Anda di halaman 1dari 12

TELAAH KRITIS JURNAL

1. Judul jurnal
Cause Of Death And Associated Conditions Of Stillbirths
Penyebab Kematian Dan Kondisi Terkait Kelahiran Mati

2. Gambaran Umum
a. Tujuan
untuk mengetahui angka kejadian, penyebab lahir mati dan
merencanakan tindakan intervensi spesifik untuk mengurangi kelahiran
mati.

b. Metode
merupakan studi prospektif dengan metode cross-sectional mengenai
pasien dengan kelahiran mati dari bulan September 2014 sampai Agustus
2015 di Institut Ilmu Kedokteran Karnataka, Karnataka. Semua kasus
kelahiran mati dengan berat >1 Kg dikelompokkan kedalam klasifikasi
CODAC (Causes of Death and Association Condition) yang
diklasifikasikan secara sederhana dan dianalisis.

c. Hasil
Jumlah kelahiran selama periode penelitian adalah 9.863. Jumlah
kelahiran dengan janin lahir mati pada masa studi ini adalah 563. Pada
masa penelitian, angka kelahiran janin lahir mati adalah 57,9 per 1000
kelahiran, dimana terdapat 56,3% pada usia kehamilan preterm dan
43,69% pada kehamilan aterm. Tiga penyebab umum kelahiran mati
adalah penyakit hipertensi (34,63%), intrapartum fetal loss (27,17%) dan
abruptio plasenta (11,54%). Pada 7,9% kasus, penyebab lahir mati tidak
diketahui. Anemia karena kekurangan gizi, kehamilan pada usia remaja
dan intrauterine growth restriction (IUGR) adalah penyebab yang paling
umum terkait dengan kelahiran mati.

1
2

d. Diskusi
Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa angka kelahiran mati adalah
57,9 per 1.000 kelahiran.

Tabel 2: Penyebab Kelahiran Mati

Penyebab kematian janin Kasus Persentase(%)

Infeksi 15 2,66

intrapartum Malpresentasi 45 7,99

Prolonged/obstructed 33 5,86
labour

Ruptur uteri 10 1,77

Respiratory failure 65 11,54

Congenital anomali 26 4,61

Fetal Rh Isoimmuniation 2 0,35

Non Immune Hydrops 0

Cord Knots/Loops 14 2,48

Prolapse/Accidents 7 1,24

Placenta Abruptio 65 11,54

Previa 7 1,24

Maternal Hypertensive disorder 195 34,63

Diabetes 19 3,37

2
3

Unknown 60 7,9

Total 563 100

Tabel 3. Penyebab Kelahiran Mati Paling Sering Berhubungan


Kehamilan Preterm dan aterm

Penyebab Aterm Preterm P value

Hypertensive 94 (48,20%) 101 (51,80%) 0.11625


disorders

Intrapartum loss 128 (83,66%) 25 (16,33%) 0.0

Abruptio placenta 24 (36,92%) 41 (63,08%) 0.241891

Uji Chi Square, p value <0.05 dinyatakan signifikan

Institut ini merupakan pusat pelayanan kesehatan tersier yang melayani


sebagian besar karnataka utara, oleh karena itu lembaga ini menerima
semua kasus kehamilan yang rumit dari 4 wilayah kabupaten sekitar. Ini
bisa menjadi penyebab tingginya angka kelahiran mati. Hasil serupa juga
terlihat pada sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah pusat perawatan
tersier, Uttarakhand yang menunjukkan angka kelahiran mati sebesar
49/1000 kelahiran. Tingkat kelahiran mati bervariasi dari negara ke
negara yang lain, berdasarkan definisi dan batasan usia kehamilan dan
berat lahirnya. Sebelum tahun 2006, tidak ada organisasi yang
menerbitkan angka kelahiran mati secara global, regional atau spesifik
untuk negara tertentu. Secara global diperkirakan kelahiran mati untuk
tahun 2000 diterbitkan pada tahun 2006 oleh WHO. Telah ditunjukkan
bahwa ada perbedaan data yang substansial di tingkat negara. Angka
kejadian juga bervariasi disetiap negara. Menurut Cousens s et al, angka

