Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit menular seksual (PMS) dimaksudkan sebagai penyakit yang ditularkan secara
langsung dari seseorang ke orang lain melalui kontak seks. Namun penyakit gonore ini dapat
juga ditularkan melalui ciuman atau kontak badan yang dekat. Kuman patogen tertentu yang
mudah menular dapat ditularkan melalui makanan, transfusi darah, alat suntik yang digunakan
untuk obat bius.
Penyakit menular seksual juga disebut penyakit venereal merupakan penyakit yang paling
sering ditemukan di seluruh dunia. Pengobatan penyakit ini efektif dan penyembuhan cepat
sekali. Namun, beberapa kuman yang lebih tua telah menjadi kebal terhadap obat-obatan dan
telah menyebar ke seluruh dunia dengan adanya banyak perjalanan yang dilakukan orang-orang
melalui transportasi udara.
Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan
kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan. Salah satu di antara PMS ini adalah
penyakit gonore yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi selaput
lendir saluran kencing, leher rahim, dubur dan tenggorokan atau selaput lendir Gonore adalah
PMS yang paling sering ditemukan dan paling mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam
penyakit kelamin ini adalah “kencing nanah”. Masa inkubasi 3-5 hari.
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae
yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih
mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya,
terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan
menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
 Kuman : Neisseria gonorrhea
 Perantara : manusia
 tempat kuman keluar : penis, vagina, anus, mulu
 cara penularan : kontak seksua langsung
 tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut
 yang bisa terkena : orang yang berhubungan seks tak aman

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan gonorea?

1
2. Bagaimana etiologi dari gonorea?
3. Bagaimana manifestasi klinis gonorea?
4. Bagaimana patogenesis dari gonorea?
5. Apa komplikasi dari gonorea?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostic dari gonorea?
7. Bagaimana cara pengobatan gonorea?
1.3 Tujuan
a) Tujuan Umum
Untuk pemenuhan tugas Kebuthuan Dasar Manusia II mengenai Asuhan
Keperawatan Klien dengan Gonorea serta Mahasiswa dapat mengetahui dan mencegah
terjadinya Gangguan Gonorea pada pasien.
b) Tujuan Khusus
 Untuk Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Gonorea
 Untuk Mengetahui Apa saja Etiologi dari Gonorea
 Untuk Mengetahui Bagaimana Manifestasi Klinis dari Gonorea
 Untuk Mengetahui Patogenesis dari Gonorea
 Untuk Mengetahui Komplikasi dari Gonorea
 Untuk Mengetahui Pemeriksaan diagnostic dari Gonorea
 Untuk Mengetahui Bagaimana Terapi Pengobatan Gonorea
1.4 Manfaat

a) Untuk Mahasiswa
Makalah ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan tentang Gonorea
untuk mahasiswa. Dan dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa apabila mendapat tugas
untuk membuat makalah Kebutuhan Dasar Manusia II.
b) Untuk Kampus
Makalah ini dapat menjadi tambahan bahan bacaan di perpustakaan. Dan dapat di
gunakan juga sebagai bahan acuan untuk mencari referensi tentang KDM II mengenai
Asuhan Keperawatan Klien dengan Gonorea.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gonorea

Gonorhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea
yang penularannya melalui hubungan kelamin baik melalui genito-genital, oro-genital, ano-
genital. Penyakit ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan,
dan konjungtiva. (Brunner dan Suddarth,2001)
2
Gonorhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea
yang penularannya melalui hubungan kelamin baik melalui genito-genital, oro-genital, ano-
genital. Penyakit ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan,
dan konjungtiva. Gonore dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lain terutama
kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi
selaput di dalam panggul sehingga menyebabkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.
Rendahnya sistem imun didalam tubuh seseorang akan mempermudah penyakit ini
berkembang didalam tubuh. Dalam keadaan biasa apabila sistem imun terdedah kepada
organisma asing ia bertindak-balas dengan menghasilkan antibodi dan rangsangan limfosit
spesifik-antigen, yang membawa kepada pemusnahan mikroorganisma dan peneutralan
produk-produk toksik (toksin). Fungsi penting sistem imun ialah untuk mengawasi sel-sel
tubuh supaya tidak menimbulkan keabnormalan. fungsi sistem imun: Melindungi tubuh dari
invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi
asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam
tubuh,Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan
jaringan,Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal,Sasaran utama: bakteri patogen
& virus Leukosit merupakan sel imun utama (disamping sel plasma, makrofag, & sel
mast).Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh
sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar,
sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan
sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya
melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan,penyakit gonorea dapat berkembang dalam tubuh.
Penyakit Gonore ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan diumumkan pada tahun
1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup Neisseria dan dikenal ada 4 spesies, yaitu N. Gonorrhoeae dan
N. Meningitidis yang bersifat patogen serta N.Catarrhalis dan N. Pharyngis ini sukar dibedakan kecuali
dengan tes fermentasi.Gonore termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 u
dan panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram
bersifatGram negatif, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas.
Dan akan cepat mati dalam keadaaan kering, tidak tahan suhu 39 derejat C, dan juga tidak tahan pada
zat desinfektan.Secara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe yaitu, tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili

3
yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat non virulen.Pili akan melekat
pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah
daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang ( immatur ),
yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.
2.2 Etiologi

Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea / Gonokok yang
bersifat patogen yang di temukan oleh Neisser dari Polandia pada tahun1879 dan baru
diumumkan apada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup Neisseria dan dikenal
ada 4 spesies, yaitu N. gonorrhoeae dan N. meningitidis yang bersifat patogen serta N.
cattarrhalis dan N. pharyngis sicca yang bersifat komensal. Keempat spesies ini sukar
dibedakan kecuali dengan tes fermentasi.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk bji kopi berukuran lebar 0,8 u dan
panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarna gram bersifat
gramnegatif , terlihat di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat
mati dalam keadaan kering , tidak tahan suhu di atas 39°C dan tidak tahan zat disinfektan.
Secara marfalogi gonogok terdiri atas 4 tipe ,yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili yang
yang bersifat virulen dan bersifat nonvirulen pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan
menimbulkan reaksi radang.
Kuman Neisseria gonorrhea paling mudah menginfeksi daerah dengan mukosa epitel
kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang atau imatur, misalnya pada vagina wanita
yang belum pubertas.
Galur N. gonorrhoeae penghasil penisilinase (NGPP) merupakan galur gonokokus yang
mampu menghasilkan enzim penisilinase atau beta-laktamase yang dapat merusak penisilin
menjadi senyawa inaktif, sehingga sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun
gejala dengan peninggian dosis
Bakteri ini melekat dan menghancurkan membrane sel epitel yang melapisi selaput
lender, terutama epitel yang melapisi kanalis endoserviks dan uretra. Infeksi ekstragenital di
faring, anus, dan rectum dapat dijumpai pada kedua jenis kelamin. Untuk dapat menular,
harus terjadi kontak langsung mukosa ke mukosa.

Menurut mutaqqin (2011) Organisme patogenik (Neisseria Gonorhea) biasanya


memasuki tubuh melalui vagina, menjalar melalui kanalis servikalis dan masuk kedalam

4
uterus. Di bawah berbagai kondisi, organisme dapat memasuki salah satu atau ke dua tuba
faloppi dan ovarium serta kedalam pelvis. Pada infeksi bakteri yang terjadi setelah kelahiran
atau aborsi, dan beberapa infeksi yang berhubungan dengan alat intrauterin, patogen
menyebar secara langsung melalui jaringan yang menyangga uterus secara limfatic atau
melalui pembuluh darah. Peningkatan kebutuhan suplai darah yang dibutuhkan oleh plasenta
memungkinkan infeksi memiliki lebih banyak saluran untuk memasukinya. Infeksi pasca
persalinan daan pasca aborsi ini cenderung untuk terjadi secara unilateral.

Pada infeksi gonorhea, gonokokus masuk melalui kanalis servikalis dan ke dalam
uterus, dimana lingkungan terutama sekali selama menstruasi, memungkinkan mereka untuk
memperbanyak diri dengan cepat dan menyebar ke tuba faloppi dan ke dalam pelvis. Infeksi
biasanya bilateral. Pada kasus yang terjadi, beberapa penyakit (misal, Tuberculosis)
mendapat akses ke organ reproduktif melalui aliran darah.
2.3 Manifestasi Klinik

a) Pada pria
 Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-
5 hari, kadang - kadang lebih lama karena pengobatan diri sendiri tapi dengan
dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan.
 Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra kemudian diikuti
nyeri ketika berkemih
 Disuria yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai dengan
keluarnya lendir mukoid dari uretra
 Retensi urin akibat inflamasi prostat
 Keluarnya nanah dari penis atau kadang-kadang sedikit mengandung
darah.
 Tempat masuk kuman pada pria di uretra manimbulkan uretritis. Yang
paling sering adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar sehingga terjadi
komplikasi. Komplikasi bisa berupa komplikasi lokal, yaitu : tisonitis,
parauretritis, littritis, dan cowperitis. Komplikasi asenden, yaitu : prostatitis,
vesikulitis vas deferentitis/funikulitis epididimitis, trigonitis ; dan komplikasi
diseminata.
 Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas sewaktu kencing terdapat pada
ujung penis atau bagian distal uretra, perasaan nyeri saat ereksi.

