Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PEMBAHASAN

A. Sejarah Perumusan
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disusun dan
dirumuskan oleh Ki Bagus Hadikusuino sebagai hasil penyorotan dan
pengungkapan kembali terhadap pokok-pikiran pokok-pikiran yang
dijadikan dasar amal usaha dan perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dengan
menggunakan wadah persyarikatan Muhamnadiyah. Rumusan
"Muqaddimah" diterima dan disahkan oleh Muktamar Muhammadiyah
ke 31 yang dilangsungkan di kota Yogyakarta pada tahun 1950, setelah
melewati penyempurnaan segi redaksional yang dilaksanakan oleh
sebuah team yang dibentuk oleh sidang Tanwir. Team ponyempurnaan
tersebut anggota-anggotanya terdiri dari
1) Buya HAMKA
2) K.H. Farid Ma'ruf
3) Mr. Kasman Singodimedjo serta
4) Zain Jambek.

B. Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah


Disusun dan dirumuskan baru pada periode Ki Bagus
Hadikusumo, sebab-sebabnya antara lain
a. Belum adanya kepastian rumusan tentang cita-cita dan dasar
perjuangan Muhammadiyah
Kyai Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah bukannya
didasarkan pada teori yang terlebih dahulu dirumuskan secara
ilmiyah dan sistematis. Akan tetapi apa yang telah diresapinya dari
pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadits
beliau segera diwujudkan dalam amalan yang nyata. Oleh karena itu

1
Kyai Ahmad Dahlan lebih tepat dikatakan sebagai seorang ulama
yang praktis, bukannya ulama teoritis.
Pada awal perjuangan Muhammadiyah, keadaan serupa itu tidak
mengaburkan penghayatan seseorang terhadap Muhammadiyah, baik
ia seorang Muhammadiyah sendiri ataupun seorang luar yang
berusaha memahaminya. Akan tetapi serentak Muhammadiyah
semakin luas serta bertambah banyak anggota dan simpatisannya
mengakibatkan semakin jauh mereka dari sumber gagasan.Karena
itu wajar apabila terjadi kekaburan penghayatan terhadap dasar-dasar
pokok yang menjadi daya pendorong Kyai Ahmad Dahlan dalam
menggerakkan persyarikatan Muhammadiyah.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang. Segala puji
bagi Allah yang mengasuh semua alam; yang Maha Pemurah dan
Penyayang; yang memegang pengadilan pada hari kemudian; Hanya
kepada Kau hamba menyembah dan hanya kepada Kau hamba mohon
pertolongan; Berilah petunjuk kepada hamba jalan yang lempang; Jalan
orang-orang yang telah Kau beri kenikmatan, yang tidak dimurkai dan
tidak tersesat lagi". (al-Qur'an surat al-Fatihah).

"Saya ridha, bertuhan kepada Allah, beragama kepada Islam dan bernabi
kepada Muhammad Rasulullah Shallal ahu 'alaihi wasallam”.
a.) Amma ba'du, Bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan itu adalah hak
Allah semata-mata. Bertuhan dan beribadah serta tunduk dan ta'at
kepada Allah adalah satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-
tiap makhluk, terutama manusia.
b.) Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum qudrat-iradat)
Allah atas kehidupan manusia
c.) Masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia
hanyalah dapat diujudkan di atas dasar keadilan, kejujuran,
persaudaraan dan gotong-royong bertolong-tolongan dengan
bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pada

