Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan adalah kesempatan bagi auditor internal untuk mendapatkan perhatian penuh
dari manajemen. Begitulah seharusnya cara seorang auditor memandang pelaporan sebagai
sebuah kesempatan dan bukan sebuah tugas yang membosankan, kesempatan yang sempurna
untuk menunjukkan kepada manajemen bagaimana seorang auditor dapat memberikan
bantuan.
Seringkali auditor membuang kesempatan emas yang mampu membuka mata
manajemen ini, untuk menunjukkan kepada manajemen apa-apa yang telah mereka capai dan
apa-apa yang dapat mereka capai, untuk menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui dan
dikerjakan oleh manajemen. Auditor internal membuang kesempatan ini dengan
menggunakan cara penulisan yang datar, merasa puas atas format pelaporan yang tidak
menarik, membuat tuduhan-tuduhan yang tidak dapat menahan sanggahan, mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang tidak berdasar dan tidak logis, serta melaporkan temuan tanpa
memberikan solusinya.
Auditor hendaknya mengunakan laporan-laporan mereka seperti seorang vendor yang
mengunakan sebuah kesempatan untuk mempresentasikan produk-produknya kepada direktur
suatu perusahaan, sebuah peluang untuk melakukan presentasi yang telah disiapkan, teruji
dan tervisualisasikan dengan baik.
Sebagaimana tujuan dari audit manajemen untuk mengidentifikasi kegiatan, program,
dan aktivitas yang masih memerlukan perbaikan, sehingga dengan rekomendasi yang
diberikan nantinya dapat dicapaiperbaikan atas pengelolaan berbagai program dan aktivitas
pada perusahaan tersebut. Dengan audit manajemen mampu dinilai ekonomisasi, efektvitas,
dan efisiensi dalam suatu perusahaan. pelaksanaan audit manajemen melalui tahapan-tahapan
tertentu dan pada akhirnya akan melahirkan sebuah laporan yang lazim dikenal sebagai
laporan audit manajemen. Pelaporan tersebut merupakan akhir dari proses audit. Dengan kata
lain, pelaporan adalah hasil dari proses audit yang telah dilakukan. Dalam pelaporan terdapat
hal-hal yang akan menjadi informasi penting bagi manajemen perusahaan agar berbenah. Dan
juga terdapat rekomendasi yang akan membantu manajemen mengambil keputusan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana penyajian laporan mengikuti arus informasi?
2. Bagaimana penyajian laporan yang menitikberatkan pada kepentingan pengguna?
3. Bagaimana informasi latar belakang?
4. Bagaimana kesimpulan dan temuan audit?
5. Bagaimana rumusan rekomendasi?
6. Bagaimana ruang lingkup audit?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyajian laporan mengikuti arus informasi.
2. Untuk mengetahui penyajian laporan yang menitikberatkan pada kepentingan pengguna.
3. Untuk mengetahui informasi latar belakang.
4. Untuk mengetahui kesimpulan dan temuan audit.
5. Untuk mengetahui rumusan rekomendasi.
6. Untuk mengetahui ruang lingkup audit.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pelaporan
Pelaporan adalah bagian akhir dari proses audit manajemen. Pelaporan merupakan
pengomunikasian temuan dan rekomendasi auditor untuk meyakinkan manajemen mengenai
keabsahan hasil audit melalui suatu laporan komprehensif yang memuat temuan penting yang
mendukung kesimpulan dan disajikan dalam bahasa operasioan yang mudah dimengerti.

2.2 Cara Penyajian Laporan Audit Manajemen


Ada dua cara penyajian laporan audit manajemen, yaitu:Cara penyajian yang mengikuti
arus informasi yang diperoleh dalam setiap tahapan audi,dan cara penyajian yang arus
informasi yang menitikberatkan penyajian kepada kepentingan para pembaca (pengguna)
laporan.

