Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan
farmasi rumah sakit adalah bagian yang tak terpisahkan dari sistem pelayanan
kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien.
Sebagai upaya untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit
yang berorientasi pada keselamatan pasien dikeluarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 58 Tahun 2014 (Permenkes No. 58, 2014).
Pelayanan kefarmasian adalah syarat dari pengobatan untuk tujuan
keberhasilan terapi yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.Tujuan
terapi yaitu (1) mengobati penyakit, (2) menguragi gejala yang dialami oleh
pasien, (3) mencegah atau memperlambat penyebaran penyakit, atau (4)
mencegah penyakit ataupun gejalanya. Pelayanan kefarmasian melibatkan
proses co-operatif seorang farmasis dengan pasien dan tenaga kesehatan
lainnya dalam merancang, menerapkan, dan monitoring rencana pengobatan
yang akan menghasilkan outcome terapi spesifik untuk pasien (EDQM, 2012).
Belum semua pasien tahu dan sadar akan apa yang harus dilakukan
tentang obat-obatnya, oleh sebab itu untuk mencegah kesalahgunaan,
penyalahgunaan, dan adanya interaksi obat yang tidak dikehendaki, pelayanan
informasi obat dirasa sangat diperlukan. Farmasis dapat berkontribusi untuk
meningkatkan hasil dari farmakoterapi dengan cara memberikan
edukasi dan konseling pada pasien untuk menyiapkan dan memotivasi pasien
agar menaati aturan farmakoterapi dan kegiatan monitoring. Edukasi dan
konseling merupakan hal yang paling efektif ketika diselenggarakan di dalam
ruangan atau tempat yang menjamin privasi dan memiliki kesempatan untuk
menjaga rahasia komunikasi (Yamada and Nabeshima, 2015).
1.2 Tujuan
1. Mengidentifikasi kelengkapan informasi yang diberikan Apoteker pada
pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul,
Yogyakarta dengan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan No. 58 Tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit.
2. Mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan dalam teknis pelayanan
informasi obat yang diberikan pada pasien di instalasi farmasi RSUD
Panem bahan Senopati Bantul, Yogyakarta.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kelengkapan informasi yang diberikan Apoteker pada pasien di
instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta dengan
standar pelayanan kefarmasian berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
No. 58 Tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan di Rumah Sakit?
2. Apa permasalahan yang ditemukan dalam teknis pelayanan informasi obat
yang diberikan pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panem bahan
Senopati Bantul, Yogyakarta?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Apoteker

