Anda di halaman 1dari 15

ETIKA AKUNTAN PROFESIONAL DALAM PRAKTIK PUBLIK

Makalah ini diajukan untuk memenuhi dan melengkapi salah satu tugas dalam
Mata Kuliah Etika Profesi & Tata Kelola Korporat pada Fakultas Ekonomi
Program Profesi Akuntansi Universitas Widyatama

Dosen Pembimbing : H. Supriyanto Ilyas, S.E M.Si., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Dede - 1517202004
Yulianti Afriani - 1517202009
Rizkia Dewi Sopani - 1517204003

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM PROFESI AKUNTANSI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
Terakreditasi (accredited)
SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Nomor : 1148/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PPAK/XI/2015
Tanggal 31 Januari 2015
BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T yang atas kehendak-

Nya dan izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam

tercurah limpahkan kepada baginda Rasullallah Muhammad S.A.W. untuk sauri

tauladan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia.

Makalah ini berjudul “ETIKA AKUNTAN PROFESIONAL DALAM


PRAKTIK PUBLIK”. Adapun maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah
untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh perkuliahan Etika Profesi & Tata
Kelola Korporat pada Fakultas Ekonomi Program Profesi Akuntansi Universitas
Widyatama.
Selama penulis menyelesaikan makalah ini tidak terlepas dari dukungan moril

maupun materil serta doa yang diberikan oleh berbagai pihak. Pada kesempatan ini

penulis ingin mengucapkan terima kasih secara tulus kepada :

1. Ibu (Alm) Koesbandijah Abdoel Kadir, Prof., Dr., Hj., M.S., Ak. selaku
Pendiri Yayasan Widyatama.

2. Ibu Sri Lestari Roespinoedji, S.H. selaku Ketua Badan Pengurus Yayasan
Widyatama.

3. Bapak Islahuzzaman, Dr., H., S.E., M.Si., Ak., CA. selaku Rektor Universitas

Widyatama.

4. Bapak Nuryaman, Dr., H., S.E., M.Si., Ak., CA. dan Ibu Dyah Kusumastuti,

Dr., Ir., M.Sc. selaku Wakil Rektor Universitas Widyatama.

5. Bapak R. Wedi Rusmawan K. , Dr., S.E., M.Si., Ak., CA. selaku Dekan

Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.


6. Ibu Rita Yuniarti, Dr., S.E., M.M., Ak., CA. selaku Wakil Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Widyatama.

7. Bapak Obsatar Sinaga, Prof., Dr., H., S.IP., M.Si. selaku Direktur Program

Pasca Sarjana Universitas Widyatama.

8. Bapak Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak., CA. selaku Wakil Direktur Program

Pasca Sarjana Universitas Widyatama.

9. Bapak Karhi Nisjar Siradjudin, Prof., Dr., H., M.M., Ak. selaku Ketua

MAKSI-PPAK Universitas Widyatama.

10. Bapak H. Supriyanto Ilyas, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku dosen pembimbing

mata kuliah Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat.

Demikian ucapan terima kasih yang dapat disampaikan, penulis berharap

semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.

Bandung, Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i-ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………..................................................................... 1

1.2 Tujuan Makalah …........................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Akuntansi Sebagai Profesi ……........................................................ 3

2.2 Etika dan Etika Profesi ................................................................... 5

2.3 Teori Etika …………........................................................................ 9

2.4 Pengambilan keputusan Beretika ...................................................... 13

2.5 Profesi Akutansi ................................................................................ 18

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Etika Profesi Akuntansi adalah Merupakan suatu ilmu yang membahas perilaku

perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap

pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus

sebagai Akuntan.Kode etik akuntan merupakan norma dan perilaku yang mengatur hubungan

antara auditor dengan para klien, antara auditor dengan sejawatnya dan antara profesi dengan

masyarakat. Kode etik akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh

anggota, baik yang berpraktek sebagai auditor, bekerja di lingkungan usaha, pada instansi

pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan. Etika profesional bagi praktek auditor di

Indonesia dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (Sihwajoni dan Gudono, 2000).

Kode etik yang mengikat semua anggota profesi perlu ditetapkan bersama, tanpa kode

etik maka setiap individu dalam satu komunitas akan memiliki sikap atau tingkah laku yang

berbeda – beda yang dinilai baik menurut anggapannya sendiri dalam berinteraksi dengan

masyarakat atau organisasi lainnya. Tidak dapat dibayangkan betapa kacaunya apabila, setiap

orang dibiarkan dengan bebas menentukan mana yang baik dan mana yang buruk menurut

kepentingannya masing – masing, atau bila perlu menipu dan berbohong dalam bisnis seperti

menjual produk yang tidak memenuhi standar tetap dijual dianggap sebagai hal yang wajar

(karena setiap pebisnis selalu menganggap bahwa setiap pebisnis juga melakukan hal yang

sama). Atau hal lain seperti setiap orang diberi kebebasan untuk berkendara di sebelah kiri atau

kanan sesuai keinginannya. Oleh karena itu nilai etika atau kode etik diperlukan oleh

masyarakat, organisasi, bahkan Negara agar semua berjalan dengan tertib, lancar, teratur, dan

terukur.

Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja auditor ditentukan oleh

keahlian, indepedensi serta integritas moral/kejujuran para auditor dalam menjalankan

pekerjaannya. Ketidak percayaan masyarakat terhadap satu atau beberapa auditor dapat
merendahkan martabat profesi auditor secara keseluruhan, sehingga dapat merugikan auditor

lainnya. Oleh karena itu organisasi auditor berkepentingan untuk mempunyai kode etik yang

dibuat sebagai prinsip moral atau aturan perilaku yang mengatur hubungan antara auditor

dengan klien dan masyarakat. Kode etik atau aturan perilaku dibuat untuk dipedomani dalam

berperilaku atau melaksanakan penugasan sehingga menumbuhkan kepercayaan dan

memelihara citra organisasi di mata masyarakat.

1.2 Tujuan dan Manfaat Makalah

1. Mengetahui ancaman dan pecegahan terhadap etika profesi akuntan

2. Memahami penerimaan penugasan/perikatan profesi akuntan

3. Mengetahui benturan kepentingan yang dialami profesi akuntan

4. Memahami pendapat kedua, objektivitas dan independensi

5. Mengetahui pemasaran jasa profesional


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ancaman dan Pencegahan

Kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi dapat terancam oleh berbagai situasi.

Ancaman-ancaman tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Ancaman kepentingan pribadi

Contoh-contoh ancaman kepentingan pribadi, yaitu:

 Anggota tim assurance memiliki kepentingan keuangan terhadap klien assurance.


 Praktisi memiliki ketergantungan atas jumlah imbalan jasa professional yang diperoleh
dari klien.
 Anggota tim assurance memiliki hubungan bisnis yang penting dengan klien assurance.
 KAP khawatir dengan kemungkinan kehilangan klien penting.
 Anggota tim audit sedang dalam proses negosiasi untuk bekerja pada klien audit.
 Imbalan jasa professional yang bersifat kontijen dikaitkan dengan perikatan assurance.
2. Ancaman telaah pribadi

Contoh-contoh ancaman telaah pribadi, yaitu:


 Penemuan kesalahan yang signifikan ketika dilakukan pengevaluasian kembali hasil
pekerjaan yang lalu oleh anggota yang berbeda dari kantor akuntan yang sama.
 Praktisi mengeluarkan laporan assurance mengenai efektivitas system keuangan klien
yang dirancang dan diimplementasikan oleh praktisi.
 Anggota tim assurance merupakan pimpinan atau pernah menjadi pimpinan klien,
merupakan/pernah dipekerjakan klien dalam posisi yang dapat memperngaruhi hal-hal
yang menjadi hal pokok dalam perikatan penugasan.
 Praktisi memberikan jasa untuk klien yang secara langsung mempengaruhi informasi
yang menjadi hal pokok dalam perikatan penugasan assurance.
3. Ancaman advokasi

Contoh-contoh ancaman advokasi, yaitu:

 Mempromosikan saham dari klien audit.


 Bertindak sebagai pengacara yang mewakili klien audit dalam litigasi atau perselisihan
dengan pihak ketiga.
4. Ancaman kedekatan

Contoh-contoh ancaman kedekatan, yaitu:

 Anggota tim yang ditugaskan memiliki keluarga dekat yang menjadi eksekutif pada
klien.
 Anggota tim yang ditugaskan memiliki keluarga dekat yang bekerja pada klien dengan
posisi yang dapat mempengaruhi hal-hal yang menjadi hal pokok dalam perikatan
penugasan.
 Eksekutif klien atau orang yang dengan posisi yang dapat mempengaruhi hal-hal yang
menjadi hal pokok dalam perikatan penugasan sebelumnya merupakan rekan KAP yang
bertanggungjawab pada klien tersebut.
 Anggota tim perikatan menerima hadiah atau perlakuan istimewa dari klien, kecuali
nilainya secara tidak signifikan.
 Pejabat senior KAP memiliki sejarah hubungan yang panjang dengan klien assurance.
5. Ancaman intimidasi

Contoh-contoh ancaman intimidasi, yaitu:

 Ancaman atas pemutusan perikatan.


