Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS Desember 2014

“Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan +


Asfiksia Berat + Gangguan Napas Berat +
Hipotermia Sedang + Caput Succedaneum”

Nama : Sakina Usman


No. Stambuk : N 101 10 003
Pembimbing : dr. Suldiah, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2014

1
PENDAHULUAN

Transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine merupakan perubahan


yang kompleks. Sistem organ harus mengalami beberapa perubahan fungsi seperti
dimulainya pernafasan, perubahan sirkulasi janin ke sirkulasi neonatus, perubahan
fungsi hepar dan ginjal dan pengeluaran makanan dan minuman dari usus. Disini
terjadi reorganisasi proses metabolic untuk mencapai suatu keadaan hemostatis
post natal. Bagi sebagian besar bayi, transisi ini berjalan lancar dan tidak
berkomplikasi, akan tetapi bagi beberapa bayi lain transisi ini dapat tertunda atau
mengalami komplikasi1.

Asfiksia merupakan salah satu manifestasi yang terjadi akibat neonatus


belum mampu beradaptasi pada lingkungan ekstrauterine setelah lahir. Asfiksia
ditandai dengan kegagalan neonatus melakukan pernafasan secara spontan dan
teratur, bisa disebabkan karena fungsi paru yang belum matur, terjadi obstruksi di
saluran napas akibat aspirasi cairan amnion atau kelainan anatomi dari system
pernafasan bayi. Keadaan ini membutuhkan penanganan segera, untuk mencegah
terjadinya hipoksia yang dapat berakibat kerusakan otak secara irreversible. 2

Gangguan napas dapat merupakan suatu keadaan lanjutan dari suatu asfiksia,
terutama pada neonatus. Gangguan napas pada bayi terjadi terutama pada bayi
post asfiksia dengan derajat berat. Gangguan napas ditandai dengan adanya
peningkatan frekuensi napas lebih dari normal, adanya tarikan dada saat bernafas,
kulit dan bibir membiru serta merintih. Selain menilai dari pemeriksaan fisik,
informasi mengenai umur kehamilan bayi sangat penting diketahui untuk dapat
menegakkan diagnosis etiologic kasus pada gangguan nafas sehingga penanganan
yang diberikan tepat dan rasional.3

Hipotermia juga dapat menjadi salah satu masalah neonatus, hal ini
disebabkan neonatus memiliki termoregulasi yang belum adekuat sehingga asuhan
perawatan bayi baru lahir dengan tepat sangat penting untuk dilakukan. Trauma

2
lahir juga sering terjadi pada neonatus terutama berhubungan dengan prosedur
obstetric yang dilakukan. 3

KASUS

Nama : Bayi EB.


Tanggal lahir : 30 Oktober 2014
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam

1. ANAMNESIS

Bayi baru lahir perempuan tanggal 30 Oktober 2014 pukul 10.00 WITA
secara section cessaria atas indikasi CPD (Cranio Pelvic Disproporsion).
Skor APGAR 1/3/5/7, bayi tidak segera menangis, ketuban hijau kental,
oligohidramnion (+). Berat badan lahir 3100 gram, Panjang badan lahir 48
cm. Trauma lahir ditemukan caput succedaneum, tidak ada kelainan
kongenital.

Riwayat maternal: usia ibu melahirkan 17 tahun, G1P0A0. Riwayat


demam (+) pernah dialami selama hamil, dan ibu merasa kakinya sering
kram selama hamil. Ibu menderita penyakit asma, tidak ada riwayat
hipertensi atau diabetes sebelum dan saat hamil. Ibu sering
mengkomsumsi mie instan selama hamil. Pemeriksaan antenatal care tidak
rutin. Ibu tidak melakukan aktivitas berat selama hamil.