Apoteker menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 889 Tahun 2011


adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker (Permenkes No.889, 2011).
Apoteker sebagai pelaku utama pelayanan kefarmasian yang bertugas
sebagai pelaksana kesehatan diberi wewenang sesuai dengan kompetensi
pendidikan yang diperolehnya, sehingga terkait erat dengan hak dan
kewajibannya (Standar Kompetensi Apoteker Indonesia, 2011).
Berdasarkan PP No. 51 tahun 2009 pasal 21 ayat 1 tentang pekerjaan
kefarmasian, dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan
kefarmasian. Ayat 2 menjelaskan jika penyerahan dan pelayanan obat
berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker. Menurut pasal 19,
yang dimaksud dengan Fasilitas Pelayanan Kefarmasian berupa: (1)apotek,
(2)instalasi farmasi rumah sakit, (3)puskesmas, (4)klinik, (5)toko obat, atau
(6)praktek bersama.
Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. Surat Izin
Praktik Apoteker (SIPA) adalah surat izin yang diberikan kepada Apoteker
untuk dapat melaksanakan praktik kefarmasian pada fasilitas pelayanan
kefarmasian. Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan
kefarmasian wajib memiliki surat tanda registrasi berupa STRA bagi
Apoteker (Permenkes No. 889, 2011).
2.2 Pharmaceutical care
Pharmaceutical care adalah praktek kefarmasian yang diberikan secara
langsung (directly provided) dan bertanggung jawab (responsibility) oleh
apoteker kepada pasien terkait dengan pengobatan (medication related),
yang mengahasilkan outcome sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien (quality of life) (Cipolle, Strand, dan Morley, 2004).
Medication related pada pharmaceutical care tidak hanya menyediakan
terapi obat namun juga mengambil keputusan mengenai penggunaan obat
pada pasien. Sedangkan yang dimaksud dengan care yaitu, apoteker tidak
hanya melayani jual beli obat, namun juga harus peduli pada pasiennya
seperti menggali informasi tentang kebiasaan pasien dalam menjaga
kesehatan serta cara penggunaan obat (Cipolle, Strand, dan Morley, 2004).
Apoteker harus memiliki komitmen dan tanggung jawab berupa
pelayanan kefarmasian yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi klinis pasien,
dengan cara menjamin semua terapi yang diterima oleh pasien adalah terapi
yang aman, paling efektif, paling sesuai dan praktis. Selain itu, Apoteker
harus memberikan pelayanan secara berkesinambungan, artinya Apoteker
selalu siap dalam mengidentifikasi, mencegah dan memecahkan
permasalahan terkait terapi yang diberikan pada pasien (Cipolle, Strand, dan
Morley, 2004).
Pharmaceutical care terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: penyusunan
informasi dasar terkait pasien atau database pasien, evaluasi (assessment),
penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian (RPK), implementasi RPK,
monitoring RPK dan melakukan follow up atau tindak lanjut. Seluruh tahap
pelayanan kefarmasian ini dilakukan melalui suatu proses konseling dan
penyuluhan pada pasien terkait penyakit yang sedang diderita.
Pharmaceutical care dapat menurunkan kejadian yang merugikan pasien
dalam penggunaan obat, terutama pada pengobatan jangka panjang dan
dapat meningkatkan kesadaran pasien akan efek yang merugikan dari obat
(Cipolle, Strand, dan Morley, 2004).
2.3 Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit harus
didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian, pengorganisasian
yang berorientasi kepada keselamatan pasien, dan standar prosedur
operasional. Sumber daya kefarmasian yang dimaksud meliputi sumber daya
manusia, dan sarana prasarana.
1. Pengelolaan Sumber Daya
a. Sumber daya manusia
Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, rumah sakit
harus memiliki tenaga medis dan penunjang medis, tenaga
keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen rumah sakit, dan
tenaga nonkesehatan.
Tenaga kefarmasian khususnya Apoteker harus memiliki
kompetensi sebagai berikut (Standar Kompetensi Apoteker, 2011) :
1) Mampu melakukan praktik kefarmasian secara profesional dan
etik.
2) Mampu menyelesaikan masalah terkait dengan penggunaan
sediaan farmasi.
3) Mampu melakukan dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan.
4) Mampu memformulasi dan memproduksi sediaan farmasi dan alat
kesehatan sesuai standar yang berlaku.
5) Mempunyai keterampilan dalam pemberian informasi sediaan
farmasi dan alat kesehatan.
6) Mampu berkontribusi dalam upaya preventif dan promotif
kesehatan masyarakat.
7) Mampu mengelola sediaan farmasi dan alat kesehatan sesuai
dengan standar yang berlaku.
8) Mempunyai keterampilan organisasi dan mampu membangun
hubungan interpersonal dalam melakukan praktek kefarmasian.
9) Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang berhubungan dengan kefarmasian.
b. Sarana Prasarana
Penyelenggaraan pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit harus
didiukung oleh sarana dan prasarana yang memenuhi ketentuan dan
perundang- undangan yang berlaku.
Fasilitas ruang harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas
agar dapat menunjang fungsi dan proses Pelayanan Kefarmasian,
menjamin lingkungan kerja yang aman untuk petugas, dan
memudahkan system komunikasi rumah sakit.
2.4 Pelayanan Kefarmasian
1. Informasi obat
Rumah Sakit harus memenuhui persyaratan lokasi, bangunan,
prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan.
Persyaratan kefarmasian yang dimaksud harus menjamin ketersediaan
sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu, bermanfaat, aman
dan terjangkau (UU No. 44, 2009). Standar pelayanan kefarmasian di
