Anda di halaman 1dari 31

Plasmolisis

Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis.

Sel tumbuhan dalam kondisi lingkungan berbeda

Sebelum plasmolisis

Sesudah plasmolisis

Jika sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan
kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan
dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan
terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel
terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran.
Akhirnya cytorrhysis - runtuhnya seluruh dinding sel - dapat terjadi. Tidak ada mekanisme di
dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan, juga mendapatkan air
secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik.
Proses sama pada sel hewan disebut krenasi. Cairan di dalam sel hewan keluar karena
peristiwa difusi.
Plasmolisis hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi
secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau
larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau
sel epidermal bawang yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan
jelas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Plasmolisis

Difusi, Osmosis, Plasmolisis


HASIL PENGAMATAN

Percobaan 1 : Difusi Gas

Tabel Hasil Pengamatan

Gas Perubahan Kertas Lakmus Waktu/menit

HCl - -

Biru
1’31

Biru
2’5
Biru
2’43
Biru
3’25
Biru
4’11
OH
Biru
5’26
Biru
6’32
Biru
7’13
Biru
8’12
Biru
8’22
Percobaan 2 : Difusi Zat Cair

Tabel hasil pengamatan

Zat Cair Waktu/ 4 x 5 menit Jarak

Tinta merah 1 4,5 cm

2 8 cm

3 11 cm

4 12 cm
Tinta Biru 1 5 cm

2 8,5 cm

3 11 cm

4 12 cm

Percobaan 3 : Osmosis dan Turgor (Buah Pepaya)


Data Pengamatan

Cairan perendam Sebelum percobaan Setelah percobaan

Panjang : 5,7 cm Panjang : 5,8 cm

Air ledeng
Lebar : 1 cm Lebar : 1 cm

Tebal : 1,5 mm Tebal : 2 mm


Panjang : 5,7 cm Panjang : 5,5 cm

Larutan garam 20%


Lebar : 1 cm Lebar : 1 cm

Tebal : 2 mm Tebal : 1,5 mm

Pertanyaan

1. faktor–faktor yang mempengaruhi terjadinya osmosis pada sel hidup

 ukuran zat terlarut : semakin banyak zat terlarut maka peristiwa terjadinya osmosis
akan semakin cepat. Karena zat terlarut memiliki tekanan osmotik yang berfungsi untuk
memecah zat pelarut bergerak melalui membrane semipermeable.
 Tebal membrane : semakin tebal suatu membrane akan memperhambat terjadinya
osmosis. Karena dapat menyebabkan semakin sulitnya zat terlarut menembus membrane
tersebut.
 Luas permukaan
 Jarak zat pelarut dan zat terlarut
 Suhu

1. Apakah ada perubahan antara yang direndam dengan air ledeng dengan air garam 20% ?

Ya, papaya yang direndam air ledeng mengalami pembesaran dari ukuran semula. Hal ini
dikarenakan vakuola yang terdapat di dalam papaya menyerap air yang ada di sekitarnya.
Dan terjadilah proses turgor. Sedangkan, papaya yang direndam dengan air garam mengalami
penyusutan karena vakuola di dalam papaya mengeluarkan air dari dalam vakuola. Dan
terjadilah proses plasmolisis.

1. Perbedaan antara proses difusi dengan osmosis

Pada dasarnya, osmosis termasuk peristiwa difusi. Difusi adalah perpindahan zat, dengan atau
tanpa melewati membrane, dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang
konsentrasinya rendah. Pada osmosis, yang bergerak melalui membrane semipermeable
adalah larutan hipotonis ( konsentrasi air tinggi, konsentrasi zat terlarut rendah ) ke hipertonis
( konsentrasi air rendah, konsentrasi zat terlarut tinggi )
Percobaan 4 : Plasmolisis (Epidermis daun Rhoeo discolor)

Gambar Hasil Pengamatan

1. c

PEMBAHASAN

Percobaan 1

Penggunaan kertas indicator lakmus pada percobaan ini adalah untuk menguji sifat asam atau
basa gas HCl dan OH. Ternyata dalam wajtu 9 menit seluruh kertas lakmus merah berjumlah
10 kertas berubah warna menjadi biru, hal tersebut membuktikan bahwa gas yang terdapat di
dalam tabung bersifat basa. Namun dalam percobaan ini, selain menggunakan OH sebagai
zat yang bersifat basa, kami juga menggunakan zat HCl yang bersifat asam. Tapi mengapa
tidak ada perubahan kertas lakmus biru menjadi merah sebagai tanda bahwa zat HCl bersifat
asam?

(Syamsuri, Istamar.2007.Biologi untuk SMA Kelas XI.Jakarta: Erlangga)

Hal tersebut dikarenakan pada percobaan ini, kami meletakkan kertas lakmus di dalam
tabung, kemudian dimasukkan zat HCl dan OH secara bersamaan. Setelah itu tabung ditutup
dengan sumbat, sehingga gas HCl dan OH tidak dapat menguap keluar. Di dalam tabung
tersebut kedua zat kimia tersebut bereaksi dan menghasilkan persamaan reaksi :

HCl + OH → Cl + H2O

Pada gas OH dan HCl juga memiliki massa relative yang berbeda. Yaitu OH sebasar 35 dan
HCl sebesar 39,45. massa relative gas ternyata berpengaruh terhadap kecepatan difusi karena
dari massa relative suatu zat dapat menunjukkan molaritas zat tersebut. Molaritas dapat kita
cari dengan pembagian antara massa zat yang digunakan dengan massa relative zat tersebut,
atau dapat dikatakan bahwa besarnya molaritas berbanding terbalik dengan besar massa
relative zat. Apabila massa relative suatu zat lebih besar maka molaritas zat tersebut menjadi
lebih kecil dan semakin kecil molaritas mengartikan bahwa zat tersebut memiliki kelarutan
yang kecil pula terhadap air, apabila zat tersebut sedikit larut dalam air atau udara
menyebabkan semakin sedikit difusi terjadi dan begitu pula sebaliknya. Pada percobaan kali
ini, Mr dari HCl lebih besar dibandingkan dengan Mr OH sehingga molaritas HCl lebih kecil
dibandingkan dengan molaritas OH, oleh sebab itu pada percobaan kali ini gas OH lebih
mendominasi dalam merubah warna lakmus, karena OH memiliki laju difusi yang lebih
besar daripada HCl.

Massa relative (Mr) juga menunjukkan bsarnya ukuran dari zat tersebut, semakin besar Mr
maka semakin besar pula ukuran molekul zat tersebut. Besar molekul merupakan salah satu
factor yang mempengaruhi laju difusi (lihat pada pembahasan percobaan 2) dimana semakin
besar ukuran molekul maka laju difusi semakin lambat, hal ini yang menyebabkan pula OH
lebih mendominasi dalam percobaan tersebut karena OH mempunyai Mr yang lebih kecil,
yang artinya OH memiliki ukuran molekul lebih kecil dibandingkan HCl sehingga lebih
mudah dan cepat untuk berdifusi dengan udara dalam tabung.