2. PEMERIKSAAN FISIK
- Tanda Vital
o Denyut jantung : 144 x/menit
o Respirasi : 72 x/menit
o Temperatur : 35.1 C
o CRT : < 2 detik
- Data antropometrik
o Berat badan : 3100 gram
o Panjang badan : 48 cm
o Lingkar kepala : 35 cm
o Lingkar dada : 33 cm
- System pernafasan
o Sianosis : (+)
o Merintih : (+)
o Apneu : (-)
o Retraksi dinding dada : (+)

3
o Gerakan dinding dada : simetris
o Cuping hidung : (+)
o Stridor : (-)
o Bunyi nafas : bronkovesikuler +/+
o Bunyi tambahan : ronkhi +/+, wheezing -/-
DOWNE SCORE
o Frekuensi napas :1
o Retraksi :2
o Sianosis :1
o Udara masuk :1
o Merintih :1
Total skor :6
Kesimpulan : Gawat Napas
Kriteria gangguan napas WHO: Gangguan napas berat
o System Kardiovaskuler
o Bunyi jantung : murni teratur
o Murmur : (-)
o System Hematologi
o Pucat : (-)
o Icterus : (-)
o System Gastrointestinal
o Kelainan dinding abdomen : (-)
o Muntah : (-)
o Diare : (-)
o Residu lambung : (-)
o Organomegali : (-)
o Bising usus : (+) kesan normal
o Umbilicus
 Keluaran : (-)
 Warna kemerahan : (-)
 Edema : (-)
o System Neurologi
o Aktivitas : lemah
o Kesadaran : lethargi
o Fontanella : datar
o Sutura : terbuka
o Reflex cahaya : +/+
o Kejang : (-)
o Tonus otot : baik
o System Reproduksi

4
o Anus imperforate : (-)
o Keluaran : (-)
o Pemeriksaan lain:
o Ekstremitas : lengkap
o Turgor : baik
o Kelainan kongenital: (-)
o Trauma lain : Caput Succedaneum
o Reflex primitive:
 Reflex moro : (+)
 Reflex sacking: (+)
 Reflex rooting: (+)
 Reflex Babinski : (+)
 Reflex palmar grasping: (+)

BALLARD SCORE
o Maturitas Neuromuskular Maturitas Fisik
o Sikap tubuh :3 Kulit :3
o Persegi jendela :4 Lanugo :2
o Recoil Lengan :2 Permukaan Plantar :4
o Sudut Poplitea :2 Payudara :2
o Tanda Selempang :4 Mata/Telinga :4
o Tumit Ke kuping :4 Genitalia :4
o Skor : 38
o Estimasi Umur Kehamilan : 38 – 40 Minggu

5
3. RESUME

Bayi baru lahir perempuan melalui operasi section cessaria atas


indikasi CPD (Craniopelvic Disproporsion). Bayi lahir tidak segera
menangis, ketuban hijau kental dan oligohidramnion, APGAR Score
1/3/5/7. Pada pemeriksaan didapatkan terlihat aktivitas bayi lemah,
merintih, terdapat retraksi intercostal dan pernafasan cuping hidung. Bayi
juga mengalami sianosis (+) dan menghilang dengan pemberian O2. Juga
ditemukan trauma lahir berupa caput succedaneum, tidak ada kelainan
kongenital. Berat badan lahir 3100 gram, Panjang badan lahir 48 cm. Dari
pemeriksaan tanda vital ditemukan frekuensi napas 72 x/menit, denyut
jantung 144 x/menit, suhu tubuh 35,1 C. Skor DOWNE 6 (gawat napas;
WHO= gangguan napas berat), skor Ballard 38 (estimasi umur kehamilan
38-40 minggu).

Dari anamnesis maternal, usia ibu 17 tahun, G1P1A0, riwayat demam


selama hamil (+), riwayat ANC tidak rutin.

4. DIAGNOSIS

Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan + Asfiksia Berat +


Gangguan napas berat + Hipotermia sedang + Caput Succedaneum

5. TERAPI
Manajemen Asfiksia  Resusitasi (langkah awal)
- Berikan kehangatan dengan menempatkan bayi dibawah pemancar
panas
- Posisikan kepala sedikit tengadah (semi ekstensi) agar jalan napas
terbuka
- Bersihkan jalan napas, isap lendir pada mulut, orofaring dan hidung
- Keringkan bayi dan rangsang taktil
- Reposisikan kepala
- Nilai pernafasan, frekuensi jantung, warna kulit
 Pasien menangis, frekuensi jantung 128 kali/menit, warna kulit
pink
Perawatan Rutin:
- Menjaga kehangatan bayi (dalam incubator)
- Rawat tali pusat
- Beri gentamicine tetes mata pada kedua mata

