Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Obat
Menurut pengertian umum, obat dapat didefinisikan sebagai bahan
yang menyebabkan perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia.
Sedangkan definisi yang lengkap, obat adalah bahan atau campuran bahan
yang digunakan pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu
penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan;
atau dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada
manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam
tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau merupakan merupakan bahan-
bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.
II.2 Obat Tradisional
II.2.1. Pengertian Obat Tradisional
Ramuan tradisional adalah ramuan yang terbuat dari bahan-bahan
tumbuhan yang berkhasiat dan sudah biasa digunakan masyarakat setempat.
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan-
bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman (Maryani, 2003).
Kekayaan jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia sangat berlimpah,
termasuk didalamnya adalah tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk
tujuan pengobatan. Namun informasi akurat tentang khasiatnya belum
banyak dipublikasikan, sehingga pemanfaatan tanaman untuk tujuan
pengobatan selama ini hanya didasarkan pada pengalaman turun temurun.
Informasi tersebut berbeda pada setiap daerah, sehingga diketahui satu jenis
tanaman memiliki fungsi beragam untuk tujuan pengobatan (Mursito,
2000). Pemanfaatan obat tradisional dan atau obat bahan alam untuk
penanggulangan penyakit masih kurang atau belum digunakan dalam
pelayanan kesehatan normal, karena masih terbatasnya pembuktian
keamanan dan khasiatnya secara alamiah (Maryani, 2003).
Obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang
jenis dan sifat kandungannya sangat beragam sehingga untuk menjamin
mutu obat tradisional diperlukan cara pembuatan yang baik dengan lebih
memperhatikan proses produksi dan penanganan bahan baku. Tablet yang
akan dibuat berasal dari simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang
dipergunakan sebagai obat tradisional yang belum mengalami pengolahan
apapun juga dan kecuali dinyatakan lain merupakan bahan yang
dikeringkan. Dimana memerlukan bahan awal yang merupakan bahan baku
dan bahan pengemas yang digunakan dalam pembuatan suatu produk obat
tradisional dan bahan baku yaitu simplisia, sediaan galenik, bahan
tambahan atau bahanlainnya, baik yang berkhasiat maupun yang tidak
berkhasiat, yang berubahmaupun yang tidak berubah, yang digunakan
dalam pengolahan obat tradisional, walaupun tidak semua bahan tersebut
masih terdapat didalam produk ruahan (Mursito, 2000).
II.2.2. Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik (CPOTB)
Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi
seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional, yang bertujuan
untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi
persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan
penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi
dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang
menangani. Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar
untuk menerapkan sistem jaminan mutu yang diakui dunia internasional.
Untuk itu sistem mutu hendaklah dibangun, dimantapkan dan diterapkan
sehingga kebijakan yang ditetapkan dan tujuan yang diinginkan dapat
dicapai. Dengan demikian penerapan CPOTB merupakan nilai tambah bagi
produk obat tradisional Indonesia agar dapat bersaing dengan produk
sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupun internasional
(BPOM RI, 2005)
Mengingat pentingnya penerapan CPOTB maka pemerintah secara
terus menerus memfasilitasi industri obat tradisional baik skala besar
maupun kecil untuk dapat menerapkan CPOTB melalui langkah-langkah
dan pentahapan yang terprogram. Dengan adanya perkembangan jenis
produk obat bahan alam tidak hanya dalam bentuk Obat Tradisional
(Jamu), tetapi juga dalam bentuk Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka,
maka Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik ini dapat pula
diberlakukan bagi industri yang memproduksi Obat Herbal Terstandar dan
Fitofarmaka (BPOM RI, 2005).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam CPOTB adalah (BPOM RI, 2005) :
1. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan,bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau galenik,
atau campuran daribahan tersebut, yang secara turun menurun telah
digunakan untuk pengobatanberdasarkan pengalaman.
