Anda di halaman 1dari 13

MODEL PENELITIAN ILMU FIQIH

DI TULIS OLEH :

Anis Ika Rafika (20153408003)

Makalah yang ditulis untuk memenuhi tugas Pembelajaran Fiqih

dosen pengampu Eva Arifien, M.Ag

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SD/MI (PGSD/PGMI)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BANI SALEH

2015/2016
KATA PENGANTAR

Dengan rasa syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Inayah-Nya
kepada kita serta junjungan kita nabi Muhammad SAW, sehingga kita masih diberi kesehatan,
sehingga saya dapat menyusun makalah yang berjudul “MODEL PENELITIAN ILMU
FIQIH” ini dengan waktu yang tepat.

Ilmu fiqih merupakan hasil pengerahan potensi insani dalam meraih sebanyak mungkin
nilai-nilai samawi yang di proyeksikan di dalam kenyataan-kenyataan duniawi dan harapan
ukhrawi. Secara keseluruhan, ilmu tersebut tidak mudah dipahami. Oleh karena itu, sebuah
model penelitian dari ilmu fiqih tersebut sangat penting karena dapat mengarahkan pemahaman
menuju ilmu fiqih yang sesungguhnya.

Saya berharap makalah ini dapat di terima oleh dosen pemampu ibu Eva Arifien, M.Ag,
dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa ataupun seseorang yang
membutuhkan pengetahuan tengtang model penelitian ilmu fiqih. Saya pun menyadari jika
makalah yang saya buat ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang sifat nya
membangun sangat kami harapkan agar menjadi acuan untuk lebih baik lagi dalam membuat
makalah dan semoga kita semua di ridhoi Allah SWT, amin.

Bekasi, 16 Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………..

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Bekang……………………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………………
C. Tujuan…………………………………………………………………………………..

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Fiqih…………………………………………………………………..


B. Karakteristik Ilmu Fiqih………………………………………………………………...
C. Model Penelitian Fiqih………………………………………………………………….

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………………………………………..
B. Saran……………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ilmu fiqih merupakan salah satu bidang studi islam yang paling di kenal di dalam
masyarakat. Hal ini karena fikih terikat langsung dengan kehidupan masyarakat dari sejak
lahir sampai meninggal dunia manusia selalu berhubungan dengan fiqih. Maka ilmu fiqih
dikategorikan sebagai ilmu yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, termasuk
ilmu yang wajib dipelajari, karena dengan ilmu itu pula seseorang dapat melaksanakan
kewajibannya mengabdi kepada allah melalui syahadah, solat, puasa dan haji.

Ilmu fiqih lahir bersama dengan lahirnya agama islam, sebab agama islam itu sendiri
adalah kumpulan pengaturan yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan
hubungan manusia dengan sesamanya. Para ahli membagi ajaran islam kedalam beberapa
bidang studi islam, seperti akidah, ibadah dan muamalah.

Cara memperoleh dan mengetahui kehendak tuhan secara langsung, terhenti semenjak
meninggalnya nabi Muhammad SAW, syariat yang telah terungkap secara sempurna pada
prinsipnya lantas menjadi statis dan bersifat kekal. Mengapung sebagai jiwa tanpa jasad di
atas awang-awang masyarakat muslim, serta terpisah dari arus dan pergantian wahyu, ia pun
tampil sebagai cita-cita (idealisme) yang keabsahannya berlaku abadi, dan masyarakat harus
mengejar cita-cita itu. Selanjutnya jika ilmu hukum atau fiqih di sebut idealistis, itu bukan
dimaksudkan untuk mengatakan bahwa materi-materi hukum itu sendiri tidak memiliki
pertimbangan praktis yang terkait dengan kebutuhan di masyarakat. Juga bukan dimaksudkan
bahwa praktik hukum peradilan islam tidak pernah sejalan dengan cita-cita di atas.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan ilmu fiqih?
2. Apa Karakteristik Ilmu Fiqih?
3. Bagaimana Model Penelitian Fiqih?

