Anda di halaman 1dari 35

Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

PEDOMAN PELAKSANAAN
UPAYA GIZI
UPT PUSKESMAS PANCUR

DINAS KESEHATAN KABUPATEN REMBANG

PUSKESMAS PANCUR

JL. Jatirogo km 05, Pancur. Kabupaten Rembang

Telp. (0295) 531470-Kode Pos 59255

REMBANG JAWA TENGAH


1
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, besaran masalah gizi pada
balita di Indonesia yaitu 19,6% gizi kurang, diantaranya 5,7% gizi buruk; gizi lebih 11,9%,
stunting (pendek) 37,2%. Proporsi gemuk menurut kelompok umur, terdapat angka tertinggi
baik pada balita perempuan dan laki-laki pada periode umur 0-5 bulan dan 6-11 bulan
dibandingkan kelompok umur lain. Hal ini menunjukkan bahwa sampai saat ini masih
banyak masyarakat khususnya ibu balita yang mempunyai persepsi tidak benar terhadap
balita gemuk. Data masalah Gangguan Akibat Kekurangan lodiurn (GAKI) berdasarkan hasil
survei nasional tahun 2003 sebesar 11,1% dan menurut hasil Riskesdas 2013, anemia pada
ibu hamil sebesar 3 7, 1 %.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan tujuan
perbaikan gizi adalah untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat. Mutu gizi
akan tercapai antara lain melalui penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
profesional di semua institusi pelayanan kesehatan. Salah satu pelayanan kesehatan yang
penting adalah pelayanan gizi di Puskesmas, baik pada Puskesmas Rawat Inap maupun pada
Puskesmas Non Rawat Inap.Pendekatan pelayanan gizi dilakukan melalui kegiatan spesifik
dan sensitif, sehingga peran program dan sektor terkait harus berjalan sinergis.Pembinaan
tenaga kesehatan/tenaga gizi puskesmas dalam pemberdayaan masyarakat menjadi hal
sangat penting.
Puskesmas merupakan penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan tingkat
pertama. Untuk menjangkau seluruh wilayah kerjanya, Puskesmas diperkuat dengan
Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling yang disebut sebagai Puskesmas dan
jejaringnya. Sedangkan untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, didirikan
Puskesmas Rawat Inap. Menurut data dari Pusat Data dan Informasi, Kementerian
Kesehatan per Desember tahun 2011 jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia adalah 9.321
unit, diantaranya 3.025 unit Puskesmas Rawat Inap, dan selebihnya yaitu 6.296 unit
Puskesmas Non Rawat Inap. Puskesmas dan jejaringnya harus membina Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat.

2
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

Pelayanan gizi di Puskesmas terdiri dari kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung
dan di luar gedung. Pelayanan gizi di dalam gedung umumnya bersifat individual, dapat
berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kegiatan di dalam gedung
juga meliputi perencanaan program pelayanan gizi yang akan dilakukan di luar gedung.
Sedangkan pelayanan gizi di luar gedung umumnya pelayanan gizi pada kelompok dan
masyarakat dalam bentuk promotif dan preventif. Dalam pelaksanaan pelayanan gizi di
Puskesmas, diperlukan pelayanan yang bermutu, sehingga dapat menghasilkan status gizi
yang optimal dan mempercepat proses penyembuhan pasien. Pelayanan gizi yang bermutu
dapat diwujudkan apabila tersedia acuan untuk melaksanakan pelayanan gizi yang bermutu
sesuai dengan 4 pilar dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS).

Pada tahun 2001, Departemen Kesehatan RI telah menerbitkan buku Pedoman


Pelayanan Gizi di Puskesmas Perawatan, yang membahas kegiatan pokoknya yaitu
penyelenggaraan makan untuk pasien rawat inap dan konseling gizi. Seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan di bidang gizi dan kesehatan serta didorong oleh kebutuhan
akan acuan pelaksanaan pelayanan gizi yang komprehensif maka diperlukan Pedoman
Pelayanan Gizi di Puskesmas yang membahas kegiatan pelayanan gizi secara menyeluruh
baik di Puskesmas Rawat Inap maupun Puskesmas Non Rawat Inap. Oleh karena itu, maka
disusunlah buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas.Diharapkan pedoman ini dapat
menjadi acuan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga gizi di Puskesmas untuk
melaksanakan kegiatan pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya.

Tahun 2015 capaian UPT Puskesmas Pancur pada pelayanan Upaya Gizi antara lain.
Cakupan pemberian Vitamin A pada ibu nifas 95,29%, Bayi umur 6-11 bulan dan Balita
umur 12-59 bulan 100 %. Cakupan pemberian Zat Besi pada ibu hamil 40,55 % dan masih di
bawah target Puskesmas yaitu 92 %. Gizi buruk di UPT Puskesmas Pancur masih ditemukan
sebanyak 31 anak, meskipun di bawah target namun gizi Buruk merupakan masalah
nasional. Cakupan ASI Eklusive 79 %. Cakupan D/S sebanyak 89,34% dan N/D sebanyak
68,42% masih di bawah target cakupan, dimana hal ini menunjukkan seberapa besar peran
keterlibatan masyarakat yang mengacu pada Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat. Maka
dari itu untuk bisa mengatasi permasalahan tersebut, perlu dibuat PEDOMAN
PELAKSANAAN UPAYA GIZI UPT PUSKESMAS PANCUR.

3
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum:
Tersedianya acuan dalam melaksanakan pelayanan gizi di Puskesmas dan
jejaringnya.
2. Tujuan Khusus:
a. Tersedianya acuan tentang jenis pelayanan gizi, peran dan fungsi ketenagaan,
sarana dan prasarana di Puskesmas dan jejaringnya;
b. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan gizi yang, bermutu di
Puskesmas dan jejaringnya;
c. Tersedianya acuan bagi tenaga gizi puskesmas untuk bekerja secara profesional
memberikan pelayanan gizi yang bermutu kepada pasien/klien di Puskesmas dan
jejaringnya;
d. Tersedianya acuan monitoring dan evaluasi pelayanan gizi di Puskesmas dan
jejaringnya.

