Anda di halaman 1dari 40

BAB III

INFORMASI INSTALANSI PATOLOGI ANATOMI

A. Sejarah Instalasi Patologi Anatomi

Laboratorium Patologi Anatomi Kedokteran ini sudah ada sejak zaman

NIAS pada 1928. Kala itu, Bagian Patologi masih tergabung dalam Ilmu

Kedokteran Kehakiman di kamar mayat CBZ Simpang. Dr. H. Muller

menjadi kepala de afdeleing voor pathologische anatomie en gerechtelqke

geneeskunde de NIAS. Asistennya dari Belanda dan dari bumiputra. Pada

1932, A. E. Sitsen menulis buku Leerboek der Pathologische Anatoniie. Pada

1938, patologi anatomi masih menjadi bagian dari Ilmu Kedokteran

Kehakiman dan kuliahnya diberikan setelah tingkat 5 dari 8 tahun masa

pendidikan.

Pada 1960, masih menjadi bagian dari Ilmu Kedokteran Kehakiman,

bagian Patologi Anatomi pindah ke kompleks kampus Universitas Airlangga

di RSUD Dr. Soetomo. Semua pengelola adalah para ahli dari Indonesia, dan

pernah sesaat bekerjasama dengan para ahli dari Amerika Serikat. Tenaga

dosen dan karyawan bertambah banyak. Selain pengiriman tenaga pengajar

ke Amerika Serikat dan Belanda, terdapat proyek riset tentang transplantasi

kornea mata, barr body, analisis kromosom dan lain-lain. Iuga ada proyek

membuat buku pelajaran patologi empat jilid. Pada tahun yang sama, lahir

Divisi Sitologi.

11
Pada 24 Agustus 1987, Laboratorium Pelayanan Patologi Anatomi

pindah ke gedung baru dekat IKK RSUD Dr. Soetomo. Lembaga ini

mengurus pemeriksaan histopatologi, sitologi, frozen section, dan otopsi

klinik. Pada 1988, didirikan pelayanan Fine Needle Aspiration Biopsy

(FNAB) dan Pemeriksaan Imunohistokimia. Pada tahun yang sama

bermunculan Divisi Histopatologi, Divisi Sitologi, Divisi Histokimia, Divisi

Imunohistokimia, Divisi Patobiologi, Divisi Patologi Eksperimen, Divisi

Mikroskop Elektron, dan Divisi Otopsi Klinik.

Pada 1997, dikembangkan 22 konsultan pada Konsultan Keilmuan

Patologi Anatomi. Ke-22 konsultan itu adalah; Patologi Sistem Respirasi,

Patologi Sistem Hepar dan Gastrointestinal, Patologi Sistem Limfoid dan

Hematopoitik, Patologi Sistem Uropoetik, Patologi Sistem Genital Wanita,

Patologi PenyakitTrobop1as, Patologi Payudara, Patologi Sistem Endokrin,

Patologi Sistem Muskuloskeletal, Patologi Sistem Syaraf, Patologi Kulit,

Sitologi, Immunohistokimia, Histokimia, FNAB, Patologi Lingkungan,

Patologi Genetika, Patolobiologi, Patolobiologi Eksperimen,

Immunopatologi, Patologi Molekuler dan Ultrastruktur Mikroskop Elektron.

Dalam perkembangannya, Laboratorium Patologi Anatomi kedokteran

ini tidak hanya sebagai bagian dari pra-klinik tetapi punya peran penting

sebagai penunjang diagnostik di RSUD dr. Soetomo. Ini karena menjadi

penentuan bagi tindakan lanjut yang akan diberikan kepada penderita.

12
B. Pengertian Patologi Anatomi

Definisi patologi dari namanya yaitu patos (penyakit) dan logos (ilmu),

berarti patologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai penyakit. Secara

sempit, patologi anatomi berarti ilmu yang mempelajari perubahan struktur

dan fungsi sel, jaringan dan organ akibat penyakit, meliputi pengetahuan dan

pemahaman dari perubahan fungsi dan struktur pada penyakit, mulai tingkat

molekular sampai pengaruhnya pada tiap individu. Adapun definisi lain dari

Laboratorium Patologi Anatomi yaitu: Suatu Laboratorium yang memiliki

fungsi sangat vital sebagai penentu bagi kelanjutan tindakan medik yang akan

diberikan pada penderita.

Patologi anatomi dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu :

a. Patologi Anatomi umum

Patologi anatomi umum mempelajari reaksi dasar dari sel dan jaringan

terhadap stimulasi abnormal yang merupakan dasar dari semua

penyakit.

b. Patologi Anatomi Khusus

Patologi anatomi khusus mempelajari reaksi spesifik dari jaringan dan

organ tertentu terhadap stimulasi yang diketahui.

C. Visi, Misi dan Motto

a. Visi

Menjadikan Instalansi yang memberikan pelayanan, pendidikan dan

penelitian bidang Patologi Anatomi yang berstandar.

