Anda di halaman 1dari 13

3.1.

MACAM-MACAM KONTRASEPSI NON HORMONAL


Kontrasepsi berasal dari kata ”kontra” berarti mencegah atau melawan, sedangkan
kontrasepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel
pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau
mencegah terjadinya kehamilan, sebagai akibat adanya peertemuan antara sel telur dan sel
sperma tersebut (Maryani, 2007). Sedangkan kontrasepsi non hormonal adalah suatu cara atau
metode yang bertujuan untuk mencegah pembuahan sehingga tidak terjadi kehamilan yang
tidak mengandung hormone (estrogen dan progesteron). Macam-macam kontrasepsi non
hormonal meliputi:
1. Kontrasepsi tanpa menggunakan alat (alamiah)
Kontrasepsi alamiah adalah suatu upaya mencegah / mengahalangi pembuahan
atau pertemuan antara sel telur dengan sperma dengan menggunakan metode-metode
yang tidak membutuhkan alat ataupun bahan kimia. Adapun jenis-jenis dari
kontrasepsi alamiah adalah sbb:
1.1 Metode Amenorea Laktasi
a. Metode
Metode amenorea laktasi adalah kontrasepsi yang mengendalikan
pemberian air susu. kontrasepsi MAL mengandalkan pemberian Air Susu Ibu
(ASI) ekslusif untuk menekan ovulasi. Cara kerja dari MAL adalah menunda
atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi atau menyusui, hormon yang
berperan adalah prolaktin dan oksitoksin. semakin sering menyusui, maka kadar
prolaktin meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon
penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar
mengurangi kadar estrogen sehingga tidak terjadi ovulasi.
b. Keuntungan
 Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan
pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
 Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
 Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat.
 Tidak memerlukan pengawasan medis.
 Tidak mengganggu senggama.
 Mudah digunakan.
 Tidak perlu biaya.
 Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
 Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
c. Kekurangan
 Memerlukan persiapan yang panjang, yaitu sejak perawatan kehamilan yang
bertujuan agar ibu dapat segera menyusui dalam setengah jam atau 30 menit
pasca persalinan.
 Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial
 Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau hanya sampai 6 bulan
 Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual (IMS) termasuk virus
hepatitis B / HBV dan HIV/AIDS

1.2 Senggama Terputus (koitus interuptus)


a. Metode
Dilakukan dengan cara menarik penis dari vagina sebelum terjadinya
ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pria menyadari sebelumnya
akan ada terjadi ejakulasi, dan dalam waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi
terjadi digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina sehingga sperma
tidak masuk ke dalam vagina sehingga kehamilan dapat dicegah.
b. Keuntungan
 Tidak membutuhkan biaya dan alat maupun persiapan
 Mudah dilakukan jika pasangan sedang tidak mempunyai alternatif
kontrasepsi lain
 Tidak memerlukan resep ataupun konsultasi terlebih dahulu
 Tidak mengganggu hormon
c. Kekurangan
 Dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pria dan penggunaan cara
ini dapat menimbulkan neurasteni.
 Bagi sebagian orang tidak mudah, butuh kontrol diri yang mumpuni
 Masih berisiko, bahkan jika dicabut tepat waktu
 Tidak melindungi dari Penyakit Menular Seksual (PMS)

1.3 Sistem kalender


a. Metode
Prinsip metode pantang berkala ini adalah tidak melakukan senggama pada
masa subur yaitu pertengahan siklus haid atau ditandai dengan keluarnya lendir
encer dari liang vagina. Untuk menghitung masa subur digunakan rumus siklus
terpanjang dikurangi 11 hari dan siklus terpendek dikurangi 18 hari. Dua angka
yang diperoleh merupakan range masa subur. Dalam jangka waktu subur
tersebut harus pantang sanggama, dan diluarnya merupakan masa aman.
b. Keuntungan
 Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana,
 Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat,
 Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan khusus,
 Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual,
 Tidak memerlukan biaya dan tempat pelayanan kontrasepsi,
 Tidak ada efek samping.
c. Kekurangan
 Memerlukan kerjasama yang baik antara suami istri,
 Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya,
 Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual setiap
saat
 Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur,
 Harus mengamati sikus menstruasi minimal enam kali siklus,
 Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat),
 Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