3
4

kelahiran mati di India berkisar antara 20 sampai 66 per 1000 kelahiran


di daerah yang berbeda pada tahun 2009. Angka kelahiran mati yang
dilaporkan tahun 2010 hanya 7 per 1000 kelahiran. Angka kelahiran mati
di India untuk tahun 2012 diperkirakan lima per 1.000 kelahiran dengan
data tertinggi di Karnataka dan terendah di Bihar. Perkiraan angka
kelahiran mati kemungkinan masih belum dapat dipastikan, karena data
tentang kelahiran mati sulit dikumpulkan, karena sebagian besar tidak
diketahui akibat persalinan berlangsung di rumah. Hal ini telah
ditunjukkan dalam laporan, "State of Newborns 2014" yang diberikan
oleh Kementerian Kesehatan, India.

Ada lebih dari 30 klasifikasi yang dijelaskan dalam literatur lebih dari 50
tahun yang lalu. Froen et al, pada tahun 2009 membandingkan beberapa
klasifikasi penting dengan sistem ICD dan klasifikasi CODAC adalah
salah satu opsi terbaik dalam mendukung ICD. Sistem ICD memiliki
konsensus internasional mengenai klasifikasi kelahiran mati. ICD saat ini
tidak sepenuhnya mengenali bayi yang lahir mati (dengan cord, plasenta
dan membran), sebagai entitas individu dengan kondisi penyakitnya
sendiri dan 891 kejadian harus didaftarkan terpisah dari ibu. Ada kode
terbatas untuk kondisi yang spesifik untuk periode perinatal dalam kode
O (kehamilan, persalinan dan masa nifas dari perspektif ibu) dan kode P
(kondisi tertentu yang berasal dari periode perinatal yang berasal dari
perspektif janin) di mana pengkodean yang memadai untuk kelahiran
kembali harus ditemukan. Kode plasenta secara khusus tidak lengkap
dan hanya dapat digunakan untuk beberapa plasenta patologis yang
mempengaruhi hasil kehamilan. ICD bertujuan untuk
mengklasifikasikan penyebab kematian dan bila tidak tersedia, kondisi
yang paling mungkin menyebabkan kematian. Hal ini digunakan secara
luas di negara berpenghasilan rendah. Klasifikasi CODAC di sisi lain
adalah klasifikasi yang dapat diperluas. Ini memungkinkan data
sederhana dikumpulkan dari hasil otopsi verbal yang berguna di negara-

4
5

negara berpenghasilan rendah. Kategori tersebut dapat diperluas untuk


diagnosis individu dengan penghasilan tinggi, keahlian tinggi dengan
investigasi dan otopsi yang lebih canggih, yang memungkinkan
diagnosis patologis yang spesifik, diagnosis anatomi berdasarkan
penggunaan IUD. CODAC yang disederhanakan digunakan dalam
penelitian ini.

Dalam penelitian ini kelahiran mati antepartum adalah 72,87% dan


sisanya adalah kelahiran mati intrapartum. Penyakit hipertensi (34,63%),
intrapartum fetal loss (27,13%) dan abrupsi (11,54%) adalah tiga
penyebab utama kelahiran mati. Hasil yang sama terlihat pada
Uttarakhand, dimana penyebab utama kelahiran mati adalah penyakit
hipertensi (28,75%). Sebuah tinjauan retrospektif tentang kelahiran mati
yang menggunakan klasifikasi CODAC yang dilakukan oleh Wilkin's et
al, di mana seratus lima puluh tiga kelahiran mati diidentifikasi
menghasilkan angka kelahiran mati sebesar 29 per 1000 kelahiran. Dari
kelahiran mati dengan waktu yang diketahui, 70 (66,7%) terjadi
antepartum dan 35 (33,3%) intrapartum. Penyebab kematian tidak dapat
dipastikan pada 62,7% kasus karena catatan buruk atau hilang. Di mana
diidentifikasi, tiga penyebab kematian yang paling umum
diklasifikasikan adalah asfiksia janin intrapartum, infeksi ibu dan
gangguan hipertensi ibu. Dalam sebuah penelitian berbasis populasi oleh
Bukowski R et al, dari 663 wanita dengan kelahiran mati, kemungkinan
penyebab kematian pada 390 adalah diidentifikasi. Penyebab paling
umum adalah kondisi obstetrik (29,3%), kelainan plasenta (23,6%),
abnormalitas janin (12,9%), kelainan tali pusar (10,4% penyakit
hipertensi (9,2%), dan kondisi medis ibu lainnya (7,8%). Pada penelitian
ini kelainan kongenital sebesar 4,6%, infeksi 2,6%, cord accident 3,7%
dan kelahiran mati yang tidak dapat dijelaskan adalah 7,99%. Pada
penelitian uttarakhand didapati 19,05% kelahiran mati disebabkan oleh