13
b. Misi

1) Memberikan pelayanan laboraorium Patologi Anatomi yang

excellent dan safety.

2) Pengembangan pelayanan labiratorium rujukan Patologi Anatomi

di RS Daerah.

3) Membangun SDM yang profesional bidang patologi Anatomi

dengan standart.

4) Memberikan pendidikan dokter spesialis Patologi Anatomi dengan

kurikulum nasional.

c. Motto

Tepat dalam diagnosa, cepat dalam pelayanan.

14
D. Stuktur Organisasi

15
E. Alur Pelayanan

Penderita

Regristrasi Laboraturium

UMUM ASURANSI

Bayar Bank Jatim Dokumen Loket

Prosesing Spesimen

Pewarnaan

 Rutin
 Khusus

Pemeriksaan Mikroskipis

Hasil

16
F. Pelayanan Divisi di Instalansi Patologi Anatomi

a. Pelayanan Divisi FNAB

Suatu tindakan untuk mengambil suatu benjolan yang tampak dan

teraba dari kelainan organ dengan cara tusukan menggunakan jarum 22-

25.

PRA ANALITIK

a) Persiapan alat :

1) Jarum

2) Objek glass

3) Hairdryer

4) Pinset

5) Timer

6) Kapas alkohol

b) Persiapan bahan :

1) Sampel Biopsi

2) Cat Diftquick :

 Methanol

 Eosin

 Methylen Blue

 Air

 Mounting Medium

c) Persiapan Pasien : mengisi inform consent

17
ANALITIK

a) Metode : Biopsi menggunakan jarum halus.

b) Prinsip : Untuk semua nodule atau benjolan yang tampak

dan teraba, apabila nodule tidak tampak

dilakukan dengan cara tuntunan USG dn CT

Scant.

c) Tujuan : Untuk memperoleh sampel dari pasien dan

mengetahui hasil pemeriksaan.

d) Prosedur :

1) Pasien mengisi inform consent.

2) Petugas menulis biodata pasien di buku register.

3) Pasien masuk ruangan yang telah disediakan.dokter melakukan

anamnesi ke pasien.

4) Dokter mengambil sampel pasien.

5) Sampel dibuat hapusan.

6) Setelah itu di lakukan pengencatan dengan metode diftquick

7) Metanol selama 4 detik

8) Eosin selama 8 detik

9) Metylen Blue 10 dettik

10) Bilas dengan air mengalir

11) Beri identitas

12) Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10X dan 40X

18
PASCA ANALITIK

Hasil : Ditulis diagnosa penyakit pasien.

d. Pelayanan Divisi Histo PA

Definisi histopatology yaitu pemeriksaan jaringan operasi atau

biopsi untuk melihat perubahan morfologi sel dari jaringan dan suatu

proses untuk menanggani bahan dari biopsi atau operasi. Bahan-bahan

tersebut mempunyai bentuk yang berbeda yaitu : Bahan mentah dari hasil

operasi yang di diagnosa tumor atau kanker dari organ tubuh manusia.

Metode : Parafin

PRA - ANALITIK

a) Persiapan Alat

1) Label

2) Wadah

3) Alat Pemotong “ LEICA RM 2135” dan “LEICA RM 2235”

4) Thermo Coorporation atau Tissue “FLATATION BATH”

(Water Bath)

5) Mikrotone

6) Histoembeder

7) Autoteknikom “CHANDON CITADEL 2000

8) LEICA TP 1010

9) Timer

10) Pinset, tissue

19
11) Pemeriksaan Makroskopis yaitu potong specimen ( dr. Sp. PA)

atau PPDS

b) Persiapan Larutan Fiksasi / Cat Pengecatan

1) Formalin 10% (Neutral Buffer Formaline)

2) Alkohol Formaldehyde.

3) Alkohol 96%,95%,90%,80%

4) Cat Mayer's Hematoxylin Eosin 1% (Cat Utama)

5) Xylol

6) Parafim

7) Lem Entelen

c) Tempat Specimen

1) Harus baru

2) Ukuran disesuaikan dengan besarnya Specimen

3) Mulut di usahakan lebar dan bertutup pulir

4) Tidak muda pecah atau robek

d) Label Specimen

1) Identitas Specimen

2) Identitas Penderita

3) Identitas Patologis

4) Identitas Dokter Pengirim

20
e) Catatan

1) Jumlah Specimen harus sesuai

2) Tinta tak boleh larut

3) Radikalitas harus ada tanda-tanda

f) Pengolahan Specimen

1) Specimen yang banyak mengandung darah hendaknya di cuci

dahulu dengan larutan Isotonis (Garam Fisiologis).

2) Specimen cukup besar dan massif perlu di buat slice tanpa

merusak bentuk dan morfologi.

