Anda di halaman 1dari 76

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan

2.1.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari penginderaan manusia terhadap

objek tertentu melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan yang

dihasilkan di pengaruhi oleh intensitas perhatian terhadap objek.

Pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya suatu

tindakan seseorang (Notoatmodjo 2010). Pengetahuan (knowledge)

adalah sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman berdasarkan

pancaindra. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran yaitu

kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki manusia dengan realitas

yang ada pada objek (Endraswara 2012; Setiani 2013).

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut (Mubarak 2012; Wulansari 2014) pengetahuan yang

mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :

2.1.2.1 Tahu (know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall) terhadap

sesuatu rangsangan yang telah diterima. Tahu (know)

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Cara

12
13

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari

meliputi menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan

sebagainya.

2.1.2.2 Memahami (comprehension)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan

materi tersebut secara luas.

2.1.2.3 Aplikasi (aplication)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

2.1.2.4 Analysis (analysis)

Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi yang telah

dipelajari dari komponen-komponen tetapi masih di dalam

suatu struktur organisasi tersebut yang berkaitan satu sama

lain.

2.1.2.5 Sisntesis (synthesis)

Menunjukan suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-

bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

2.1.2.6 Evaluasi (evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu matari atau objek.


14

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan

Menurut (Budiman 2013; Astuti 2013) menjelaskan mengenai

faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan adalah

sebagai berikut :

2.1.3.1 Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah

menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang

dimiliki.

2.1.3.2 Informasi atau Media Massa

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun

non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek

sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan

pengetahuan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya terhadap

hal tersebut.

2.1.3.3 Sosial, budaya, ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan seseorang tanpa melalui

penalaran sehingga akan bertambah pengetahuannya walaupun

tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya fasilitas yang diperlukan untuk

kegiatan tertentu sehingga status sosisal ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.


15

2.1.3.4 Lingkungan

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik

ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh

setiap individu.

2.1.3.5 Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara

untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.

2.1.4.6 Usia

Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya

tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik.Pada usia madya, individu

akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan

sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya

upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia

madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk

membaca.
16

2.2 Konsep Perilaku

2.2.1 Definisi Perilaku

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme

(makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya

adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai

bentangan yang sangat luas antara lain berjalan, berbicara, menangis,

tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya

(Notoatmodjo 2010). Perilaku adalah suatu perbuatan atau tindakan

seseorang terhadap suatu respon dan dijadikan kebiasaan karena adanya

nilai yang diyakini (Mubarak2012; Wulansari 2014).

2.2.2 Bentuk Perilaku

Bentuk respon perilaku seseorang ada 2 macam yaitu bentuk

pasif dan bentuk aktif. Bentuk pasif merupakan respon internal yang

terjadi dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh

orang lain. Bentuk aktif yaitu perilaku yang jelas dapat diobservasi

secara langsung (Adnani 2011; Wulansari 2014).

2.2.3 Faktor yang mempengaruhi Perilaku

Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku adalah faktor

predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat (Notoatmodjo,

2010):
17

2.2.3.1 Faktor predisposisi

Merupakan faktor yang mempermudah perilaku seseorang atau

masyarakat yaitu pengetahuan dan sikap seseorang terhadap apa

yang akan dilakukan.

2.2.3.2 Faktor pemungkin (enabeling factors)

Terdiri dari faktor fasilitas, sarana atau prasarana yang

memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.

2.2.3.3 Faktor penguat (reinforcing factors).

Adalah tokoh masyarakat, peraturan, undang-undang dan surat

keputusan pejabat pemerintah merupakan faktor penguat dalam

seseorang atau masyarakat untuk berperilaku.

2.3 Konsep Anak Berkebutuhan Khusus

2.3.1 Definisi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak-anak yang dikatakan berkebutuhan khusus ialah mereka

yang mengalami gangguan atau hambatan dalam proses

perkembangannya, baik pada aspek kognitif, afektif, maupun

psikomotorik. Gangguan atau hambatan yang dimaksud antara lain

retardasi mental atau keterbelakangan mental, kesulitan belajar,

gangguan emosional atau perilaku, gangguan bicara dan bahasa,

gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan fisik, serta

keberbakatan (Smart, 2010). Anak dengan cacat perkembangan sulit


18

menghadapi berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. (Kleinert,

2017).

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan

karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya seperti

tunarungu, tunagrahita (retardasi mental), autis, down syndrome,

tunalaras (gangguan emosi dan perilaku), tunadaksa (gangguan kelainan

fisik), kesulitan belajar dan keberbakatan (Indrijati, 2016).

2.3.2 Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus

2.3.2.1 Tunarungu

a. Definisi Tunarungu

Tunarungu adalah istilah umum yang digunakan

untuk menyebut kondisi seseorang yang mengalami

gangguan dalam indra pendengaran. Anak tunarungu ketika

dia lahir dia tidak bisa menangis, meskipun si bayi dibuat

kaget agar bisa menangis.Anak tunarungu tidak hanya

mengalami gangguan pendengaran saja tetapi juga

mengalami gangguan bicara sehingga dia sulit mengerti

percakapan yang dibicarakan orang lain. Agar bisa

berkomunikasi dengan orang lain, penderita tunarungu

harus menggunakan bahasa isyarat (Smart, 2010).

b. Ciri – ciri anak tunarungu

Menurut Smart (2010) ciri-ciri anak tunarungu yaitu :


19

1) Kemampuan bahasanya terlambat

2) Tidak bisa mendengar

3) Lebih sering menggunakan bahasa isyarat dalam

berkomunikasi

4) Ucapan kata yang diucapkan tidak begitu jelas

5) Kurang atau tidak menanggapi komunikasi yang

dilakukan oleh orang lain terhadapnya

6) Sering memiringkan kepala bila disuruh mendengar

7) Keluar nanah dari kedua telinga dan terdapat kelainan

organis telinga

c. Faktor Penyebab

Menurut Smart (2010) beberapa ahli mengemukakan

tunarungu disebabkan oleh 6 faktor yaitu :

1) Keturunan

2) Penyakit bawaan

3) Komplikasi selama kehamilan dan kelahiran

4) Radang selaput otak (maningitis)

5) Otitis media (radang pada telinga tengah)

6) Penyakit anak berupa radang atau luka-luka

Penyebab ketunarunguan paling banyak adalah

keturunan dari pihak ibu dan komplikasi selama

kehamilan yaitu :
20

1) Faktor Internal

a. Faktor dari salah satu atau kedua orang tua

yang mengalami tunarungu

b. Penyakit campak Jerman (rubella) yang

diderita ibu yang sedang mengandung

c. Keracunan darah atau toxaminia yang diderita

ibu yang sedang mengandung

2) Faktor Eksternal

a. Anak mengalami infeksi saat dilahirkan.

Misalnya anak tertular herpes impleks yang

menyerang alat kelamin ibu

b. Meningitis atau radang selaput otak yang

disebabkan oleh bakteri yang menyerang

labyrinth (telinga dalam) melalui sistem sel-sel

udara pada telinga tengah

c. Radang telinga bagian tengah (otitis media)

pada anak. Radang ini mengeluarkan nanah

yang menggumpal dan mengganggu hantaran

bunyi
21

2.3.2.2 Tunanetra

a. Definisi Tunanetra

Tunanetra merupakan sebutan untuk individu yang

mengalami gangguan pada indra penglihatan. Tunanetra

dibagi menjadi dua kelompok yaitu buta total dan kurang

penglihatan (low vision). Buta total tidak dapat melihat dua

jari dimukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang

lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas.

Mereka tidak bisa menggunakan huruf lain selain huruf

braille (tulisan timbul) sedangkan low vision adalah mereka

yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan atau mata

harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka

yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek

(Smart, 2010).

para penderita low vision ini menggunakan kaca

mata atau kontak lensa. Ada beberapa klasifikasi lain pada

anak tunanetra menurut Smart (2010) salah satunya

berdasarkan kelainan-kelainan yang terjadi pada mata yaitu

1) Myopia

Penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus,

dan jatuh dibelakang retina. Penglihatan akan menjadi

jelas jika objek didekatkan. Untuk membantu proses


22

penglihatan, pada penderita myopia digunakan

kacamata dengan lensa negatif.

2) Hyperopia

Penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus

dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi

jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu proses

penglihatan pada penderita hyperopia digunakan

kacamata dengan lensa positif.

3) Astigmatisme

Penyimpangan atau penglihatan kabur yang

disebabkan gangguan pada kornea mata atau pada

permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan

benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus

jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan

pada penderita astigmatisme digunakan kacamata

dengan lensa silindris.

b. Ciri - ciri anak tunanetra

Menurut (Smart, 2010) ciri-ciri anak tunanetra yaitu :

1) Buta Total

a) Fisik

Jika dilihat secara fisik keadaan anak tunanetra

tidak berbeda dengan anak normal pada

umumnya yang menjadi perbedaan nyata adalah


23

penglihatannya meskipun terkadang ada anak

tunanetra yang terlihat seperti anak normal.

Berikut adalah beberapa gejala buta total yang

dapat terlihat secara fisik mata juling, sering

berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah,

mata infeksi, gerakan mata tak beraturan dan

cepat, mata selalu berair (mengeluarkan air mata)

dan pembengkakan pada kulit tempat tumbuh

bulu mata.

b) Perilaku

Anak tunanetra biasanya menunjukan perilaku

tertentu yang cenderung berlebihan. Gangguan

perilaku tersebut bisa dilihat pada tingkah laku

anak semenjak dini yaitu :

1) Menggosok mata secara berlebihan

2) Menutup atau melindungi mata sebelah,

memiringkan kepala, atau mencondongkan

kepala ke depan

3) Penjelasan lainnya berdasarkan adanya

beberapa keluhan seperti mata gatal, panas,

dan merasa ingin menggaruk karena gatal,

banyak mengeluh dalam ketidakmampuan

dalam melihat, merasa pusing atau sakit


24

kepala, dan pandangan kabur atau penglihatan

ganda

c) Psikis

Bukan hanya perilaku yang berlebihan saja yang

menjadi ciri-ciri anak tunanetra. Dalam

mengembangkan kepribadian, anak-anak ini juga

memiliki hambatan. Berikut adalah beberapa ciri

psikis anak tunanetra yaitu :

1) Perasaan mudah tersinggung

Perasaan mudah tersinggung yang dirasakan

oleh tunanetra disebebkan kurangnya

rangsangan visual yang diterimanya sehingga

dia merasa emosional ketika seseorang

membicarakan hal-hal yang tidak bisa dia

lakukan. Selain itu, pengalaman kegagalan

yang sering dirasakannya jua membuat

emosinya semakin tidak stabil.

2) Mudah curiga

Sebenarnya setiap orang memiliki rasa curiga

terhadap orang lain. Namun, pada tunanetra

rasa kecurigaannya melebihi pada umumnya.

Kadang dia selalu curiga terhadap orang

yang ingin membantunya. Untuk mengurangi


25

atau menghilangkan rasa curiganya,

seseorang harus melakukan pendekatan

terlebih dulu kepadanya agar dia juga

mengenal dan mengerti bahwa tidak semua

orang itu jahat.

