Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN


HAJI

Yang diampu oleh Bapak Haeri

DISUSUN OLEH :
LINDA NOVITA PUTRI
201510410311064
FARMASI B / MUBTADIIN A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karuniaNya, penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Terselesaikannya makalah ini
sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Al-Islam dan Kemuhammadiyah. Adapun
tujuan penyusunan makalah ini untuk menambah wawasan kita tentang “Ibadah Haji”.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini baik berupa materi maupun pengarahannya.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi orang lain terutama bagi
penulis sendiri.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 04 Juni 2016

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan bagi setiap muslim yang
telah mampu, yaitu mampu fisik dan finansial. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya
melaksanakan rukun Islam yang kelima jika ia mampu melaksanakannya.
Haji terdiri atas beberapa syarat dan rukun sehingga ibadah tersebut dapat terlaksana.
Setiap muslim yang akan melaksanakan rukun Islam yang kelima ini hendaknya mengetahui
syarat dan rukun tersebut agar dalam pelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan baik tanpa
ada rintangan.
Sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji bagi setiap muslim yang
telah mampu. Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang sudah mampu namun
tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena ketidaksadaran pada
diri sendiri untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah SWT. Banyak yang telah
mengimani atau meyakini akan kewajiban ini, namun belum melaksanakannya, mereka
hanya menjadikan rukun Islam sebagai teori tanpa adanya praktek.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dan kewajiban melaksanakan haji?
2. Bagaimana dasar hukum haji?
3. Bagaimana syarat, rukun, tata cara pelaksanaan, dan macam-macam haji?
4. Bagaimana wajib haji yang benar?
5. Bagaimana sunah haji yang benar?
6. Bagaimana tata cara manasikh haji?
7. Apa hal-hal yang dilarang dalam ihram dan nilai pendidikan haji?
8. Bagaimana hikmah yang bisa diambil dari ibadah haji?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dan kewajiban melaksanakan haji.
2. Untuk mengetahui dasar hukum haji
3. Untuk mengetahui syarat, rukun, tata cara pelaksanaan, dan macam-macam haji.
4. Untuk mengetahui wajib haji yang benar
5. Untuk mengetahui sunah haji yang benar
6. Untuk mengetahui tata cara manasikh haji
7. Untuk mengetahui hal-hal yang dilarang dalam ihram dan nilai pendidikan haji.
8. Untuk mengetahui hikmah yang bisa diambil dari ibadah haji
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Kewajiban Melaksanakan Haji


Menurut bahasa, Haji (Arab), berarti mengunjungi, ziarah, atau menuju ke suatu lokasi
yang tertentu.
Menurut isti’lah pada syara’, Haji berarti mengunjungi ka’bah (Baitullah) di Mekkah
dalam waktu tertentu, kemudian disertai dengan perbuatan-perbuatan yang tertentu pula.
(Matdawam, 1986: 20)
Sedangkan menurut KBBI Haji adalah rukun Islam kelima (kewajiban ibadah) yg harus
dilakukan oleh orang Islam yg mampu mengunjungi Ka’bah pada bulan Haji dan
mengerjakan amalan haji, seperti ihram, tawaf, sai, dan wukuf.
Pengertian haji yang di jabarkan di atas sesuai dengan pengertian firman Allah SWT.

)125 : ‫اس َوأَ ْمنًا ( البقرة‬ َ ‫َو ِإ ْذ َج َع ْلنَا ْالبَي‬


ِ َّ‫ْت َمثَابَةً ِللن‬
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi
manusia dan tempat yang aman.” (Q.S. Al-Baqarah : 125).
Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu, wajibnya sekali
seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai wajibnya haji telah
disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan para ulama).