C. SASARAN
1. Tenaga Gizi Puskesmas dan Tenaga Kesehatan lainnya di Puskesmas.
2. Pengelola Program Kesehatan dan Lintas Sektor terkait.
3. Pengambil Kebijakan di Provinsi, Kabupaten/Kota.

D. LANDASAN HUKUM
Sebagai Dasar penyelenggaraan pelayanan gizi di Puskesmas diperlukan peraturan,
perundang-undangan pendukung (legal aspect). Beberapa ketentuan perundang-
undangan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
2. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
3. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
4. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
6. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif
8. Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan
Perbaikan Gizi
9. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1333 tahun 1999 tentang Standar
Pelayanan Puskesmas Perawatan

4
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

11. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI No. 894/Menkes/SKB/VIII/2001 dan


Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 35 Tahun 2001 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka Kreditnya
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81 tahun 2004 tentang Pedoman
Penyusunan SDM Kesehatan Di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota Serta RS
13. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
15. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741 /Menkes/SK/VII/2008 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota
16. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka
Kecukupan Gizi yang dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia
17. Peraturan Menteri Kesehatan No 26 Tahun 2013 tentang Praktik Tenaga Gizi

E. DEFINISI OPERASIONAL
Jenis konseling gizi yang dapat dilaksanakan di Puskesmas antara lain konseling gizi
terkait penyakit dan faktor risikonya, konseling ASI, konseling Pemberian Makan Bayi
dan Anak (PMBA), konseling faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) dan
konseling bagi jemaah haji.
1. Asuhan Gizi adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir/terstruktur untuk
identifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.
2. Dietetik adalah integrasi, aplikasi, dan komunikasi dari prinsip-prinsip keilmuan
makanan, gizi, sosial, bisnis, dan keilmuan dasar untuk mencapai dan
mempertahankan status gizi yang optimal secara individual melalui pengembangan,
penyediaan dan pengelolaan pelayanan gizi dan makanan di berbagai
area/lingkungan/latar belakang praktek pelayanan.
3. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi adalah serangkaian kegiatan penyampaian pesan-pesan
gizi dan kesehatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk menanamkan dan
meningkatkan pengertian, sikap serta perilaku positif pasien/klien dan lingkungannya
terhadap upaya perbaikan gizi dankesehatan. Penyuluhan gizi untuk kelompok atau
golongan masyarakat masaldan target yang diharapkan adalah pemahaman perilaku
aspek kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Food model adalah bahan makanan atau makanan contoh yang terbuat dari bahan
sintetis atau asli yang diawetkan, dengan ukuran dan satuan tertentu sesuai dengan
5
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

kebutuhan yang digunakan untuk konseling gizi kepada pasien rawat inap maupun
pengunjung rawat jalan.
5. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan.
6. Gizi Klinik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara makanan
dan kesehatan tubuh manusia termasuk mempelajari zat-zat gizi dan bagaimana
dicerna, diserap, digunakan, dimetabolisme, disimpan dan dikeluarkan dari tubuh.
7. Kegiatan Spesifik adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya
ditujukan khusus untuk kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan
ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan seperti imunisasi, PMT Ibu
Hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen Tablet
Tambah Darah (TTD), promosi ASI Ekslusif, MP-ASI, dsb. Kegiatan spesifik
bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek (Pedoman
Perencanaan Program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka
1000 HPK).
8. Kegiatan Sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan.
Sasarannya dalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK. Namun apabila
direncanakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan spesifik dampaknya sensitif
terhadap proses keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 HPK.
9. Konseling Gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah
yang dilaksanakan oleh tenaga gizi puskesmas untuk menanamkan dan
meningkatkan pengertian, sikap, dan perilaku pasien dalam mengenali dan mengatasi
masalah gizi sehingga pasien dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya.
10. Mutu Pelayanan Gizi adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
pelayanan gizi sesuai dengan standar dan memuaskan, baik kualitas dari petugas
maupun sarana serta prasarana untuk kepentingan pasien/klien.
11. Nutrisionis adalah seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang
secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional di
bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik, baik di masyarakat maupun Puskesmas
dan unit pelaksana kesehatan lainnya, berpendidikan dasar Akademi Gizi/Diploma III
Gizi.
12. Nutrisionist Registered (NR) adalah tenaga gizi Sarjana Terapan. Gizi dan Sarjana
Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan peraturan

6
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

perundang-undangan.
13. Pasien/Klien adalah pengunjung Puskesmas/tenaga kesehatan, baik rawat inap/rawat
jalan yang memerlukan pelayanan baik pelayanan kesehatan dan atau gizi.
14. Pasien Berisiko Malnutrisi adalah pasien dengan status gizi gizi buruk, gizi kurang,
atau gizi lebih, mengalami penurunan asupan makan, penurunan berat badan, dll.
15. Pasien Kondisi Khusus adalah pasien lbu hamil, ibu menyusui, lansia, pasien dengan
Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes mellitus, hipertensi, hiperlipidemia,
penyakit ginjal, dll.
16. Pelayanan Gizi adalah upaya memperbaiki gizi, makanan, dietetik pada masyarakat,
kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan
evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal
dalam kondisi sebat atau sakit diselenggarakan baik di dalam dan di luar gedung.
17. Pelayanan Gizi Di Puskesmas adalah kegiatan pelayanan gizi mulai dari upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas.
18. Pelayanan Kesehatan Perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private
goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan
perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu
ditambah dengan rawat inap.
19. Pelayanan Kesehatan Masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public
goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan,
pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan
kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai
program kesehatan
20. Pelayanan Gizi Rawat Jalan adalah serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang
berkesinambungan dimuai dari pengkajian gizi, penentuan diagnosis gizi, intervensi
gizi, dan monitoring dan evaluasi kepada pasien/klien rawat jalan. Intervensi gizi
rawat jalan pada umumnya berupa kegiatan konseling gizi dan dietetik dan atau
penyuluhan gizi.

