Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

I. Konsep Kebutuhan
1.1 Defenisi Kebutuhan
Potter & Perry, (2005) megungkapkan kenyamanan/rasa nyaman
adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan
penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan
transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri).
Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang mencakup empat
aspek yaitu:
a. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
b. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan
sosial.
c. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri
sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan.
d. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman
eksternal manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan
unsur alamiah lainnya.
Meningkatkan kebutuhan rasa nyaman (bebas nyeri) diartikan
perawat telah memberikan kekuatan, harapan, hiburan, dukungan,
dorongan, dan bantuan.
Nyeri adalah sensori yang tidak menyenangkan dan penagalaman
emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan
atau menggambarkan adanya kerusakan.

1.2 Fisiologi Sistem


a. Mulut
Di dalam mulut terdapat gigi yang berfungsi untuk
menghancurkan makanan. Gigi seri untuk memotong, gigi taring
untuk merobek, gigi geraham untuk menggerus. Di dalam mulut juga
terdapat kelenjar saliva yang mengeluarkan saliva untuk melumasi
makanan dan memungkinkan makanan diubah menjadi massa yang
lunak. Saliva juga mengandung enzim ptialin, yang memulai
pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana.
Makanan dimasukkan ke dalam lambung melalui mekanisme
menelan. Menelan terjadi dalam tiga tahap.
1. Tahap bukal
Makanan dikumpulkan di permukaan atas lidah sebagai bolus
yang lembab. Lidah kemudian menekan ke langit-langit keras
mendorong bolus ke arah belakang. Langit-langit lunak terangkat
untuk mencegah makanan masuk ke dalam hidung, dan bolus
didorong ke dalam faring.
2. Tahap faringeal
Laring tertarik ke atas di bawah dasar lidah, inlet laringeal
berkontriksi dan epiglotis melipat menutupi laring untuk mencegah
makanan memasuki trakeal.
Sfingter krikofaringeal antara faring dan esofagus biasanya
tertutup untuk mencegah udara tertarik ke dalam esofagus selama
pernafasan, tetapi sfingter ini dengan berelaksasi ketika bolus
mencapai sfingter.
Otot-otot faring kemudian mendorong bolus ke dalam
esofagus bagian atas.
3. Tahap esofagus
Gelombang peristaltik membawa bolus makanan terus ke
bawah ke dalam lambung.
b. Esofagus
Saat makanan telah mencapai lambung, maka makanan dicegah
dari refluk kembali ke dalam esofagus oleh: kontraksi otot pada ujung
bawah esofagus (meskipun sesungguhnya tidak terdapat sfingter di
tempat tersebut); lipatan mukosa pada esofagus bagian bawah; jepitan
esofagus oleh diafragma; jalan masuk yang bertonjolan dari esofagus
ke dalam lambung.
c. Lambung
Bagian lambung mempunyai fungsi yang spesifik. Fundus
secara relatif mempunyai dinding yang tipis, mempunyai sedikit
kelenjar dan berfungsi sebagai reservoar. Korpus lambung adalah
bagian berotot dan menyimpan serta mencampur makanan,
mempunyai banyak kelenjar dan hanya sebagai tempat sekresi asam
oleh kelenjar lambung. Sfingter-pilorik menjaga pintu keluar dari
lambung sampai pilorus. Antrum pilorus terdiri atas otot tebal dan
berfungsi sebagai pompa untuk mentransfor makanan ke usus halus
dengan kecepatan yang terkendali, juga lebih mencampur makanan.
Di dalam lambung makanan diubah oleh berbagai bentuk sekresi
dari kelenjar lambung menjadi cairan seperti susu yang disebut kimus
yang cocok untuk dapat melewati usus halus. Fundus dan korpus
lambung mempunyai kelenjar-kelenjar berduktus pendek dan asini
panjang. Kelenjar ini dilapisi oleh sel-sel peptik yang mensekresi
pepsinogen, suatu enzim yang diubah menjadi pepsin yang memulai
proses pemecehan protein. Sel oksintik yang mensekresi asam
hidroklorik dan menghasilkan asam berkonsentrasi tinggi di dalam
lambung. Keasaman yang tinggi mengubah pepsinogen menjadi
pepsin, mensterilkan makanan, membuat kalsium dan zat besi cocok
untuk diserap
Di dalam antrum lambung kelenjar mempunyai duktus yang
panjang dan asini pendek berpilin. Kelenjar ini menghasilkan mukus
bersifat basa dan gastrin; hormon yang mengontrol sekresi asam. Sel-
sel mukosa di seluruh lambung menghasilkan lendir yang melindungi
dinding lambung dari percernaan sendiri dinding lambung oleh asam
yang dihasilkannya.
d. Hepar
Hati memiliki sejumlah peran yang berbeda dalam tubuh,
termasuk:
1. Menghancurkan lemak, menggunakan empedu yang disimpan
dalam kantung empedu
2. Pengolahan protein dan karbohidrat
3. Penyaringan dan pengolahan kotoran, obat-obatan dan racun
4. Membangkitkan glukosa untuk energi jangka pendek untuk
kebutuhan dari senyawa lain seperti laktat dan asam amino.
e. Usus halus
Dalam usus halus terdapat villi yang tidak mensekresi enzim.
Pada sel-sel yang melapisi villi terjadi hal-hal berikut: Protease
memecahkan peptida menjadi asam amino yang diserap melalui
kapiler-kapiler ke dalam aliran darah. Laktase, maltase, sukrase
memecah disakarida menjadi monosakarida (glukosa) yang diserap
melalui kapiler ke dalam aliran darah. Lipase berkerja pada
pemecahan lemak untuk membentuk: asam- asam lemak sederhana
dan gliserol.
f. Usus besar
1 liter kimus cair memasuki kolon setiap hari, melalui katup
ileosekal. Air dan garam terutama garam kalium diserap sepanjang
kolon. Oleh karenanya feses menjadilebih keras dengan makin
dekatnya ke rektum. Gerak peristaltik terjadi pada rektum selama
defekasi.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu
normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke
sekum. Lendir dalam apendiks bersifat basa mengandung amilase
dan musin. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT
(Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk apendiks ialah IgA. Immunoglobulin
tersebut sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi.
Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi
sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfa disini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya disaluran cerna dan
diseluruh tubuh. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri
secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif
dan lumennya cenderung kecil, maka apendiks cenderung menjadi
tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (Sjamsuhidayat,
2005).