B. Dasar Hukum Ibadah Haji

a. Dalil Al-Qur’an
Allah SWT mewajibkan untuk melaksanakan ibadah haji sekali seumur hidup, jika sudah
mampu.
Allah berfirman:

)97 : ‫س ِب ْيالً (ال عمران‬


َ ‫ع ِإلَ ْي ِه‬ ِ ‫اس ِح ُّج ْال َب ْي‬
َ َ‫ت َم ِن ا ْست‬
َ ‫طا‬ ِ َّ‫علَى الن‬
َ ِ‫َو ِلِل‬
“Mengerjakan haji merupakan kewajiban manusia terhadap Allah, (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Q.S. Ali Imron: 97)
Ada juga dasar kewajiban haji dan umroh.
Allah berfirman:

)196 : ‫َوأَتِ ُّموا ْال َح َّج َو ْالعُ ْم َرة َ ِلِلِ (البقرة‬


“Sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah.” (Q.S. Al-baqarah : 196).
b. Dalil As-Sunnah
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ ‫َّللاُ َوأ َ َّن ُم َح َّمدًا َر‬


ِ َّ ‫سو ُل‬
، ‫َّللا‬ َّ َّ‫ش َها َدةِ أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإال‬
َ ‫اإل ْسالَ ُم َعلَى خ َْم ٍس‬
ِ ‫ى‬ َ ِ‫بُن‬
َ‫ضان‬ َ ‫ص ْو ِم َر َم‬ َ ‫ َو‬، ِ‫ َو ْال َح ِّج‬، ِ‫الز َكاة‬
َّ ‫اء‬
ِ َ ‫ َو ِإيت‬، ِ‫صالَة‬
َّ ‫َو ِإقَ ِام ال‬
Artinya:
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya,mendirikan shalat,
menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan
Muslim no. 16).
Hadits ini menunjukkan bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam. Hurairah r.a, ia berkata,

‫ فَ َقا َل َر ُج ٌل أ َ ُك َّل َع ٍام يَا‬.» ‫َّللاُ َعلَ ْي ُك ُم ْال َح َّج فَ ُح ُّجوا‬


َّ ‫ض‬َ ‫اس قَ ْد فَ َر‬ُ َّ‫« أَيُّ َها الن‬
« -‫صلى هللا عليه وسلم‬- ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ت َحتَّى قَالَ َها ثَالَثًا فَ َقا َل َر‬ َ ‫س َك‬َ َ‫َّللاِ ف‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َر‬
ْ ‫لَ ْو قُ ْلتُ نَ َع ْم لَ َو َج َب‬
َ َ ‫ت َولَ َما ا ْست‬
‫ط ْعت ُ ْم‬
“Rasulullah SAW. berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian
manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang
bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas
diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah SAW lantas bersabda,
“Seandainya aku mengatakan “iya”, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap
tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim).

c. Dalil Ijma’
Para ulama’ pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang
mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al ma’lum minad diini bidh
dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya
dinyatakan kafir.
Haji merupakan rukun Islam yang ke empat, diwajibkan kepada setiap muslim yang
mampu untuk mengerjakan.
C. Syarat , Rukun, Tata Cara Pelaksanaan, dan Macam-macam Haji
1. Syarat-syarat haji
a. Orang-orang yang beragama Islam
b. Orang-orang yang telah baligh (mukallaf)
c. Sehat akal dan pikiran
d. Merdeka (bukan hamba sahaya)
e. Istitha’ah, orang-orang yang mampu secara materil dalam melakukan perjalanan haji,
memiliki bekal yang cukup di perjalanan, sehat jasmani dan rohani, dan menguasai manasik
atau ada yang membimbingnya
2. Rukun-rukun haji adalah sebagai berikut
Dalam hal, ini jika salah satu rukun Haji tidak dilaksanakan, maka Hajinya tidak sah dan
tidak dapat ditebus dengan Dam (diganti dengan menyembelih binatang Qurban).
(Matdawam, 1986:38)
1. Ihram disertai niat
2. Wuquf (berhenti) di Arafah. Kecuali ibadah umrah, tidak di adakan wuquf di Arafah
3. Thawaf di Baitullah
4. Sa’i antara Shafa dan Marwah
5. Bercukur untuk tahallul
6. Tertib
 Ihram disertai Niat
Ihram (pakaian ihram), pakaian tersebut terdiri dari dua lembar kain yang ukurannya
lk. 21/2 meter tanpa jahitan. Bahannya boleh kain mori, handuk, blacu dan lain sebagainya.
Dan yang paling afdhal kain putih (tanpa warna dan gambar). Cara pemakaian: satu lembar
diikat dibagian bawah sebagai penutup aurat dan selembar lagi diselempangkan ke badan
dengan kepala terbuka.
Bagi kaum wanita, sukup memakai pakaian biasa yang bersih (afdhal putih), dan tidak
boleh menutup muka dan telapak tangan (seperti shalat dengan memakai rukuh).
Niat haji dalam hal ini dapat di kategorikan menjadi 3 macam yaitu:
1) Haji Ifrad yaitu: (mendahulukan haji dari pada umroh), berihram dengan niat untuk haji
saja. Dengan mengucapkan niat

