Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tortikolis adalah istilah medis untuk menggambarkan suatu keadaan pada
leher yang terputar. Dalam bahasa latin "torus" artinya berputar dan "collum"
artinya leher.

Pada tortikolis kongenital, terjadi kontraktur/ kekakuan otot


sternokleidomastoid pada satu sisi. Otot sternokleidomastoid adalah otot pada
leher yang berfungsi untuk menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Kekakuan
pada otot ini akan mengakibatkanterjadinya keterbatasan pergerakan leher bayi
karena pemendekan serabut-serabut otot tersebut.

Tortikolis kongenital terjadi pada 3-19 per 1.000 kelahiran bayi. Penyebab
dari tortikolis kongenital belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori
yang mengatakan bahwa trauma jalan lahir mungkin menjadi penyebabnya.
Tortikolis kongenital biasanya terlihat pada usia 2-4 minggu kelahiran.

Pada tortikolis kongenital, terjadi kontraktur/ kekakuan otot


sternokleidomastoid pada satu sisi. Otot sternokleidomastoid adalah otot pada
leher yang berfungsi untuk menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Kekakuan
pada otot ini akan mengakibatkanterjadinya keterbatasan pergerakan leher bayi
karena pemendekan serabut-serabut otot tersebut.

Tortikolis kongenital terjadi pada 3-19 per 1.000 kelahiran bayi. Penyebab
dari tortikolis kongenital belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori
yang mengatakan bahwa trauma jalan lahir mungkin menjadi penyebabnya.
Tortikolis kongenital biasanya terlihat pada usia 2-4 minggu kelahiran.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah definisi tortikolis ?
2. Bagaimanakah etiologi tortikolis ?
3. Bagaimanakah tanda dan gejala tortikolis ?
4. Bagaimanakah klasifikasi dari tortikolis?
5. Bagaimanakah patofisiologi dari tortikolis?
C. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah yang ada di makalah ini maka tujuan dari
pembuatan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimanakah definisi tortikolis
2. Untuk mengetahui bagaimanakah penyebab tortikolis
3. Untuk mengetahui bagaimanakah tanda dan gejala tortikolis
4. Untuk mengetahui bagaimanakah klasifikasi tortikolis
5. Untuk mengetahui bagaimanakah patofisiologi tortikolis
6. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi penyusun makalah pada
khususnya dan pembaca pada umumnya
7. Meningkatkan keingintahuan tentang ilmu-ilmu yang bersangkutan
8. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Patologi Muskuloskeletal
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Torticollis adalah keterbatasan gerak leher dimana anak akan memegang
kepala ke satu sisi dengan dagu mengarah ke sisi yang berlawanan. Torticolis
ini terjadi akibat pemendekan otot leher (sternocleidomastoid).

Sangat disayangkan bila bayi yang mengalami tortikolis dibiarkan tanpa


mendapatkan penanganan. Selain beresiko mengalami gangguan tumbuh
kembang, tortikolis juga sangat mungkin mempengaruhi psikologis anak.
Kabar baiknya sekitar 90% bayi dengan tortikolis bila diterapi sedini
mungkin akan memberikan hasil yang memuaskan. Karena itu penting
bagi kita untuk mengenali apa itu tortikolis. Pada kesempatan ini kita akan
membatasi diskusi seputar tortikolis bawaan pada bayi saja.
B. PENYEBAB
Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui. Ada berbagai faktor
yang dianggap sebagai penyebab diantaranya trauma lahir, malposisi in-
utero, infeksi, iskemia jaringan, abnormalitas vertebra seperti rotary
subluxation of the atlanto-axial joints atau hemivertebra, problem
imbalance of extraocular muscles ( Ocular Torticollis ) serta
ketidakseimbangan neurologis ( Benign Paroxysmal Torticollis ). Davids,
Wenger dan Mubarak ( 1993 ) melalui penilaian anatomis, pemeriksaan
klinis dan MRI menyatakan bahwa tortikolis merupakan gejala sisa dari
uterine or perinatal compartment syndrome.

Otot sternocleidomastoid memendek karena berubah menjadi jaringan


ikat akibat gangguan vaskularisasi atau karena posisi kepala saat
intrauterin Ho BCS, Lee EH, Singh K (1999) yang meneliti 91 pasien
tortikolis menemukan trauma lahir yang menyebabkan tortikolis adalah
persalinan letak vertex dan sisi lesi tergantung letak bahu pada saat
persalinan.