6
- Beri Vitamin K1 (fitomenadion) 1 mg IM di paha kiri
- Beri vaksin hepatitis B 0,5 ml IM di paha kanan 2 jam sesudah
pemberian Vit.K1

- IVFD Dextrosa 5% 6 tetes per menit


- Injeksi cefotaxime 2 x 150 mg
- Injeksi gentamicine 2 x 6 mg
- Injeksi Dexametasone 3 x 0,3 ml
- Pemasangan oksigen kanul 2-3 liter/menit
- Bayi dipuasakan
- Observasi tanda-tanda vital setiap jam

6. ANJURAN PEMERIKSAAN
- Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu
- Pemeriksaan Darah Rutin
- Pemeriksaan radiologi: foto thoraks

FOLLOW UP

Tanggal : 31 Oktober 2014


S Bayi tidur
O Keadaan Umum: Jelek
Denyut jantung : 116 x/menit
Respirasi : 62 x/menit
Suhu tubuh : 36,1 C
Berat badan : 3100 gram
CRT : < 2 detik
GDS : 60 mg/dl
Sistem Pernapasan
- Merintih : (-)
- Apnea : (-)
- Retraksi : (+)
- Bunyi Pernapasan : Bronkovesikular +/+
- Bunyi Tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Sistem Kardiovaskular
- Bunyi Jantung I/II : Teratur
- Murmur : (-)
Sistem Neurologis
- Aktivitas : somnolen
- Tonus Otot : baik
- Kejang : (-)

7
Sistem Gastrointestinal
- Muntah : (-)
- Diare : (-)
- Peristaltik : (+) Kesan Normal
- Umbilikus : Baik
Sistem Genitalia
- Anus Imperforata : (-)
- Keluaran : (-)
Pemeriksaan Lain
- Ekstremitas : Akral hangat
- Trauma : caput succedaneum

A Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan + Post Asfiksia +


Gangguan napas ringan + Hipotermia ringan + Caput
Succedaneum
P - Menjaga kehangatan bayi (dalam incubator)
- IVFD Dextrosa 5% 6 tetes per menit
- Injeksi cefotaxime 2 x 150 mg
- Injeksi gentamicine 2 x 6 mg
- Injeksi Dexametasone 3 x 0,3 ml
- ASI/PASI 20 cc / 3 jam (pelan-pelan)
- Observasi tanda-tanda vital setiap jam
- Anjuran: foto thoraks

Tanggal : 01 November 2014


S Bayi aktif, tidak sesak
O Keadaan Umum: Sedang
Denyut jantung : 130 x/menit
Respirasi : 54 x/menit
Suhu tubuh : 36,6 C
Berat badan : 3100 gram
CRT : < 2 detik
Sistem Pernapasan
- Merintih : (-)
- Apnea : (-)
- Retraksi : (-)
- Bunyi Pernapasan : Bronkovesikular +/+
- Bunyi Tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Sistem Kardiovaskular
- Bunyi Jantung I/II : Teratur
- Murmur : (-)
Sistem Neurologis
- Aktivitas : Aktif

8
- Tonus Otot : baik
- Kejang : (-)
Sistem Gastrointestinal
- Muntah : (-)
- Diare : (-)
- Peristaltik : (+) Kesan Normal
- Umbilikus : Baik
Sistem Genitalia
- Anus Imperforata : (-)
- Keluaran : (-)
Pemeriksaan Lain
- Ektremitas : Akral hangat
- Trauma : caput succedaneum

A Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan + Post Asfiksia +


Post Gangguan napas + Normotermi + Caput Succedaneum
P - Menjaga kehangatan bayi (dalam incubator)
- IVFD Dextrosa 5% 6 tetes per menit
- Injeksi cefotaxime 2 x 150 mg
- Injeksi gentamicine 2 x 6 mg
- ASI/PASI 30 cc / 3 jam (pelan-pelan)
- Observasi tanda-tanda vital jam
- Anjuran: foto thoraks

