Anda di halaman 1dari 2

Apa Itu Medikolegal??

https://medicalawadvisor.wordpress.com/
Medikolegal adalah suatu ilmu terapan yang melibatkan dua aspek ilmu yaitu medico yang
berarti ilmu kedokteran dan -legal yang berarti ilmu hukum. Medikolegal berpusat pada
standar pelayanan medis dan standar pelayanan operasional dalam bidang kedokteran dan
hukum – hukum yang berlaku pada umumnya dan hukum – hukum yang bersifat khusus
seperti kedokteran dan kesehatan pada khususnya.
Kasus medikolegal dapat didefinisikan sebagai kasus cedera, cacat atau meninggal dimana
penyelidikan dari lembaga penegak hukum sangat penting untuk mengetahui siapa yang
bertanggung jawab atas cedera, cacat atau ,meninggal tersebut, apakah dokter yang
bertanggung jawab? Atau pasien sendiri yang bertanggung jawab atas cedera, cacat atau
meninggal tersebut?. Dalam Bahasa sederhananya adalah sebuah kasus hukum yang
memerlukan keahlian medis dalam penyelesaiannya.

Akhir – akhir ini, diIndonesia masalah sengketa medis banyak menarik perhatian kita, yang
menarik adalah sisi pandang atas konflik medis yang terjadi dari sudut pandang pasien
maupun dokter biasanya ekstrim. Berikut merupakan salah satu contoh kasus medikolegal.

Ada seorang pasien dengan fraktur humerus dextra (tulang paha kanan) akibat kecelakaan
lalu lintas, lalu dioperasi untuk pemasangan plat, pasca operasi keadaan pasien sudah
membaik, lalu pasien dipulangkan dengan catatan harus kotrol secara rutin. Namun, pasien
hanya datang satu kali untuk kontrol jahitan, selanjutnya pasien tidak pernah datang lagi.
Dimana seharusnya pasien datang untuk kontrol perkembangan proses penyembuhannya.

3 bulan kemudian pasien kembali datang ke RS dengan keluhan paha kanannya nyeri dan
bengkak. Didapati patah tulang berulang pada paha kanan. Lalu pasien menuntut ganti rugi
karena keadaannya tersebut.

Dari sudut pandang pasien, “PASIEN MENUDUH DOKTER MENGGUNAKAN PLAT YANG
KUALITASNYA TIDAK BAGUS”.

Dari sudut pandang dokter, “KEJADIAN INI TERJADI KARENA PASIEN TIDAK
KONTROL, SESUAI DENGAN ANJURAN DOKTER, SEHINGGA PROSES
PENYEMBUHANNYA TIDAK TERPANTAU DAN ADA KEMUNGKINAN PASIEN
MELAKUKAN GERAKAN – GERAKAN YANG BELUM DIPERBOLEHKAN”.

Dari dua sudut pandang ini sebenarnya dapat dilakukan pendekatan, sehingga jarak
ekstrim antara kedua argumentasi tersebut dapat lebih dekat, yaitu memang benar pasien
tidak disiplin dalam melakukan kontrol (hanya 1 kali kontrol), tetapi hal ini terjadi karena
dokter tidak menginformasikan kepada pasien kegunaan dari kontrol (mengetahui
perkembangan penyembuhan, sehingga dapat memberikan informasi tentang gerakan –
gerakan apa saja yang dapat dilakukan oleh pasien).
Dari paparan diatas, yang menjadi pertanyaan utamanya adalah:

1. Haruskah suatu sengketa medis diselesaikan secara all out?


2. Haruskah hubungan dokter dengan pasien dilandasi oleh rasa ketidak percayaan?
3. Apakah sebaiknya perlu diusahakan hal – hal yang dapat menghindari terjadinya suatu
sengketa medis, seperti komunikasi yang jelas antara dokter dengan pasien?
Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus kita lihat kelebihan dan
kekurangannya dan tentunya itu sangat tergantung dengan pendapat pribadi anda masing –
masing.