Trauma saat persalinan dapat menyebabkan perdarahan pada otot leher


terutama otot sternocleidomastoid.. Weiner DS ( 1976 ) melaporkan 0.6%
- 20% dari tortikolis mengalami juga hip dysplasia.

Biasanya bayi dengan tortikolis memiliki riwayat:

 Persalinan yang sulit dimana otot leher -sternocleidomastoideus (SCM)-


teregang, robek dan terjadi perdarahan. Penyembuhan yang terjadi
membentuk jaringan ikat disertai pemendekan otot. Teori ini didukung
bukti dimana hampir 40% penderita memiliki riwayat persalinan sulit
dengan posisi sungsang (breech-bokong) atau riwayat
penggunaan forceps untuk membantu proses persalinan. Sedangkan 60%
sisanya tidak ada riwayat trauma atau persalinan sulit.
Posisi bokong

 Posisi dalam rahim dimana aliran pembuluh darah balik dari SCM
terhambat sehingga otot tersebut kurang mendapat suplai darah yang
berakibat otot menjadi rusak dan digantikan oleh jaringan ikat. Teori ini
didukung fakta dimana 75% bayi yang mengalami tortikolis didapati
mengarah ke kanan disebabkan oleh presentasi left occiput anterior –
LOA- (lihat gambar). Presentasi tersebut merupakan posisi janin yang
paling sering ditemui.

Presentasi LOA menyebabkan 75% tortikolis mengarah ke kanan


Harus diperhatikan juga bahwa 20% bayi yang terkena tortikolis bawaan
juga beresiko memiliki kelainan lain seperti kelainan tulang belakang (C1-
C2 subluxation), kelainan sendi pinggul (Congenital Hip Dysplasia)*, dan
kelainan kaki (club foot dan toeing in)*
C. TANDA DAN GEJALA
Bayi dengan dugaan tortikolis dapat dikenali dari gejalanya,
yaitu: kepala miring ke satu sisi dan berputar sebagaimana rupa (tilt and
twist) sehingga dagu dan wajah mengarah ke sisi yang berlawanan. Gejalanya
mulai dapat dikenali pada saat bayi berusia 2-4 minggu.

Tortikolis ke arah kanan.

Otot yang ketat dan memendek akan membuat bayi lebih nyaman
untuk berbaring pada sisi yang sakit. Kondisi ini menyebabkan punggung dan
kepala bayi menjadi rata pada satu sisi (plagiocephaly). Dalam jangka
panjang beresiko menyebabkan gangguan pertumbuhan otot wajah dan tulang
kepala. Wajah menjadi asimetris secara menetap. Kondisi ini beresiko
membuat minder dalam pergaulan di masa depan pasien.

Plagiocephaly.

Wajah menjadi asimetris dan beresiko membuat minder.


Kelainan ini juga menghambat perkembangan motorik anak. Bayi menjadi
susah telungkup, susah duduk, cenderung menggunakan satu tangan saja,
susah untuk merangkak dan cenderung malas berjalan.
D. KLASIFIKASI
Tortikolis dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu: penyakit bawaan dan
tortikolis setelah lahir
1. Congenital (bawaan)
Pada tortikolis congenital, terjadi kontraktur/kekakuan otot
sternokleidomastoid pada satu sisi. Otot sternokleidomastoid adalah otot
pada leher yang berfungsi untuk menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.
kekakuan pada otot ini akan mengakibatkan terjadinya keterbatasan
pergerakkan leher bayi karena pemendekkan serabut-serabut otot tersebut.
Trauma jalan lahir menjadi biasanya menjadi penyebab tortikolis
congenital ini, walaupun penyebab pastinya belum diketahui. Tortikolis
congenital umumnya terlihat pada usia 2-4 minggu kelahiran. Gejalanya
adalah kepala leher yang selalu menoleh ke satu sisi saja saat tidur, dan
pergerakkan leher yang sangat terbatas.
Komplikasi dari tortikolis congenital yang tidak diterapi adalah asimetri
bentuk wajah dan asimetri bentuk kepala atau penglihatan ganda
(diplopia).

2. Didapat setelah lahir


Penyebab tortikolis yang didapat setelah lahir yaitu:
a. Cedera/peradangan pada saraf-saraf leher
b. Abses retrofaringeal (nanah yang terletak di belakang tenggorokan)
c. Radang tenggoroksn
d. Pergeseran dari tulang belakang, terutama di daerah leher
e. Perdarahan di sekitar tulang belang daerah leher
f. Adanya tumor di daerah tulang belakang kepala
g. Kecenderungan posisi bayi menengok hanya ke 1 sisi sehingga terjadi
pemendekan otot leher (m.sternocleidomastoideus) di sisi yang
berlawanan.