Percobaan 2

Difusi adalah gerakan pasif molekul dalam larutan yang berkonsentrasi tinggi ke yang
berkonsentrasi lebih rendah (Rifai, Mien. A. 2002. Kamus Biologi. Jakarta : Balai Pustaka).
Molekul memiliki energi kinetik intrinsik yang disebut gerak termal (kalor). Suatu akibat
gerak termal ialah difusi, kecenderungan molekul setiap zat untuk menyebar ke seluruh
ruangan yang ada (Campbell, et.al : 2002 ( hal 147)). Dalam ketiadaan gaya-gaya lain, suatu
substansi akan berdifusi dari tempat yang konsentrasi tinggi ke tempat yang konsentrasinya
lebih rendah. Dengan kata lain, setiap substansi berdifusi menuruni gradient konsentrasinya,
difusi merupakan proses spontan karena difusi itu menurunkan energi bebas. Dalam setiap
system terdapat suatu kecenderungan untuk meningkatkan entropi, atau ketidakteraturan.
Difusi zat terlarut dalam air meningkatkan entropi dengan menghasilkan campuran yang
lebih acak daripada ketika terdapat konsentrasi zat terlarut yang terlokalisir (Campbell, et.al :
2002 ( hal 147)). Difusi suatu substansi melintasi membrane biologis disebut transport pasif,
karena sel tidak harus mengeluarkan energi untuk membuat difusi terjadi. Difusi zat cair
dapat ditunjukkan dengan percobaan 2, dari percobaan tersebut diperoleh bahwa apabila kita
meneteskan tinta ke dalam tabung yang berisi air tersebut, maka warna tinta tersebut akan
menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam tabung
(konsentrasi rendah) sampai terjadi keseimbangan. Keseimbangan ini disebut dengan
keseimbangan dinamik, yaitu molekul pewarna yang melintasi membrane dalam satu arah
jumlahnya sebanyak molekul pewarna yang melintasi membrane dalam arah yang
berlawanan setiap detik (Campbell, et.al : 2002 ( hal 147)) atau dalam percobaan dapat
dikatakan bahwa pergerakan tinta menyebar ke seluruh bagian air sama besarnya dengan
pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta. Pada percobaan yang telah dilakukan dengan
menggunakan tabung difusi zat cair didapat bahwa tinta-tinta tersebut setelah diteteskan ke
dalam tabung yang berisi air langsung menyebar secara perlahan menempuh jarak tertentu
dalam selang waktu 4 x 5 menit yang telah dicatat dalah hasil pengamatan, pada awalnya
tinta biru menempuh jarak yang lebih panjang setengah sentimeter dibandingkan dengan
jarak yang ditempuh oleh tinta merah dalam waktu yang sama, padahal jenis tinta yang
digunakan sama otomatis konsentrasi dan besar molekul dapat dibilang sama antara tinta
merah dengan tinta biru. Namun mengapa hal ini terjadi ?. itulah gunanya ketelitian dalam
percobaan, hal tersebut dapat terjadi karena kesalahan dalam percobaan seperti
ketidaksamaan dalam meneteskan jumlah tinta karena ada yang tumpah, walaupun yang
tumpah hanya sedikit tapi hal tersebut dapat mempengaruhi laju dari difusi. Hal-hal yang
mempengaruhi difusi antara lain :

1. Suhu, saat duhu makin tinggi maka difusi akan semakin cepat terjadi.
2. Berat molekul semakin besar maka difusi semakin lambat
3. Kelarutan dalam medium, semakin besar kelarutan difusi semakin cepat
4. Beda potensial kimia, makin besar bedanya semakin cepat difusi terjadi.
5. Perbedaan Konsentrasi, makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin besar
proses difusi terjadi.
6. Jarak tempat berlangsungnya difusi, makin dekat jarak tempat terjadinya difusi, makin cepat
proses difusi berlangsung.
7. Area tempat berlangsungnya difusi, makin luas area difusi makin cepat proses difusi
8. Struktur tempat berlangsungnya difusi, adanya pori-pori pada membrane maningkatkan
proses difusi. Makin banyak jumlah pori makin meningkatkan proses difusi.
9. Ukuran dan tipe molekul yang berdifusi, molekul yang lebih kecil berdifusi lebih cepat.

(Didik, indradewa, dkk. 2008. diunduh dari


http://faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/pertemuan%201%20(pendahuluan).ppt#282,30,Laju
gerakan partikel. Rabu, 22 oktober.8:48)

Pada point ke-3 dikatakan semakin besar kelarutan maka difusi semakin cepat, hal inilah
yang menyebabkan mengapa walaupun hanya tumpah sedikit terjadi perbedaan dalam laju
difusi. Larutan yang tumpah secara otomatis akan berkurang jumlah volumenya,
berkurangnya volume menyebabkan suatu larutan memiliki konsentrasi yang lebih kecil dan
konsentrasi mempengaruhi kelarutan dari suatu larutan, semakin besar konsentrasi maka
kelarutannya pun semakin besar sehingga dapat lebih larut dalam air atau lebih cepat
berdifusi dan begitu pula sebaliknya.

Difusi gas lebih cepat dibandingkan dengan difusi zat cair, hal ini disebabkan berat molekul
gas lebih ringan dibandingkan dengan berat molekul zat cair. Gas dikatakan memiliki berat
yang lebih ringan karena molekul-molekul gas dapat melayang di udara dan menyatu dengan
udara lain di atmosfer sedangkan molekul zat cair tidak dapat melayang atau naik ke atas
kecuali telah terjadi penguapan. Oleh karena berat molekul merupakan salah satu factor yang
mempengaruhi laju difusi, maka gas yang memiliki berat molekul ringan lebih cepat
mengalami difusi dibandingkan dengan zat cair.

Dalam difusi sebenarnya dapat dilalui oleh molekul besar ataupun kecil, ukuran molekul
hanya mempengaruhi laju dari difusi tersebut, semakin kecil ukuran molekul (oksigen) maka
semakin cepat laju difusi sedangkan semakin besar ukuran molekul (karbondioksida) semakin
lambat laju difusi, akan tetapi besarnya molekul yang dapat berdifusi juga punya batasan
tertentu.

Ada beberapa syarat suatu partikel atau molekul yang dapat melewati membrane dengan cara
difusi :

1. Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel sederhana


2. berukuran kecil
3. Dapat larut dalam air ataupun lemak
(Hian. 2009. diunduh dari http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/proses-difusi.html. Rabu, 22
oktober. 20:50)

Macam-macam membrane permeabilitas :

1. Impermeable (tidak permeable), dimana air maupun zat terlarut didalamnya tidak dapat
melaluinya.
2. Permeable, yaitu membrane yang dapat dilalui oleh air maupun zat tertentu yang terlarut
didalamnya.
3. Semi permeable, yaitu membrane yang hanya dapat dilalui oleh air tetapi tidak dapat dilalui
oleh zat terlarut, misalnya membaran sitoplasma.

Percobaan 3

Pada papaya yang direndam dengan air ledeng , ukurannya akan menjadi lebih besar dari
ukurannya yang semula. Hal ini dikarenakan air akan berosmosis kedalam vakuola melalui
sitoplasma yang bersifat semipermeable. Karena adanya air yang masuk ke dalam vakuola (
yang berisi cairan zat-zat terlarut ), vakuola akan menekan membrane plasma dan dinding sel.
Peristiwa ini disebut dengan turgor.

Sedangkan pada papaya yang direndam dengan larutan garam 20%, ukurannya akan menjadi
lebih kecil dari ukurannya yang semula. Hal ini dikarenakan air yang ada di dalan vakuola
akan keluar sehingga membrane sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari dinding sel.

Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di


dalam sel dengan konsentrasi larutan di sekeliling sel atau di lingkungan sekitar sel. Jika sel
tumbuhan yang pada percobaan kali ini diwakili oleh buah papaya diletakkan di larutan
garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan tersebut akan kehilangan air karena pada
kondisi ini sel tumbuhan bersifat hipotonik terhadap larutan yang menyebabkan air dalam sel
tumbuhan tertarik ke lingkungan sekitar yang konsentrasinya lebih tinggi dengan adanya hal
ini menyebabkan sel tersebut kehilangan tekanan turgor, yaitu tekanan dari vakuola yang
menekan membrane sel, dengan kehilangan tekanan turgor tersebut menyebabkan sel menjadi
lemah atau lembek, dalam percobaan ditandai dengan berkurangnya ukuran dari buah papaya
tersebut.