2.2.1 Penyajian Laporan Mengikuti Arus Informasi


Sesuai dengan tahapan-tahapan audit, auditor mengorganisasikan laporan hasil auditnya
berdasarkan apa saja yang dilakukan dan yang ditemukan selama melaksanakan tahapan-
tahapan audit.Seorang auditor memperoleh informasi melalui beberapa tahapan sebagai
berikut:
a Pengumpulan Informasi latar belakang pada tahap audit pendahuluan.
b Menetapkan tujuan audit sesungguhnya (definitive audit objective)berdasarkan
hassil review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen.
c Pengumpulan bukti-bukti audit dan pengembangan temaun berkaitan dengan tujuan audit,
pada tahap audit lanjutan.
d Menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti (temuan) audit yang berhasil dikumpulkan.
e Merusmuskan rekomendasi.
f Menyatakan ruang lingkup audit yang telah dilakukan.

2.2.2 Penyajian Laporan yang Menitikberatkan pada Kepentingan Pengguna


Umumnya para pengguna laporan lebih berkepentingan terhadap temuan auditnya
daripada bagaimana auditor melakukan audit. Dengan demikian dibutuhkan penyajian
laporan yang dapat menjawab pertanyaan pengguna laporan dengan cepat, biasanya berupa
berupa kesimpulan atas audit. Dalam penyajian ini, auditor mengikuti format sebagai berikut:
a. Informasi latar belakang.
b. Kesimpulan audit disertai dengan bukti-bukti yang cukup untuk mendukung kesimpulan
audit.
c. Rumusan rekomendasi.
d. Ruang lingkup audit.
Tujuan audit manajemen adalah untuk menemukan kekurangan/kelemahan dalam
pengelolaan berbagai program/aktivitas dalam perusahaan, biasanya pengguna laporan lebih
berkepentingan pada hasil audit (temuan audit) yang merupakan indikasi terjadinya berbagai
kekurangan/kelemahan dalam pengelolaan program/aktivitas dalam perusahaan.

2.2.2.1 Informasi Latar Belakang


Informasi latar belakang merupakan informasi umum tentang perusahaan dan
program/aktivitas yang diaudit.Pada bagian ini auditor harus mampu memberikan gambaran
umum tentang tujuan dan karakteristik perusahaan serta program/aktivitas yang diaudit, sifat,
ukuran program, serta organisasi manajemennya. Pada bagian ini juga disajikan apa alasan
yang mendasari dilakukannya audit manajemen.

2.2.2.2 Kesimpulan dan Temuan Audit


Untuk meyakinkan pengguna laporan audit, auditor harus menyajikan temuan-temuan
yang diperoleh sebagai pendukung setiap kesimpulan yang dibuat. Kesimpulan dalam audit
manajemen selalu dibuat berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh saat melakukan audit,
baik itu temuan yang berkaitan dengan kriteria, penyebab, maupun akibat. Dalam menyajikan
temuan audit, auditor harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Judul bab harus mengidentifikasi pokok persoalan dan sedapat mungkin juga arah dari
temuan.
2. Pokok-pokok setiap temuan harus diikhtisarkan secara singkat dan harus mengungkapkan
kepada pengguna akan adanya uraian yang mendukung dan menjelaskan pokok-pokok
temuan tersebut.
3. Auditor harus menggambarkan kepada pengguna laporan tentang hal-hal yang ditemukan
baik bersifat negatif maupun positif, apa penyebab dan akibat dari temuan tersebut.
4. Dalam penyajian temuan ini auditor juga harus mempertimbangkan dan mengevaluasi
komentar para pihak yang berkaitan dengan progam/aktivitas yang diaudit.
5. Semua penyajian temuan harus diakhiri dengan suatu pernyataan yang menjelaskan sikap
akhir auditor atas dasar pertimbangan yang matang terhadap informasi yang diperoleh.