 Klien audit mengindikasikan tidak akan memberikan kontrak non assurance
sebagaimana yang direncanakan sebelumnya jika KAP tetap tidak menyepakati
perlakuan akuntansi yang dilakukan oleh klien atas transaksi tertentu.
 Ancaman atas litigasi.
 KAP ditekan untuk mengurangi cakupan pekerjaan secara tidak proposional untuk
menurunkan fee.
 Praktisi diinformasikan oleh mitra KAP bahwa promosi yang direncanakan tidak dapat
terlaksana kecuali praktisi setuju dengan perlakuan akuntansi yang tidak sesuai yang
dilakukan oleh klien.
Pencegahan adalah tidakan atau upaya lainnya untuk menghilangkan atau mengurangi

ancaman sampai pada tingkat yang dapat diterima. Pencegahan dapat dikategorikan menjadi

dua, yaitu:

 Pencegahan yang diciptakan oleh profesi, undang-undang atau pemerintah.


 Pencegahan dalam lingkungan kerja.
Pencegahan pada tingkat institusi dalam lingkungan kerja mencakup:

 Kepemimpinan pada KAP yang menekankan pentingnya kepatuhan pada prinsip utama
etika profesi.
 Kepemimpinan pada KAP yang mengharapkan agar anggota tim assurance bertindak
untuk melindungi kepentingan publik.
 Kebijakan dan prosedur untuk menerapkan dan memantau pengendalian mutu
pelaksanaan perikatan.
 Kebijakan yang terdokumentasi mengenai kebutuhan untuk menidentifikasi ancaman
terhadap kepatuhan pada prinsip utama etika profesi, mengevaluasi signifikansi
ancaman, serta mengidentifikasi dan menerapkan pencegahan untuk menghilangkan
ancaman atau menguranginya ke tingkat yang dapat diterima.
 Kebijakan dan prosedur internal yang terdokumentasi yang memastikan terjaganya
kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi.
 Kebijakan dana prosedur untuk memastikan teridentifikasinya kepentingan atau
hubungan antara KAP atau anggota tim yang ditugaskan dengan klien.
 Kebijakan dan prosedur untuk memantau ketergantungan KAP terhadap jumlah
pendapatan yang diperoleh dari satu klien.
 Penggunaan rekan dan tim yang berbeda dengan lini pelaporan yang terpisah dalam
pemberian jasa professional selain jasa assurance kepada klien assurance.
 Kebijakan dan prosedur yang melarang personil yang bukan merupakan anggota tim
untuk memengaruhi hasil pekerjaan.
 Komunikasi yang tepat waktu mengenai kebijakan dan prosedur (termasuk
perubahannya) kepada seluruh rekan dan staf KAP, serta pelatihan dan pendidikan yang
memadai atas kebijakan dan prosedur tersebut.
 Penunjukan seorang anggota manajemen senior untuk bertanggungjawab mengawasi
berfungsinya system pengendalian mutu KAP.
 Pemberitahuan kepada seluruh rekan dan staf KAP mengenai klien-klien assurance dan
entitas-entitas yang terkait dengannya untuk menjaga independensi terhadap klien
assurance dan entitas yang terkait tersebut.
 Mekanisme pendisiplinan yang mendorong kepatuhan pada kebijakan dan prosedur
yang telah diterapkan.
 Kebijakan dan prosedur yang mendorong dan memotivasi staf untuk berkomunikasi
dengan pejabat senior KAP mengenai setiap isu yang terkait dengan kepatuhan pada
prinsip utama etika profesi yang menjadi kekhawatirannya.
Pencegahan pada tingkat perikatan dalam lingkungan kerja mencakup:
 Melibatkan praktisi lain yang tidak terlibat dalam layanan selain assurance untuk
menelaah hasil pekerjaan yang telah dilakukan atau untuk memberikan saran yang
diperlukan.
 Melibatkan praktisi lain yang tidak terlibat dalam tim assurance untuk menelaah hasil
pekerjaan yang telah dilakukan atau untuk memberikan saran yang diperlukan.
 Melakukan konsultasi dengan pihak ketiga yang independen, seperti komisaris
independen, organisasi profesi, atau praktisi lainnya.
 Mendiskusikan isu-isu etika profesi dengan pejabat klien yang bertanggungjawab atas
tata kelola perusahaan.
 Mengungkapkan kepada pejabat klien yang bertanggungjawab atas tata kelola
perusahaan mengenai sifat dan besaran imbalan jasa professional yang dikenakan.
 Meminta KAP lain untuk mengerjakan, atau mengerjakan ulang, suatu bagian dari
perikatan.
 Merotasi personil senior tim assurance.
Pencegahan dalam system dan prosedur yang diterapkan oleh klien mencakup antara lain:
 Klien menugaskan orang-orang di luar manajemen untuk memeriksa dan menyutujui
penunjukan KAP.
 Klien memiliki karyawan yang kompeten dengan pengalaman dan senioritas yang
memadai untuk mengambil keputusan manajemen.
 Klien telah menerapkan prosedur internal untuk memastikan objektivitas dalam proses
pemilihan atas perikatan selain assurance.
 Klien memiliki struktur tata kelola perusahaan yang memastikan terciptanya
pengawasan dan komunikasi yang memadai sehubungan dengan jasa professional yang
diberikan oleh KAP.