Sedangkan pada saat sel tumbuhan yang diwakili oleh buah papaya diletakkan di air ledeng
yang sifatnya lebih hipotonik terhadap cairan dalam sel dan cairan dalam sel bersifat lebih
hipertonik dibandingkan dengan air ledeng yang berada di sekitar sel tersebut, menyebabkan
cairan sel menarik air ledeng yang lebih hipotonis. Hal ini membuat sel tumbuhan tersebut
menjadi lebih besar keadaannya, pada saat yang bersamaan pula vakuola melakukan tekanan
terhadap membrane sel untuk menjaga kondisi dari sel tersebut agar tetap menjadi kaku dan
tidak lisis, peristiwa ini yang disebut dengan turgor yang memiliki besar tekanan yang disebut
dengan tekanan turgor.

Jadi, pada percobaan kali ini, terjadi dua peristiwa yaitu osmosis, difusi pelarut dari
konsentrasi tinggi ke rendah, ditandai dengan terjadinya perubahan kondisi dari buah papaya
menjadi lebih besar dan kecil. Kemudian peristiwa turgor yang merupakan dampak dari
peristiwa osmosis, karena dengan adanya perpindahan pelarut ke dalam sel tersebut yang
menyebabkan vakuola melakukan tekanan turgor terhadap membrane sel untuk
mempertahankan kondisi sel agar tidak terjadi lisis (pecah)

Percobaan 4

Pergerakkan molekul air melalui membran semi permeable selalu dari larutan hipotonis
menuju larutan hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua zat seimbang
(isotonic). Pada saat sel diletakkan dalam air suling , konsentrasi zat terlarut dalam sel
hipertonik karena adanya garam mineral, asam organic dan berbagai zat lain yang di kandung
sel. Dengan demikian air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi larutan di
dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membrane sel mempunyai kemampuan yang terbatas
untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah. Pada sel tumbuhan hal ini dapat
teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menahan sel mengembang lebih
lanjut. (Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo.2007.Praktis Belajar
Biologi.Jakarta:Visindo Media Persada)

Pada saat air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan mineral garam
dan zat-zat yang terdapat dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi dalam zat terlarut
diluar sel sama besar dibandingkan konsentrasi air di dalam sel. Pada sel rhoeo discolor yang
di tetesi air suling sel menjadi membengkak karena air masuk melalui osmosis. Akan tetapi,
dindingnya yang lentur akan mengembang hanya sampai pada ukuran tertentu sebelum
dinding ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan penyerapan air lebih lanjut.
hal ini di sebabkan sel berada pada kondisi paling sehat dalam lingkungan hipotonik dimana
kecenderungan untuk menyerap air secara terus-menerus akan diimbangi oleh dinding lentur
yang mendorong sel. (Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga)

Jika sel dimasukkan ke dalam larutan hipertonik, air akan terus-menerus keluar dari sel . sel
akan mengerut mengalami dehidrasi dan bahkan dapat mati. Pada sel tumbuhan hal ini
menyebabkan sitoplasma mengerut dan terlepas dari dinding sel. Peristiwa ini di sebut
plasmolisis. (Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga. )Pada sel rhoeo
discolor yang di beri larutan gula 10% peristiwa ini Nampak jelas terlihat. Sel- sel pada rhoeo
discolor menjadi menkerut dan terlihat bertumpuk. Hal ini di sebabkan potensial air di luar
sel rhoeo discolor lebih rendah daripada potensial air di dalam sel. Jika sel kehilangan air
cukup besar, maka ada kemungkinan volume isi sel akan menurun besar sehingga tidak dapat
mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Sel yang sudah terplasmolisis dapat
disehatkan kembali dengan memasukkannya ke dalam air murni (Tjotrosomo, 1983: 11).
Setelah 10 menit sel yang ditambahkan larutan gula 10 % kembali kekeadaan semula hal
ini Dengan demikian pada saat tertentu sel perlu meningkatkan kembali kandungan zat-zat
dalam sitoplasma untuk menaikkan tekanan osmotic dalam sel. Cara sel mempertahankan
tekanan osmotiknya di sebut osmoregulasi.

Demikian seterusnya sel selalu aktif dan hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan
kondisi seimbang antara sel dan lingkungannya.

Sel yang telah mengalami plasmolisis dapat kembali ke keadaan semula. Proses
pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah
deplasmolisis (Elsa, 2009). Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hamper sama dengan
plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi
adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar,
sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran
sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya
molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan
sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor
akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke
keadaan semula.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indicator dari ada atau
tidaknya osmosis yang terjadi

KESIMPULAN

1. Difusi adalah gerakan pasif molekul dalam larutan yang berkonsentrasi tinggi ke yang
berkonsentrasi lebih rendah
2. Difusi tidak memerlukan energi dalam melakukan kerjanya, sehingga termasuk transpor
pasif.
3. hal-hal yang mempengaruhi difusi antara lain :

a) Suhu,

b) Berat molekul

c) Kelarutan dalam medium

d) Beda potensial kimia

e) Perbedaan Konsentrasi

f) Jarak tempat berlangsungnya difusi

g) Area tempat berlangsungnya difusi

h) Struktur tempat berlangsungnya difusi

i) Ukuran dan tipe molekul yang berdifusi

1. Difusi gas lebih cepat dibandingkan dengan difusi zat cair


2. Ada beberapa syarat molekul yang dapat melewati membrane dengan cara difusi :

a) Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel sederhana

b) berukuran kecil

c) Dapat larut dalam air ataupun lemak


1. Difusi akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan, dimana laju pergerakan molekul antar
substrat dalam arah yang berlawanan adalah sama.
2. Dalam difusi gas dapat memungkinkan kedua zat yang ditaruh di ruang tertutup bereaksi
satu sama lain dan menghasilkan zat baru sesuai dengan persamaan reaksi yang telah
didapat.
3. Perubahan kertas lakmus merah menjadi biru membuktikan zat tersebut bersifat basa.
4. Perubahan kertas lakmus biru menjadi merah membuktikan zat tersebut bersifat asam
5. Besar Mr mempengaruhi besar molaritas suatu zat yang pada akhirnya mempengaruhi laju
difusi suatu zat.
6. Ukuran molekul dapat dilihat dari besarnya Mr yang merupakan factor yang mempengaruhi
laju difusi suatu zat.
7. Pada percobaan 3 bahan yang digunakan adalah buah papaya. Karena buah papaya memiliki
vakuola yang besar. Sehingga memudahkan kita dalam mengamati perubahan kondisi fari
sample tersebut.
8. Osmosis adalah peristiwa berpindahnya zat pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi
yang lebih rendah.
9. Turgor merupakan salah satu peristiwa yang muncul dengan adanya peristiwa osmosis,
turgor adalah keadaan dimana sel melakukan tekanan keluar yang dilakukan oleh vakuola
untuk mempertahankan kondisinya agar tidak pecah (lisis) yang terjadi setelah osmosis
mencapai titik kesetimbangan.

15. Plasmolisis terjadi karena sel dimasukkan ke dalam larutan hipertonik sehingga air akan
terus-menerus keluar dari sel dan menyebabkan sel mengerut, begitu sel ini mengerut
membrane plasmanya tertarik menjauhi dindingnya.

16.

