Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki standar akuntansi yang berlaku di Indonesia yaitu
yang kita kenal sebagai PSAK atau Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan.PSAK merupakan pedoman dalam melakukan praktek akuntansi
dimana uraian materi di dalamnya mencakup hampir semua aspek yang
berkaitan dengan akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan
sekumpulan orang dengan kemampuan dalam bidang akuntansi yang tergabung
dalam suatu lembaga yang dinamakan Ikatan Akuntansi Indonesia atau IAI.
PSAK juga menjadi buku petunjuk bagi pelaku akuntansi yang berisi
pedoman tentang segala hal yang ada hubungannya dengan akuntansi.
Salah satu isi dari PSAK tersebut yaitu mengenai persediaan yang
diatur dalam PSAK 14 dimana mengatur tentang perlakuan akuntansi untuk
persediaan, apa metode-metode yang digunakan dalam menghitung biaya
persediaan dan bagaimana pengungkapannya pada pencatata dan laporan
keuangan. Persediaan merupakan unsur yang penting dalam suatu perusahaan
baik itu perusahaan manufaktur maupun perusahaan dagang karena persediaan
diperoleh,diproduksi dan dijual secara terus menerus untuk kelangsungan
hidup perusahaan. Oleh karena itu,perusahaan sering mengalami kesulitan
dalam pencatatan dan penilaian persediaan.
Di dalam perusahaan juga sering mengalami kendala yang besar dalam
persediaan, yaitu jika jumlah persediaan sedikit maka proses produksi yang
dijalankan perusahaan akan terhambat,hal ini jelas akan sangat mempengaruhi
pada laporan laba rugi peusahaan dan laporan posisi keuangan perusahaan.
Selain dari hal tersebut masalah persediaan yang lain adalah perusahaan sering
kali mengalami penumpukan barang persediaan di gudang sehingga
mengakibatkan biaya persediaan yang tinggi dan akan menimbulkan
kerugian pada perusahaan itu sendiri.

1
Kendala-kendala yang timbul akibat persediaan ini mengakibatkan
masalah bagi perusahaan dalam mengelolanya, oleh karena itu perusahaan perlu
mengambil suatu kebijakan yang mengatur hal tersebut.Perusahaan dapat
memilih salah satu metode pencatatan dan metode penilaian persediaan yang
sesuai dengan standar dan PSAK 14 telah menyediakan metode pencatatan dan
penilaian persediaan yang dapat digunakan perusahaan dalam melakukan
penilaian persediaan.

PSAK 14 ini telah direvisi dari PSAK 14 tahun 1994 dan direvisi pada
tahun 2008, dan mengalami penyesuaian pada tahun 2014. PSAK 14:
Persediaan mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 2 Inventories per
efektif 1 januari 2014 kecuali:

2
1. IAS 2 paragraf 29(c) tentang pengecualian untuk asset biolojik tidak
diadopsi karena IAS 41 Agriculture belum diadopsi.
2. IAS 2 paragraf 20 tentang biaya hasil panen agrikultur dari asset
biolojik tidak diadopsi karena IAS 41 Agriculture belum diadopsi.
3. IAS 2 paragraf 40 tentang tanggal efektif.
4. IAS 2 paragraf 40A – 40B tentang tanggal efektif tidak diadopsi karena
tidak relevan.
5. IAS 2 paragraf 40C tentang tanggal efektif tidak diadopsi karena
tidak relevan.
6. IAS paragraf 42 tidak diadopsi karena tidak relevan.
7. PSAK 14 paragraf 40a tentang tanggal efektif penyesuaian.

Secara umum perbedaan antara PSAK 14 (2008) dengan PSAK 14


(penyesuaian 2014) adalah:

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi persediaan menurut PSAK 14?
2. Bagaimana pengukuran persediaan dan biaya-biaya apa saja yang ada pada
persediaan?
3. Bagaimana cara menghitung persediaan beserta rumusnya?
4. Bagaimana penghitungan nilai realisasi neto persediaan?
5. Bagaimana pengakuan persediaan?

3
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk memahami definisi persediaan menurut PSAK 14.
2. Untuk memahami pengukuran persediaan dan biaya-biaya apa saja yang ada
pada persediaan.
3. Untuk memahami cara menghitung persediaan beserta rumusnya.
4. Untuk memahami penghitungan nilai realisasi neto persediaan.
5. Untuk memahami pengakuan persediaan.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Persediaan Menurut PSAK 14


Paragraf 06
Menurut PSAK 14 persediaan adalah aset :
 yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa
 dalam proses produksi untuk penjualan tersebut
 atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa.