3) Ketergantungan yang berlebihan

Anak tunanetra memang harus dibantu dalam

melakukan suatu hal, namun tak perlu semua

kegiatan kita membantunya. Kegiatan

tersebut seperi makan, minum, mandi dan

sebagainya. Mungkin yang perlu kita lakukan

adalah mengawasi saat dia melakukan hal itu

agar tidak terjadi hal yang membahayakan

dirinya.

2) Low Vision

a) Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat

dekat

b) Hanya dapat membaca huruf yang berukuran

besar

c) Mata tampak lain, terlihat putih ditengah mata

(katarak) atau kornea (bagan bening di depan

mata) terlihat berkabut


26

d) Lebih sulit melihat pada malam hari dari pada

siang hari

e) Pernah menjalani operasi mata dan memakai kaca

mata yang sangat tebal, tetapi masih tidak dapat

melihat dengan jelas

3) Faktor-faktor penyebab tunanetra menurut (Smart,

2010) antara lain :

a) Pre-natal (dalam kandungan)

Faktor penyebab tunanetra pada masa pre-natal

sangat erat kaitannya dengan adanya riwayat dari

orang tuanya atau adanya kelainan pada masa

kehamilan.

1) Keturunan

Pernikahan dengan sesama tunanetra dapat

menghasilkan anak dengan kekurangan yang

sama, yaitu tunanetra. Selain dari pernikahan

tunanetra, jika salah satu orangtua memiliki

riwayat tunanetra juga akan mendapatkan

anak tunanetra. Ketunanetraaan akibat faktor

keturunan antara lain retinitis pigmentosa,

yaitu penyakit pada retina yang umumnya

merupakan keturunan.
27

2) Pertumbuhan anak dalam kandungan biasa

disebabkan oleh gangguan pada saat ibu

masih hamil, adanya penyakit menahun,

seperti TBC sehingga merusak sel-sel darah

tertentu selama pertumbuhan janin dalam

kandungan, infeksi atau luka yang dialami

oleh ibu hamil akibat terkena rubellaatau

cacar air dapat menyebabkan kerusakan pada

mata, telinga jantung dan sistem sususan saraf

pusat pada janin yang sedang berkambang

dan kekurangan vitamin tertentu dapat

menyebabkan gangguan pada mata sehingga

kehilangan fungsi penglihatan.

b) Post-Natal

Post-natal merupakan masa setelah bayi

dilahirkan. Tunanetra bisa saja terjadi pada masa

ini seperti :

1) Kerusakan pada mata atau saraf mata pada

waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau

benda keras.

2) Mengalami penyakit mata yang menyebabkan

ketunanetraan, misalnya : xeropthalmia,

trachoma, catarac, glaucoma, diabetic


28

retinopathy, macular degeneration,

retinopathy of prematurity.

2.3.2.3 Tunadaksa

a. Definisi Tunadaksa

Tunadaksa merupakan seseorang yang memiliki

kelainan fisik khususnya anggota badan seperti kaki, tangan

atau bentuk tubuh. Tidak semua anak-anak tunadaksa

memiliki keterbelakangan mental. Ada yang memiliki

kemampuan daya pikir lebih tinggi dibanding anak normal

pada umumnya. Kelainan yang dialami oleh penyandang

tunadaksa tidak membawa pengaruh buruk terhadap

perkembangan jiwa dan pertumbuhan fisik serta

kepribadiannya. Antara anak normal dan tunadaksa memiliki

peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Hanya

saja banyak orang yang meragukan kemampuan dari anak

tunadaksa. Perasaan iba yang berlebuhan selalu membuat

seseorang tidak mengizinkan anak tunakdaksa untuk

melakukan kegiatan fisik. Adanya ketunaan pada diri mereka,

eksistensinya sering terganggu (Smart, 2010).

b. Ciri-ciri anak tunadaksa

Menurut (Smart, 2010) ciri-ciri anak tunadaksa yaitu :


29

1) Anggota gerak tubuh tidak bisa digerakkan, lemah, kaku dan

lumpuh

2) Setiap bergerak mengalami kesulitan

3) Tidak memiliki anggota gerak lengkap

4) Hiperaktif

5) Terdapat anggota gerak yang tak sama dengan keadaan

normal pada umumnya. Misalkan kumlah yang lebih, ukuran

yang lebih kecil dan sebagainya

c. Faktor penyebab

Menurut (Smart, 2010) faktor penyebab anak tunadaksa

yaitu:

Ada beberapa macam penyebab yang menjadikan

seseorang menjadi tunadaksa. Salah atu contohnya adalah

kerusakan yang terjadi pada jaringan otak. Seperti yang kita

ketahui, otaklah yang mengendalikan semua kerja sistem

pada tubuh. Jika jaringan otak rusak, jaringan yang lain pun

ikut rusak. Selain karena rusaknya jaringan otak, tunadaksa

juga bisa disebabkan oleh rusaknya jaringan sumsum tulang

belakang, yaitu pada sistem musculus skeletal. Jika dilihat

dari kerusakan otak, bisa terjadi pada saat sebelum lahir, saat

lahir dan sesudah lahir.


30

1) Sebelum Lahir (pre-natal)

Pada saat ibu hamil mengalami trauma atau terkena infeksi

penyakit sehingga otak bayi pun ikut tererang dan

menimbulkan kerusakan. Misalkan, infeksi sypilis, rubella,

typhus abdominalis.

2) Saat Kelahiran

Akibat proses kehamilan yang terlalu lama sehingga bayi

kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dapat

menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak

bayi, akibatnya jaringan otak mengalami kerusakan.

3) Setelah Melahirkan

Terjadi kecelakaan atau trauma kepala, infeksi penyakit yang

menyerang otak, hipoxia dan trauma.

2.3.2.4 Tunagrahita

a. Definisi Tunagrahita

American Association on Mental Deficiency (AAMD),

suatu organisasi international yang secara spesifik

memfokuskan perhatian pada persoalan retardasi mental di

seluruh dunia mendefinisikan retardasi atau keterbelakangan

mental sebagai suatu kondisi yang dialami seseorang dengan

fungsi intelektual umum yang secara signifikan berada di

bawah rata-rata dan hal ini berpengaruh atau berkaitan dengan


31

terjadinya gangguan perilaku selama periode perkembangan

(Indrijati, 2016).

Menurut Smart, (2010) berdasarkantinggi rendahnya

kecerdasan inteligensi yang diukur dengan menggunakan tes

stanford Binet dan skala Wescheler (WISC), tunagrahita

digolongkan menjadi empat golongan yaitu :

1) Kategori Ringan (Moron atau Debil)

Kategori ringan ini memiliki IQ 50-55 sampai 70.

Berdasarkan tes Binet kemampuan IQ nya menunjukkan

angka 68-52, sedangkan dengan tes WISC, kemampuan

IQ nya 69-55. Biasanya anak ini mengalami kesulitan

didalam belajar. Dia lebih sering tinggal kelas dibanding

naik kelas.

2) Kategori Sedang (Imbesil)

Kategori ini memiliki IQ 35-40 sampai 50-55. Menurut

hasil tes Binet IQ nya 51-36, sedangkan tes WISC 54-40.

Pada penderita sering ditemukan kerusakan otak dan

penyakit lain. Ada kemungkinan penderita juga

mengalami disfungsi saraf yang mengganggu

keterampilan motoriknya. Pada jenis ini, penderita dapat

dideteksi sejak lahir karena pada masa pertumbuhannya

penderita mengalami keterlambatan keterampilan verbal

dan sosial.
32

3) Kategori Berat (Severe)

Kategori ini memiliki IQ 20-25 sampai 35-45. Menurut

hasil tes Binet IQ nya 32-20, sedangkan menurut tes

WISC, IQ-nya 39-25. Penderita memiliki abnormalitas

fisik bawaan dan kontrol sensori motor yang terbatas.

4) Kategori Sangat Berat (Profound)

Kategori ini penderita memiliki IQ yang sangat rendah.

Menurut hasil skala Binet IQ penderita dibawah 19,

sedangkan menurut tes WISC IQ nya di bawah 24. Banyak

penderita yang memiliki cacat fisik dan kerusakan saraf.

Tak jarang pula penderita yang meninggal.

b. Ciri-ciri anak tunagrahita

Menurut Smart (2010) ciri-ciri anak tunagrahita yaitu :

1) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu

kecil atau besar.

2) Pada masa pertumbuhannya dia tidak mampu mengurus

dirinya.

3) Terlambat dalam perkembangan bicara dan bahasa.

4) Cuek terhadap lingkungan.

5) Koordinasi gerakan kurang.

6) Sering keluar ludah dari mulut (ngeces).

c. Faktor penyebab anak tunagrahita

Menurut Smart (2010) faktor penyebab anak tunagrahita yaitu :


33

1) Penyaki infeksi terutama pada trimester pertama karena

janin belum memiliki sistem kekebalan dan merupakan

saat kritis bagi perkembangan otak

2) Kecelakaan dan menimbulkan trauma di kepala

3) Prematuritas (bayi lahir sebelumwaktunya, kurang dari 9

bulan)

4) Bahan kimia yang berbahaya, keracunan pada ibu

berdampak pada janin atau polutan lainnya yang terhirup

oleh anak

2.3.2.5 Tunalaras

a. Definisi Tunalaras

Masa anak seahrusnya menjadi masa yang paling

membahagiakan dalam kehidupan setiap manusia. Masa

dimana banyak waktu untuk mengenal banyak teman, bermain

bersama, dan mempelajari banyak hal baru yang menari dari

lingkungan. Kondisi ini tidak terjadi pada anak-anak yang

mengalami gangguan emosional atau perilaku. Beberapa

diantaranya menunjukkan reaksi yang tidak terkontrol, agresif,

dan bahkan selalu berusaha menyerang orang lain (Indrijati,

2016).

Tunalaras merupakan sebutan untuk individu yang

mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol


34

sosial. Penderita biasanya menunjukkan perilaku yang

menyimpang dan tidak sesuai denga aturan atau norma yang

berlaku di sekitarnya (Smart, 2010).

b. Ciri-ciri anak tunalaras

Menurut Smart (2010) ciri-ciri anak tunalaras yaitu :

1) Berani melanggar aturan yang berlaku

2) Mudah emosi

3) Suka melakuka tindakan agresif

c. Faktor penyebab tunalaras

Menurut Smart (2010) faktor penyebab tunalaras yaitu :

1) Kondisi keluarga yang tidak baik atau broken home

2) Kurangnya kasih sayang dari orang tua

3) Kemampuan sosial dan ekonomi rendah

4) Memiliki keturunan gangguan jiwa

2.3.2.6 Autism Spectrum Disorder (ASD)

a. Definisi Autis

Istilah autis berasal dari bahasa yunani ‘auto’ berarti

sendiri, yang ditujukan pada seseorang yang menunjukan

gejala hidup dalam dunianya sendiri. Pemakaian istilah autis

kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Kanner,

seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance

of Affective Contact) pada tahun 1943 (Huzaemah, 2010).


35

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan

perkembangan saraf sering terlihat pada anak-anak ditandai

dengan komunikasi sosial terganggu dan adanya perilaku

stereotipik (gerakan berulang tanpa tujuan). Gangguan ini

diduga hasil dari disfungsi otak yang timbul dari interaksi yang

kompleks antara genetik, epigenetik dan faktor lingkungan

(Pediatr, 2017).

