Anda di halaman 1dari 2

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil melancarkan aksi operasi tangkap tangan (OTT)

yang melibatkan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Manado, Sulawesi Utara, Sudiwardono dan

anggota Komisi XI DPR periode 2014-2019 dari Fraksi Partai Golkar Aditya Anugrah Moha.

Selain keduannya, tim KPK juga membekuk tiga orang lainnya, yakni Istri Ketua PT Manado

berinisial Y, YDM ajudan Aditya Moha dan sopir Aditya inisial M. Namun, KPK hanya

menetapkan Sudiwardono dan Politisi Golkar Aditya Anugrah Moha sebagai tersangka dalam

kasus tersebut. Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif memaparkan kronologi operasi

tangkap tangan yang melibatkan Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono dan anggota DPR

Aditya Anugrah Moha tersebut. Menurut Laode, pada Kamis (5/10/2017) sore, Sudiwardono

berserta istri tiba di Jakarta dari Manado. Keduanya kemudian menginap di hotel di kawasan

Pecenongan, Jakarta Pusat. "Hotel dipesan Aditya, tapi atas nama orang lain," ucap Laode saat

konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Sabtu (7/10/2017). Lalu pada Jumat (6/10/2017) sekitar

pukul 23.15 WIB, usai kembali dari acara makan malam bersama keluarga, Sudiwardono tiba di

hotel tempat menginap. Penyerahan uang dari Aditya kepada Sudiwardono pun dilakukan di hotel.

"Diindikasikan penyerahan uang di pintu darurat hotel dari Aditya. Usai penyerahan, tim KPK

kemudian menangkap Aditya beserta ajudannya di lobi hotel," kata Laode. Selanjutnya dilakukan

pengeledahan ke kamar hotel Sudiwardono dan ditemukan sebuah amplop putih berisi uang senilai

30.000 Dollar Singapura dan amplop cokelat berisi uang 23.000 Dollar Singapura. "Uang dalam

amplop cokelat diduga sisa pemberian sebelumnya," kata Laode.

Dalam OTT, tim KPK juga mengamankan 11.000 Dollar Singapura di mobil milik Aditya.

Sejumlah uang itu diduga bagian dari total commitment fee secara keseluruhan yang mencapai

100.000 Dollar Singapura atau setara Rp1 miliar. Setelah itu, kelima orang yang diduga terlibat

suap dibawa ke Gedung KPK untuk diperiksa. Usai dilakukan pemeriksaan selama 1x24 jam,
Aditya dan Sudiwardono ditetapkan sebagai tersangka kasus suap. Uang tersebut diduga kuat

pemberian Aditya Anugerah Moha untuk menyelamatkan Ibundanya, Marlina Moha Siahaan yang

sedang berjuang ditingkat banding atas vonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Manado

pada Juli 2017 terkait kasus Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa di Kabupaten

Bolaang Mongondow. Aditya bermaksud agar PT Manado yang diketuai Sudiwardono itu

memenangkan banding yang diajukan Marlina Moha. Aditya dan Sudiwardono melancarkan aksi

suapnya di sebuah hotel di Pejompongan, Jakarta Pusat pada Jumat 6 Oktober. "Untuk

mengamankan putusan banding, AAM pihak keluarga terdakwa mendekati SDW, ketua

Pengadilan Tinggi sekailigus ketua majelis banding," pungkasnya.

Pasal yang disangkakan kepada Aditya sebagai pihak yang diduga pemberi suap adalah Pasal 6

Ayat 1 Huruf a atau Pasal 5 Ayat 1 Huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun

1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi. Sebagai tersangka penerima suap, Sudiwardono disangkakan Pasal 12 Huruf a atau b atau

c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20

tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.