ANALITIK

a) Administrasi

Kelengkapan administrasi meliputi :

a. Nama :

b. Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan

c. Umur : th

d. No registrasi :

e. Alamat :

f. Fiksasi :

g. Jenis bahan : Biopsi / Operasi / Kerok

h. Diagnosa klinik :

i. Dokter pengirim :

21
b) Tahap proses

A. Tahap Grossing

1. Standart Fiksasi

Syarat fiksasi :

a. Menggunakan Buffer formalin 10%

b. Volume fiksasi 10x bahan

c. Jika ukuran bahan besar dilakukan slising

d. Bahan matang dilihat dari warna bahan yaitu : abu-

abu, cream tergantung ketebalan bahan.

2. Ukuran bahan :

3. Berat bahan :

4. Warna :

5. Konsistensi : padat keras, padat lunak, tulang

6. Potong gross (matang) : mengambil bahan yang dicurigai

menurut diagnosa dokter.

7. Tahap akhir : cuci dengan air mengalir ± 15 menit.

B. Tahap Proses

Menggunakan alat : autotecnikan ( waktu : ±16 jam)

Ada 3 tahap, yaitu :

Tahap I : Dehydrasi

a) Menggunakan alkohol bertingkat : 80% ke 96 %

22
b) Tujuan : untuk menghilangkan/mengeluarkan air dari

dalam jaringan. Air dihilangkan karena akan

dimasukkan media minyak.

c) Terdiri dari 6 tabung & waktu : 1 jam / tabung

Tahap II : Clearing

a) Menggunakan xylol (media minyak).

b) Tujuannya untuk menjernihkan jaringan sehingga

terlihat transparan.

c) Menggunakan 4 tabung & waktu : 2;1;1½;1½ jam.

Tahap III : Impregnasi

a) Menggunakan Parafin / lilin.

b) Tujuan : untuk menyamakan suhu jaringan dengan suhu

parafin.

c) Sebagai tempat penyimpanan jaringan.

d) Menggunakan 2 tabung & waktu : 2 jam / tabung.

C. Proses Embiedding

Tahap ini adalah penanaman jaringan pada parafin blok

dengan menggunakan Tissue Embeding System dengan

bagian-bagian yang :

a) Parafin Tank , suhu 60℃, tempat parafin sebagai media

penanam.

23
b) Tissue Tank , suhu 60℃, sebagai tempat meletakan

jaringan.

c) Cold Plate , pendingin

d) Meja kerja, pinset, dan kaca pembesar.

Syarat penanaman adalah irisan jaringan menghadap dasar

base mould.

D. Proses Cutting

Tahap ini dilakukan dengan alat mikrotom. Terdapat 2

hal yang harus diperhatikan yaitu, sudut potong 5-10° dan

ukuran potong 3-5 mikron.

Alat yang diperlukan adalah :

a) Kuas, tissue, obyek glass dengan identitas.

b) Cold plate (-12°C)

Tujuan : untuk meletakan blok parafin sebelum

dipotong agar mempermudah potongan.

c) Waterbath (58°-60°C)

Tujuan : untuk mengembangkan potongan jaringan

agar memudahkan pengambilan dengan obyek

glass.

d) Hot plate (58° − 60°C) selama 10-15 menit

Tujuan : untuk merekatkan jaringan pada obyek glass.

24
E. Proses Staining

Tahap ini menggunakan alat Histoautostainer.

1. Deparafinisasi

Tujuan : Untuk menghilangkan paraffin dari

jaringan.

Menggunakan xylol sebanyak 3 tabung, masing-masing

selama 5 menit. Xylol jenuh akan berwarna keruh,

sebelum terbentuk endapan harus segera diganti dengan

menggeser tabung.

2. Hidrasi

Tujuan : Untuk memasukan air ke dalam jaringan, karena

jaringan akan diwarnai dengan cat bermedium

air.

Menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi

(96%) ke alkohol konsentrasi rendah (80%), sebanyak 4

tabung masing-masing selama 2 menit. Alkohol jenuh

akan timbul warna kabut.

3. Jaringan dalam slide dimasukan ke dalam air selama ±10

menit.

Tujuan : Untuk pengkondisian jaringan sebelum

masuk pada pewarnaan dengan medium air

25
4. Pewarnaan Inti

Tujuan : Untuk mewarnai inti sel

Dilakukan pewarnaan inti sel menggunakan cat Mayer

Hematoksilin selama 5-10 menit tergantung kondisi cat.

5 menit apabila kondisi mayer baru diganti, <2 minggu.

10 menit apabila kondisi mayer sudah dipakai 2-4

minggu.

5. Dibilas dengan air mengalir ±10-15 menit

Tujuan : Untuk menghilangkan artepat-artepat pada

bahan cat dan kondisi air. Sehingga inti sel

sudah terwarnai dan sitoplasma masih

jernih.

6. Pewarnaan Sitoplasma

Tujuan : Untuk mewarnai sitplasma

Diwarnai dengan Eosin Working selama 0,5-1 menit,

untuk mewarnai sitoplasma cat harus diganti maksimal 1

minggu.