Tanggal : 02 November 2014


S Bayi tidur
O Keadaan Umum: Sedang
Denyut jantung : 125 x/menit
Respirasi : 48 x/menit
Suhu tubuh : 36,8 C
Berat badan : 3100 gram
CRT : < 2 detik
Sistem Pernapasan
- Merintih : (-)
- Apnea : (-)
- Retraksi : (-)
- Bunyi Pernapasan : Bronkovesikular +/+
- Bunyi Tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Sistem Kardiovaskular
- Bunyi Jantung I/II : Teratur
- Murmur : (-)
Sistem Neurologis

9
- Aktivitas : Aktif
- Tonus Otot : baik
- Kejang : (-)
Sistem Gastrointestinal
- Muntah : (-)
- Diare : (-)
- Peristaltik : (+) Kesan Normal
- Umbilikus : Baik
Sistem Genitalia
- Anus Imperforata : (-)
- Keluaran : (-)
Pemeriksaan Lain
- Ektremitas : Akral hangat
- Trauma : caput succedaneum

A Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan + Post Asfiksia +


Post Gangguan napas + Normotermi + Caput Succedaneum
P - Menjaga kehangatan bayi
- IVFD Dextrosa 5% 6 tetes per menit
- Injeksi cefotaxime 2 x 150 mg
- Injeksi gentamicine 2 x 6 mg
- ASI/PASI 30 cc / 8 jam
- Observasi tanda-tanda vital setiap 12 jam
- Anjuran: foto thoraks

Tanggal : 03 November 2014


S Bayi tidur
O Keadaan Umum: baik
Denyut jantung : 130 x/menit
Respirasi : 52 x/menit
Suhu tubuh : 36,5 C
Berat badan : 3100 gram
CRT : < 2 detik
Sistem Pernapasan
- Merintih : (-)
- Apnea : (-)
- Retraksi : (-)
- Bunyi Pernapasan : Bronkovesikular +/+
- Bunyi Tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Sistem Kardiovaskular
- Bunyi Jantung I/II : Teratur
- Murmur : (-)
Sistem Neurologis

10
- Aktivitas : Aktif
- Tonus Otot : baik
- Kejang : (-)
Sistem Gastrointestinal
- Muntah : (-)
- Diare : (-)
- Peristaltik : (+) Kesan Normal
- Umbilikus : Baik
Sistem Genitalia
- Anus Imperforata : (-)
- Keluaran : (-)
Pemeriksaan Lain
- Ektremitas : Akral hangat
- Trauma : caput succedaneum

A Bayi Cukup Bulan + Sesuai Masa Kehamilan + Post Asfiksia +


Post Gangguan napas + Normotermi + Caput Succedaneum
P - Menjaga kehangatan bayi
- Aff IVFD
- ASI/PASI on demand
- Bayi room in (Rawat Gabung dengan Ibu)

DISKUSI

Asfiksia neonatorum adalah keadaan neonatus yang tidak dapat bernapas


secara spontan, teratur dan adekuat beberapa saat setelah lahir. Setelah lahir,
neonatus mengalami suatu masa peralihan dari kehidupan intrauterine ke
kehidupan ekstrauterine.3 Didalam uterus, paru janin tidak berfungsi sebagai
sumber oksigen atau pengeluaran karbondioksida, karena paru janin terisi cairan
amnion. Paru paru janin berkembang didalam uterus, akan tetapi alveoli di paru
janin masih terisi oleh cairan dan pembuluh darah yang ada di paru janin
mengalami kontriksi. Sebelum lahir, hampir seluruh darah dari jantung kanan
tidak dapat melalui paru karena kontriksi pembuluh darah janin. Karena itu,
hampir seluruh darah melalui duktus arteriosus masuk ke aorta. 4

Pada saat lahir, kebutuhan oksigen yang sebelumnya didapatkan dari


sirkulasi fetomaternal melalui mekanisme difusi pada plasenta, kini secara
mandiri harus dihasilkan secara auto oleh bayi. Setelah lahir, cairan yang mengisi