5
b) Pada wanita
 Gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi
 Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau
bulan (asimtomatis)
 Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Namun, beberapa penderita
menunjukkan gejala yang berat seperti desakan untuk berkemih
 Nyeri ketika berkemih
 Keluarnya cairan dari vagina
 Demam
 Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur, uretra, dan
rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual
 Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret
mukopurulen. Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubunga seks
melalui anus, dapat menderita gonore di rektumnya. Penderita akan merasa tidak
nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah disekitar
anus tampak merah dan kasar serta tinja terbungkus oleh lendir dan nanah.
 Pada umumnya terdapat rasa sakit pada punggung bagian bawah, bersama-
sama keadaan tidak enak badan

2.4 Patogenesis Gonorea

Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang patogenesis dari


mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang invasi gonokokkus ke dalam sel
host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor virulen yang terlibat dalam mekanisme
perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan peranan penting dalam patogenesis
gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host, yang mungkin merupakan alasan mengapa
gonokokkus yang tidak memiliki pili kurang mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili
memblok adhesi epithelial dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit.
Juga diketahui bahwa ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting dan
ekspresi full-length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi
maksimal.2,3,8,9. Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel kolumnar dari
uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria dan wanita, kelenjar
Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer yang terjadi pada wanita yang belum
pubertas terjadi di daerah epitel skuamosa dari vagina.
2.5 Komplikasi

6
a) Pada Pria
 Tysonitis, biasanya terjadi pada pasien dengan preputium yang sangat
panjang dan kebersihan yang kurang baik. Diagnosis dibuat berdasarkan
ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri
tekan. Bila duktus tertutup akan menjadi akses dan merupakan sumber infeksi
laten.
 Parauretritis, sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka
atau hipospadia. Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara
parauretra.
 Radang kelenjar Littre (littritis), tidak mempunyai gejala khusus. Pada
urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat
dapat terjadi abses folikular. Diagnosis komplikasi ini ditegakkan dengan
uretroskopi.
 Infeksi pada kelenjar Cowper (Cowperitis), dapat menyebabkan abses.
Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan di daerah perineum disertai rasa penuh
dan panas, nyeri pada waktu defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati, abses akan
pecah melalui kulit perineum, uretra, atau rektum dan mengakibatkan proktitis.
 Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak di daerah perineum
dan suprapubis, malaise, demam, nyeri kencing sampai hematuria, spasme otot
uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar, dan
obstipasi. Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal,
nyeri tekan, dan adanya fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati abses
akan pecah, masuk ke uretra posterior atau ke arah rektum mengakibatkan
proktitis.
 Gejala prostatitis kronik ringan dan intermiten, tetapi kadang-kadang
menetap. Terasa tidak enak di perineum bagian dalam dan rasa tidak enak bila
duduk terlalu lama. pada pemeriksaan prostat teraba kenyal, berbentuk nodus, dan
sedikit nyeri pada penekanan. Pemeriksaan dengan pengurutan prostat biasanya
sulit menemukan kuman gonokok.
 Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus
ejakulatorium, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau apididimitis akut.
Gejala subyektif menyerupai gejala prostatitis akut, yaitu demam, polakisuria,
hematuria terminal, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi, dan sperma

7
mengandung darah. Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula
seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis, memanjang di atas prostat.
Ada kalanya menentukan batas kelenjar prostat yang membesar.
 Pada vas deferentitis atau funikulitis, gejala berupa perasaan nyeri pada
daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.
 Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya
disertaivas deferentitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini
adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan oleh pengelolaan atau
kelalaian pasien sendiri. Epididimis dan tali spermatika membengkak dan teraba
panas, juga testis, sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa
nyeri sekali. Bila mengenai kedua epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.
 Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika
urinaria. Gejalanya berupa poliuria, disuria terminal, dan hematuria.

b) Pada Wanita
 Parauretritis. Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.
 Kelenjar bartholin dan labium mayor pada sisi yang terkena membengkak,
merah dan nyeri tekan, terasa nyeri sekali bila pasien berjalan dan pasien sukar
duduk. Abses dapat timbul dan pecah melalui mukosa atau kulit. Bila tidak diobati
dapat rekurens atau menjadi kista.
 Salpingitis, dapat bersifat akut, subakut atau kronis. Ada beberapa faktor
predisposisi, yaitu masa puerpurium, setelah tindakan dilatasi dan kuretase, dan
pemakaian IUD. Infeksi langsung terjadi dari serviks melalui tuba fallopi ke
daerah salping dan ovum sehingga sehingga dapat menyebabkan penyakit radang
panggul (PRP). Gejalanya terasa nyeri didaerah abdomen bawah, duh tuba vagina,
disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal. PRP yang simtomatik
atau asimtomatik dapat menyebabkan jaringan parut pada tuba sehingga dapat
mengakibatkan infertilitas atau kehamilan diluar kandungan.
 Diagnosis banding yang perlu dipikirkan antara lain kehamilan di luar
kandungan, apendisitis akut, abortus septik, endometriosis, ileitis regional, dan
divertikulitis. Penegakan diagnosis dilakukan dengan pungsi kavum Douglas,
kultur, dan laparoskopi.
2.6 Pemeriksaan Diagnostik