Anak autistik memiliki gangguan dalam hal

komunikasi, interaksi sosial, imajinasi, pola perilaku berulang,

dan tak mudah menyesuaikan terhadap perubahan. Gangguan

interaksi sosial menyebabkan mereka tampak aneh dan

berbeda dengan anak lain. Autisme adalah gangguan

perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan dalam

komunikasi verbal (dengan kata-kata), dan non-verbal (gerak

tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara), gangguan interaksi

sosial, perilaku terbatas dan berulang-ulang (Salehi et al 2017).

b. Penyebab Autis

Menurut Handojo bahwa dari penelitian yang dilakukan

oleh banyak pakar dari banyak negara, ditemukan beberapa

fakta yaitu, adanya kelainan anatomis pada korteks cerebri,

cerebellum dan sistem limbiknya (Arianti 2010; Rinja 2016).


36

1) Korteks Cerebri

Penyandang autis mempunyai kelainan pada lobus

frontalis dan lobus parietalis. Autis mempunyai kelainan

sebanyak 45% pada lobus parietalis otaknya, yang

menyebabkan anak kurang peduli pada lingkungannya.

Anak autis kurang terangsang dengan keadaan lingkungan

atau keadaan sosialnya, ada kemungkinan terjadi kelainan

pada daerah lobus parietalis pada otaknya. Lobus frontalis

terdapat area broca yang terletak di gyrus frontalis

superior. Area ini berperan dalam proses bahasa, serta

kemampuan dan pemahaman bicara.

2) Cerebellum (otak kecil)

Autis juga dapat disebabkan karena adanya

kelainan pada otak kecil atau cerebellum, terutama pada

lobus ke VI dan VII. Otak kecil memiliki tanggung jawab

untuk proses sensoris, daya ingat berfikir, belajar

berbahasa dan proses atensi (perhatian). Penelitian

terhadap otopsi, ditemukan bahwa sel-sel di dalam

cerebellum, yang disebut sel Purkinye, sangat sedikit

jumlahnya, sedangkan sel-sel ini mempunyai kandungan

serotonin (neurotransmitter yang bertanggung jawab untuk

hubungan di antara sel-sel otak) yang tinggi. Tidak adanya

keseimbangan antara neurotransmitter, serotonin, dan


37

dopamin di dalam otak juga menyebabkan kacaunya lalu

lalang impuls di otak (Maulana, 2010).

3) Sistem Limbik

Kelainan pada sistem limbik yang disebut

Hippocampus dan amygdala. Kedua organ tersebut,

terdapat sel-sel neuron yang sangat padat dan kecil-kecil

sehingga fungsinya menjadi kurang baik. Amygdala

mengontrol fungsi agresi dan emosi. Amygdala juga

bertanggung jawab terhadap berbagai macam rangsang

sensori seperti pendengaran, penglihatan, maupun

penciuman dan juga terhadap rangsang yang berhubungan

dengan rasa takut. hyppocampus bertanggung jawab untuk

fungsi belajar dan daya ingat. Gangguan hyppocampus

mengakibatkan kesulitan dalam menyimpan informasi baru

dalam memorinya. Perilaku yang diulang-ulang, yang aneh

dan hiperaktivitas juga disebabkan oleh gangguan di

hyppocampus (Maulana, 2010).

4) Faktor Psikologis dan Keluarga

Faktor-faktor psikologis yang dapat menyebabkan

gangguan autisme adalah ketidaksadaran dan

ketidakpahaman akan eksistensi diri yang sebenarnya

berbeda dengan orang lain, tidak memiliki percaya diri dan

kekuatan dan potensinya, sikap menarik diri dari situasi


38

sosisal, pandangan dunia luar yang terlalu sempit,

disabilitas kognitif (keterlambatan kognitif), kegagalan

dalam relasi sosial, ketidakmampuan berbahasa, rendahnya

konsep diri dan perilaku yang tidak lazim (Pieter et

al,2011; Harun 2015).

Beberapa ahli (Kanner dan Bettelhem, 1943)

menganggap autisme sebagai akibat hubungan yang dingin,

tidak akrab antara orang tua (ibu) dan anak. Orang tua atau

pengasuh yang emosional, kaku, obsesif, tidak hangat

bahkan dingin dapat menyebakan anak asuhnya menjadi

autisme (Joko 2013; Harun 2015).

5) Faktor Biologis

a) Faktor Genetik

Keluarga yang terdapat anak autisme memiliki

resiko lebih tinggi dibanding populasi keluarga

normal. Hal ini di dasarkan pada pewarisan sifat-sifat

induk melalui kromosom. Setiap manusia normalnya

mengandung 46 kromosom, atau dapat dikatakan 23

kromosom dari laki-laki dan 23 kromosom dari

perempuan. Sedangkan kromosom manusia yang

tidak normal memiliki 45 atau 47 buah kromosom

(Hasdianah2013; Harun 2015).


39

Kromosom yang tidak normal inilah yang

membawa sifat keturunan gangguan mental.

Kromosom sendiri terbagi menjadi dua yaitu

kromosom sek yang terdiri dari satu pasang

kromosom yang menentukan jenis kelamin dan

kromosom otomos yang merupakan kromosom

pasangan pertama sampai pasangan ke 22 yang

mewarisi sifat-sifat induknya seperti bentuk badan,

warna kulit, intelegensi, bakar-bakat khusus dan juga

gangguan mental. Menurut para peneliti, faktor

genetik memegang peranan kuat sebagai penyebab

autisme karena manusia banyak mengalami mutasi

genetik akibat dari cara hidup yang semakin moderen

seperti penggunaan zat kimia dalam kehidupan sehari-

hari dan faktor udara yang semakin terpolusi

(Hasdianah2013; Harun 2015).

Penelitian suwati (2011) yang juga

menyebutkan bahwa autis lebih banyak dialami oleh

anak laki-laki. Perbandingan antara anak laki dan

perempuan yang mengalami gangguan autis adalah

4:1 perempuan memiliki hormon yang dapat

memperbaiki keadaanya yaitu hormon esterogen.

Anak laki-laki yang mengalami autis berjumlah lebih


40

banyak dari anak perempuan. Hal ini disebabkan laki-

laki lebih banyak memproduksi testosteron sementara

perempuan lebih banyak memproduksi esterogen.

Hormon esterogen memiliki efek terhadap suatu gen

pengatur fungsi otak yang disebut retinoic acid

receptor-related orphan receptor-alpha (RORA)

(Raharjo, 2014). RORA adalah reseptor nuklir dan

memiliki peranan penting dalam lipid, metabolisme

glukosa, renpon inflamasi (Xiao, 2016).

b) Pre Natal

Beberapa faktor yang dapat memicu munculnya

autisme pada masa kehamilan terjadi pada masa

kehamilan 0-4 bulan, bisa diakibatkan oleh polutan

logam berat (Pb, Hg, Cd, Al), infeksi (toksoplasma,

rubella, candida dan sebagainya), zat adiktif

(pengawet dan pewarna), hiperemesis (muntah-

muntah berat), perdarahan berat dan alergi berat

(Sunu, 2012).

c) Zat-zat adiktif yang mencemari otak anak

Menurut Sunu (2012) beberapa faktor yang

berpotensi menjadi penyebab autisme pada anak

antara lain :
41

1) Asupan (Mono Sodium Glutamat)

2) Protein tepung terigu (gluten) dan protein susu

sapi (kasein)

3) Zat pewarna

4) Bahan pengawet

5) Polutan logam berat. Hasil tes pada darah dan

rambut beberapa anak autisme ditemukan

kandungan logam berat dan beracun seperti

arsenik, antimoni, kadmium (Cd), air raksa (Hg),

atau timbal (Pb). Diduga kemampuan tubuh anak

autisme tidak mampu melakukan sekresi terhadap

logam berat akibat masalah yang sifatnya genetis.

6) Beberapa ahli juga berpendapat bahwa jenis

imunisasi sepert (mump, measles dan rubbella)

dan hepatitis B pada bayi dapat juga menjadi

pemicu munculnya autisme, meskipun hal ini

masih menjadi perdebatan (Sunu,2012).pemberian

vaksin kombinasi three in one yakni vaksin

campak, gondok, dan rubela dan vaksin hepatitis

B masih dianggap sebagai vaksin penyelamat

manusia. Data-data patologis ditemukan bahwa

vaksin juga dianggap bisa memberikan kontribusi


42

pada pembentukan autisme (Pieter et al 2011;

Harun 2015).

c. Beberapa gejala anak autis menurut (Mulyadi & Sutadi, 2014)

sebagai berikut :

1) Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-

verbal

a) Terlambat bahasa

b) Meracau dengan bahasa yang tak dapat di mengerti

orang lain

c) Mulai bisa mengucapkan kata namun tak mengerti

artinya

d) Berbicara tidak dipakai untuk berkomunikasi

e) Meniru ucapan orang atau membeo (echolalia)

f) Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian baik

nada maupun kata-katanya tanpa mengerti artinya

g) Bila ingin sesuatu cenderung menarik tangan yang

terdekat dan memperlakukan tangan tersebut sebagai

alat untuk melakukan sesuatu bagi dirinya

2) Gangguan dalam bidang interaksi sosial

a) Menolak atau menghindar untuk bertatap muka

b) Tidak mau melihat bila dipanggil

c) Sering menolak untuk dipeluk


43

d) Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan

orang lain, bahkan lebih asyik bermain sendiri

e) Menjauh atau menghindar dari orang lain

3) Gangguan dalam bidang perilaku

a) Terlihat adanya perilaku berlebihan (excessive).

Contoh perilaku yang berlebihan adanya hiperaktivitas

motorik seperti tidak bisa diam, berputar-putar,

memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang

suatu gerakan tertentu dan lain-lain

b) Terlihat adanya perilaku berkekurangan (deficient).

Contoh perilaku berkekurangan duduk diam terpaku

pada sesuatu misalnya bayangan atau benda yang

berputar. Kadang ada kelekatan perhatian pada benda

tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar

atau apa saja yang terus dipegang dan dibawa kemana-

mana. Sering terjadi perilaku yang ritualistik

c) Melamun, bengong dengan tatapan mata kosong

d) Menyakiti diri-sendiri

e) Kelekatan benda-benda tetentu

f) Asyik bermain sendiri

4) Gangguan dalam bidang perasaan atau emosi

a) Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah

tanpa sebab
44

b) Tidak ada rasa empati misalnya meliat anak menangis

tak merasa kasihan bahkan merasa terganggu,

sehingga anak itu didekati dan dipukul

c) Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum),

terutama bila tak mendapatkan apa yang diinginkan,

bahkan bisa jadi sangat agresif dan destruktif

5) Gangguan dalam persepsi sensori

a) Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan dan

benda apa saja

b) Menutup telinga bila mendengar suara keras

c) Tidak suka memakai baju dengan bahan kasar

2.3.2.7 Down Syndrome

a. Definisi Down Syndrome

Down Syndrome merupakan salah satu bagian

tunagrahita. Sindrom Downadalah kelainan genetik yang

disebabkan oleh adanya kelainan di kromosom 21

(Contestabile et al, 2017). Menurut (Herlina 2012; Vienlentia

2015), down syndrome yaitu suatu keadaan keterbelakangan

perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya

abnormalitas perkembangan kromosom.