5
6

penyebab yang tidak dapat dijelaskan, 10.48% karena malformasi


kongenital, 1,9% karena kecelakaan tali pusat, 7,6% karena infeksi.

Di negara berpenghasilan tinggi, kematian janin selama persalinan sangat


jarang, walaupun anomali kongenital atau kariotipik sering diidentifikasi
sebagai penyebab lahir mati. Namun, sekitar setengah dari semua
kelahiran mati, penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi, bahkan pada
tingkat yang tinggi di mana pemeriksaan patologis plasenta dan otopsi
tersedia. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, infeksi seperti
sifilis, bakteri gram negatif, hipertensi gestasional terutama pengelolaan
preeklampsia dan eklampsia yang buruk, malaria, dan persalinan yang
terganggu atau berkepanjangan dengan asfiksia terkait. , dan cidera
kelahiran dengan rendahnya ketersediaan operasi bedah caesar
merupakan penyebab paling umum. Dalam penelitian kami kelahiran
lahir prematur adalah 56,3% dan kelahiran mati pada aterm 43,69%.
Gangguan hipertensi dan abrupsi plasenta menyebabkan kelahiran mati
dalam istilah kehamilan sama seperti pada kehamilan prematur,
sedangkan intrapartum loss lebih banyak terjadi pada kehamilan aterm
bila dibandingkan dengan kehamilan prematur. Sebuah penelitian di
Bulgaria menunjukkan kelahiran mati prematur pada 53% dan kelahiran
mati pada aterm 39%, dan juga menunjukkan bahwa preeklampsia
merupakan penyebab penting kelahiran mati pada kehamilan prematur
dan umbilical cord accident, kelahiran mati yang tidak dapat dijelaskan
dalam istilah kehamilan. Kondisi terkait yang sama dengan kelahiran
mati dalam penelitian ini adalah anemia defisiensi gizi, terlihat pada 310
(55,06%) pasien dari 563 kasus. Penyebab lainnya adalah usia ibu yang
rendah 196 (34,81%) pasien dari 563 kasus. Intrauterine Growth
restriction terlihat pada 140 (24,86%) pasien dari 563 kasus. Dalam studi
kasus terkontrol yang dilakukan di Norwegia, berdasarkan klasifikasi
CODAC, dua pertiga kasus (68%) kelahiran mati dikaitkan dengan
plasenta patologis.

6
7

Dalam penelitian ini hanya sepuluh pasien berusia di atas 30 tahun.


Kehamilan postterm, kehamilan multipel dan BOH dianggap sebagai
penyebab yang terkait pada tanggal lahir 23, 18 dan 7 kelahiran mati.
Faktor risiko utama lahir mati di negara-negara berpenghasilan tinggi
adalah kelebihan berat badan dan obesitas ibu, usia ibu di atas 35 tahun,
primiparitas, dan merokok. Sementara di negara-negara berkembang,
kekurangan gizi, kehamilan remaja dan multiparitas merupakan faktor
risiko yang ditimbulkan. Bhutta et al mereview 35 intervensi potensial
untuk mencegah lahir mati, yang sangat mereka rekomendasikan 10
untuk implementasi: fortifikasi asam folat periconceptional, kelambu
yang diobati dengan insektisida atau pencegahan intermiten pengobatan
untuk deteksi dan perawatan sifilis, pencegahan malaria, deteksi dan
pengelolaan penyakit hipertensi, deteksi dan pengelolaan kehamilan
diabetes, deteksi kehamilan dan pengelolaan fetal growth restriction,
induksi untuk mencegah kehamilan jangka pendek, perawatan yang
terampil saat lahir, perawatan darurat obstetrik dasar, dan perawatan
obstetrik darurat yang komprehensif. Setelah mengetahui penyebab
kematian dan penyebab kelahiran lahir mati dalam penelitian ini, terbukti
bahwa intervensi yang disebutkan di atas juga harus dilaksanakan secara
bijaksana untuk mengurangi angka kelahiran mati. Anemia dan
kehamilan remaja adalah dua faktor risiko penting yang terkait dengan
kelahiran mati. Pendidikan kesehatan remaja, suplementasi asam folat
dan zat besi di sekolah harus direncanakan sebagai pencegahan awal
kelahiran mati. Deteksi dini dan pengobatan gangguan hipertensi dan
perawatan intrapartum yang baik, akan membantu kita dalam
mengurangi tingkat kelahiran mati, karena ini adalah dua penyebab
penting kelahiran mati.

