Anda di halaman 1dari 13

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

KELAS VIII SMP N 2 TANAH GROGOT SEMESTER GANJIL PADA


MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL MELALUI
PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE
JIGSAW.TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Pawi

Absrtark. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan


untuk mengetahui peningkatan hasil belajar serta aktivitas siswa kelas VIII E
SMP N 2 melalui model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw pada
materi sistem persamaan linear dua variabel. Jenis penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, yang masing-masing siklus
terdiri atas tahap perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: hasil belajar siswa yang diambil
dari pemberian soal tes pada akhir siklus, kemampuan guru dalam pengelolaan
pembelajaran yang diambil dari lembar observasi, aktifitas siswa yang diambil
dari lembar observasi siswa. Hasil penelitian pada siklus 1 menunjukan rata-rata
hasil belajar siswa 74 dengan persentasi ketuntasan 4%, aktivitas siswa dengan
nilai 2,29 pada pertemuan 1 dan 2,43 pada pertemuan 2. Sedangkan kemampuan
guru pada siklus 1 pertemuan 1 dengan nilai 2,33 dan 2,56 pada pertemuan 2.
Hasil penelitian pada siklus 2 diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 91 dan
persentasi ketuntasan 100%. Sudah memenuhi indikator kinerja dengan nilai rata-
rata siswa lebih dari 69 dan persentasi ketuntasan siswa 80%. Aktivitas siswa
dengan nilai 2,57 pada pertemuan 1 dan 3,29 pada pertemuan 2 dan kemampuan
guru dengan nilai 2,88 pada pertemuan 1 dan 3,11 pada pertemuan 2. Dari
penelitian ini diperoleh simpulan bahwa dengan menggunakan model
pembelajaran Cooperative Learning tipe JIGSAW dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas VIII E SPM N 2 Tanah Grogot tahun pelajaran 2011/2012
pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV).