2.2.2.3 Rumusan Rekomendasi


Rekomendasi merupakan saran perbaikan yang diberikan auditor atas berbagai
kekurangan/kelemahan yang terjadi pada program/aktivitas yang diaudit.Auditor harus
memberikan rekomendasi kepada atasan dari pengelola program/aktivitas yang
diaudit.Rekomendasi harus disertakan dalam laporan hasil audit. Setiap rekomendasi yang
diajukan oleh auditor harus dilengkapi dengan analisis yang menyangkut adanya peningkatan
ekonomisasi, efisiensi, atau efektivitas yang akan dicapai pada pelaksanaan program/aktivitas
serupa di masa depan atau juga termasuk berbagai kemungkinan kerugian yang akan terjadi
pada perusahaan jika rekomendasi tersebut tidak dilaksanakan. Agar mudah dipahami oleh
pengguna laporan, rekomendasi seharusnya disusun dengan kalimat yang operasional dan
tidak teoritis.
Walaupun pelaksanaan rekomendasi tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan
manajemen perusahaan, sebenarnya auditor juga berkepentingan terhadap dilaksanakannya
rekomendasi tersebut. Oleh karena itu, dalam proses audit komunikasi yang konstruktif harus
dilakukan oleh auditor dengan berbagai pihak yang ada dalam perusahaan terutama yang
berkaitan dengan program/aktivitas yang diaudit. Pengomunikasian hasil temuan mutlak
harus dilakukan di mana auditor harus mendapatkan komentar yang seimbang berkaitan
dengan berbagai temuan dari berbagai pihak yang berhubungan dengan permasalahan-
permasalahan tersebut.Sebelum mengajukan rekomendasi final di dalam laporannya, auditor
terlebih dahulu mendiskusikannya dengan pihak-pihak yang berkepentingan.Dengan
demikian diharapkan rekomendasi tersebut diterima dan dilaksanakan dengan penuh
komitmen dan tanpa keterpaksaan.

2.2.2.4 Ruang Lingkup Audit


Ruang lingkup audit menunjukkan berbagai aspek dari program/aktivitas yang diaudit
dan periode waktu dari program/aktivitas yang diaudit oleh auditor. Pada bagian ini juga
harus disajikan seberapa mendalam audit tersebut dilakukan. Untuk hal-hal yang tidak masuk
dalam ruang lingkup audit ini, sebaiknya tidak disajikan di dalam laporan yang dibuat supaya
tidak mengaburkan pemahaman pengguna laporan terhadap hasil audit yang disajikan
auditor.

Contoh Laporan Audit Manajemen

Medan, 8 April 2013-04-07


No : 013/KAP/IV/2013
Lampiran : 4 eksemplar
Perihal : Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth, Direktur PT. Indojewel
Di Medan

Kami telah melakukan audit atas Program Pelatihan Karyawan pada PT. Indojewel untuk
periode 2007/2008. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat atas kewajaran
laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidak memberikan pendapat atas laporan
keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup bidang Program Pelatihan Karyawan
yang dilakukan oleh perusahaan. Audit tersebut dimaksudkan untuk menilai ekonomisasi
(kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna). Program Pelatihan Karyawan yang
dilakukan dan memberikan saran perbaikan atas kelemahan keterampilan karyawan dalam
mengoperasikan mesin baru yang ditemukan selama audit, sehingga diharapkan dimasa yang akan
datang dapat dicapai perbaikan atas kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan
lebih ekonomis, efisien dan efektif dalam mencapai tujuannya.

Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab I : Informasi Latar Belakang
Bab II : Kesimpulan Audit yang Didukung dengan Temuan Audit
Bab III : Rekomendasi
Bab IV : Ruang Lingkup Audit

Dalam melakukan audit kami telah memperoleh banyak bantuan,dukungan, dan


kerjasama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan
pelaksanaan audit ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telah
terjalin dengan baik ini.