2
pengaruh syaitan dan hawa nafau. Agama Allah yang dibawa dan
diajarkan oleh sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci,
adalah satu-satunya Pondok hukum dalam masyarakat yang
utama dan sebaik-baiknya.
d.) Menjunjung tinggi hukum Allah lebih dari pada hukum yang
manapun juga, adalah kawajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang
mengaku ber-Tuhan kepada Allah. Agama Islam adalah agama
Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai
Nabi Muhammad saw. dan diajarkan kepada unmatnya masing-
masing untuk mendapatkan hidup bahagia dunia dan akhirat.
e.) Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang bahagia dan
sentosa sebagai yang tersebut di atas itu, tiap-tiap orang, terutama
ummat Islam, ummat yang percaya akan Allah dan Hari
Kemudian, wajiblah mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci itu;
beribadah kepada Allah dan berusaha segiat-giatnya
mengumpulkan segala kekuatan dan mempergunakannya untuk
menjelmakan masyarakat itu di dunia ini, dengan niat yang
murni-tulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya
mengharapkan karunia Allah dan ridla-Nya belaka serta
mempunyai rasa tanggung-jawab di khadirat Allah atas segala
perbuatannya; lagi pula harus sabar dan tawakkal bertabah hati
menghadapi segala kesukaran atau kesulitan yang menimpa
dirinya, atau rintangan yang menghalangi pekerjaannya dengan
penuh pengharapan akan perlindungan dan pertolongan Allah
Yang Maha Kuasa.
f.) Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat yang demikian itu,
maka dengan berkat dan rahmat Allah dan didirong oleh firman
Allah dalam al-Qur'an :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang
beruntung.

3
[217] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada
Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang
menjauhkan kita dari pada-Nya.

Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember


1912 Miladiyah oleh Almarhum K.H.Ahmad Dahlan didirikanlah
suatu Persyarikatan sebagai "GERAKAN ISLAM' dengan nama
"MUHAMMADIYAH" yang disusun denganmajlis-majlis
(Bagian-bahgian)nya, mengikuti peredaran zaman serta
berdasarkan "syura" yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
dalam permusyawaratan atau Muktamar.
g.) Kesemuanya itu perlu untuk menunaikan kewajiban
mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti Sunnah
Rasul-Nya, Nabi Muhamnad saw, guna mendapatkan karunia dan
ridla-Nya, di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat
yang sentosa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang
melimpah-limpah, sehingga merupakan :
"Suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah
perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun".
Maka degan Muhammadiyah ini mudah-mudahan ummat
Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga "Jannatun
Na'imi' dengan keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.

C. Identitas Dan Asas Muhammadiyah

1. Hakekat “Muqaddimah ad Muhammadiyah”


Muqaddimah Aggaran Dasar Muhammadiyah merupakan kesimpulan
dari perintah dan ajaran AL-Qur’an dan sunnah tentang pengabdian manusia
kepada Allah swt. Amal dan perjuangan setiap manusia muslim yang sadar.
Ia menjiwai dan menapaskan semangat pengabdian dan perjuangan itu ke
dalam tubuh dan segala gerak organisasi Muhammadiyah dan dengan
demikian ia juga menjiwai Anggaran Dasar Muhammadiyah

4
2. Fungsi “Muqaddimah Ad Muhammadiyah”
Bagi persyarikatan Muhammadiyah, Muqaddimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah berfungsi sebagai ."Jiwa dan semangat pengabdian serta
perjuangan persyarikatan Muhammadiyah".

D. Keanggotaan Muhammadiyah

1) Anggota Biasa harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:


 Warga Negara Indonesia beragama Islam
 Laki-laki atau perempuan berumur 17 tahun atau sudah
menikah
 Menyetujui maksud dan tujuan Muhammadiyah
 Bersedia mendukung dan melaksanakan usaha-usaha
Muhammadiyah
 Mendaftarkan diri dan membayar uang pangkal.
2) Anggota Luar Biasa ialah seseorang bukan warga negara Indonesia,
beragama Islam, setuju dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah serta
bersedia mendukung amal usahanya.
3) Anggota Kehormatan ialah seseorang beragama Islam, berjasa terhadap
Muhammadiyah dan atau karena kewibawaan dan keahliannya
diperlukan atau bersedia membantu Muhammadiyah.
4) Tata cara menjadi anggota diatur sebagai berikut:
a) Anggota Biasa
1. Mengajukan permintaan secara tertulis kepada
Pimpinan Pusat dengan mengisi formulir disertai
kelengkapan syarat-syaratnya melalui Pimpinan
Ranting atau Pimpinan amal usaha di tempat yang
belum ada Ranting, kemudian diteruskan kepada
Pimpinan Cabang.