Menurut (Wiyani 2014; Wijayanti 2015)menyebutkan

bahwa down syndrome terjadi karena adanya kelainan susunan


45

kromosom ke 21, dari 23 kromosom manusia. Manusia

normal, 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga

jumlahnya menjadi 46. Penderita down syndrome kromosom

nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi), sehingga totalnya

menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan tersebut

mengakibatkan munculnya down syndrome.

Sebenarnya penyakit ini sudah dikenal sejak tahun

1866 oleh Dr.John Longdom Down. Ciri-ciri down syndrome

tampak nyata dilihat dari fisik penderita, misalkan tinggi badan

yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung yang datar,

biasanya lapisan kulit penderita down syndrome ini tampak

keriput meskipun usianya masih muda (Smart, 2010).

b. Ciri-ciri Down Syndrome

Menurut (Wiyani 2014; Wijayanti 2015), bahwa gejala tersebut

dapat muncul bervariasi mulai yang tidak tampak sama sekali,

tampak minimal, hingga muncul ciri – ciri yang dapat diamati

seperti berikut :

1) Penampilan fisik tampak melalui kepala yang relatif lebih

kecil dari normal (microchepaly) dengan bagian

anteroposterior kepala mendatar

2) Paras wajah yang mirip seperti orang Mongol, sela hidung

datar, pangkal hidung kemek


46

3) Jarak antara dua mata jauh dan berlebihan kulit di sudut

dalam. Ukuran mulutnya kecil, tetapi ukuran lidahnya

besar dan menyebabkan lidah selalu terjulur

(macroglossia)

4) Pertumbuhan gigi penderita down syndrome lambat dan

tidak teratur

5) Paras telinga lebih rendah dan leher agak pendek

6) Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah

membentuk lipatan (epicanthol folds) sebesar 80%

7) Penderita down syndrome mengalami gangguan

mengunyah, menelan, dan bicara

8) Hypogenitalism (penis, scrotum, dan testis kecil),

hypospadia, cryptorchism, dan keterlambatan

perkembangan pubertas

9) Penderita down syndrome memiliki kulit lembut, kering,

dan tipis. Sementara itu, lapisan kulit biasanya tampak

keriput (dermatologlyphics)

10) Tangannya pendek, ruas-ruas jarinya serta jarak antara jari

pertama dan kedua pendek, baik pada tangan maupun kaki

melebar. Mereka juga mempunyai jari-jari yang pendek

dan jari kelingking membengkok ke dalam. Tapak tangan

mereka biasanya hanya terdapat satu garisan urat

dinamakan “simian crease”


47

11) Kaki agak pendek dan jarak di antara ibu hari kaki dan jari

kaki kedua agak jauh terpisah

12) IQ penderita down syndrome ada di bawah 50

13) Pada saat berusia 30 tahun, mereka kemungkinan dapat

mengalami demensia (hilang ingatan, penurunan

kecerdasan, dan perubahan kepribadian)

2.3.2.8 Kemunduran (Retardasi Mental)

a. Definisi Kemunduran (Retardasi Mental)

Menurut Smart (2010), dalam bahasa medis kemunduran

mental disebut dengan retardasi mental. Retardasi mental adalah

keadaan ketika inteligensi individu mengalami kemunduran atau

tidak dapat berkembang dengan baik. Masa itu terjadi sejak individu

dilahirkan. Biasanya, terdapat perkembangan mental yang kurang

secara keseluruhan, tetapi gejala utama adalah perkembangan mental

yang sangat kurang. Retardari mental disebut juga oligofrenia (oligo

artinya ‘kurang’ atau ‘sedikit’ dan fren artinya ‘jiwa’ atau ‘tuna-

mental’).

Kemunduran mental bukanlah suatu penyakit yang

mematikan, meskipun kemunduran mental merupakan hasil dari

proses patoligik di dalam otak yang memberi gambaran keterbatasan

terhadap intelektualnya dan fungsi adaptif. Kemunduran mental ini

juga dapat terjadi dengan gangguan kejiwaan atau cacat fisik. Hasil
48

tes IQ yang sering dilakukan untuk menentukan berat atau ringannya

keterbelakangan mental tidak menjadi patokan mati untuk

menentukan tingkatan keterbelakangan mental seseorang. Sebagai

kriteria dapat dipakai juga kemampuan untuk didik atau dilatih dan

kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf ringan,

sedang sampai sangat berat (Smart, 2010).

b. Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR, Smart (2010)

yaitu :

1) Retardasi Mental Berat Sekali

IQ dibawah 20 sampai 25. Sekitar 1% sampai 2% dari orang

yang terkena retardasi mental.

2) Retardasi Mental Berat

IQ sekitar 25 sampai 40. Sebanyak 4% dari orang yang terkena

retardasi mental.

3) Retardasi Mental Sedang

IQ sekitar 40 sampai 55. Sekitar 10% dari orang yang terkena

retardasi mental.

4) Retardasi Mental Ringan

IQ sekitar 55 sampai 70. Sekitar 85% dari orang yang terkena

retardasi mental.

c. Penyebab Retardasi Mental

Menurut Smart (2010) penyebab retardasi mental yaitu :


49

1) Akibat Infeksi atau Intoksikasi

Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena

kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, serum, obat,

atau zat toksik lainnya.

2) Akibat Gangguan Metabolisme

Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama

sebelum umur 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan

otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan ini

dapat diperbaiki sebelum umur 6 tahun.

3) Akibat gangguan jiwa yang berat

4) Akibat prematuritas

5) Akibat kelainan kromosom

2.3.2.9 Kesulitan Belajar

Menurut Smart (2010) Definisi kesulitan belajar yang

dimuat dalam Individuals with Disabilities Education Act (IDEA)

tahun 1997 yaitu bahwa “specific learning disabilities” berarti

suatu gangguan dalam satu atau lebih proses psikologi dasar yang

terlihat dalam pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau

tertulis, yang dimanifestasikan dalam kemampuan yang tidak

sempurna dalam mendengar, berbicara, membaca, menulis,

mengeja atau melakukan perhitungan matematis.


50

Karakteristik individu berkesulitan belajar dapat dibagi

dalam beberapa aspek, yaitu (Indrijati 2016) sebagai berikut :

1) Prestasi Akademik

Individu-individu berkesulitan belajar, meskipun

biasanya memiliki tingkat inteligensi normal atau diatas rata-

rata, tampak mengalami banyak permasalahan akademis.

Persoalaan ini umumnya berlangsung sejak awal masa sekolah

hingga akhir jenjang pendidikan formal, termasuk perguruan

tinggi. Permasalahan yang dialami mencakup kesulitan

membaca, kesulitan menulis dan mengeja, serta kesulitan

dalam bidang matematika.

2) Intelegensi

Populasi individu yang mengalami gangguan perilaku

dan kesulitan belajar dianggap mencakup individu-individu

dengan tingkat intelegensi diatas rata-rata atau mendekati rata-

rata. Perbedaan antara siswa dan gangguan perilaku dan

kesulitan belajar didefinisikan berdasarkan tingkat

keterampilan sosial dan karakteristik pembelajar. Kadangkala

individu-individu berkesulitan belajar juga menunjukkan

gangguan perilaku, dan sebaliknya.

3) Kognisi dan Pemrosesan Informasi

Berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan

bahwa individubrkesulitan belajar sering kali mengalami


51

kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas memori tertentu,

memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda, rentang

atensi yang pendek, serta permasalahan atensi selektif yang

menyulitkan individu untuk memfokuskan diri pada informasi

yang penting.

4) Hiperaktivitas

Hiperaktivitas sering dikaitkan dengan anak-anak

berkesulitan belajar, meskipun saat ini literatur lebih sering

mengasosiasikannya dengan Attention Deficit Hyperactivity

Disorder (ADHD).

5) Karakteristik Sosial dan Emosional

Anak-anak dan remaja berkesulitan belajar sering kali

mengalami permasalahan emosional dan interpersonal yang

cukup serius dan resisten terhadap intervensi. Mereka sering

kali memiliki harga diri yang rendah dan mengalami

konsekuensi emosional yang negatif karena permasalahan

belajar yang mereka miliki. Mereka bisa jadi tidak dapat

berinteraksi secara efektif dengan orang lain karena mereka

salah memahami petunjuk sosial, atau tidak dapat

membedakan atau menginterpretasikan detail - detail dari

asosiasi interpersonal tertentu.


52

2.4 Konsep Terapi Anak Berkebutuhan Khusus

2.4.1 Terapi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Menurut smart (2010) Memiliki anak berkebutuhan khusus,

tentu akan menempuh cara apa pun agar bisa sembuh seperti anak-

anak normal lainnya. Banyak jenis terapi yang bisa dijadikan alternatif

bagi anak berkebutuhan khusus. Tidak semua jenis terapi cocok untuk

ABK karena setiap ABK tidak sama kondisinya satu dengan yang

lain. Ada bererapa jenis terapi yang bisa dilakukan oleh para guru,

orang tua, terapis seperti :

2.4.1.1 Terapi Perilaku

Terapi perilaku adalah terapi yang bertujuan

memperbaiki dan membentuk pola perilaku ABK agar

terbentuk pola perilaku yang baik. Pola perilaku ABK yang

berlebihan dikurangi dan yang berkekurangan atau belum ada

akan dibentuk. Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk

meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap

aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang

signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur, dan

konsisten pada usia dini.

2.4.1.2 Terapi Medikamentosa

Obat-obatan yang dipakai lebih banyak ditujukan

untuk menekan gejala-gejala tertentu saja misalnya menekan

hiperaktivitas yang ada, menekan agresivitas, yang bisa


53

membahayakan dirinya maupun orang disekitarnya.

Penelitian terhadap obat-obatan masih terus berjalan. Obat-

obat yang dikeluarkan dalam 2-3 tahun terakhir ini makin

tertuju dan makin kecil efek sampingnya. Obat yang sekarang

sering dipakai dan mempunyai hasil yang cukup baik untuk

penyandang autisme adalah obat yang lebih ditujukan untuk

memperbaiki keseimbangan neurotrasmitter serotonin dan

dopamin di otak, sehingga interaksi antar sel-sel otak dapat

diperbaiki (Maulana, 2010).

Obat-obatan yang ada di Indonesia adalah dari jenis

antidepresan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)

dan benzodiazepin seperti misalnya fluoxetine (prozae),

sertalin (zoloft) dan risperidon (risperdal). Risperdal

menunjukan efek yang sangat baik, di mana dalam dosis kecil

pun ia bisa secara efektif memperbaiki respon anak terhadap

lingkungan. Namun obat-obatan lama pun seperti

haloperidol, imipramin (tofranil), dan thioridazine (melleril)

masih bisa dipakai (Maulana, 2010).

Menurut Maulana (2010) beberapa efek samping yang

bisa timbul adalah ngantuk, ngiler dan kaku otot. Beberapa

vitamin yang telah diujicobakan para penyandang autisme di

bererapa negara adalah vitamin B6 dan magnesium B15 dan

asam folat. Hasilnya cukup baik diperoleh sekitar 40% dari


54

pemakaiannya, sedangkan 60% yang tidak cicik

mengeluhkan berbagai macam efek samping seperti sulit

tidur, hiperaktivitas, marah-marah, agresif, dan ngompol.

Beberapa jenis obat lain yang mempunyai efek baik untuk

menghilangkan gerakan-gerakan yang diulang-ulang seperti

naltrexone, belum masuk di indonesia.