‫لَبَّي َْك الل ُه َّم َح ًّجا‬


“Ya Allah ini saya datang menyambut seruan-Mu untuk menunaikan Haji”
2) Haji Qiran yaitu:(melaksanakan haji sekaligus umrah), berihram dengan niat untuk
menunaikan ibadah haji dan umah. Dengan mengucapkan niat

ُ ‫لَبَّي َْك الل ُه َّم َح ًّج َو‬


ً ‫ع ْم َرة‬
“Ya Allah ini saya datang menyambut seruan-Mu untuk menunaikan ibadah Haji dan
Umrah”
3) Haji tamattu’ yaitu: (mendahulukan umrah dari pada haji), berihram dengan niat untuk
menunaikan umrah terlebih dahulu baru kemudian haji.
 Wukuf di Padang Arafah
Adapun waktunya, mulai tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbit
fajar tanggal 10 Dzulhijjjah.
 Thawaf di Baitullah
Thawaf artinya mengelilingi Baitullah. Adapun syarat-syarat thawaf, yaitu:
- Menutup aurat.
- Suci dari hadats kecil dan besar.
- Suci badan, pakaian dan tempat dari najis.
- Thawaf dimulai dari Hajar Awsad dan di akhiri di sana juga.
- Ketika thawaf, hendaklah ka’bah berada di sebelah kiri.
- Ketika thawaf, hendaklah sebelah luar ka’bah dan hajar Isma’il, supaya tidak tersentuh dan
thawaf menjadi sah.
- Ketika thawaf, hendaklah dalam lokasi Masjidil Haram.
- Thawaf dikerjakan sebanyak 7 kali.
Macam-macam Thawaf, antara lain:
- Thawaf Umrah
Merupakan rukun umrah, dilaksanakan waktu para jama’ah sampai di Makkah dari
miqat(tempat ihram) dan dalam keadaan pakai ihram.
- Thawf Ifadhah
Merupakan rukun haji adalah thawaf ifadhah, dikerjakan setelah para jama’ah haji berada di
Mina untuk melempar Jumrah, kemudian kembali ke Makkah.
- Thawaf Qudum
Thawaf ini adalah sunnat, dikerjakan bagi orang yang melaksanakan haji ifrad.
- Thawaf Tathawwu’ (thawaf tahiyat)
Thawaf ini adalah sunnat, dikerjakan setiap kali masuk masjidil Haram.
- Thawaf wada’
Artinya thawaf perpisahan, dikerjakan ketika akan meninggalkan masjidil haram untuk
kembali ke tanah air.
 Sa’i antara Shafa dan Marwah
Dilakukan dengan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali
dengan berjalan kaki. Tapi bagi Yang sakit atau tidak kuat berjalan (tua) di perbolehkan
menggunakan kursi roda, becak dan lain sebagainya.
 Bercukur untuk Tahallul
Paling sedikit menggunting tiga lembar. Kalau wanita, cukup menggunting ujung rambutnya,
dan juga paling sedikit tiga lembar. Apabila ini sudah dilakukan, maka segala macam
larangan dalam masa menggunakan pakaian ihram haji maupun umrah sudah di perbolehkan
atau di halalkan (tahallul), kita boleh mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa.
 Tertib (berturut-turut)
Semua rukun haji dan umrah, hendaklah dikerjakan secara tertib atau berurutan, dari awal
sampai akhir.
3. Tata Cara Pelaksanaan Haji
Kafiyah atau tata cara pelaksanaan haji adalah sebagai berikut
a. Ihram
Pada tanggal 8 Dzulhijjah yang disebut “Yaumul Tarwiyyah” bagi yang
melaksanakan tamattu, setelah mandi memakai wangi-wangian dan kain ihram dengan miqat
dari tempat masing-masing di Mekah, kemudian mengucapkan Ihlah haji, yaitu membaca
”Allahuumma hajjan atau labbaika hajjan”. Dilanjutkan membaca talbiyah sebagaimana
ketika berihram untuk melaksanakan umrah.
b. Mabit di Mina
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, kemudian berangkat ke Mina dan mabit (menginap) di sana untuk
melaksanakan shalat zhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan subuh dengan jama’ dan qasar.
c. Wukuf di Arafah
Pokok dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Pada tanggal 9 Dzulhijjah, setelah terbit
matahari, jamaah berangkat menuju Arafah. Dalam perjalanan menuju Arafah ini, jamaah
