Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
 Nama : An. Alifah Hibatillah
 Jenis Kelamin : P
 Tanggal Lahir : 25 Mei 2016
 Umur : 1 Tahun
 Pekerjaan :-
 Alamat : Lekok, Kabupaten Pasuruan
 Tgl MRS : 31 Januari 2018
 Tgl Pemeriksaan: 01 Februari 2018
 No. RM : 00354115

B. Anamnesa
1. Keluhan Utama
 Benjolan pada lipatan paha sebelah kanan

2. Riwayat Penyakit Sekarang


 Pasien datang ke IGD RSUD Bangil diantar orang tuanya
dengan keluhan benjolan di daerah lipatan paha sebelah kanan.
Benjolan dirasa keluar saat pasien menangis. Awalnya benjolan
dirasa muncul sejak 4 minggu yang lalu dan benjolan bisa
keluar masuk sendiri tetapi sejak satu hari ini benjolan tidak
bisa masuk sama sekali. Setiap makan dan minum pasien
muntah, BAB terakhir kemarin, BAK normal, flatus terakhir
kemarin.
 Riw. Imunisasi: lengkap

3. Riwayat Penyakit Dahulu


 Pasien tidak pernah sakit seperti ini.

4. Riwayat Penyakit Keluarga


 Riw. Dm (-), riw. Hipertensi(-), riw.asma (-), riw. Pnyakit
jantung (-). Tidak ada saudara pasien yang mengalami gejala
sama seperti pasien.

1
5. Riwayat Pengobatan
Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat apapun.

C. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis
 Keadaan umum : Cukup
 Kesadaran : Kompos mentis
 GCS : 456

2. Vital Sign
 Heart Rate : 80 x/menit
 Suhu : 36,9oC
 Respiratory Rate : 20 x/ menit

3. Kepala/Leher
 Kepala : AICD -/-/-/-
pupil isokor 3mm/3mm, refleks cahaya +/+, refleks pupil +/+
Pernafasan cuping hidung (-).

4. Thorax
 Cor : S1S2 tunggal,
 Pulmo : vesikuler/vesikuler
Rhongki -/- wheezing -/-
5. Abdomen
 Soefl, distended (-)
Bising usus (+). Nyeri tekan (-)

6. Ekstremitas Atas dan Bawah :


 Akral hangat +|+
+|+

7. Status Lokalis
 Regio : Inguinal dextra
 Inspeksi : Tampak benjolan, warna sama dengan kulit
sekitar, dan tidak terdapat tanda-tanda radang.
 Palpasi : teraba massa kecil, kenyal yang keluar saat pasien
menangis

2
D. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

1. Darah Lengkap

NILAI
HASIL SATUAN
RUJUKAN
PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit (WBC) 11,99 103/µL 3,70 – 10,1
Neutrofil 9,0 103/µL
Limfosit 2,4 103/µL
Monosit 0,6 103/µL
Eosinofil 0,0 103/µL
Basofil 0,1 103/µL
Neutrofil % H 75,0 % 39,3 – 73,7
Limfosit % 19,9 % 18,0 – 48,3
Monosit % 4,7 % 4,40 – 12,70

3
Eosinofil % L 0,0 % 0,600 – 7,30
Basofil % 0,5 % 0,00 – 1,70
Eritrosit (RBC) 4,561 106/µL 4,6 – 6,2
Hemoglobin (HGB) L 11,41 g/dL 13,5 – 18,0
Hematokrit (HCT) L 32,86 % 40 – 54
MCV L 72,05 µm3 81,1 – 96,0
MCH L 25,07 g 27,0 – 31,2
MCHC 34,80 g/dL 31,8 – 35,4
RDW 11,62 % 11,5 – 14,5
PLT 271 103/µL 155 – 366
MPV 6,517 fL 6,90 – 10,6

E. Diagnosis Kerja
Dx : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Inkarserata

F. Penatalaksanaan
1. MRS
2. PDx : DL
3. PTx IGD:
 Infus KAEN 3B 950 cc/24 jam
 Injeksi Santagesik 3 x 95 mg ( Metamizole )
Konsul Dokter Bedah :
 MRS
 Pasang kateter
 Pasang NGT

G. Prognosis
Ad vitam (hidup) : Dubia Ad Bonam
Ad functionam (fungsi) : Dubia Ad Bonam
Ad sanationam (sembuh) : Dubia Ad Bonam