Kata Kunci : Peningkatan Hasil Belajar, Model pembelajaran tipe Jigsaw

1
Matematika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu,
matematika juga mempunyai ciri khas sebagai ilmu yang memiliki obyek abstrak,
berpola pada pemikiran deduktif aksiomatik, dan juga berlandaskan pada
kebenaran. Dengan adanya ciri khas tersebut, matematika berguna sekali dalam
menumbuhkembangkan kemampuan serta membentuk pribadi siswa dalam Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Matematika sebagai ilmu dasar juga
diperlukan untuk mencapai keberhasilan yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu,
sudah seharusnya matematika diajarkan sedini mungkin. Dalam hal ini, guru
mempunyai peranan penting dalam mencapai keberhasilan proses belajar,
termasuk keberhasilan dalam pendidikan secara global. Keberhasilan tersebut
dapat ditunjukkan dengan kemampuan siswa memahami dan mengerti materi
yang diajarkan. Pada hakekatnya, matematika sebagai salah satu ilmu eksak
mengharuskan para siswa untuk benar-benar mengerti dan menguasai materi.
Karena alasan inilah, sebagian besar siswa mengambil kesimpulan bahwa
matematika merupakan mata pelajaran yang sulit, sukar dipahami, dan tidak
sedikit siswa kelas VIII SMP N 2 Tanah Grogot yang menjadikan matematika
merupakan pelajaran yang ditakuti jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang
lain
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kurang disukainya matematika. Di
antaranya adalah metode penyampaian materi yang kurang menarik, pengelolaan
kelas yang kurang terprogram, banyaknya langkah-langkah ( prosedur) dalam
menyelesaikan soal, kurangnya konsentrasi siswa dalam menerima pelajaran, serta
faktor kurangnya latihan.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, terdapat lebih dari 65%
siswa kelas VIII SMP N 2 Tanah Grogot Tahun Pelajaran 2011/2012 berpendapat
bahwa matematika merupakan pelajaran yang ditakuti. Sementara yang sisanya
berpendapat bahwa matematika hanyalah mata pelajaran biasa. Oleh karena itu,
peneliti mengambil materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel karena materi
tersebut ada di kelas VIII semester ganjil. Tindakan yang akan dilakukan
ditujukan untuk mengubah pandangan siswa yang berpendapat bahwa matematika
merupakan pelajaran yang sulit. Munculnya pandangan tersebut menjadi salah
satu penyebab terganggunya proses belajar mengajar mata pelajaran matematika.
Akibatnya para siswa kesulitan dalam menyerap materi yang disampaikan, salah
satunya dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan Sistem Persamaan
Linear Dua Variabel yang berkaitan dengan soal cerita.
Untuk mengetahui apakah siswa telah berhasil menguasai meteri yang
disampaikan oleh guru, peneliti akan menerapkan Cooperative Learning.
Corperative Learning dalam matematika akan dapat membantu meningkatkan
sifat positif para siswa dalam belajar matematika. Siswa secara individu akan
membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan
masalah-masalah matematika, sehingga secara berangsur-angsur akan mengurangi
rasa cemasnya terhadap kesulitan yang sebelumnya dia alami.
Cooperative Learning juga terbukti sangat bermanfaat bagi para siswa
yang heterogen. Dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok, model belajar
ini dapat membuat siswa mampu menerima siswa lain yang berkemampuan
berbeda (Suherman, dkk, 2003: 259). Adanya kompetisi antar kelompok belajar
2
juga dapat menumbuhkan motivasi belajar para siswa yang nantinya akan
berpengaruh terhadap hasil belajar dalam kelompoknya. Untuk mengetahui
keaktifan anak supaya mampu bekerja sama, mengajukan pertanyaan dalam
kegiatan belajar kelompok, siswa untuk berani bertanya. Dari uraian di atas, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul
“Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIE SMP N 2 Tanah
Grogot Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Model
Pembelajaran Coorperatife Learning Tipe JIGSAW ”.
Menurut Slavin (1994) mengatakan bahwa model pembelajaran
cooperative tipe JIGSAW merupakan model pembelajaran dengan strategi belajar
menempatkan siswa dalam bentuk kelompok, ada kelompok asal dan kelompok
ahli yang terdiri dari beberapa siswa yang heterogen. Setiap siswa dalam
kelompok ( kelompok Asal ) nantinya akan diberi tugas untuk menjadi tim ahli (
delegasi/utusan dari kelompok) untuk membahas topik permasalahan tertentu.
Adapun tim ahli merupakan kelompok dari beberapa kelompok asal. Kelompok
ahli mempelajari/berdiskusi membahas berbagai permasalahan yang dihadapi.
Setelah mempelajari/berdiskusi dalam kelompok ahli, masing-masing siswa akan
kembali lagi ke dalam kelompok asal untuk melaporkan yang mereka pelajari
dalam kelompok ahli. Adapun langkah-langkah pembelajaran menggunakan tipe
JIGSAW dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok ( disebut dengan kelompok
asal, setiap kelompok teridiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang
heterogen dari tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah maupun jenis
kelamin.. Setiap anggota kelompok nantinya diberi tugas untuk memilih dan
mempelajari materi yang telah disiapkan oleh guru.
b. Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan pilihannya,
mereka langsung membentuk kelompok ahli berdasarkan materi yang dipilih.
c. Setelah setiap kelompok anggota dalam kelompok ahli kembali lagi ke
kelompok asal untuk menjelaskan apa-apa yang telah mereka
pelajari/diskusikan di kelompok ahli.
d. Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai asilitator, yaitu memfasilitasi
agar pelaksaan kegiatan diskusi dalam kelompok ahli maupun penularan dalam
kelompok asal berjalan secara efektif dan optimal.
e. Setelah masing-masing anggota dalam kelompok selesai menyampaikan apa
yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli, guru memberikan soal/kuis pada
seluruh siswa. Soal harus dikerjakan secara invidual.
f. Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan sebagai dasar pemberian nilai
penghargaan untuk masing-masing kelompok. Teknik penilaian/penghargaan
akan dijelaskan tersendiri di akhir bab pembelajaran kooperatif.masing-masing
siswa akan beranggotakan 4 – 5 siswa dengan tingkat kemampuan atau latar
belakang yang berbeda. Tiap kelompok tersebut siswa dengan tingkat
kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Di dalam kelompok tersebut ada
tanggung jawab bersama, jadi setiap anggota saling membantu unaan kegiatan
diskusi dalamntuk menutupi kekurangannya. Ada proses diskusi, saling
bertukar pendapat, menghargai pendapat, pembinaan teman sebaya,
kepimpinan dalam mengatur pembinaan di kelompoknya sehingga yang terjalin
3
hubungan yang positif. Pembelajaran Kooperatif tipe JIGSAW terdiri dari 5
komponen yang utama yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor
perkembangan dan penghargaan kelompok. Semua komponen tersebut harus di
lakukan dalam setiap pembelajaran di kelas.
Penghitungan skor perkembangan (Robert Slavin, 1995:291) didapat
melalui kriteria berikut.