rumah sakit, meliputi standar: (a)pengelolaan sedian farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai; dan (b)pelayanan farmasi
klinik (Permenkes No.58, 2014).
Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang
diberikan apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome
terapi dan meminimalkan resiko terjadinya efek samping karena obat,
untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas
hidup pasien (quality of life) terjamin. Pelayanan farmasi klinik yang
dilakukan meliputi: (1)pengkajian dan pelayanan resep; (2)penelusuran
riwayat penggunaan obat; (3)rekonsiliasi obat; (4)pelayanan informasi
obat; (5)konseling; (6)visite; (7)pemantauan terapi obat; (8)monitoring
efek samping obat; (9)evaluasi penggunaan obat; (10)dispensing
sediaan steril; (11)pemantauan kadar obat dalam darah (Permenkes
No.58, 2014).
2. Pelayanan informasi obat
Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan
dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat,
tidak bias, terkini, dan komprehensif yang dilakukan oleh apoteker
kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien
dan pihak lain diluar rumah sakit.
PIO bertujuan untuk: (a)menyediakan informasi mengenai obat
kepada pasien dan tenaga kesehatan dilingkungan rumah sakit dan
pihak lain di luar rumah sakit; (b)menyediakan informasi untuk
membuat kebijakan yang berhubungan dengan obat/sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, terutama bagi tim farmasi
dan terapi; (c)menunjang penggunaan obat yang rasional (Permenkes
No.58, 2014).
Undang-undang (UU) Republik Indonesia No.44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit menyebutkan bahwa rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
termasuk pelayanan kefarmasian (UU No.44, 2009).
Standar pelayanan kefarmasian meliputi pelayanan farmasi klinik.
Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang
diberikan apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome
terapi dan meminimalkan resiko terjadinya efek samping karena obat,
untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas
hidup pasien (quality of life) terjamin.
Kegiatan pelayanan informasi obat berupa penyediaan dan
pemberian informasi obat yang bersifat aktif atau pasif. Pelayanan
bersifat aktif apabila apoteker pelayanan informasi obat memberikan
informasi obat dengan tidak menunggu pertanyaan melainkan secara
aktif memberikan informasi obat, misalnya penerbitan buletin, brosur,
leaflet, seminar dan sebagainya. Pelayanan bersifat pasif apabila
apoteker pelayanan informasi obat memberikan informasi obat sebagai
jawaban atas pertanyaan yang diterima. Indikator keberhasilan
pelayanan informasi obat mengarah kepada pencapaian penggunaan
obat secara rasional di rumah sakit itu sendiri. Indikator dapat
digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan penerapan pelayanan
informasi obat antara lain (Depkes RI, 2006):
1) Meningkatnya jumlah pertanyaan yang diajukan.
2) Menurunnya jumlah pertanyaan yang tidak dapat dijawab.
3) Meningkatnya kualitas kinerja pelayanan.
4) Meningkatnya jumlah produk yang dihasilkan (leaflet, buletin,
ceramah).
5) Meningkatnya pertanyaan berdasar jenis pertanyaan dan tingkat
kesulitan.
6) Menurunnya keluhan atas pelayanan
2.5 Pedoman Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit
Pelayanan informasi obat merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Tujuan umum dari
pedoman pelayanan informasi obat di rumah sakit yaitu tersedianya pedoman
untuk pelayanan informasi obat yang bermutu dan berkesinambungan dalam
rangka mendukung upaya penggunaan obat yang rasional di rumah sakit.
Tujuan khusus dari pedoman pelayanan informasi obat di rumah sakit,
antara lain (Depkes RI, 2006) :
1) Tersedianya acuan dalam rangka pelayanan informasi obat di rumah
sakit.
2) Tersedianya landasan hukum dan operasional penyediaan dan pelayanan
informasi obat di rumah sakit.
3) Terlaksananya penyediaan dan pelayanan informasi obat di rumah sakit.
4) Terlaksananya pemenuhan kompetensi apoteker Indonesia dalam hal
pelayanan kefarmasian.
Pedoman pelayanan informasi obat di rumah sakit dimaksudkan untuk
dapat dimanfaatkan oleh petugas kesehatan terkait provider, pasien dan
keluarganya, masyarakat umum, serta institusi yang memerlukan (Depkes RI,
2006).
2.6 Teknis Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit
1. Metode Pelayanan Informasi Obat
Menurut Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
(2006), terdapat 5 metode yang dapat digunakan untuk melakukan
pelayanan informasi obat yaitu:
a. Pelayanan informasi obat dilayani oleh apoteker selama 24 jam atau
on call.
b. Pelayanan informasi obat dilayani oleh apoteker pada jam kerja,
sedang diluar jam kerja dilayani oleh apoteker instalasi farmasi yang
sedang tugas jaga.
c. Pelayanan infromasi obat dilayani oleh apoteker pada jam kerja, dan
tidak ada pelayanan informasi obat diluar jam kerja.
d. Tidak ada petugas khusus pelayanan informasi obat, dilayani oleh
semua apoteker instalasi farmasi, baik pada jam kerja maupun diluar
jam kerja.
e. Tidak ada apoteker khusus, pelayanan informasi obat dilayani oleh
semua apoteker instalasi farmasi di jam kerja dan tidak ada
pelayanan informasi obat diluar jam kerja.
2. Kegiatan Pelayanan Informasi Obat
Menurut Permenkes No. 58 Tahun 2014, kegiatan pelayanan
informasi obat meliputi:
a. menjawab pertanyaan.
b. menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter.
c. menyediakan informasi bagi Tim Farmasi dan Terapi sehubungan
dengan penyusunan Formularium Rumah Sakit.
d. bersama dengan Tim Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)
melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat
inap.
e. melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan
tenaga kesehatan lainnya.
f. melakukan penelitian.
Berdasarkan Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
(2006), pertanyaan dari pasien atau tenaga medis lain dapat diterima
secara lisan, tulisan ataupun via telpon. Tenggang waktu untuk
menyampaikan jawaban dapat dilakukan segera dalam 24 jam atau lebih
dari 24 jam, baik secara lisan, tulisan maupun via telpon.
3. Sumber Informasi yang Digunakan
Menurut Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2006),
semua sumber informasi yang digunakan diusahakan terbaru dan
disesuaikan dengan tingkat dan tipe pelayanan. Pustaka digolongkan ke
dalam 3 kategori, yaitu:
a. Pustaka primer adalah artikel asli yang dipublikasikan penulis atau
peneliti, informasi yang terdapat didalamnya berupa hasil penelitian
yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Contoh pustaka primer, antara
lain laporan hasil penelitian, laporan kasus, studi evaluatif, serta
laporan deskriptif.
b. Pustaka sekunder yaitu berupa sistem indeks yang umumnya berisi
kumpulan abstrak dari berbagai macam artikel jurnal. Sumber
informasi sekunder sangat membantu dalam proses pencarian
informasi yang terdapat dalam sumber informasi primer. Sumber
informasi ini dibuat dalam berbagai database, contoh: medline yang
berisi abstrak-abstrak tentang terapi obat, International
Pharmaceutical Abstract yang berisi abstrak penelitian kefarmasian.
c. Pustaka tersier yaitu berupa buku teks atau database, kajian artikel,
kompendia dan pedoman praktis. Pustaka tersier umumnya berupa
buku referensi yang berisi materi yang umum, lengkap dan mudah
dipahami.
4. Evaluasi Sumber Informasi yang Digunakan
Menurut Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2006),
evaluasi sumber informasi dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Evaluasi pustaka primer
Untuk mengevaluasi pustaka primer tidak mudah meskipun hasil
suatu studi atau makalah penelitian sudah absah dan telah
dipublikasikan. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
evaluasi terhadap pustaka primer adalah sebagai berikut:
1) Bagian bahan dan metode (bagian dari suatu artikel yang
menguraikan cara peneliti melakukan studi tersebut).
2) Sampel (mewakili populasi yang hasilnya akan dapat diterapkan).
3) Desain studi (atau bagian yang memerlukan penelitian yang
seksama).
b. Evaluasi pustaka sekunder
Pustaka sekunder terdiri dari pustaka sekunder berisi
pengindeksan (kepustakaan) dan pustaka sekunder berisi abstrak yang
berguna sebagai pemandu ke pustaka primer. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih pustaka sekunder, antara lain:
1) Waktu (jarak waktu artikel itu diterbitkan dalam majalah ilmiah
dan dibuat abstrak atau indeks)
2) Jurnal pustaka cakupan (jurnal pustaka ilmiah yang mendukung
tiap pustaka sekunder)
3) Selektivitas pengindeksan/pengabstrakan (bentuk dari sistem:
cetak standar, mikrofis, terkomputerisasi. Dikaitkan dengan
keperluan dan kebutuhan pengguna)
4) Harga (perbedaan harga terjadi untuk sumber yang tersedia dalam
bentuk yang berbeda)
c. Evaluasi pustaka tersier
Pustaka tersier banyak tersedia sebagai sumber informasi medik
dan obat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sumber
pustaka tersier, antara lain:
1) Penulis dan editor harus mempunyai keahlian dan kualifikasi
menulis tentang suatu judul atau bab tertentu dari suatu buku.
2) Tanggal publikasi dan edisi dari pustaka tersier terutama buku teks
harus tahun terbaru.
3) Penerbit mempunyai reputasi yang tinggi.
4) Daftar pustaka berisi daftar rujukan pendukung sesuai judul buku.
5) Format pustaka tersier harus didesain untuk mempermudah
penggunaan.
6) Membaca kritik tertulis.
d. Dokumentasi
Menurut Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
(2006), fungsi dari dokumentasi, antara lain:
1) Mengingatkan apoteker tentang informasi pendukung yang
diperlukan dalam menjawab pertanyaan dengan lengkap.
2) Sumber informasi apabila ada pertanyaan serupa.
3) Catatan yang mungkin diperlukan kembali oleh penanya.
4) Media pelatihan tenaga farmasi.
5) Basis data penelitian analisis, evaluasi dan perencanaan layanan.
6) Bahan audit dalam melaksanakan Quality Assurance dari
pelayanan informasi obat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil penelitian kelengkapan rincian informasi yang diberikan
pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati saat
pelayanan informasi obat belum sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 58 tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
2. Berdasarkan hasil penelitian, permasalahan teknis pelayanan informasi
obat yang ditemukan adalah dokumentasi yang belum sesuai, evaluasi
sumber informasi yang digunakan sebagai acuan dalam pelayanan
informasi obat belum dilakukan, serta sarana fisik seperti ruang pelayanan
informasi obat yang dilengkapai dengan sumber informasi dan teknologi
komunikasi belum.
3.2 Saran
1. Perlu dilakukan pemahaman dan sosialisasi kepada apoteker mengenai
kelengkapan rincian informasi obat yang diberikan pada pasien yang
sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 58
tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
2. Perlu dilakukan penerapan terkait teknis pelayanan informasi obat yang
sesuai dengan Permenkes No. 58 tahun 2014, seperti pengadaan ruang
pelayanan informasi obat yang dilengkapai dengan sumber informasi dan
teknologi komunikasi. Melakukan evaluasi sumber informasi dan
dokumentasi sesuai dengan standar Permenkes No. 58 tahun 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, 2004, Penyusunan Skala Psikologi, Pustaka pelajar, Yogyakarta, hal 6-7.

