Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Oksigen memiliki fungsi peran yang penting dalam proses pernapasan


dalam tubuh. Oksigen dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup
manusia. Kebutuhan akan oksigen sangat dipengaruhi oleh fungsi dari sistem
pernapasan seseorang, apabila fungsi tersebut baik maka oksigen dan
karbondioksida dapat bertukar secara normal, akan tetapi bila fungsi tersebut
mengalami gangguan, maka oksigen dan karbondioksida tidak dapat bertukar
secara normal dan mengalami gangguan. Pada saat seseorang anak mengalami
gangguan dalam bernapas atau ganguan dalam pemenuhan oksigen, bantuan terapi
oksigen sangat diperlukan. Kebutuhan oksigen pada setiap anak berbeda dengan
gangguan pernapasan yang berbeda pula. Mengenai oksigen yang diberikan
kepada pasien anak sama dengan pemberian oksigen pada orang dewasa akan
tetapi berbeda dari letak ukuran alat atau selang yang digunakan disesuaikan
berdasarkan ukuran sang anak.

Dan suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk


mempertahankan jalan nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses
pertukaran gas yang adekuat dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang
tidak mampu mengeluarkannya sendiri. ( Ignativicius, 1999 ). Suction adalah
suatu tindakan untuk membersihkan jalan nafas dengan memakai kateter
penghisap melalui nasotrakeal tube (NTT), orotraceal tube (OTT), traceostomy
tube (TT) pada saluran pernafasa bagian atas. Bertujuan untuk membebaskan jalan
nafas, mengurangi retensi sputum, merangsang batuk, mencegah terjadinya
infeksi paru.
Sedangkan pada terapi inhalasi adalah cara pengobatan dengan cara
memberi obat untuk dihirup agar dapat langsung masuk menuju paru-paru sebagai
organ sasarn obatnya. Terapi inhalasi adalah terapi dengan memanfaatkan uap
hasil dari kerja mesin nebulizer. Inhalasi sering digunakan pada anak-anak

1
dibawah usia 10 tahun. Batuk/pilek karena alergi dan asma adalah gangguan
saluran pernafasan yang paling umum terjadi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pemberian Oksigen pada Pasien Anak ?


2. Bagaimana Pemberian Suction pada Pasien Anak ?
3. Bagaimana Pemberian Nebulisasi pada Pasien Anak ?

1.3 Tujuan

1. Untuk Mengetahui Pemberian Oksigen pada Pasien Anak ?


2. Untuk Mengetahui Pemberian Suction pada Pasien Anak ?
3. Untuk Mengetahaui Pemberian Nebulisasi pada Pasien Anak ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PEMBERIAN OKSIGEN

2.1.1 Pengertian Oksigenasi

Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem


(kimia atau fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau
yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya
terbentuklah karbon dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan O2 yang
melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup
bermakna terhadap aktifitas sel. (wahit Iqbal mubarak, 2007).

Pemberian Oksigen merupakan tindakan keperawatan memberi oksigen


ke dalam paru melalui saluran napas dengan menggunakan alat bantu oksigen.
Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara, yaitu melalui kanula,
nasal, dan masker yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan
mencegah terjadinya hipoksia. Terapi oksigen merupakan suatu tindakan yang
dilakukan dengan cara memberikan oksigen lembab pada pasien dengan tujuan
memberikan oksigen ke dalam jaringan tubuh, mengatasi hipoksemia,
menurunkan kerja pernafasan, mengurangi kerja miokardium (Auliyati, 2008).

2.1.2 Indikasi Pemberian Terapi Oksigen

1. Pada kasus hipoksemia : Bayi dan anak anak : PaO2< 60 mmHg atau
SaO2<90% (udararuangan) Neonatus : PaO2< 50 mmHg atau SaO2 < 88%
2. Mencegah atau mengatasi hypoksia.
3. Penurunan PaCO2 dengan gejala dan tanda-tanda hypoksia : dyspnea,
tachypnea, gelisah, disorientasi, apatis, kesadaran menurun.
4. Keadaan lain : gagal nafas akut, shock, keracunan CO2