Paragraf 08
Persediaan meliputi barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual
kembali, misalnya, barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual
kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali.
Persediaan juga mencakup barang jadi yang diproduksi, atau barang dalam
penyelesaian yang sedang diproduksi, oleh entitas serta termasuk bahan serta
perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi. Bagi perusahaan
jasa, persediaan meliputi biaya jasa, di mana entitas belum mengakui
pendapatan yang terkait (lihat PSAK 23: Pendapatan).

2.2 Pengukuran Persediaan dan Biaya-Biaya yang ada pada Persediaan


Paragraf 09
Persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi
neto, mana yang lebih rendah.

Biaya Persediaan
Paragraf 10
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya
konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam
kondisi dan lokasi saat ini.

5
Biaya Pembelian
Paragraf 11
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak
lainnya(Kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada
otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya
yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan
dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam
menentukan biaya pembelian.

Biaya Konversi
Paragraf 12
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait
dengan unit yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung.
Termasuk juga alokasi sistematis overheadproduksi tetap dan variabel yang
timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Overhead produksi
tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan,tanpa
memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan
pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik,dan biaya manajemen dan
administrasi pabrik. Overhead produksi variabel adalah biaya produksi tidak
langsung yang berubah secara langsung, atau hampir secara
langsung,mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak
langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

Paragraf 13
Pengalokasian overhead produksi tetap ke biaya konversi didasarkan
pada kapasitas fasilitas produksi normal. Kapasitas normal adalah produksi
rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode atau musim
dalam keadaan normal, dengan memerhitungkan hilangnya kapasitas selama
pemeliharaan terencana.Tingkat produksi actual dapat digunakan jika
mendekati kapasitas normal. Pengalokasian jumlah overhead
produksitetappadasetiap unit produksi tidak bertambah sebagai akibat dari
rendahnya produksi atau tidak terpakainya pabrik. Overhead yang tidak

6
teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Overhead produksi
variabel dialokasikan pada unit produksi atas dasar penggunaan actual
fasilitas produksi.

Biaya Lain-lain
Paragraf 15
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang
biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat
ini. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk memasukkan
overhead nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk
pelanggantertentu sebagai biaya persediaan.

Paragraf 16
Contoh biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui
sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:
 Jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya
yang tidak normal.
 Biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses
produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya.
 Biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi
untuk membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
 Biaya penjualan.

Biaya Persediaan Pemberi Jasa


Paragraf 19
Sepanjang pemberi jasa memiliki persediaan, mereka mengukur
persediaan tersebut pada biaya produksinya. Biaya persediaan tersebut
terutama meliputi biaya tenaga kerja dan biaya personalia lainnya yang secara
langsung menangani pemberian jasa, termasuk personalia penyelia, dan
overhead yang dapat diatribusikan. Biaya tenaga kerja dan biaya lainnya yang
terkait dengan personalia penjualan dan administrasi umum tidak termasuk
sebagai biaya persediaan tetapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya.

7
Teknik Pengukuran Biaya
Paragraf 20
Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau
metode eceran, demi kemudahan dapat digunakan jika hasilnya mendekati
biaya. Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan
perlengkapan, tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-
review secara reguler dan, jika diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi
terakhir.

Paragraf 21
Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk
menilai persediaan dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan
memiliki marjin yang sama di mana tidak praktis untuk menggunakan metode
penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentukan dengan mengurangi
nilai jual persediaan dengan persentase marjin bruto yang sesuai. Persentase
tersebut digunakan dengan memerhatikan persediaan yang telah diturunkan
nilainya di bawah harga jual normal.

2.3 Menghitung Persediaan Beserta Rumusnya


Rumus Biaya
Paragraf 22
Biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan
persediaan lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang
dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan
berdasarkan identifikasi spesifik terhadap biayanya masing masing.

Paragraf 23
Identifikasi khusus biaya artinya biaya–biaya spesifik diatribusikan ke
item persediaan tertentu. Cara ini merupakan perlakuan yang sesuai bagi item
yang dipisahkan untuk proyek tertentu, baik yang dibeli maupun yang
dihasilkan. Namun demikian, identifikasi spesifik biaya tidak tepat ketika
terdapat jumlah besar item dalam persediaan yang dapat menggantikan

8
satu sama lain (ordinarily interchangeable). Dalam keadaan demikian,
metode pemilihan item yang masih berada dalam persediaan dapat digunakan
untuk menentukan di muka dampaknya dalam laporan laba rugi.