8
1) Sediaan Langsung

Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan diplokokus gram
negatif, intraseluler dan ekstraseluler, leukosit PMN. Bahan duh tubuh pada pria diambil
dari daerah setelah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari serviks, uretra,
muara kelenjar bartholin dan rektum. Asupan posistif apabila ditemukan diplokokus gram
negative intrasel. Sayangnya, metode pewarnaan ini kurang andal untuk didiagnosis
gonore pada perempuan, pasien asimtomatik dan infeksi direktum atau faring.
2) Kultur (Biakan)
Untuk memastikan diagnosis harus dilakukan pembiakan dari semua kemungkinan
tempat infeksi. Kuman memerlukan waktu 48 jam – 96 jam untuk tumbuh dalam biakan,
dan berdasarkan anamnesis dan gejala, atau riwayat pajanan, terapi antibiotic biasanya
sudah dimulai sebelum hasil diperoleh, pembiakan (kultur) menggunakan media yaitu :
 Media transport, misalnya media stuart dan media transgrow (merupakan
gabungan media transpor dan pertumbuhan yang selektif dan nutritif untuk
N.gonorrhoeae dan N.meningitidis).
 Media pertumbuhan, misalnya Mc Leod’s chocolate agar, media thayer
martin (selektif untu mengisolasi gonokok), agar thayer martin yand
dimodifikasi.
3) Tes Definitif
 Tes Oksidasi : Semua golongan Neisseria akan bereaksi positif
 Tes fermentasi : Kuman gonokokus hanya meragikan glukosa
4) Tes Beta Laktamase
Hasil tes positif ditunjukkan dengan perubahan warna kuning menjadi merah apabila
kuman mengandung enzim beta laktamase
5) Tes Thomson
Dengan menampung urine pagi dalam dua gelas tes ini digunakan untuk mengetahui
sampai dimana infeksi sudah berlangsung.
6) Tes Amplifikasi DNA
Uji –uji amplifikasi DNA dengan menggunakan metode teaksi berantai polymerase
( PCR ) dan reaksi berantai ligase ( LCR ) digunakan dengan secret vagina atau servik
atau amplifikasi DNA dapat dilakukan pada specimen urin untuk menghindari rasa tidak
nyaman akibat pengambilan sediaan apusan dari uretra. Sayangnya specimen urin tidak

9
sesensitif pada permpuan dengan infeksi uretra. Infeksi klamidia yang sering menyertai
infeksi gonorea dapat didiagnosis pada specimen yang sama. Uji – uji amplifikasi DNA
semakin banyak tersedia dan popular karena tingga sensitifitas dan kemudahan dalam
menangani dan mengirim specimen. Uji – uji non biakan misalnya deteksi antigen dengan
antibody limunofluoresensi langsung ( DFA ) dan enzyme immunosorbent assay ( EIA )
kurang dikembangkan dan jarang digunakan.
2.7 Terapi Pengobatan Gonorea
1. Medikamentosa
Karena meningkatnya insiden yang cukup mengkhawatirkan dari N gonorrhoeae
yang resisten terhadap antibiotika, termasuk N gonorrhoeae penghasil penisilinase
( PPNG ) , N gonorrhoeae yang resisten tetrasiklin ( TRNG ), dan strain dengan resisten
yang berperantara kromosom terrhadap berbagai antibiotika, maka terapi awal dengan
sefriakson harus sangat dipertimbangkan untuk pengobatan infeksi N gonorrhoeae
disemua lokasi anatomis. Uji kepekaan rutin dan uji penilaian kesembuhan harus
diperoleh bila digunakan regimen yang tidak mengandung seftriaksone.
a) Infeksi uretra, endoserviks, faring, atau rectum tanpa komplikasi pada orang
dewasa
 Seftriaksone, 25 mg secara intramuscular, sebagai dosis tunggal
 Bila ada kemungkinan disertai infeksi klamidia, berikan juga doksisiklin,
100 mg secara oral 2x sehari selama 7 hari, tetrasiklin 500 mg secara oral 4x
sehari selama 7 hari, eritromisin basa / strearat 500 mg secara oral 4x sehari
selama 7 hari, eritromisin etilsuksinat 800 mg secara oral 4x sehari selama 7 hari /
ezitromisin 1 g secara oral sekali.
b) Gonore pada pasien yang alergi penisilin.
Pada pasien yang tidak dapat menerima seftriakson berikan spektinomisin, 2 gram
secara intramuscular. Alternative lain adalah siprofloksasin, 500 mg secara oral sebagai
dosis tunggal; ofloksasin, 400 mg secara oral sekali; atau sefiksim, 400 mg secara oral
sekali. Hanya kalau infeksi terbukti dari strain non-PPNG dapat digunakan penisilin
misalnya amoksisilin, 3 gram secara oral dengan probenesit 1 gram. Semua regimen ini
harus diikuti dengan doksisiklin, 100 mg 2x sehari selama 7 hari, atau tetraksiklin, 500
mg secara oral setiap 6 jam selama 7 hari, untuk mengobati infeksi klamidia yang
menyertai. Spektinomisin tidak boleh digunakan untuk mengobati infeksi faring. Kalau

