Anda di halaman 1dari 6

5.

Analisis Parameter Kualitas Air Pengukuran kadar sisa Cl, merupakan analisis parameter kualitas
air yang diperlukan sebagai indikasi utama kecukupan pembubuhan dosis kaporit pada proses
disinfeksi. Sisa Cl, pada dasarnya menggambarkan keberadaan senyawa Cl, dalam air hasil olahan
proses klorinasi yang masih memiliki daya disinfeksi. Kom ponen penyusunnya terdiri atas Cla bebas
(Cler hipoklorit (OCI), dan asam hipoklorit (Hocl) yang merupakan hasil penguraian kaporit ketika
berada dalam air dan Cl, terikat (semua Cl, yang tersedia dalam air sebagai kloramin (hasil reaksi
antara senyawa C, dan NHT). Keberadaannya dapat mengindikasikan tidak terjadinya kontaminasi
bakteriologis pada air (Suprihatin dan Suparno, 2014). Untuk menentukan kadar sisa Cl, beberapa
alternatif metode pengukurannya tersaji dalam sub-sub bab berikut. a. Metode Iodometri Pada
dasarnya, prinsip analisis sisa Cl,metode iodometri sama dengan yang telah tersaji pada uji kadar Cl,
aktif dalam kaporit. Perbedaan terletak pada volume contoh air yang dititrasi dan pemilihan
konsentrasi KCr,O, dan natrium tiosulfat digunakan. Volume contoh air yang akan dianalisis dipilih
500 ml mengingat kadar sisa Cla yang tidak akan melebihi kisaran nilai 0,5-10 mg/L. Rendahnya nilai
kadar sisa Cl, juga membuat larutan KCr0, dan natrium tiosulfat yang digunakan berkonsentrasi lebih
rendah dibandingkan pada analisis kadar Cl, aktif dalam kaporit (Alaerts dan Santika, 1984) Prosedur
analisis sisa Cla metode iodometri tersaji sebagai berikut 106 Happy Mulyani, ST, M.T

Memipet 500 ml air hasil olahan proses klorinasi endapan jangan ikut terbawa) untuk dimasukkan ke
dalam erlenmeyer 1 2) Menambahkan 5 ml asam asetat glasial ke dalam erlenmeyer tersebut; (3)
Mengaduknya agar pH merata dalam larutan (pH perlu dipastikan telah berada dalam kisaran nilai 3-
4); (4) Menambahkan 1 g KI dan mengaduknya hingga homogen; (5) Menitrasi contoh dengan titran
natrium tiosulfat0,01 N (6) Menambahkan 1 ml indikator amilum; (7) Melanjutkan titrasi hingga
warna biru hilang; (8) Mencatat total volume titran yang diperlukan sebagai nilai A; (9) Pengaruh dari
gangguan ditentukan melalui titrasi larutan blanko menurut langkah-langkah berikut (a)
Menambahkan 5 ml asam asetat glasial, 1 g KI, dan 1 ml indikator amilum ke dalam erlenmeyer 1 L
yang telah berisi 500 ml aquadest (b) Menitrasinya dengan titran natrium tiosulfat 0,01 N jika warna
biru keluar; (c) Mencatat volume titran yang diperlukan sebagai nilai B. Kalau warna biru tidak
muncul, langkah (a) diteruskan menurut urutan-urutan berikut. (b) Menitrasinya dengan
larutanL0,0282 N hingga warna biru keluar; (c) Melanjutkan titrasi dengan titran natrium
tiosulfat0,01 N; (d) Mencatat volume titran yang diperlukan sebagai nilai B. Keterangan: (1) Batas
konsentrasi sisa Cla terendah yang bisa dideteksi metode ini adalah 0,5 m Cla. (2) Analisis sisa Cl,
harus dilakukan paling lambat 2 jam setelah pengambilan contoh (3) Untuk keperluan praktikum non
riset (a) Volume contoh cukup 100 ml Penuntun Praktik Analisis & Optimasi Sistem Penyehatan Air
Minum 1o7