1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Fungsi


Sistem pencernaan manusia dapat mengalami gangguan. gangguan
sistem pencernaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor
stres, pola makan yang tidak sehat, makan tidak teratur, makan sambil
diselingi minum air, kebiasaan makan yang terlalu cepat dan sebagainya.
Faktor penyebab gangguan sistem pencernaan:
a. Pola makan yang tidak sehat seperti banyak konsumsi makanan
berlemak, makan pedas. Terlalu banyak mengkonsumsi makanan
pedas bisa memicu gangguan pencernaan.
b. Panas dalam. panas dalam bisa membuat tidak nyaman pada tubuh
sehingga harus ditangani dengan cepat supaya tidak mengganggu
nafsu makan. panas dalam juga merupakan salah satu penyebab
gangguan pencernaan. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan cairan
sehingga menjadi dehidrasi dan mengganggu kerja pencernaan anda.
c. Kurang vitamin. Kekurangan vitamin merupakan salah satu penyebab
gangguan sistem pencernaan. Oleh karena itu, cukupi kebutuhan
vitamin A, B, C. Cukupi juga kebutuhan serat.
d. Tekanan perasaan dan faktor umur. Ketika anda mengalami stress
tubuh akan mengeluaran hormon yang mengandung bahan kimia
tertentu yang bersifat racun. Hormon ini akan mempengaruhi reaksi
kimia tubuh sehingga proses pencernaan terganggu. Sedangkan orang
yang telah tua, biasanya organ pencernaannya tidak lagi berfungsi
secara optimal

1.4 Macam-macam Gangguan yang Mungkin Terjadi


Gangguan yang mungkin terjadi ketika seseorang mengalami nyeri,
antara lain:
a. Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan
b. Tidur dan istirahat
c. Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat dengan baik dan melindungi
integument
d. Bekerja dengan suatu cara yang mengandung unsur prestasi
e. bermain atau terlibat dalam beragan bentuk rekreasi
f. Belajar, mengetahui, atau memuaskan rasa penasaran yang menuntun
pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan
fasilitas-fasilitas ksehatan yang tersedia.

II. Rencana Asuhan Klien dengan Gangguan Kebutuhan


2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan
1. Data demografi
Nama
Usia
Jenis kelamin
Jenis pekerjaan
Alamat
Suku/bangsa
Agama
Tingkat pendidikan
2. Riwayat sakit dan kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit saat ini
c. Riwayat penyakit dahulu

2.1.2 Pemeriksaan fisik


1. Kedaan umum : kesadaran composmentis, wajah tampak
menyeringai kesakitan, konjungtiva anemis, Suhu badan 38,50 C
2. Sistem respirasi : frekuensi nafas normal (16-20x/menit), dada
simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, tidak ada gerakan
cuping hidung, tidak terpasang O2, tidak ada ronchi, whezing,
stridor.
3. Sistem kardiovaskuler : TD 110/70mmHg , tidak ada oedema,
tidak ada pembesaran jantung, tidak ada bunyi jantung
tambahan.
4. Sistem urogenital : Urine berwarna gelap
5. Sistem muskuloskeletal : kelemahan disebabkan tidak
adekuatnya nutrisi (anoreksia)
6. Abdomen :
Inspeksi : abdomen ada benjolan
Auskultasi : Bising usus (+) pada benjolan
Palpasi : pada hepar teraba keras
Perkusi : hypertimpani