10
infeksi faring tidak dapat diterapi dengan seftriakson, harus diberikan siprofloksasin, 500
mg sebagai dosis tunggal.
c) Kontak seksual sebelum 30 hari sebelumnya harus diperiksa dan diterapi dengan
tepat sesuai dengan protocol terdahulu.
d) Gonore pada kehamilan.
Berikan seftriakson, 250 mg secara intramuscular sekali. Bila terdapat alergi
penisilin yang membahayakan jiwa, berikan spektinomisin, 2 gram secara intramuscular.
Eritromisin, 500mg 4x sehari selama 7 hari, harus ditambahkan pada semua regimen
untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan infeksi klamidia.
e) Infeksi gonokokus diseminata.
Biasanya diperlukan perawatan rumah sakit. Salah satu dari regimen antibiotika
berikut sudah memadai.
 Seftriakson 1 g secara intramuscular atau secara intravena 1x sehari.
 Sefotaxim 1g secara intravena setiap 8 jam.
 Seftizoksim 1 g secara intravena setiap 8 jam.
 Pasien yang alergi terhadap obat β laktam harus diterapi dengan
spektinomisin, 2 g secara intramuscular setiap 12 jam.
 Hanya bila organism penyebab infeksi itu terbukti peka terhap penisilin,
terapi dapat diganti ampisilin, 1 g setiap 6 jam.
 Pasien harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya infeksi klamidia dan
juga diterapi secara empiris dengan doksisiklin atau tetrasiklin.
 Pasien yang taat dapat dipulangkan 24-48 jam setelah gejala membaik
untuk menyelesaikan seluruh terapi antibiotika selama 7-10 hari dengan
sefiksin, 400 mg secara oral, 2x sehari, atau amoksilin, 500 mg dengan asam
klavolanak 3x sehari, atau pada orang dewasa yang tidak hamil, dengan
siprofloksasim, 500 mg 2x sehari.
f) Kegagalan terapi.
Infeksi yang terjadi setelah terapi dengan seftriakson biasanya adalah akibat
reinfeksi dan bukannya kegagalan regimen terapi . pasien dengan gejala yang berlanjut
setelah terapi yang tepat, harus menjalani pembiakan N Gonorrhoeae dengan uji
kepekaanterhadap semua isolate. Jiak hasil biakan negative, diagnosis uretritis
nongonokokus harus dipertimbangkan dan diberikan terapi dengan doksisiklin.
2. Nonmedikamentosa
a) Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan tentang:
 Bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya

11
 Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
 Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan pasangan seks
tetapnya hindari seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak
dapat dihindarkan
 Cara-cara menghindara infeksi PMS dimasa datang
b) Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GONOREA

3.1 Pengkajian
Anamnese
a. Riwayat Keperawatan
a. Identitas
Meliputi :
 Nama,
 Umur : angka terjadi pada perempuan berusia 15 – 19 th
dan laki-laki berusia 20 – 24 tahun
 Jenis kelamin : bisa terjadi pada kedua jenis kelamin tetapi
angka tertinggi pada perempuan
 Agama
 Suku bangsa : angka gonnorea di Amerika serikat lebih
tinggi daripada di negara-negara inustri lainnya
 Pekerjaan
 Pendidikan
 Status perkawinan
 Alamat
 Tgl MRS.
b. Keluhan Utama
Klien biasanya mengatakan nyeri saat kencing namun ada juga yang
asimtomatik.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah klien pernah mengalami penyakit seperti ini
sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Sekarang

12
P = Tanyakan penyebab terjadinya infeksi ?
(Terinfeksinya dikarenakan sering berhubungan seks tanpa pengaman )
Q = Tanyakan bagaimana gambaran rasa nyeri tersebut.
(Berupa rasa gatal, panas sewaktu kencing terdapat pada ujung penis atau
bagian distal uretra, perasaan nyeri saat ereksi)
R = Tanyakan pada daerah mana yang sakit, apakah menjalar …?
(Rasa tidak nyaman pada uretra kemudian diikuti nyeri ketika berkemih)
S = Kaji skala nyeri untuk dirasakan.
(Rata-rata nyeri berskala 7)
T = Kapan keluhan dirasakan ?
(Keluhan dirasakan pada saat akan berkemih)
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan pada kx apakah ada anggota keluarga px yang menderita
penyakit yang sama seperti yang diderita px sekarang dan juga apakah ada
penyakit keturunan yang di derita keluarganya.
b. Pola – Pola Fungsi Kesehatan
 Pola persepsi dan tata laksana hidup
Perlu dikaji bagaimana kebiasaan kesehatannya dalam kehiduoan sehati –
harinya, misalnya PH dari klien seperti mandi dan gosok, gigi serta
kebiasaan – kebiasaan dalam mengkonsumsi minum – minuman keras dan
perokok.
 Pola tidur dan istirahat
Perlu dikaji bagaimana kebiasaan pola tidur klien setiap harinya, sebelum
dan setelah sakit, biasanya klien akan mengalami gangguan pola tidur
karena proses inflamasi dan pembengkakan jika telah terjadi komplikasi.
 Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji kegiatan keseharian dari klien, dan keteraturan klien dalam
berolahraga.
 Pola hubungan dan peran
Perlu dikaji bagaimana peran klien dengan keluarganya dan lingkungan
sekitarnya, biasanya pada klien dengan gonore hubungan peran dengan

13
keluarga terutama suami atau istri kurang baik sehingga menyebabkan
pelampiasannya dengan orang lain yang telah terjangkit gonore.