haji tetap ber-talbiyah atau bertakbir dan jika memungkinkan, singgah di Namirah. Setelah
matahari tergelincir, jamaah haji mendengarkan khotbah Arafah, kemudian dikumandangkan
azan qamat, lalu shalat zhuhur dan ashar dijama’ dan diqasar tanpa shalat apa-apa di antara
dua shalat itu. Setelah shalat, berdoa dengan mengangkat kedua tangan. Apabila wukuf
jatuhnya pada hari Jumat, tetap dilakukan shalat zhuhur dengan cara dijama’ dengan ashar.
d.Mabit di Muzdalifah
Setelah matahari terbenam, para jamaah haji meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah untuk
mabit sampai subuh, sementara shalat maghrib dan isya’
dijama’ takhir di Muzdalifah.
e. Melontar Jumrah Aqabah (Kubra)
f. Pada waktu dhuha tanggal 10 Dzulhijjah di Mina, jamaah haji melaksanakan lontar jumrah
aqabah, dengan cara berdiri menghadap ke jumrah tersebut. Posisi kiblat berada di sebelah
kiri jamaah haji kemudian melontar jumrah dengan batu kerikil sebanyak tujuh kali.
g. Tahallul Awal (Asghar)
Jamaah haji tahallul dengan cara “taqshir” (menggunting beberapa helai rambut) atau lebih
utama dengan “tahliq” (dengan menggundul kepala). Bagi wanita cukup dengan taqshir.
Setelah tahallul awal ini, jamaah haji bebas dari larangan pada waktu ihram, kecuali
hubungan suami istri.
h.Hadyu (Qurban)
Bagi mereka yang melaksanakan haji tamattu dan qiran wajib menyembelih hadyu.
Perbedaannya adalah yang qiran membawa binatang dari rumah, sementara yang tamattu
menyembelihnya di Mekah. Penyembelihan hadyu dilaksanakan pada Yaumun Nahri (tanggal
10 Dzulhijjah) dan jika tidak bisa dilasanakan pada hari nahar, bisa dilakukan pada Ayyamu
Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah)
i. Thawaf Ifadah (Tahallul Tsani)
Pada hari nahar, setelah melontar jumrah aqabah dan menyembelih hadyu, maka jamaah haji
pergi ke Mekah untuk melaksanakan thawaf ifadah.
j. Melempar Tiga Jumrah
Pada tanggal 11 Dzulhijjah, setelah zhuhur, jamaah melempar 3 jumrah (ula, wusta, aqabah),
masing-masing dengan 7 batu kerikil.
k. Nafar Awal dan Nafar Tsani
Pada tanggal 12 Dzulhijjah , jamaah haji melempar 3 jumrah seperti yang dilakukan pada
tanggal 11 Dzulhijjah. Waktunya juga sama yaitu setelah zhuhur hingga maghrib.
l. Thawaf Wada’
Sebelum meninggalkan Mekah, jamaah haji dianjurkan untuk melakukan thawaf wada’
(perpisahan). Caranya, sama dengan thawaf ifhadah dilakukan tujuh putaran, tanpa lari-lari
kecil, tanpa shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, dan tanpa sa’i.
4. Macam-macam Haji
Macam-macam haji sebagai berikut
a. Ifrad
Kata ifrad berarti menyendiri. Pelaksanaan ibdah haji disebut ifrad apabila seseorang
bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan ibadah haji maupun umrah, tidak melakukan
keduanya sekaligus. Jadi umrah sebagai ibadah sunat saja. Dalam pelaksanaannya, ibadah
yang pertama dilakukan adalah ibadah haji hingga selesai, kemudian baru ibadah umrah
sampai selesai.
b. Tamattu’,
Kata tamattu’ berarti bersenang-senang atau bersantai-santai. Bila dikaitkan dengan ibadah
haji, tamattu’ ialah melaksanakan ihram untuk melaksanakan umrah di bulan-bulan haji.
Setelah seluruh amalan umrah selesai, langsung mengerjakan ibadah haji. Dinamakan haji
tamattu’, karena melakukan dua ibadah (haji dan umrah) di bulan-bulan haji dalam tahun
yang sama tanpa kembali ke negeri asalnya terlebiih dahulu.
c. Qiran
Kata qiran dapat diartikan dengan menyertakan atau menghubungkan. Adapun dalam
terminologi fikih, haji qiran ialah pelaksanaan ibadah haji dan umrah sekaligus dan dengan
satu niat.