Kantor Akuntan Publik


Kris Palguna dan Rekan
Dr. Kris Palguna, S.E., M.M., Ak., BAP.
Bab I
Informasi Latar Belakang

PT. Indojewel (selanjutnya disebut “perusahaan”) berlokasi di Jl. CR No. 7 Medan,


didirikan tanggal 13 April 1990 oleh para pendiri yang terdiri atas:
1. Dr. Kevin Suparno
2. Dr. Cecep Mulyadi
3. Sandra Gultom
4. Dr. Steve Handayana
PT. Indojewel bergerak dibidang produksi perhiasan berbahan dasar mutiara dan
emas.Mutiara yang digunakan adalah hasil pembudidayaan sendiri yang terintegrasi dalam
rencana bisnis perusahaan, sedangkan emas diperoleh dari pasar dalam negeri.
Perusahaan mempekerjakan 1.500 karyawan tetap dan sekitar 750 karyawan kontr
ak yang dipekerjakan terutama sebagai staf produksi di divisi budidaya mutiara dan
cleaning service diseluruh divisi perusahaan, dengan penghasilan rata-rata sebesar 250% dari
UMK yang ditetapkan pemerintah.
Perusahaan menerapkan teknologi maju dalam produksi perhiasan dengan investasi
sebesar Rp 1,75 triliun untuk membeli peranti keras dan Rp 500 miliar untuk membeli
peranti lunak termasuk sistem informasi yang mengintegrasikan seluruh divisi kedalam satu
rangkaian oprasi dan sistem pelaporan.
Perusahaan karyawan yang dilakukan PT. Indojewel bersifat situasional, sesuai dengan
permintaan manajer lini dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Susunan direksi perusahaan adalah sebagai berikut:
Direktur Utama : Dr. Kevin Suparno
Direktur Akuntansi dan Keuangan : Dr. Cecep Mulyadi
Direktur Pemasaran : Dr. Sandra Gultom
Direktur Produksi : Dr. Steve Handayana
Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:
1. Menilai kinerja pelatihan keterampilan karyawan dalam mengoperasikan mesin baru
perusahaan.
2. Menilai ekoniomisasi, efisiensi, dan efektivitas program pelatihan karyawan yang
dilakukan perusahaan.
3. Memberikan berbagai saran dan perbaikan atas kelemahan dalam program pelatihan
karyawan yang ditemukan.

Bab II
Kesimpulan Audit

Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
Kondisi:
1. Mesin baru yang digunakan perusahaan telah dilengkapi manual penggunaannya, tetapi
untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakannya sesuai dengan standar
manual tersebut
perlu dilakukan pelatihan intensif, dengan mempraktikkannya dilokasi mesin tersebut
dioperasikan. Sementara pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan klasikal di kelas untuk
memahami petunjuk tersebut. Konfirmasi kepada manajer SDM diperoleh informasi tid
ak tersedia cukup dana untuk melanjutkan pelatihan sampai pada praktik lapangan.
2. Perusahaan tidak memiliki rencana pelatihan periodik dan menentukan program pelatih
an berdasarkan permintaan manajer lini yang harus terealisasi dalam waktu singkat tanpa
melalui suatu identifikasi untuk menentukan pelatihan apa yang sesungguhnya dibutuhkan
karyawan.
3. Perusahaan hanya menganggarkan biaya pelatihan sebesar 0,25% selama satu tahun dari laba
bersih setelah pajak tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 biaya pelatihan didasarkan pada
laba bersih setelah pajak tahun 2007 yang mencapai sebesar 650,75 miliar.
4. Terjadi penurunan produk gagal sebesar 18% dibanding sebesar 20% pada tahun lalu
(penurunan produk gagal hanya 2% saja).
5. Tidak ada penilaian keberhasilan pelatihan secara formal sehingga tidak ada dokmen atau
catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan yang telah dilakukan.
Dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang telah mengikuti pelatihan
tahun 2008 diperoleh temuan sebagai berikut:
a. Sebesar 35% dari peserta menjawab bahwa materi pelatihan sesuai dengan kebutuhannya
untuk meningkatkan keterampilan.
b. Sebesar
12,5% peserta menjawab metode pelatihan sesuai dengan materi pelatihan yang
diberikan.
c. Hanya sebesar 35% menjawab keterampilannya meningkat setelah mengikuti pelatihan.
d. Sebesar 80% peserta menjawab bahwa waktu pelatihan terlalu singkat dan tidak cukup
waktu bagi mereka untuk memahami materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut.
e. Sebanyak 40% kegagalan produk terjadi dalam proses produksi, 35% pada proses
pengepakan, dan 25% pada proses penggudangan dari keseluruhan biaya kegagalan produk
yang terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp 825,25 juta.
f. Pengembalian produk oleh pelanggan yang terjadi selama tahun 2008 sebesar 7,5% dari total
penjualan Rp 7,5 triliun.