5
2. Pimpinan Cabang meneruskan permintaan
tersebut kepada Pimpinan Pusat dengan disertai
pertimbangan.
3. Pimpinan Cabang dapat memberi tanda anggota
sementara kepada calon anggota, sebelum yang
bersangkutan menerima kartu tanda anggota dari
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bentuk tanda
anggota sementara ditetapkan oleh Pimpinan
Pusat.
4. Pimpinan Pusat memberi kartu tanda anggota
Muhammadiyah kepada calon anggota biasa yang
telah disetujui melalui Pimpinan Cabang yang
bersangkutan
b. Anggota Luar Biasa dan Anggota Kehormatan
Tata cara menjadi Anggota Luar Biasa dan Anggota Kehormatan
diatur oleh Pimpinan Pusat
5) Pimpinan Pusat dapat melimpahkan wewenang penerimaan permintaan
menjadi Anggota Biasa dan memberikan kartu tanda anggota
Muhammadiyah kepada Pimpinan Wilayah. Pelimpahan wewenang
tersebut dan ketentuan pelaksanaannya diatur dengan keputusan
Pimpinan Pusat.
6) Hak Anggota
a. Anggota biasa:
1. Menyatakan pendapat di dalam maupun di luar permusyawaratan.
2. Memilih dan dipilih dalam permusyawaratan.
b. Anggota Luar Biasa dan Anggota Kehormatan
mempunyai hak menyatakan pendapat.
7) Kewajiban Anggota Biasa, Luar Biasa, dan Kehormatan:
a. Taat menjalankan ajaran Islam
b. Menjaga nama baik dan setia kepada Muhammadiyah serta
perjuangannya c. Berpegang teguh kepada Kepribadian serta Keyakinan
dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah

6
d. Taat pada peraturan Muhammadiyah, keputusan musyawarah, dan
kebijakan Pimpinan Pusat
e. Mendukung dan mengindahkan kepentingan Muhammadiyah serta
melaksanakan usahanya
f. Membayar iuran anggota
g. Membayar infaq
8) Anggota Biasa, Luar Biasa, dan Kehormatan berhenti karena:
a. Meninggal dunia
b. Mengundurkan diri
c. Diberhentikan oleh Pimpinan Pusat
9) Tata cara pemberhentian anggota.
a. Anggota Biasa:
1. Pimpinan Cabang mengusulkan pemberhentian anggota kepada
Pimpinan Daerah berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Pimpinan Daerah meneruskan kepada Pimpinan Wilayah usulan
pemberhentian anggota dengan disertai pertimbangan.
3. Pimpinan Wilayah meneruskan atau tidak meneruskan usulan
pemberhentian anggota kepada Pimpinan Pusat setelah melakukan
penelitian dan penilaian.
4. Pimpinan Wilayah dapat melakukan pemberhentian sementara
(skorsing) yang berlaku paling lama 6 (enam) bulan selama menunggu
proses pemberhentian anggota dari Pimpinan Pusat,
5. Pimpinan Pusat, setelah menerima usulan pemberhentian anggota,
memutuskan memberhentikan atau tidak memberhentikan paling lama 6
(enam) bulan sejak diusulkan oleh Pimpinan Wilayah.
6. Anggota yang diusulkan pemberhentian keanggotaannya, selama
proses pengusulan berlangsung, dapat mengajukan keberatan kepada
Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah, dan Pimpinan
Pusat. Setelah keputusan pemberhentian dikeluarkan, yang bersangkutan
dapat mengajukan keberatan kepada Pimpinan Pusat.

7
7. Pimpinan Pusat membentuk tim yang diserahi tugas mempelajari
keberatan yang diajukan oleh anggota yang diberhentikan. Pimpinan
Pusat menetapkan keputusan akhir setelah mendengar pertimbangan tim.
8. Keputusan pemberhentian anggota diumumkan dalam Berita
Resmi Muhammadiyah. b. Anggota Luar Biasa dan Kehormatan
diberhentikan atas keputusan Pimpinan Pusat.

