Anda di halaman 1dari 2

Beta blocker, dikenal juga sebagai beta-blocking agent atau beta-antagonist

(antagonis beta), adalah agen yang menghambat aksi dari reseptor beta-adrenergik, yang
memodulasi fungsi jantung, fungsi pernafasan, dan pelebaran pembuluh darah. Beta blocker
termasuk dalam obat antihipertensi yang bekerja pada sistem kardiovaskuler.

Beta-blocker pertama kali dikembangkan untuk pengobatan kondisi jantung tertentu


dan hipertensi. Kemudian, beta blocker juga diketahui berguna untuk glaukoma, migrain, dan
beberapa gangguan kejiwaan seperti kecemasan, tremor sekunder, dan gangguan gerak yang
disebabkan oleh beberapa obat yang digunakan dalam pengobatan psikosis.

Obat-obat Beta Blocker, juga dikenal sebagai beta-adrenergic blocking agents, adalah
obat-obat yang menghambat norepinephrine dan epinephrine (adrenaline) agar tidak
berikatan dengan reseptor-reseptor beta. Ada tiga tipe reseptor beta dan masing-masing
mengontrol beberapa fungsi berdasarkan pada lokasi mereka dalam tubuh.

1. Beta-1 receptors ditemukan di jantung, otak, mata, neuron adrenergik perifer, dan ginjal.
Reseptor β1 merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi
katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya produksi renin,
maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan turunnya tekanan darah.

2. Beta-2 receptors ditemukan dalam paru, saluran pencernaan, hati, rahim (uterus), pembuluh
darah, dan otot rangka.

3. Beta-3 receptors dapat ditemukan pada sel-sel lemak.

Beta blockers terutama menghambat reseptor-reseptor Beta-1 dan Beta-2. Dengan


menghambat efek dari norepinephrine dan epinephrine, beta blockers mengurangi denyut
jantung; mengurangi tekanan darah dengan memperlebar pembuluh-pembuluh darah; dan
mungkin menyempitkan jalan-jalan udara dengan menstimulasi otot-otot yang mengelilingi
jalan-jalan udara untuk berkontraksi.
2.2 Tipe Beta Blocker

Beta blockers berbeda dalam tipe dari beta receptors yang mereka halangi dan, oleh
karenanya, efek-efek mereka.

1. Non-selective beta blockers, contohnya, propranolol (Inderal), menghalangi Beta-1 dan


Beta-2 receptors dan, oleh karenanya, mempengaruhi jantung, pembuluh-pembuluh darah,
dan jalan-jalan udara.

2. Selective beta blockers, contohnya, metoprolol (Lopressor, Toprol XL) terutama


menghalangi Beta-1 receptors dan, oleh karenanya, kebanyakan memengaruhi jantung dan
tidak mempengaruhi jalan-jalan udara.

3. Beberapa beta blocker, contohnya, pindodol (Visken) mempunyai intrinsic


sympathomimetic activity (ISA), yang berarti mereka meniru efek-efek dari epinephrine dan
norepinephrine dan dapat menyebabkan peningkatan dalam tekanan darah dan denyut
jantung. Beta blockers dengan ISA mempunyai efek-efek yang lebih kecil pada denyut
jantung daripada agen-agen yang tidak mempunyai ISA.

4. Labetalol (Normodyne, Trandate) dan carvedilol (Coreg) menghalangi beta dan alpha-1
receptors. Menghalangi alpha receptors menambah pada pembuluh darah efek yang
melebarkan dari labetalol (Normodyne, Trandate) dan carvedilol (Coreg).