(b) Nilai B langsung diasumsikan 0 jika penambahan indikator amilum tidak menyebabkan larutan
blanko berubah warna menjadi biru (4) Jika kadar sisa Cla terlalu rendah, larutan Na,S20,0,01 N yang
digunakan sebagai titran dipilih yang berkonsentrasi 0,005 N (5) Jika volume titran Llebih besar dari
volume titran Na2S20, maka nilai B 0 (Alaerts dan Santika, 1984) b. Metode DPD FAS Metode DPD
FAS adalah merupakan suatu proses titrasi penentuan kadar oksidator menggunakan titran larutan
FAS dan indikator DPD (N,N dietil-p-fenilendiamin) dengan adanya penambahan KI. Keberadaan
indikator DPD akan memberikan warna merah pada larutan yang mengandung sisa Cla. Penambahan
KI berfungsi memisahkan komponen-komponen yang terkandung dalam sisa Cla. Reaksi antara sisa
Cl, yang terkandung dalam larutan akan membebaskan L yang berperan penting dalam mengoksidasi
indikator DPD dan memberi warna yang lebih merah pada larutan seiring dengan peningkatan
konsentrasi iodida (I) ditambahkan. Jumlah sisa Cl, (C bebas dan Cla terikat (monokloramin,
dikloramin) dapat ditentukan melalui titrasi menggunakan FAS. Uji sisa Cla menggunakan metode ini
akan dilakukan men tahapan berikut (1) Mencampurkan 5 ml larutan dapar fosfat dan 5 ml larutan
indikator DPD dalam erlenmeyer 250 ml; (2) Menambahkan 100 ml air hasil proses klorinasi, (3)
Menambahkan 1.000,5 mg KI lalu mengaduknya hingga larut; (4) Mendiamkannya selama 2 menit;
(5) Melakukan titrasi dengan FAS sampai warna merah hilang; (6) Mencatat ml FAS yang diperlukan.
Keterangan: 108 Happy Mulyani, S.T., MT

(l) Larutan dapar fosfat berperan mempertahankan pH supaya selalu berada dalam kisaran nilai pH
larutan titrasi 6,2-6,5. (2) Konsentrasi sisa Cl, yang masih dapat dideteksi metode ini adalah 0,05
mg/LC, (3) 1 ml standar titran FASE 100 ug/L CL. (Alaerts dan Santika, 1984) c. Metode Komparator
Klor Cara uji sisa Cla men metode ini dapat dilakukan menurut tahapan berikut. (1) Membilas cuvet
dengan aquadest sebanyak 3 kali (2) Meneteskan secara berurutan 3 tetes Reagen 1 dan 5 tetes t,
Reagen 2 pada cuvet yang telah kerin (3) Memasukkan contoh air ke dalam cuvet hingga tanda batas
4) Mengocok-ngocok cuvet hingga contoh air, Reagen 1, da Reagen 2 tercampur merata; (50
Menentukan kadar sisa Cl, contoh air dengan membandingkan warna contoh yang terbentuk dengan
level warna yang terdapat di kanan cuvet. Komparator klor Reagen yang digunakan Gambar 31.
Pengukuran sisa klor menggunakan komparator klor Keterangan: (1) Jika tidak terbentuk warna pink,
maka sisa Cl, contoh air Penuntun Praktik Analisis & optimasi Sistem Penyehatan Air Minum 109

ini akan berbeda-beda untuk tiap spesifikasi komparator kloi (prosedur praktik tersaji menggunakan
Free Chlorine Test kil HI 3831F dikeluarkan oleh Hanna Instruments) N C. PENYAJIAN DAN ANALISIS
DATA 1. Penyajian Data a. Data Praktik DPK 1) Perhitungan N natrium tiosulfat0,1 N Data titrasi
Volume larutan K Cr 0,0,1 Ndititrasi m, ml Konsentrasi larutan K Cr0,0,1 Ndititrasi Volume larutan
titran natrium tiosulfat0,1 N lukan Perhitungan: N natrium tiosulfat v atrium tiosulfut (2) Penentuan
Kadar Cla aktif dalam kaporit Data titrasi Volume titran narium tiosulfat 0,1 N diperlukan untuk
titrasi larutan kaporit (A) volume titran natrium tiosulfat0,1 N diperlukane untuk titrasi blanko (B) nil
ml larutan kaporit 0,1% d ml Perhitungan: Kandungan chuktu dalam kaporit ci) me marutan kaporit
diuluruNI 110 Happy Mulyani, MT