 Pola persepsi dan konsep diri


Perlu dikaji bagaimana persepsi klien dengan kondisi tubuhnya yang
menderita gonore, apakah hal ini akan mempengaruhi konsep diri klien
yang menyebabkan klien ini akan merasa rendah diri.
 Pola sensori dan kognitif
Perlu dikaji tingkat pengetahuan klien mengenai penyakit yang dideritanya
dan juga kognitif klien, misalnya tingkatan pendidikannya. Biasanya pada
klien gonore tingkat pendidikannya rendah sehingga mereka sulit
mendapatkan pekerjaan dan akan melakukan pekerjaan yang bisa
menyebabkan tertularnya gonore.
 Pola penanggulangan stress
Perlu dikaji bagaimana klien dalam menangani stress yang dialami
berhubungan dengan kondisi sakitnya.
 Pola tata nilai dan kepercayaan
Perlu dikaji bagaimana kebiasaan beribadah klien, serta kepercayaannya.
 Pola reproduksi dan seksual
Perlu dikaji apakah klien masih dalam masa subur atau tidak, berapa
jumlah anaknya, apakah menggunakan alat kontrasepsi dan dengan kondisi
sakitnya saat ini bagaimana pola seksualitas dari klien, biasnya klien
mengalami perubahan dalam pola seksualnya karena adanya inflamasi
pada organ reproduksinya.
 Pola eliminasi
Perlu dikaji frekuensi dan konsistensi BAB serta BAK klien setiap harinya,
apakah mengalami gangguan atau tidak, biasanya klie mengalami disuria
dan sulit untuk BAB serta diikuti dengan rasa nyeri.
 Pola nutrisi dan metabolisme
Klien perlu dikaji dengan kondisi sakitnya, apakah klien mengalami
gangguan pola makan, namun biasanya klien akan merasa malas, dan

14
mengalami gangguan pola makannya karena adanya inflamasi pada
faringnya sehingga akan mengalami penurunan metabolisme tubuh.

c. Pemeriksaan Fisik
1. Tingkat Kesadaran
GCS : biasanya kesadaran pasien normal yaitu 4,5,6
Observasi TTV Klien, yaitu :
o Nadi
o Tekanan Darah
o RR
o Suhu
2. Pengkajian Persistem
a. Sistem Integumen
Biasanya terjadi inflamasi jaringan sekitar uretra, genital lesions dan skin
rashes.
b. Sistem Kardiovaskuler
Kaji apakah bunyi jantung normal / mengalami gangguan, biasanya pada
klien bunyi jantung normal, namun akan mengalami peningkatan nadi
karena proses dari inflamasi yang mengakibatkan demam.
c. Sistem Pernafasan
Perlu dikaji pola nafas klien, auskultasi paru – paru untuk mengetahui
bunyi nafas, dan juga kaji anatomi pada sistem pernafasan, apakah terjadi
peradangan atau tidak. Biasanya pada klien terdapat peradangan pada
faringnya karena adanya penyakit.
d. Sistem Penginderaan
Kaji konjungtiva, apakah ada peradangan / tidak.
( Konjungtiva tidak mengalami peradangan, namun akan mengalami
peradangan jika pada konjungtivitis gonore dan juga bisa ditemukan
adanya pus )
e. Sistem Pencernaan
o Kaji mulut dan tenggorokan termasuk toksil. ( Mulut sudah
terjaga PHnya dan tidak terdapat toksil )
o Pada faring biasanya mengalami inflamasi sehingga akan
mengalami gangguan dalam pola makan

15
o Apakah terdapat diare / tidak. ( Pola eliminasi vekal tidak
mengalami gangguan )
o Anus, Biasanya pasien mengalami inflamasi jaringan akibat
infeksi yang menyebabkan klien sulit dan nyeri saat BAB
f. Sistem Perkemihan
Biasanya klien akan mengalami , retensi urin karena inflamasi prostat,
keluar nanah dari penis dan kadang – kadang ujung uretra disertai darah,
pembengkakan frenulum pada pria, dan pembengkakan kelenjar bartoloni
serta labio mayora pada wanita yang juga disertai dengan nyeri tekan.
g. Sistem Muskuluskeletal
Biasanya pada pasien laki – laki tidak mengalami kesulitan bergerak,
sedangkan pada pasien wanita yang sudah mengalami komplikasi akan
mengalami kesulitan dalam bergerak dan juga saat duduk karena terjadinya
komplikasi pembengkakan pada kelenjar bartholini dan juga labio
mayoranya.
3.2 Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan reaksi infeksi
2) Perubahan pola eliminasi urin

3) Cemas, Definisi: perasaan ketidaknyamanan atau ketakutan disertai oleh respon


otonom (sumber seringkali spesifik atau tidak diketahui individu), sebuah perasaan
ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan yang
memperingatkan bahaya yang akan datang dari yang memungkinkan individu untuk
mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman
Batasan karakteristik:

Perilaku :

o Gelisah
o Resah
o Produktivitas berkurang
o Scanning dan kewaspadaan
o Berhubungan dengan keturunan/hereditas
3.3 Rencana Keperawatan

DIAGNOSA NANDA KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN

16
NOC (NIC)

1. Nyeri b.d reaksi Infeksi · Kontrol Nyeri • Manajemen nyeri

Defenisi: Defenisi: Pengurangan rasa nyeri


Seseorang dapat serta penungkatan kenyamanan
mengontrol nyeri yang bisa diterima oleh pasien.