E. Keorganisasian Muhammadiyah

Organisasi Otonom Muhammadyah


Organisasi Otonom Muhammadiyah ialah organisasi atau badan
yang dibentuk oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang dengan bimbingan
dan pengawasannya diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangga
sendiri, membina warga Persyarikatan Muhammadiyah tertentu dan dalam
bidang-bidang tertentu pula dalam rangka mencapai maksud dan tujuan
Persyarikatan Muhammadiyah.

Struktur dan Kedudukan Organisasi Otonom Muhammadiyah sebagai badan


yang mempunyai otonomi dalam mengatur rumah tangga sendiri
mempunyai jaringan struktur sebagaimana halnya dengan Muhammadiyah,
mulai dari tingkat pusat, tingkat propinsi, tingkat kabupaten, tingkat
kecamatan, tingkat desa, dan kelompok-kelompok atau jama'ah-jama'ah.

Persyaratan Pembentukan Organisasi Otonom :


1. Mempunyai fungsi khusus dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
2. Mempunyai potensi dan ruang lingkup nasional.

Tujuan Pembentukan Organisasi Otonom :


1.Efisiensi dan efektifitas Persyarikatan Muhammadiyah.
2.Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah.
3.Dinamika persyarikatan Muhammadiyah.
4.Kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah.

8
Hak dan Kewajiban Dalam kedudukannya sebagai organisasi otonom yang
mempunyai kewenangan mengatur rumah tangga sendiri, Organisasi
Otonom Muhammadiyah mempunyai hak dan kewajiban dalam
Persyarikatan Muhammadiyah.
Kewajiban Organisasi Otonom :
1. Melaksanakan Keputusan Persyarikatan Muhammadiyah.
2. Menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah.
3. Membina anggota-anggotanya menjadi warga dan anggota Persyarikatan
Muhammadiyah yang baik.
4. Membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan sesama organisasi
otonom.
5. Melaporkan kegiatan-kegiatannya kepada Pim-pinan Persyarikatan
Muhammadiyah.
6. Menyalurkan anggota-anggotanya dalam kegiatan gerak dan amal usaha
Persyarikatan Muham-madiyah sesuai dengan bakat, minat dan kemam-
puannya.

Hak yang Dimiliki oleh Organisasi Otonom Muhammadiyah :


1. Mengelola urusan kepentingan, aktivitas, dan amal usaha yang dilakukan
organisasi otonomnya.
2. Berhubungan dengan organisasi/Badan lain di luar Persyarikatan
Muhammadiyah.
3. Memberi saran kepada Persyarikatan Muham-madiyah baik diminta atau
atas kemauan sendiri.
4. Mengusahakan dan mengelola keuangan sendiri.

Organisasi Otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah


Organisasi otonom dalam Persyarikatan Muham-madiyah mempunyai
karakteristik dan spesifikasi bidang tertentu. Adapun Organisasi otonom
dalam Persya-rikatan Muhammadiyah yang sudah ada ialah sebagai berikut
:

9
1. Aisyiyah (bergerak di kalangan wanita dan ibu-ibu)
2. Pemuda Muhammadiyah (bergerak di kalangan pemuda)
3. Nasyiatul Aisyiyah (bergerak di kalangan perempuan-perempuan muda)
4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (bergerak di kalangan pelajar dan remaja)
5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (bergerak di kalangan mahasiswa)
6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah (bergerak dalam aktivitas bela diri)
7. Hisbul Wathan (bergerak dalam aktivitas kepanduan).