7
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

21. Pelayanan Gizi Rawat Inap adalah serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang
berkesinambungan dimulai dari pengkajian gizi, penentuan diagnosis gizi, intervensi
gizi, dan monitoring dan evaluasi kepada pasien/klien di rawat Inap. Intervensi gizi
rawat inap mencakup kegiatan konseling gizi, penyediaan makanan pasien rawat
inap, pemantauan asupan makanan dan pergantian jenis diet apabila diperlukan.
22. Preskripsi Diet adalah rekomendasi kebutuhan zat gizi pasien secara individual mulai
dari menetapkan kebutuhan energi, komposisi zat gizi yang mencakup zat gizi makro
dan mikro, jenis diet, bentuk makanan, frekuensi makan dan rute pemberian
makanan. Preskripsi diet dirancang berdasarkan pengkajian gizi, komponen diagnosis
gizi, rujukan, rekomendasi, kebijakan dan prosedur, serta kesukaan dan nilai-nilai
yang dianut pasien/klien.
23. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) adalah pendekatan sistematik dalam
memberikan pelayanan asuhan gizi yang berkualitas, melalui serangkaian aktivitas
yang terorganisir yang meliputi identifikasi kebutuhan gizi sampai pemberian
pelayanan gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi.
24. Registered Dietisien (RD) adalah tenaga gizi Sarjana Terapan Gizi atau Sarjana Gizi
yang telah mengikuti pendidikan profesi (internship) dan telah lulus uji kompetensi
serta teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan berhak mengurus
Minimal memberikan pelayanan gizi, makanan dan dietetik, dan menyelenggarakan
praktik gizi mandiri.
25. Rencana Diet adalah kebutuhan zat gizi pasien/klien yang dihitung berdasarkan
status gizi, degenerasi penyakit, dan kondisi kesehatannya.
26. Rujukan Gizi adalah sistem dalam pelayanan gizi yang memberikan pelimpahan
wewenang yang timbal balik atas pasien dengan masalah gizi baik secara vertikal
maupun horisontal.
27. Sarana Kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya
kesehatan.
28. Skrining Gizi adalah tindakan penipisan untuk mengetahui apakah seorang pasien
beresiko malnutrisi, tidak beresiko malnutrisi, atau kondisi khusus.
29. Technikal Registered Dietisien (TRD) adalah seorang yang telah mengikuti dan
penyelesaikan pendidikan Diploma III Gizi sesuai aturan yang berlaku atau Ahli
Madya Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregristrasi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

8
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

30. Tenaga Gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai
dengan peraturan perundangan. Tenaga gizi meliputi Technical Registered Dietisien
(TRD), Nutrisionis Registered (NR), dan Registered Dietisien (RD).
31. Tenaga Gizi Puskesmas adalah tenaga gizi yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas
perbaikan gizi di Puskesmas. Apabila tidak tersedia tenaga gizi maka pelaksanaan
tugas perbaikan gizi di Puskesmas dapat dilakukan oleh Tenaga Pelaksanaan Gizi
yang berasal dari tenaga kesehatan lain seperti perawat atau bidan.
32. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri di bidang kesehatan
serta memiliki kemampuan dan atau keterampilan melalui pendidikan formal di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam,
melakukan upaya kesehatan.
33. Terapi Diet adalah pelayanan dietetik yang merupakan bagian dari terapi gizi.
34. Tim Asuhan Gizi Puskesmas adalah sekelompok tenaga kesehatan di Puskesmas
yang terkait dengan pelayanan gizi terdiri dari dokter (umum/ spesialis), tenaga gizi,
perawat dan atau bidan dari setiap unit pelayanan yang bertugas menyelenggarakan
asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan paripurna yang bermutu.

F. RUANG LINGKUP
1. Kebijakan Pelayanan Gizi di Puskesmas
2. Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
3. Pelayanan Gizi di Luar Gedung
4. Pencatatan dan Pelaporan
5. Monitoring dan Evaluasi

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. DOKTER
Dokter berperan sebagai penanggung jawab pelayanan kesehatan pasien
sekaligus sebagai Koordinator Tim Asuhan Gizi Puskesmas yang mempunyai
tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

9
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta menegakkan diagnosis


medis
2) Menentukan pilihan tindakan, pemeriksaan laboratorium, dan perawatan
3) Menentukan terapi obat dan preskripsi diet awal bekerjasama dengan tenaga
gizi puskesmas
4) Melakukan pemantauan dan evaluasi tindakan
5) Melakukan konseling terkait penyakit
6) Melakukan rujukan

B. PERAWAT/ BIDAN
Perawat/bidan berperan sebagai penanggung jawab asuhan keperawatan/ kebidanan
dan sekaligus sebagai pelaksana asuhan keperawatan yang mempunyai tugas pokok
dan fungsi sebagai berikut:
1) Melakukan skrining awal dalam rangka membantu menentukan apakah
pasien/klien berisiko masalah gizi atau tidak
2) Bertanggung jawab pada asuhan keperawatan/kebidanan bagi pasien
3) Melaksanakan tindakan dan perawatan sesuai instruksi dokter
4) Memotivasi pasien dan keluarga agar pasien menghabiskan makanannya
5) Melakukan pemantauan dan evaluasi pemberian makanan kepada pasien

C. TENAGA GIZI PUSKESMAS


Tenaga Gizi Puskesmas diharapkan telah mengikuti pelatihan terkait gizi seperti
Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk (TAGS), Pelatihan Konselor ASI, Pelatihan
Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA). Pelatihan Pemantauan
Pertumbuhan, dll. Kegiatan dalam rangka perbaikan gizi yang menjadi tanggung
jawab puskesmas dilakukan oleh TPG dengan latar belakang pendidikan gizi.
Apabila belum ada TPG berlatar belakang pendidikan gizi, dapat dikerjakan oleh
TPG yang bukan berlatar belakang gizi, seperti sanitarian, perawat, bidan, atau
tenaga kesehatan lainnya.
Tenaga Gizi Puskesmas sebagai penanggung jawab asuhan gizi sekaligus sebagai
pelaksana asuhan gizi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:
1) Mengkaji status gizi pasien/klien berdasarkan data rujukan
2) Melakukan anamnesis riwayat diet pasien/klien

10
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

3) Menerjemahkan rencana diet ke dalam bentuk makanan yang disesuaikan dengan


kebiasaan makan serta keperluan terapi
4) Memberikan penyuluhan, motivasi, dan konseling gizi pada pasien/ klien dan
keluarganya
5) Melakukan kunjungan keliling (visite) baik sendiri maupun bersama dengan Tim
Asuhan Gizi kepada pasien/klien
6) Memantau masalah yang berkaitan dengan asuhan gizi kepada pasien/ klien,
bersama dengan perawat
7) Mengevaluasi status gizi pasien/klien secara berkala, asupan makanan, dan bila
perlu melakukan perubahan diet pasien berdasarkan hasil diskusi dengan Tim
Asuhan Gizi Puskesmas
8) Mengkomunikasikan hasil terapi gizi dan memberikan saran kepada anggota Tim
Asuhan Gizi Puskesmas.