2.1.3 Metode Pemberian Oksigen

Pada prinsipnya, terapi oksigen pada neonates harus diberikan dengan


cara sesederhana mungkin dan fraksi insipirasi oksigen (FiO2) yang serendah

3
mungkin, namun tetap dapat mempertahankan nilai PaO2 dan SaO2 > 40 mmHg
dan > 88%, berturut-turut. Hal ini perlu diperhatikan mengingat pemberian
terapi oksigen pada neonatus tidak sepenuhnya aman, melainkan oksigen yang
diberikan dengan konsentrasi tinggi (100%) berhubungan dengan berbagai efek
samping dan toksisitas yang justru memperburuk kondisi neonatus. Pilihan
metode terapi bergantung pada berapa besar kandungan oksigen (FiO2) yang
dibutuhkan, tingkat kelembaban yang dibutuhkan, serta kebutuhan terapi
nebulisasi. Terdapat dua macam klasifikasi alat berdasarkan perbedaan
konsentrasi oksigen yang disuplai oleh alat dan yang masuk ke dalam paru.

Direkomendasikan pemberian terapi oksigen pada neonatus dapat


dialakukan dengan cara melalui :

1. Inkubator

Metode pemberian oksigen non-invasif dengan menggunakan incubator


memiliki beberapa keuntungan yaitu FiO2 aktual dapat ditentukan secara
tepat dengan oxygen analyser yang ditempatkan dekat mulut bayi. Tidak ada
peningkatan risiko obstruksi jalan napas oleh mukus. Tidak ada peningkatan
risiko terjadinya distensi lambung dan humidifikasi tidak diperlukan.

Inkubator menggunakan selang dengan aliran tinggi membutuhkan


waktu 10 menit untuk stabilisasi oksigen dan kadar O2 turun dengan cepat
bila tutupnya dibuka. Untuk neonatus, inkubator umumnya tidak disarankan

4
karena boros oksigen dan berpotensi untuk berbahaya (dari keracunan
karbon dioksida).

2. Headbox

Metode pemberian oksigen dengan headbox memberikan keuntungan


neonates mendapatkan konsentrasi oksigen yang stabil, perkembangan bayi
dapat diamati dan didapatkan akses yang luas dari tubuh neonates. Metode ini
direkomendasikan untuk neonates dengan kebutuhan FiO2 < 0,40. Penggunaan
headbox tidak membuat peningkatan risiko obstruksi jalan napas oleh mukus
dan risiko distensi lambung.

Namun penggunaan head box dapat mengakibatkan retensi CO2 yang


menyebabkan toksisitas karena laju aliran O2 tidak adekuat (penentuan laju
aliran terlalu rendah, selang terlipat/terlepas) sehingga diperlukan kecepatan
O2 yang tinggi. Aliran gas 2-3 L/menit diperlukan untuk mencegah rebreathing
CO2. Selain itu terkadang kotak di leher bayi terlalu ketat, adanya ntervensi
proses pemberian makan serta memerlukan aliran O2 yang tinggi sehingga
mahal dan boros. Kecepatan aliran yang sering digunakan 5 – 7 L/menit.
Kecepatan alitan yang > 7 L/menit meningkatkan kadar O2, berisik dan bayi
dapat muntah.

FiO2 estimasi pada head box :

Flow O2(L/min) FiO2(%)


4 43.7
5 50,7

5
6 58,7
7 64,7
8 67,8
9 68,7
10 72,5

3. Nasal kanul low flow

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen


kontinyu dengan aliran ≤ 2 liter/mnt (biasanya 0,5 L/mnt untuk neonatus)
dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44%.
Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Pada pemberian
oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada
pasien dengan pernafasan mulut.

FiO2 estimation :

Flow O2 (L/min) FiO2%


1 24
2 28
3 32
4 36
5 40
6 44

Keuntungan menggunakan nasal kanul adalah pemberian oksigen stabil


dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah
dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, neonatus bebas makan. Dapat
digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas melalui
mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai
efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen
yang diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung.

6
Kerugiannya tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari
44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah
lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada
pasien dengan obstruksi nasal. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang
digunakan, sebab pemberian flow rate yang lebih dari 4 liter tidak akan
menambah FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan
mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan
kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat 8,9,11.