11
lumen paru janin harus dipindahkan dari alveoli ke dalam system vascular
sehingga memungkinkan pertukaran gas di alveoli. Akibat tekanan udara dan
peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah di paru mengalami
relaksasi, keadaan relaksasi ini bersama dengan peningkatan tekanan darah
sistemik yang meningkatkan aliran darah pulmonal dan mengurangi aliran melalui
duktus arteriosus.5 Oksigen dari alveoli akan diserap oleh meningkatnya aliran
paru dan darah yang kaya akan oksigen akan kembali kejantung kiri kemudian
dipompakan keseluruh tubuh. selain itu terdapat teori yang mengatakan bahwa
pada saat menjelang kelahiran terjadi peningkatan hormone epinefrin,
vasopressin, aldosterone dan prostaglandin yang meningkatkan reabsorbsi cairan
ke vascular. Selama persalinan per vaginam, sejumlah kecil cairan dapat mengalir
keluar melalui mulut akibat kompresi dada. 4

Asfiksia seringkali terjadi terutama pada bayi yang mengalami gawat janin
sebelum persalinan. Gawat janin berkaitan dengan kondisi ibu, masalah, pada tali
pusat dan plasenta atau masalah bayi selama dan sesudah persalinan. Perubahan
yang terjadi saat asfiksia dapat ditandai dengan terjadinya henti napas akibat
hipoksia. Pada periode awal bayi akan mengalami napas cepat (rapid breathing)
yang disebut sebagai gasping primer. Jika pada periode awal tidak ditangani,
maka gasping primer tersebut berlanjut dan diikuti dengan keadaan bayi tidak
bernafas (apnu) yang disebut apnu primer. Pada saat ini, frekuensi jantung mulai
menurun, namun tekanan darah masih bertahan. Jika keadaan ini berlangsung
lama dan tidak dilakukan pertolongan, maka bayi akan melakukan usaha nafas
berupa megap-megap yang disebut gasping sekunder dan kemudian masuk
kedalam periode apnu sekunder. Pada saat ini frekuensi jantung semakin menurun
dan tekanan darah semakin menurun dan dapat menyebabkan kematian jika bayi
tidak segera diresusitasi. 3

Kemungkinan penyebab asfiksia berat pada kasus ini adalah terjadi gawat
janin (fetal distress) sebelum persalinan. Fetal distress merupakan keadaan dimana
janin tidak menerima oksigen yang cukup sehingga mengalami hipoksia. Gawat
janin dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko: faktor ibu, faktor plasenta dan

12
tali pusat dan faktor bayi. Pada kasus ini, ibu berusia 17 tahun, dimana diketahui
umur kurang dari 20 tahun menjadi risiko tinggi untuk persalinan, selain karena
faktor psikis yang belum siap dapat dikarenakan belum sempurnanya maturitas
alat reproduksi, baik komponen endokrin maupun anatomi jalan lahir. Anatomi
panggul yang masih dalam pertumbuhan, berisiko untuk terjadi persalinan lama
sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi.3 Selain itu, selama
hamil ibu jarang melakukan antenatal care sehingga kesehatan ibu selama hamil
dan kondisi janin tidak terpantau. Riwayat sakit demam yang dialami selama
hamil juga bisa menjadi faktor predisposisi gawat janin yang terjadi. Selain
disebabkan oleh faktor ibu, kemungkinan penyebab terjadinya asfiksia pada kasus
ini adalah dari faktor bayi yaitu air ketuban bercampur meconium, yang
menyebabkan adanya benda asing yaitu meconium sehingga menghambat udara
masuk alveoli, akibatnya paru tidak terisi udara dan oksigen tidak dapat diserap
oleh aliran darah/ memungkinkan risiko aspirasi pulmoner sehingga ventilasi dan
perfusi O2 terhambat. Penilaian asfiksia berdasarkan skor APGAR pada menit 0,
1, 5 dan 10. Pada kasus ini, didapatkan nilai APGAR 1/3/5/7 yang menandakan
kondisi bayi baru lahir yaitu asfiksia berat (APGAR ≤ 3). Adapun penjabaran
penilaiannya yaitu pada menit ke-1 dengan skor 1, kemudian pada menit ke-5,
bayi hanya memiliki denyut jantung setelah dilakukan rangsang, didapatkan skor
APGAR 3 (denyut jantung kurang dari 100 kali/menit (1), pernafasan lambat dan
tidak teratur (1) dan tubuh mulai berwarna kemerahan, namun ekstremitas masih
sianosis (1). Kemudian pada 5 menit penilaian berikutnya didapatkan skor
APGAR 5, yaitu denyut jantung lebih dari 100 kali/menit (2), pernafasan lambat
dan tidak teratur (1); gerakan otot muka sedikit (1); tubuh mulai berwarna
kemerahan, namun ekstremitas masih sianosis (1); Kemudian pada menit ke-15,
didapatkan skor APGAR 7 denyut jantung lebih dari 100 kali/menit (2), bayi
menangis kuat (2); gerakan otot muka sedikit (1); tubuh mulai berwarna
kemerahan, namun ekstremitas masih sianosis (1). Penilaian APGAR dihentikan
ketika skornya ≥ 7. Nilai APGAR merupakan metode objektif untuk menilai
kondisi bayi baru lahir (derajat asfiksia) dan berguna untuk memberikan informasi
mengenai keadaan bayi secara keseluruhan dan keberhasilan tindakan resusitasi,

