Anda di halaman 1dari 10

NPM : 26110160067

NAMA : SAUSAN RIHHADATULAISY

Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat didalam
bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan pelarut dan metode yang
tepat. Sedangkan ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi, bahan yang diekstraksi
merupakan bahan alam. (Depkes RI, 1986)

1. Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair adalah suatu teknik dalam suatu larutan (biasanya
dalam air) dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang tidak dapat saling
bercampur dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solute)
kedalam fase yang kedua. Pemisahan yang dapat dilakukan, bersifat sederhana,
cepat dan mudah (Basset dkk, 1994).

Prinsip yang digunakan dalam proses ekstraksi cair-cair adalah pada


perbedaan koefisien distribusi zat terlarut dalam dua larutan yang berbeda fase
dan tidak saling bercampur. Bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua larutan
yang saling bercampur, berlaku hukum mengenai konsen zat terlarut dalam kedua
fase pada kesetimbangan. Peristiwa ekstraksi cair-cair atau disebut ekstraksi saja
adalah pemisahan komponen suatu campuran cair dengan mengontakkan pada
cairan lain. Sehingga disebut juga ekstraksi cair atau ekstraksi pelarut (solvent
extract). Prinsip kerjanya adalah pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan.

2. Ekstraksi Cair-Padat
Ekstraksi padat-cair atau Leaching adalah transfer difusi komponen
terlarut dalam dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini
merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian
dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi.
Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut
dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan
hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan
yang larut karena efektivitasnya (Lucas, 1949).
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia
ditempatkan dalam selongsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa,
cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dan
dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul–molekul cairan penyari
yang jatuh ke dalam selongsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika
cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali
ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna
ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT atau
sirkulasi telah mencapai 20–25 kali. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan
dipekatkan (Sudjadi, 1986).
Prinsip ekstraksi padat-cair adalah adanya kemampuan senyawa dalam
suatu matriks yang kompleks dari suatu padatan, yang dapat larut oleh
suatu pelarut tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk tercapainya
kondisi optimum ekstraksi antara lain: senyawa dapat terlarut dalam pelarut
dengan waktu yang singkat, pelarut harus selektif melarutkan senyawa yang
dikehendaki, senyawa analit memiliki konsentrasi yang tinggi untuk memudahkan
ekstraksi, serta tersedia metode memisahkan kembali senyawa analit dari
pelarut pengekstraksi (Fajriati dkk, 2011).
A. Ekstraksi Secara Panas

Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi komponen kimia yang


tahan terhadap pemanasan seperti glikosida, saponin dan minyak-minyak menguap
yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga diperuntukkan
untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga pelarut organik mudah masuk ke
dalam sel untuk melarutkan komponen kimia (Tobo ,2001).

Metode ekstraksi yang termasuk cara panas yaitu :

1. Metode Refluks

Metode refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana cairan


penyari secara kontinyu menyari komponen kimia dalam simplisia cairan penyari
dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut dikondensasikan oleh pendingin
balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh
kembali ke labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara
berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam (Depkes RI,
1986).
Prinsip kerja metode refluks yaitu penarikan komponen kimia yang
dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama
dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada
kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali
menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas
bulat, demikian seterusnya berlangsung berkesinambungan sampai penyarian
sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak tiga kali setiap tiga sampai
empat jam. Filtrat yang dikumpulkan dan dipekatkan (Akhyar, 2010).

2. Metode Soxhlet

Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan,


cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi
menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia
dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah
melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna
yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika
diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi
(Depkes RI, 1986).
Soxhletasi adalah suatu metode pemisahan suatu komponen yang terdapat
dalam sampel padat dengan cara penyarian berulang–ulang dengan pelarut yang
sama, sehingga semua komponen yang diinginkan dalam sampel terisolasi dengan
sempurna. Pelarut yang digunakan ada 2 jenis, yaitu heksana (C6H14) untuk
sampel kering dan metanol (CH3OH) untuk sampel basah. Jadi, pelarut yang
dugunakan tergantung dari sampel alam yang digunakan. Soxhletasi merupakan
penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan
sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul
air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klonsong dan
selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon
(Nursaerah, 2011).

3. Metode Destilasi

Destilasi adalah suatu metode pemisahan Hukum Raoult berdasarkan


perbedaan titik didih. Untuk membahas destilasi perlu dipelajari proses
kesetimbangan fasa uap-cair; kesetimbangan ini tergantung pada tekanan uap
larutan. Hukum Raoult digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada
proses pemisahan yang menggunakan metode destilasi; menjelaskan bahwa
tekanan uap suatu komponen yang menguap dalam larutan sama dengan tekanan
uap komponen murni dikalikan fraksimol komponen yang menguap dalam larutan
pada suhu yang sama (Armid, 2009).
Prinsip destilasi adalah penguapan cairan dan pengembunan kembali uap
tersebut pada suhu titik didih. Titik didih suatu cairan adalah suhu dimana tekanan
uapnya sama dengan tekanan atmosfer. Cairan yang diembunkan kembali disebut
destilat. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya, dan
memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau dari zat cair lainnya
yang mempunyai perbedaan titik didih cairan murni. Pada destilasi biasa, tekanan
uap di atas cairan adalah tekanan atmosfer (titik didih normal). Untuk senyawa
murni, suhu yang tercatat pada termometer yang ditempatkan pada tempat
terjadinya proses destilasi adalah sama dengan titik didih destilat (Sahidin, 2008).