Kadar Clz aktif dalam kaporit (s%) kandungan Cl aktif volume larutan kaporit yang dititrasi x 100%
kaporit 0,1% vo e larutan kaporit 0,1% yang dipipet Keterangan: Cara konversi satuan dari 0,1%
menjadi mg/L telah dijelaskan di Bab 2. (3) Perhitungan nilai sisa Cl (a) Metode iodometri Data titrasi
contoh air Volume titran natrium tiosulfat diperlukan untuk titrasi larutan kaporit (A) ml Volume
contoh dititrasi Data titrasi blanko Jika warna biru muncul setelah penambahan um pada blanko,
Volume titran natrium tiosulfatdiperlukan untuk titrasi blanko (B) ml Jika warna biru tidak muncul
setelah penambahan amilum pada blanko, Volume L diperlukan hingga warna biru keluar ml Volume
titran atrium tiosulfat diperlukan setelah warna biru keluar Nilai B 1.000 x CA B) x N x 35,43 natrium
tiosul fat Sisa Cl2 volume contoh air dititrasi (ml) (48) Keterangan: Penentuan nilai Nnatriu tiosulfat
dilakukan melalui prosedur standarisasi seperti tersaji dalam analisis kadar Cl, aktif dalam kaporit
dengan penyesuaian konsentrasi natrium tiosulfat dan cro, sesuai yang digunakan sebagai titran
dalam analisis Penuntun Praktik Analisis &optimasi Sistem Penyehatan Air Minum 111
sisa Cl, yaitu 0,01/0005 N. Metode DPD FAS Sisa Cla (mg/L Cl,) ml standar titran FAS diperlukan x 0,1
mg/L (49) Metode komparator klor Sisa Cl mg/L Cla (4) Penentuan nilai DPK Sisa Clasetelah waktu
klorinasi 30 menit (a) mg/LCL Kadar Cl, aktif dalam kaporit (s%) DPK -3s%-a mg/LC, (50) b. Data
Praktik BPC Tabel 6 Data praktik BPC Volume Sisa C1, air hasil hasil olahan kaporit 0,1 pH air olahan
proses dibubuhkan klorinasi proses klorinasi mg/L kaporit 0,33 X 0,67 X Dosis berdasarkan per-
hitungan kebutuhan kaporit menggunakan metode DPK (X) 1,33 X 167 X 2 X Keterangan: Cara
penentuan nilai X dapat dilihat pada sub bab analisis data perhitungan kebutuhan dosis kaporit
berdasar praktik DPK. 2. Analisis Data a. Perhitungan Kebutuhan Dosis Kaporit Berdasar Praktik DPK
Dosis kaporit yang harus dibubuhkan berdasarkan praktik DPK adalah:

Dosis kaporit (mg/L (DPK sisa Cla diinginkan) x100s (51) b. Perhitungan Kebutuhan Dosis Kaporit
Berdasar Praktik BPC Langkah-langkah perhitungan kebutuhan dosis kaporit ber dasarkan praktik
BPC dijelaskan sebagai berikut. 1) Memplotkan data dalam Tabel 6 menjadi sebuah grafik; (2)
Membagi grafik tersebut menjadi daerah A, B, C, D, E, F dan Y (lihat Gambar 27); (3) Dosis kaporit
terpilih merupakan nilai sumbu x di kanan titik E pada grafik yang menghasilkan sisa Cl, sebesar Y. c.
Analisis Kualitas Hasil Olahan Proses Klorinasi Tabel 7 Analisis kualitas hasil olahan proses klorinasi
Air baku Hasil olahan proses Hasil olahan proses Parameter klorinasi menggunakan klorinasi
menggunakan dosis kaporit berdasar dosis kaporit berdasar metode BPC metode DPK -Dosis kaporit
pH sisa Cl, (mg/L Cl.) Rangkuman 1) Penentuan dosis kaporit yang diperlukan pada proses disinfeksi
dapat dilakukan melalui serangkaian proses klorinasi guna penentuan DPK dan BPC. (2) Dosis kaporit
merupakan jumlah nilai DPK atau BPO dan sisa C12 yang diinginkan berada dalam jaringan distribusi.
(3) Keberadaan sisa Cla sebesar 0,25-0,35 mg/L merupakan indikasi umum keamanan air hasil olahan
proses klorinasi dari segi mikrobiologi. 4) Nilai DPK ditentukan dari selisih antara kadar Cl,yang dibu
buhkan dengan sisa Cl, bebas air hasil olahan proses klorinasi Praktik penentuan BPO dilakukan
melalui proses klorinasi (5 menggunakan berbagai dosis kaporit yang variasinya ditetap

kan berdasarkan dosis kaporit hasil perhitungan DPK guna mendapatkan sisa Clayang efektif untuk
roses disinfeksi. Latihan Soal (1) Jelaskan fungsi proses pengolahan disinfeksi! (2) Jelaskan pengaruh
penambahan dosis kaporit terhadap sisa Cl, dan pH air hasil olahan (pembahasan ditinjau dari data
praktik dikaitkan dengan kajian teori yang ada dan penelitian terdahulu)! (3) Jelaskan fungsi
penentuan dosis kaporit pada proses klorinasi dengan meninjau dari: (a) dampak pemberian dosis
kaporit yang tidak sesuai (kuran (b) reaksi penguraian kaporit dalam air, (c) reaksi antara kaporit dan
senyawa senyawa yang berada dalam air (d) mekanisme proses disinfeksi oleh kaporit (4) Jelaskan
penyebab terjadinya perbedaan dosis kaporit hasil perhitungan praktik DPK dan BPC! Mana yang
lebih dire- komendasikan! (5) Suatu Instalasi Pengolahan Air (IPA) diketahui memiliki debit 125
L/detik dan beroperasi 20 jam tiap hari. Jika hasil penelitian menyebutkan bahwa dosis Cl, yang
diperlukan untuk proses klorinasi adalah 1 mg/L dan kadar Cl2 aktif dalam kaporit adalah 65%,
hitung kg kaporit yang diperlukan tiap tahunnya! (6) Buat review dari artikel-artikel penelitian
daporan atau jurnal) mengenai proses asi (jumlah sumber artikel minimal 5) khususnya mengenai
kualitas air baku, kondisi pengolahan, dan kualitas hasil olahan yang dihasilkan!
BAB 5 STABILISASI Kompetensi Dasar Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu merancang
suatu proses stabilisasi untuk suatujenis contoh air. Indikator Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa mampu Menentukan karakteristik suatu contoh air, (2) Menentukan saturasi suatu
contoh airs (3) Menentukan jenis dan dosis bahan kimia yang diperlukan untuk proses stabilisasi air,
(4) Melaku proses stabilisasi air (5) Mempelajari perubahan kualitas air yang terjadi akibat proses
stabilisasi. A. DASAR TEORI elain memenuhi standar kualitas, air bersih/air minum yang akan
didistribusikan ke konsumen juga harus dikondisikan supaya bersifat stabil (tidak bersifat agresif
atau berpotensi membentuk kerak). Air korosif didefinisikan sebagai kondisi kualitas air yang
mempunyai karakter melarutkan logam terlarut pada material yang dilaluinya pada laju berlebih
(Drinking water Penuntun Praktik Analisis &Optimasi Sistem Penyehatan Air Minum 115