1.4. Suhu Basal


Suhu basal adalah suhu yang diukur waktu pagi segera setelah bangun tidur dan
sebelum melakukan aktivitas apa-apa. Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui
kapan terjadinya masa subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang
berupa termometer basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per
vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama
selama 5 menit. Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36 derajat Celcius. Pada waktu
ovulasi, suhu akan turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian
tidak akan kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa
subur/ovulasi.
a. Metode
Prinsipnya dengan mengukur suhu tubuh wanita setiap hari untuk
mengetahui suhu tubuh basalnya. Setelah ovulasi suhu basal ( BBt / basal
body temperature ) akan sedikit turun dan akan naik sebesar (0,2 – 0,4° C)
dan menetap sampai masa ovulasi berikutnya. Hal ini terjadi karena
setelah ovulasi hormon progesterone disekresi oleh korpus luteum yang
menyebabkan suhu tubuh basal wanita naik.
b. Keuntungan
 Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasangan terhadap masa
subur,
 Membantu wanita yang mengalami siklus tidak teratur dengan cara
mendeteksi ovulasi,
 Dapat membantu menunjukan perubahan tubuh lain seperti lender
serviks,
 Berada dalam kendali wanita,
 Dapat digunakan mencegah atau meningkatkan kehamilan.
 Efek Samping Pantang yang terlampau lama dapat menimbulkan stress
atau frustasi
c. Kelemahan
 Membutuhkan motivasi,
 Perlu diajarkan oleh spesialis keluarga berencana alami,
 Suhu tubuh basal dipengaruhi oleh penyakit,
 Apabila suhu tubuh tidak diukur pada sekitar waktu yang sama setiap
hari akan menyebabkan ketidak-akuratan suhu tubuh basal,
 Tidak mendeteksi permulaan masa subur sehingga mempersulit untuk
mencapai kehamilan,
 Membutuhkan masa pantang yang lama, karena ini hanyalah
mendeteksi pasca ovulasi.

1.5. Metode Lendir Serviks


Metode lendir serviks adalah metode mengamati kualitas dan kuantitas
lendir serviks setiap hari. Periode subur ditandai dengan lendir yang jernih,
encer, dan licin.
a. Metode
Metode lendir serviks yakni pengamatan dilakukan pada lendir serviks.
Pengamatan lendir serviks dapat dilakukan dengan merasakan perubahan
rasa pada vulva sepanjang hari dan melihat langsung lendir pada waktu
tertentu. Menjelang ovulasi lendir ini akan mengandung banyak air (encer)
sehingga mudah dilalui sperma. Setelah ovulasi lendir kembali menjadi
lebih padat. Jika lendir mulai keluar atau bagi wanita yang mengalami
keputihan (sering mengeluarkan lendir) lendir mengencer, bergumpal-
gumpal dan lengket, hal ini menunjukan akan terjadi ovulasi. Sehingga
senggama harus dihindari dengan menggunakan alat kontrasepsi. Pada
puncak masa subur, yaitu menjelang dan pada saat ovulasi lendir akan
keluar dalam jumlah lebih banyak menjadi transparan, encer dan bening
seperti putih telur dan dapat ditarik diantara dua jari seperti benang. Tiga
hari setelah puncak masa subur dapat dilakukan senggama tanpa alat
kontrasepsi.
b. Kelebihan
 Mudah digunakan,
 Tidak memerlukan biaya,
 Metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alami
lain yang mengamati tanda-tanda kesuburan.
c. Kelemahan
 Tidak efektif bila digunakan sendiri, sebaiknya dikombinasikan dengan
metode kontrasepsi lain,
 Tidak cocok untuk wanita yang tidak menyukai menyentuh alat
kelaminnya,
 Wanita yang memiliki infeksi saluran reproduksi dapat mengaburkan
tanda-tanda kesuburan,
 Wanita yang menghasilkan sedikit lendir.
 Efek sampingnya yaitu Persoalan timbul bila terjadi
kegagalan/kehamilan.