Menurut Defilippis (2016) Obat paling efektif dalam

mengobati gejala perilaku terkait autisme meskipun studi

telah meneliti manfaat potensial dari beberapa gejala autisme

dengan obat-obatan tertentu, terutama perilaku repetitif

(gerakan yang tidak ada tujuan) yang sering terlihat. Obat

Risperidone dan aripiprazole saat ini satu-satunya obat yang

telah disetujui oleh food and drug administration (FDA).

2.4.1.3 Terapi Wicara

Terapi wicara adalah terapi bagi ABK, bagi anak yang

mengalami kelambatan, kesulitan bicara, atau kesulitan

berkomunikasi. Terapi ini dilakukan dengan mengajarkan

atau memperbaiki kemampuan agar anak dapat

berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional

sehingga kemampuan anak dalam berkomunikasi dapat

meningkat lebih baik.


55

2.4.1.4 Terapi Sensori Integritas

Terapi sensori integritas adalah terapi bagi ABK yang

bertujuan melatih dan mengembangkan reaksi adaptif

terhadap beberapa input sehingga pada akhirnya anak dapat

mengintegrasikan input tersebut, mengolah dan mengartikan

seluruh rangsangan sensoris yang diterima dari tubuh maupun

lingkungan, dan kemudian menghasilkan respon yang

tearahdan membangkitkan kemampuan untuk mengolah

rangsangan sensoris yang diterima aktivitas fisik yang

terarah, bisa menimbulkan respon yang adaptif yang makin

kompleks. Terapi sensori integritas bertujuan meningkatkan

kematangan susunan saraf pusat sehingga ia mampu untuk

memperbaiki struktur dan fungsinya.

2.4.1.5 Terapi Okupasi

Terapi okupasi berasal dari kata occupational yang

berarti ‘aktivitas’ dan therapy adalah proses penyembuhan

melalui aktivitas. Aktivitas yang dikerjakan tidak sekedar

membuat sibuk ABK, tetapi aktivitas fungsional yang

mengandung efek penting dan bermanfaat bagi ABK.

Artinya, aktivitas yang berlangsung diaplikasikan dalam

kehidupan sehingga ABK dapat mandiri mengerjakan

aktivitas sehari-hari. Menurut Maulana (2010) anak-anak

perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu


56

menguatkan, memperbaiki koordinasi, dan membuat otot

halusnya bisa terampil.

2.5 Metode ABA

2.5.1 Definisi ABA (Applied Behaviour Analysis)

Applied Behaviour Analysis (ABA) adalah ilmu terapan yang

menggunakan prosedur perubahan perilaku, untuk mengajarkan

seseorang agar menguasai berbagai kemampuan atau aktivitas dengan

ukuran nilai-nilai atau standar yang ada di masyarakat (Mulyadi &

Sutadi 2014). Tujuan dasar ABA adalah membentuk perilaku yang

lebih dapat diterima lingkungan sosial dan mengurangi perilaku yang

bermasalah. Terdapat berbagai metode pembelajaran untuk anak

berkebutuhan khusus salah satunya metode Applied Behaviour

Analysis. Metode pembelajaran ABA merupakan salah satu metode

untuk membangun kemampuan yang secara sosial bermanfaat dan

mengurangi atau menghilangkan hal-hal kebalikannya yang

merupakan masalah (Danuatmaja, Bony 2003; imadul 2013).

Metode ABA merupakan suatu metode yang banyak

digunakan dalam pembelajaran dan terapi bagi anak autis untuk

memberikan rangsangan perkembangan sensorik, motorik, sikap dan

perilaku sehingga komunikasi, interaksi sosial, sikap, perilaku dan

emosional dapat berkembang (Ryan2011; Prabowo & Utami et al

2014).
57

Dasar-dasar ABA sudah dikembangkan sejak lebih dari satu

abad yang lalu, dan melalui berbagai penelitian yang luas dan begitu

banyak. Penerapan ABA bagi anak-anak autistik, pertama kali

dilakukan oleh Lovaas (meninggal dunia pada 2 Agustus 2010) pada

tahun 1962 (Mulyadi & Sutadi, 2014).

Publikasi monumental ini menyebabkan Metode ABA dikenal

juga sebagai Metode Lovaas. Sejak itu sampai sekarang, tehnik-tehnik

maupun kurikulum ABA bagi anak autistik telah dikembangkan para

ahli maupun praktisi ABA, melalui berbagai penelitian dan penerapan,

sehingga membuahkan hasil yang mengagumkan dalam terapi

autisme.bentuk terapi yang terbukti mampu memperbaiki keadaan

autistik adalah penggunaan Metode ABA. Metode ini merupakan

suatu bentuk modifikasi perilaku, yang pelaksanaannya bersifat

praktis.sejak awal ’60-an, berbagai penelitian ekstensi membuktikan

efektivitas Metode ABA ini terhadap anak-anak autistik.Dimulai pada

tahun 1967, Lovaas dan kawan-kawan berhasil mempublikasikannya

suatu studi Komprehensif, yang memperlihatkan bahwa Metode ABA

sangat efektif untuk terapi anak-anak autistik, terutama dalam

mengurangi perilaku yang bersifat merusak seperti tantrum, melukai

diri-sendiri, stimulasi-diri dan lain-lain (Mulyadi &Sutadi, 2014).

ABA juga menunjukan efektivitasnya yang tinggi dalam

meningkatkan kemampuan berkomunikasi, sosialiasi, bermain dan

aktivitas bantu-diri anak autistik. Ketika pada tahun 1982 Ivar O.


58

Lovaas melaksanakan program Terapi Intensif dengan Metode ABA

terhadap anak autistik berumur kurang dari 4 tahun, terbukti

menunjukan tingkat keberhasilan sampai 89%, yang 47% benar-benar

mampu masuk mainstreaming (benar-benar sembuh) dan yang 42%

mencapai berbagai tingkat atau inklusi (Mulyadi & Sutadi, 2014).

Penatalaksanaan dengan Metode ABA ini, membuktikan

adanya perbaikan yang bersifat menetap, artinya tidak akan

menunjukan kekambuhan, maupun penampakan gejala-gejala

sisa.Terapi dengan Metode ABA, Lovaas menyarankan perlu tingkat

intensitas yang tinggi.penelitiannya ditahun 1987 terhadap 19 orang

anak autistik dengan Terapi ABA 40 jam per-minggu selama 2 tahun,

maka pada anak-anak itu didapatkan peningkatan IQ (Intelligence

Quotient) yang demikian besar. Anak-anak autistik dengan tindakan

serupa selama 10 jam per-minggu dalam jangka waktu yang sama,

tidak menunjukan perbaikan yang berarti (Mulyadi &Sutadi, 2014).

ABA terdiri dari 3 kata, yaitu Applied yang berarti terapam,

Behavior yang berarti perilaku, sedangkan Analysis memiliki

pengertian mengurai atau memecah menjadi bagian-bagian kecil,

mempelajari bagian-bagian tersebut, melakukan dan memodifikasi.

Ketiga kata tersebut ABA dapat diartikan sebagai ilmu terapan yang

mengurai, mempelajari dan memodifikasi perilaku (Mulyadi &Sutadi,

2014).
59

Menurut (Kingley 2006; Yanti 2010), Metode ABA sangat

representatif untuk menangani permasalahan anak berkebutuhan

khusus misalnya anak autis karena memiliki prinsip yang sistematik,

terstruktur dan terukur sehingga dapat meningkatkan keterampilan

motorik halus, motorik kasar, komunikasi dan kemampuan

bersosialisasi. Dasar metode ini adalah menggunakan pendekatan teori

behavioral dimana tahap penanganan awal ditekankan pada

kepatuhan, keterampilan anak dalam meniru dan mengembangkan

kontak mata. Metode ABA lebih berhasil daripada terapi lain bagi

anak autis karena memiliki metode yang sangat terstruktur, terukur

dan sistematis (Purnamasari 2015; Rinza 2016).

Terapi ini mengajarkan anak mulai dari materi mengikuti

tugas, kemampuan imitasi, kemampuan kognitif, kemampuan bahasa

reseptif, kemampuan bahasa ekspresif, kemampuan akademik dan

kemandirian serta bersosialisasi. Keberhasilan terapi tergantung pada

kegiatan selama terapi dilakukan dengan sungguh-sungguh atau tidak.

Jika pelaksanaan terapi kurang tepat, hasilnya akan mengecewakan

sehingga merugikan anak karena waktu terbuang percuma (Kosasih

2012; Utina 2014).


60

2.5.2 Prinsip Terapi ABA

Menurut (Handojo 2009; Rinza 2016), menyatakan bahwa prinsip

dasar Metode ABA merupakan cara pendekatan dan penyampaian materi

kepada anak yang harus dilakukan melalui :

2.5.2.1 Menjaga kontak mata yang lama dan konsisten.

2.5.2.2 Tegas yaitu instruksi yang diberikan oleh terapis tidak boleh ditawar

oleh anak

2.5.2.3 Tanpa kekerasan, yaitu terapis tidak boleh semena-mena, harus

menyayangi anak namun tidak boleh memanjakannya.

2.5.2.4 Adanya prompt (bantuan atau arahan) yang diberikan secara tegas

tapi lembut.

2.5.2.5 Apresiasi anak dengan reinforcement (Penguat) yang efektif untuk

meningkatkan motivasi anak. Reward (Imbalan) dapat berupa

imbalan taktil yaitu pelukan, ciuman, tepukan dan elusan.

2.5.3 Teknik Dasar Pelaksanaan Metode ABA

Menurut (Handojo 2009; Rinza 2016), menyatakan beberapa dasar

mengenai teknik dasar dalam pelaksanaan Metode ABA. Beberapa teknik

yang termasuk dalam ABA adalah Shaping, Task Analysis, Chaining,

Reinforcement, Fading, Discrate Trial Redirection, Prompting, Ignoring

(Ekalitani 2015; Ariyanti 2016).

2.5.3.1 Kepatuhan (compliance) dan kontak mata adalah kunci masuk ke

Metode ABA.
61

2.5.3.2 One on one adalah satu terapis untuk satu anak, bila perlu dapat

dipakai terapis pendamping sebagai promter (pemberi prompt)

(Ariyanti, 2016).

2.5.3.3 Siklus DTT (discrate trial training) yang dimulai dari instruksi dan

diakhiri dengan imbalan (reinforcement). Tiga kali instruksi dengan

pemberian tenggang waktu 3-5 detik pada intruksi ke-1 dan ke-2.

Tabel 2.1 Siklus Discrate Trial Training

Tahan instruksi Waktu


Instruksi 1 Tunggu 3-5 detik, bila respon tidak ada,
Lanjutkan
Instruksi 2 Tunggu 3-5 detik, bila respon tidak ada,
Lanjutkan
Instruksi 3 Langsung lakukan prompt atau imbalan

Contoh Siklus Discrate Trial Training sebagai berikut :

a. Untuk merespon yang BENAR; A- bila instruksi yang diberikan,

yaitu “tepuk tangan;” B- anak menepuk tangannya; C-terapis

berkata “BAGUS” sebagai imbalan positif.

b. Untuk respon yang SALAH; A-bila instruksi diberikan, yaitu

“tepuk tangan;” B-anak melambaikan tangannya; maka C-terapis

berkata “TIDAK”.

c. Tidak ada respon; A-bila instruksi diberikan, yaitu: “tepuk

tangan;” B-anak tidak mengerjakan apa-apa; maka C-terapis


62

akan mengatakan “LIHAT” atau “DENGAR” (prompt atau

bantuan).