Sel +larutan gula 10% Sel +larutan gula 10%


Sel + air suling
Sebelum 10 menit Sesudah 10 menit
Sel rhoeo discolor menjadi Sel rhoeo discolor menjadi Sel rhoeo discolor menjadi
bengkak(keadaan normal) dan mengerut, sel-nya mengalami bengkak kembali, sel tidak
kaku penumpukan, dan ukuran sel mengalami penumpukan dan
menjadi lebih kecil tidak mengerut ( kembali
kekeadaan semula sepertu pada
saat sel di tambahkan air suling)

17. Semakin tinggi konsentrasi perendam semakin banyak sel yang terplasmolisis karena

18. Sel yang telah mengalami plasmolisis akan dapat kembali kekeadaan semula. Proses
pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah
deplasmolisis. Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi,
konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang
memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang
berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran
sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air
tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel
kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan
adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indicator dari ada atau
tidaknya osmosis yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang.2006.Biologi.Jakarta:Erlangga

Campbell, Neil A, Reece, Jane B, G. Mitchell, Lawrence, Alih bahasa, Rahayu Lestari…[et
al.].1999. BIOLOGI. Jilid 3. Jakarta: Erlangga

Chang, Raymond.2005.Kimia Dasar “Konsep-Konsep Inti”.Edisi kelima. Jilid 1.Jakarta :


Erlangga

Didik, indradewa, dkk. 2008. diunduh dari


http://faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/pertemuan%201%20(pendahuluan).ppt#282,30,Laju
gerakan partikel. Rabu, 22 oktober.8:48)

Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo.2007.Praktis Belajar Biologi.Jakarta:Visindo


Media Persada

Hian. 2009. diunduh dari http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/proses-difusi.html. Rabu, 22


oktober. 20:50

Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga

Kaseng, Ernawati dkk. 2006.BIOLOGI. Jakarta :Widya Utama

Rifai, Mien. A. 2002. Kamus Biologi. Jakarta : Balai Pustaka

Sihombing, Betsy.et. al.,2000.Panduan Praktikum Biologi Umum. Jurusan Biologi FMIPA


Universitas Negeri Jakarta. Jakarta

Syamsuri, Istamar.2007.Biologi untuk SMA Kelas XI.Jakarta: Erlangga

http://sketsaistjourney.wordpress.com/2011/04/03/difusi-osmosis-plasmolisis/

Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada
pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel
tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan
molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana
adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain
adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang paling sering terjadi adalah
difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer)
molekul yang diam dari solid atau fluida.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu:[1]

 Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak,
sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
 Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
 Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
 Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
 Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat.
Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.[2]

Difusi dan biologi

Dalam mengambil zat-zat nutrisi yang penting dan mengeluarkan zat-zat yang tidak
diperlukan, sel melakukan berbagai jenis aktivitas, dan salah satunya adalah difusi. Ada dua
jenis difusi yang dilakukan, yaitu difusi biasa dan difusi khusus.

Difusi biasa terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophobic atau
tidak berpolar / berkutub. Molekul dapat langsung berdifusi ke dalam membran plasma yang
terbuat dari phospholipids. Difusi seperti ini tidak memerlukan energi atau ATP [Adenosine
Tri-Phosphate].

Difusi khusus terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophilic atau
berpolar dan ion. Difusi seperti ini memerlukan protein khusus yang memberikan jalur
kepada partikel-partikel tersebut ataupun membantu dalam perpindahan partikel. Hal ini
dilakukan karena partikel-partikel tersebut tidak dapat melewati membran plasma dengan
mudah. Protein-protein yang turut campur dalam difusi khusus ini biasanya berfungsi untuk
spesifik partikel.

http://id.wikipedia.org/wiki/Difusi

Osmosis
Diagram yang menggambarkan peristiwa osmosis

Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih
encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh
pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran.
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan
meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian
dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah
mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan
konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan
sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan
bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.

Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat
menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar sel.

Album
 Osmosis

Shot of a computer simulation of the process of osmosis

Effect of different solutions on blood cells

Plant cell under different environments


http://id.wikipedia.org/wiki/Osmosis

Osmosis
Osmosis adalah pergerakan air molekul melalui selektif permeabel membran ke sebuah
daerah yang lebih tinggi terlarut konsentrasi, bertujuan untuk menyamakan konsentrasi zat
terlarut pada kedua belah pihak. [1] [2] [3] Hal ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan
proses fisik di mana setiap pelarut bergerak, tanpa masukan energi, [4] melintasi membran
semipermeabel (permeabel untuk pelarut , tetapi bukan zat terlarut) yang memisahkan dua
solusi dari konsentrasi yang berbeda. [5] Meskipun osmosis tidak memerlukan masukan
energi, itu tidak menggunakan energi kinetik [6] dan dapat dibuat untuk melakukan pekerjaan,
[7]
.

Satu frame dari sebuah simulasi komputer osmosis

Gerakan Bersih pelarut adalah dari yang kurang terkonsentrasi ( hipotonik ) ke lebih-
terkonsentrasi ( hipertonik solusi), yang cenderung mengurangi perbedaan dalam konsentrasi.
Efek ini dapat diatasi dengan meningkatkan tekanan dari larutan hipertonik, sehubungan
dengan hipotonik tersebut. Para tekanan osmotik yang didefinisikan sebagai tekanan yang
dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan, dengan tidak ada gerakan bersih pelarut. Tekanan
osmotik adalah properti koligatif , yang berarti bahwa tekanan osmotik bergantung pada
konsentrasi molar zat terlarut tapi tidak pada identitasnya.

Osmosis adalah penting dalam sistem biologi , seperti membran biologis yang
semipermeabel. Secara umum, membran kedap besar dan kutub molekul, seperti ion , protein
, dan polisakarida , sementara non-permeabel kutub dan / atau hidrofobik seperti molekul
lipid serta molekul kecil seperti oksigen, karbon dioksida, nitrogen, oksida nitrat, dll
Permeabilitas tergantung pada kelarutan, muatan, atau kimia, serta ukuran zat terlarut.
Molekul air perjalanan melalui membran plasma, membran tonoplast (vakuola) atau
protoplas dengan menyebarkan seluruh phospholipid bilayer melalui aquaporins (protein
transmembran kecil mirip dengan yang di difusi difasilitasi dan dalam menciptakan saluran
ion). Osmosis menyediakan sarana utama yang air diangkut ke dalam dan keluar dari sel .
Para turgor Tekanan sel sebagian besar dipelihara oleh osmosis, melintasi membran sel,
antara interior sel dan lingkungannya relatif hipotonik. [8]

Pengamatan tercatat pertama osmosis di 1748 oleh Jean-Antoine Nollet . [9] Kata "osmosis"
turun dari kata "endosmose" dan "exosmose", yang diciptakan oleh dokter Prancis Henri
René Joachim Dutrochet (1776-1847) dari kata Yunani ένδον (endon: dalam), έξο (exo: luar),
dan ωσμος (osmos: mendorong, impulsion). [10] [11] [12] [13] [14]

Isi
[hide]

 1 Dasar penjelasan
 2 Contoh osmosis
 3 Faktor
o 3.1 Tekanan Osmotik
o 3,2 gradien osmotik
 4 Variasi
o 4.1 Reverse osmosis
o 4.2 osmosis Forward
 5 Lihat juga
 6 Referensi
 7 Pranala luar

penjelasan Dasar
Osmosis dapat terjadi ketika ada suatu membran permeabel sebagian, seperti membran sel .
Ketika sebuah sel terendam dalam air , molekul-molekul air melewati membran sel dari area
dengan konsentrasi zat terlarut rendah (di luar sel) ke salah satu konsentrasi zat terlarut tinggi
(dalam sel), ini disebut osmosis. Membran sel permeabel selektif, sehingga hanya bahan-
bahan yang diperlukan membiarkan ke sel dan limbah yang ditinggalkan. [8]

Ketika membran memiliki volume air murni di kedua sisi, molekul air lulus dalam dan keluar
di setiap arah pada tingkat yang sama persis, tidak ada aliran bersih air melalui membran.