4. Continous Positive Airway Pressure

Continous Positive Airway Pressure (CPAP) merupakan pemberian


tekanan positif untuk seluruh siklus respirasi neonates (inspirasi dan
ekspirasi) pada saat bernapas secara spontan. Sistem CPAP dengan regulator
digunakan melalui sebuah flow meter menuju masker dan diakhiri dengan
sebuah alat yang dapat mengukur tekanan antara 2,5 -20 cmH2O. Masker
dipasang pada wajah dengan menggunakan pengikat kepala. CPAP
merupakan terapi tambahan untuk terapi oksigen konvensional dan ventilasi
terkontrol. Penggunaannya dapat mengurangi kerja untuk bernapas,
mengeliminasi atau mengurangi hipoksia dan mencegah atelektasis. Pada
edema pulmoner, CPAP dapat meningkatkan kardiak output, walaupun pada
orang normal pemberian CPAP dapat mengurangi performa kardiak.8,7,2

Indikasi penggunaan nasal CPAP :

1. Neonatus preterm dengan respiratory distress syndrome ( RDS )

7
2. Neonatus dengan transient tachypnea of the newborn ( TTN )
3. Neonatus dengan meconium aspiration syndrome (MAS )
4. Neonatus preterm dengan apnea berulang dan bradikardi
5. Neonatus dengan paralisis diagfragma
6. Neonatus dalam proses transisi setelah pemakaian ventilator
7. Neonatus dengan penyakit saluran napas seperti trakeomalasia dan
bronkiolitis
8. Neonatus setelah menjalani operasi abdomen atau thorak

CPAP nasal disebut gagal bila tingkat FiO2 < 60%, PaCO2 > 60
mmHg, asidosis metabolik menetap, retraksi yang jelas saat terapi CPAP dan
sering terjadi episode apnea dan atau bradikardi sehingga segera gunakan
ventilator.

2.1.4 Kontraindikasi

Tidak ada kontraindikasi absolute

1. Kanul nasal : jika ada obstruksi nasal


2. Kateter nasofaringeal : jika terdapat fraktur basis crania, trauma
maksilofasial, dan obstruksi nasal

2.1.5 Rumus Pemberian Oksigen

MV = VTxRR
Keterangan :

MV = Minute Ventilation, udara yang masuk ke sistem pernapasan setiap


menit

VT = Volume Tidal, 6-8 ml/kg bb

RR = Respiration Rate

Misalnya : Berat Badan 50 kg, RR 30x/menit

8
MV= VTxRR

= (50 kg x (6-8 ml)) x 30

= 9000-12000 ml/mnt

= 9-12 L/menit

2.1.6 Prosedur Pemberian Oksigen

 Alat dan Bahan :


1. Tabung oksigen lengkap dengan flow meter dan humidifier
2. Kateter nasal, kanula dan masker
3. Vaselin/jeli
4. Sarung tangan

 Prosedur Kerja :
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Jelaskan prosedur yang dilakukan
4. Cek flow meter dan humidifier
5. Aktifkan tabung oksigen
6. Atur posisi anak dengan cara menempatkan anak diatas pangkuan,
semi fowler atau setengah duduk atau ditidurkan
7. Beri oksigen melalui kanula atau masker
8. Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak antara hidung dan
telinga setelah itu beri jeli dan masukan kateter
9. Tenangkan anak dan pastikan tindakan benar benar diperlukan
untuk membuat kondisi anak lebih baik
10. Puji anak atas kerja samanya
11. Lepaskan sarung tangan
12. Catat pemberian dan lakukan observasi
13. Cuci tangan

9
2.2 PEMBERIAN SUCTION (Pengisapan Lendir)

2.2.1 Pengertian Suction

Suction ( penghisap lendir ) merupakan tindakan penghisapan yang


bertujuan untuk mempertahankan jalan nafas, sehingga memungkinkan
terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara mengeluarkan
secret dari jalan nafas, pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri.
Suction merupakan suatu metode untuk mengeluarkan secret jalan nafas
dengan menggunakan alat via mulut, nasofaring, atau trakeal.

Suction adalah suatu cara untuk mengeluarkan secret dari saluran nafas
dengan menggunakan suction kateter yang dimasukkan melalui hidung atau
rongga mulut kedalam laring atau trachea. Penghisapan lendir digunakan bila
klien mampu batuk secara efektif tetapi tidak mampu membersihkan sekret
dengan mengeluarkan atau menelan. Tindakan penghisapan lendir juga tepat
pada klien yang kurang responsif atau, yang memerlukan pembuangan sekret
oral.