1. AISYIYAH

Aisyiyah merupakan wadah perjuangan dan amal usaha bagi kaum


perempuan Muhammadiyah. Kedudukannya sebagai ortom Muhammadiyah
tidak sama dengan ortom-ortom yang lain karena gerak dan kegiatan
Aisyiyah seimbang dengan gerak dan kegiatan kaum laki Muhammadiyah.
Karena itulah pada Muktamar 44 di Jakarta, Maka ‘Aisyiyah dinyatakan
sebagai “ortom Khusus” atau Organisasi Otonom Khusus.” Aisyiyah
didirikan oleh Kyai H Ahmad Dahlan yang bemula dari kumpulan pengajian
kaum ibu yang dibimbing oleh beliau yang bernama pengajian “Sopo
Tresno.”
Kegiatan pengajian disesuaikan dengan kegiatan Muhammadiyah,
dengan tujuan mendidik kaum ibu untuk berorganisasi dalam melaksanakan
agama Islam. Pada tanggal 27 Rajab 1335 Hijriyah bertepatan tanggal 19

10
Mei 1917 Miladiyah, pengajian Sopo Tresno resmi berganti nama dengan
“Aisyiyah yang berarti pengikut ibu Aisyah Ra.
Diantara kegiatan-kegiatan atau amal usaha ‘Aisyiyah ialah:
1. Menyelenggarakan pendidikan Kelompok Bermain dan TK
‘Aisyiyah Bustanul Athfal
2. Menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur’an
3. Mengasuh dan menyantuni anak yatim baik di dalam panti maupun
non panti(asuhan keluarga)
4. Mendirikan sekolah perawat dan sekolah bidan
5. Mendirikan balai kesehatan dan rumah bersalin
6. Membina para remaja putri melalui Nasyiatul ‘Aisyiyah
7. Membina desa Qoryah Thayibah
8. Membina wanita desa
9. Membina keluarga sakinah
10. Membina muallaf
11. Menyelenggarakan bimbingan Haji ‘Aisyiyah
12. Menerbitkan majalah suara ‘aisyiyah

2. Nasyiatul ‘aisyiyah

Nasyiyatul ‘Aisyiyah bermula dari perkumpulan pelajar atau remaja


putri yang dibimbing oleh kyai dan nyai Dahlan yang bernama “Siswo
Proyo Wanito.” Mereka dididik dengan pendidikan agama Islam,
keterampilan wanita seperti memasak, menjahit, menyulam, dan pendidikan
kewanitaan yang harus di miliki oleh calon ibu rumah tangga. Perkumpulan
itu akhirnya berganti nama dengan Nasyiyatul ‘Aisyiyah yang berarti Tunas

11
atau kader ‘Aisyiyah.” Di resmikan pada tanggal 28 Zulhijjah 1349H
bertepatan dengan tanggal 16 Mei 1931 M. Lambang Nasyiatul ‘Aisyiyah
adalah : seuntai padi yang berisi 12 butir, bertangkai 4 helai (2 pasang )
daun hijau yang ditegakkan diatas pita dengan semboyan atau tulisan Arab :
“Al birru manittaqo”. Berada dalam lingkaran yang bertuliskan Nasyiatul
‘Aisyiyah puteri Muhammadiyah.

3. PEMUDA MUHAMMADIYAH (PM)

Pemuda Muhammadiyah berawal dari perkumpulan para pemuda yang


bernama “Siswo Proyo Priyo.” Pada tahun 1918 anak-anak muda tersebut
dididik dalam kepanduan Hizbul Wathan. Sebelum ditetapkan sebagai
ortom, peerkumpulan pemuda muhammadiyah ini menjadi bagian dari
organisasi Muhammadiyah Majlis pemuda. Pada tanggal 25 Zulhijjah 1350
H, bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1932 M. pemuda Muhammadiyah resmi
sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Lambang Pemuda
Muhammadiyah : “setangkai kuncup melati berkelopak enam, berdaun
bunga lima, dengan dua helai daun diatas pita yang bertuliskan “fastabiqul
Khairat” dengan tulisan arab