Osmosis dapat dijelaskan oleh fakta bahwa solusi yang lebih terkonsentrasi mengandung
energi lebih bebas, molekul-molekul sehingga pelarut cenderung menyebar ke tempat yang
lebih rendah energi bebas dalam rangka untuk menyamakan energi bebas (dan membran
semipermeabel memungkinkan untuk lulus hanya molekul pelarut). Hal ini akan
mengakibatkan aliran bersih air ke samping dengan solusi. Dengan asumsi membran tidak
putus, aliran bersih akan lambat dan akhirnya berhenti sebagai tekanan pada sisi solusi
menjadi sedemikian rupa sehingga gerakan di setiap arah adalah sama: kesetimbangan
dinamis. Ini bisa terjadi karena potensi air di kedua sisi membran yang sama, atau karena
osmosis yang dihambat oleh faktor-faktor seperti potensi tekanan atau tekanan osmotik.

Osmosis juga dapat dijelaskan dengan menggunakan gagasan entropi , dari mekanika statistik
. Sistem mengandung kurang entropi jika ada dua solusi dari konsentrasi yang berbeda
dipisahkan oleh membran semipermeabel, daripada sistem yang memiliki konsentrasi yang
sama pada kedua sisi membran yang memiliki entropi yang lebih tinggi. Sistem memiliki dua
konsentrasi yang berbeda pada sisi yang berbeda dari membran entah bagaimana lebih teratur
dan dengan demikian memiliki kurang entropi (ada lebih tertib dalam sistem memiliki
konsentrasi yang berbeda pada sisi yang berbeda dari membran, dan gangguan lebih jika
konsentrasi yang sama dari kedua sisi dari membran). Yang Hukum kedua termodinamika
menyatakan bahwa proses-proses spontan adalah orang-orang terkemuka dari entropi kurang
untuk entropi yang lebih tinggi. Osmosis berkembang secara spontan karena dapat
menyebabkan peningkatan gangguan, atau entropi yang lebih tinggi. Equilibrium , maka
entropi maksimum, dicapai bila gradien entropi menjadi nol.

Selain itu, ukuran partikel tidak memiliki bantalan pada tekanan osmotik, karena ini adalah
dasar postulat sifat koligatif. [15]

Contoh osmosis

Pengaruh solusi yang berbeda pada sel darah

Sel tanaman di bawah lingkungan yang berbeda

Tekanan osmotik adalah penyebab utama dukungan dalam banyak tanaman. Masuknya
osmotik air menimbulkan tekanan turgor yang diberikan terhadap dinding sel , sampai sama
dengan tekanan osmotik, menciptakan steady state .

Ketika sel tanaman ditempatkan dalam larutan hipertonik, air di dalam sel-sel bergerak ke
daerah yang lebih tinggi konsentrasi zat terlarut dan menyusut sel, dan dengan berbuat
demikian, menjadi lembek. Ini berarti sel telah menjadi plasmolysed - yang membran sel
telah sepenuhnya meninggalkan dinding sel karena kurangnya tekanan air di atasnya;
kebalikan dari bombastis.

Juga, osmosis bertanggung jawab atas kemampuan akar tanaman untuk menarik air dari
tanah. Karena ada banyak akar bagus, mereka memiliki area permukaan besar, dan air
memasuki akar secara osmosis.
Osmosis juga dapat dilihat ketika irisan kentang ditambahkan dengan konsentrasi larutan
garam yang tinggi. Air dari dalam kentang bergerak ke larutan garam, menyebabkan kentang
menyusut dan kehilangan nya 'tekanan turgor'. Lebih terkonsentrasi larutan garam, semakin
besar perbedaan dalam ukuran dan berat dari irisan kentang.

Dalam lingkungan yang tidak biasa, osmosis bisa sangat berbahaya bagi organisme. Sebagai
contoh, air tawar dan air asin ikan akuarium ditempatkan di air salinitas yang berbeda dari itu
yang mereka disesuaikan dengan akan mati cepat, dan dalam kasus ikan laut, secara dramatis.
Contoh lain dari efek osmotik yang berbahaya adalah penggunaan garam meja untuk
membunuh lintah dan siput .

Misalkan seekor hewan atau sel tanaman ditempatkan dalam larutan gula atau garam dalam
air.

1. Jika medium adalah hipotonik - larutan encer, dengan konsentrasi air lebih tinggi daripada
sel - sel akan mendapatkan air melalui osmosis.
2. Jika medium isotonik - solusi dengan konsentrasi air persis sama dengan sel - tidak akan ada
gerakan bersih air melintasi membran sel.
3. Jika medium hipertonik - larutan pekat, dengan konsentrasi air lebih rendah dari sel - sel
akan kehilangan air melalui osmosis.

Pada dasarnya, ini berarti bahwa jika sel diletakkan dalam larutan yang memiliki konsentrasi
zat terlarut lebih tinggi daripada sendiri, maka akan mengerut, dan jika dimasukkan ke dalam
larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih rendah daripada sendiri, sel akan memperluas
dan meledak. Electronucleal tukar adalah pasif difusi dari kation dan anion melintasi
membran semi-permeabel sesuai dengan muatan listrik.

Kimia kebun menunjukkan efek osmosis dalam kimia anorganik.

Faktor
Tekanan osmotik

Seperti disebutkan sebelumnya, osmosis mungkin menentang dengan meningkatkan tekanan


di daerah konsentrasi zat terlarut yang tinggi sehubungan dengan yang di daerah konsentrasi
rendah zat terlarut. Para gaya per satuan luas, atau tekanan, diperlukan untuk mencegah
lewatnya air melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan konsentrasi yang
lebih besar setara dengan tekanan osmotik dari solusi , atau turgor . Tekanan osmotik adalah
properti koligatif , yang berarti bahwa properti tergantung pada konsentrasi zat terlarut, tetapi
tidak pada identitasnya.

gradien osmotik

Gradien osmotik adalah perbedaan konsentrasi antara dua solusi di kedua sisi membran
semipermeabel , dan digunakan untuk membedakan dalam persentase konsentrasi partikel
terlarut tertentu dalam suatu larutan.

Biasanya gradien osmotik digunakan saat membandingkan solusi yang memiliki membran
semipermeabel antara mereka memungkinkan air untuk meredakan antara dua solusi, menuju
larutan hipertonik (larutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi). Akhirnya, kekuatan kolom
air pada sisi hipertonik dari membran semipermeabel akan sama dengan kekuatan difusi pada
sisi (sisi dengan konsentrasi yang lebih rendah) hipotonik, menciptakan keseimbangan. Saat
kesetimbangan tercapai, air terus mengalir, tetapi arus kedua cara dalam jumlah yang sama
serta kekuatan, sehingga menstabilkan solusi.