Kriteria:
1. Tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan harus dirumuskan secara jelas dan
disosialisasikan keseluruh manajer lini. Tujuan pelatihan adalah untuk:
a. Meningkatkan keterampilan karyawan.
b. Menurunkan kegagalan produk sampai pada tingkat 2,5%.
c. Menurunkan pemborosan penggunaan sumber daya.
d. Menurunkan kecelakaan kerja karyawan serta meningkatkan motivasi kerja dan kebanggaan
karyawan terhadap pekerjaannya.
e. Rencana pelatihan dan pengembangan karyawan harus disusun secara periodik bersama
dengan penyusunan anggaran perusahaan.
f. Program
pelatihan dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan pelatihan
sebelum program ditetapkan. Identifikasi meliputi:
a). Penentuan jenis dan bentuk keterampilan yang dibutuhkan karyawan sehingga mampu
berkontribusi maksimal kepada perusahaan.
b). Melakukan penilaian secara periodik untuk mengidentifikasi topik pelatihan yang tepat.
c). Melakukan penilaian terhadap pelatihan yang telah dilakukan untuk mendapatkan umpan
balik bagi perbaikan pelatihan berikutnya.
d). Melakukan benchmarking pada industri yang sama yang lebih berhasil dalam mengelola
program pelatihan dan pengembangan.
2. Pengelolaan pelatihan karyawan harus didukung anggaran yang memadai.
3. Laporan biaya kualitas harus terdokumentasi untuk menyediakan informasi sebagai umpan
balik dalam meningktkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.
Penyebab:
1. Pelatihan yang telah dilakukan adalah pelatihan klasikal di kelas untuk memahami petunjuk
(manual), pada hal untuk memahami manual tersebut dan mampu menggunakan sesuai
dengan standar manual perlu dilakukan pelatihan intensif dengan mempraktikkannya dilokasi
mesin tersebut dioperasikan.
2. Rencana pelatihan baru dibuat setelah ada bagian yang membutuhkan pelatihan.
3. Belum tersedia suatu sistem review dan pelaporan yang terdokumentasi tentang penila
ian efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pelatihan.
4. Dana SDM tidak mencukupi untuk melanjutkan pelatihan karyawan sampai pada prak
tik lapangan secara intensif terkait dengan adanya mesin baru.

Akibat:
1. Banyak karyawan menjadi kurang terampil ketika mengoperasikan mesin baru perusahaan.
2. Tidak ada dokumen/catatan yang bisa dipertanggungjawabkan atas penilaian hasil pelatihan
yang telah dilakukan.
3. Tidak diketahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk peningkatan kualitas proses dan
produk yang dihasilkan sehingga tidak ada umpan balik dalam peningkatan kualitas produk.
4. Banyak bahan yang terbuang karena rusak dalam proses.
5. Banyak tercipta produk yang gagal.
6. Pesanan dari gerai-gerai yang merupakan ujung tombak penjualan semakin menurun.
7. Terjadi pemborosan biaya produksi sehingga merugikan perusahaan.

Pejabat yang bertanggung jawab:


Direktur Utama dan Manajer SDM

Bab III
Rekomendasi

Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi
perhatian manajemen dimasa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu:
1. Kelemahan yang terjadi pada program perencanaan pelatihan yang tidak terstruktur da
n dipersiapkan dengan baik.
2. Kelemahan yang terjadi pada saat dilakukannya proses pelatihan karyawan atas mesin baru
perusahaan.
3. Kelemahan yang terjadi karena kurangnya dana SDM untuk meningkatkan pelatihan
kejenjang yang lebih tinggi.
Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi
atau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan
tersebut.