and Groundwater Bureau, 2009). Penyebabnya antara lain kondisi air dengan nilai pH dan alkalinitas
yang rendah serta total padatan terlarut dan suhu yang tinggi (US Environmental Protection Agency,
2015). Karakter tersebut tidak diinginkan sebab dapat memicu timbulnya pengikisan, kerusakan, dan
pelarutan logam logam yang terkandung di dalam material yang dilaluinya. Dampak dampak negatif
lain seperti p kadarsenyawa logam beracun dalam air dan kebocoran pipa pun dapat terjadi (vendrell
and Atiles, 2003. Selain itu, masalah-masalah estetika baik pada material (bintik pada pakaian, noda
biru kehijauan pada saluran pipa/bak penampung air dan kenampakan air (warna merah, bau tidak
sedap, rasa pahit) ater Research Center Kerak akan timbul jika air mempunyai kadar mineral, khusus
nya Ca dan Mg, yang tinggi, (US Environmental Protection Agency, 2015). Pembentukan kerak
(akumulasi endapan CaCO, dan MgCO yang melekat pada permukaan padatan perlu diwaspadai.
Keber adaannya dapat menyumbat pipa yang akan berakibat lanjut pada terhambatnya aliran air,
berkurangnya kapasitas air yang mengalir dalam jaringan distribusi, dan bocornya kran air (Vendrell
and Atiles 2003, ater Research Center, 20 Pemanas air yang dipasok oleh air dengan kondisi tersebut
juga akan mengkonsumsi energi 29% lebih besar dengan waktu pemanasan 50% lebih lama
dibandingkan jika digunakan air yang bersifat stabil (US Environmental Protection Agency, 2015)
TAHUN 15 TAHUN Kerak Korosi Gambar 32 Peristiwa kerak dan korosi pada pipa
(https://pipecleaning.wordpress.com; http://www.pabrikpagarbrcgalvanis.com; US Environmental
Protection Agemy, 2015)

Sebagai alat bantu untuk mengindikasikan karakteristik air, perhitungan nilai indeks saturasi Caco,
telah umum digunakan. Kecenderungan air apakah bersifat mengendapkan atau melarutkan Caco
guna program pengendalian korosi dan pencegahan pembentukan kerak dalam pipa distribusi dan
alat pemanas air melalui interpretasi nilai indeks tersebut Uoin Task Group on Calcium Carbonat
Saturation, 1990. Beberapa jenis indeks saturasi Caco, beserta klasifikasi penggolongan
karakteristiknya tersaji dalam Tabel 8. Tabel 8. Jenis-jenis ind stabilitas dan klasifikasi penggolongan
karakteristik air (Cavano, 2005; APSP Recreational Water Quality Committee, 2012; Hoseinzadeh et
al., 2013) Karakteristik Indeks stabilitas Langelier Index (LI) Aggressive Index (A) Ryznar Index (R.)
Sangat agresif <-1,5 10 >8,5 cukup agresif 1,5-0 10-11,9 6,8KRIK8,5 Stabil 0-0,5 6,20RIK6,8
Pengerakan 1,5 >13 5,5 Keterangan: pH -pH L.I (52) A.I. pHa log10(A)log10(Ca) (53) (54) pH urasi 11,5
AI+ pHa (55) (Gebbie, 2000) dengan pH pH contoh air pHs pH saturasi A Alkalinitas total dalam m
CaCO g/L Ca Kesadahan Ca dalam mg/L CaCO Salah satu metode stabilisasi yang dapat dilakukan
adalah pengaturan pH. pH merupakan faktor utama penentu tingkat Penuntun Praktik Analisis &
Optimasisistem Penyehatan Air Minum 117

