org (diakses tanggal 25 April 2017)
Russell et al (2013). Attachment insecurity and infidelity in marriage: do study of
dating relationships really inform us about marriage? Journal of Family
Psychology. Vol 27:2, pp 242-251
Shabbir et al (2015). Depression, anxiety, stress and life satisfaction among early
and late married females. European Journal of Business and Social
Sciences, Vol. 4:8, pp 128-131
Shibli et al (2015). Pre and Post Marriage Differences in Anxiety Level among
Male/Females Belongning to Various Income/Class Groups. International
Journal of Scientific and Research Publications. Vol 5:1
Yarmohammadi et al (2014). Evaluating the relationship of anxiety, stress and
depression with sleep quality of students residing at the dormitories of
Tehran University of Medical Sciences in 2013. World Journal of Medical
Sciences 11:(4), pp: 432-438
Zakiyah (2014). Pengaruh dan Efektifitas Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Berbasis Komputer terhadap Klien Cemas dan Depresi. E-Journal Widya.
Vol 1:1 pp 75-80.