Rekomendasi:
1. Perusahaan harus membuat program perencanaan pelatihan karyawan secara jelas dan
terstruktur serta dipersiapkan dengan baik sehingga program pelatihan dapat berjalan dengan
maksimal dan karyawan bisa mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Perusahaan harus membuat kebijakan dalam hal penambahan dana atau angggaran unt
uk pelatihan intensif dalam mempraktikkan mesin baru perusahaan agar para karyawan dapat
lebih terampil mempraktikkan mesin tersebut secara langsung dilapangan.
3. Perusahaan harus melakukan penilaian atas keberhasilan pelatihan secara formal dan
terdokumentasi sebagai pertanggungjawaban atas dilaksanakannya pelatihan sebagai acuan
untuk melihat kinerja sejauh mana program pelatihan yang dilakukan.
4. Manajer SDM harus membuat jadwal program pelatihan karyawan secara jelas khusus serta
harus sesuai dengan topik, materi, dan metode pelatihan agar karyawan dapat lebih terampil
ketika akan mempraktikkan apa yang telah dilatih.
Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada
manajemen, tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi
akibat yang lebih buruk pada Program Pelatihan Karyawan dimasa yang akan datang.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelaporan adalah bagian akhir dari proses audit manajemen. Pelaporan merupakan
pengomunikasian temuan dan rekomendasi auditor untuk meyakinkan manajemen mengenai
keabsahan hasil audit melalui suatu laporan komprehensif yang memuat temuan penting yang
mendukung kesimpulan dan disajikan dalam bahasa operasioan yang mudah dimengerti.
Ada dua cara penyajian laporan audit manajemen, yaitu:Cara penyajian yang mengikuti
arus informasi yang diperoleh dalam setiap tahapan audi, dan cara penyajian yang arus
informasi yang menitikberatkan penyajian kepada kepentingan para pembaca (pengguna)
laporan.
Dalam penyajian laporan yang menitikberatkan pada kepentingan pengguna, auditor
mengikuti format sebagai berikut:
a. Informasi latar belakang.
b. Kesimpulan audit disertai dengan bukti-bukti yang cukup untuk mendukung kesimpulan
audit.
c. Rumusan rekomendasi.
d. Ruang lingkup audit.

3.2 Saran
1. Membuat laporan audit yaitu seluruh hasil audit dikumpulkan, dievaluasi dan ditetapkan
Ketidaksesuaian Besar, Kecil dan Observasi, dan disampaikan kepada auditee untuk
dibuatkan Rencana Tindakan Perbaikan dan Pencegahannya.
2. Membuat prosedur audit, karena audit membutuhkan suatu standar kerja untuk menjamin
bahwa hasil-hasil audit tidak terlalu berbeda antara satu auditor dengan lainnya.
3. Membuat program audit dan jadwal Program menggambarkan ruang lingkup audit seperti
departemen, klausa Standar, prosedur yang harus diperiksa; tim auditor dan auditee pada area
yang diaudit, serta waktu.
4. Membuat daftar periksa sebagai alat bantu para auditor, khususnya jika hal tersebut
dilakukan di tahap awal pembentukan system karena tim belum cukup kompeten. Dengan
berkembangnya waktu, daftar periksa bisa dihilangkan dari prosedur audit.
5. Melaksanakan audit yaitu sesuai dengan metodologi yang telah ditetapkan tim audit
melakukan pertemuan pembukaan (dapat secara informal), melaksanakan wawancara,
pemeriksaan dokumen dan catatan-catatan lingkungan, mengamati kondisi lapangan dan
membuat kesimpulan dalam pertemuan penutup.

DAFTAR PUSTAKA

Bayangkara, IBK (2008). Audit Manajemen: Prosedur dan Implementasi. Jakarta: Salemba Empat.