13
tetapi tidak digunakan untuk menentukan apakah seorang bayi memerlukan
resusitasi. Pada kasus dilakukan manajemen asfiksia berupa langkah awal
resusitasi yaitu memberikan kehangatan dengan menempatkan bayi dibawah
pemancar panas, memposisikan kepala sedikit tengadah (semi ekstensi) agar jalan
napas terbuka, membersihkan jalan napas, isap lendir pada mulut, orofaring dan
hidung, mengeringkan bayi dan rangsang taktil, mereposisikan kepala, menilai
pernafasan, frekuensi jantung, warna kulit, memberikan oksigen 1-2 liter/menit.
Setelah itu, dilakukan penilaian kembali terhadap kondisi bayi melalui frekensi
denyut jantung, napas dan warna kulit. Pada kasus ini, bayi merespon ketika
dilakukan rangsangan taktil sehingga tidak perlu dilanjutkan pemberian ventilasi
tekanan positif. Setelah dilakukan perawatan rutin bayi baru lahir berupa menjaga
kehangatan bayi (dalam incubator), merawat tali pusat, memberi gentamicine tetes
mata pada kedua mata, memberi Vitamin K1 (fitomenadion) 1 mg IM di paha kiri,
memberi vaksin hepatitis B 0,5 ml IM di paha kanan 2 jam sesudah pemberian
Vitamin K.

Gangguan napas pada bayi baru lahir adalah keadaan bayi yang
sebelumnya normal atau bayi dengan asfiksia yang sudah berhasil diresusitasi
tetapi beberapa saat kemudian mengalami gangguan napas. Gangguna napas dapat
disebabkan oleh adanya kelainan paru (pneumonia), kelainan jantung (penyakit
jantung bawaan, disfungsi miokardium), kelainan SSP, hipoglikemia, asidosis,
kelainan anatomi dan kelainan lain seperti sindrom aspirasi meconium, transient
tacipneu of the newborn, dan penyakit membrane hyaline. Gangguan napas terdiri
dari kumpulan gejala: frekuensi napas lebih dari 60 kali/menit, atau kurang dari
30 kali/menit, tampak sianosis, terdapat retraksi dinding dada, merintih dan apneu.
Pada kasus ini bayi mengalami gangguan napas berat, hal ini disebabkan oleh
frekuensi napas >60 kali/menit, terdapat retraksi, terdapat sianosis dan merintih,
dimana gejala ini merupakan klasifikasi komponen dalam gangguan nafas berat
menurut WHO. Kemungkinan penyebab terjadinya gangguan napas pada kasus ini
adalah disebabkan oleh terjadinya sindrom aspirasi meconium, dimana pada
pemeriksaan warna air ketuban yaitu hijau kental. Adanya aspirasi meconium