Skor Kuis Poin Perkembangan


Lebih dari 10 poin dibawah skor awal 0
10 poin sampai dengan poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai dengan 10 poin diatas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Nilai sempurna (tanpa memperhitungkan skor awal) 30

Tiga tingkatan diberikan kepada kelompok yang memperoleh nilai perkembangan


yang dihitung dari rata-rata poin perkembangan yang diperoleh tiap anggota
kelompok. Kriteria ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut.

Rata-rata Perkembangan Penghargaan Team


15 ⎯ 19 Good team
20 ⎯ 24 Great team
25 ⎯ 30 Super team

METODE
Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas ( Classroom Action research). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2
siklus, masing-masing siklus mencakup empat tahap yaitu perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dan dilaksanakan dengan kolaborasi antara
peneliti dengan guru matematika. Masing-masing siklus terdiri dari 2 kali
pertemuan.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 2 Tanah Grogot. Waktu penelitian
dilakasanakan bulan Nopember 2011 samapai Desember 2011 semester ganjil
Tahun Pembelajaran 2011/2012.
Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII E SMP N 2 Tanah grogot yang
berjumlah 23 siswa, terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan,
seorang guru matematika dan seorang pengamat
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,
yaitu : 1) Data hasil belajar diambil dari tes evaluasi setelah siklus 2 selesai.
2) Data tentang proses belajar mengajar pada saat dilaksanakannya tindakan,
diambil dengan lembar observasi dan hasil angket. Sedangkan teknik
pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi, metode ini digunakan
untuk mengamati kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran sehingga
dapat diketahui apakah proses pembelajaran dapat meningkatkan kreatifitas siswa.
Metode tes, metode ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah
pembelajaran kooperatif dilaksanakan. Metode angket, metode angket yang
4
digunakan adalah angket langsung yaitu daftar pertanyaan yang diberikan
langsung pada siswa. Metode ini digunakan untuk mengetahui pendapat siswa
tentang keadaan diri sendiri.
Adapun Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1)Apabila diperoleh skor rata-rata kemampuan guru dalam pembelajaran
kooperatif ≥ 2,5. 2) Apabila nilai rata-rata kelas untuk hasil belajar pada SPLDV
≥ 69. Standar minimal yang digunakan berdasarkan standar minimal nilai yang
ditetapkan oleh pihak sekolah dan persentasi ketuntasan lebih ≥ 85% dari jumlah
23 siswa berkategori tuntas belajar. 3) Indikator keberhasilan untuk aktivitas siswa
dengan skor ≥ 2.
Penelitian ini bersifat deskriftif kualitatif, yang hanya memaparkan data
yang diperoleh melalui observasi, pemberian soal-soal sebagai latihan dan tes
hasil belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian Siklus I

Siklus 1 dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu pada hari Senin tanggal
14 November 2011 dan hari Rabu tanggal 16 November 2011 dengan masing-
masing pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Subyek penelitian adalah
kelas VIII E SMP N 2 Tanah Grogot semester I Tahun Pelajaran 2011/2012 yang
berjumlah 23 siswa dengan 9 siswa putra dan14 siswa putri. Kegiatan belajar
mengajar dilakukan oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh seorang guru mata
pelajaran matematika.

