Anda di halaman 1dari 4

LEMBAR TUGAS MANDIRI

Luthfi Kamal Bangkit Setyawan


1506673183
Departemen Teknik Kimia

BAB II

DASAR-DASAR FILSAFAT

Filsafat ilmu bekaitan dengan asumsi, fondasi, metode, dan implikasi dari ilmu
pengetahuan. Filsafat ilmu juga mempertimbangkan masalah yang berlaku untuk ilmu tertentu.
Ada tiga bidang kajian filsafat yang dibutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjadi dasar bagi
aktivitas-aktivitasnya mencari pengetahuan: Etika, Epistomologi, Logika. Berfilsafat berarti juga
melibatkan keseluruhan diri untuk terlibat dalam pencarian kebenaran. Dapat dipahami bahwa
berfilsafat membutuhkan kekuatan dan keutamaan karakter.

A. Pengertian Filsafat

Kata filsafat pertama kali ditemukan dalam tulisan sejarawan yunani Kuno, Herodotus (484-
424 SM). Ia menggunakan kata kerja “berfilsafat” dalam percakapannya dengan Croesus yang
lemudian menyampaikan kepada Solon bahwa ia mendengar telah melakukan perjalanan
memalui berbagai negeri untuk berfilsafat digerakkan oleh hasrat akan pengetahuan. Kata filosof
atau filsuf berasal dari kata philosophos yang berarti pecinta kebijaksanaa; philos berarti
kebijaksanaan, dan Sophos berarti pecinta dari kata dasar Sophia yang berarti cinta.
Istilah kritis dalam pengertian filsafat berasal dari istilah latin kritein yang berarti memilah-
milah dan kritikos yang berarti kemampuan menilai. Berfilsafat berarti memilah-milah obyek
yang dikaji dan memberi penilaian terhadap objek itu. Istilah radikal berasal dari kata radix yang
berati akar. Radikal berarti mendalam, sampai ke akar-akarnya. Pemahaman yang ingin
diperoleh dari kegiatan filsafat adalah pemahaman yang mendalam. Sifat radikal pada filsfat
memungkinnya memahami persoalan sampai ke akar-akarnya dan mengajukan penjelasan yang
mendasar.
Berfilsafat dilakukan secara sistematis. Berpikir filosofis dapat berarti merenung yang
bukan mengkhayal atau melamun. Hasrat filosofis adalah berpikir secara ketat. Kegiatan filosofis
sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran yang sifatnya kritis, tidak begitu saja
menerima sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang
lainnya, menanyakan “mengapa”, dan mencari jawaban yang lebih baik dari jawaban pertama
(pandangan awal).

B. Cabang dan Aliran Filsafat

Filsafat secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar:


1) Ontologi yaitu bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being) atau tentang apa yang
nyata;
2) Epistomologi yaitu bagian filsafat yang mengkaji hakikat dan ruang lingkup
pengetahuan; dan
3) Axiologi yaitu bidang filsafat yang menjadi mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa
yang seharusnya dilakukan manusia.
Ontologi
Istilah ontologi berasal dari dua kata Bahasa latin, yaitu onta yang berarti ‘ada’ dan logia
yang berarti ‘ilmu’, ‘kajian’, ‘prinsip’ atau ‘aturan’. Ontologi secara umum didefinisikan sebagai
studi filosofis tentang hakikat ada (being), eksistensi, atau realitas, serta katagori dasar
keberadaan dan hubungan mereka. Ontology secara tardisional dianggap sebagai cabang utama
filsafat. Ontology dalam arti umum dibagi dua menjadi dua subbidang, yaitu ontology (dalam
arti khusus) dan metafisika..

Epistomologi
Epistomologi adalah cabang filsafat yang mengkaji teori-teori tentang sumber-sumber,
hakikat, dan batas-batas pengetahuan. Dalam epistomologi terdapat empat cabang yang lebih
kecil (1) epistomologi dalam arti sempit; (2) filsafat ilmu; (3) metodologi; dan (4) logika.
Epistomologi dalam arti sempit merupakan cabang yang mengkaji hakikat pengetahuan
yang ditelusuri melalui 4 pokok, yaitu 1) sumber pengetahuan, 2) struktur pengetahuan, 3)
keabsahan pengetahuan, dan 4) batas-batas pengetahuan.
Filsafat ilmu pengetahuan merupakan cabang filsafat yang mengkaji ciri-ciri dan cara-cara
memperoleh ilmu pengetahuan (science). Dalam filsafat ilmu pengetahuan, yang menjadi obyek
adalah pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan (science), pengetahuan ilmiah adalah
pengetahuan yang sistematis, diperoleh dengan menggunakan metode-metode tertentu, logis dan
teruji kebenarannya.
Metodologi adalah cabang filsafat yang mengkaji cara-cara dan metode-metode ilmu
pengetahuan memperoleh pengetahuan secara sistematis, logis, sahih (valid), dan teruji.
Logika adalah kajian filsafat yang mempelajari teknik-teknik dan kaidah-kaidah penalaran
yang tepat. Yang menjadi suatu penalaran dalam logika adalah argument yang merupakan
ungkapan dari putusan (judgement).

Axiologi
Axiologi adalah bidang filsafat yang mencoba menjawab pertanyaan “Apa yang dilakukan
manusia dan apa yang seharusnya dilakukan manusia?” Di sini yang dibicarakan adalah nilai-
nilai (kata axiology sendiri dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang menjadi sumbu perilaku
penghayatan dan pengalaman manusia). Di dalamnya dibahas nilai apa yang berkaitan dengan
kabaikan dan apakah itu perilaku baik. Cabang filsafat yang termasuk dalam axiology adalah
etika dan estetika.

Aliran Filsafat
Dalam perkembangan filsafat, berbagai aliran, berbagai isme bermunculan. Berikut adalah
beberapa aliran yang cukup berpengaruh dalam sejarah perkembangan filsafat:
a. Rasionalisme.
b. Empirisme.
c. Kritisime.
d. Idealisme.
e. Vitalisme.
f. Fenomenologi.
C. Alternatif Langkah Belajar Filsafat
Penggunaan analisis dan sintesis dalam filsafat ini disebut metode analisis-sintesis. Metode
ini merupakan metode yang paling banyak digunakan oleh filsuf. Menganalisis adalah
melakukan pemeriksaan konsepsional terhadap istilah-istilah yang digunakan atau pernyataan-
pernyataan yang dibuat.
Kattsoff (2004:34-38) mengemukakan langkah-langkah umum yang disarankan dalam
menganalisis dan sintesis.
1. Memastikan adanya masalah yang diragukan kesempurnaan atau kelengkapannya.
2. Masalah umunya terpecahkan dengan mengikuti dua langkah, yakni menguji prinsip-
prinsip kesahihannya dan menentukan sesuatu yang tak dapat diragukan kebenarannya
(untuk menyimpulkan kebenaran yang lain).
3. Meragukan dan menguji secara rasional segala hal yang ada sangkut pautannya dengan
kebenaran
4. Mengenali apa yang dikatakan orang lain mengenai masalah yang bersangkutan dan
menguji penyelesaian-penyelesaian mereka.
5. Menyarankan suatu hipotesis yang kiranya memberikan jawaban atas masalah yang
diajukan.
6. Menguji konsekuensi-konsekuensi dengan melakuakn verifikasi terhadap hasil-hasil
penjabaran yang telah dilakukan.
7. Menarik simpulan mengenai masalah yang mengawali penyelidikan.