D. WAJIB HAJI

1. Berpakaian Ihram dari miqat.


2. Bermalam di Muzdalifah.
3. Bermalam di Mina (Muna).
4. Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
5. Tidak melakukan perbuatan yang diharamkan pada waktu ihram.

E. SUNNAH HAJI

1. Mandi untuk Ihram


2. Shalat sunnah ihram 2 raka’at
3. Thawaf qudum, yaitu thawaf karena datang di Tanah Haram
4. Membaca Talbiyah
5. Bermalam di Mina pada tanggal 9 Dzulhijjah
6. Bermalam di Arafah pada siang dan malam
7. Berhenti di Masy’aril Haram pada hari Nahar (10 Dzulhijjah)
8. Berpakaian ihram yang serba putih

F. MANASIKH HAJI

1. Di Mekkah (pada tanggal 8 Dzulhijjah), mandi dan berwudlu, memakai kain ihram, shalat
sunnat ihram dua raka’at, niat haji, pergi ke Arafah, membaca talbiyah, sholawat dan do’a.
2. Di Arafah, waktu masuk Arafah berdo'a, dan berwukuf, (tanggal 9 Djulhijjah).
Sebagai salah satu rukun haji, seorang jama’ah harus berada dia Arafah pada tanggal
9 Dzulhijjah meskipun sejenak, waktu wuquf di mulai waktu dhuhur tanggal 9 Dzulhijjah
sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah, Berangkat menuju Muzdalifah sehabis Maghrib,
Tidak terlalu lama (mabit) di Muzdalifah sampai lewat tengah malam, Berdo'a waktu
berangkat dari Arafah.
3. Di Muzdalifah (pada malam tanggal 10 Djulhijjah), berdo'a dan Mabit, yaitu berhenti di
Muzdalifah untuk menunggu waktu lewat tengah malam sambil mencari batu krikil sebanyak
49 atau 70 butir untuk melempar jumrah kemudian Menuju Mina.
4. Di Mina, berdo'a, melontar jumroh dan bermalam (mabit) pada saat melempar jumroh, yang
dilakukan yaitu ;
a. melontar jumroh Aqobah, waktunya setelah tengah malam, pagi dan sore. Tetapi diutamakan
sesudah terbit matahari tanggal 10 Djulhijjah.
b. melontar jumroh ketiga-tiganya pada tanggal 11,12,13 Dzulhijjah waktunya pagi, siang, sore
dan malam. Tetapi diutamakan sesudah tergelincir matahari.
- Setiap melontar 1 jumroh 7 kali lontaran masing-masing dengan 1 krikil.
- Pada tanggal 10 Djulhijjah melontar jumroh Aqobah saja lalu tahallul (awal).Dengan
selesainya tahallul awal ini, maka seluruh larangan ihram telah gugur, kecuali menggauli
istri. setelah tahallul tanggal 10 Djulhijjah kalau ada kesempatan akan pergi ke Mekkah untuk
thawaf Ifadah dan sa'i tetapi harus kembali pada hari itu juga dan tiba di mina sebelum
matahari terbenam.
- Pada tanggal 11, 12 Djulhijjah melontar jumroh Ula, Wustha dan Aqobah secara berurutan,
terus ke Mekkah, ini yang dinamakan naffar awal.
- Bagi jama'ah haji yang masih berada di Mina pada tanggal 13 Djulhijjah diharuskan
melontar ketiga jumroh itu lagi, lalu kembali ke Mekkah. itulah yang dinamakan naffar Tsani.
- Bagi jama'ah haji yang belum membayar dam harus menunaikannya disini dan bagi yang
mampu, harus memotong hewan qurban.
5. Kembali ke Mekkah, Thawaf Ifadah, dan Thawaf Wada, Setelah itu rombangan jama’ah haji
gelombang awal. bisa pulang ke tanah air.