1. Pertemuan 1 Kegiatan belajar mengajar diawali guru dengan mengecek


kehadiran siswa dan memberi informasi tentang model pembelajaran yang akan
digunakan. Guru mengingatkan pelajaran sebelumnya dan memberi informasi
betapa pentingnya pelajaran yang akan dipelajari ini. Guru menyampaikan materi,
guru membagi kelompok dalam satu kelas menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 4
siswa tiap kelompok. Tiap kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan
yang heterogen. Guru melakukan tahapan-tahapan yang ada pada pembelajaran
kooperatif dengan cukup baik,hal ini dapat diketahui dari skor rata-rata
pengamatan pembelajaran kooperatif guru sebesar 2,33. Namun pada pertemuan
pertama guru tidak sempat memberikan kuis pada siswa karena keterbatasan
waktu. Hal ini disebabkan pengelolaan waktu yang belum baik. Disamping itu
juga bimbingan terhadap siswa belum bisa merata masih terdapat beberapa
kelompok yang belum dapat menjawab soal dengan benar. Skor rata-rata hasil
observasi siswa sebesar 2,29 dari skor rata-rata maksimal 4. Sehingga
pembelajaran masih kurang baik . Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam
bekerja kelompok. Hal ini dikarenakan siswa masih dalam tahap penyesuaian
dengan anggota kelompoknya. Meskipun demikian pada pertemuan terdapat
beberapa siswa yang mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil
kerjanya kedepan kelas. Dan tanggapan dari teman-temannya cukup baik. Nilai
perkembangan individu dan nilai perkembangan kelompok belum dapat dihitung
5
karena individu dan kelompok diambil dari hasil PR dari anggota kelompok pada
pertemuan 2 siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus 1 juga belum
dapat diketahui, karena evaluasi siklus 1 dilakukan pada pertemuan 2.

2. Pertemuan 2 Kegiatan belajar mengajar pada pertemuan 2 tetap dilakukan oleh


peneliti dan dibantu oleh seorang guru mata pelajaran matematika. Guru
mengabsen siswa dan dilanjutkan untuk membahas PR. Guru juga mengingatkan
pelajaran yang lalu. Guru menerangkan materi pada pertemuan 2, lalu guru
membagi siswa dalam 6 kelompok sesuai dengan kelompok sebelumnya. Guru
melakukan tahapan-tahapan pada pembelajaran kooperatif dengan cukup baik, hal
ini dapat diketahui pada skor rata-rata pengamatan kooperatif untuk guru sebesar
2,56 pada pertemuan 2 untuk siklus 1. Pada pertemuan 2 siklus 1 guru sudah
dapat mengelola waktu dengan baik sehingga guru dapat memberikan evaluasi
siklus 1 pada akhir pertemuan 2. Bimbingan pada siswa juga sudah merata, sudah
terdapat beberapa kelompok yang dapat menyelesaikan soal dengan benar sesuai
dengan waktu yang ditentukan. Skor rata-rata hasil observasi untuk siswa pada
pertemuan 2 siklus 1 sebesar 2,43 dari skor rata-rata maksimal 4. Pembelajaran
pada pertemuan 2 sudah berjalan cukup baik. Setiap anggota kelompok sudah
dapat kerja sama dengan anggota kelompoknya. Kegiatan diskusi kelompoknya
juga sudah ada peningkatan. Tetapi juga masih ada beberapa anggota kelompok
yang menyelesaikannya secara individu. Hal ini disebabkan mereka masih merasa
bisa sendiri. Nilai perkembangan individu dan nilai perkembangan kelompok
sudah dapat diketahui dari hasil PR tiap anggota kelompok. Skor awal diambil
dari mid semester tiap anggota kelompok. Terdapat 4 kelompok dengan kriteria
Superteam. 2 kelompok Great Team.
Dari hasil observasi siswa terhadap pembelajaran dapat diketahui bahwa
siswa merasa senang dengan pembelajaran kooperatif JIGSAW ,dan siswa juga
merasa senang dengan adanya kerja kelompok yang dipresentasikan ke depan
kelas, juga penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang terbaik. Kegiatan
tersebut akan memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar dan juga
berani untuk bertanya, menanggapi dan menghargai pendapat temannya. Hasil
belajar siswa pada siklus 1 diperoleh setelah siswa melakukan evaluasi pada akhir
pertemuan 2. Dengan nilai rata-rata 74 naik sebesar 21 dari rata-rata nilai awal
sebesar 49, sedangkan persentase ketuntasan pada akhir siklus 1 sebesar 70 %.
Juga naik dibandingkan nilai awal sebesar 4%. Hasil penelitian pada siklus 1
masih belum memenuhi indikator yang telah ditentukan , maka perlu diadakan
penelitian pada siklus 2. Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus I berakhir.