1
C. TUJUAN

Makalah yang berjudul Model Penelitian Fiqih ini saya buat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pembelajaran Fiqih yang dibimbing oleh ibu Eva Arifien, M.Ag. selain itu makalah ini
supaya berguna sebagai referensi untuk para pembaca ataupun dapat memahami cara
menganalisis ilmu fiqih dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ILMU FIQIH

Fiqh secara bahasa berarti tahu atau paham terhadap tujuan seseorang pembicara.
Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang amaliah
(mengenai perbuatan dan perilaku) dengan melalui dalil-dalilnya secara terinci. Fiqih adalah
ilmu yang dihasilkan oleh pemikiran serta ijtihad (penelitian) dan memerlukan wawasan dan
perenungan. Oleh sebab itu allah tidak bisa disebut sebagai “faqih” (ahli dalam fiqih), karena
baginya tidak ada sesuatu yang tidak jelas.1Ahli hukum Islam mendefinisikan fiqih dalam
dua sisi yaitu, yang pertama Fiqih sebagai ilmu, Menurut Muhammad Yusuf Musa, ilmu
fiqih adalah ilmu yang membahas hukum-hukum syari’at yang bersifat amaliyah dari dalil-
dalil yang terperinci. Dan yang kedua Fiqih sebagai hasil ilmu atau disebut dengan kumpulan
hukum-hukum syara’ yang dihasilkan melalui ijtihad.

Hukum islam atau fiqih adalah sekelompok dengan syariat, yaitu ilmu yang berkaitan
dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash al-Qur’an atau al-Sunnah. Bila ada
nash dari al-Qur’an atau al-Sunnah yang berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau
yang diambil dari sumber-sumber lain, bila tidak ada nash dari al-Quran atau al-Sunnah,
dibentuklah suatu ilmu yang disebut dengan ilmu fiqih.

Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia ialah segala amal perbuatan orang
mukallaf yang berhubungan dengan bidang ibadah, muamalat, kepidanaan dan sebagainya;

1
Al-Jurjani,Abuhasan, Altarifat,Mustafa Al-Baab Al-Halaabi,Mesir,1938,Hal. 121

2
3
bukan yang berhubungan dengan akidah. Sebab akidah termasuk dalam pembahasaan ilmu
kalam. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil terperinci ialah satuan-satuan dalil yang
masing-masing menunjuk kepada suatu hukum tertentu.

Berdasarkan uraian tersebut sebenarnya dapat dibedakan antara syariah dan hukum islam
atau fiqih. Perbedaan tersebut terlihat pada dasar atau dalil yang digunakannya. Jika syariat
didasarkan pada nash al-Quran atau al-Sunnah secara langsung, tanpa memerlukan
penalaran; sedangkan hukum islam didasarkan pada dalil-dalil yang dibangun oleh para
ulama melalui penalaran atau ijtihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat
dalam syariat. Dengan demikian, syariat bersifat permanen, kekal dan abadi, sedangkan fiqih
atau hukum islam bersifat temporer, dan dapat berubah. Namun, dalam praktiknya antara
syariat dengan fiqih sulit dibedakan. Ketika kita mengkaji suatu masalah misalnya kita
menggunakan nash al-Quran dan al-Sunnah, tetapi bersamaan dengan itu kita juga
menggunakan penalaran.

B. KARAKTERISTIK ILMU FIQIH

Pengertian hukum islam hingga saat ini masih rancu degan pengertian syariah. Untuk itu
dalam pengertian hukum islam disini dimasukkan didalamnya pengertian syariah. Dalam
kaitan ini dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa hukum islam atau fiqih adalah
sekelompok dengan syariat yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang
diambil dari nash al-quran atau al sunnah. Bila ada nash dari alquran atau al sunnah yang
berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau yang diambil dari sumber-sumber
lainnya, bila tidak ada nash dari al-quran dan al sunnah, dibentuklah suatu ilmu yang disebut
dengan ilmu fiqih.

