Anda di halaman 1dari 1

Kesimpulan

Halusinasi merupakan suatu persepsi atau sensasi palsu yang melibatkan pancaindera
sehingga seolah-olah seseorang merasa mendapatkan rangsangan dari luar namun sebenarnya
tidak ada. Halusinasi dibagi menjadi halusinasi pendengaran, penglihatan,
penghidung,pengecapan, perabaan, canesthetic, dan kinestetika. Saat terjadinya halusinasi,
terdapat beberapa fase yang menyertainya yaitu fase comforting, fase complementing atau
condeming, fase controlling, dan fase conquering. Halusinasi berbagai faktor yang tergolong
sebagai faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor predisposisi merupakan faktor yang
menyebabkan risiko terjadinya halusinasi meningkat, seperti genetic, perkembangan,
neurobiology, neurotransmitter, teori virus, psikologis, dan social kultural. Sementara itu, faktor
presipitasi yaitu faktor pencetus terjadinya halusinasi, seperti faktor biologis, faktor stress
lingkungan, dan faktor sumber koping yang tidak adekuat. Pada kasus, halusinasi Ny. X termasuk
kedalam diagnosis keperawatan yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi (pendengaran). Hal
ini didukung dengan pernyataan bahwa klien sering mendengar suara yang menyuruhnya masuk
kedalam sumur dan memotong tangannya. Pasien sebelumnya telah menjalani perawatan selama
satu tahun, namun sudah dua bulan terakhir klien tidak rutin meminum obat sehingga membuat
halusinasinya muncul lagi. Tindakan keperawatan yang sesuai dengan masalah aktual atau here
and now adalah melakukan SP 4 (strategi pelaksanaa) pasien. Tindakan keperawatan SP 4 lebih
memfokuskan kepada melatih pasien dalam meminum obat secara teratur sesuai resep yang telah
diberikan dengan tetap melakukan evaluasi kepada SP 1 – SP 3 untuk memvalidasi kemampuan
klien dalam berespon terhadap halusiansi. Selain itu, SP keluarga juga diberikan ketika klien
dikunjungi oleh anggota keluarga atau saat pasien telah pulang ke rumah.