2.2.2 Tujuan Pemberian Suction

1) Mempertahankan kepatenan jalan nafas


2) Membebaskan jalan nafas dari secret/ lendir yang menumpuk
3) Mendapatkan sampel / karet untuk tujuan diagnosa

2.2.3 Jenis Kanula Suction

Jenis kanula suction yang digunakan dibedakan menjadi open suction


dan close suction. Open suction, merupakan kanul konvensional dengan harus
membuka konektor sirkuit antara ventilator dengan ETT/pasien. Close suction
merupakan, kanul dengan sistem tertutup yang terhubung dengan ventilator dan
penggunaan yang tidak perlu membuka konektor sehingga aliran uadara yang
masuk tidak terinterupsi.

2.2.4 Ukuran Selang Suction

 Ukuran Kateter Suction dibagi berdasarkan usia :

10
1. Neo - bayi 6 bulan 6 - 8 Fr
2. 18 bulan - 22 bulan 8 - 10 Fr
3. 24 bulan - 7 tahun 10 - 12 Fr
4. 7 tahun - 10 tahun 12 Fr
5. Dewasa 12 – 16 Fr
 Ukuran suction menurut lynn:
a. Anak usia 2-5 tahun : 6-8F
b. Usia sekolah 6-12 tahun : 8-10F
c. Remaja dewasa : 10-16 F

 Adapun tekanan yang direkomendasikan menurut tymby:


a. Dewasa :
Suction dinding : 100-140 mmHg
Suction portable : 10-15 mmHg
b. Anak –anak
Suction dinding : 95-100 mmHg
Suction portable : 5-10 mmHg
c. Bayi
Suction dinding : 50-95 mmHg
Suction portable : 2-5 mmHg

2.2.5 Kekurangan Penggunaan Suction

1. Pendarahan/ keluar struktur


2. Kontaminasi bakteri
3. Kekurangan oksigen sesaat
4. Ketakutan dan panic pada pasien yang sadar
5. Kecenderungan untuk tachycardia karena emosi, apnoe karena anoksia
6. Vagal reflex

2.2.6 Indikasi Pemberian Suction

1. Klien mampu batuk secara efektif tetapi tidak mampu membersihkan


secret dengan mengeluarkan atau menelan

11
2. Ada atau tidaknya secret yang menyumbat jalan nafas dengan ditandai
terdengar suara pada jalan nafas, hasil auskultasi yaitu ditemukannya
suara crackels atau ronchi, kelelahan pada pasien.
3. Nadi dan laju pernafasan meningkat, ditemukannya mucus pada alat
bantu nafas.
4. Pasien yang kurang responsive atau koma yang memerlukan pembuatan
secret oral.

2.2.7 Prosedur Pemberian Suction

 Alat yang harus dipersiapkan yaitu :


1. Penghisap pertebel atau yang terpasang di dinding deengan selang
penghubung
2. Kateter steril 12-16 Fr
3. Air steril atau normal saline
4. Sarung tangan steril
5. Pelumas larut air
6. Handuk mandi atau selimut yang melindungi klien atau baju klien
7. Masker wajah dan kasa steril
8. Pinset anatomis
9. Cairan desenfektan untuk mencuci kateter steril
10. Spatel

a) Alat steril yang disimpan dalam bak steril


· Kateter suction
· Tongue spattel
· Kassa
b) Alat tidak steril
· Tabung oksigen
· Mesin suction
· Perlak
· Bengkok
· Larutan desinfektan alam

12
· Tissue

 Persiapan Pasien
a. Beri penjelasan bila klien sadar
b. Atur posisi sesuai kebutuhan
· Klien sadar : posisi semi ekstensi (nasal suction)
· Klien tidak sadar : baringkan klien dengan posisi lateral
menghadap pelaksana tindakan (oral/nasal suction)