2.5.3.4 Fading adalah mengarahkan anak ke perilaku target dengan Prompt

penuh dan makin lama prompt makin dikurangi secara bertahap

sampai akhirnya anak mampu melakukan tanpa prompt.

2.5.3.5 Shaping adalah mengajarkan suatu perilaku melalui tahap-tahap

pembentukan yang semakin mendekati perilaku respon yang dituju

yaitu perilaku target.

2.5.3.6 Chaining adalah mengajarkan suatu perilaku yang kompleks yang

menjadi aktivitas-aktivitas kecil yang disusun menjadi suatu

rangkai atau untaian secara berurutan. Aktivitas tersebut misalnya

menggunakan kaos yang dipecah menjadi memegang kaos,

meletakkan kaos di atas kepala, memasukan kepala melalui lobang

kaos, memasukkan satu tangan, memasukkan tangan yang lain,

menarik kaos setinggi dada dan menarik kaos sampai di pinggang.

2.5.3.7 Discrimination training adalah tahap identifikasi item dimana

disediakan item pembanding, kemudian diacak tempatnya sampai

anak benar-benar mampu membedakan mana item yang harus

diidentifikasi sesuai instruksi.

2.5.3.8 Mengajarkan konsep warna, bentuk, angka, huruf dan lain-lain.

Pelaksanaan Metode ABA pada intinya adalah perilaku yang

berlebihan dikurangi dan perilaku yang kurang (belum ada)


63

ditambah. Teknik dasar pelaksanaan Metode ABA adalah

terstruktur, tearah dan terukur (Suryawati,2010).

2.5.4. Tujuan Terapi ABA

Menurut Muslimah (2008) dalam bukunya yang berjudul “Terapi

ABA Anak Autisme” mengatakan bahwa terapi ABA bertujuan

meningkatkan atau menurunkan perilaku yang tidak sesuai dan

mengajarkan perilaku-perilaku yang baru (Astutik, 2010). Metode ABA

memiliki beberapa tujuan untuk anak dengan kebutuhan khusus, antara

lain (Haryana 2012; Mutdasir et al 2016) :

2.5.4.1 Untuk meningkatkan perilaku. Prosedur reinforcement atau

pemberian hadiah meningkatkan perilaku untuk mengerjakan

tugas, atau interaksi sosial.

2.5.4.2 Untuk mengajarkan keterampilan baru. Instruksi sistematis dan

prosedur reinforcement mengajarkan keterampilan hidup

fungsional, keterampilan komunikasi atau keterampilan sosial.

2.5.4.3 Untuk mempertahankan perilaku. Mengajarkan pengendalian diri

dan prosedur pemantauan diri dan menggeneralisasikan pekerjaan

yang berkaitan dengan keterampilan sosial.

2.5.4.4 Untuk mengeneralisasi atau mentransfer perilaku atau respon dari

suatu situasi ke situasi lain, misalnya selain dapat menyelesaikan

tugas di ruang terapi anak juga dapat mengerjakannya di ruang

kelas.
64

2.5.4.5 Untuk mengurangi perilaku pengganggu, misalnya menyakiti diri

sendiri atau stereotipik. Menurut (Handojo 2009; Rinza 2016),

mengatakan bahwa Metode ABA memiliki beberapa tujuan untuk

anak dengan kebutuhan khusus, misalnya pada anak autis antara

lain :

2.5.4.6 Komunikasi dua arah yang aktif

Diharapkan anak mampu menjawab saat ditanya dan mampu

berinisiatif untuk memulai percakapan. Tujuan ini harus selalu

diingat, sehinggga kemampuan anak terus dapat ditingkatkan

sampai mendekati kemampuan orang yang normal.

2.5.4.7 Sosialisasi kedalam lingkungan yang umum

Anak mampu berkomunikasi dan tidak hanya mampu menjalin

hubungan sosial dalam lingkungan keluarga saja, sehingga anak

akan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Contoh terapis mengajarkan anak untuk bergaul dengan sesama

teman.

2.5.4.8 Menghilangkan atau meminimalkan perilaku meningkatkan atau

menurunkan perilaku tertentu meningkatkan kualitasnya,

menghentikan perilaku yang aneh. Perilaku yang tidak wajar atau

aneh perlu segera dihilangkan sebelum usia 5 tahun agar tidak

mengganggu kehidupan sosial anak setelah dewasa. Pada usia

yang balita, perilaku aneh yang ringan masih dianggap wajar dan

tidak menarik perhatian, misalnya mencium makanan sebelum


65

dimakan, memainkan tangan seperti melambai dan sebagainya.

Namun bila perilaku ini menetap terus sampai usia yang lebih tua,

tidak mustahil menetap sampai dewasa.

2.5.4.9 Mengajarkan materi akademik

Kemampuan akademik sangat bergantung pada intelegensia atau

IQ anak. Apabila IQ anak memang tidak termasuk di bawah

normal, maka kemampuan akademiknya tidak sulit untuk

dikembangkan.

2.4.5.0 Kemampan kemandirian dan keterampilan lain

Kemampuan ini adalah kemampuan yang juga diperlukan bagi

setiap individu agar dalam hal-hal yang bersifat privacy maupun

dikerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain, seperti makan,

minum, memasang dan melepas pakaian, gosok gigi, toilet-

training dan sebagainya dapat diajarkan secara terus-menerus

sampai anak benar-benar mampu menguasainya.

2.5.5 Dimensi ABA

Terapi ABA merupakan suatu bentuk modifikasi perilaku melalui

pendekatan perilaku secara langsung dengan lebih memfokuskan pada

perubahan secara spesifik (Purnamasari 2015; Rinza 2016). Menurut Lovaas

1970 dimensi terapi ABA terdiri dari tujuh, yaitu :


66

2.5.5.1 Mengikuti Tugas

Anak dilatih untuk mengikuti tugas yang diberikan sesuai

kurikulum. Sasaran utamanya agar anak patuh pada instruksi terapis.

Anak telah patuh pada instruksi, maka lebih mudah untuk mengajarkan

keterampilan lainnya. Tujuan dari materi ini agar anak mampu

mengikuti semua materi yang akan diberikan. Dalam proses ini anak

autis melatih interaksi sosial melalui komunikasi 2 arah yang aktif.

2.5.5.2 Imitasi (Meniru)

Pada saat anak diminta untuk meniru, tidak ada muncul

perkataan apapun dari terapis selain tiru dan lakukan. Anak dituntut

untuk melakukan seperti yang dicontohkan. Tujuan dari materi ini

adalah mengajarkan kepada anak mengenai respon terhadap objek dan

kesadaran. Interaksi sosial dilatih melalui perilaku meniru kegiatan

lingkungan sosial.

2.5.5.3 Bahasa Reseptif (Kognitif)

Reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi

terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya,mengerti

maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-

kata.Kemampuan bahasa reseptif atau kognitif dimulai dengan

mengenalkan berbagai benda yang ada disekitar anak. Mulai dari

mengenal anggota tubuh, anggota keluarga, penggunaan kata kerja, dan

lain-lain. Tujuan dari materi ini adalah agar anak dapat mengidentifikasi

objek-objek yang ada disekitarnya. Bila anak dapat mengidentifikasi


67

objek di sekitarnya, maka semakin mudah mensosialisasikan dirinya ke

lingkungan umum.

2.5.5.4 Bahasa Ekspresif

Ekspresif adalah kemampuan anak mengutarakan pikirannya,

dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara),

komunikasi dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya dengan

menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.Kemampuan bahasa

ekspresif dilatih bila anak memiliki kemampuan bahasa kognitif.

Kemampuan bahasa ekspresif diajarkan dengan tidak memberikan

contoh lagi. Anak diajarkan untuk peka terhadap lingkungan dengan

diajarkan saling menyapa dan memberi salam sesuai waktu. Anak juga

diajarkan untuk duduk tenang agak lama, agar anak tidak mendapat

masalah di sekolah. Tujuan dari materi ini adalah melatih anak untuk

berkomunikasi dua arah yang aktif serta peka terhadap lingkungan

sosialnya.

2.5.5.5 Kemampuan Akademik

Anak di latih kemampuan akademiknya dengan cara

mencocokkan, menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri,

identifikasi warna dan menghafal angka. Tujuan dari materi ini

mempersiapkan anak menghadapi bangku sekolah. Jika anak autis

kemampuan akademiknya meningkat, ia tidak akan mengganggu

teman-temannya dikelas saat pelajaran berlangsung sehingga hubungan

sosialnya meningkat dan tidak dikucilkan.


68

2.5.5.6 Bantu Diri

Dalam bantu diri, anak diajarkan untuk memenuhi kebutuhan

dasar sehari-hari seperti makan, minum, toilet training, dan lain-lain.

Tujuan dari materi ini untuk mengajarkan kepada anak mengenai

kemandirian sehingga tidak tergantung pada lingkungan sosialnya.

2.5.5.7 Sosialisasi

Materi terapi yang diberikan pada setiap anak berbeda-beda

tergantung kondisi anak. Ketika anak telah berhasil menguasai materi

melalui perintah yang diberikan oleh terapis, terjadi suatu proses

pembiasaan dalam diri anak untuk melatih interaksi sosial dengan

sesamanya. Terapis mengajarkan pada anak bagaimana bersosialisasi

dengan teman sebayanya. Tujuannya kelak anak akan mengerti

bagaimana seharusnya ia bersikap di dalam lingkungan sosialnya.

2.5.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terapi ABA

Faktor-faktor yang mempengaruhi terapi ABA adalah instruksi,

prompt, dan reinforcement (Purnamasari 2015; Rinza 2016) :

2.5.6.1 Instruksi

Intruksi adalah kata-kata perintah yang diberikan kepada anak pada

suatu proses terapi (pembelajaran). Instruksi kepada anak harus

singkat, jelas, tegas, tuntas dan sama. Suatu instruksi harus cukup

jelas sehingga volume suara perlu disesuaikan dengan respon

seorang anak, namun jangan membentak atau menjerit.


69

a. Singkat

Cukup 2-3 suku kata, jangan terlalu panjang karena tidak akan

dapat ditangkap atau dimengerti anak terutama yang anak

autis.

b. Jelas

Setiap instruksi yang diberikan harus jelas maksudnya,

sehingga tidak membingungkan anak.

c. Tegas

Instruksi tidak boleh ditawar oleh anak dan terapis tidak boleh

semena-mena, harus menyayangi anak namun tidak

memanjakan.

d. Tuntas

Setiap instruksi harus dilaksanakan sampai selesai, jangan

setengah jalan.

e. Sama

Instruksi harus sama, siapapun yang memberikan apakah itu

dari orang tua, guru ataupun terapis.