Yang dimaksud dengan amal pernuatan manusia ialah segala amal perbuatan orang
mukalaf yang berhubungan dengan bidang ibadat, muamalat, kebidanaan dan sebagainya,
bukan yang berhubungn dengan akidah (kepercayaan). Adapun yang dimaksud dengan dalil-
dalil yang terperinci iyalah satuan-saytuan dalil yang masing-masing menunjuk kepada suatu
hukum tertentu.2

2
Mumukhtar Yahya Dan Fathurrahman,”Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Islam”,(Bandung Almaarif,1986), Cet.
Ke.10 Hal. 15
4
Jika syariat didasarkan pada nash al-quran atau al-sunnah secara langsung tanpa
memerlukan penalaran, sedangkan hukum islam di dasarkan pada dalil-dalil yang dibangun
oleh para ulama melalui penalaran atau ijtihat dengan tetap berpegang pada semangat yang
terdapat dalam syariat. Dengan demikian, jika syariat bersifat permanen, kekal dan abadi,
fiqih atau hukum islam bersifat temporer, dan dapat berubah. Namun, dalam pratiknya
syariat dan fikih sulit dibedakan.

Zaki Yamani membagi syariat islam dalam dua penelitian. Pertama, pengertian dalam
bidang yang luas yang meliputi semua hukum yang telah disusun dengan teratur oleh para
ahli fiqih dalam pendapat-pendapat fiqihnya mengenai persoalan dimasa mereka, atau apa
yang mereka pikirkan akan terjadi kemudian, dengan mengambil dali-dalil yang langsung
dari al-quran dan al-hadis, atau sumber pengambilan hukum seperti ijma, qiyas, istihsan,
istishlah dan masalih al-mursalab.3Yang kedua, Syariat dengan pengertian yang luas ini
memberi peluang untuk berbeda pendapat, untuk mengikuti atau tidak mengikutinya.

C. MODEL PENELITIAN FIQIH

Kini syariat islam sudah berusia cukup tua, yaitu dari kelahiran agama islam itu sendiri
pada 15 abad yang lalu sampai sekarang. Sejauh manakah syariat islam itu tetap aktual dan
mampu meresponi perkembangan zaman, telah dijawab melalui berbagai penelitian yang
dilakukan para ahli yang contohnya dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.

1. Model Harun Nasution

Harun Nasution adalah Guru Besar dalam bidang Teologi dan filsafat Islam,
Harun Nasution juga mempunyai perhatian terhadap hukum Islam (fiqih). Melalui
penelitianya secara ringkas namun mendalam terhadap berbagai literatur tentang hukum
Islam dengan menggunakan metode pendekatan sejarah. Harun Nasution
mendeskripsikan stuktur hukum Islam secara komprehensip, yaitu mulai dari kajian
terhadap ayat-ayat hukum yang ada dalam al-Qur’an, latar belakang dan sejarah
petumbuhan dan perkembangan hukum Islam dari sejak zaman nabi samapai dengan
sekarang, lengkap dengan beberapa mazhab yang ada di dalamnya.

3
Ibn al-qayyin, i’lam al-muwaqi’in,jilid i, hal. 178,289 dan 294
5
Melalui pendekatan sejarah Harun nasution membagi perkembangan hukum Islam
ke dalam 4 periode, yaitu period nabi, periode sahabat, periode ijtihad serta kenajuan dan
periode taklid serta kemunduran.

a. Periode Nabi

Pada periode nabi segala persoalan di kembalikan kepada nabi untuk


menyelesaikannya, maka nabi Lah yang menjadi satu – satunya sumber hukum. Secara
langsung pembuat hukum adalah nabi, tetapi secra tidak langsung Tuhanlah pembuat
hukum, karena hukum di keluarkan Nabi bersumber pada wahyu dari Tuhan. Nabi
bertugas menyampaikan dan melaksanakan hukum yang di tentukan Tuhan. Sumber
hukum yang di tinggalkan Nabi untuk zaman-zaman sesudahnya ialah al-Qur’an dan
sunnah nabi.

b. Periode sahabat

Karena daerah yang di kuasai Islam bertambah luas dan termasuk kedalamnya
daerah di luar semenanjung arabia yang telah mempunyai kebudayaan tiggi dan susunan
masyarakat yang bukan sederhana di bandingkan dengan masyarakat arabia ketika itu,
maka sering di jumpai berbagai persoalan hukum. Untuk ini para sahabat di sampig
berpegang kepada al-Qur’an dan sunnah juga kepada sunnah para sahabat.