Tugas perbaikan gizi di Puskesmas merupakan tanggung jawab tenaga gizi.


Apabila belum terdapat tenaga gizi maka pemenuhan kebutuhan tenaga gizi di
Puskesmas dilakukan secara bertahap dan untuk sementara dapat dilaksanakan
oleh tenaga kesehatan lain yaitu perawat/bidan, dengan pendidikan/pelatihan
khusus yang biasa diikuti

Sedangkan peran dan fungsi tenaga kesehatan lain berkaitan dengan pelayanan
gizi di puskesmas adalah sebagai berikut:
a. Petugas Farmasi
1. Melaksanakan permintaan obat dan cairan parenteral berdasarkan resep
dokter.
2. Mendiskusikan keadaan atau hal-hal yang dianggap perlu dengan tim,
termasuk interaksi obat dan kesehatan.
3. Membantu mengawasi dan mengevaluasi penggunaan obat dan cairan
parenteral oleh pasien/klien bersama perawat.
4. Jika perlu, menggantikan bentuk obat dari jenis yang sama sesuai dengan
persetujuan dokter.
5. Bersama dengan tenaga gizi melakukan pemantauan interaksi obat dan

11
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

makanan.

b. Analis Laboratorium dan Penata Rontgen


1. Melakukan pemeriksaan laborotarium rontgen sesuai permintaan dokter.
2. Bekerjasama dengan dokter dan perawat untuk pemeriksaan laborotarium
dan rontgen.
3. Bertanggung jawab pada hasil pemeriksaan laborotarium dan rontgen.

BAB III

STANDAR FASILITAS

Ruang Konsultasi Gizi


1. Letak
Letak ruang konsultasi gizi berada pada bagian depan Puskesmas, area publik,
berdekatan dengan klinik-klinik lainnya yang mempunyai akses langsung dengan
12
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

lingkungan luar puskesmas.


2. Persyaratan Ruang
Persyaratan yang perlu diperhatikan pada ruang konsultasi gizi adalah sebagai
berikut:
a. Luas minimal ruangan konsultasi gizi adalah 3m x 2m.
b. Persyaratan komponen bangunan adalah sebagai berikut:
1) Atap: Atap harus kuat terhadap kemungkinan bencana (angin puting beliung,
gempa, d1l), tidak bocor, tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan
vektor.
2) Langit-langit: langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah
dibersihkan, ketinggian langit-langit dari lantai minimal 2,8 m.
3) Dinding: material dinding harus keras, rata, tidak berpori/ ticlak berserat,
tidak menyebabkan silau, kedap air, mudah dibersihkan, dan ticlak ada
sambungan agar mudah dibersihkan.
4) Lantai: material lantai harus kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin,
warna terang, mudah dibersihkan.
5) Pintu dan Jendela: lebar bukaan pintu minimal 90 cm, bukaan jendela
diupayakan dapat dibuka secara maksimal.

Gambar 1. Contoh Layout Ruang Konsultasi Gizi di Puskesmas

13
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

CONTOH MODEL
RUANG KONSULTASI GIZI DI PUSKESMAS
UKURAN 3 M X 2.5

3. Persyaratan Prasarana
a. Sanitasi
1. Pada ruangan konsultasi gizi sebaiknya disediakan 'wastafel' dengan debit
air mengalir yang cukup.
2. Dilengkapi pula dengan tempat sampah yang tertutup.
b. Ventilasi
1. Ventilasi harus cukup agar sirkulasi udara dalam ruangan tetap terjaga.
Jumlah bukaan ventilasi sebaiknya 15% terhadap jugalantai ruangan.
2. Arah bukaan ventilasi tidak boleh berdekatan dengan tempat pembuangan
sampah (TPS), toilet, dan sumber penularan lainnya.
c. Pencahayaaan
1. Pada Siang hari sebaiknya menggunakan pencahayaan alami.
2. Intensitas cahaya cukup agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik (200
lux).
d. Listrik
1. Tersedia kotak kontak yang aman untuk peralatan/perlengkapan dengan
jumlah +. 2 titik.
4. Persyaratan Peralatan/Perlengkapan
Peralatan/perlengkapan yang disediakan pada ruangan konsultasi gizi antara lain
a) Meja
b) Kursi

14
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

c) Media KIE (poster, brosur makanan sehat sesuai kelompok umur, brosur
diet penyakit, dll)
d) Standar Makanan Diet, Standar Pemantauan Pertumbuhan Balita dan
Anak, Tabel IMT, dll
e) Food Model
f) Daftar Bahan Penukar Makanan
g) Alat ukur antropometri (timbangan berat badan, microtoise, pita LiLA, dll)

BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN GIZI DI PUSKESMAS

Pelayanan Gizi Di Puskesmas adalah kegiatan pelayanan gizi mulai dari upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas.
Pelayanan gizi di Puskesmas dilakukan di dalam gedung dan di luar sebagaimana dijelaskan
15
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

berikut ini.