G. Hal-hal yang Dilarang dalam Ihram dan Nilai Pendidikan Haji


1. Hal-hal yang Dilarang dalam Ihram
Perbuatan yang dilarang ketika ihram adalah sebagai berikut
a. Berkata kotor dan cabul
b. Meminang dan menikahkan orang lain
c. Berburu binatang darat
d. Tidak boleh berbaju, bercelana, bersorban, berkaus kaki, dan bersepatu menutup mata kaki
(baik laki-laki maupun perempuan)
e. Wanita yang sedang ihram dilarang memakai sarung tangan dan penutup muka
f. Memakai wangi-wangian, kecuali yang pakai sebelum ihram
g. Mengganggu pepohonan yang ada di Mekah dan Madinah

2. Nilai Pendidikan Haji


a. Pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya
b. Setiap peserta haji menyadari bahwa manusia bukan hanya materi semata-mata dan bukan
pula birahi
c. Seorang yang melakukan ibadah haji larut dan berbaur bersama manusia-manusia lain, serta
memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan
Allah SWT
d. Mencapai kehidupan harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran
e. Keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan orang lain, dan larangan melakukan
penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi maupun fisik

H. Hikmah Ibadah Haji

 Setiap perbuatan dalam ibadah haji sebenarnya mengandung rahasia, contoh seperti
ihrom sebagai upacara pertama maksudnya adalah bahwa manusia harus melepaskan
diri dari hawa nafsu dan hanya mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung.
 Memperteguh iman dan takwa kepada allah SWT karena dalam ibadah tersebut
diliputi dengan penuh kekhusyu’an
 Ibadah haji menambahkan jiwa tauhid yang tinggi
 Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap mental dan akhlak
yang mulia.
 Ibadah haji adalah merupakan pernyataan umat islam seluruh dunia menjadi umat
yang satu karena mempunyai persamaan atau satu akidah.
 Ibadah haji merupakan muktamar akbar umat islam sedunia, yang peserta-pesertanya
berdatangan dari seluruh penjuru dunia dan Ka’bahlah yang menjadi symbol kesatuan
dan persatuan.
 Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah
yang berat memerlukan persiapan fisik yang kuat, biaya besar dan memerlukan
kesabaran serta ketabahan dalam menghadapi segala godaan dan rintangan.
 Menumbuhkan semangat berkorban, karena ibadah haji maupun umrah, banyak
meminta pengorbanan baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah, tenaga serta waktu
untuk melakukannya.
 Dengan melaksanakan ibadah haji bisa dimanfaatkan untuk membina persatuan dan
kesatuan umat Islam sedunia.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Haji berarti menyengaja menuju ke ka’bah baitullah untuk menjalakan ibadah yaitu
ibadadah syari’ah yang terdahulu. Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim
yang mampu, wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam.
Mengenai wajibnya haji telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’
Tata cara pelaksanaan haji harus sesuai dengan syarat, rukun, wajib dan sunnat haji.
Islam, Syarat haji diantaranya : Baligh, Berakal, Merdeka, Kekuasaan (mampu}sedangkan
Rukun Haji adalah : Ihram yaitu berpakaian ihram, dan niyat ihram dan haji, Wukuf di
Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah; Thawaf, Sa'i, Tahallul dan Tertib atau berurutan. Yang
bertujuan agar hajinya sah dan di terima Allah SWT.
Ada permasalahan haji pada saat ini yang mungkin sangat tidak bisa dilewatkan bagi
kaum Muslimin, diantaranya : Haji tidak lepas dengan permasalahan Perbankan, Haji
memungkinkan seseorang untuk intiqolul madzhab, Penundaan masa haidl bagi wanita dan
permasalahan miqot.

B. Saran

Bagi semua umat Islam khususnya mahasiswa untuk lebih memahami tentang Haji lebih
mendalam agar bertambah pula pengetahuan dan Iman kita. Dan mengamalkan kepada orang
– orang Islam khususnya.
DAFTAR RUJUKAN

Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Mahkota,


2002.

Abi Bakar bin Syayid Muhammad Syatho, Syekh, Khasiyah I’anatuth Tholibin, Darul Ihya

Abi Zakaria Muhyidin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Minhaj Syarah Shohih Muslim