2.2 Penunjukan Profesional

Sebelum menerima suatu klien baru, setiap praktisi harus mempertimbangkan potensi

terjadinya ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip utama etika pofesi yang diakibatkan oleh

diterimanya klien tersebut. Pencegahan yang tepat mencakup antara lain:

 Memperoleh pemahaman tentang klien, pemilik, manajer, serta pihak yang

bertanggungjawab atas tata kelola dan kegiatan bisnis perusahaan, atau


 Memastikan adanya komitmen dari klien untuk meningkatkan praktik tata kelola

perusahaan atau pengendalian internalnya.

Setiap praktisi hanya boleh memberikan jasa profesionalnya jika memiliki kompetensi

untuk melaksanakan penugasan. Karena itu, sebelum menerima penugasan, setiap praktisi harus

mempertimbangkan setiap ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip utama etika profesi yang

dapat terjadi. Pencegahan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman yang terkait dengan

penerimaan penugasan ke tingkat yang dapat diterima mencakup:

 Memperoleh pemahaman yang memadai mengenai sifat dan kompleksitas kegiatan

bisnis klien, persyaratan perikatan serta tujuan, sifat, dan lingkup pekerjaan yang akan

dilakukan.

 Memperoleh pengetahuan yang relevan mengenai industry atau hal pokok dari

penugasan.

 Memiliki pengalaman mengenai peraturan atau persyaratan pelaporan yang relevan.

 Menugaskan jumlah staf yang memadai dengan kompetensi yang diperlukan.

 Menggunakan tanaga ahli jika dibutuhkan.

 Meneyetujui jangka waktu pelakasanaan perikatan yang realistis.

 Mematuhi kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang dirancang sedemikan rupa

untuk memastikan diterimanya perikatan hanya bila perikatan tersebut dapat

dilaksanakan secara kompeten.

Seorang praktisi yang ditunjuk untuk menggantikan praktisi lain atau seorang praktisi

yang sedang mempertimbangkan untuk mengikuti tender perikatan dari calon klien yang sedang

dalam perikatan dengan praktisi lain harus menentukan ada tidaknya alasan professional atau

alasan lainnya untuk tidak menerima perikatan tersebut, yaitu adanya hal-hal yang dapat

mengancam kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi.


Jika ancaman yang diidentifikasi merupakan ancaman yang signifikan, maka

pencegahan yang tepat harus dipertimbangkan. Pencegahan yang dapat dilakukan oleh praktisi

pengganti mencakup antara lain:

 Mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan klien secara lengkap dan terbuka
dengan praktisi pendahulu.
 Meminta praktisi pendahulu untuk memberikan informasi mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan klien yang diketahuinya yang relevan bagi praktisi pengganti,
sebelum praktisi pengganti memutuskan untuk menerima perikatan tersebut.
Pada umumnya praktisi pengganti harus memperoleh persetujuan dari calon klien,

sebaiknya secara tertulis sebelum melakukan komunikasi dengan praktisi pendahulu. Jika

persetujuan tersebut telah diberikan oleh calon klien, maka praktisi pendahulu harus mematuhi

semua ketentuan hukum dan peraturan lain yang relevan yang berlaku. Informasi yang diberikan

oleh praktisi pendahulu kepada praktisi pengganti harus disampaikan dengan jujur dan jelas.

Jika tidak memperoleh persetujuan dari klien, praktisi pendahulu tidak boleh secara sukarela

memberikan informasi mengenai klien kepada praktisi pengganti.

Setiap praktisi pendahulu harus menjaga prinsip kerahasiaan. Lingkup informasi

mengenai hal-hal yang dapat dan harus didiskusikan oleh praktisi pendahulu dengan praktisi

pengganti ditentukan oleh sifat perikatan serta hal-hal sebagai breikut:

 Persetujuan dari klien untuk melakukan komunikasi tersebut, atau

 Ketentuan hukum, peraturan atau kode etik profesi yang terkait dengan komunikasi dan

pengungkapan tersebut.

2.3 Benturan Kepentingan

Benturan kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis perusahaan

dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris, atau pemegang saham utama

perusahaan. Setiap praktisi harus mengidentifikasi setiap situasi yang dapat menimbulkan

benturan kepentingan, karena situasi tersebut dapat menimbulkan ancaman terhadap kepatuhan

pada prinsip utama etika profesi.


Pencegahan yang dilakukan
BAB III

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA