Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS PUTUSAN KEPAILITAN

CV MAJU JAYA BOGOR

(Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor : 54/Pailit/2012/PN.Niaga Jkt.Pst)

Oleh :

Nur Aisyah Thalib 11010115120002


Ilham Perwira Muda 11010115120004
Maghfiranisa Azizah 11010115120050
Hanisah Anugrah Ayu 11010115120062
Syavira Rani Arimawati 11010115120073
Tania Tri Hardiyanti 11010115120084
Femmy Syamana 11010115120087
Mohammad Bagus Wirawan 11010115140499

HUKUM KEPAILITAN DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN HUTANG (B)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2018
A. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kepailitan merupakan suatu proses di mana seorang debitur yang mempunyai kesulitan
keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh pengadilan, dalam hal ini adalah
pengadilan niaga, dikarenakan debitur tersebut tidak dapat membayar utangnya, Harta debitur
dapat dibagikan kepada para kreditur sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
sedangkan, kepailitan menurut UU Kepailitan yaitu Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang “kepailitan adalah sebagai
sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya
dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang”.

Perseroan Komanditer atau Commanditaire Vennootschap (CV) menurut ketentuan


Pasal 19 Ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) adalah:

“Persekutuan secara melepas uang yang juga dinamakan persekutuan komanditer,


didirikan antara satu orang atau beberapa sekutu yang secara tanggung-menanggung,
bertanggung jawab untuk seluruhnya pada pihak satu dan satu orang atau lebih sebagai
pelepas uang pada pihak lain.”
Kasus pailitnya CV MAJU JAYA BOGOR merupakan salah satu contoh dari kasus
kepailitan yang pernah ada . kasus ini dimulai karena adanya permohonan kepailitan yang di
lakukan oleh PT.BANK INTERNASIONAL INDONESIA yang telah didaftarkan di
Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tertanggal 16 Agustus
2012, dibawahregister Nomor : 54/Pailit/2012/PN.Niaga.Jkt.Pst. Pemohon, dalam
permohonan pailitnya mengklaim termohon mempunyai kewajiban yang telah jatuh tempo
dan dapat ditagih.
Dalam hal ini kami merasa kasus kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR Indonesia
sangat menarik untuk dianalisa berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, sehingga judul paper kami adalah
“Analisis Putusan Kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR “

Rumusan Masalah :

1. Bagaimana kasus posisi mengenai sengketa kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR?

2. Bagaimana tinjauan yuridis terhadap putusan kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR?


B. PEMBAHASAN

1. Kasus Posisi Sengketa Kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR


Bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 15 Agustus 2012, yang
telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat tertanggal 16 Agustus 2012, dibawah register Nomor :
54/Pailit/2012/PN.Niaga.Jkt.Pst., Permohonan Pernyataan Pailit ini diajukan
berdasarkan dan alasan yang diajukan Permohonan pernyataan Pailit terhadap
Termohon Pailit adalah sebagai berikut :
TERMOHON PAILIT MEMPUNYAI UTANG YANG TELAH JATUH
TEMPO DAN DAPAT DITAGIH
1. Pemohon Pailit adalah satu badan usaha Perbankan yang menghimpun dana
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada
masyarakat dalam bentuk kredit, dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat ;

 Pemohon Pailit :
PT.BANK INTERNASIONAL INDONESIA , Tbk. yang dalam hal ini
diwakili oleh Kuasa Hukumnya : M.HAZAIRIN TEDDY, SH., HERBUDI
GUNAWAN, SH., ROY EMRON, SH., Kesemuanya adalah Advokat dan
Konsultan Hukum pada Kantor “TEDDY, GUNAWAN & EMRON” Law
Firm.

2. Termohon Pailit adalah suatu badan usaha perseroan komanditer yang bidang
usahanya sebagaimana Maksud Perseroan di dalam Pasal 2 Akta Pendirian No. 23
tanggal 27 Juli 1994 ;

 Termohon Pailit :
CV. MAJU JAYA BOGOR Beralamat di jalan Raya Pajajaran No.89,
Baranangsiang, Bogor 16151, dengan Persero pengurus HALIM JAYADI
KURNIA.