2.5.6.2 Prompt (Bantuan)

Prompt adalah arahan atau bantuan yang diberikan kepada anak

apabila anak tidak memberikan respon terhadap instruksi. Prompt

yang bisa diberikan kepada ABK antara lain :


70

a. Fisik

Secara fisik si anak dibantu untuk merespon dengan benar.

b. Model

Anak diberi contoh agar dapat meniru dengan benar.

c. Verbal

Megucapkan kata yang benar untuk ditiru atau menjelaskan apa

yang harus dikerjakan oleh si anak, atau menanyakan misalnya,

apa lagi ?.

d. Gestural (bahasa tubuh)

Secara isyarat dengan, menunjuk, melirik, ataupun

menggerakkan kepala.

e. Posisional

Melakukan apa yang diminta lebih dekat dengan si anak dari

benda-benda yang lainnya yang kita minta untuk

membedakannya.

prompt diberikan saat si anak tidak bisa mengerjakan

atau memberi respons (Contohnya bila mengerjakan sesuatu

yang baru). Sebagai aturan yang umum, prompt dengan

seketika ditunjukan setelah perintah diberikan. Gunakanlah

prompt sedikit mungkin dan seperlunya, dan hilangkan secepat

mungkin agar si anak tidak tergantung pada bantuan tersebut.


71

2.5.6.3 Reinforcement dan Reward

Reinforcement(penguat) atau reward (imbalan) adalah imbalan

hadiah atau penguat suatu perilaku agar anak mau melakukan terus

dan menjadi mengerti pada konsepnya. Reinforcement positif akan

berbentuk pujian, pelukan, elusan. Makanan dan minuman dapat

dijadikan Reinforcement, maupun aktivitas yang menyenangkan

seperti menyanyi dan menempelkan gambar-gambar. Reinforcement

dapat berbentuk apa saja asalkan itu adalah sesuatu yang disenangi

oleh anak dan ia akan berperilaku lebih baik untuk mendapatkannya.

Menurut Baihaqi dan Sugiarman, ada beberapa imbalan yang dapat

diberikan kepada anak autis (Purnamasari2015; Rinza 2016), yaitu :

a. Komentar positif

b. Perangko, stiker, buku dan pulpen

c. Piagam dan sertifikat

d. Membawanya keluar kelas agar rileks

e. Memberikan waktu bebas

f. Membebaskan pilihan beragam media atau permainan suatu

imbalan dapat dikurangi sedikit demi sedikit dan dihilangkan bila

perilaku yang diinginkan telah terbentuk (menurut instruksi).

2.5.6.4 Achieved

Achieved adalah bila anak merespon suatu instruksi dari terapis.


72

2.5.6.5 Mastered

Mastered diberikan apabila anak berhasil merspon dengan benar tiga

instruksi pertama secara berturut-turut.

2.5.6.6 Maintenance

Maintenance merupakan tahapan program setalah anak mampu

menguasai suatu instruksi. Untuk memelihara yang sudah dapat

dikerjakan, dengan mengulang sekali-kali.

2.5.7 Kurikulum ABA (Applied Behavior Analysis)

Tahapan terapi yang berdasarkan kurikulum ABA, menurut Autism

Society of America, (dalam Yanto, 2011). Kurikulum ini terdiri dari :

2.5.7.1 Kurikulum ABA Tahap Awal

Tabel 2.2 Kurikulum ABA Tahap Awal (Beginner)


Jenis kemampuan Keterangan
Attending Skill Sits independently , eye contact.
(dapat duduk secara mandiri, terdapat
kontak mata dengan orang lain)
Imitation Skill Gross, fine and oral motor skills.
(kemampuan bersuara dengan jelas,
kemampuan motorik kasar yang baik,
gerakan motorik mulut dengan baik)
Receptive Language Skill Body parts, identification, one step
instruction.
(bisa mengenali anggota tubuh, mampu
mengerjakan satu langkah perintah )
Expresive Language Skill Imitates sounds, labelling yes or no,
greeting, answers simple quertion.
(menirukan suara, menamai sesuatu,
menjawab iya atau tidak dan menjawab
pertanyaan sederhana)
73

Pre-Academic Skill Matching, Complete activities


independently, counting and identifies
shapes,colour, and letter.
(mencocokan, mengerjakan secara benar
dengan mandiri, menghitung dan
mengenali bentuk, warna juga huruf)
Self-help Skill Get undressed independently, eats,
indenpendently,toilet trining.
(membuka baju sendiri, makan dengan
mandiri, mengerjakan aktivitas toilet
sendiri)

Kurikulum ABA Tahap Menengah (Intermediate)


Attending Skill Sustains eye contact, respons to name.
(belajar menjaga kontak mata, menjawab
dan menyebutkan sesuatu)
Imitation Skill Imitates sequences, copies simple
drawing, pairs action with sounds.
(meniru dan mengikuti gambar
sederhana, mencocokan tindakan dengan
suara)
Receptive Language Two-step instruction, identifies attributes,
Skill pretends, identifies categories, pronouns,
propositions, emotions, gender.
(melakukan instruksi dua langkah,
mengenal ciri, diri sendiri, mengenal
kategori, mengenal kata ganti,
pernyataan, emosi dan jenis kelamin)
Expresive Language Skill Two and three word phrases, request
desired items, labels according to
function, simple sentences, reciprocates
information, ask ‘why’, ‘when’, ‘ where’
etc.
(menguasai dua dan tiga frase,
kalimatpermintaan, menamai benda
menurut fungsinya, berbicara dengan
kalimat sederhana, saling memberi
informasi, bertanya ‘mengapa’, ‘kapan’,
‘di mana’ dan lain-lain)
Pre-Academic Skill Matches by category, gives specifies
quantity of items, uppercase or lowercase
letters, more or less, simple worksheets,
copies letter and numbers, writes name,
cuts with scissors, colors within a
boundary.
74

(mencocokkan benda berdasarkan


kategori, memberi sejumlah barang
spesifik, belajar huruf besar dan kecil,
belajar mengenai lebih atau kurang, tabel
sederhana, menyalin huruf dan angka,
menulis nama, menggunting,
mewarnai di dalam garis)
Self-help Skill Get dressed independently, puts on shoes,
puts on coat, self-initiates toileting.
(belajar memakaibaju sendiri, memakai
sepatu, mengenakan jashujan dan
berkegiatan toilet dengan mandiri)

Kurikulum ABA Tahap Lanjut (Advanced)


Attending Skill Maintains eye contact during
conversation and group instruction.
(belajar menjaga kontak mata selama
terjadi percakapan dan mendengarkan
sejumlah pertanyaan)
Imitation Skill Complex sequencing, peer play, verbal
responses to peers.
(belajar menirukan perkataan yang
beruntun dan kompleks, bermain dengan
teman, menjawab dengan kata-kata pada
temantemannya)
Receptive Language Skill Three-step instructions, same/different,
identifies what doesn’t belong,
plural/singular, understanding
“ask…”versus “tell…”.
(menuruti perintah 3 tahap, memahami
Persamaan/perbedaan, mengenal apa
yang tidak cocok, jamak/tunggal,
mengerti “bertanya…” dan
“mengucapkan…”)
Expresive Language Skill Utilizes “I don’t know”, retell story,
recall past events, ask for
clarification,advanced possesive
pronouns, verb tense, asserts knowledge.
(memahami penggunaan kata “Saya tidak
tahu”, menceritakan ulang cerita,
menceritakan apa yang pernah terjadi,
meminta klarifikasi, menguasai kata
ganti pemilik, kalimat kerja, pemahaman
pernyataan)
75

Abstract Language Predict outcomes, take another’s


perspective, provides explanations.
(mampu mengerti hasil dari perkiraan,
meminta perspektif orang lain,
menyediakan penjelasan)
Academic Skill Complete patterns, reading, names letter
sounds, consonants, spelling, states word
meaning, simple synonyms, ordinal
numbers, identifies rhyming words,
writes simple words from memory, add
single-digit number.
(membuat pola utuh, membaca,
menyebutkan suara huruf, mengeja,
menyatakan makna kata, persamaan kata
sederhana)
Social Skill Follow directions from peers, answers
questions from pers, responds to play
statements to peers, offers and accepts
peer assistance.
(mengikuti petunjuk dari orang sekitar
menjawab pertanyaan)
School Readiness Wait turns, demonstrates new responses
through observation, follow group
instruction, sing nursery rhymes, answer
when called on, raises hand, story-time,
show and tell.
(menunggu, mendemonstrasikan
tanggapan baru melalui observasi
sbeelumnya)
Self-help Skill Brushes teeth, zippers, buttons, snaps.
(menyikat gigi, meresleting,
mengancing)

Sumber: Autism Society of America

2.6 Konsep tentang Guru Sekolah Luar Biasa (SLB)

2.6.1 Definisi Guru

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun

2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,


76

mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar

dan pendidikan menengah. Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 1, yang

menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang

berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,

widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai

dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan

pendidikan.

Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pada Pasal 5 ayat (2)

dan pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa warga negara yang memiliki

kelainan fisik, emosional, mental, intelektual atau sosial berhak

memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan khusus merupakan

pendidik bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam

mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,

mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Secara yuridis formal anak luar biasa memiliki hak yang sama untuk

mendapatkan pendidikan.

Menurut (Syaiful 2010; Awalia 2014), guru adalah semua orang

yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbang dan

membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, disekolah

maupun diluar sekolah. Dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus


77

(ABK) dibutuhkan pendidik atau guru yang berlatarbelakang

pendidikan khusus yang memegang peranan penting, yang bukan hanya

menyampaikan materi saja tetapi juga sebagai pendidik yang juga

mampu mengembangkan pembelajaran degan melandasai dan

menanamkan nilai-nilai pendidikan (Hidayatullah 2010; Wahyudi

2016).

Tanggung jawab pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di

sekolah luar biasa (SLB) terletak ditangan pendidik, yaitu guru SLB.

Guru pendidikan luar biasa merupakan salah satu komponen pendidikan

yang secara langsung mempengaruhi tingkat keberhasilan anak

berkebutuhan khusus dalam menempuh perkembangannya (Ineupuspita

2008; Raharjaningtyas et al 2013). Seorang guru SLB dalam

meningkatkan kinerjanya perlu memahami dan memiliki kompetensi

dasar sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan dapat dicapai

sekolah (Ineupuspita 2008; Raharjaningtyas et al 2013).

Menurut Suharsaputra (2012) pekerjaan sebagai guru tidak bisa

dilakukan oleh sembarang orang, karena guru merupakan profesi yang

memerlukan kualifikasi pendidikan, kompetensi, komitmen dan

wawasan tertentu. Melaksanakan peran dan tugasnya guru dituntut

untuk dapat mengembangkan pembelajaran melalui perubahan ke arah

yang lebih kreatif dan inovatif. Kinerja guru yang kreatif dan inovatif

dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik akan menentukan

keberhasilan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.


78

Tugas guru bukan hanya memberikan pengetahuan, melainkan juga

secara kreatif mempersiapkan situasi yang menggiring siswa untuk

bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta

dan konsep sendiri.

Prinsip dasar dari pendidikan inklusi adalah semua anak belajar

bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang

mungkin ada pada mereka. Setiap anak dapat diterima menjadi bagian

dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman

sebayanya maupun anggota masyarakat lain sehingga kebutuhan

individualnya dapat terpenuhi, dan juga setiap orang memiliki hak yang

sama untuk memperoleh manfaat maksimal dari pendidikan (Yani

&Triswara 2013; Febriani 2014).

Menurut Dinas Pendidikan Nasional (2004), Kompetensi guru

SLB mencakup tiga kemampuan yaitu pertama kemampuan umum

(general ability), kedua kemampuan dasar (basic ability), ketiga

kemampuan khusus (specific ability).