c. Periode ijtihad

Problema hukum yag di hadapi semakin beragam, sebagai akibat dari semakin
bertambahnya daerah Islam dengan berbagai macam bangsa masuk Islam dengan
membawa berbagai macam adat istiadat, tradisi dan sistem kemasyarakatan.

d. Periode taklid

Sehabis periode ijtihat, datanglah periode taklid dan penutup pintu ijtihad. Diabad
keempat hijrah (abad ke. 11 masehi) bersamaan dengan mulainya masa kemunduran
dalam sejarah kebudayaan islam, berhentilah perkembangan hukum islam. Mashab yang
embat di waktu itu sudah mempunyai kedudukan stabil dalam masyarakat dan perhatian
bukan lagi ditujukan kepada al-quran, al-sunnah dan sumber-sumber hukum lainnya,
tetapi kepada kepada buku-buku fiqih. Ijtihad yang dijalankan pada periode ini
6
mengambil bentuk ijtihad dalam mashab. Ulama-ulama dari tiap mashab mengadakan
ijtihad berdasarkan atas ajaran-ajaran imam mashab yang dianutnya. Oleh karena itu,
pendapatnya tidak keluar dari garis-garis besar yang tditentukan oleh imam yang
bersangkutan. Ijtihad juga dijalankan dalam menyelesaikan masalah-masalah tertentu.

Model penelitian hukum islam yang digunakan oleh harun nasution adalah
penelitian eksploratif, deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kesejarahan.
Interpretasi yang dilakukan atas data-data historis tersebut selalu dikaitkan dengan
konteks sejarahnya.

Dalam kaitan ini maka muncullah ahli–ahli hukum mujtahid yang disebut imam
atau fiqih dalam Islam. Pada masa inilah timbulnya mazhab dan hukum Islam yaitu Abu
Hanifah, Imam malik, Imam Syafi’i dan Ahmad ibn Hambal. Dari uraian tersebut terlihat
bahwa model penelitian Hukum Islam yang di gunakan Harun Nasution adalah penelitian
oksplorasi, deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kesejarahan. Interpretasi yang di
lakukan atas data-data historis tersebut selalu di kaitkan dengan konteks sejarahnya.

2. Model Noel j. Coulson

Noel j. Coulson menyajikan hasil penelitian di bidang Hukum Islam dalam


karyanya berjudul Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah. Penelitianya bersifat deskriptif
analitis ini menggunakan pendekatan sejarah. Seluruh informasi tentang perkembangan
hukum pada setiap periode selalu di lihat dari faktor-faktor sosio kultural yang
mempengaruhinya, sehingga tidak ada satupun produk hukum yang di buat dari ruang
yang hampa sejarah Hasil penelitianya di tuangkan dalam 3 bagian, yaitu:

a. Menjelaskan tentang terbentuknya hukum syari’at, yang di dalamnya di bahas tentang


legalisasi al-Qur’an, praktek hukum di abad pertama Islam, akar yurisprudensi sebagai
mazhab pertama, Imam al-Syafi’i.
b. Berbicara tentang dan praktek hukum Islam di abad pertengahan. Di dalamnya membahas
tentang teori hukum klasik, antara kesatuan dankeragaman, dampak aliran dalam sistem
hukum, pemerintahan dan hukum syari’at, masyarakat Islam dalam hukum syari’at.
c. Berbicara tentang hukum Islam di masa modern yang di dalamnya di bahas tentang
penyerapan hukum eropa, hukum syari’at kontemporer, taklid dan pembaharuan hukum
serta ijtihad.
7
Ketika berbicara tentang legalisasi al-quran, coulson mengatakan bahwa prinsip
tuhan adalah satu-satunya bentuk hukum dan bahwa semua perintahnya harus dijadikan
kendali utama atau segenap aspek kehidupan sudahlah mapan. Hanya saja pemerintah-
pemerintah itu tidak tersusun secara bulat dalam bentuk bab yang lengkap buat manusia.
Selanjutnya konsep-konsep al-quran tidal lebih dari semacam mukaddimah dari suatu
hukum islam, suatu kitap yang kemudian dioperasikan oleh generasi-generasi berikut
secara terus menerus.