2.1.3 Pemeriksaan Penunjang


1. ASR (SGOT) / ALT (SGPT)
Awalnya meningkat.Dapat meningkat 1-2 minggu
sebelum ikterik kemudian tampak menurun. SGOT/SGPT
merupakan enzim – enzim intra seluler yang terutama berada
dijantung, hati dan jaringan skelet, terlepas dari jaringan yang
rusak, meningkat pada kerusakan sel hati
2. Darah Lengkap (DL)
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM
(gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
3. Leukopenia
Trombositopenia mungkin ada (splenomegali)
4. Diferensia Darah Lengkap
Leukositosis, monositosis, limfosit, atipikal dan sel
plasma.
5. Alkali phosfatase
Sedikit meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
6. Feses
Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
7. Albumin Serum
Menurn, hal ini disebabkan karena sebagian besar protein
serum disintesis oleh hati dan karena itu kadarnya menurun pada
berbagai gangguan hati.
8. Gula Darah
Hiperglikemia transien / hipeglikemia (gangguan fungsi
hati).
9. Anti HAVIgM
Positif pada tipe A
10. HbsAG
Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
11. Masa Protrombin
Kemungkinan memanjang (disfungsi hati), akibat
kerusakan sel hati atau berkurang. Meningkat absorbsi vitamin
K yang penting untuk sintesis protombin.
12. Bilirubin serum
Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis
buruk, mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis
seluler)
13. Tes Eksresi BSP (Bromsulfoptalein)
Kadar darah meningkat.
BPS dibersihkan dari darah, disimpan dan dikonyugasi
dan diekskresi. Adanya gangguan dalam satu proses ini
menyebabkan kenaikan retensi BSP.
14. Biopsi Hati
Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis
15. Skan Hati
Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin
hati.
16. Urinalisa
Peningkatan kadar bilirubin.
Gangguan eksresi bilirubin mengakibatkan
hiperbilirubinemia terkonyugasi. Karena bilirubin terkonyugasi
larut dalam air, ia dsekresi dalam urin menimbulkan
bilirubinuria.

2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa 1: Nyeri akut
2.2.1 Defenisi
Nyeri adalah sensori yang tidak menyenangkan dan penagalaman
emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan
jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (NANDA NIC-
NOC 2015)
2.2.2 Batasan Karakteristik
DS:
 Laporan secara verbal
DO:
 Posisi untuk menahan nyeri
 Tingkah laku berhati-hati
 Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan
kacau, menyeringai)
 Terfokus pada diri sendiri
 Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu,
 kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang
dan lingkungan)
 Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang)
 Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah,
perubahan nafa s, nadi dan dilatasi pupil)
 Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam
rentang dari lemah ke kaku)
 Tingkah laku ekspresif (contoh: gelisah, merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas panjang / berkeluh kesah)
 Perubahan dalam nafsu makan dan minum

2.2.3 Faktor yang Berhubungan


Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan.

Diagnosa 2: Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh


2.2.1 Defenisi
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah
asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
metabolik.
2.2.2 Batasan Karakteristik
DS:
 Nyeri abdomen
 Muntah
 Kejang perut
 Rasa penuh tiba-tiba setelah makan
DO:

 Diare
 Rontok rambut yang berlebih
 Kurang nafsu makan
 Bising usus berlebih
 Konjungtiva pucat
 Denyut nadi lemah
2.2.3 Faktor yang Berhubungan
Ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi oleh
karena faktor biologis, psikologis atau ekonomi.

Diagnosa 3: Intoleransi aktivitas


2.2.1 Defenisi
Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk
melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari
yang harus atau yang ingin dilakukan.
2.2.2 Batasan Karakteristik
 Respon tekanan darah abnormal terhadap aktivitas
 Respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas
 Perubahan EKG yang mencerminkan aritmia
 Perubahan EKG yang mencerminkan iskemia
 Ketidaknyamanan setelah beraktivitas
 Dispnea setelah beraktivitas
 Menyatakan merasa letih
 Menyatakan merasa lelah
2.2.3 Faktor yang Berhubungan
 Tirah baring
 Kelemahan umum
 Ketidakseimbangan antara suplei dan kebutuhan oksigen
 Imobilitas
 Gaya hidup monoton

Diagnosa 4: Mual
2.2.1 Defenisi
Mual adalah pengalaman yang sama sekali subyektif, didefinisikan
sebagai sensasi yang segera mendahului muntah. Pasien
menyatakan bahwa mereka merasa seolah-olah akan muntah, atau
menggambarkan sensasi seperti merasa tidak nyaman/sakit perut.
2.2.2 Batasan Karakteristik
DS:
 Hipersalivasi
 Penigkatan reflek menelan
 Menyatakan mual / sakit perut
2.2.3 Faktor yang Berhubungan
 Pengobatan: iritasi gaster, distensi gaster, obat kemoterapi,
toksin
 Biofisika: gangguan biokimia (KAD, Uremia), nyeri jantung,
tumor intra abdominal, penyakit oesofagus / pankreas.
 Situasional: faktor psikologis seperti nyeri, takut, cemas.
III. Daftar Pustaka
 NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan
Klasifikasi 2015-2017/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made
Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia,
Barrah Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
 Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th
Edition. Missouri: Mosby Elsevier
 Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications
(NIC) 6th Edition. Missouri: Mosby Elsevier