A. PELAYANAN GIZI DI DALAM GEDUNG


1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Dalam Gedung
Kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung terdiri dari upaya promotif, preventif, dan
kuratif serta rehabilitatif yang dilakukan di dalam puskesmas.Kegiatan pelayanan
gizi di dalam gedung yaitu pelayanan gizi rawat jalan .Berikut adalah uraian
mengenai pelayanan gizi di rawat jalan
Pelayanan Gizi Rawat Jalan
Pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi:
1) Pengkajian gizi
2) Penentuan diagnosis gizi
3) Intervensi gizi
4) Monitoring dan evaluasi asuhan gizi
Tahapan pelayanan gizi rawat jalan diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh
tenaga kesehatan di Puskesmas untuk menetapkan pasien berisiko masalah gizi.
Apabila tenaga kesehatan menemukan pasien berisiko masalah gizi maka pasien
akan dirujuk untuk memperoleh asuhan gizi, dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1) Pengkajian Gizi
Tujuan: mengidentifikasi masalah gizi dan faktor penyebab melalui
pengumpulan, verifikasi dan interpretasi data secara sistematis. Kategori
data pengkajian gizi meliputi:
(a) Data Antropometri
Pengukuran Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai carameliputi
pengukuran Tinggi Badan (TB)/Panjang Badan (PB) dan Berat Badan
(BB), Lingkar Lengan Atas (LiLA), Lingkar Kepala
(b) Data Pemeriksaan Fisik/Klinis
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan Minis
yang berhubungan dengan gangguan gizi.Pemeriksaan fisik meliputi
tanda-tanda klien kekurangan gizi atau kelebihan gizi seperti rambut,
otot, kulit, baggy pants, penumpukan lemak dibagian tubuh tertentu, dll.
(c) Data Riwayat Gizi

16
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

Ada dua macam pengkajian data riwayat gizi pasien yang umum
digunakan yaitu secara pengkajian riwayat gizi kualitatif dan
kuantitatif:
(1) Pengkajian riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk
memperoleh gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari
berdasarkan frekuensi konsumsi makanan.
(2) Pengkajian gizi secara kuantitatif di lakukan untuk mendapatkan
gambaran asupan zat gizi sehari, dengan cara recall 24 jam, yang
dapat diukur dengan menggunakan bantuan food model.
(d) Data Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Data hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya
kelainan biokimia darah terkait gizi dalam rangka mendukung diagnosis
penyakit serta menegakkan diagnosis gizi pasien/klien.Hasil pemeriksaan
laboratorium ini dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan
memonitor/mengevaluasi terapi gizi. Contoh data hasil pemeriksaan
laboratorium terkait gizi yang dapat digunakan misalnya kadar gula
darah, kolesterol, LDL, HDL, trigliserida, ureum, kreatinin, dll.
2) Penentuan Diagnosis Gizi
Diagnosis gizi spesifik untuk masalah gizi yang bersifat sementara sesuai
dengan respon pasien. Dalam melaksanakan asuhan gizi, tenaga gizi
puskesmas seharusnya bisa menegakkan diagnosis gizi secara mandiri tanpa
meninggalkan komunikasi dengan profesi lain di puskesmas dalam
memberikan layanan.
Tujuan diagnosis gizi adalah mengidentifikasi adanya masalah gizi, faktor
penyebab, serta tanda dan gejala yang ditimbulkan. Untuk mengetahui ruang
lingkup diagnosis gizi dapat merujuk pada Buku Pedoman Proses Asuhan
Gizi Terstandar, Kementerian Kesehatan RI, 2014 atau di Buku Pedoman
Asuhan Gizi di Puskesmas, WHO dan Kementerian Kesehatan RI, 2011.
3) Pelaksanaan Intervensi Gizi
Intervensi gizi adalah suatu tindakan yang terencana yang ditujukan untuk
mengubah perilaku gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan
individu.
Intervensi gizi dalam rangka pelayanan gizi rawat ialan meliputi:

17
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

a. Penentuan jenis diet sesuai dengan kebutuhan gizi individual. Jenis diet
disesuaikan dengan keadaan/penyakit serta kemampuan pasien/ klien
untuk menerima makanan dengan memperhatikan pedoman gizi
seimbang (energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, air, dan
serat), faktor aktifitas, faktor stres serta kebiasaan makan/pola makan.
Kebutuhan gizi pasien ditentukan berdasarkan status gizi, pemeriksaan
klien, dan data laboratorium.
b. Edukasi Gizi
Edukasi gizi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan terkait perbaikan gizi dan kesehatan.
c. Konseling Gizi
Konseling yang diberikan sesuai kondisi pasien/klien meliputi konseling
gizi terkait penyakit, konseling ASI, konseling Pemberian Makan Bayi
dan Anak (PMBA), konseling aktivitas fisik, dan konseling faktor risiko
Penyakit Tidak Menular (PTM). Tujuan konseling adalah untuk
mengubah perilaku dengan cara meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai masalah gizi yang dihadapi.
4) Monitoring dan Evaluasi Asuhan Gizi Rawat Jalan
Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan,
keberhasilan pelaksanaan intervensi gizi pada pasien/klien dengan cara:
a) Menilai pemahaman dan kepatuhan pasien/klien terhadap intervensi
gizi
b) Menentukan apakah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan
rencana diet yang telah clitetapkan
c) Mengindektifikasi hasil asuhan gizi yang positif maupun negatif
d) Menginformasikan yang menyebabkan tujuan intervensi gizi tidak
tercapai
e) Menetapkan kesimpulan yang berbasis fakta
Evaluasi hasil:
a. Membandingkan data hasil monitoring dengan tujuan rencana diet atau
standar rujukan untuk mengkaji perkembangan dan menentukan
tindakan selanjutnya.
b. Mengevaluasi dampak dari keseluruhan intervensi terhadap hasil

18
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

kesehatan pasien secara menyeluruh, meliputi perkembangan


penyakit, data hasil pemeriksaan laboratorium, dan status gizi.
Hal-hal yang dimonitoring dan dievaluasi dalam pelaksanaan asuhan gizi
antara lain:
1. Perkembangan data antropometri
2. Perkembangan data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi
3. Perkembangan data fisik/klinis
4. Perkembangan data asupan makan
5. Perkembangan diagnosis gizi
6. Perubahan perilaku dan sikap