Paragraf 24
Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf diatas, harus
dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama
(FIFO) atau rata rata tertimbang. Entitas harus menggunakan rumus biaya
yang sama terhadap semua persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan
yang sama.

Paragraf 26
Formula FIFO mengasumsikan item persediaan yang pertama dibeli
akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga item yang tertinggal
dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Dalam
rumus biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap item ditentukan berdasarkan
biaya rata-rata tertimbang dari item yang serupa pada awal periode dan biaya
item yang serupa yang dibeli atau diproduksi selama suatu periode.
Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap
penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan entitas.

2.4 Perhitungan Nilai Realisasi Neto Persediaan


Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha
biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang
diperlukan untuk membuat penjualan.

Paragraf 28
Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi neto secara
terpisah untuk setiap item dalam persediaan. Namun demikian, dalam
beberapa kondisi, penurunan nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika
dihitung terhadap kelompok item yang serupa atau berkaitan. Misalnya
barang-barang yang termasuk dalam lini produk dengan tujuan atau
penggunaan akhir yang serupa, yang diproduksi dan dipasarkan di wilayah

9
yang sama, dan tidak dapat dievaluasi terpisah dari item-item lain dalam lini
produk tersebut.

Paragraf 29
Estimasi nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang
tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang
diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini memertimbangkan fluktuasi harga
atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir
periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan kondisi yang ada pada akhir
periode.

Paragraf 30
Estimasi nilai realisasi neto juga mempertimbangkan tujuan pengadaan
persediaan yang dimiliki. Misalnya, nilai realisasi neto dari jumlah persediaan
yang dimiliki untuk memenuhi kontrak penjualan atau jasa yang bersifat pasti
didasarkan pada harga kontrak. Jika kontrak penjualan lebih sedikit daripada
jumlah persediaan yang dimiliki, maka nilai realisasi neto untuk kelebihannya
didasarkan pada harga jual umum.

2.5 Pengakuan Persediaan


Pengakuan Sebagai Beban
Paragraf 33
Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus
diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan
tersebut.Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai
realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada
periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali
penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi neto,
harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada
periode terjadinya pemulihan tersebut.

Paragraf 34

10
Beberapa persediaan dialokasikan ke pos aset lainnya,misalnya,
persediaan yang digunakan sebagai komponen aset tetap yang dibangun
sendiri. Persediaan yang dialokasikan ke aset lain dengan cara ini diakui
sebagai beban selama masa manfaat aset tersebut.

Pengungkapan
Paragraf 35
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
1. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan,
termasuk rumus biaya yang digunakan.
2. Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut
klasifikasi yang sesuai bagi entitas.
3. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual.
4. Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan.
5. Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah
persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.
6. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui
sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam
periode berjalan.
7. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan
yang diturunkan.
8. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

Paragraf 36
Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai
klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna
bagi pemakai laporan keuangan.Klasifikasi persediaan yang biasa
digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang
dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya
disebut pekerjaan dalam penyelesaian.

Paragraf 37

11
Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali
disebut sebagai beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya
diperhitungkan dalam pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual,
overhead produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi persediaan
yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga memungkinkan untuk
memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi.

Paragraf 38
Beberapa entitas mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang
mengakibatkan jumlah yang diungkapkan adalah selain biaya persediaan yang
diakui sebagai beban selama periode yang bersangkutan. Dalam format ini,
entitas menyajikan analisa beban menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat
dari beban. Dalam kasus ini, entitas mengungkapkan biaya yang diakui sebagai
beban untuk bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya
lainnya bersama-sama dengan jumlah perubahan neto persediaan pada periode
tersebut.