2. Bahan awal adalah bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan
dalam pembuatan suatu produk obat tradisional.
3. Bahan baku adalah simplisia, sediaan galenik, bahan tambahan atau
bahan lainnya, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat,
yang berubah maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam
pengolahan obat tradisional,walaupun tidak semua bahan tersebut masih
terdapat didalam produk ruahan.
4. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
tradisional yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali
dinyatakan lain merupakan bahan yang dikeringkan.
5. Bahan pengemas adalah semua bahan yang digunakan untuk
pengemasan produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi.
6. Produk antara adalah bahan atau campuran bahan yang masih
memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk
menjadi produk ruahan.
7. Produk ruahan adalah bahan atau campuran bahan yang telah selesai
diolah yang masih memerlukan tahap pengemasan untuk menjadi
produk jadi.
8. Produk jadi adalah produk yang telah melalui seluruh tahap proses
pembuatan obat tradisional.
9. Pembuatan adalah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi pengadaan
bahan awal termasuk penyiapan bahan baku, pengolahan, pengemasan,
pengawasan mutu sampai diperoleh produk jadi yang siap untuk
didistribusikan.
10. Produksi adalah semua kegiatan pembuatan dimulai dari pengadaan
bahan awal termasuk penyiapan bahan baku, pengolahan, sampai
dengan pengemasan untuk menghasilkan produk jadi.
11. Pengolahan adalah seluruh rangkaian kegiatan mulai dari penimbangan
bahan baku sampai dengan dihasilkannya produk ruahan.
12. Pengemasan adalah kegiatan mewadahi, membungkus, memberi etiket
dan atau kegiatan lain yang dilakukan terhadap produk ruahan untuk
menghasilkan produk jadi.
13. Pengawasan dalam proses adalah pemeriksaan dan pengujian yang
ditetapkan dan dilakukan dalam suatu rangkaian proses produksi,
termasuk pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap
lingkungan dan peralatan dalam rangka menjamin bahwa produk akhir
(jadi) memenuhi spesifikasinya.
14. Pengawasan mutu (quality control) adalah semua upaya pemeriksaan
dan pengujian selama pembuatan untuk menjamin agar obat tradisional
yangdihasilkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
15. Sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin
kebersihan sarana pembuatan, personil, peralatan dan bahan yang
ditangani.
16. Dokumentasi adalah catatan tertulis tentang formula, prosedur, perintah
dan catatan tertulis lainnya yang berhubungan dengan pembuatan obat
tradisional.
17. Verifikasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai
bahwa tiap bahan, perlengkapan, prosedur kegiatan yang digunakan
dalam pembuatan obat tradisional senantiasa mencapai hasil yang
diinginkan.
18. Inspeksi diri adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua
aspek, mulai dari pengadaan bahan sampai dengan pengemasan dan
penetapan tindakan perbaikan yang dilakukan oleh semua personal
industri obat tradisional sehingga seluruh aspek pembuatan obat
tradisional dalam industri obat tradisional tersebut selalu memenuhi
CPOTB.
19. Bets adalah sejumlah produk obat tradisional yang diproduksi dalam
satu siklus pembuatan yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam.
20. Lot adalah bagian tertentu dari suatu bets yang memiliki sifat dan mutu
yang seragam dalam batas yang telah ditetapkan.
21. Kalibrasi adalah kombinasi pemeriksaan dan penyetelan suatu
instrumen agar memenuhi syarat batas keakuratan menurut standar yang
diakui.
22. Karantina adalah status suatu bahan atau produk yang dipisahkan baik
secara fisik maupun secara sistem, sementara menunggu keputusan
pelulusan atau penolakan untuk diproses, dikemas atau didistribusikan.
23. Nomor bets atau nomor lot adalah suatu rancangan nomor dan atau
huruf yang menjadi tanda riwayat suatu bets atau lot secara lengkap,
termasuk pemeriksaan mutu dan pendistribusiannya.
24. Diluluskan (released) adalah status bahan atau produk yang boleh
digunakan untuk diproses, dikemas atau didistribusikan.
25. Produk kembalian adalah produk yang dikembalikan dari semua mata
rantai distribusi ke pabrik.
26. Penarikan kembali (recall) adalah kegiatan menarik kembali produk
dari semua mata rantai distribusi apabila ditemukan adanya produk
yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan penandaan atau
adanya efek yang merugikan kesehatan.
27. Keluhan adalah suatu pengaduan dari pelanggan atau konsumen
mengenai kualitas, kuantitas, khasiat dan keamanan.
II.3 Jamu