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI
Lapisan dinding kulit abdomen terdiri dari, lemak subkutan,
scarpa’s fascia, peritoneum hesselbach’s triangle, external oblique,
internal oblique, transversus abdominis, transversalis fascia. Dan di batasi
oleh artery epigastrika inferior, ligamentum inguinal dan lateralnya di
batasi oleh rectus sheath.
Canalis inguinalis merupakan saluran oblik yang menembus bagian
bawah dinding anterior abomen dan terdapat pada kedua jenis kelamin.
Canalis inguinalis terletak sejajar dan tepat di atas ligamentum inguinale.
Dining canalis inguinalis di bentuk oleh muskulus obliquus externus
abdominis dan di bentuk oleh facsia abdominalis.
Hernia pada kongenital akibat gagalnya prosesus vaginalis.
Prosesus vaginalis adalah outpouching peritoneum yang bersamaan
dengan gubernaculum, memandu testis pada turun melalui cincin
inguinalis ke dalam skrotum.
Pada anak perempuan, kanal Nuck secara fungsional mirip dengan
prosesus vaginalis, berakhir di labia majora dan membantu membimbing
ovarium lokasi di panggul. Prosesus vaginalis dan kanal Nuck keduanya
terbentuk kira-kira usia kehamilan antara 36 dan 40 minggu. (Stylianos S.
2002)

5
Gambar.1 Kanalis Inguinalis

B. DEFINISI
Hernia adalah adanya penonjolan peritoneum yang berisi alat
visera dari rongga abdomen melalui suatu lokus minoris resistensieae baik
bawaan maupun didapat. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui
defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut.
Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia. (Glick PL Boulanger S.
2006)
Hernia inguinalis lateralis adalah suatu keadaan dimana sebagian
usus masuk melalui sebuah lubang pada dinding perut ke dalam kanalis
inguinalis.
Hernia inkarserata adalah salah satu hernia yang tidak dapat
direposisi kembali kedalam cavum abdominalis yang disertai dengan
gejala gangguan obstruksi abdomen. Hernia incarserata yaitu hernia yang
tidak dapat direposisi ke dalam kavitas abdominalis. Hernia inkarserata
timbul karena usus yang masuk ke dalam kantung hernia terjepit oleh

6
cincin hernia sehingga timbul gejala obstruksi dan strangulasi usus.
(Sophia A. 2017)

C. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya hernia adalah
a) Kongenital (Glick PL Boulanger S. 2006)
 Hernia kongenital sempurna
Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat-
tempat tertentu.
 Hernia kongenital tidak sempurna
Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi
mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi)
dan beberapa bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi
melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan
tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis)

D. DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Hernia pada anak kecil
Ditanyakan yang berkaitan dengan peningkatan tekanan intra
abdominal yaitu, anak sering menangis, mengejan, dan batuk,
sedangkan yang berkaitan dengan phimosis ditanyakan kencing lancar
atau tidak. (Stylianos S. 2002)
b. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum
inguinale di medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum.
Benjolan tersebut berbatas atas tidak jelas, bising usus (+),
transluminasi (-)
c. Teknik pemeriksaan
Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus)
dan mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat
melalui annulus inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum.
Mempunyai LMR (Locus Minoris Resistentie). Secara klinis HIL dan
HIM dapat dibedakan dengan tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu
finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara pemeriksaannya sebagai
berikut :

7
Pemeriksaan Finger Test :
1) Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2) Dimasukkan lewat skrortum melalui annulus eksternus ke
kanal inguinal.
3) Penderita disuruh batuk :
 Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis
Lateralis.
 Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis Medialis

Gambar 4. Finger test

Pemeriksaan Ziemen Test :


1) Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya
oleh penderita).
2) Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
3) Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :
 Jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
 Jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
 Jari ke 4 : Hernia Femoralis

Pemeriksaan Thumb Test :


1) Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh
mengejan
2) Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.
3) Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis

8
Gambar 5. Pemeriksaan Tumb Test

E. TANDA DAN GEJALA


 Gejala dari adanya komplikasi adalah :
 Obstruksi usus : colic, muntah, distensi, konstipasi
 Strangulasi : tambahan dari gejala obstruksi, rasa nyeri
yang menetap pada hernia, demam, takikardi.

 Anak menangis dan gelisah


Anak akan mudah menangis dan terus menerus terlihat gelisah.
Benjolan di lipatan paha tersebut juga akan terlihat hilang timbul
ketika anak menangis

 Terasa nyeri
Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, maka akan terasa nyeri.
Apalagi bila akhirnya terjadi infeksi, penderita akan merasakan nyeri
yang hebat, dan infeksi tersebut akhirnya menjalar kemana-mana serta
meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan seperti ini, maka
disebut gawat darurat yang harus segera ditangani, karena dapat
mengancam nyawa penderita.