7. Dehidrasi

Tujuan : Untuk mengeluarkan atau menarik air dari

jaringan.

26
Menggunakan alkohol bertingkat dengan alkohol

konsentrasi rendah (80%) ke alkohol konsentrasi tinggi

(96%). Sebanyak 6 tabung masing-masing selama 2

menit.

8. Clearing, merupakan tahap akhir dari staining.

Tujuan : Untuk membuat jaringan menjadi

transparan atau jernih.

Menggunakan xylol sebanyak 3 tabung masing-masing

selama 5 menit.

F. Proses Mounting

Mounting ( Pengcoveran) merupakan tahap finishing

dari staining bertujuan untuk menutup jaringan dengan cover

glass menggunakan entelen/ EZ Mount.

Syarat pengcoveran:

a) Jaringan tidak sobek

b) Jaringan tidak melipat

c) Jaringan transparan

d) Jaringan tidak bergelombang

e) Tidak terdapat gelembung

f) Tidak terpotong, minimal ¾ bagian

27
POST-ANALITIK

A. Proses Evaluasi

Evaluasi :

Adalah tahap akhir sebelum dokter melakukan diagnosa

Syarat-syarat sediaan yang baik :

a. Inti berwarna biru magenta, sitoplasma berwarna merah.

b. Tidak terdapat lipatan

c. Tidak terdapat gelombang

d. Tidak terdapat gelembung

e. Cat masih berkualitas baik

f. Cat tidak terlalu tebal

B. Pembuatan cat

Pembuatan reagensia untuk pewarnaan

1. Pengecatan inti sel (Meyer Hematoksilin)

Pembuatan Meyer Hematoksilin sebanyak 1 liter

a. Reagen 1

a) Hematoksilin Kristal : 1 gram

b) 𝑁𝐻4 𝐴𝑙(𝑆𝑂4 )12𝐻2 𝑂 (Ammonium Aluminium

Sulfat) : 50 gram

c) Natrium Iodate (NaI): 200 mgr

d) Satu-persatu dilarutkan dengan aquadest sebanyak ±

500 ml.

28
b. Reagen 2

a) Citric acid : 1 gram

b) Chloral Hydrate : 50 gram

Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 500 ml lalu

dipanasi tetapi jangan sampai mendidih. Tujuan dipanasi

adalah untuk mempercepat reaksi. Setelah larut,

didinginkan pada suhu kamar lalu letakkan pada botol

gelap.

Sebelum digunakan, cat meyer hematoksilin harus

disaring. Untuk mengetahui kualitas warna dari cat,

digunakan kertas saring, dicelupkan pada cat. Terdapat

degradasi warna yaitu biru, ungu, merah magenta,

kuning.

2. Pengecatan Sitoplasma (Eosin Working)

a. Cara membuat eosin induk (1%) sebanyak 500 ml

1) Ditimbang Kristal eosin sebanyak 5 gram

2) Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 ml.

3) Lalu ditambahkan alkohol 96% sebanyak 400 ml.

b. Cara pembuatan eosin working

Diambil cat induk dengan perbandingan1 : 3

Misal : Dibuat eosin sebanyak 500 ml

29
Eosin induk 125 ml (1)

Alkohol 80% 375 ml (3)

Rumus : 𝑉1 𝑥𝑁1 = 𝑉2 𝑥𝑁2

Lalu ditambah GAA (Glasial Acetic Acid). Larutan ini

berfungsi sebagai pengawet.

C. Hal-hal Khusus

Hal-hal khusus pemeriksaan histopatologi :

1. Metode potong beku

Adalah suatu metode yang dilakukan untuk diagnose

histopatologi dengan cepat. Ada 2 cara teknik potong beku :

a) Freezing Microtome

Teknik sayatan memakai 𝐶𝑂2 kering dengan suhu 60˚C

yang disemprotkan sebagai medium “blok”.

Cara Kerja :

1) Berasal dari bahan segarfiksasi dengan cairan

formalin 10% pada suhu kurang dari 58˚C atau

bahan segar tanpa fiksasi.

2) Dicuci atau ditetesi dengan air beberapa kali.

3) Diatur ketebalan sayatan (23 mm).

4) Diletakkan bahan pada pemegang blok (helder).

5) Diteteskan air secukupnya pada bahan dan

tepibahan.

6) Disemprotkan𝐶𝑂2 kering hingga membeku.

30
7) Dilakukan penyayatan beberapa kali.

8) Diletakkan sayatan yang diperoleh pada tempat

dengan dasar hitam dan berisi air.

9) Dilakukan pewarnaan cepat dengan hematoksilin

eosin.

b) Cryo Cut

Teknik potong beku ini pada suhu 5˚C, 20˚C, 30˚C.