Ada dua alasan prisipil dibalik keberagaman atau perbedaan ini yaitu: yang
pertama, adalah lazim bahwa masing-masing qodi cenderung menerapkan aturan
setempat yang tentu berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Yang
kedua, wewenang hakim untuk memutuskan perkara sesuai dengan pendapatnya sendiri
(ra’y) untuk maksud apapun, tidak dibatasi.demikian pemerintahan pusat tidak punya
pengaruh yang berarti guna membuat penyatuan (unifikasi).

Dari hasil penelitia coulson nampak bahwa dengan menggunakan pendekatan


historis, Coulson lebih berhasil menggambarkan perjalanan hukum Islam dari sejak
berdirinya hingga sekarang secara utuh. Melalui penelitian itu, coulson telah berhasil
menempatkan hukum Islam sebagai perang kata norma dari perilaku teratur dan
merupakan suatu lembaga sosial. Di dalam prosesnya, hukum sebagai lembaga sosial
memenui kebutuhan pokok manusia akan kedamaian dalam masyarakat.

Dalam hukum Islam sebagaimana diketahui misalnya memperhatikan sekali


masalah keluarga, karena dari keluarga yang baik, makmur dan bahagia tersusun
masyarakat yang baik, makmur dan bahagia. Oleh karena itu keteguhan ikatan
kekeluargaan perlu di pelihara. Dengan melihat fungsi hukum demikian, maka
pengamatan terhadap perubahan sosial harus di jadikan petimbangan dalam rangka
reformasi hukum Islam.

3. Model Mohammad Atho Mudzhar

Tujuan dari penelitian yang di lakukan oleh Mohammad Atho Mudzhar adalah
untuk mengetahui matei fatwa yang di kemukakan Majelis Ulama Indonesia serta latar
belakang sosial politik yang melatar blakangi timbulnya fatwa tersebut. Penelitian ini
bertolak dari suatu asumsi bahwa produk fatwa yang di keluarkan Majelis Ulama
8
Indonesia selalu di pengaruhi oleh setting sosio kultural dan sosio politik, serta fungsi dan
status yang harus di mainkan oleh lembaga tersebut. Hasil penelitian tersebut di tuagkan
dalam 4 Bab, yaitu:

a. Bab pertama, Mengemukakan tentang latar belakang dan karakteristik Islam di indonesia
serta pengaruhnya terhadap corak hukum Islam. Karakteristik tersebut di lihat dalam 4
aspek, yaitu latar belakag kultur, doktrin teologi, stuktur sosial dan ideologi politik. Dan
pada bagian ini juga dikemukakan tentang kondisi hukum islam di indonesia serta
berbagai lembaga yang memegang kekuasaan hukum tersebut mulai dari periode
penjajahan sampai dengan periode merdeka. Berbagai muatan pemikiran yang
dikemukakan pada bagian pendahuluan ini digunakan sebagai alat untuk menganalisis
berbagai produk tafwa yang dikeluarkan majelis ulama. Dengan demikian Penelitian ini
ingin melihat seberapa jauh latar belakang budaya , doktrin teologi, struktur sosial, dan
ideologi politik yang dianut masyarakat dan pemerintah indonesia itu mempengaruhi
terhadap produk fatwa Majelis Ulama Indonesia.
b. Bab Kedua, Dalam bab ini mengemukakan tentang Majelis Ulama Indonsia dari segi latar
belakang didirikanya, sosio politik yang mengitarinya, hubungan Majelis Ulama dengan
pemetintahan dan organisasi Islam serta organisasi non Islam lainya dan berbagai fatwa
yang di keluarkannya.
c. Bab Ketiga, Penelitian dalam di sertai mengemukakan tentang isi produk fatwa yang di
keluarkan oleh MUI seta metod yang di gunakanya. Fatwa tersebut antaralain meliputi
bidang ibadah riual, masalah keluarga dan perkawinan, kebudayaan, masalah kedokteran,
keluarga berencana, dan aliran minoritas dalam Islam.
d. Bab keempat, Berisi kesimpulan yang di hasilkan dari studi tersebut. Dalam kesimpulan
tersebut di nyatakan bahwa fatwa MUI dalam kenyataanya tidak selalu konsisten
mengikuti pola metodologi dalam penetapan fatwa sebagaimana di jumpai dalam ilmu
fikih. Ketidakkonsistenan MUI dalam mematuhi metodologi penetapan hukum tersebut,
menurut peneliti di sebabkan oleh sejumlah faktor, seperti faktor politik. Diantara fatwa
Mui yang di pengaruhi oleh kebijakan pemerintah antara lain mengenai fatwa
penyembelihan binatang, keluarga berencana, ibadah ritual,serta pelbuhan udara jeddah
atau bandara king abdul Aziz sebagai tempat melakukan miqot bagi jamaah haji
Indonesia yang menggunakan pesawat terbang.
Produk–produk hukum yang sangat di pengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan
sosial banyak terjadi pada masalah–masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial,
ekonomi, kriminalitas, masalah perkawinan dan lain sebagainya. Penelitian tersebut
bermanfaat dalam upaya membuka pikiran dan pandangan para ulama fikih di Indonesia
yang cenderung kurang berani mengeluarkan fatwa, atau kurang produktif dalam
menjawab berbagai masalah aktual yang muncul di masyarakat sebagai akibat dari
kekurangfahaman dalam memahami sutuasi yang berkembang, dan bagaimana
memanfatkan situasi tersebut dalam rangka melahirkan produk hukum.