F. PATOFISIOLOGI HERNIA INGUNALIS LATERALIS


Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan
ke – 8 dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal
tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum
sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus

9
vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami
obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut.
Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri
turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan
lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan
menutup pada usia 2 bulan. (Sophia A. 2017)
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila
kanal terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul
hernia inguinalis lateralis kongenital.
Ligamentum gubernaculum turun pada tiap sisi abdomen dari pole
inferior gonad kepermukaan interna labial / scrotum. Gubernaculum akan
melewati dinding abdomen yang mana pada sisi bagian ini akan menjadi
kanalis inguinalis. Processus vaginalis adalah evaginasi diverticular
peritoneum yang membentuk bagian ventral gubernaculums bilateral.
Pada pria testes awalnya retroperitoneal dan dengan processus
vaginalis testes akan turun melewati canalis inguinalis ke scrotum
dikarenakan kontraksi gubernaculum. Pada sisi sebelah kiri terjadi
penurunan terlebih dahulu sehingga yang tersering hernia inguinalis
lateralis angka kejadiannya lebih banyak pada laki-laki dan yang paling
sering adalah yang sebelah kanan.
Pada wanita ovarium turun ke pelvis dan gubernaculum bagian
inferior menjadi ligamentum rotundum yang mana melewati cincin interna
ke labia mayor.
Processus vaginalis normalnya menutup, menghapuskan perluasan
rongga peritoneal yang melewati cincin interna. Pada pria kehilangan sisa
ini akan melekat kan testis yang dikenal dengan tunika vaginalis. Jika
processus vaginalis tidak menutup maka hidrokel atau hernia inguinalis
lateralis akan terjadi. Sedangkan pada wanita akan terbentuk kanal Nuck.
Akan tetapi tidak semua hernia ingunalis disebabkan karena
kegagalan menutupnya processus vaginalis dibuktikan pada 20% - 30%
autopsi yang terkena hernia ingunalis lateralis proseccus vaginalisnya
menutup. (Kurkchubasche A, Tracy T. 2002)

10
G. MANIFESTASI KLINIS
 Tampak benjolan di lipat paha.
 Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu
disertai perasaan mual.
 Bila pasien menangis, mengejan atau batuk maka benjolan hernia akan
bertambah besar.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hernia didiagnosis berdasarkan gejala klinis. Pemeriksan penunjang jarang
dilakukan dan jarang mempunyai nilai.
1) Pencitraan
a) Herniografi
Teknik ini, yang melibatkan injeksi medium kontras ke dalam
kavum peritoneal dan dilakukan X-ray, sekarang jarang
dilakukan pada bayi untuk mengidentifikasi hernia
kontralateral pada groin. Mungkin terkadang berguna untuk
memastikan adanya hernia pada pasien dengan nyeri kronis
pada groin.
b) USG
Sering digunakan untuk menilai hernia yang sulit dilihat secara
klinis, misalnya pada Spigelian hernia.
c) CT dan MRI
Berguna untuk menentukan hernia yang jarang terjadi
(misalnya : hernia obturator)

I. PENATALAKSANAAN
1. Operatif
Pada hernia kongenital bayi dan anak-anak yang penyebabnya
adalah prosesus vaginalis yang tidak menutup, hanya dilakukkan
herniotomi karena annulus iguinalis internus cukup elastis dan
dinding belakang kanalis cukup kuat. (Lloyd D. 2003)

a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai
ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau
ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat
setinggi mungkin lalu dipotong. (Lloyd D. 2003)

11
J. KOMPLIKASI
 Terjadi perlengketan antara isi hernia dan dinding kantung hernia
sehingga isi hernia tidak dapat di masukkan kembali.
 Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyak unsur yang
masuk.

K. PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN


a) Operasi
Sebelum anak mencapai usia satu tahun, biasanya belum dilakukan
tindakan operasi. Diharapkan, lubang yang berupa saluran itu akan
menutup sendiri mengikuti pertumbuhannya. Namun, jika setelah
berusia satu tahun, lubang masih terbuka, dokter akan menganjurkan
operasi. Tindakan ini ditujukan untuk menutup lubang. Bila dibiarkan
begitu saja, maka lubang tersebut dapat bertambah besar. Ketika anak
mulai berjalan dan beraktivitas, lubang tadi dapat terus membesar
akibat dorongan terus-menerus. Akibatnya, tidak hanya cairan yang
keluar, usus pun dapat keluar, sehingga berlanjut menjadi hernia.
(Lloyd D. 2003)

b) Hindari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut


Untuk mencegah terjadinya kekambuhan, hindarkan anak dari hal-hal
yang memicu tekanan di dalam rongga perut, misalnya batuk dan
bersin yang kuat, konstipasi (sembelit), mengejan, serta mengangkat
barang berat. Usahakan anak tidak mengejan kuat ketika buang air
kecil atau besar. Jelaskan pada anak mengenai risiko batuk dan
mengejan. Anda pun bisa menggunakan kondisi ini sebagai alasan agar
anak menghindar terlalu banyak permen (menghindari batuk), makan
banyak buah agar buang air besarnya mudah.