12
4. IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH

mulanya bernama ikatan pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai wadah


bagi pelajar di lingkungan sekolah Muhammadiyah, yang telah resmi
sebagai ortom Muhammadiyah sejak tanggal 18 Juli 1961. Organisasi IPM
ini telah berjalan dan berkembang dari tingkat ranting hingga pusat dan
telah beberapa kali menyelenggarakan Muktamar. Pada tahun 1992,
merupakan catatan sejarah bagi IPM, organisasi pelajar ini diangggap
berbenturan dengan Osis (organisasi Siswa Intra Sekolah). Sehingga harus
berganti nama dengan Ikatan Remaja Muhammadiyah. dalam rangka
mencapai
Tujuan IRM sebagaimana tercantum dalam AD nya adalah :
“Terbentuknya remaja muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada
diri sendiri dan berguna bagi masyarakat tujuan Muhammadiyah.
Lambang IRM : gambar perisai berbentuk pena dengan penampang berlapis
lima yang berwarna hitam, merah, kuning, putih dan hijau, bertulisan
semboyan dengan huruf Arab : “Nun. Wal qolami wama yasturun”.

13
5. IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Terbentuknya IMM adalah atas prakasa PP Pemuda Muhammadiyah


di Yogyakarta, yang membentuk kelompok belajar (study Group) bagi para
mahasiswa Muhammadiyah.
Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal organisasi otonom IMM
yang diresmikan pada tanggal 14 Maret 1964. Perkembangan IMM seirama
dengan perkembangan perguruan tinggi Muhammadiyah, diimana ada
perguruan tinggi muhammadiyah, disitu ada IMM. Namun terjadi
perkembangan yang sangat menggembirakan karena pada perguruan tinggi
negeri maupun suasta yang bukan Muhammadiyah pun IMM dapat tumbuh.
Hal ini merupakan sesuatu yang mengagumkan
Lambang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah : penampang perisai pena
yang berlapis tiga, berwarna hitam, kuning dan merah . ditenghnya terdapat
sinar matahari yang diatasnya ada gambar lambang Pemuda
Muhammadiyah, dan diatasnya terdapat tulisan IMM.

14
6. TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

Didirikan di Yogyakarta pada tanggal 31 Juli 1963. Tapak suci putra


muhammadiyah adalah perkumpulan bela diri atau perguruan seni bela diri
yang bertujuan untuk mendidik dan membina ketangkasan dan ketrampilan
seni bela diri yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam
Motto Tapak suci adalah ;Dengan “tapak suci” jasmani kita sehat, jiwapun
sehat, pikiran pun cerdas, dan hati selalu suci.
Lambang tapak suci mempunyai makna : “bertekad bulat mengagungkan
asma Allah, kekal abadi, menyemerbakkan keharuman yang sempurna,
kesucian hati dalam menunaikan rukun iman dan rukun Islam, serta
mengutamakan keakraban, kejujuran dan kerendahan hati.

15
7. GERAKAN KEPANDUAN

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (disingkat HW) adalah salah


satu organisasi otonom (ortom) di lingkungan Persyarikatan
Muhammadiyah. HW didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H
(1918 M) atas prakarsa KH Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri
Muhammadiyah. Prakarsa itu timbul saat beliau selesai memberi pengajian
di Solo, dan melihat latihan Pandu di alun-alun Mangkunegaran. Gerakan
ini kemudian meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka pada 1961, dan
dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan SK
Nomor 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 tanggal 10 Sya'ban 1420 H (18 November
1999 M) dan dipertegas dengan SK Nomor 10/Kep/I.O/B/2003 tanggal 1
Dzulhijjah 1423 H (2 Februari 2003)

HW berasaskan Islam. HW didirikan untuk menyiapkan dan membina anak,


remaja, dan pemuda yang memiliki aqidah, mental dan fisik, berilmu dan
berteknologi serta berakhlak karimah dengan tujuan terwujudnya pribadi
muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat,
dan bangsa.

16
DAFTAR PUSTAKA

1.) Departemen Agama Republik Indonesia, Al Quran dan Terjemahan.


2.) Sukriyanto. AR. Drs,. Munir Mulkan, Drs,. Perkembangan Pemikiran
Muhammadiyah dari Masa ke Masa.
3.) Djamaluddin Ahmad Al Buny, Drs. Ke-Muhammadiyahan.

17