Dari hasil refleksi yang dilakukan diperoleh kendala-kendala yang


dihadapi antara lain:
a. Guru belum bisa melakukan tahapan-tahapan yang ada pada pembelajaran
kooperatif dengan baik, dan dalam pembagian waktu juga belum sesuai.
b. Dalam bimbingan kelompok juga belum bisa merata.
c. Siswa didalam bekerja kelompok juga belum semaksimal mungkin, karena
belum terbiasa. Hal ini dapat dilihat dari hasil di atas.

6
B.Hasil Penelitian Siklus II
Siklus 2 dilaksanakan setelah siklus 1 selesai. Dari hasil siklus 1 diketahui
bahwa guru belum dapat mengelola pembelajaran dengan baik sehingga peneliti
melakukan siklus 2. Siklus 2 dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu pada hari Senin
tanggal 5 Desember 2011 dan hari Rabu tanggal 7 Desember 2011 dengan
masing-masing pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Subyek penelitian
kelas VIII E SMP N 2 Tanah Grogot semester I Tahun Pelajaran 2011/2012 yang
berjumlah 23 siswa dengan 9 siswa putra dan 14 siswa putri. Kegiatan belajar
mengajar dilakukan oleh peneliti dan dibantu seorang guru mata pelajaran
matematika.
Pertemuan 1 Kegiatan belajar mengajar dilakukan guru dengan
menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW. Guru mengabsen siswa,
memberi salam dan guru membahas PR. Kemudian guru menerangkan materi
dilanjutkan membagi kelompok menjadi 6 kelompok dengan anggota 4 siswa tiap
kelompok dengan kemampuan anak yang heterogen. Guru melakukan tahapan-
tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik, hal ini dapat diketahui dari skor
rata-rata pengamatan pembelajaran untuk guru sebesar 2,88. Guru menyampaikan
semua tujuan pembelajaran yang akan dicapai, memotivasi siswa agar giat belajar
dan memberi bimbingan kepada siswa secara merata. Dalam mempresentasikan
hasil pemecahan masalah kelompok, guru memberi kesempatan kepada kelompok
secara adil. Penghargaan kelompok diberikan kepada kelompok yang
presentasinya terbaik dan tercepat. Skor rata-rata hasil observasi siswa sebesar
2,57 dari skor rata-rata maksimal 4 sehingga pembelajaran berjalan baik. Setiap
anggota kelompok mau berdiskusi dengan anggota kelompoknya. Sehingga tiap-
tiap kelompok berlomba-lomba untuk dapat mempresentasikan hasil kerjanya di
depan kelas. Jika terdapat kesalahan dalam mempresentasikan anggota kelompok
maka anggota yang lain mampu untuk mengoreksinya. Kuis dilakukan pada akhir
pembelajaran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang
telah diajarkan. Nilai kuis pada pertemuan 1 siklus 2 dijadikan nilai
perkembangan individu dan nilai kelompok. Dari hasil perhitungan terdapat 2 tim
yang kriterianya Superteam, 3 kelompok yang kriterianya Great Team, 4
kelompok dengan kriteria Good Team,.
Pertemuan 2 Pada pertemuan akhir siklus 2 guru tetap menggunakan
kooperatif Jigsaw. .Dengan membagi kelas menjadi 6 kelompok terdiri dari 4 anak
tiap kelompok dengan kemampuan yang heterogen. Guru menjelaskan tahapan-
tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik, hal ini dapat diketahui dari skor
rata-rata pengamatan guru sebesar 3,11 guru menyampaikan semua pembelajaran
yang akan dicapai pada peremuan tersebut, membimbing siswa secara marata,
sehingga tiap siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi mendapat
bantuan dari guru. Kesempatan yang diberikan guru untuk mempresentasikan
hasil kelompok diberikan secara adil. Kelompok yang belum pernah
mempresentasikan diberi kesempatan untuk mempresentasikan kedepan kelas.
Pada akhir pembelajaran siswa diberi kuis untuk mengetahui apakah siswa sudah
bisa untuk memahami pelajaran yang telah diberikan atau belum. Soal kuis yang
terdiri dari no:1,2,3,4,5. Dari skor pengamatan untuk guru pada pertemuan 2
siklus 2 diperoleh sebesar 3,11. Jadi pembelajaran pada siklus 2 berjalan dengan
7
baik. Skor rata-rata hasil observasi siswa sebesar 3,29 dari skor rata-rata maksimal
4. Sehingga pembelajaran berjalan dengan baik. Kegiatan diskusi kelompok juga
berjalan dengan baik. Hampir seluruh kelompok mampu menyelesaikan masalah
kelompoknya tepat waktu dan benar. Kegiatan presentasinya pun juga berjalan
dengan baik. Sehingga pembelajaran pada siklus 2 berlangsung baik. Hasil belajar
siswa pada siklus 2 diperoleh setelah siswa melakukan evaluasi akhir setelah
siklus 2. Nilai rata-rata hasil evaluasi akhir siklus 2 sebesar 91. Sedangkan
persentasi ketuntasan belajar pada siklus 2 sebesar 100 % naik 30 % dari
persentasi ketuntasan belajar pada siklus 1 sebesar 70 %.
Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus 2 berakhir. Dari hasil tersebut
disimpulkan bahwa guru sudah dapat melaksanakan tahap-tahap pembelajaran
kooperatif dengan baik, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
Maka peneliti tidak perlu melakukan siklus 3 karena semua indikator kinerja
sudah tercapai pada siklus 2. Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus II
berakhir. Dari hasil refleksi yang dilakukan diperoleh simpulan bahwa guru sudah
dapat melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik,
bimbingan terhadap tiap-tiap kelompok juga sudah merata, begitu juga untuk
siswa dalam kerja kelompok sudah kompak atau berjalan dengan baik, karena
sudah terbiasa. Sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Hal ini dapat
dilihat dari hasil nilai rata-rata pada akhir siklus II, sudah memenuhi target
indikator kinerja. Maka peneliti tidak perlu melakukan siklus III.