L. Perbedaan Hernia Anak dan Dewasa


Anak Dewasa
Etiologi Kongenital karena - Peosesus vaginalis yang

12
prosesus vaginalis yang terbuka
- Peninggian tekanan dalam
tidak menutup
rongga perrut
- Kelemahan otot dinding
perut karena usis
Penatalaksanaa Herniotomi karena Herniotomi Hernioraphy
n annulus inguinalis
internus cukup elastis
dan dinding belakang
kanalis cukup kuat

BAB III
KESIMPULAN

13
Hernia adalah adanya penonjolan peritoneum yang berisi alat visera dari
rongga abdomen melalui suatu lokus minoris resistensieae baik bawaan maupun
didapat. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah
dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin,
kantong dan isi hernia. Hernia iguinalis lateralis adalah suatu keadaan dimana
sebagian usus masuk melalui sebuah lubang pada dinding perut ke dalam kanalis
inguinalis.
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke – 8
dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut.
Penurunan testis itu akan menarikperitoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi

tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi

lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut

tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum

menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka

kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal
yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka sebagian,

maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus, karena prosesus tidak

berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.

DAFTAR PUSTAKA

14
Glick PL Boulanger S. Inguinal hernias and hydroceles. In: Grosfeld JL, O'Neill J,
Coran A et al, editors. Pediatric surgery. Philadelphia: Elsevier, 2006.
p.1172-92.

Kurkchubasche A, Tracy T. Unique features of groin hernia repair in infants and


children. In: Fitzgibbons R, Greenburg A, editors. Nyhus and Condon's
hernia. Philadelphia: Lip pincott Williams & Wilkins; 2002. p. 435 51

Lau ST, Lee YH, Caty MG. Current management of hernias and hydroceles.
Semin Pediatr Surg 2007;16(1): 50-7.

Lloyd D. Inguinal and femoral hernia, In: Ziegler M, Azizk han R, Weber T,
editors. Operative pediatric surgery. New York: McGraw-Hill; 2003.p.543

Manoharan s. Samarakkody U, Kulkari M, et al. Evidence-based change or


practice in the management of unilateral inguinal hernia. J Pediatr Surg
2005;40 1163

Michael E, Mary L. Brandt, MD et al 2008. Pediatrik Hernias. DeBakey


Department of Surgery, Texas Children’s Hospital

Miltenburg DM, Nuchtern JG, Jaksic T, et al. Laparoscopic evaluation of the


pediatric inguinal hernia: a meta-analysis. J Pediatr Surg 1998:33(6):874-9

Niedzielski J, Krol R, Gaw owska A. Could incarceration of inguinal hernia in


children be prevented? Med Sci Monit 2003;9(1):CR16-8.

Puri P, Guiney EJ, O'Donnell B. Inguinal hernia in infants: the fate of the testis
following incarceration. J Pediatr Surg 1984;19(1):44-6.

Rowe MI,Copelson Lw, Clatworthy HW. The patent processus vaginalis and the
inguinal hernia. J Pediatr Surg 1969:4 (I): 102 7

Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. ed.2. EGC: Jakarta; 2004.

15
Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta,
EGC, Hal: 523-537

Sophia A, Abdulhai,MD, Lan C,MD, Lan Glenn, Todd A, Ponsky et al 2017.


Incarcerated Pediatrik Hernias

Stylianos S, Jacir NN, Harris BH. Incarceration of inguinal hernia in infants prior
to elective repair. J Pediatr Surg 2002;28(4):582-3.

Tanyel FC. Dagdeviren A, Muftuoglu S. et al. Inguinal inguinal hernia revisited


throught comparative evaluation of peritoneum, processus vaginalis, and
sacs obtained from children with hernia, hydrocele, and undescended
testis. J Pediatr Surg 1999;34(4):552

Toki A, Watanabe Y, Sasaki K, et al. Adopt a wait-and-see attitude for patent


processus vaginalis in neonates. J Pediatr Surg 2003 38(9): 13713

Türky lmaz Z, Sönmez K, Numano lu V, Kale N, Basaklar AC. Postoperative


necrotizing enterocolitis following incarcerated inguinal hernia repair:
report of a case. Surg Today 2001;31(6):550-2.

Turkyilmaz Z, Sonmez K, Karabulut R, Demirogullari B, Ozen IO, Kapisiz A,


Kale N, Basaklar AC et al 2010. Incarcerated Inguinal hernia in children

Van Veen RN, van Wessem KJ, Halm JA, et al. Patent processus vaginalis in the
adult as a risk factor for the occurrence of indirect inguinal hernia. Surg
Endosc 2007;21(2):202

Van Wessem KJ, Simons MP, Plaisier PW, et al. The etiology of indirect inguinal
hernias : congenital and/or acquired? Hernia 2003;7(2):76-9

Zamakhshary M, To T, Guan J, Langer JC. Risk of incarceration of inguinal


hernia among infants and young children awaiting elective surgery. CMAJ
2008; 179(10):1001-5.

16