Pada tortikolis yang didapat setelah lahir, gejalanya hampir sama dengan
tortikolis kongenital, yaitu leher bayi selalu menoleh ke arah yang sama
dan pergerakan leher bayi yang terbatas. Perbedaannya adalah biasanya
terjadi beberapa bulan setelah kelahiran, ada faktor penyebab yang lebih
jelas yang mendasarinya dan tidak terjadi komplikasi berupa asimetri
wajah.
E. PATOFISIOLOGI

Pada masa lalu terjadinya tortikolis adalah kegagalan pada otot leher
dimana timbul hysteria yang berlebihan. Dimana gejalanya sama dengan
kelainan yang disebabkan secara organik. Ketika tortikolis diketahui
berhubungan dengan efek voluter bentuk dari gejala yang ada adalah hysteria,
dimana bentuk awal dari gejala ini adalah tic. Bentuk hysteria berasal dari
gejala yang merupakan respon dari pengobatan dari terjadinya kelainan
emosional yang utama.

Spasme tortikolis ini disebabkan oleh keadaan keturunan dimana


terjadinya dari gen autosomal dominan atau autosomal resesif. Hal lain yang
dapat menyebabkan ialah kelainan kongenital dari m.sternocleidomastoideus,
kelainan dari servikal tulang belakang, hipoplasi dari tulang hemi atlas atau
atlas. Kelainan neurovaskuler yaitu kompresi dari N.XI (nervus aksesorius)
oleh arteri vertebrae. Atau arteri serebral posterior inferior, adanya lesi
unilateral pada mesencephalon atau diencephalon yang diakibatkan oleh
encephalitis virus. Dan ketidakseimbangan / gangguan keseimbangan
metabolik antara thalamus dan basal ganglia. Penyebab lain yang tersering
adalah kelainan fungsional dari mekanisme kontrol yang mengakibatkan
gangguan reflek secara bilateral yang terjadi pada basal ganglia atau
keseluruhan dari struktur yang meliputinya.

Pada kasus tortikolis terdapat perubahan degenerative pada korpus


striatum dan berhubungan dengan sirosis pada hati, dan terdapat satu atau
bilateral fokal lesi pada korpus striatum tidak dapat menunjukkan kelainan
yang signifikan pada pemeriksaan patologis dari otak atas kelainan ini.

Secara fisiologis tortikolis adalah kelainan bentuk atau posisi dari kepala.
Perputaran posisi dari kepala diikuti dengan perubahan secara unilateral pada
bagian leher dan terjadi aktivasi pada N.VIII (N.Vestibulokohlearis) yang
gunanya untuk mempertahankan posisi dari kepala dan tortikolis kemungkinan
disebabkan dari kelainan fungsi-fungsi diatas termasuk kalainan yang terjadi
pada korpus striatum. Kelainan ini dapat terjadi pada laki-laki dan wanita dan
onset terjadinya kelainan biasanya pada usia dewasa.

Beberapa keadaan berikut bisa menyebabkan terjadinya tortikolis:

- Hipertiroidisme
- Infeksi sistem saraf

- Diskinesia tardiv (gerakan wajah abnormal akibat obat anti-psikosa)

- Tumor leher.

Bayi baru lahir bisa mengalami tortikolis (tortikolis kongenitalis) karena


adanya kerusakan otot leher pada proses persalinan. Ketidakseimbangan otot
mata dan tulang atau kelainan bentuk otot tulang belakang bagian atas bisa
menyebabkan tortikolis pada anak-anak.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Torticollis adalah keterbatasan gerak leher dimana anak akan memegang
kepala ke satu sisi dengan dagu mengarah ke sisi yang berlawanan. Torticolis
ini terjadi akibat pemendekan otot leher (sternocleidomastoid).
Pembagian tortikolis ada dua yaitu, tortikolis yang merupakan penyakit
bawaan, dan tortikolis setelah lahir
DAFTAR PUSTAKA

http://pmrehab.wordpress.com/2011/04/27/anak-anda-tortikolis-
kenali-sebelum-terlambat/

http://ppnitapinrantau.blogspot.com/2012/03/torticolis.html

http://catatanmahasiswafk.blogspot.com/2012/03/tortikolis-congenital-muscular.html

http://sasanachildcare.wordpress.com/2011/06/06/tortikolis-leher-terputar-pada-anak/

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/04/09/tortikolis/