3. Berdasarkan Akta Perjanjian Kredit No. 94 tanggal 3 Mei 2006, dan Akta
Perjanjian Kredit Pinjaman Promes Berulang No. 10 tanggal 6 Februari 2008,
yang dibuat dihadapan Mulyatma Soepardi, SH, Notaris di Kabupaten Bogor,
berikut segala akta perubahan dan/atau perpanjangannya, Termohon Pailit selaku
Debitur telah menerima Fasilitas Kredit dari Pemohon Pailit dalam bentuk :

a. Pinjaman Rekening Koran (PRK) sebesar Rp.2.000.000.000,- (dua miliar


rupiah), yang sudah jatuh tempo sejak 06 Agustus 2009 ;

b. Pinjaman Promes Berulang sebesar (PPB) Rp.1.000.000.000,- (satu miliar


rupiah), yang sudah jatuh tempo sejak 06 Agustus 2009 ;

4. Untuk tertibnya pembayaran kembali fasilitas kredit tersebut, Termohon Pailit


telah menyerahkan jaminan berupa :

a. Dua Bidang Tanah dan Bangunan dengan Sertifikat Hak Milik No. 252/Ciparigi,
Bogor dan No. 976/Ciparigi, Bogor keduanya terdaftar atas nama Halim Jayadi
Kurnia ;
b. Stock Barang Dagangan senilai Rp. 2.934.305.096,- (dua miliar sembilan ratus
tiga puluh empat juta tiga ratus lima ribu sembilan puluh enam rupiah)
c. Personal Guarantee dari Halim Jayadi Kurnia dan Neneng Kurniawaty ;

5. Terhitung sejak bulan Juni 2009 sampai dengan saat ini Termohon Pailit tidak lagi
membayar kewajiban hutang kepada Pemohon Pailit dan telah lalai
mengembalikan seluruh kewajibannya, meskipun Perjanjian Kredit tersebut di
atas telah berakhir (jatuh tempo) pada tanggal 6 Agustus 2009 dan Pemohon Pailit
telah memberikan beberapa kali peneguran kepada Termohon Pailit, terakhir
melalui Surat No. S-31/ SOM/TGE/0712 tanggal 4 Juli 2012 perihal Somasi dan
Pernyataan Wanprestasi dan Surat No. S-32/SOM/TGE/0712 tanggal 4 Juli 2012
perihal Somasi dan Pernyataan Wanprestasi ;

6. Total jumlah kewajiban utang Termohon Pailit yang sudah jatuh tempo dan tidak
dibayar kepada Pemohon Pailit per tanggal 21 Mei 2012 tercatat sebesar
Rp.8.908.770.607,85,- (delapan miliar sembilan ratus delapan juta tujuh ratus
tujuh puluh ribu enam ratus tujuh rupiah dan delapan puluh lima sen), dengan
rincian sebagai berikut :
I. Hutang Pokok PRK Rp. 2.000.000.000,

Tunggakan Bunga Rp. 5.160.248.863,

Denda Rp.143.204.985,

________________+

Jumlah Rp.7.303.453.848,

II. Hutang Pokok PPB Rp. 1.000.000.000,

Tunggakan Bunga Rp. 480.003.224,58,

Denda Rp. 105.826.035,27,


_________________+
Jumlah Rp. 1.585.829.259,85,

III. Biaya Asuransi Kebakaran Rp. 19.487.500,

7. Berdasarkan hal-hal yang Pemohon Pailit sampaikan tersebut di atas, terbukti


bahwa Termohon Pailit mempunyai utang kepada Pemohon Pailit yang telah jatuh
tempo dan dapat ditagih ;