Contoh Penilaian Persediaan penghitungan HPP dengan metode FIFO


dan Rata-Rata Tertimbang

 Sebuah PT ABC melakukan beberapa transaksi selama bulan januari 2014


berikut rincian transaksinya:
 Tanggal 1 januari 2014 terdapat persediaan barang awal sebanyak 100
unit dengan harga perunit Rp 125.000
 Tanggal 5 januari 2014 terjadi pembelian barang dagangan sebanyak
75 unit dengan harga per unit 130.000
 Tanggal 10 januari 2014 terjadi penjualan barang dagangan sebanyak
125 unit dengan harga per unit 150.000
 Tanggal 15 januari 2014 terjadi pembelian barang dagangan sebanyak
80 unit dengan harga per unit 135.000

12
 Tanggal 20 januari 2014 terjadi pembelian barang dagangan sebanyak
50 unit dengan harga per unit 140.000
 Tanggal 25 januari 2014 terjadi penjualan barang dagangan sebanyak
100 unit dengan harga per unit 175.000
 Tanggal 30 januari 2014 terjadi pembelian barang dagangan sebanyak
75 unit dengan harga per unit 145.000

Penghitungan HPP dan Persediaan Akhir dengan metode FIFO


Ketika menghitung HPP dengan metode FIFO maka harga per unit
barang menggunakan harga perunit dari barang yang masuk terlebih dahulu
(mulai dari harga per unit persediaan awal dilanjutkan dengan harga per unit
barang yang dibeli pertama kali dan seterusnya). Sedangkan saat menghitung
persediaan akhir dengan metode ini dihitung dengan mengalikan barang yang
masih tersedia (barang pada ahir periode berjalan) dengan harga per unit
barang. Berdasarkan transaksi PT.ABC maka Harga pokok penjualan (HPP)
dan persediaan ahir dihitung sebagai berikut:

Perpetual

13
Dengan demikian HPP dalam bulan januari adalah 15.750.000 +
13.250.000 = Rp 29.000.000. Hal ini sama juga dengan jumlah HPP yang
diperoleh pada sistem periodik. Berikut untuk memperjelas dapat dilihat pada
gambar berikut:

Periodik

Penghitungan HPP dan Persediaan Akhir dengan metode Rata-Rata


Tertimbang
Berdasarkan soal di atas, maka perhitungan HPP dan persediaan akhir
dengan metode rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut:

Perpetual

Pembelian Penjualan Saldo


Jan'14 Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total
per Unit per Unit per Unit
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 100 Unit 125.000 12.500.000
5 75 Unit 130.000 9.750.000 175 Unit 127.143 22.250.000
10 125 Unit 127.143 15.892.857 50 Unit 127.143 6.357.143
15 80 Unit 135.000 10.800.000 130 Unit 131.978 17.157.143
20 50 Unit 140.000 7.000.000 180 Unit 134.206 24.157.143
25 100 Unit 134.206 13.420.635 80 Unit 134.206 10.736.508
30 75 Unit 145.000 10.875.000 155 Unit 139.429 21.611.508
HPP 29.313.492 Persediaan Akhir 21.611.508

14
Dengan demikian HPP dalam bulan januari adalah 29.313.492. Berbeda
dengan periodik, HPP yang diperoleh adalah 30.152.961. Berikut dapat dilihat
pada gambar di bawah ini:

Periodik

Harga
Jan'14 Unit Total
per Unit
1 100 Unit 125.000 12.500.000
5 75 Unit 130.000 9.750.000
15 80 Unit 135.000 10.800.000
20 50 Unit 140.000 7.000.000
30 75 Unit 145.000 10.875.000
Barang Yang
380 Unit 50.925.000
Tersedia

Biaya rata-rata tertimbang per unit 134.013


Persediaan 155 Unit
Persediaan Akhir 20.772.039
HPP 30.152.961

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih
yang lebih rendah.
 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian,biaya konversi dan
biaya lain-lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.
 Biaya persediaan harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk
pertama keluar pertama atau FIFO dan rumus rata-rata tertimbang.
 Estimasi nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang
tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang
diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini memertimbangkan fluktuasi
harga atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi
setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan kondisi yang
ada pada akhir periode.
 Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui
sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut.
Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi
neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada
periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut.

3.2 Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
kita semua. Apabila terdapat kesalahan kiranya dapat dimaklumi.

16
DAFTAR PUSTAKA

 ED PSAK 14 (Revisi 2015). 2015. Ikatan Akuntansi Indonesia.


 Staff.blog.ui.ac.id/PSAK/PSAK 14/Persediaan.
 www.ilmu-ekonomi.com/2012/03/pernyataan-standar-akuntansi-keuangan
 http://akuntansisiji.blogspot.com/2013/01/penilaian-persediaan-
barang.html

17