Variasi
Reverse osmosis

Reverse osmosis adalah proses pemisahan yang menggunakan tekanan untuk memaksa
pelarut melalui membran semi-permeabel yang mempertahankan zat terlarut di satu sisi dan
memungkinkan pelarut murni untuk lulus ke sisi lain. Lebih formal, itu adalah proses
memaksa pelarut dari daerah konsentrasi zat terlarut tinggi melalui membran ke sebuah
daerah konsentrasi zat terlarut rendah dengan menerapkan tekanan yang melebihi tekanan
osmotik .

osmosis Forward

Osmosis dapat digunakan secara langsung untuk mencapai pemisahan air dari solusi "umpan"
yang mengandung zat terlarut yang tidak diinginkan. Sebuah "menarik" solusi dari tekanan
osmotik lebih tinggi dari larutan umpan digunakan untuk menginduksi aliran bersih air
melalui membran semi-permeabel, seperti bahwa larutan umpan menjadi terkonsentrasi
sebagai solusi menarik menjadi encer. Solusi menarik diencerkan kemudian dapat digunakan
secara langsung (seperti dengan ingestible terlarut seperti glukosa), atau dikirim ke proses
pemisahan sekunder untuk penghapusan zat terlarut menarik. Pemisahan sekunder dapat lebih
efisien daripada proses reverse osmosis akan sendirian, tergantung pada zat terlarut menarik
digunakan dan umpan diobati. osmosis Forward adalah suatu area dari penelitian yang sedang
berlangsung, dengan fokus pada aplikasi dalam desalinasi , pemurnian air , pengolahan air ,
pengolahan makanan , dll

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Osmosis
&ei=64meTvnsCMarrAestoGACg&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=2&ved=0CDUQ
7gEwAQ&prev=/search%3Fq%3Dosmosis%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-
a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26prmd%3Dimvnsb

PENDAHULUAN
Difusi adalah suatu proses berpindahnya suatu zat dari tempat dengan konsentrasi yang
lebih tinggi ketempat dengan kosentrasi yang lebih rendah. Difusi zat terlarut dari
suatu larutan ke dalam larutan lainnya dapat berlangsung melalui suatu membran tertentu
yang permeable untuk zat tersebut. Permeable dari membran ada tiga jenis, yaitu:
1. Impermeable ( tidak permeable), dimana air maupun zat terlarut didalamnya tidak dapat
melaluinya.
2. Permeable, yaitu membran yang dapat dilalui oleh air maupun zat tertentu yang terlarut
didalamnya.
3. Semi permeable, yaitu membran yang hanya dapat dilalui oleh air tetapi tidak dapat dilalui
oleh zat terlarut, misalnya membran sitoplasma.
Difusi dari pelarut misalnya air melalui membran yang semi permeable dari tempat
dengan konsentrasi pelarut lebih tinggi ketempat dengan konsentrasi pelarut lebih rendah
disebut osmosis.
Pada sel tumbuhan, dinding sel yang terdiri dari selulosa bersifat permeable terhadap air
dan zat-zat terlarut, sedangkan membran sitoplasma bersifat semi permeable. Jadi jika sel tadi
disimpan dalam air, air akan berosmosis melalui sitoplasma kedalam vakuola, karena vakuola
berisi cairan yang mengandung zat-zat terlarut, sehingga hipertonis terhadap air. Karena
adanya air yang masuk tadi, akan terjadi tekanan dari dalam vakuola kepada membran plasma
dan dinding sel yang disebut turgor. Sedangkan jika sel ditempatkan dalam larutan gula
dengan konsentrasi tinggi, maka air akan keluar dari vakuola sehingga membran sitoplasma
akan mengkerut dan terlepas dari dinding sel. Hal yang demikian dikatakan bahwa sel
mengalami plasmolosis.
Untuk mengamati proses difusi, digunakan larutan HCl dan NH4OH ( untuk difusi
gas) dan tinta merah dan biru ( untuk difusi zat cair). Sedangkan untuk mengamati proses
osmosis dan turgor, digunakan daging buah papaya mentah. Dan untuk mengamati proses
plasmolisis digunakan sel epidermis bawah daun Rheo discolor. Tumbuhan ini mempunyai
daun yang tidak bertangkai dengan letak basal rozet, permukaan atas daun berwarna hijau
sedangkan permukaan bawah berwarna ungu.
Dalam proses pencernaan, karbonhidrat yang terjadi didalam usus, antara lain
dilakukan oleh enzim-enzim dari kelenjar pankreas yaitu enzim karbohidrase yang terdiri dari
amylopsin dan maltase dengan proses sebagai berikut :
Tepung galaktosa +
glukosa
Karbohidrase dari pankreas
( Polisakarida ) ( Monosakarida )
I.2 TUJUAN
 Untuk mengetahui proses terjadinya difusi pada zat cair
 Untuk mengetahui proses terjadinya osmosis dan turgor
 Untuk mengetahui proses terjadinya plasmolisis pada sel tumbuhan

DASAR TEORI
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada
pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel
tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan
molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu:

 Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan
bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
 Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
 Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
 Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan
difusinya.
 Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih
cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.

Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang
lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh
pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran.
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang
konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah
melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Jika di dalam suatu
bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel, jika dalam suatu bejana yang dipisahkan
oleh selaput semipermiabel ditempatkan dua Iarutan glukosa yang terdiri atas air sebagai
pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh
selaput selektif permeabel, maka air dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan bergerak
atau berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel.
jadi, pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan
yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel. Larutan vang konsentrasi
zat terlarutnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan .sebagai
larutan hipertonis. sedangkan larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel
disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih
rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis.

Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis.Jika sel tumbuhan diletakkan di


larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan
turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini
layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus
berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel,
menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Akhirnya cytorrhysis -
runtuhnya seluruh dinding sel - dapat terjadi. Tidak ada mekanisme di dalam sel tumbuhan
untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan, juga mendapatkan air secara berlebihan,
tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik. Proses sama pada
sel hewan disebut krenasi. Cairan di dalam sel hewan keluar karena peristiwa difusi.
M ETODE PRAKTIKUM
ALAT dan BAHAN
Kegiatan 1. Difusi zat cair
Alat dan bahan :

1. alat /tabung difusi zat cair


2. piala kimia
3. pipet tetes
4. sumbat karet
5. Stopwacth
6. Tinta merah dan biru
7. Air

Kegiatan 2. Osmosis dan turgor (Buah pepaya)


Alat dan bahan :

1. Pisau silet yang tajam / cutter


2. Cawan petri
3. Mistar
4. Kertas milimeter/grafik
5. Buah pepaya mentah
6. Air ledeng
7. Larutan garam 20 %

Kegiatan 3. Plasmolisis (Epidermis daun Rhoeo discolor)

1. Mikroskop biologi
2. Objek glass dan cover glass
3. Silet yang tajam
4. Kertas isap
5. Daun Rhoeo discolor
6. Air suling
Larutan gula 10 %

HASIL dan PEMBAHASAN


IV.1 HASIL PENGAMATAN
Kegiatan 1. Difusi Zat Cair
Zat Cair Waktu /10 menit Jarak

Tinta Merah 1 3,8 cm


2 5 cm
3 7 cm
4 7,8 cm

Tinta Biru 1 5 cm
2 5,8 cm
3 6 cm
4 7 cm

Terjadinya pertemuan tinta merah dan biru = menit.


Tidak terjadi pertemuan antara tinta merah dan biru, karena setiap percobaan hanya 10 menit.
Kegiatan 2. Osmosis dan Turgor
Cairan perendam Sebelum percobaan Setelah percobaan
Air Ledeng Panjang = 6 cm Panjang = 6 cm
Lebar = 1,3 cm Lebar = 1,3 cm
Tebal = 2 mm Tebal = 3 mm
Lengkungan = 1,2 cm Lengkungan = tdk lengkung

Larutan garam 10 % Panjang = 6 cm Panjang = 5,5 cm


Lebar = 1,3 cm Lebar = 1,1 cm
Tebal = 2 mm Tebal = 1,9 mm
Lengkungan = 1,2 cm Lengkungan = 1,5 cm