14
intrauterine dapat disebabkan karena terjadinya asfiksia intranatal sebelumnya,
asfiksia dapat terjadi akibat faktor risiko yang telah dijelaskan diatas. Asfiksia dan
berbagai bentuk stress intrauterine dapat meningkatkan peristaltic usus janin
disertai relaksasi sfingter ani eksterna sehingga terjadi pengeluaran meconium ke
cairan amnion. Saat bayi dengan asfiksia menarik napas (gasping) baik in utero
atau selama persalinan, terjadi aspirasi cairan amnion yang bercampur meconium
kedalam saluran napas. Meconium yang tebal menyebabkan obstruksi jalan napas
sehingga terjadi gangguan napas.

Adapun penanganan untuk gangguan napas berat pada kasus ini adalah
dilanjutkan pemberian oksigen 2-3 liter/menit, bayi dipuasakan dan memberikan
antibiotika cefotaksim dan gentamisin, karena bayi kemungkinan besar
mengalami sepsis, yaitu air ketuban bercampur meconium. Karena bayi
menunjukkan tanda-tanda perbaikan (frekuensi napas menurun dan tidak kurang
dari 30 kali/menit, tarikan dinding dada berkurang dan suara merintih berkurang),
disertai perbaikan tanda klinis, maka O2 dikurangi secara bertahap dan mulai
melakukan pemberian minum per oral sedikit demi sedikit.

Hipotermia adalah suhu tubuh kurang dari 36,5 derajat celcius pada
pengukuran per aksilar. Hipotermia sering terjadi pada neonates karena pusat
termoregulasi bayi belum sempurna, permukaan tubuh bayi relative luas dan
kemampuan thermogenesis yang terbatas. Selain karena thermogenesis yang
belum sempurna, pada neonates dapat terjadi kehilangan panas melalui 4
mekanisme, antara lain: 1. Radiasi, hilangnya panas dari bayi ke lingkungan
dingin terdekat, 2. Konduksi, hilangnya panas langsung dari bayi ke sesuatu yang
kontak dengan bayi, 3. Konveksi: kehilangan panas dari bayi ke udara sekitar, 4.
Evaporasi: penguapan air dari kulit bayi. Hipotermia dibagi menjadi tiga derajat:
0 0
hipotermia ringan (36,0-36,4 C); hipotermia sedang (35,0-35,9 C) dan
hipotermia berat (< 35,0 0 C). Pada kasus ini , bayi dikategorikan kedalam kondisi
hipotermia sedang (suhu tubuh 35,1oC). Kemungkinan penyebab terjadinya
hipotermia dari kasus ini adalah karena kurang optimalnya asuhan perawatan bayi

15
baru lahir yaitu pemberian kehangatan, terutama tidak mengganti selimut basah
dengan cepat dll.

Adapun penanganan untuk hipotermia sedang antara lain: mengganti


pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian hangat, memakai topi dan selimuti
dengan selimut hangat dan merawat bayi pada ruangan hangat, menggunakan alat
pemancar panas, incubator bila perlu (apabila ibu tidak ada untuk metode
KMC=kangaroo Mother care), anjurkan ibu menyusui lebih sering. Selain itu,
dipertimbangkan untuk memeriksa kadar glukosa darah, jika < 45 mg/dl, tangani
hipoglikemia dan menilai tanda bahaya serta memeriksa suhu tubuh tiap jam.

Trauma lahir merupakan trauma pada bayi yang diterima selama proses
kelainan, dan merupakan salah satu penyebab utama dari morbiditas dan
mortalitas neonates dan dapat dicegah. Trauma lahir dapat mengenai kepala,
tulang dan intraabdomen. Salah satu trauma lahir yang mengenai kepala yang
paling sering terjadi adalah caput suksedaneum. Caput suksedaneum merupakan
kelainan akibat tekanan uterus atau dinding vagina pada kepala bayi. Caput
suksedaneum terjadi karena adanya tekanan kuat pada kepala saat memasuki jalan
lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan
pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskuler. Menurut kepustakaan, faktor
predisposisi terjadinya trauma lahir antara lain: makrosomia, prematuritas,
disposisi sefalopelvik (CPD), distosia, oligohidramnion, persalinan lama,
persalinan dengan alat (ekstraksi vakum dan forceps), persalinan dengan section
sesaria, presentasi muka dan kelainan letak lintang. Pada kasus ini, bayi
mengalami trauma lahir berupa caput suksedaneum. Caput succedaneum pada
kasus ini kemungkinan dapat terjadi akibat adanya faktor risiko yang terjadi pada