 Tahap kerja
1. Cuci tangan
2. Pasang pengalas didada klien
3. Pasang oksigen dengan konsentrasi tinggi
4. Buka paket steril dan buat area steril ( buka kateter dan simpan di
bak steril)
5. Nyalakan mesin suction
6. Pasang sarung tangan steril
7. Sambung kateter dengan selang dari mesin suction dengan tangan
memegang ujung selang dari mesin (bersih)
8. Test kemampuan mesin dengan cara menarik cairan NaCl
9. Masukkan kateter perlahan pada lubang hidung yang paling lapang
sampai ke karina. Bila diperlukan oropharingeal suction maka
tindakan dilakukan setelah ( naso) atau ganti kateter.
10. Keterangan :
a. Nhasoparingeal 1per2 kateter yang masuk
b. Oropharingeal 3per4 kateter yang masuk
11. Tutup thum control dan tarik kateter dengan arah memutar
( waktunya berkisar 15-20 detik)
12. Bersihkan kateter dengan cara dimasukkan ke dalam NaCl steril
13. Beri klien oksigen
14. Matikan mesin dengan tangan tangan tidak steril dan askultasi
klien ( suaranya)

13
15. Bila perlu pengulangan, ulangi prosedur selama 20-30 detik dari
yang pertama
a. Lipat kateter dan pegang dengan sarung tangan steril dan
letakkan sarung tangan ke tempat berisi disenfektan
16. Betulkan kembali posisi klien
17. Bersihkan daerah mulut dan hidung
18. Bereskan alat
19. Cuci tangan

2.3 PEMBERIAN NEBULIZER

2.3.1 Pengertian Nebulizer

Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk mengubah obat dari bentuk
cair ke bentuk partikel aerosol. Bentuk aerosol ini sangat bermanfaat apabila
dihirup atau dikumpulkan dalam organ paru. Efek dari pengobatan ini adalah
untuk mengembalikan kondisi spasme bronkus.

Tindakan nebulizer untuk memobilisasi sekresi paru dengan cara


humidifikasi. Humidifikasi meningkatkan hidrasui membran mukosa melalui
transudasi. Tindakan ini memberi penguapan pada saluran pernapasan agar
lendir encer sehingga mudah keluar atau dihisap. Tindakan ini dilakukan pada
anak yang sesak napas akibat obstruksi produksi sekresi yang menumpuk dan
tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis.

2.3.2 Klasifikasi Nebulizer

 Berdasarkan penggunaannya :
a. Disposible nebulizer. Digunakan dalam situasi yang darurat dengan
perawatan jangka pendek. Apabila nebulizer ditempatkan dirumah
maka dapat digunakan lebih dari satu kali dengan jangka pemakaiaan
sampai 2 minggu
b. Re-usable nebulizer, dapat digunakan sampai kurang lebih 6 bulan.

14
 Berdasarkan cara kerjanya:
1. Ultrasonic nebuliser

Alat ini menghasilkan aerosol melalui osilasi frekuensi tinggi dari


piezo-electric crystal yang berada dekat larutan dan cairan memecah
menjadi aerosol. Keuntungan jenis nebuliser ini adalah tidak menimbulkan
suara bising dan terus menerus dapat mengubah larutan menjadi aerosol
sedangkan kekurangannya alat ini mahal dan memerlukan biaya perawatan
lebih besar.

2. Jet nebuliser

Alat ini paling banyak digunakan banyak negara karena relatif


lebih murah daripada ultrasonic nebuliser. Dengan gas jet berkecepatan
tinggi yang berasaldari udara yang dipadatkan dalam silinder ditiupkan
melalui lubang kecil dan akan dihasilkan tekanan negatif yang selanjutnya
akan memecah larutan menjadi bentuk aerosol. Aerosol yang terbentuk
dihisap pasien melalui mouth piece atau sungkup.

Dengan mengisi suatu tempat pada nebuliser sebanyak 4 ml maka


dihasilkan partikel aerosol berukuran < 5 Ïm, sebanyak 60-80% larutan
nebulisasi akan terpakai dan lama nebulisasi dapat dibatasi. Dengan cara
yang optimal maka hanya 12% larutan akan terdeposit di paru-
paru.Bronkodilator yang diberikan dengan nebuliser memberikan efek
bronkodilatasi yang bermakna tanpa menimbulkan efek samping.

15
2.3.3 Obat-Obat Nebulizer Berdasarkan Jebis Nebulizer Farmakologi
Obatnya:

Obat-obat Nebuleizer :

1. Pulmicort : kombinasi anti radang dengan obat yang


melonggarkan saluran napas.
2. Nacl : mengencerkan dahak.
3. Bisolvon cair : mengencerkan dahak.
4. Atroven : melonggarkan saluran napas.
5. Berotex : melonggarkan saluran napas.
6. Inflamid : untuk anti radang.
7. Combiven : kombinasi untuk melonggarkan saluran napas.
8. Meptin : melonggarkan saluran napas.