8. Berdasarkan Salinan Asli Putusan No. 111/Pdt.G/2010/PN.Bgr tanggal 24


Agustus 2011 Jo. Putusan No. 27/Pdt/2012/PT.Bdg tanggal 24 April 2012,
Termohon Pailit ternyata juga memiliki hutang kepada kreditur lainnya antara lain
kepada :

a. PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Kantor Cabang Bogor Pajajaran,


beralamat di Jl. Raya Pajajaran No. 96 A-B Bogor 16153 ;

b. PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Kantor Cabang Bogor, Jl. Ir. H
Juanda No.52, Lt. 3, Bogor 16001 ;
9. Tanggal 25 Juli 2012 perihal Keterangan Debitur CV.Maju Jaya Bogor, yang
ditujukan kepada Kantor Hukum Teddy, Gunawan & Emron selaku Kuasa Hukum
Pemohon Pailit, mengkonfirmasikan kebenaran bahwa Termohon Pailit adalah
Debitur PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Kantor Cabang Bogor
Pajajaran dan kolektibilitas / Performa Kreditnya Macet ;

10. Berdasarkan Dokumen Asli Laporan Bank Indonesia No.Laporan


14/58840111/DPIP/PIK Tanggal Laporan 08/08/2012 untuk Posisi Data Terakhir
31/07/2012, Termohon Pailit juga memiliki hutang kepada PT.Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbk, Cabang Bogor dengan Kolektibilitas 5 (Macet) ;

11. Termohon Pailit terbukti mempunyai sedikitnya 2 (dua) Kreditur dan Termohon
Pailit mempunyai utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih yakni kepada
Pemohon Pailit ;

Hasil Putusan Hakim Pengadilan Negeri Niaga Jakarta Pusat :

1. Mengabulkan Permohonan Pernyataan Pailit yang diajukan oleh Pemohon


Pailit untuk seluruhnya ;

2. Menyatakan Termohon Pailit, CV.MAJU JAYA BOGOR, beralamat di Jalan.


Raya Pajajaran No.89, Baranangsiang, Bogor, dengan pesero Pengurus
HALIM JAYADI KURNIA, terakhir diketahui beralamat di Jalan Artzimar III
Blok A No.19, RT.004/RW.003, Tegal Gundil, Bogor Utara, Bogor 16152,
PAILIT dengan segala akibat hukumnya ;

3. Mengangkat Sdr.AGUS ISKANDAR, SH, MH., Hakim Niaga pada


Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas ;

4. Menunjuk dan mengangkat Sdri. Dr. Hj. TUTI SRI SUHARTI, SH, MH,
beralamat di Jalan Bungur Besar Raya Blok A8 No. 85, Kemayoran, Jakarta
Pusat, selaku KURATOR dalam Kepailitan Termohon Pailit atau selaku
PENGURUS jika masuk dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) ;
5. Menetapkan imbalan jasa Kurator dan biaya kepailitan akan ditetapkan
kemudian setelah Kurator menjalankan tugasnya ;

6. Menghukum Termohon untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini
yang hingga kini diperhitungkan sebesar Rp.7.616..000,- (tujuh juta enam
ratus enam belas ribu rupiah) ;

2. Tinjauan Yuridis putusan kepailitan CV MAJU JAYA BOGOR

1. Debitor yang dapat dipailitkan menurut UU Kepailitan

Menurut undang-undang kepailitan, yang dimaksud dengan debitor ialah orang yang
mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka
pengadilan. Ada beberapa unsur utama dalam pengertian debitor tersebut, yakni 1) orang, 2)
memiliki utang, 3) utang tersebut berasal dari perjanjian atau Undang-Undang, dan 4) dapat
ditagih di pengadilan. Pengertian orang dalam undang-undang kepailitan ialah perseorangan
atau korporasi baik itu korporasi berbadan hukum maupun bukan berbadan hukum dalam
likuidasi. Utang dalam UU Kepailitan adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing
baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontijen. Apabila
debitor tidak melaksanakan kewajiban utangnya, Kreditor menerima hak untuk mendapat
pelunasannya dari harta kekayaan debitor. Kemudian, unsur utang dapat ditagih di muka
pengadilan berarti bahwa utang tersebut berasal dari perjanjian yang sah.

Dalam Kasus CV MAJU JAYA BOGOR, Debitor yang diajukan pailit ialah CV MAJU
JAYA BOGOR. Hal tersebut dapat dilihat dalam penulisan pihak Termohon Pailit pada
putusan pengadilan tersebut. Selanjutnya, CV MAJU JAYA BOGOR diajukan pailit oleh
Kreditor nya karena memiliki utang kepada kreditor tersebut. Utang yang dimaksud berasal
dari Perjanjian yakni Perjanjian Kredit. Kedua hal tersebut akan dibahas di bagian
selanjutnya.

2. Syarat Pengajuan Pailit dalam pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan

Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan


“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya
satu utang yang telah jatuh waktu, dan dapat ditagih dinyatakan Pailit dengan Putusan
Pengadilan baik atas Permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih
Krediturnya”

Maka apabila yang ditentukan oleh Pasal 2 ayat (1) UU No.37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah terpenuhi ; berdasarkan
Pasal 8 ayat (4) UU No.37 Tahun 2004 dinyatakan bahwa “Permohonan pernyataan pailit
harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa
persyaratan untuk dinyatakann dalam pailit sebagaimana dalam pasal 2 ayat 1 telah
dipenuhi “ jadi dalam kasus ini dapat di buktikan bahwa termohon pailit memenuhi
ketentuan sebagaimana dalam pasal 2 aya1 tersebut sehingga dapat di pailitkan “
Dalam kasus ini Termohon memiliki lebih dari satu kreditor maka dari itu dapat dipailitkan
sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa debitur harus mempunyai
minimal dua kreditor.

3. Kedudukan CV sebagai badan usaha non-badan hukum

Sebagaimana telah dijelaskan pada poin a, bahwa debitor menurut UU Kepailitan


dapat berupa orang perseorangan maupun korporasi baik berbadan hukum ataupun bukan
badan hukum dalam likuidasi. Sebagaimana diketahui dalam hukum perdata, subjek hukum
terbagi menjadi 2 yakni orang dan badan hukum. Implikasi hal tersebut yang dapat
dikatakan sebagai subjek hukum salah satunya ialah memiliki harta kekayaan sendiri.

Dalam kasus ini yang menjadi pihak yang di pailitkan ialah CV (persekutuan
Komanditer) yang merupakan non badan hukum Ketentuan Pasal 19 Kitab KUHD tersebut
memperlihatkan bahwa dalam suatu persekutuan komanditer terdapat persekutuan
firma.Letak aturan persekutuan komanditer yang ada ditengah-tengah aturan mengenai
persekutuan firma, yaitu pasal 19, 20 dan 21 KUHD itu sudah sepatutnya, karena
persekutuan komanditer itu juga persekutuan firma dengan bentuk khusus. Kekhususannya
itu terletak pada adanya sekutu komanditer, yang pada persekutuan firma tidak ada. Pada
persekutuan firma hanya ada sekutu kerja “firmant”, sedangkan dalam persekutuan
komanditer,kecuali sekutu kerja, juga ada sekutu komanditer, yakni sekutu yang tidak
kerja, sekutu yang hanya memberikan pemasukan saja, dan tidak ikut mengurus
perusahaan. Sumber modal CV dalam menjalankan usahanya dapat ditinjau dari segi
internal maupun eksternal CV itu sendiri. Sumber modal internal yaitu dari pemasukan
modal (inbreng) para pengurus dan sumber modal eksternal misalnya melalui pinjaman dari
lembaga perbankan maupun lembaga non perbankan dengan jaminan tertentu. Apabila
pinjaman tersebut ternyata tidak dapat dikembalikan saat jatuh tempo dan telah dapat
ditagih maka CV tersebut dapat diajukan pailit ke Pengadilan Niaga namun dengan
ketentuan bahwa yang diajukan pailit dalam permohonan pailit ialah CV itu sendiri (CV
MAJU JAYA BOGOR) beserta sekutu-sekutu CV nya. Hal ini dikarenakan CV tidak
memiliki harta kekayaan sendiri, yang memiliki harta kekayaan ialah sekutunya. Tujuan
untuk dirumuskan pihak termohon pailit terhadap CV sedemikian rupa untuk melindungi
kreditor terhadap harta kekayaan debitor yang menjadi pelunasan piutangnnya. Jika hanya
CV yang diajukan sebagai termohon pailit, maka CV tidak memiliki harta kekayaan dan
hal ini akan membawa kerugian bagi kreditor.

4. Kedudukan Personal Guarantee CV MAJU JAYA BOGOR


Dalam kasus Kepailitan ini Termohon memberikan jaminan berupa Dua bidang tanah
dan bangunan dengan sertifikat Hak Milik nomor 252/ciparigi, Bogor dan nomor
976/ciparigi, Bogor keduanya terdaftar atas nama Halim Jayadi Kurnia, Stock barang
dagangan senilai Rp2.934.305.096, dan Personal guarantee dari Halim Jayadi Kurnia dan
Neneng Kurniawaty ,yang dimana sekutu pada CV ini juga memiliki peran sebagai
pengurus sekaligus personal Guarantee.Personal guarantee secara hukum termasuk kedalam
kategori penanggungan utang yang dalam sistim hukum nasional kita diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) pasal 1820-1850. Dalam pasal 1820 KUHPdt
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan penanggungan adalah suatu perjanjian, dimana
pihak ketiga, demi kepentingan kreditur, mengikatkan dirinya untuk memenuhi perikatan
debitur, bila debitur itu tidak memenuhi perikatannya dan hartanya sudah tidak mencukupi
lagi.
Pasal 1820-1850 telah diakomodir dalam UU Kepailitan yakni dalam pasal 164 sampai
dengan 165. Menurut pasal 164 UU Kepailitan bahwa putusan perdamaian (homologasi)
berlaku bagi debitor dan penanggung sebagai yang menanggung pelaksanaan perdamaian
tersebut. Kemudian menurut pasal 165 UU Kepailitan terutama pada ayat (2) bahwa Hak
kreditor terhadap benda pihak ketiga tetap dimilikinya seolah-olah tidak ada suatu
perdamaian.
Jika ketentuan-ketentuan KUHPerdata dan UU Kepailitan tersebut disimpulkan, maka
personal guarantee merupakan seorang debitor backup bagi debitor utama. Oleh karena itu,
menurut kami personal guarantee merupakan debitor yang dapat diajukan pailit. Namun,
persoalan selanjutnya ialah terkait personal guarantee dapat diajukan pailit sekaligus dalam
permohonan pailit debitor utama atau dapat diajukan hanya ketika harta debitor utama tidak
mencukupi harta pailit atau dengan kata lain terpisah. Menurut kami, personal guarantee
dapat diajukan terpisah dengan permohonan pailit debitor utama, namun tetap tidak
menghilangkan hubungan hukumnya dengan Kreditor. Jadi dengan kata lain, personal
guarantee akan dapat dipailitkan setelah harta pailit debitor utama tidak mencukupi.

D. KESIMPULAN
1. Pengajuan permohonan pailit oleh kreditor pemohon pailit terhadap termohon pailit
dalam hal ini berstatus sebagai CV haruslah diajukan dengan menyebut CV beserta
sekutu-sekutunya. Hal ini didasari dengan pasal 1 angka 3 dan angka 11 UU Kepailitan,
dan ketentuan mengenai status bukan badan hukum dari CV di KUHD
2. Personal guarantee dapat diajukan pailit jika harta pailit debitor utamanya tidak
mencukupi. Dasarnya adalah pasal 1820 KUHPerdata dan pasal 164 – 165 UU
Kepailitan