Kegiatan 3. Plasmolis
#maaf ya gamabarnya rusak jadi gabisa ditampilin :)
IV.2 ANALISIS DATA
Kagiatan 1. Difusi zat cair
Pada pengamatan difusi zat cair kali ini, digunakan tinta berwarna merah dan biru untuk
memudahkan pengamatan difusi tinta dalam air. Ketika tinta diteteskan ke dalam air pada
ujung tabung difusi zat cair, maka tinta akan bergerak dari tempat tetesan awal yang
berkonsentrasi tinggi menuju keseluruhan air di dalam tabung difusi yang berkonsentrasi
rendah sehingga terjadi keseimbangan. Karena waktu penetesan tinta merah dan biru adalah
sama, maka seharusnya tinta merah dan biru bertemu tepat di tengah tabung difusi. Namun,
pada percobaan difusi zat cair ini, pergerakan antara tinta merah dan biru cenderung lambat
serta dapat dilihat juga bahwa tinta biru pergerakan lebih lambat dibanding pergerakan tinta
merah. Menurut saya, pergerakan tinta biru lebih lambat dikarenakan tinta biru lebih pekat
atau lebih kental daripada tinta merah. Selain itu, waktu temu antara tinta merah dan tinta
biru belum bisa di pastikan, karena percobaan ini membutuhkan waktu yang lama, sedangkan
kami hanya melakukan sampai 40 menit saja.
Kegiatan 2. Osmosis dan turgor
Pengamatan kali ini proses yang ingin diamati adalah osmosis dan tekanan turgor. Osmosis
adalah proses perpindahan air dari zat yang berkonsentrasi rendah (hipotonis) ke larutan yang
berkonsentrasi tinggi (hipertonis) melalui membrane semi permeable, sehingga didapatkan
larutan yang berkonsentrasi seimbang (isotonis) (Endang Sri Lestari : 2009) sedangkan
tekanan turgor adalah tekanan dari dalam vakuola kepada membran plasma dan dinding sel
karena adanya osmosis air ke dalam vakuola (Betsy Sihombing,dkk : 2010).
Pengamatan proses osmosis dan turgor kali ini menggunakan 2 irisan buah papaya mentah
yang masing-masing telah dicatat ukurannya sebelum pengamatan. Hal ini dimaksudkan agar
perbedaan ukuran buah pepaya sebelum dan sesudah pengamatan dapat diukur dengan jelas.
Larutan yang digunakan untuk merendam buah papaya adalah air ledeng yang hipotonis
terhadap sel pepaya dan larutan garam 10% yang hipertonis terhadap sel pepaya.
Setelah irisan papaya di rendam dalam dua cawan dengan larutan berbeda selama 20 menit,
terlihat adanya perbedaan pada kedua irisan pepaya. Irisan papaya yang direndam dalam
larutan garam 10% panjangnya menjadi berkurang dan potongan pepaya menjadi lebih
lembek dari sebelumnya. Hal ini terjadi karena adanya osmosis air dari dalam sel (hipotonis)
menuju keluar ke air di dalam cawan petri (hipertonis) sehingga sel kehilangan air dan
tekanan turgorya. Sedangkan, pepaya di air ledeng menjadi bertambah panjang karena adanya
osmosis air dari cawan petri (hipotonis) ke dalam sel (hipertonis) dan sel mengalami
peningkatan tekanan turgor sehingga sel menjadi lebih keras dan kaku dari sebelumnya.
Kegiatan 3. Plasmolisis
Jika sel ditempatkan di larutan dengan konsentrasi tinggi atau hipertonis terhadap sel, maka
air akan keluar dari vakuola sehingga membrane sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari
dinding sel. Hal seperti ini lazim disebut plasmolisis.( Betsy Sihombing,dkk : 2010)
Pada pengamatan kali ini digunakan epidermis bawah daun Rhoeo discolor yang memiliki
pigmen warna ungu, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses pengamatan. Juga
digunakan larutan gula 10% yang berperan sebagai larutan hipertonis terhadap sel.
Sebelum diteteskan larutan gula 10%, sel-sel yang bewarna ungu terlihat lebih banyak dan
jelas dibandingkan kloroplas yang berwarna hijau. Setelah diteteskan larutan gula 10% dan
didiamkan selama 10 menit, terjadilah keadaan yang bertolak belakang dengan keadaan
sebelumnya. Sel-sel berwarna ungu terlihat lebih sedikit, dan kloroplas lebih jelas terlihat.
Hal ini terjadi karena pada saat sel ditempatkan pada larutan yang hipertonis terhadapnya,
maka air keluar dari vakuola sehingga membran sitoplasma akan mengkerut begitu pula
sitoplasma, dan secara otomatis juga menciutkan ukuran vakuola. Saat sitoplasma mengkerut,
kloroplas yang tersebar di dalam sitoplasma akan merapat sehingga bisa terlihat lebih jelas.

PENUTUP
KESIMPULAN
1. Difusi adalah perpindahan molekul zat berkonsentrasi tinggi menuju zat berkonsentrasi
rendah tanpa melalui selaput membran.
2. Faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi adalah ukuran partikel, densitas medium, luas
area, suhu, dan kemampuan menghantar listrik pada molekul (larutan elekrolit atau non
elektrolit).
3. Osmosis adalah proses perpindahan air dari zat yang berkonsentrasi rendah (hipotonis) ke
larutan yang berkonsentrasi tinggi (hipertonis) melalui membrane semi permeable, sehingga
didapatkan larutan yang berkonsentrasi seimbang (isotonis).
4. Faktor yang mempengaruhi kecepatan osmosis adalah konsentrasi air dan zat terlarut yang
ada di dalam sel dan luar sel, ketebalan membrane, dan suhu.
5. Tekanan turgor adalah tekanan dari dalam vakuola kepada membran plasma dan dinding sel
karena adanya osmosis air ke dalam vakuola.
6. Plasmolisis adalah menciutnya sitoplasma ketika sel berada pada larutan yang hipertonis
terhadapnya.
7. Perbedaan antara plasmolisis dan tekana turgor terletak pada keadaan konsentrasi di dalam
dan luar sel.

http://ngocehsanasini.blogspot.com/2011/07/difusi-osmosis-plasmolisis.html

Tekanan turgor
Tekanan turgor atau turgidity adalah tekanan utama dari sel isi terhadap dinding sel dalam sel
tumbuhan dan sel bakteri, ditentukan oleh kadar air vakuola , yang dihasilkan dari tekanan
osmotik , yaitu tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh solusi dalam ruang dibagi dengan
suatu membran semipermeabel karena diferensial dalam konsentrasi zat terlarut.

Tekanan turgor adalah gaya per satuan luas yang diberikan luar pada dinding sel tanaman
dengan air yang terkandung dalam sel vakuola . Dalam hal tanaman potensial air , tekanan
turgor biasanya dinyatakan sebagai komponen tekanan (Ψ p). Gaya ini memberikan kekakuan
tanaman, dan menyimpannya tegak.

Isi
[hide]

 1 layu
 2 Lihat juga
 3 Referensi
 4 Bacaan lebih lanjut
 5 Eksternal Link
layu
Tanaman yang kehilangan turgidity (kehilangan air dari sel mereka) menjalani plasmolysis .
Ketika ini terjadi, sel tidak lagi kaku dan kehilangan struktur tanaman, memberikan "wilty"
penampilan. Layu mungkin tidak selalu disebabkan oleh kurangnya air, tetapi mungkin
merupakan ekspresi dari tanaman bawah garam (salinitas) stres atau dapat disebabkan oleh
etilen (hormon tanaman).

"Tanaman layu, tidak hanya ketika mereka kehilangan air melalui penguapan, tetapi juga
ketika mereka dikelilingi oleh larutan garam biasa, kalium klorida, magnesium klorida, gula
atau bahan lainnya, jika solusinya adalah lebih tinggi tekanan osmotik , sedangkan mereka
lakukan tidak layu jika tekanan osmotik lebih rendah ". [1]

Ini tanaman Artikel adalah tulisan rintisan . Harap membantu Wikipedia berkembang
dengan tumbuh itu .