e. Kesimpulan
Anemia dan kehamilan pada remaja adalah dua faktor risiko penting yang
terkait dengan kelahiran mati. Pendidikan kesehatan remaja,

7
8

suplementasi asam folat dan zat besi di sekolah harus direncanakan


sebagai pencegahan utama kelahiran mati. Deteksi dini dan
penatalaksanaan awal terhadap penyakit hipertensi serta perawatan
intrapartum yang baik akan mengurangi angka kelahiran mati , karena
dua hal tersebut merupakan penyebab penting kelahiran mati.

3. Telaah Kritisi Cross Sectional


1) apakah isu yang dibahas sudah jelas?
Ya.
Penelitian ini merupakan studi prospektif dengan metode cross-
sectional mengenai pasien dengan kelahiran mati dari bulan September
2014 sampai Agustus 2015 di Institut Ilmu Kedokteran Karnataka,
Karnataka. Semua kasus kelahiran mati dengan berat >1 Kg
dikelompokkan kedalam klasifikasi CODAC (Causes of Death and
Association Condition) yang diklasifikasikan secara sederhana dan
dianalisis.
Penelitian dilakukan dengan analisis data sekunder, yaitu berdasarkan
data ANC secara rinci. Termasuk hemoglobin, profil tiroid, profil gula
darah, tes fungsi ginjal juga harus dilakukan, kartu antenatal dan catatan
intrapartum juga harus diperiksa.

2) Apakah metode yang digunakan sudah tepat untuk menjawab


pertanyaan penelitian?
Ya.
Desain penelitian ini sesuai untuk menjawab rumusan masalah
penelitian. Meskipun outcome yang dihasilkan tidak jarang atau
berbahaya, tetapi, penelitian observational (termasuk cross sectional)
sering digunakan untuk menghasilkan hipotesis yang kemudian dapat
dipelajari melalui cohort prospektif atau penelitian lainnya. Hal ini
dapat menjadi alasan penelitian memilih desain penelitian cross
sectional pada kasus ini. Desain penelitian cross sectional digunakan

8
9

untuk melakukan penelitian-penelitian terkait penyakit-penyaki dan


angka kejadian yang jarang.

3) Apakah kasus direkrut secara tepat?


Ya.
Studi ini dilakukan terhadap pasien yang dirawat dengan diagnosis
kematian janin Intrauterine atau yang memiliki kematian janin di rumah
sakit, dan melahirkan bayi lahir mati dengan berat lebih dari 1 kg dari
bulan September 2014 sampai Agustus 2015 di Institut Ilmu Kesehatan
Karnataka, Karnataka. Semua kasus dimasukkan dalam studi ini.
Pengambilan data ANC secara rinci dilakukan. Termasuk hemoglobin,
profil tiroid, profil gula darah, tes fungsi ginjal juga harus dilakukan,
kartu antenatal dan catatan intrapartum juga harus diperiksa.

4) Apakah paparan telah diukur secara tepat, untuk meminimalisasi bias?


Tidak.
Pada studi ini metode dan subjek penelitian tidak definisikan secara
jelas dan eksplisit. Pada studi ini juga tidak dijelasakan secara pasti
mengenai kriteria inklusi dan kriteria ekslusi penelitian.
Pengambilan data hanya dijelaskan menggunakan data primer berupa
data ANC secara rinci.

5) A. Apakah confounding telah diperhitungkan?