2.6.1.1 Kemampuan Umum (General Ability)

1) Memiliki ciri warga negara yang religius dan

berkepribadian.

2) Memiliki sikap dan kemampuan mengaktualisasikan diri

sebagai warga negara.

3) Memiliki sikap dan kemampuan mengembangkan profesi

sesuai dengan pandangan hidup bangsa.


79

4) Memahami konsep dasar kurikulum dan cara

pengembangannya.

5) Memahami disain pembelajaran kelompok dan individual.

6) Mampu bekerjasama dengan profesi lain dalam

melaksanakan dan mengembangkan profesinya.

2.6.1.2 Kemampuan Dasar (Basic Ability)

1) Memahami dan mampu mengidentifikasi anak luar biasa.

2) Memahami konsep dan mampu mengembangkan alat asesmen

serta melakukan asesmen anak berkelainan.

3) Mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi

pembelajaran bagi anak berkelainan.

4) Mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi

program bimbingan dan konseling anak berkelainan.

5) Mampu melaksanakan manajemen Pendidikan Luar Biasa

(PLB)

6) Mampu mengembangkan kurikulum PLB sesuai dengan

kemampuan dan kebutuhan anak berkelainan serta dinamika

masyarakat.

7) Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek medis dan

implikasinya terhadap penyelenggaraan PLB.

8) Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek psikologis dan

implikasinya terhadap penyelenggaraan PLB.


80

9) Mampu melakukan penelitian dan pengembangan di bidang

ke-PLB-an.

10) Memiliki sikap dan perilaku empati terhadap anak

berkelainan.

11) Memiliki sikap professional di bidang ke-PLB

12) Mampu merancang dan melaksanakan program kampanye

kepedulian PLB di masyarakat.

13) Mampu merancang program advokasi.

2.6.1.3 Kemampuan Khusus (Specific Ability)

Kemampuan khusus merupakan kemampuan keahlian

yang dipilih sesuai dengan minat masing-masing tenaga

kependidikan. Masing-masing guru memiliki satu kemampuan

khusus (spesific ability). Kemampuan tersebut adalah sebagai

berikut:

1) Mampu melakukan modifikasi perilaku.

2) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami gangguan penglihatan.

3) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami gangguan pendengaran atau komunikasi.

4) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami gangguan intelektual.

5) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami kelainan anggota tubuh dan gerakan.


81

6) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami gangguan perilaku dan sosial.

7) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak

yang mengalami kesulitan belajar.


82

2.7 Keaslian Penelitian


Keaslian penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.3 di
bawah ini :
Tabel 2.3 Keaslian Penelitian

NO Judul Penelitian Tahun Populasi/Sampel Hasil


1. Penerapan Metode 2010 Subjek penelitian Hasil analisa dan
ABA (Applied adalah siswa dan pembahasan hasil
Behaviour guru kela 1 SDLB penelitian maka
Analysis) Dengan Autis Harmony dapat disimpulkan
Media Kartu Surakarta sebagai bahwa penggunaan
Bergambar Dan berikut : Metode ABA
Benda Tiruan 1. Siswa kelas 1 (Applied Behaviour
Secara Simultan Autis sebanyak Analysis)dapat
Untuk 4 siswa yang meningkatkan
Meningkatkan terdiri : 2 siswa kemampuan
Pengenalan Angka putra dan 2 membaca permulaan
Pada Siswa Kelas siswi putri pada anak autis
II Di SLB Autis 2. Guru sebagai kelas I di SDLB
Harmony Surakarta kolaborator Autis Harmony
(Itsnaini Puji Surakarta tahun
Astutik, 2010). 2010. Hal ini dapat
dipahami dengan
memperhatikan nilai
kondisi awal
prestasi belajar
kemampuan
membaca permulaan
pada mata pelajaran
bahasa Indonesia
53. Pada siklus I
diketahui nilai
membaca permulaan
57. Pada siklus II
nilai membaca
permulaan rerata
kelas 70. Seluruh
siswa mendapat
nilai 60 atau lebih.
Sehingga ketuntasan
secara klasikal telah
mencapai 100%.
Berdasarkan data
tersebut maka secara
klasikal telah
83

mencapai
ketuntasan belajar.
2. Pengaruh Metode 2012 Populasi dalam Hasil penelitian
ABA (Applied penelitian ini menunjukan adanya
Behaviour adalah seluruh anak peningkatan
Analysis) : autis di SLB TPA kemampuan
Kemampuan Kabupaten Jember. interaksi sosisal
Bersosialisasi Jumlah populasi yaitu mayoritas
Terhadap pada penelitian ini responden memiliki
Kemampuan adalah 18 anak. kemampuan
Interaksi Sosisal Sampel pada interaksi sosial
Anak Autis di SLB penelitian ini dalam kategori
TPA (Taman adalah seluruh anak cukup setelah
Pendidikan dan autis di SLB TPA diberikan perlakuan
Asuhan) kabupaten Kabupaten Jember berupa Metode
Jember (Sisiliana yang akhirnya ABA : kemampuan
Rahmawati, 2012) berjumlah 15 anak bersosialisasi
karena ada anak selama 6 kali.
yang pindah Perbedaan
sekolah dan masuk kemampuan terlihat
dalam kriteria karena kemampuan
inklusi. interaksi sosial anak
autis sebelum
diberikan perlakuan
mayoritas memiliki
kemampuan
interaksi sosial
dalam kategori
kurang. Hasil yang
diperoleh setelah
perlakuan tersebut
menunjukan bahwa
Metode ABA:
Kemampuan
bersosialisasi
mampu membantu
anak autis dalam
mempelajari
keterampilan sosial
dasar seperti
mempertahankan
kontak mata, dan
dapat membantu
mengontrol masalah
perilalku.
84

3. Pengaruh Tehnik 2016 Responden terdiri Terjadinya


ABA (Applied dari 51 anak autis peningkatan tingkat
Behaviour (16 di Yayasan kemampuan
Analysis) Terhadap Anak Harapan dan motorik halus
Perkembangan 35 di Taman setelah
Motorik Halus Pelatihan Harapan) mendapatkan
Anak Autis (Fahrul intervensi selama 12
Rinja, 2016) kali, hal ini
disebabkan oleh
karena teknik terapi
ABA yang
diberikan
menerapkan prinsip
operant
conditioning yaitu
suatu bentuk belajar
yang menekankan
respon-respon atau
perilaku yang
dikontrol oleh
konsekuensi atau
akibat. Dalam teori
ini dikemukakan
bahwa organisme
cenderung akan
mengulangi perilaku
yang diikuti oleh
konsekuen atau
akibat yang
menyenangkan
(Rachmawati,
2012). Oleh karena
itu anak anak akan
mengalami apa yang
telah diajarkan
kepadanya apabila
selama proses
pembelajaran
tersebut anak
diberikan
Reinforcement jika
dia berhasil
melakukan kegiatan
dengan benar sesuai
dengan kemampuan
yang diajarkan.
85

4. Pengaruh Metode 2016 Populasi penelitian Penelitian ini dapat


Cognitive ini adalah pasien disimpulakan bahwa
Behaviour atau anak terdapat pengaruh
Treatment Applied berkebutuhan Metode Applied
Behavior Analysis khusus di Klinik Behaviour Analysis
(CBT ABA) Yamet Yogyakarta. (ABA) terhadap
Terhadap Jumlah pasien di kepatuhan anak
Kepatuhan Anak klinik tersebut berkebutuhan
Berkebutuhan adalah 20 anak khusus di Klinik
Khusus Di Klinik berkebutuhan Yamet Yogyakarta.
Yamet Yogyakarta khusus dengan Berdasarkan jenis
(Erna Ariyanti K, berbagai macam kelamin diketahui
2016). kondisi seperti : bahwa responden
Autism, Cerebral didominasi oleh
Palsy, Intellectual klien dengan jenis
Disability, Sensory kelamin laki-laki.
Integration Sedangkan
Disorder, Pervasive responden
Developmental terbanyak dalam
Disorder, penelitian ini
Hiperactive, Down mempunyai kondisi
Syndrome. atau diagnosis autis.
Sehubungan dengan
hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa
Metode Applied
Behavior Analysis
(ABA) mempunyai
peran yang sangat
besar dalam
meningkatkan
kepatuhan anak
berkebutuhan
khusus terutama
anak yang memiliki
gangguan perilaku.
86

2.8 Kerangka Teoritis

Anak berkebutuhan khusus (ABK) :


1. Tunarungu
2. Tunagrahita (retardasi mental)
3. Autis
4. Down Syndrome
5. Tunalaras (gangguan emosi dan perilaku),
6. Tunadaksa (gangguan kelainan fisik)
7. Kesulitan belajar

Metode ABA Terapi Anak


(Applied Behaviour Berkebutuhan
Analysis) Khusus (ABK) :
berdasarkan : 1. Terapi
Pengetahuan guru Medikamentosa
1. Prinsip
SLB tentang Metode ABA 2. Terapi Perilaku
Metode ABA 2. Teknik dasar 3. Terapi Sensori
pelaksanaan Integritas
Metode ABA 4. Terapi Wicara
3. Tujuan terapi 5. Terapi Okupasi
ABA 6. ABA
4. Dimensi
ABA
5. Faktor yang
mempengaru
Keberhasilan terapi :
hi terapi
1. Peningkatan IQ
ABA (Intelligence
6. Kurikulum Quotient)
ABA 2. Meningkatkan
keterampilan
motorik halus
maupun kasar
Perilaku
3. Meningkatkan
mengajar guru di kemampuan
SLB komunikasi
4. Meningkatkan
kemampuan
bersosialisasi
87

Dilihat dari skema kerangka teori di atas menggambarkan anak

berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang

berbeda dengan anak pada umumnya seperti tunarungu, tunagrahita

(retardasi mental), autis, down syndrome, tunalaras (gangguan emosi dan

perilaku), tunadaksa (gangguan kelainan fisik), kesulitan belajar.Timbulnya

hal tersebut perlu segera dilakukan penanganan yang cepat dan tepat dengan

mendapatkan terapi baik farmakologis yaitu medikamentosa maupun non

farmakologis mencakup terapi perilaku, terapi sensoris integritas, terapi

wicara dan terapi okupasi. Terapi non farmakologis di atas dapat diberikan

melalui pendidikan khusus sekolah luar biasa oleh pendidik atau guru SLB.

Adapun tehnik pembelajaran yang diberikan kepada anak autisme atau anak

ABK lainnya dengan menggunakan terapi pendidikan khusus salah satunya

Metode Applied Behaviour Analysis (ABA).

ABA adalah ilmu terapan yang menggunakan prosedur perubahan

perilaku untuk mengajarkan seseorang agar menguasai berbagai

kemampuan atau aktivitas dengan ukuran nilai-nilai atau standar yang ada di

masyarakat. Tujuan dasar ABA adalah membentuk perilaku yang lebih

dapat diterima lingkungan sosial dan mengurangi perilaku yang bermasalah

seperti tantrum melukai diri-sendiri. Setelah pemberian terapi ABA

diharapkan anak dengan berkebutuhan khusus akan terjadi peningkatan IQ

(Intelligence Quotient), kemampuan komunikasi, kemampuan bersosialisasi,

dan keterampilan motorik halus maupun kasar.