2. Alat Kontrasepsi Menggunakan Alat


2.1 Kondom

a. Cara Penggunaan
Kondom untuk pria merupakan bahan karet atau lateks, poliuretan (plastik)
atau bahan sejenis yang kuat, tipis, dan elastis. Benda tersebut ditarik menutupi
penis yang sedang ereksi untuk menangkap semen selama ejakulasi untuk
mencegah sperma masuk kedalam sperma.
b. Keuntungan
Mencegah kehamilan, memberi pelindungan terhadap penyakit-penyakit
akibat hubungan seksual (PMS), dapat diandalkan, relatif murah, sederhana,
ringan dan disposible, Tidak memerlukan pemeriksaan medis, supervisi atau
pollow-up, reversible, pria ikut serta aktif dalam program KB.
c. Kekurangan
Efektifitas tidak terlalu tinggi, cara pemakaian sangat mempengaruhi
keberhasilan kontrasepsi, agak mengganggu hungan seksual (mengurangi
sentuhan langsung), pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi, harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual,
beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum, pembuangan
kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah.

2.2 Diafragma
a. Cara Pemakaian
Kosongkan kandung kemih dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Pastikan diafragma tidak berlubang. Oleskan spemisida pada kap diafragma secara
merata. Cari posisi yang nyaman pada saat pemasangan diafragma. Posisi dapat
dengan mengangkat satu kaki ke atas kursi, duduk di tepi kursi, berbaring ataupun
sambil jongkok. Pisahkan bibir vulva. Tepi diafragma melipat menjadi dua dengan
sisi yang lain. Letakkan jari telunjuk di tengah kap untuk pegangan yang kuat.
Spermisida harus berada di dalam kap. Masukkan diafragma ke dalam vagina jauh
ke belakang, dorong bagian depan pinggiran ke atas di balik tulang pubis.
Masukkan jari ke dalam vagina sampai menyentuh serviks. Sarungkan karetnya dan
pastikan serviks telah terlindungi.
Adapun cara untuk melepas diafragma adalah sebagai berikut ,sebelum
melepas diafragma, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kait bagian ujung
diafragma dengan jari telunjuk dan tengah untuk memecah penampung. Tarik
diafragma turun dan tarik keluar. Cuci dengan sabun dan air, kemudian keringkan
sebelum disimpan kembali di tempatnya.
b. Keuntungan
Tidak mengganggu reproduksi ASI, tidak mengganggu kesehatan pengguna,
tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam
sebelumnya
c. Kekurangan
Pemasangannya membutuhkan keterampilan, untuk pemakaian¸ perlu instruksi dan
cara pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih, pada beberapa pengguna menjadi
penyebab infeksi saluran uretra