Kombinasi yang dianjurkan :

* Bisolvon-Berotec-Nacl

* Pulmicort-Nacl

* Combivent-Nacl

* Atroven-Bisolvon-Nacl

2.3.4 Tujuan Pemberian Nebulizer

Tujuan pemberian nebulizer untuk mengurangi sesak, mengencerkan


dahak ( meningkatkan produksi sekret), dan dapat mengurangi atau
menghilangkan bronkopasma.

2.3.5 Indikasi :

- pada penderita gangguan saluran napas

Kontraindikasi :

1. Hipertensi
2. Takikardi

16
3. Riwayat alergi
4. Trakeostomi
5. Fraktur hidung

2.3.6 Prosedur Pelaksanaan :

 Alat dan Bahan :


1. NaCl 0,9%
2. Set nebulizer
3. Obat bronkodilator
4. Sarung tangan steril
 Prosedur Tindakan :
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Gunakan sarung tangan
4. Atur posisi anak dengan cara menempatkan anak diatas pangkuan,
posisi semi fowler atau setengah duduk atau ditidurkan
5. Lakukan penguapan selama 10-15 menit dimulai dengan
menghidupkan set nebulizer yang diarahkan ke saluran pernapasan,
mulai dari mulut atau hidung
6. Lakukan fisioterapi dada agar lendir mudah terlepas dari dinding
bronkus
7. Tenangkan anak dan pastikan tindakan ini benar-benar diperlukan
untuk membuat kondisi anak lebih baik
8. Puji anak atas kerja samanya
9. Buka sarung tangan
10. Catat status saluran pernapasan dan sekret\
11. Cuci tangan

2.3.7 Dosis Pemberian Obat Nebulizer

1. Komposisi : Salbutamol Sulfat.

2. Indikasi : Pengobatan & pencegahan asma bronkhial.

17
Pengobatan pada kondisi lain seperti bronkhitis & emfisema, yang
berhubungan dengan penyumbatan saluran pernafasan yang bersifat
reversibel. Terapi pemeliharaan rutin pada asma kronis dan bronkhitis
kronis

3. Dosis

Dewasa : Bronkhospasme akut dan penanganan episode


intermiten pada asma : 1-2 hembusan sebagai dosis
tunggal.
Pemeliharaan menahun atau sebagai pencegahan :
3-4 kali sehari 2 hembusan.
Untuk mencegah bronkhospasme yang dipicu oleh
latihan/gerak badan yang berlebihan : 2 hembusan
sebelum latihan (olahraga).
Anak-anak : Bronkhospasme akut, penanganan saat asma atau
sebelum olahraga : 1 hembusan.
Pencegahan atau pemeliharaan rutin : 3-4 kali
sehari 1 hembusan.
Dosis ini dapat ditingkatkan sampai 2 hembusan
jika perlu.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Pemberian Oksigen merupakan tindakan keperawatan memberi oksigen ke


dalam paru melalui saluran napas dengan menggunakan alat bantu oksigen.
Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara, yaitu melalui kanula,
nasal, dan masker yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan
mencegah terjadinya hipoksia. Dan oksigenasi adalah proses penambahan oksigen
O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika). Dan suction ( penghisap lendir )
merupakan tindakan penghisapan yang bertujuan untuk mempertahankan jalan
nafas, sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat
dengan cara mengeluarkan secret dari jalan nafas, pada klien yang tidak mampu
mengeluarkannya sendiri.

Sedangkan penghisapan lendir digunakan bila klien mampu batuk secara


efektif tetapi tidak mampu membersihkan sekret dengan mengeluarkan atau
menelan. Tindakan nebulizer untuk memobilisasi sekresi paru dengan cara
humidifikasi. Humidifikasi meningkatkan hidrasui membran mukosa melalui
transudasi. Tindakan ini memberi penguapan pada saluran pernapasan agar lendir
encer sehingga mudah keluar atau dihisap. Nebulizer adalah alat yang digunakan
untuk mengubah obat dari bentuk cair ke bentuk partikel aerosol

3.2 Saran

Setelah membaca dan memahami makalah ini, diharapkan kita sebagai


perawat dapat melakukan intervensi akan pemberian oksigen, nebulisasi dan
suction pada anak guna mengoptimalkan kesehatan anak.

19