4. Metode Infusa
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati
dengan air pada 90-980C selama 15 menit. Umumnya infus selalu dibuat dari
simplisia yang mempunyai jaringan lunak, yang mengandung minyak atsiri, dan
zat-zat yang tidak tahan pemanasan lama. Prinsip kerja dari metode ini adalah
proses pemanasan dengan cairan penyarinya adalah air (Depkes RI, 1979).
Infus atau rebusan obat adalah sediaan air yang dibuat dengan
mengekstraksi simplisia nabati dengan air suhu 90°C selama 15 menit, yang
mana ekstraksinya dilakukan secara infundasi. Penyarian adalah peristiwa
memindahkan zat aktif yang semula di dalam sel ditarik oleh cairan penyari
sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari. Secara umum penyarian akan
bertambah baik apabila permukaan simplisia yang bersentuhan semakin luas
(Ansel, 1989).
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstrak sismplisia
nabati dengan air pada suhu 90o C selaam 10-15 menit yang dihitung sejak air
mendidih. Jika bahan yang digunakan untuk membuat dekok berasal dari bahan
bertekstur keras, bahan yang digunakan dalam infusa berasal dari bahan yang
lunak (simplisi, daun dan bunga). Cara membuat infusa hampir sama dengan
merebus teh. Siapkan simplisia kering 25-30 gram atau bahan segar 75-90 gram.
Bahan tersebut direbus dalam air mendidih 500 cc selaam 15b menit atau sampai
volumenya menjadi 250 cc. Setelah direbus airnya disaring dan hasil penyaringan
ini disebut infusa (Santoso, 1993).

5. Metode Dekokta
Dekokta adalah suatu proses penyarian yang prinsipnya hampir sama
dengan infus, perbedaannya pada dekokta digunakan pemanasan selama 30 menit
dihitung mulai suhu mencapai 90̊C. Cara ini dapat dilakukan untuk simplisia yang
mengandung bahan aktif yang tahan terhadap pemanasan (Depkes RI, 1986).
Dekokta adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90 C selama
30 menit. Peguapan ekstrak larutan dilakukan dengan penguap berpusing dengan
pengurangan tekanan yaitu rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak yang
kentaln (Harborne,1987).

B. Ekstraksi Seacara Dingin


Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan
pemanasan. Hal ini diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung
komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai
tekstur yang lunak (Depkes RI, 1986).
Metode ekstraksi yang termasuk cara dingin yaitu:
1. Metode Maserasi

Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang


dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya
(Depkes RI, 1986).

Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung


komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung
zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan
metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada
penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Depkes
RI, 1986).

Maserasi umumnya dilakukan dengan cara: memasukkan simplisia yang


sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian dalam
bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian ditambahkan
75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan selama 5 hari pada temperatur
kamar dan terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5
hari, cairan penyari disaring ke dalam wadah penampung, kemudian
ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk
kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari 100 bagian. Sari yang
diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya
selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan dan filtratnya dipekatkan
(Depkes RI, 1986).

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan


peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu,
kerusakan pada komponen kimia sangat minimal. Adapun kerugian cara
maserasi ini adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna
(Depkes RI, 1986).

2. Metode Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui
serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi
adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian
bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah
melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-
sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah
disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari
cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk
menahan gerakan ke bawah (Depkes RI, 1986).
Daftar Pustaka

Akhyar. 2010. Uji Daya Hambat dan Analisis KLT Bioautografi Ekstrak Akar dan Buah
Bakau (Rhizophora stylosa Griff.) terhadap Vibrio harveyi. Skripsi. Fakultas
Farmasi Universitas Hasanuddin Makassar.

Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta : UI Press.

Armid. 2009. Penuntun Praktikum Metode Pemisahan Kimia. Kendari : Unhalu.


Basset, J., dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta :
EGC.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.

Depkes RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Ditjen POM.


Fajriati, I., Rizkiyah, M., Muzakky, 2011. “Studi Ekstraksi Padat Cair Menggunakan
Pelarut HF dan HNO3 pada Penentuan logam Cr dalam Sampel Sungai di Sekitar
Calon PLTN Muria”. Jurnal ILMU DASAR, Vol. 12 No. 1, 15 : 22.

Harborne J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Institut Teknologi Bandung.


Lucas. 1949. Principles and Practice in Organic Chemistry. New York : Jhon Willey and
Sons, Inc.

Nursaerah, R. 2011. Mempelajari Ekstraksi Pigmen Antosianin dari Kulit Manggis


dengan Berbagai Jenis Pelarut. Bandung : Universitas Pasundan.

Sahidin. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Kendari: Unhalu.


Santoso, S. 1993. Perkembangan Obat Tradisional Dalam Ilmu Kedokteran di
Indonesia dan Upaya Pengembangannya Sebagai Obat Alternatif. Jakarta:
FKUI.
Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta : UGM Press.

Tobo, Mufidah. 2001.Buku pegangan laboratorium fitokimia 1. Makassar: UnHas.