Indikator: Aktivitas:

- Mengenali factor- Lakukan penilaian nyeri secara


kausal komprehensif dimulai dari lokasi,
karakteristik, durasi, frekwensi,
- Mengenali gejala
kualitas, intensitas dan penyebab
sakit
- Pastikan pasien mendapat
- Pengendalian
perawatan dengan analgestik
Nyeri
- Gunakan komunikasi terapeutik
- Menggunakan
agar pasien dapat menyatakan
buku harian rasa
pengalaman nyeri nya serta
sakit
dukungan dalam merespon nyeri
• Level Nyeri
- Tentukan dampak nyeri terhadap
Indikator: kehidupan sehari-hari (tidur,
nafsu makan, aktifitas, kesadaran,
- Melaporkan Nyeri
mood, hubungan social,
- Persen tubuh yang performance kerja dan
terkena melakukan tanggung jawab
sehari-hari
- Frekwensi nyeri
- Membantu pasien dan keluarga
- Kehilangan nafsu
untuk memberi dukungan
makan
- Gunakan langkah-langkah
- Perubahan Pola
pengendalian nyeri sebelum
17
pernapasan nyerio menjadi parah

- Perubahan pompa- Pastikan bahwa pasien mendapat


jantung perawatan analgestik yang tepat

• PCA yang dikendalikan

Defenisi: Fasilitas pengawasan


administrasi analgestik dan
regulasi pasien

Aktivitas:

- Kolaborasi dengan dokter,


pasien, anggota keluarga, dalam
pemilihan jenis narkotika untuk
digunakan

- Hindari penggunaan Demerol

- Pastikan bahwa pasien tidak


alergi terhadap analgestik yang
sudah diatur

- Ajar pasien dan keluarga untuk


memantau intensitas nyeri,
kualitas, dan durasi

- Ajari pasien dan keluarga untuk


memantau rata-rata respirasi dan
tekanan darah

- Ajari pasien dan keluarga efek


samping dari pengurangan nyeri

- Dokumentasikan nyeri pasien,

18
jumlah dan frekwensi dari dosis
obat dan respon terhadap
pengobatan nyeri

2. Perubahan pola eliminasi Pembatasan urin Pengaturan eliminasi urin


urin
Definisi: kontrol Aktivitas:
eliminasi urine
ü Monitor eliminasi urin, termasuk
Indikator: frequensi, konsistensi, bau,
volume, dan warna jika
ü Mengenali tanda
diperlukan
untuk eliminasi
ü Monitor tanda dan symptom
ü Meramalkan pola
retensi urin
jalan urin
ü Catat waktu terakhir BAK
ü Pengosongan
kandung kemih
ü Instruksikan pasien/ keluarga
dengan komplet untuk mencatat pengeluaran urin

ü Mampu untuk mulai


ü Batasi cairan jika diperlukan
dan berhenti buang
ü Bantu pasien untuk ke toilet

19
air kecil dengan teratur

Eliminasi urin ü Catat waktu pengosongan setelah


prosedur
Indikator:
· Perawatan retensi urin
ü Pola eliminasi
dalam batas yang Aktivitas:
diharapkan
ü Sediakan privasi untuk eliminasi
ü Jumlah urine
ü Gunakan kekuatan sugesti untuk
ü Urin bebas dari mengeluarkan air
partikel
ü Stimulasi reflek kandung kemih
ü Urin keluar tanpa dengan mendinginkan perut.
sakit
ü Sediakan cukup waktu untuk
ü Urin keluar tanpa pengosongan kandung kemih
ragu
ü Masukan kateter jika diperlukan