C . Pembahasan
Pembahasan dalam penelitian tindakan kelas didasarkan atas hasil penelitian dan
catatan penelitian selama melakukan penelitian. Pelaksanaan pembelajaran
kooperatif JIGSAW pada siklus 1 cukup baik, dengan skor sebesar 2,44. Namun
masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki, yaitu bimbingan guru pada siswa,
penyampaian tujuan pembelajaran yang dicapai, dan pengelolaan waktu didalam
kelas. Bimbingan siswa pada siklus 1 kurang merata sehingga terdapat beberapa
kelompok yang tidak dapat menyelesaikan soal dengan tepat waktu. Banyak siswa
yang mengalami kesulitan materi yang disampaikan. Akhirnya terdapat beberapa
anak dalam mengerjakan soal yang mengalami kesalahan. Karena kurangnya
anak-anak dalam mendengarkan dan perhatian pada pelajaran yang diterangkan
kurang serius dan bicara sendiri dengan temannya. Di bawah ini adalah pekerjaan
salah seorang yang salah.
Pekerjaan anak di atas masih salah, kesalahannya adalah dalam penulisan
bilangan pada sumbu koordinat kartesiusnya tidak benar. Hal ini akan
mengakibatkan salah dalam menggambar grafiknya dan menentukan himpunan
penyelesaiannya juga salah. Pengelolaan waktu di dalam kelas juga belum baik.
Pada awal pertemuan siklus 1 guru tidak sempat memberikan kuis sehingga guru
tidak bisa mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan.
Tapi guru memberikan kesempatan untuk mempresentasikan kerja kelompoknya.
Guru juga membimbing dan mengarahkannya. Menurut peneliti pada pertemuan
siklus 1 masih belum baik. Karena siswa belum bisa beradaptasi dengan anggota
kelompoknya dengan pembelajaran kooperatif yang dilakukan. Kegiatan diskusi
kelompok juga belum berjalan dengan baik. Masih banyak yang mengerjakannya
8
secara individu, hanya ada beberapa kelompok saja yang dapat mengarjakan saol
dengan baik dan tepat waktu. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi bimbingan
guru belum merata dan baru pertama kali jadi belum bisa mengatur waktunya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa indikator kinerja 1 dan 2 belum
tercapai disiklus 1, sedangkan indikator 4 dan 5 sudah tercapai. Untuk indikator 3
belum bisa diketahui , diketahui disiklus 2. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif
untuk guru pada siklus 2 sudah baik dengan skor sebesar 3,11 dari skor maksimal
4. Guru sudah mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus 1.
Setelah awal kegiatan guru selalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Bimbingan guru pada siswa sudah merata, setiap siswa yang mengalami
kesulitan belajar dapat dibantu oleh guru. Sebagian besar kelompok mampu untuk
menyelesaikan permasalahan kelompok yang diberikan tepat waktu, hanya
sebagian kecil kelompok yang masih belum mampu menyelesaikan permasalahan
kelompok tepat waktu. Pengelolaan waktu oleh guru sudah baik, kesempatan
presentasi yang diberikan guru sudah cukup baik. Kuis dapat diberikan guru pada
akhir pertemuan sehingga guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam
memahami materi pelajaran pada pertemuan tersebut. Data hasil pengamatan rata-
rata pengamatan pembelajaran kooperatif untuk guru dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