2. Dekalsifikasi (Oncalk)

Adalah proses penghilangan kalsium atau penarikan

kalsium secara perlahan-lahan pada bahan padat keras. Larutan

yang digunakan untuk dekalsifikasi yaitu :

a) Asam formiat (untuk padat lunak) 10% dalam formalin.

Asam formiat pelat 10 ml ditambah formalin 10%

sebanyak 90 ml.

b) Asam nitrat (untuk jaringan yang keras) 35% dalam

formalin.

Asam nitrat pekat 3 ml ditambah formalin 10% sebanyak

97 ml.

Sedangkan volume yang disyaratkan untuk melakukan

dekalsifikasi adalah 3060 kali volume bahan dan setiap hari

31
dicek kepadatan tulangnya dengan cara ditusuk dengan jarum.

Setelah itu, dicuci dengan air mengalir.

3. Pewarnaan Khusus (Histokimia)

a) Congo Rel (CR) : untuk pewarnaan amyloid

b) Grocot : untuk pewarnaan jamur

c) Van Gieson : untuk pewarnaan collagen

d) Massin Fontana (MT): untuk pewarnaan melanin

e) Periodic Acid (PAS) : untuk pewarnaan polisakarida,

mucopolisakarida, mucodan

glycoprotein, gylipids, unsaturated

lipids, dan phospholipid

f) Perls-Frussian Blue : untuk pewarnaan ion besi

g) Gomori’s (Reticolin) : untuk pewarnaan retikulin

h) ZiehlNelseen : untuk pewarnaan bakteri tahan asam

i) Sudan Black : untuk pewarnaan lipofuscin

D. Pemeriksaan Vrice Coupe (VC) atau Frozen Section

Teknik Potong beku merupakan bagian dari tugas seorang

ahli Patologi Anatomi dalam memberikan konsultasi intra operatif,

teknik sulit dan penting memerlukan patolog yang

berpenggalaman. Pemeriksaan dilakukan secara cepat dan tepat

dengan membekukan organ sehingga dapat di iris tanpa melalui

32
fiksasi, dan bahan tersebut berasal dari kamar operasi dibutuhkan

penangganan cepat. Kondisi pasien dalam keadaan terbuka (di

ruang Operasi). Diagnosa dilakukan oleh dr. Sp PA.

Tujuan Pemeriksaan :

a. Untuk menentukan terapi nya

b. Untuk menentukan radikalitas (batas operasi)

c. Untuk menentukan ganas / jinaknya suatu tumor

PRA - ANALITIK

a) Persiapan Alat :

1) Freezing Microtome

2) Mesin Cryo Cut

3) Lempengan Holder

4) Mikroskop

5) Obyek Glass

6) Cover Glass

7) Papan Potong

8) Pisau khusus untuk potong jaringan

9) Hairdrayer

10) Alat Pelindung Diri (Jas Lab, Masker dan Sarung

Tangan)

b) Persiapan Bahan :

33
1) Cat Hematoxylin Eosin

2) Serbuk Cina (black)

3) Lem Entelen

ANALITIK

a. Jaringan yang diterima dalam keadaan segar, dilihat

diagnosa klinis pada lembar formulir.

b. Bagian yang dicurigai dipotong dan di taruh pada lempengan.

c. Ditutup dengan lem khusus pada jaringan, kemudian jaringan

dimasukan kedalam alat yang namanya “Cryo Cut”.

Jaringan akan beku karena tertutup es. Tindakan ini

dilakukan oleh teknisi yang sudah berpenggalaman.

d. Kemudian jaringan lemak dipotong dengan ukuran ± 2-3

mikron dan yang berlemak dipotong ukuran ± 0,5 mikron,

hasil potongan di taruh di obyek glass dan keringkan dengan

hairdrayer.

e. Dicat dengan cat hematoxylin selama 2 detik, kemudian

dicuci dengan air dan di genangi dengan eosin 3-5 detik, lalu

di genangi lagi dengan alkohol selama 3-5 detik.

f. Sediaan yang sudah di cat dikeringkan dengan hairdrayer,

kemudian di lakukan tindakan mounting (sediaan diolesi

dengan lem entelen dan ditutup dengan cover glass).

34
POST - ANALITIK

a) Diperiksa dengan mikroskop oleh dokter Sp. PA atau PPDS

yang sedang belajar untuk menjadi dr. Sp. PA lalu di

komfirmasi lagi oleh dr. Sp.PA.

b) Hasil yang di lihat oleh dr. Sp. PA atau PPDS langsung bisa

ditentukan tumor ganas atau jinak agar tindakan operasi

dilanjutkan karena sementara pemeriksaan Vrice Coupe

berlanjut pasien sedang berada dimeja operasi.

c) Pembacaan hasil di lakukan selama 15-20 menit dan

kemudian hasil segera di tulis di komputer dan di print lalu

dibawa kembali ke ruang operasi.

d) Keakuratan pemeriksaan Vrice Coupe sebesar 80-90%.