2.3 Cervical Cap

a. Cara penggunaan
Tahap pertama untuk memasukkan atau mengeluarkan kap serviks adalah
mencuci tangan, untuk menghindari masuknya bakteri berbahaya ke dalam liang
vagina. Pemakai memasukkan kap serviks saat seksualitasnya bangkit dan sebelum
melakukan hubungan seksual. Ada beberapa saran yang menyarankan penggunaan
spermisida bersamaan dengan kap serviks. Pemakai harus mempertahankan kap
serviks selama 6 jam setelah ejakulasi intravagina terakhir untuk memastikan
bahwa sperma yang tertinggal di dalam vagina tidak memasuki ke dalam rongga
uterus. Namun, untuk mengeluarkan kap serviks harus dilakukan dalam kurun
waktu 48 jam. Setelah itu kap serviks dilepaskan, lalu bersihkan kap dengan sabun
dan air hangat dan diangin-anginkan, setelah itu disimpan dengan benar agar dapat
digunakan kembali. Dengan perawatan yang tepat, kap dapat bertahan selama 2
tahun, tapi harus diperiksa secara teratur untuk memastikan apakah ada lubang, atau
bocor. Bila terjadi kerusakan pada kap, maka pemakai diinstruksikan untuk segera
menggantinya.
b. Keuntungan
 Kaps serviks bersifat reversible. Kap servik dapat digunakan lagi setelah
dipakai dengan mencucinya menggunakan air hangat dan sabun yang
lembut/ tidak bersifat asam. Selain itu, kap serviks tidak mempunyai efek
yang berbahaya terhadap fungsi reproduksi baik wanita ataupun pria. Jika
kap serviks tidak digunakan lagi, kemungkinan untuk hamil tetap ada.
 Harganya tidak terlalu mahal, namun tidak dijual disembarang tempat.
 Ukurannya kecil dan ringan, sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana.
 Hanya membutuhkan sedikit spermicide (jika dibandingkan dengan
diafragma)
 Kap serviks dapat dipakai selama 48 jam karena ukurannya yang kecil
sehingga tidak menyebabkan tekanan pada VU dan tambahan ulang
spermicide juga tidak dibutuhkan
 Kap serviks merupakan metode non-hormonal barrier
 Metode kap seviks ini dapat tetap digunakan pada Ibu yang sedang
menyusui
 Kap serviks aman dan dapat digunakan pada wanita yang merokok. Hal ini
dikarenakan wanita yang merokok akan berisiko terganggu kesehatannya
jika menggunakan kontrasepsi hormonal.
 Membantu para wanita untuk lebih mengetahui dan mempelajari anatomi
tubuh wanita, khususnya organ reproduksi
 Tidak mempengaruhi siklus mentruasi
 Tidak mempengaruhi kesuburan untuk ke depannya
c. Kerugian
 Dapat menyebabkan cervicitis
 Ukuran cervical caps yang digunakan sewaktu-waktu harus diubah
tergantung pada kehamilan, abortus/keguguran, operasi pelvic atau
perubahan berat badan yang signifikan > 20lbs (naik/ turun)
 Membuat infeksi pada saluran perkemihan
 Tidak boleh digunakan pada wanita yang sedang menstruasi
 Penggunaannya cukup sulit. Banyak wanita yang mengalami kesulitan
dalam memasang/memasukkan cervical caps ke dalam vagina dengan benar
 Beberapa wanita akan merasa nyeri dan pasangannya akan merasa tidak
nyaman ketika sedang melakukan hubungan intim.
 Cervical caps dapat terlepas sewaktu-waktu dari dalam vagina ketika sedang
melakukan hubungan intim ataupun sedang defekasi
 Tidak bebas dijual di sembarang tempat dan penggunaannya pun harus
sesuai dengan petunjuk dokter
 Tidak dapat mencegah penyebaran IMS (infeksi menular seksual)
 Tidak dapat mencegah penyebaran HIV AIDS

2.4 Pelindung Lea


Pelindung lea merupakan alat yang menggunakan karet silikon dengan
diameter 55 mm, dan hanya memiliki satu ukuran. Apabila wanita ingin
menggunakannya, tidak diperlukan pengepasan. Apabila digunakan bersama
spermisida, angka keberhasilannya jauh melebihi metode kontrapsesi lain.

2.5 FemCap
Alat ini sejenis cervical cap yang terbuat dari karet silikon non-alergi . Alat
ini dapat masuk kedalam serviks dan memiliki tepi yang luas (seperti topi pelaut)
yang menciptakan alur diantara kubah dan topi tersebut. Topi penutup melekatkan
FemCap jauh lebih kecil, tetapi kesulitan untuk melepasnya jauh lebih besar
kendati alat ini memiliki tali pengikat untuk melepasnya. Memasukan dan
mencabut FemCap selama hubungan seksual juga menjadi sebuah permasalah dan
risiko kehamilan pun lebih besar.

2.6 Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD


Merupakan alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan ke
dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan selama periode
tertentu. IUD merupakan cara kontrasepsi jangka panjang. Nama populernya
adalah spiral.
1. Jenis-jenis IUD di Indonesia:
a. Copper-T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian
vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini
mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD
bentuk T yang baru IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi
yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan
efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan
maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan
terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.
b. Copper-7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan.
Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan
ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan
200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis
Copper-T.
c. Multi Load
IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan
kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah
3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan
250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi
load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.
d. Lippes Loop
IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S
bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.
Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian
atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang
hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang
putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah.
Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi
jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan
plastik. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD
jenis ini.
2.Cara Kerjanya:
Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD
membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
sperma untuk fertilisasi
3.Keuntungan
 Sangat efektif. 0,6 – 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan). Pencegah kehamilan jangka panjang yang
AMPUH, paling tidak 10 tahun
 IUD dapat efektif segera setelah pemasangan
 Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
 Tidak mempengaruhi hubungan seksual. Hubungan intim jadi lebih nyaman karena
rasa aman terhadap risiko kehamilan
 Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
 Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
 Aman untuk ibu menyusui – tidak mengganggu kualitas dan kuantitas ASI
 Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi
infeksi)
 Dapat digunakan sampai menopause
 Tidak ada interaksi dengan obat-obat
 Membantu mencegah kehamilan ektopik
 Setelah IUD dikeluarkan, bisa langsung subur
4.Kekurangan
 Mengurangi volume darah haid dan mengurangi disminorrhoe.
 Untuk mencegah adhesi dinding-dinding uterus oleh synechiae (Asherman’s
Syndrome).