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang


berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut,
higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu telah
digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan
mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu
pada resep peninggalan leluhur. Bentuk jamu tidak memerlukan
pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris
turun temurun. Penandaan pada produk Jamu Tulisan “JAMU” harus jelas
dan mudah dibaca, dicetak dengan warna hitam diatas dasar warna putih
atau warna lain yang menyolok kontras dengan tulisan “JAMU” catatan :
pada produk jamu dilarang mencampurkan atau terkandung bahan kimia
obat apapun. jamu adalah tingkat terendah dari strata obat herbal lainnya
tingkatan selanjutnya adalah Herbal Terstandar (Agus, 2002).
II.4 Bahan Kimia Obat (BKO)
Secara garis besar, bahan dasar obat dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
macam, yaitu berasal dari (Chaerunisaa, dkk, 2009) :
1. Bahan-bahan yang secara alami disintesis di dalam tubuh, baik
manusia, hewan, tumbuhan, atau makhluk hidup lainnya, termasuk
di dalamnya obat herbal/ tradisional (TR)
2. Bahan-bahan kimia yang secara alami tidak disintesis di dalam
tubuh, oleh masyarakat disebut sebagai “obat kimia”, termasuk di
dalamnya obat sintetik dan obat semi-sintetik
Penggolongan obat menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
917/Menkes/Per/X /1993 yang kini telah diperbaiki dengan Permenkes RI
Nomor 949/Menkes/Per/ VI/2000 penggolongan obat dimaksudkan untuk
peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan
distribusi. Penggolongan obat ini terdiri dari : obat bebas, obat bebas
terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika
(Chaerunisaa, dkk, 2009)
II.4.1 Obat Bebas (Chaerunisaa, dkk, 2009)
Peratuan daerah Tingkat II tangerang yakni Perda Nomor 12
Tahun1994 tentang izin Pedagang Eceran Obat memuat pengertian obat
bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa resep
dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika, psikotropika, obat keras,
obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI.
Contoh : Minyak Kayu Putih, Tablet Parasetamol, tablet Vitamin C, B
Compleks
Penandaan obat bebas diatur berdasarkan SK Menkes RI Nomor
2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk untuk obat bebas dan
untuk obat bebas terbatas. Tanda khusus untuk obat bebas yaitu bulatan
berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam, seperti terlihat pada gambar
berikut :

Penandaan Obat Bebas


II.4.2. Obat Bebas Terbatas (Chaerunisaa, dkk, 2009)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-
obatan kedalam daftar obat “W” (Waarschuwing) memberikan pengertian
obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada
pemakainya tanpa resep dokter, bila penyerahannya memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
1. Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari pabriknya
atau pembuatnya.
2. Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan
tanda peringatan. Tanda peringatan tersebut berwarna hitam,
berukuran panjang 5 cm,lebar 2 cm dan memuat pemberitahuan
berwarna putih sebagai berikut :
Gambar Peringatan Obat Bebas Terbatas
Penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI
No.2380/A/SK/VI/83 tanda khusus untuk obat bebas terbatas berupa
lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam, seperti terlihat
pada gambar berikut:

Gambar Penandaan Obat Bebas Terbatas


II.4.3. Obat Keras (Chaerunisaa, dkk, 2009)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang
menetapkan/memasukkan obat-obatan kedalam daftar obat keras,
memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan
sebagai berikut :
1. Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan
bahwa obat itu hanya boleh diserahkan denagn resep dokter.
2. Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk
dipergunakan secara parenteral.
3. Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan telah
dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak membahayakan
kesehatan manusia.
Contoh :
a. Andrenalinum
b. Antibiotika
c. Antihistaminika, dan lain-lain
Adapun penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan
RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat Keras daftar G
adalah “Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam
dengan hurup K yang menyentuh garis tepi”, seperti yang terlihat pada
gambar berikut:

Gambar Penandaan Obat Keras


II.4.5. Obat Golongan Narkotika (Chaerunisaa, dkk, 2009)
Pengertian narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997
tentang narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan yang dibedakan kedalam golongan I, II dan
III.
Contoh :
a. Tanaman Papaver Somniferum
b. Tanaman Koka
c. Tanaman ganja
d. Heroina
e. Morfina
f. Ovium
g. Kodeina

Gambar Penandaan Obat Narkotika


II.4.6. Obat Psikotropika (Chaerunisaa, dkk, 2009)
Pengertian psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1997 tentang psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan perilaku.
Contoh :
a. Lisergida
b. Amphetamin
c. Codein
d. Diazepam
e. Nitrazepam
f. Fenobarbital
Untuk Psikotropika penandaan yang dipergunakan sama dengan
penandaan untuk obat keras, hal ini karena sebelum diundangkannya UU
RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, maka obat-obat psikotropika
termasuk obat keras, hanya saja karena efeknya dapat mengakibatkan
sidroma ketergantungan sehingga dulu disebut Obat Keras Tertentu.
Sehingga untuk Psikotropika penandaannya: lingkaran bulat
berwarna merah,dengan huruf K berwarna hitam yang menyentuh garis tepi
yang berwarna hitam.
II.5 Kromatografi Lapis Tipis
Pada kromatografi lapis tipis,zat penyerap merupakan lapisan tipis
serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca.plastik atau logam secara
merata umumnya digunakan lempeng kaca. Lempeng kaca yang dilapisi
dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan yang
tercapai dapat didasarkan pada adsorbsi,partisi atau kombinasi kedua efek,
tergantung dari jenis zat penyangga. Cara pembuatan, dan jenis pelarut
yang digunakan,alat-alat dan bahan untuk kromatografi lapis tipis adalah
(Gritter, 1991) :
1. Lempeng kaca dengan tebal serba rata dan ukuran yang sesuai
umumnya 20cm X 20cm.
2. Baki lempeng, dengan permukaan yang datar, digunakan untuk
meletakkan dan mengatur lempeng kaca pada waktu membuatb lapisan
zat penyerap.
3. Rak penyimpanan digunakan untuk menempatkan lempeng yang telah
dilapisi zat penyerap selama pengeringan atau untuk membawa
lempeng.
4. Zat penyerap, terdiri dari bahan penyerap yang halus umumnya
berdiameter 5 Um hingga 40 Um yang sesuai untuk kromatografi.
5. Alat pembuat lapisan, yang jika digerakkan diatas lempeng kaca,akan
menghasilkan zat penyerap serba rata, dengan ketebalan yang
dikehendaki, pada seluruh permukaan lempeng.
6. Bejana kromatografi, yang dapat memuai satu atau lebih lempeng kaca
dan dapat ditutup kedap.
7. Alat sablon, umumnya terbuat dari plastik, digunakan sebagai alat bantu
untuk menemptkan bercak uji pada jarak seperti yang dibutuhkan, serta
untuk membantu penandaan lempeng.
8. Pipet mikro berskala, yang dapat mengeluarkan cairan sejumlah 10UL
jumlah total larutan uji dan larutan baku yang harus ditotolkan tertera
pada masing-masing monografi.
9. Alat penyemprot pereaksi yang dapat menyemprotkan butir-butir halus
serta tahan terhadap pereaksi.
10. Lampu ultraviolet, yang sesuai untuk pengamatan dengan panjang
gelombang pendek (254nm) dan dengan panjang gelombang (366nm).
Kromtografi Lapis Tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmarloff dan
Schaiber pada tahun 1938, KLT merupakan bentuk kromatografi planar,
selain kromatografi kertas dan elektroforesis berbeda dengan kromatografi
kolom yang mana fase dalamnya diisikan dan dikemas didalamnya. Pada
kromatografi lapis tipis ,fase diamnya berupa lapisan yang seragam
(uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca,
palat aluminium dan plat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar
ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom
(Gritter, 1991).
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin didektesikan dengan memisahkan komponen-
komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip dari KLT
adalah memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antar sampel
dengan pelarut yang digunakan (Gritter, 1991).
II.5.1. Keuntungan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) (Gritter, 1991) :
1. KLT banyak digunakan untuk tujuan analisis.
2. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna, fluoresensi waktu dengan radiasi menggunakan sinar UV.
3. Waktu pemisahan lebih cepat sensitif dan daya resolusinya tinggi.
4. Dapat dilakukan elusi secar menaik (escending),menurun (descending)
atau elusi dua dimensi.
5. Ketetapan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang
ditentukan merupakan bercak yang tidak dapat bergerak.
6. KLT dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan
dengan kromatografi kolom.
Teknik KLT biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika
yang bersifat polar dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang
ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan
dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen,
semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan
semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Senyawa yang dapat membentuk
ikatan hidrogen akan melekat pada gel silika lebih kuat dibandingkan
senyawa lainnya (Gritter, 1991).
Teknik KLT menggunakan suatu adsorben yang disalurkan pada
lempeng kaca sebagai fase stasionernya dan pengembangan kromatografi
terjadi ketika fase mobil terlapis melewati adsorben itu. Kromatografi lapis
tipis mempunyai kelebihan yang nyata dibandingkan kromatografi kertas
karena nyaman dan cepatnya ketajaman pemisahan yang lebih besar dan
kepekaannya yang tinggi (Gritter, 1991).
II.5.2. Komponen-Komponen KLT
1. Fase Diam / Penyerap (Gritter, 1991)
Penyerap yang paling sering digunakan pada klt adalah silika dan
serbuk selulosa, sementara mekanisme adsorbsi dan desorbsi (suatu
mekanisme dan perpindahan slut dari fase diam ke fase gerak atau
sebalimnya) yang utama KLT adalah prtisi dan adsorbsi. Silika gel
adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon fihubungkan
oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar.
2. Fase Gerak (Gritter, 1991)
Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu dan beberapa
pelarut. Ia bergerak didalam fase diam yaitu suatu lapisan berpori
karena ada gaya kapiler, yang hanya digunakan pelarut bertingakat
mutu analitik dan bila diperlukan sstem pelarut multi komponen harus
berupa suatu campuran sederhana mungkin yang terjadi atas maksimum
3 komponen, angka banding campuran dinyatakan dalam bagian
volume total 100. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan
mengoptimasi fase gerak antara lain (Gritter, 1991) :
a. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT merupakan tehnik yang sensitif.
b. Daya elusi gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi
karena KLT merupakan tehnik yang sensitif.
c. Untuk pemisahan menggunakan fase diam polar, seperti silika gel
polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yng
berarti juga menentukan nilai Rf.
d. Solut-solut ionik dan solut polar lebih baik digunakan campuran
pelarut sebagai fase geraknya seperti campuran air dan methanol
dengan perbandingan tertentu.
II.5.3. Aplikasi ( Penotolan Sampel)
Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal hanya akan
diperoleh jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil atau
sesempit mungkin, sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang lain
jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi
(Gritter, 1991).
Deteksi (Gritter, 1991) yaitu bercak pemisahan pada KLT merupakan
bercak yang tidak berwarna. Untuk penentuannya dapa dilakukan secara
fisika kimai maupun biologi
II.5.4 Perhitungan Rf
Ukuran dan intensitas bercak dapat digunakanuntuk memperkirakan
kadar. Pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan
identifikasi senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan
jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang ditmpuh oleh bercak
warna masing-masing, ketika pelarut mendekati bagian atas lempeng,
lempengan dipindahkan dari gelas kimia dan posisi pelarut ditandai dengan
sebuah garis sebelum mengalami proses penguapan. Bila selanjutnya ingin
melihat kadar adalah dengan cara disintrometri. Dalam kromatogrfi cair dan
kromatografi lapis tipis fase gerak yang digunakan selalu cair.
Kromatografi juga dapat dibedakan lagi atas beberapa macam (Gritter,
1991) :
Berdasarkan pada mekanisme pemisahannya
1. Kromatografi adsorbsi
2. Kromatografi pasangan ion
3. Kromatografi penukaran ion
4. Kromatografi ekslusi ukuran
5. Kromatografi afinitas.
Berdasarkan kriteria lain, kromatografi dapat dikelompokkan (Gritter,
1991) :
1. Penempatan fase stasionernya dalam tabung (kromatografi kolom) atau
pada permukaan bidang(kromatografi planar)
2. Arah gerak fase mobilnya (kromatografi menurun,
kromatografi menaik dan kromatografi mendatar).
II.6 Uraian Bahan
1. Methanol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Metanol
Nama Lain : Metanol
RM/BM : CH3OH/34,00 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas


Kelarutan :.Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan
jernih tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pelarut
2. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aethanolum
Nama lain : Etanol, Alcohol, Ethyl alkohol
RM/BM : C2H5OH/46,07 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform I
dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
ditempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan : Untuk mensterilkan alat, sebagai pelarut.
3. N-Heksan (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Hexaminum
Nama Lain : Heksamina
RM/BM : C6H12N4/140,19 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian :..Hablur mengkilap tidak berwarna atau serbuk


hablur putih, tidak berbau, rasa membakar dan
manis kemudian agak pahit, jika dipanaskan pada
suhu lebih kurang 260o menyublim
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 mL etanol
(95%) P dan dalam lebih kurang 10 bagian
kloroform P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai Pelarut
4. Paracetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACETAMINOPHEN
Nama Lain : Paracetamol
Rumus Molekul : C8H9NO2
Berat Molekul : 151,16 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur atau hablur serbuk putih, tidak berbau,rasa


pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
95% p, dalam 17 bagian aseton p, dalam 40
Bagian gliserol.
Khasiat : Analgetikum, antipiretikum.
Kegunaan : Sebagai sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
II.7 Prosedur Kerja
1. Pembuatan larutan standar
a. Timbang paracetamol murni sebanyak 0,1-0,2 gr
b. Larutkan dengan pelarut 2 mL etanol
c. Aduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai tercampur
sempurna
2. Pembuatan larutan uji
a. Timbang jamu sebanyak 5-10 gr
b. Larutkan dengan pelarut 20-30 mL etanol 70%
c. Digojog selama 30 menitdengan menggunakan alat ultrasonic
d. Disaring dengan kertas saring
e. Ditambahkan etil asetat
f. Uapkan pada waterbath hingga kering
g. Kemudian tambahkan 2-5 mL etanol 95%
h. Usahakan larutan yang terbentuk tidak terlalu encer
3. Pembuatan eluen
a. Ambil pelarut
 Etanol : Heksan 1:5
 Metanol ; Heksan 1:3
b. Masing-masing eluen campurkan dalam 1 wadah
c. Kemudian lanjutkan dengan proses penjenuhan dengan
menggunakan tisu
d. Eluen siap digunakan
4. Identifikasi
a. Gunakan penotol untuk mengambil larutan uji
b. Totol pada garis bawah yang ada pada lempeng
c. Masukkan lempeng yang sudah ditotol ke dalam eluen yang sudah
dijenuhkan
d. Usahakan tinggi eluen tidak melebihi garis bawah pada lempeng
e. Diamkan eluen naik sampai tidak melebihi batas atas lempeng
f. Angkat lempeng dan amati pada sinar UV 254 dan UV 366
g. Lingkari noda yang nampak menggunakan pemsil
h. Jika tidak ada nida maka dapat digunakan metode pemanasan
lempeng
i. Jika noda masih tidak muncul dapat digunakan pereaksi dengan cara
lempeng disemprot
j. Hitung nila Rf dengan rumus Jarak Tempuh Noda : Jarak Tempuh
Eluen