ü Instruksikan pasien untuk


mencatat output urin

ü Monitor intake dan output

ü Monitor tingkat distensi kandung


kemih dengan palpasi dan
perkusi

ü Bantu pasien untuk ke toilet


dengan teratur

Control cemas Penurunan kecemasan


3. Cemas
Definisi: perasaan
20
ketidaknyamanan atau Indicator : Aktivitas :
ketakutan disertai oleh
monitor tenangkan klien
respon otonom (sumber
intensitas
seringkali spesifik atau jelaskan prosedur tindakan
kecemasann
tidak diketahui individu), kepada klien dan perasaan yg
sebuah perasaan ketakutan menyingkiran mungkin muncul pada saat
yang disebabkan oleh tanda kecemasan melakukan tindakan
antisipasi bahaya. Ini
menggunakan berusaha memahami keadaan
adalah sinyal peringatan
teknik relaksasi klien
yang memperingatkan
untuk mehilangkan
bahaya yang akan datang kaji tingkat kecemasan dan
kecemasan
dari yang memungkinkan reaksi fisik
individu untuk mengambil melaporkan
sediakan aktivitas untuk
tindakan untuk mengatasi tidak adanya
menurunkan ketegangan
ancaman gangguan persepsi
sensori bantu pasien untuk
Batasan karakteristik:
mengidentifikasi situasi yg
Koping
Perilaku : menciptakan cemas.
Indikator :
· Gelisah Instruksikan pasien untuk
melibatkan menggunakan teknik relaksasi
· Resah
anggota keluarga
Peningkatan koping:
· Produktivitas berkurang dalam pembuatan
keputusan Aktivitas :
· Scanning dan
kewaspadaan ü Hargai pemahaman pasien tentang
menunjukkan
strategi penurunan proses penyakit
· Berhubungan dengan
stress
keturunan/hereditas ü Gunakan pendekatan yang tenang
menggunakan dan memberikan jaminan
dukungan sosial
ü Sediakan informasi actual tentang
diagnose, penanganan, dan

21
prognosis

ü Sediakan pilihan yang realistis


tentang aspek perawatan saat ini

ü Tentukan kemampuan klien untuk


mengambil keputusan

ü Instruksikan pasien untuk


menggunakan teknik relaksasi

ü Bantu pasien untuk


mengidentifikasi strategi positif
untuk mengatasi keterbatasan dan
mengelola gaya hidup/perubahan
peran

3.4 Implementasi
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan, meliputi
beberapa bagian yaitu validasi, rencana keperawatan, memberikan asuhan keperawatan, dan
pengumpulan data. (Lismidar, 1990)
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun dengan
melihat situasi dan kondisi pasien.
3.5 Evaluasi
1) Klien mampu mengenali faktor penyebab
2) Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
3) TTV dalam rentang normal
 Tekanan darah : 110/70-120/80 mmHg
 Denyut nadi : 70-80 x/menit
 Pernafasan : 20 – 24 x/menit
 Suhu : 36 – 37 oc
4) Urin akan menjadi kontinens
5) Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam rentang yang
diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
6) Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit pada orang lain
7) Mengekspresikan pandangan positif untuk masa depan dan memulai kembali
tingkatan fungsi sebelumnya

22
8) Mengindentifikasi aspek-aspek positif diri
9) Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya
10) Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol koping

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Gonorhea adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria Gonorhea yang
pada umumnya ditularkan melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga secara langsunv
dengan eksudat yang efektif (Dr. Soedarto, Penyakit – penyakit Infeksi DI Indonesia, 1990,
hal 74). Menurut mutaqqin (2011) Organisme patogenik (Neisseria Gonorhea) biasanya
memasuki tubuh melalui vagina, menjalar melalui kanalis servikalis dan masuk kedalam
uterus. Masa tunas gonorhea sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari,
kadang – kadang lebih lama karena pengobatan diri sendiri tapi dengan dosis yang tidak
cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan. Pada wanita, masa tunas sulit
ditentukan karena pada umumnya asimtomatik.
23
Gonorhea dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lain terutama kulit dan
persendian. Pada wanita, gonorhea bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaut
di dalam panggul sehingga menyebabkan nyeri panggul dan gangguan reproduksi. Gonore
atau penyakit kencing nanah tidak bisa ditularkan melalui WC umum,atau duduk di tempat
duduk yang kebetulanbaru saja di duduki penderita gonore, oleh karena kuman gonokokus
tidak tahan lama hidup di udara bebas, termasuk kursi, WC umum atau air. Memberikan
pendidikan kapada pasien dengan menjelaskan tentang : bahaya penyakit menular seksual
dan komplikasinya, pentingannya mematuhi pengobatan yang diberikan, cara penularan
penyakit menular seksual dll.
4.2 Saran

Semoga dengan adanya makalah ini pembaca dapat mengetahui tentang Gonorea dan
dapat melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan ketentuan.

DAFTAR PUSTAKA

Lachlan, MC. 1987. Buku Pedoman Diagnosis dan Penyakit Kelamin. Ilmiah Kedokteran:
Yogyakarta.

Natadidjaja, hendarto. 1990. Kapita Selekta Kedokteran. Bina Rupa Aksara: Jakarta.

Prof. DR. Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. Balai Penerbit FKUI:
Jakarta.

Wikinson, Judith M. 2006. Buku saku DIAGNOSIS KEPERAWATAN. Penerbit buku kedokteran
EGC.

Carpenito, Lynda J. 2001. Buku saku DIAGNOSA KEPERAWATAN Edisi 8.Penerbit buku
kedokteran EGC.

24
NANDA, diagnosis keperawatan:definisi dan klasifikasi 2009-2011: editor edisi bahasa
Indonesia, Judith M. Wilkinson, PhD, ARNP, RNC - Jakarta : EGC, 2010

Buku saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan kriteria hasil NOC, Edisi 7, editor
edisi bahasa Indonesia, Judith M. Wilkinson, PhD, ARNP, RNC- Jakarta : EGC, 2010

http://www.blogdokter.net/2008/05/25/gonorrhea

25