Sedangkan untuk tahap lanjut atau pastinya di lakukan

pengeblokan di Laboratorium Histopatologi.

Catatan :

a) Sisa Vrice Coupe dimasukan ke wadah dan diberi formalin

10% untuk fiksasi, dan sampel tersebut ditulis SVC (Sisa

Vrice Coupe)

b) Jaringan yang besar ( tanpa Proses Vrice Coupe) di masukan

juga kewadah dan diberi buffer formalin 10% dan ditulis

VCSP ( Vrice Coupe Parafin Coupe).

35
Formulir Pengiriman Permintaan Patologi Anatomi untuk Vrice Coupe

Nama Pasien : ........... Nama Dr. Pengirim : ..............

Alamat : ............ Ruangan / Poli : ...........

Jenis Kelamin : ............ Vip atau kelas I,II,III : ...........

No. Register : ............. Diagnosa Klinis : ……..

Lokasi Organ : ............

e. Pelayanan Divisi Sitologi

Salah satu cara yang paling ampuh untuk diagnosa dini penyakit

kanker adalah dengan penggunaan teknik yang di kenal sebagai sitologi

exfoliatif. Istilah “Exfoliatif” berarti “menjadi berlapis-lapis sebagai

penutup” dan kata Sitologi berasal dari kata “Cytos” (sel) and “logos”

(ilmu pengetahuan atau pelajaran). Sitologi Exfoliatif berarti ilmu

pengetahuan tentang tumpukan sel-sel tersebut.

Exfoliasi spontan, atau tumpukan sel-sel yang terjadi karena sel-sel

dewasa diganti oleh sel-sel yang lebih muda merupakan sifat atau tanda

dari sel epitel atau jaringan yang menutupi permukaan-permukaan tubuh

baik yang eksternal maupun internal.

Sel-sel yang bertumpuk mudah diperoleh dengan mengerok suatu

permukaan epitel. Secara mikroskopis sel kanker atau sel ganas yang

tertangkap pada pengerokan epitel dapat dibedakan dengan sel-sel

normal (jinak), lebih panjang lagi bahwa dengan pengetahuan ini kita

36
dapat mengetahui adanya sel-sel kanker di bawah mikroskop, sebelum

penyakitnya memberikan gejal-gejala klinik.

Penderita-penderita keganasan yang sudah memberikan gejala-

gejala klinik yang tampak dengan mata telanjang, biasanya tidakberhasil

baik dengan pengobatan. Untuk memperoleh hasil-hasil yang

memuaskan. Dalam pengobatan kita harus menemukan keganasan

dengan cara sitologi exfoliatif pada keganasan dalam stadium

permulaaan penyakitnya.

Penentuan keganasan dengan cara sitologi exfoliatif pada

keganasan dari servix (leher rahim), mempunyai hubungan yang tepat.

Dengan sitologi eksfoliatif penyakit ini dapat ditemukan pada stadium

premaligna yang dini, dimana pengobatan yang berhasil baik dapat di

laksanakan.

a) pada sediaan obyek glass)

b) Hapusan Brussing

Brussing adalah cairan dalam bentuk lide yang di ambil dari daerah

paru dengan alat seperti sikat dan bilasan atas cuciannya di periksa (

BAL : Broncho Alvealar Lavage ).

Ada 2 macam pewarnaan yang digunakan

a. Pewarnaan Papaniculaou yaitu pewarnaan rutin untuk sediaan

sitology

b. Pewarnaan HE yaitu pewarnaan pembanding

37
Prosedurnya hampir sama dengan papaniculaou tetapi mengunakan

Hematoxylin (cat inti) dan Eosin (cat sitoplasma) tanpa

menggunakan Orange Green.

1. Teori Sitologi

Bahan-bahan pemeriksaan cytology :

a) Cat haris hematoksilin

b) Alkohol 50%, 70%, 80% dan 95%

c) Cat orange green

d) Cat eosin azure

e) Xylol

f) Sampel cairan ( urin, sputum, pap smear, pleura, BAL, cairan

otak, asites, LCS, dan abses)

PRA - ANALITIK

a) Persiapan Alat

1) Alat Pelindung Diri (Masker, sarung tangan dan jas Lab)

2) Disiapkan slide ( diberi identitas bahan ) satu bahan untuk 2

slide, sesuai permintaan dokter

3) Tabung Centrifuge

4) Obyeck glass

5) Cover glass

6) Mikropipet

38
7) Centrifuge

8) Rak tabung

9) Staining Glass

10) Staining Jar

11) Kertas saring

12) Kain kasa

13) Timer dan pensil

14) Dimond pen

15) Yellow tips

16) Tissue

b) Persiapan Reagen

1) Alkohol 50%, 70%, 80%, 96%

2) Cat Haris Hematoxylin ( mewarnai inti )

3) Cat Eosin (mewarnai sitoplasma)

4) Cat Orange Green 6 ( OG 6)