korosifitas air. Nilai pH sasaran pada proses stabilisasi akan berbeda berbeda bergantung komposisi
air (World Health Organization, 2003) Umumnya, air yang berada pada kondisi stabil mempunyai
kisaran nilai pH 65- 8,5 (Gebbie, 2000. Nilai pH air yang terlalu kecil 6) dapat menyebabkan
terjadinya korosi (Environmental Protection Agency, 2006). Pada nilai pH di atas 8,4, kerak yang
terbentuk akan makin menjadi makin besar dengan makin meningkatnya pH (Burnett and Znajewski,
2013). Masalah rasa pada air juga dapat muncul pada air dengan nilai pH di atas 8,5 (Crisp and
Olszowy, 2012) Secara lebih khusus, pH air yang stabil akan bernilai sama dengan pH saturasinya.
Semakin besar selisih pH air dan pH saturasi, semakin besar pula tingkat ketidakstabilan air. Jika pH
air bernilai kurang dari pH saturasi, air bersifat agresif Jika nilai pH air lebih besar dari kondisi
saturasinya, pembentukan kerak berpotensi terjadi (Gebbie, 2000) B. PROSEDUR KERJA 1. Alat dan
Bahan yang Digunakan a. Alat yang Digunakan Jenis alat beserta jumlah minimal yang diperlukan
dalam suatu rangkaian praktik stabilisasi adalah sebagai berikut. (1) Penyiapan contoh air Alat-alat
yang diperlukan untuk penyiapan contoh air adalah: (a) 1 labu ukur 25 ml untuk pembuatan larutan
natrium tiosulfat 0,1 M; (b) 1 botol tetes kaca 25 ml untuk wadah penyimpanan larutan natrium
tiosulfat 0,1 M (c) 2 kaca arloji/botol timbang/cawan porselin untuk wadah Naas,O, 5H20 dan
NazCOn saat proses penimbangan (d) 1 unit neraca analitis;

(e) 1 otol ot 250 ml untuk wadah penyimpanan aquadest (2) Penentuan nilai pH saturasi Alat-alat
yang diperlukan dalam praktik penentuan nilai pH iaturasi melalui uji Marble Test adalah sebagai
berikut (a) 1 botol KOB 300 ml; (b) 1 gelas beker 500 ml guna wadah contoh saat pengukuran oH
satura (c) 1 unit pH meter (d) 1 sendok spatula berikut botol timbang kaca arloji untuk pengambilan
dan wadah Caco, yang akan ditimbang, (e) 1 unit neraca analitis Alat-alat yang diperlukan dalam
praktik penentuan nilai pH saturasi melalui estimasi nilai indeks stabilitas air AI adalah sebagai
berikut (a) An alkalinitas contoh air baku Jika analisis alkalinitas dilakukan dengan titrasi meng-
gunakan perubahan warna indikator, maka alat-alat yang diperlukan melipu buret 25 atau 50 ml
beserta klem dan statif untuk proses titrasi analisis alkalinitas contoh air baku; l erlenmeyer 100 ml
untuk wadah larutan natrium tetraborat saat titrasi standarisasi HCl 0,02 N; erlenmeyer 250 ml
untuk wadah contoh air baku saat proses titrasi penentuan nilai alkalinitas contoh air baku 3 labu
ukur 25 ml untuk pembuatan larutan-larutan HCl 0,1 N dan indikator-indikator (metil oranye (MO)
dan phenolptalein (PP) labu ukur 50 ml untuk pembuatan larutan natrium tetraborat 0,02 N; 1 labu
ukur 100 ml untuk pengenceran larutan H 0,02 N

1 gelas beker 100 ml untuk wadah contoh air saat pengukuran pH; 1 gelas beker 1 L untuk wadah
aquadest saat proses pendidihan aquadest; 2 botol tetes kaca 25 ml untuk wadah penyimpanan
larutan-larutan indikator; 1 botol reagen kaca 25 ml untuk wadah penyimpanan larutan H 0,1 N; 1
botol reagen plastik 50mluntuk wadah penyimpanan larutan Na,BO,0,02 N: 1 botol reagen kaca 100
ml untuk wadah penyimpanan larutan HCl 0,02 N; 1 pipet 1 ml untuk pengambilan HCl pekat; i pipet
10 ml guna pengambilan larutan etanol; 2 pipet 100 ml untuk pengambilan larutan natrium
tetraborat 0,02 N dan aquadest bebas CO.; 3sendokspatulaberikut kaca arloji botol timbang guna
pengambilan dan wadah MO PP dan Na BO .10HO yang akan ditimbang; 1 unit pH meter, 1 unit
penangas air untuk pendidihan aquadest; 1 unit neraca analitis; 2 botol semprot 500 ml untuk
wadah penyimpanan aquadest dan aquadest bebas CO Jika analisis alkalinitas dilakukan
menggunakan titrasi potensiometri, maka alat-alat yang diperlukan meliputi: 1 buret 25 ml beserta
lem dan statif untuk titrasi standarisasi HCl 0,02 N n analisis alkalinitas contoh air baku 2 gelas beker
200 ml untuk wadah contoh air dan larutan natrium tetraborat 0,02 N saat proses titrasi dan
pengukuran pH contoh air baku 1 gelas beker 1 untuk wadah aquadest saat proses L