B. PELAYANAN GIZI DI LUAR GEDUNG


1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Luar Gedung
Secara utuh kegiatan pelayanan gizi di luar gedung tidak sepenuhnya
dilakukan hanya di luar gedung, melainkan tahap perencanaan dilakukan di
dalam gedung.Kegiatan pelayanan gizi di luar gedung ditekankan ke arah
promotif dan preventif serta sasarannya adalah masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas. Beberapa kegiatan pelayanan gizi di luar gedung dalam rangka
upaya perbaikan gizi yang dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain:
a. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi
1) Tujuan edukasi gizi adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan
perilaku masyarakat mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) dan
sesuai dengan risiko/masalah gizi.
2) Sasarannya adalah kelompok dan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas.
3) Lokasi edukasi gizi antara lain: Posyandu, Pusling, Institusi Pendidikan,
Kegiatan Keagamaan, Kelas lbu, Kelas Balita, Upaya Kesehatan Kerja
(UKK), dll.
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam edukasi gizi disesuaikan dengan
situasi dan kondisi serta berkoordinasi dengan tim penyuluh
diPuskesmas misalnya tenaga promosi kesehatan, antara lain:
a) Merencanakan kegiatan edukasi di wilayah kerja Puskesmas.
b) Merencanakan materi edukasi yang akan disampaikan kepada
19
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

masyarakat.
c) Memberikan pembinaan kepada kader agar mampu melakukan
pendidikan gizi di Posyandu dan masyarakat luas.
d) Memberikan pendidikan gizi secara langsung di UKBM, institusi
pendidikan, pertemuan keagamaan, dan pertemuan-pertemuan lainnya.
e) Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan gizi di wilayah kerja
Puskesmas.
b. Konseling ASI Eksklusif dan PMBA
1) Tujuan konseling ASI Ekslusif dan PMBA adalah:
a) Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku keluarga
sehingga bayi baru lahir segera diberikan Inisiasi Menyusu Dini
(IMD) danmeneruskan ASI Ekslusif sampai bayi berusia 6
bulan.
b) Sejak usia 6 bulan di samping meneruskan ASI mulai
diperkenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
c) Meneruskan ASI dan MP-ASI sesuai kelompok umur sampai
usia 24 bulan.
2) Sasaran konseling adalah ibu hamil dan atau keluarga dan ibu yang
mempuyai anak usia 0-24 bulan.
3) Lokasi konseling antara lain Posyandu, Kelompok Pendukung Ibu (KPIbu),
terintegrasi dengan program lain dalam kegiatan kelas balita, kelas Ibu,
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam konseling ini disesuaikan dengan
situasi dan kondisi antara lain:
Merencanakan kegiatan konseling ASI dan PMBA di wilayah kerja
Puskesmas
a) Menyiapka materidan media konseling yang akan digunakan.
b) Melakukan pembinaan kepada tenaga kesehatan lain atau kader yang
ditunjuk untuk melaksanakan tugas konseling ASI dan PMBA.
c) Memberikan konseling kepada sasaran sesuai permasalahan
individualnya.
d) Materi konseling PMBA antara, lain:
(1) Makanan sehat selama hamil
(2) Inisiasi Menyesui Dini (IMD)
20
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

(3) ASI Ekslusif


(4) Makanan MP-ASI kepada bayi mulai usia 6 bulan dan terus
memberikan ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.
(5) Makanan sehat Ibu menyusui
e) Membuat laporan bulanan pelaksanaan konseling di wilayah kerja
Puskesmas.
c. Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu
1) Tujuan kegiatan ini adalah untuk memantau status gizi Balita menggunakan
KMS (Kartu Menuju Sehat) atau Buku KIA.
2) Sasaran kegiatan ini adalah kader Posyandu
3) Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas antara lain:
a) Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan di wilayah kerja
Puskesmas
b) Memberikan pembinaan kepada kader posyandu agar mampu melakukan
pemantauan pertumbuhan di Posyandu.
c) Melakukan penimbangan
d) Membina kader dalam menyiapkan SKDN dan pelaporan
e) Menyusun laporan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di wilayah
kerja Puskesmas
f) Memberikan konfirmasi terhadap hasil pemantauan pertumbuhan.

d. Pengelolaan Pemberian Kapsul Vitamin A


1) Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan
pemberian vitamin A melalui pembinaan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan pemantauan sehingga kegiatan pencegahan kekurangan
vitamin A dapat berjalan dengan baik
2) Sasaran: kegiatan ini antara lain bayi, balita, dan ibu nifas
3) Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian
vitamin A antara lain:
a) Merencanakan kebutuhan vitamin A untuk bayi 6-11 bulan, anak usia
12-59 bulan, dan ibu nifas setiap tahun.
21
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

b) Memantau kegiatan pemberian vitamin A di wilayah kerja Puskesmas


yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain.
c) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi vitamin A di wilayah kerja
Puskesmas.
5) Ketentuan dalam, pemberian vitamin A:
a) Bayi 6-11 bulan diberikan vitamin A 100.000 SI warna biru, diberikan
dua kali setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus
b) Balita 12-59bulan diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI warna merah,
diberikan dua kali setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus
c) Bayi dan Balita Sakit
Bayi usia 6-11 bulan dan balita usia 12-59 bulan yang sedang menderita
campak, diare, gizi buruk, xeroftalmia, diberikan vitamin A dengan
dosis sesuai umur
d) Ibu nifas (0-42 hari)
Pada ibu nifas diberikan 2 kapsul merah dosis 200.000 SI, 1 kapsul
segera setelah melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam berikutnya.
e. Pengelolaan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil
dan Ibu Nifas
1) Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan pemberian TTD
untuk kelompok masyarakat yang rawan menderita anemia gizi besi yaitu
Ibu Hamil melalui pembinaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan sehingga kegiatan pencegahan anemia gizi besi.
2) Sasaran kegiatan ini adalah Ibu hamil dan ibu nifas
3) Lokasi: di tempat praktek bidan, Posyandu.
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian
TTD antara lain:
a) Merencanakan kebutuhan TTD untuk kelompok sasaran selama satu
tahun.
b) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja
puskesmas.
c) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja
Puskesmas.
d) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Ibu hamil dan ibu nifas:
22
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