Tabel Kemampuan Guru

3.5
3
2.5
2
Pertemuan 1
1.5
Pertemuan 2
1
0.5
0
Siklus 1 Siklus 2

Menurut peneliti, aktivitas siswa pada siklus 2 sudah baik, dengan skor rata-
rata observasi aktivitas siswa sebesar 3,14 dengan skor rata-rata maksimum 4.
Siswa melakukan kegiatan diskusi kelompok dengan baik. Kemampuan siswa
dalam menyelesaikan tugas kelompok juga meningkat, sebagian besar siswa
mampu untuk bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
Data hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

9
Tabel Pengamatan Aktivitas Siswa
3.5

2.5

2
Pertemuan 1
1.5
Pertemuan 2
1

0.5

0
Siklus 1 Siklus 2

Kesempatan presentasi yang diberikan guru dimanfaatkan dengan baik oleh


siswa, banyak siswa yang antusias maju ke depan mewakili kelompoknya untuk
presentasi. Siswa yang tidak presentasi juga antusias dalam menanggapi hasil
presentasi temannya.

Rata-Rata Kelas
100
80
60
40 Rata-Rata Kelas

20
0
Awal Siklus 1 Siklus 2

Persentase Tuntas
120%
100%
80%
60% Persentase
40% Tuntas
20%
0%
Awal Siklus 1 Siklus 2

10
Menurut peneliti, semua indikator kinerja sudah tercapai pada siklus II.
Materi sistem persamaan linier dua variabel yang diberikan oleh peneliti kepada
siswa sudah cukup baik sehingga guru tinggal melanjutkan kegiatan pembelajaran
pada materi selanjutnya.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan subyek siswa
kelas VIII E SMP N 2 Tanah Grogot, diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Melalui model pembelajaran kooperatif learning tipe Jigsaw (dapat
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII E SMP N 2 Tanah
Grogot pada pokok bahasan Sistim Persamaan Linear Dua Variabel
2. Melalui implementasi model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw
dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa SMP N 2 Tanah Grogot.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta
________. 2002. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan . Jakarta: PT Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar . Bandung: Tarsito
Isdiyanto, Budi.2003. Model Pembelajaran Kooperative (Cooperative Learning) .
Junaedi Dedi, dkk, 1999. Penuntun Belajar Matematika 2 Untuk SLTP. Bandung:
Mizan
Puwodarminto. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung: Balai Pustaka
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning: Theory Research and Practice .
Boston: Allyn and Balon
Sudjana, Nana. 1989. Pengertian Belajar
________. 1990. Penilaian Proses Hasil Belajar Mengajar . Bandung: Remaja
Rosdakarya
Suherman, dkk. 2003. Stategi Pembelajaran Matematika . Bandung: FPMIPA
UPI
Suyitno 2004. Dasar-dasar Proses dan Pembelajaran Matematika. Semarang
________.2007. Model-Model pembelajaran matematika SMP. Yogjakarta:
PPPPTK Matematika

Data Pribadi: Nama : Pawi


NIP : 196905061995011002
Unit Kerja : SMP Negeri 2 Tanah Grogot, Kab Paser
NO HP : 085246769637
Alamat : Jl.DI. Panjaitan Tanah grogot

11
ARTIKEL
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS VIII SMP N 2 TANAH GROGOT SEMESTER
GANJIL PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR
DUA VARIABEL MELALUI PEMBELAJARAN MODEL
COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

DISUSUN OLEH:
PAWI
NIP: 196905061995011002

SMP NEGERI 2 TANAH GROGOT


DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PASER
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2011

12
13