pendidihan aquadest 2 batang pengaduk untuk proses pencampuran larutannatrium tetraborat 0,02
N dan contoh air baku tiap penambahan sekitar 0,5 ml titran 0,02 N 1 labu ukur 25 ml untuk
pembuatan larutan larutan HCl 0,1 N; 1 labu ukur 50 ml untuk pembuatan larutan natrium
tetraborat 0,02 N; 1 labu ukur 100 ml untuk pengenceran larutan HC1 0,02 N; 1botol reagen plastik
25 ml untuk wadah penyimpanan larutan natrium tetraborat 0,02 N; 1 botol reagen kaca 25 ml
untuk wadah penyimpanan larutan HCl 0,1 N; 1 botol reagen kaca 100mluntukwadah penyimpanan
larutan HCl 0,02 N; 1 pipet 1 ml untuk pengambilan HCl pekatr 2 pipet 100 ml untuk pengambilan
larutan natrium tetraborat 0,02 N dan aquadest bebas COa, 1 sendok spatula berikut botol timbang
guna pengambilan dan wada Na,Bor10HLo yang akan ditimbang; 1 unit pH meter; 1 unit neraca
analitis; 2 botol semprot 500 ml untuk wadah penyimpanan aquadest dan aquadest bebas CO (b)
Analisis kesadahan Ca contoh air baku Alat-alat yang diperlukan untuk keperluan analisis kesadahan
Ca contoh adalah sebagai berikut. 1 buret 25 atau 50 ml beserta klem dan statif untuk titrasi
penentuan faktor murexid dan penentuan nilai kesadahan Ca contoh air baku; 2 erlenmeyer 250 ml
untuk wadah larutan CaCO, dan

contoh air baku saat proses asi analisis kesadahan 3 labu ukur 25 ml untuk pembuatan larutan
standar Caco, NaOH 8%, dan indikator metil red (MR) 1 labu ukur 100 ml untuk pembuatan larutan
EDTA 0,01 M 1 unit penangas air untuk proses pemanasan terhadap larutan standar CaCO Saat
proses pembuatanh 3botol reagen plastik 25mluntuk wadahpenyimpanan larutan standar CaCO,
NaOH 8%, dan pembuatan sekaligus wadah penyimpanan larutan NHAOH 1:1, i botol reagen kaca 25
ml untuk pembuatan dan wadah penyimpanan larutan HCl 1:1; 1 botol reagen kaca tetes 25 ml
untuk penyimpanan larutan indikator MR 1 botol reagen plastik 100 ml untuk wadah penyimpanan
larutan EDTA 0,01 M, 3 pipet 1 ml untuk pengambilan larutan NaOH 8% 5 pipet 10 ml untuk
pengambilan larutan standar CaCO, HCl pekat, NHy etanol, dan aquadest 1 pipet 100 ml untuk
pengambilan aquadest; 7 sendok spatula berikut botol timbang/kaca arloji untuk pengambilan dan
wadah Caco, NaOH, murexid, NaCl, indikator MRX-NaCl, MR, dan Na EDTA yang akan ditimbang, 1
unit pH meter; 1 unit neraca analitis; 1 botol semprot 500 ml untuk wadah penyimpanan aqua dest.
Keterangan: Pada dasarnya, jenis alat dan bahan beserta jumlah yang digunakan pada penentuan pH
saturasi berdasarkan