(1) Pencegahan 1 tablet/hari sejak awal kehamilan dan dilanjutkan


sampai masa nifas
(2) Pengobatan 2 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

f. Edukasi Dalam Rangka Pencegahan Anemia pada Remaja Putri dan WUS
1) Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan program pencegahan
anemia gizi besi pada kelompok sasaran
2) Sasaran kegiatan ini adalah Remaja putri, WUS
3) Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di UKS (Usaha Kesehatan Sekolah).
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian
TTD antara lain:

a) Memberikan pendidikan gizi agar remaja putri dan WUS mengonsumsi


TTD secara mandiri.
b) Apabila di suatu daerah prevalensi anemia ibu hamil >20% maka tenaga
gizi puskesmas merencanakan kebutuhan TTD untuk remaja putri dan
WUS dan melakukan pemberian TTD kepada kelompok sasaran.
c) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja
Puskesmas.
d) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja
Puskesmas.
e) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Remaja Putri dan WUS
(1) Pencegahan: 1 tablet/hari selama haid dan 1 tablet/minggu
(2) Pengobatan: 1 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

g. Pengelolaan Pemberian MP-ASI dan PMT-Pemulihan


1) MP-ASI
MP-ASI Bufferstock adalah MP-ASI pabrikan yang disiapkan oleh
Kementerian Kesehatan RI dalam rangka pencegahan dan penanggulangan
gizi terutama di daerah rawan gizi/keadaan darurat/bencana.MP-ASI
Bufferstock didistribusikan secara bertingkat. Tenaga gizi puskesmas akan
mendistribusikan kepada masyarakat. Sasaran MP-ASI Buffer Stok: balita
6-24 bulan yang terkena bencana MP-ASI Lokal adalah MP-ASI yang
23
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

dibuat dari makanan lokal setempat dalam rangka untuk meningkatkan


pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan. MP-ASI lokal dapat
dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dana
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) atau dana lain sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Sasaran MP-ASI lokal: balita gizi kurang
6-24 bulan. Tugas tenaga gizi puskesmas dalam hal ini adalah:
a) Merencanakan menu MP-ASI lokal
b) Mengadakan bahan MP-ASI lokal
c) Mengolah MP-ASI lokal dibantu oleh kader
d) Mendistribusikan kepada sasaran dibantu oleh kader

2) PMT Pemulihan
a) Sasaran: balita gizi kurang, balita pasca perawatan gizi buruk, ibu hamil
KEK (Kurang Energi Kronik).
b) PMT Pemulihan untuk balita, gizi kurang adalah makanan ringan padat
gizi dengan kandungan 350--400 kalori energi dan 10-15 gram protein.
c) PMT bumil KEK Bufferstock diberikan dalam bentuk makanan padat
gizi dengan kandungan 500 kalori energi dan 15 gram protein.
d) Lama pemberian PMT Pemulihan untuk balita dan Ibu Hamil KEK
e) adalah 90 hari makan anak (HMA) dan 90 hari makan bumil (HMB).
Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam manajemen pemberian MP-ASI
dan PMT-Bumil KEK antara lain:
(1) Merencanakan kebutuhan MP-ASI dan PMT Bumil KEK untuk
sasaran selama satu tahun.
(2) Memantau kegiatan pemberian MP-ASI dan PMT Bumil KEK, di
wilayah kerja Puskesmas.
(3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi MP-ASI dan PMT Bumil
KEK wilayah kerja Puskesmas.
h. Surveilens gizi
Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data
yang dilakukan secara terus menerus, penyajian serta diseminasi informasi
bagi Kepala Puskesmas serta Lintas Program dan Lintas Sektor terkait di
tingkat kecamatan.Informasi dari kegiatan surveilans gizi dimanfaatkan untuk

24
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

melakukan tindakan segera maupun untuk perencanaan program jangka


pendek, menengah, maupun jangka panjang.Sebagai acuan bagi petugas
gizi puskesmas dalam melakukan surveilans gizi bisa menggunakan buku
Surveilans Gizi, Kementerian Kesehatan RI, 2014.
1) Tujuan:
a) Tersedianya informasi berkala dan terus menerus tentang besaran masalah
gizi dan perkembangan di masyarakat.
b) Tersedianya informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab
masalah gizi dan faktor-faktor terkait
c) Tersedianya informasi kecenderungan masalah gizi di suatu daerah
d) Menyediakan informasi intervensi yang paling tepat untuk dilakukan (bentuk,
sasaran, dan tempat)
2) Lingkup data surveilans gizi antara lain:
a) Data status gizi
b) Data konsurnsi makanan
c) Data cakupan program gizi
3) Sasaran: bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu
menyusui, pekerja serta lansia.
4) Dalam pelaksanaan surveilans gizi, tenaga gizi puskesmas berkoordinasi
dengan tenaga surveilans di Puskesmas dengan fungsi antara lain:
a) Merencanakan surveilans mulai dari lokasi, metode/cara melakukan, dan
penggunanaan data
b) Melakukan surveilans gizi meliputi mengumpulkan data, mengolah data,
menganalisa data, melaksanakan diseminasi informasi
c) Membina kader posyandu dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan gizi di
posyandu
d) Melaksanakan intervensi gizi yang tepat
e) Membuat laporan surveilans gizi
5) Contoh Kegiatan dalam Survilans Gizi antara lain:
a) Pemantauan Status Gizi (PSG)
(1) Tujuan mengetahui status gizi masyarakat sebagai bahan
perencanaan
(2) Sasaran disesuaikan dengan kebutuhan setempat (bayi, balita, anak usia

25
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu menyusui, pekerja serta lansia.)
b) Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
(1) Tujuan:
 Tersedianya informasi secara terus menerus, cepat, tepat dan akurat sebagai
dasar penentuan tindakan dalam upaya untuk pencegahan dan
penanggulangan masalah gizi
 Memantau situasi pangan dan gizi antar desa/kelurahan dalam 1
kecamatan
(2) Sasaran: Lintas program dan lintas sektor di tingkat kecamatan di wilayah
kerja Puskesmas.
c) Sistem Kewaspadaan Dini - Kejadian Luar Biasa/SKD-KLB Gizi Buruk
(1) Tujuan: mengantisipasi kejadian luar biasa gizi buruk di suatu wilayah
pada kurun waktu tertentu
(2) b) Sasaran: balita dan keluarganya, posyandu
d) Pemantauan Konsumsi Garam beriodium di rumah tangga
(1) Tujuan :
memperoleh gambaran berkala tentang cakupan konsumsi garam
beriodium yang memenuhi syarat di masyarakat. Dilaksananakan setiap
satu tahun sekali.
(2) Sasaran : rumah tangga

i. Pembinaan Gizi di Institusi


Pembinaan Gizi di Sekolah
1) Tujuan kegiatan ini adalah memperbaiki status gizi anak sekolah
2) Sasaran kegiatan ini adalah peserta didik PAUD, Taman Kanak-kanak/ TK,
SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA Pondok Pesantren, dan sederajat.
3) Bentuk-bentuk kegiatan perbaikan gizi di sekolah
a) Edukasi gizi (penyuluhan)
b) Penjaringan status gizi di sekolah
c) Pemberdayaan peserta didik sebagai dokter kecil/Kader Kesehatan
26
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