5) Cat E.A 50

6) Lem Entelent atau Ez mount

7) Aquadest dan air keran

c) Persiapan Sampel

1) Cairan Sputum (dahak)

2) Bal (Broncho Alvaelaer Lavage )

39
3) Cairan pleura

4) Asites (Cairan perut)

5) Bahan berupa sediaan pada obyek glass (Langsung Fiksasi

Pewarnaan)

6) Brushing

ANALITIK

a) Prosedur pemeriksaan cytology :

Pembuatan Hapusan/ Slide/ Preparat

1) Kocok sampel dengan cairan fiksasi

2) Tuang sampel dalam tabung centrifuge sesuai label sebanyak ¼

tabung

3) Centrifuge 3500 rpm selama 5 menit

4) Buang cairan dan ambil supernata dengan menggunakan pipet

5) Teteskan pada slide sesuai table

6) Buat hapusan dengan menggesekan objek glas dengan sisi

objek glas lain secara cepat

7) Keringkan ± 15-20 menit

2. Pewarnaan Sitologi

Pewarnaan ( metode papaniculou staining )

a) Celupkan preparat 3-10 celup dalam alcohol bertingkat dari

konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah ( 80%, 70%, 50% )

b) Bilas dengan air ± 1 menit

40
c) Masukan dalam cat inti haris hemaktosilin selama 3-6 menit

d) Bilas dengan air

e) Masukan dalam alcohol bertingkat dari konsentrasi tinggi ke

konsentrasi rendah ( 80%, 70%, 50% ) 3-10 celup

f) Masukan dalam cat sitoplasma monokromatik orange green

selama 2 menit

g) Masukan alcohol 95% sebanyak 2 tabung masing-masing 3-10

celup

h) Masukan dalam cat sitoplasma polikromatik eosin azure selama

2 menit

i) Masukan dalam alcohol 95% sebanyak 2 tabung masing-

masing 3-10 celup

j) Masukan dalam xylol 3 tabung masing-masing 3-10 celup.

Keringkan dengan tissue

k) Mounting medium dengan EZ mount

Pemeriksaan Pap-Smear

Merupakan suatu pemeriksaan sitologi dengan mengambil

apusan permukaan cervix.

Tujuan Pemeriksaan :

a. Untuk mengetahui kelainan pra ganas / ganas

b. Penentuan dini Ca cervix uteri

41
Prosedur Kerja :

PRA-ANALITIK

a) Persiapan Pasien

1) Tidak haid

2) Tidak hub. sex selama 24 jam

3) Tidak pakai jelly / kontrasepsi tissue selama 48 jam

4) Tidak bilas vagina

ANALITIK

a) Konvensional

yaitu mengambil apusan pada permukaan kulit servix

Uteri dengan “Spatula aery dan Cytobras”.

Skematis Pewarnaan

Alkohol → Run water → H.Hematoxcillin → Run water

→ Alkohol→ Orange G → Alkohol → EA 50 → Alkohol →

Xillol → Mounting

b) Liquid Base Citologi

yaitu meemindahkan semua sel yang didapat dari bahan

apusan.

Skema Kerja Liquid Base Citologi

42
Cytobrush → Cyto red putar di Cytospin 1500 rpm, 3 menit →

Preparat Pap Test

POST-ANALITIK

Hasil Pewarnaan Pap Smear

Sitoplasma sel superfisial (Merah-orange).

Sitoplasma sel intermediate dan para basal (Hijau-kebiruan,

sedangkan sel epitel yang maturasinya kurang warnanya gelap).

f. Pelayanan Divisi Immunohistokimia

1. Materi Immunohistokimia

Imunohistokimiaa dalah suatu metode untuk mendeteksi

protein di dalam selsuatu jaringan yang menggunakan prinsip

pengikatan antara antibody dan antigen pada jaringan hidup dan

banyak digunakan pada sel tumor.

Antigen adalah yang dapat menimbulkan respon imun

sehingga dapat bereaksi dengan antibodi yang di tetesi.

Antibodi adalah protein serum yang mempunyai responimun

pada tubuh yang mengandung immunoglobulin (Ig).

Manfaat Pemeriksaan:

1) Untuk identifikasi

43
2) Untuk lokalisasi

3) Untuk mengetahui karakteristik antigen tertentu

4) Untuk terapi

5) Untuk prognosis Ca

6) Untuk menentukan diagnostic

Imunohistokimia ada dua antibodi yaitu antibodi primer dan antibodi

sekunder

Antibodi primer :

1. Direct menggunakan antibodi primer (langsung berlabel)

2. Indirect menggunakan antibodi primer (tidak berlabel)

Antibodi sekunder sudah mempunyai label yang akan bereaksi

dengan Ig dari antibodi primer.