PRAKTIKUM

Topik : Proses Difusi dan Osmosis

Tujuan : Untuk mengetahui proses difusi dan osmosis pada organisme hidup serta memahami
penyebabnya.

Hari / Tgl :

Tempat :

I. ALAT DAN BAHAN


Alat : 1. Gelas kimia ( 50 ml )

2. Pipet tetes

3. Petunjuk waktu ( Arloji, stop watch )


4. Cawan petri

5. Jarum

6. Pangaduk

7. Kertas label

8. Batang pengaduk

Bahan : 1. Air

2. Larutan metilen blue

3. Kristal CuSO4

4. Mentimun dan kentang

5. Garam dapur

II. CARA KERJA

1. Proses difusi

a. Meneteskan larutan metilen blue pada gelas kimia yang telah diisi air, dan
memasukan kristal CuSO4 pada gelas kimia lainnya.

b. Mengamati perubahan yang terjadi, saat penetesan dianggap To dan saat

tercapainya keadaan homogen sebagai T1.

c. Mengulangi langkah 1 – 2, dan setelah penetesan metilen blue dan pemasukan


kristal CuSO4 segera diaduk.

d. Membandingkan hasil pengamatan saudara tersebut.

2. Proses osmosis
a. Menyiapkan larutan garam dapur, dengan menambahkan 3 sendok makan garam
dapur dalam 100 ml air. Memasukan kedalam cawan A dan beri label ( larutan
garam ). Ke dalam cawan B, memasukan air dan beri labelnya (air).

b. Membuat irisan mentimun dan umbi kentang setebal 3 – 4 mm.

c. Kedalam masing masing cawan ( A dan B ), memasukan 2 irisan mentimun dan 2


irisan kentang. Biarkan selama 15 menit, angkat dengan jarum dan amati
perubahan yang terjadi.

d. Setelah diamati, mengembalikan lagi ke dalam cawannya. Perlakuan diteruskan


sampai 30 menit.

e. Membandingkan hasil pengamatan tentang : bagaimana kekerasan nya yang


menunjukan turgor, dengan memijit kedua macam bahan tersebut.

III. TEORI DASAR.

Metabolisme pada organisme multi seluler meliputi banyak hal diantaranya transpor materi
dan energi. Sistem transportasi sangat penting bagi tumbuhan dan hewan yang berkaitan dengan
massa organisme. Pada tumbuhan dan hewan yang masih sederhana atau belum memiliki struktur
organisme rumit, transpot materi (nutrien dan zat hara) dan hasil metabolisme cukup dari sel ke sel.

Transportasi tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun pasif. Transportasi pasif
berlangsung antara lain secara osmosis.

Protoplasma sel mempunyai plasma ( pada tumbuhan ) atau selaput sel (pada hewan) yang
mampu mengatur secara selektifaliran cairan dari lingkungan suatu sel ke dalam sel atau sebaliknya.
Terdapat dua proses fisiokimia yang penting yaitu difusi dan osmosis.

Dengan adanya proses osmosis, suatu selaput dinyatakan permeabel, semi permeabel atau
hipermeabel. Apabila semua jenis molekul dalam cairan yang ada di sekelilingnya dapat
merembes melewati selaput atau plasma tersebut maka selaput dinyatakan permeabel. Suatu
selaput dinyatakan semi permeabel bila hanya beberapa jenis molekul dalam cairan yang
disekelilingnya yang dapat melewati nya.

Osmosis merupakan suatu proses perembesan molekul air melintasi suatu selaput yang
memisahkan dua larutan yaitu : hipotonik dan hipertonik yang berlangsung dari larutan yang
hipotonik ke larutan yang hipertonik. Perbedaan kepekatan sitoplasma suatu sel dengan
lingkungannya dapat menyebabkan perubahan bentuk / kerusakan sel tersebut.

Difusi merupakan usaha untuk meniadakan beda kadar antara dua larutan yang berbatasan
tanpa adanya dinding pemisah. Pada akhirnya difusi kedua larutan akan bercampur menjadi larutan
yang homogen.

Air dalam tumbuhan


Posted on Januari 21, 2009 by klimatologi| 4 Komentar

Air merupakan 85 – 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel, air diperlukan
sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya; selain itu air
diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses
fotosintesis; dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga
dapat digunakan untuk aktivitas katalisnya. Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu,
dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat
menyebabkan kematian. Terdapat lima mekanisme utama yang menggerakkan air dari suatu
tempat ke tempat lain, yaitu melalui proses: difusi, osmosis, tekanan kapiler, tekanan
hidrostatik, dan gravitasi.

a. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah
dengan konsentrasi rendah
Beberapa contoh difusi:
1. Apabila kita teteskan minyak wangi dalam botol lalu ditutup, maka bau minyak wangi
tersebut akan tersebar ke seluruh bagian botol. Apabila tutup botol dibuka, maka bau minyak
wangi tersebut akan tersebar ke seluruh ruangan, meskipun tidak menggunakan kipas. Hal ini
disebabkan karena terjadi proses difusi dari botol minyak wangi (konsentrasi tinggi) ke
ruangan (konsentrasi rendah).
2. Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan
menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas
(konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan
tinta, juga terjadi pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke
konsentrasi air rendah).

Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi
lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat
dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya
dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan
contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2
sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan
difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk
melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses
difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan
proses difusi.
b. Osmosis
Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel
endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air
bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang
berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul
tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses
Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai
keseimbangan.

Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran. Osmosis dapat
dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka
menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah
osmosis. Jika anda merendam wortel ke dalam larutan garam 10 % maka sel-selnya akan
kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel wortel tersebut
lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari dalam sel
akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka vakuola sel-sel
wortel tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran sel akan terlepas
dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut plasmolisis.

c. Tekanan kapiler
Apabila pipa kapiler dicelupkan ke dalam bak yang berisi air, maka permukaan air dalam pip
a kapiler akan naik sampai terjadi keseimbangan antara tegangan yang menarik air tersebut
dengan beratnya. Tekanan yang menarik air tersebut disebut tekanan kapiler. Tekanan kapiler
tergantung pada diameter kapiler : semakin kecil diameter kapiler semakin besar tegangan
yang menarik kolom air tersebut

d. Tekanan hidrostatik
Masuknya air ke dalam sel akan menyebabkan tekanan terhadap dinding sel sehingga dinding
sel meregang. Hal ini akan menyebabkan timbulnya tekanan hidrostatik untuk melawan aliran
air tersebut. Tekanan hidrostatik dalam sel disebut tekanan turgor. Tekanan turgor yang
berkembang melawan dinding sebagai hasil masuknya air ke dalam vakuola sel disebut
potensial tekanan. Tekanan turgor penting bagi sel karena dapat menyebabkan sel dan
jaringan yang disusunnya menjadi kaku. Potensial air suatu sel tumbuhan secara esensial
merupakan kombinasi potensial osmotic dengan potensial tekanannya. Jika dua sel yang
bersebelahan mempunyai potensial air yang berbeda, maka air akan bergerak dari sel yang
mempunyai potensial air tinggi menuju ke sel yang mempunyai potensial air rendah.

e. Gravitasi
Air juga bergerak untuk merespon gaya gravitasi bumi, sehingga perlu tekanan untuk
menarik air ke atas. Pada tumbuhan herba, pengaruh gravitasi dapat diabaikan karena
perbedaan ketinggian pada bagian tanaman tersebut relatif kecil. Pada tumbuhan yang tinggi,
pengaruh gravitasi ini sangat nyata. Untuk menggerakkan air ke atas pada pohon setinggi 100
m diperlukan tekanan sekitar 20 atmosfer.

http://klimatologi.wordpress.com/2009/01/21/air-dalam-tumbuhan/