16
ibu antara lain CPD, oligohidramnion dan persalinan dengan section sesaria.
Disposisi sefalopelvik (CPD) merupakan keadaaan yang menggambarkan
ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat
keluar melalui vagina. CPD disebabkan oleh panggul sempit, ,makrosomia atau
kombinasi keduanya. Pada kasus ini, CPD dapat disebabkan karena ukuran
diameter panggul terlalu sempit, yang dapat terjadi di pintu atas panggul, pintu
tengah panggul, pintu bawah panggul, atau seluruhnya, karena belum matangnya
system reproduksi ibu yang masih berusia 17 tahun. Oligohidramnion dapat
menyebabkan trauma lahir pada neonatus karena sebagaimana diketahui bahwa
didalam janin bayi seperti berenang dalam cairan amnion, dimana cairan amnion
ini menjaga bayi agar tidak terjadi jejas dengan peritoneum atau dinding uterus
yang tebal. kurangnya cairan amnion menyebabkan risiko terjadinya jejas pada
janin meningkat dan menyebabkan trauma pada kepala. Udem yang terdapat pada
caput suksedaneum merupakan penumpukan darah, cairan serosanguineus,
subkutan dan ekstra periosteal dengan batas yang tidak jelas. Caput suksedaneum
timbul akibat tekanan keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir sehingga
terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluraran cairan tubuh ke
jaringan ekstravaskuler, melintasi garis sutura dan menghilang dalam 2-4 hari
setelah lahir sehingga tidak memerlukan terapi.

17
KESIMPULAN

1. Asfiksia adalah bentuk klinis yang sering terjadi pada neonatus dimana gagal
bernafas secara spontan dan teratur akibat adanya kelainan pada saluran nafas
atau gangguan system lain yang mempengaruhi pernafasan.
2. Asfiksia diawali oleh terjadinya fetal distress yang dapat dinilai dengan
metode APGAR. Penanganan asfiksia bergantung dari derajatnya, yaitu
melakukan prosedur resusitasi neonatus.
3. Gangguan nafas pada neonatus bisa disebabkan karena asfiksia sebelumnya
atau kelainan lain yang ditandai oleh adanya frekuensi napas lebih dari 60
kali/menit, atau kurang dari 30 kali/menit, tampak sianosis, terdapat retraksi
dinding dada, merintih dan apneu.
4. Hipotermia adalah suhu tubuh kurang dari 36,5 derajat celcius pada
pengukuran per aksilar. Hipotermia sering terjadi pada neonates karena pusat
termoregulasi bayi belum sempurna, permukaan tubuh bayi relative luas dan
kemampuan thermogenesis yang terbatas serta adanya 4 mekanisme
kehilangan panas yang sering terjadi pada bayi (radiasi, konduksi, konveksi
evaporasi).
5. Caput succedaneum merupakan salah satu bentuk trauma lahir pada kepala.
Faktor predisposisinya antara lain makrosomia, prematuritas, disposisi
sefalopelvik (CPD), distosia, oligohidramnion, persalinan lama, persalinan
dengan alat (ekstraksi vakum dan forceps), presentasi muka dan kelainan
letak lintang. Trauma ini dapat menghilang dengan sendirinya 2-4 hari,
sehingga tidak memerlukan penanganan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Djoko W dkk. Buku Acuan Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal


Emergensi Dasar. Depkes RI. 2006
2. Rudolph dkk. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 3. EGC. 2006
3. Aaron B dkk. Clinical Pathophysiology made ridiculously simple.
Medmaster. 2007.
4. Klaus. Penatalaksanaan Neonatus Risiko Tinggi. EGC. 2000

19