2.7. Spermisida
Merpakan alat kontrasepsi berupa cairan kimia yang dapat mencegah kehamilan. Cara
kerja spermisida adalah membunuh sperma sebelum bisa berenang masuk mencapai
dalamrahim. Mengetahui penjelasan yang umum saja tidaklah cukup karena Anda juga perlu
mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian dari spermisida.
Spermisida adalah agen yang berfungsi menghancurkan sel sperma dan menurunkan motilitas
(pergerakan) sperma. Alat kontrasepsi spermisida bisa berupa foam aerosol, krim, vagina
suposituria, jeli, sponge (busa) yang dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.
Spermisida bekerja pada saat sudah disemprotkan ke vagina sehingga gerakan pada
saat penetrasi akan menyebarkan busa. Busa ini akan meliputi leher rahim dan mencegah
masuknya sperma ke dalam rahim. Bahan kimia yang terdapat di dalam spermisida dapat
terdiri atas nonoxynol 9 atau nonilfenoksi polietanol.
Keuntungan :
1.Mudah didapat dan mudah perawatannya
2. Tidak memiliki efek jangka panjang
3.Murah
Kerugiannya:
1.Pemakaian spermisida membutuhkan beberapa menit sebelum Anda melakukan penetrasi
agar dapat bekerja secara maksimal dalam menghambat gerakan sperma sampai ke dalam
uterus (rahim).
2. Penggunaannya kurang efektif jika hanya digunakan sendiri
3. spermisida tidak akan melindungi Anda dari penyakit menular seksual atau PMS, apalagi
untuk wanita. Hal ini dikarenakan penggunaan spermisida pada organ kewanitaan wanita bisa
memicu iritasi pada vagina yang membuat peluang terjangkit PMS jauh lebih besar.

3.Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap (kontap) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam
jangka waktu yang tidak terbatas, yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan
suami/istri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. Kontap dapat
diikuti oleh pria maupun wanita.
3.1. Vasektomi
Sterilisasi pada laki-laki disebut vasektomi. Caranya ialah dengan memotong saluran
mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya di ikat, sehingga sel sperma tidak dapat
mengalir keluar penis (uretra). Cara kerjanya yaitu Oklusi vas deferens, sehingga
menghambat perjalanan spermatozoa dan tidak didapatkan spermatozoa didalam
semen/ejakulat. Angka kegagalan 0-2,2 % ,umumnya < 1 % .
Keuntungan:
1. Efektif
2. Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas
3. Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit dan hanya memerlukan anestesi lokal saja.
Kerugian:
1. Diperlukan suatu tindakan operatif.
2. Kadang-kadangmenyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
3. Belum memberi perlindungan total sampai semua spermatozoa yang sudah ada didalam
sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan.
4. Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin bertambah
parahsetelah tindakan operatif yang menyangkut sistem reproduksi pria.
3.2. Tubektomi
Pemotongan ( Oklusi ) kedua tuba falopii sehingga spermatozoa dan ovum tidak dapat
bertemu. Disebut juga tubektomi atau tubal ligation.
Keuntungan :
1.Tidak mengganggu ASI,
2.Jarang ada keluhan sampingan,
3.Angka kegagalan hampir tidak ada,
4.Tidak mengganggu gairah seksual
Kerugian :
1.Tindakan operatif, seringkali menakutkan;
2.Definitif, kesuburan tidak dapat kembali lagi;
3.Komplikasi yang ditimbulkan bisa serius.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes.2008. Panduan Buku Klinik Program Pelayanan Keluarga Berencana, Jakarta.

Maryani, Herti. (2007). Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi
Wanita. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan, Depkes RI

Prawihardjo, Sarwono. 2002. Ilmu kebidanan, edisi ketiga cetakan keenam. Jakarta : yayasan
bina pustaka

Prawihardjo, Sarwono. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta : yayasan
bina pustaka