Baroroh, F., 2011, Evaluasi Implementasi Pelayanan Informasi Obat Pasien


Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Yogyakarta, hal.71-77.

Cipolle, dkk, 2004, Pharmaceutical Care Practice: The Clinical’s Guide, 2nd ed,
Mc Graw Hill Companies, USA, pp. 2, 69-76, 252-256.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, 2006, Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian di Sarana
Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, 2006, Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu Hamil Dan
Menyusui, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, 2007, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hati, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, 2009, Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Pasien
Pediatri, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006, Pedoman


Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Peraturan pemerintah Republik


Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Jakarta.

Departemen Kesehatan RepublikIndonesia, 2011, Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 889 tahun 2011 tentang Registrasi, Izin
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan
Perizinan Rumah Sakit, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit, Jakarta.

EDQM, 2012, Pharmaceutical Care – Policies and Practices for a Safer, More
Responsible and Cost – effective Health System , Directorate for the
Quality of Medicines & HealthCare of the Council of Europe (EDQM),
France, p. 7.

Ikatan Apoteker Indonesia, 2011, Standar Kompetensi Appoteker Indonesia,


Jakarta.

Kisworo, H., 2010, Evaluasi Mutu Pelayanan Obat di Unit Rawat Jalan Instalasi
Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Kurniawan, D.W., dan Chabib, L., 2010, Pelayanan Informasi Obat Teori Dan
Praktik, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal.49.

Munar, M.Y., and Singh, H., 2007, Drug Dosing Adjustments in Patients with
Chronic Kidney Disease, American Family Physician, p. 1487.

Mustarim, R., 2011, Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan PIO di Unit PIO RS. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar Sulawesi Selatan.

Notoadmodjo, S., 2003, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan, edisi II, PT.
Rineka Cipta, Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Jakarta.

Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan


Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, hal. 10-13.

Soekidjo, N., 2009, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Rieneka Cipta,


Jakarta, hal. 114.

Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R & D, Alfabeta,


Bandung, hal. 218.

Thamby, S. A., and Subramani, P., 2014, Seven-Star Pharmacist Concept by World
Health Organization, vol 6th, Journal of Young Pharmacist (JYP), p. 2.

Widjajanta, B. Dan Widyaningsih, A., 2012, Mengasah kemampuan Ekonomi,


Citra Praya, Bandung, hal. 3.

Yamada, K., Nabeshima, T., 2015, Pharmacist-managed clinics for patient


education and counselilng in Japan: current status and future
perspective, Journal of Pharmaceutical Health Care and Sciences
(JPHCS).