2. Pewarnaan Immunohistokimia

PRA ANALITIK

a) Persiapan alat

1) APD

2) Mikrowave

3) Marking Pen Imunologic

4) Refrigerator

b) Persiapan reagen

1) Xylol

44
2) Alkohol 99 %, 90 %, 80%, 70%

3) TRIS Buffer/PBS

4) DAB (Diaminobenzidine Tetrahydrochloride)

5) EZ-Mount

6) Meyer’s Hematoxyllin

7) Protein Block Serum

8) Antibodi Primer

9) Antibodi sekunder

10) HRP (Strepavidin Peroxidase)

c) Persiapan Bahan :

1) Slide Polilisin

Analitik

a. Metode :Indirect Methode ( Labelled Strepavidin

Biotin 2)

b. Tujuan : Identifikasi jenis tumor

Sebagai analisa diagnosa banding

Menentukan prognosis

Menentukan terapi selanjutnya

c. Prinsip :Reaksi antara imunologi dan kimiawi,

dimana reaksi imunologi ditandai adanya reaksi

kimiawi ditandai adanya reaksi antara enzim dengan

substrat.

45
d. Prosedur :

1) TAHAP I (Deparafinisasi-Rehidrasi-Air)

a) Deparafinisasi : Xylol 3X (@ 5 menit)

b) Rehidrasi : Alkohol 99% 2X, 90%, 80% dan

70% (@ 2 menit)

c) Cuci dengan air mengalir 5 menit, aquadest 5

menit.

2) TAHAP II (Blocking Peroxidase Endogenous)

a) Tetesi dengan H2 O2 0,3 % selama 5 menit.

3) TAHAP III (Antigen Retrival)

a) Hangatkan larutan TRS / Buffer Cytrat selama 2

menit dengan Microwave posisi “Hight”

b) Masukkan preparat dalam Container yang

hangat dan masukkan kembali ke Microwave

posisi Hight amati sampai muncul “Bubble I”

c) Posisikan Low sampai dengan rentang waktu 20

menit

d) Dinginkan larutan TRS/Buffer cytrat pada suhu

kamar dengan kipas angin kecil, kemudian cuci

dengan aquadest selama 5 menit

46
e) Cuci dengan TRIS Buffer/PBS selama 5 menit,

dan isapkan tissue sekitar area sayatan jaringan.

f) ingkari daetah sekeliling sayatan jaringan

sesuai kebutuhan dengan “Marking pen

Imunologic”

4) TAHAP IV (Blocking Background)

a) Teteskan Protein Block Serum pada suhu kamar

selama 5 menit pada area “marking pen

imunologic”, kemudian cuci dengan TRIS

Buffer/PBS selama 5 menit an isapkan tissue

sekitar area “marking pen imunologic”

5) TAHAP V (Pewarnaan Utama)

a) Teteskan “Antibodi Primer” dalam area

“marking pen imunologic”, kemudian inkubasi

pada Magnetic Imunostaining dalam keadaan

tertutup :

1) Suhu kamar selama 1 jam

2) Suhu 4ºC (Refrigerator) selama

“Overnight”

47
b) Cuci dengan TRIS Buffer/PBS dengan Shaker

(digoyang-goyang) selama 5 menit dan isapkan

tissue sekitar area “marking pen imunologic”

c) Teteskan “Antibodi Sekunder” (Biotinlabelled

Link) selama 10 menit pada suhu ruangan

d) Cuci dengan TRIS Buffer/PBS dengan Shaker

(digoyang-goyang) selama 5 menit dan isapkan

tissue sekitar area “marking pen imunologic”

e) Teteskan HRP (Strepavidin Peroxidase

Conjugate) dalam area “marking pen

imunologic” lalu inkubasi pada suhu kamar

selama 10 menit.

f) Cuci engan TRIS Buffer/PBS dengan Shaker

(digoyang-goyang) selama 5 menit dan isapkan

tissue sekitar area “marking pen imunologic”

pada suhu kamar selama 5 – 10 menit

g) Cuci dengan air mengalir selama 5 menit

6) TAHAP VI (Counter Stain)

48
a) Masukkan preparat / Slide IHC ke dalam

“Meyer Haematoxylin” pada suhu kamar selama

2 menit

b) Cuci dengan air mengalir selama 5 menit

c) Dehidrasi

Celupkan dalam larutan Alkohol secara

bertahap dengan konsentrasi meningkat :

1) Alkohol 70% selama 2 menit

2) Alkohol 80% selama 2 menit

3) Alkohol 90% selama 2 menit

4) Alkohol 99% selama 2 menit

5) Alkohol 99% selama 2 menit

d) Clearing

Celupkan preparat / slide IHC dalam lauran

xylol :

1) Xylol I selama 5 menit

2) Xylol II selama 5 menit

3) Xylol III selama 5 menit

e) Mounting medium dengan EZ-Mount

PASCA ANALITIK

49
a. Preparat yang sel positif akan terwarnai dengan warna coklat

b. Dilakukan pengamatan pada preparat dibawah mikroskop.

50