Tidak.
Pada penelitian ini tidak jelas mengenai pembahasan adanya faktor
confounding dalam penelitian.

9
10

b. Bagaimana confounding diperhitungkan dalam desain dan analisis


penelitian?
Tidak.
Dalam studi ini tidak jelas mengenai pembahasan adanya faktor
confounding dalam penelitian.

6) Apakah hasil dari penelitian ?


Jumlah kelahiran selama periode penelitian adalah 9.863. Jumlah
kelahiran dengan janin lahir mati pada masa studi ini adalah 563. Pada
masa penelitian, angka kelahiran janin lahir mati adalah 57,9 per 1000
kelahiran, dimana terdapat 56,3% pada usia kehamilan preterm dan
43,69% pada kehamilan aterm. Tiga penyebab umum kelahiran mati
adalah penyakit hipertensi (34,63%), intrapartum fetal loss (27,17%)
dan abruptio plasenta (11,54%). Pada 7,9% kasus, penyebab lahir mati
tidak diketahui. Anemia karena kekurangan gizi, kehamilan pada usia
remaja dan intrauterine growth restriction (IUGR) adalah penyebab
yang paling umum terkait dengan kelahiran mati.

7) Sebarapa teliti hasil penelitian?


Untuk analisa faktor penyebab kejadian kelahiran janin mati paling
sering yang berhubungan dengan usia kehamilan preterm dan aterm,
digunakan nilai p value. Nilai p value digunakan untuk melihat
hubungan masing-masing parameter dalam penelitian, yang dirangkum
sebagai berikut:
 Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kejadian kelahiran
janin mati pada ibu hamil usia preterm dengan penyakit hipertensi
(51,08%) dan pada ibu hamil usia kehamilan aterm dengan
hipertensi (48,20%), dengan nilai p value 0,11625.
 Terdapat perbedaan yang signifikan antara kejadian kelahiran
janin mati pada ibu hamil usia aterm dengan intrapartum loss
(83,66%) dibandingkan kelahiran janin mati pada ibu hamil usia

10
11

kehamilan preterm dengan intrapartum loss (16,33%), dengan


nilai p value 0,0.
 Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kejadian
kelahiran janin mati pada ibu hamil usia preterm dengan abruptio
plasenta (63,08%) dan pada ibu hamil usia kehamilan aterm
dengan abruptio plasenta (36,92%), dengan nilai p value
0,241891.

8) Apakah hasil bisa dipercaya?


Tidak.
Besar atau kecilnya dampak suatu penelitian ditunjukkan dari nilai
mutlak OR. Apabila OR mendekati 1efeknya besar dan dan sulit untuk
ditolak. Sedangkan pada studi ini tidak disebutkan secara rinci niali OR.

9) Apakah hasil bisa diterapkan dalam konteks lokal?


Tidak.
Sampel pada populasi penelitian ini belum diketahui apakah dapat
mewakili populasi yang ada di Indonesia. Meskipun dari data terbaru
tahun 2016 diketahui jumlah warga negara Indonesia adalah 261,1 jt
sedangkan warga negara India adalah 1,324 milyar. Namun pada
penelitian ini tidak dijelaskan secara rinci mengenai metode
penghitungan jumlah sampel minimum yang digunakan. Jadi tidak
dapat diketahui apakah jumlah sampel yang digunakan sudah
memenuhi sampel minimum sehingga dapat dianggap mewakili jumlah
kelahiran dinegaranya.

10) Apakah hasil sesuai dengan bukti ilmiah yang terdahulu?


Ya.
Dari hasil penelusuran literatur yang dilakukan, terdapat beberapa
penelitian yang melihat pengaruh yang sama dengan penelitian ini.

11
12

 Pada studi ini penyakit hipertensi diidentifikasi sebagai penyebab


terbanyak kejadian lahir mati (34,63%).
Pada penelitian yag dilakukan oleh Lilin Noralita dkk juga
menyebutkan dalam hasil penelitiannya bahwa penyakit pada ibu
hamil (anemia, hipertensi, jantung dan beberapa gangguan infeksi)
dapat berpengaruh dengan kejadian lahir mati (ρ-value 0,008; OR
2,105; CI 1,363- 8,542).

12