Penelitian tersebut pada intinya sejalan dengan penelitian yang di lakukan


Coulson yang menggunakan pendekatan historis dalam penelitianya. Dengan
demikian,hukumIslambaik langsung maupun tidak langsungmasuk kekategori sosial. Hal
ini sama skali tidak mengganggu kesucian dan kesakralan ak Qur’an yang menjadi
sumber hukum Islam tersebut. Sebab yang di persoalkan di sini bukan mempertanyakan
releven dan tidaknya al Qur’an tersebut tetapi yang di persoalkan adalah apakah hasil
pemahanan terhadap ayat-ayat al Qur’an, khususnya mengenahi ayat–ayat ahkam tersebut
masih sejalan dengan tuntutan zaman atau tidak. Karena dengan cara inilah makna
kehadiran al Qur’an secara fungsional dapat di rasakan oleh masyarakat.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Ilmu fiqih adalah ilmu yang menjelaskan tentang aturan hukum amal-amal yang zahir
bagi kalangan mukalaf seperti ibadah dan muamalah, untuk mengetahui yang haram dan
halal dari amalan tersebut, dan yang disyariatkan serta yang tidak.kata fikih dipakai untuk
segala hukum agama, baik yang berhubungan dengan kepercayaan ataupun yang
berhubungan dengan muamalah praktis.

Fiqih atau hukum islam tumbuh berangsur-angsur setapak demi setapak hingga sampai
kepuncak perkembangannya menuju kesempurnaan. Fikih islam tumbuh dari suatu yang
telah ada yang terdapat pertama kali menjadi pendukung hukum islam yang juga
pengembangan kepenjuru dunia.

9
Fiqih islam meliputi pembahasan yang mengenai individual, masyarakat dan negara,
melengkapi bidang ibadah, muamalah, kekeluagaan, peerikatan kekayaan, warisan, kriminal,
peradilan, acara pembuktian, kenegaraan dan hukum-hukum internasional. Oleh karena itu,
para ulama membagi ilmu fiqih pada garis besarnya menjadi dua bagian pokok.

B. SARAN

Semoga dalam penulisan makalah ini menjadi stimulus bagi para pembaca dan
bermanfaat bagi kita semua. Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
untuk itu dimohon kritik dan saran yang membangun untuk proses kesempurnaan makalah
ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Jurjani,Abuhasan, Altarifat,Mustafa Al-Baab Al-Halaabi,Mesir,1938,Hal. 121


2. Mumukhtar Yahya Dan Fathurrahman,”Dasar-Dasar Pembinaan Hukum
Islam”,(Bandung Almaarif,1986), Cet. Ke.10 Hal. 15
3. Ibn al-qayyin, i’lam al-muwaqi’in,jilid i, hal. 178,289 dan 294
4. Dr. H. Abuddin Nata, MA,“Metodologi Studi Islam”, (jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,
2003), cet ke-8
5. Harun Nasution, Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: Universitas
Indonesia, 1979), hlm 8.

10