Remaja (KKR)
d) Pengawasan dan pembinaan pengelola kantin sehat
4) Fungsi tenaga gizi puskesmas bersama dengan tim UKS
a) Mengkoordinir dan atau melakukan edukasi gizi di sekolah.
b) Menapis status gizi anak sekolah.
c) Mengkoordinir pemantauan dan intervensi terhadap status gizi anak di
sekolah.
d) Menjalin kerjasama dengan sekolah dalam pemberdayaan peserta
didik sebagai dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja (KKR).
e) Menjalin kerjasama dengan sekolah dalam membina kantin sekolah.
f) Membuat laporan program perbaikan gizi di sekolah
j. Kerjasama lintas sektor dan lintas program
1) Tujuan: meningkatkan pencapaian indikator perbaikan gizi di tingkat
puskesmas melalui kerjasama lintas sektor dan lintas program
2) Sasaran: seksi pemberdayaan masyarakat kantor camat, Penyuluh Pertanian
Lapangan, juru penerang kecamatan, TP PKK, Dinas
Pendidikan, Kepala Desa/Kelurahan, program KIA, bidan koordinator.
tenaga sanitarian, tenaga promosi kesehatan, perawat, sanitarian, juru
imunisasi, dan lain-lain.
3) Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam kerjasama lintas sektor dan lintas
program adalah:
a) Merencanakan kegiatan sensitif yang memerlukan kerjasama
b) Mengidentifikasi sektor dan program yang perlu kerjasama
c) Melakukan pertemuan untuk menggalang komitmen kerjasama
d) Melakukan koordinasi dalam menentukan indikator-indikator
keberhasilan kerjasama
e) Mengkoordinasikan pelaksanaan kerjasama
f) Membuat laporan hasil kerjasama

2. Alur Pelayanan Gizi Di Luar Gedung


Penanganan masalah gizi memerlukan pendekatan yang komprehensif (promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif). Pelaksanaan pelayanan gizi luar gedung
bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor terkait. Alur pelayanan gizi
27
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

luar gedung disesuaikan dengan jenis kegiatan, sasaran dan keadaan wilayah
setempat.

Mekanisme Rujukan
Alur mekanisme rujukan di Puskesmas adalah sebagai berikut:
Keterangan:
1. Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Puskesmas Keliling (Pusling) merupakan unit
struktural di bawah Puskesmas Induk.
2. Posyandu dan poksila adalah Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
3. Puskesmas dapat menerima pasien rujukan langsung yang datang dari Posyandu,
Pustu dan Poksila
1. Apabila Puskesmas tidak mampu merawat pasien karena keterbatasan jenis dan
fasilitas pelayanan, maka pasien dapat dirujukke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi yaitu Rumah Sakit. Pada kondisi Gawat Darurat Puskesmas
berfungsi menstabilisasi pasien yang gawat sebelum dirujuk ke Rumah Sakit.
2. Rumah Sakit akan merujuk kembali pasien yang telah selesai mendapatkan
perawatan ke Puskesmas. Mekanisme seperti ini disebut rujuk balik. Tujuannya
agar pasien dapat dipantau perkembangan kesembuhannya oleh tenaga kesehatan di
Puskesmas yang bertanggung iawab di wilayah rumahnya.

Pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi dilaksanakan di Puskesmas, data dan


informasi dari hasil pencatatan diolah dan dianalisa serta dilaporkan ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/kota.

BAB V
LOGISTIK

A. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Pencatatan dan pelaporan untuk mendokumentasikan pelayanan gizi di dalam dan
di luar gedung menggunakan instrumen antara lain:
1. Buku Register Pasien
2. Rekap jumlah pasien yang mendapat konseling

28
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

3. F3/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Puskesmas)


4. Pelaporan ASI Ekslusif
5. Pelaporan BGM
6. Pelaporan Garam Beriodium di Posyandu
7. Pelaporan Garam Beriodium di SD
8. Pelaporan Status Gizi anak Pra Sekolah/ TK
9. Pelaporan Status gizi anak SD

B. MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN


Kegiatan yang dimonitor adalah kegiatan pelayanan gizi baik di dalam maupun
di luar gedung. Cara melakukan monitoring dan evaluasi perlu memperhatikan
jenis dan waktu kegiatan yang dilaksanakan. Dari sisi jenis kegiatan, dapat
dibedakan antara monitoring di dalam gedung dan luar gedung.
1. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan di Dalam Gedung
Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi:
a. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi
1) Frekuensi edukasi yang direncanakan diselenggarakan di Puskesmas per
bulan, triwulan, semester, tahun.
2) Frekuensi edukasi yang dilaksanakan di Puskesmas per bulan, triwulan,
semester, tahun.
3) Jenis Materi Penyuluhan yang diberikan
b. Konseling
1) Data jumlah rujukan permintaan konseling
2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling.

2. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan di Luar Gedung


Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi:
a. Penyuluhan Gizi
1) Frekuensi penyuluhan gizi yang direncanakan diselenggarakan di luar
Puskesmas per bulan dan per tahun.
2) Frekuensi penyuluhan gizi yang dilaksanakan di luar Puskesmas per bulan
dan per tahun.
3) Materi penyuluhan yang diberikan per bulan dan per tahun.
29
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

b. Konseling
1) Data jumlah rujukan permintaan konseling per bulan dan per tahun
2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling gizi per bulan
dan per tahun.
. Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu
1) Data SKDN yang meliputi jumlah balita yang ada (S), jumlah balita yang
punya KMS (K), jumlah balita yang ditimbang (D), jumlah balita
yang naik berat badannya (N) per bulan
2) Persentase D/S dan N/D per bulan
3) Jumlah balita BGM dan 2T per bulan
4) Jumlah balita BGM dan 2T yang dirujuk per bulan

d. Pemberian Kapsul Vitamin A


1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat vitamin A
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan vitamin A

e. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil


1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat TTD
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan TTD

f. Pengelolaan MP-ASI, PMT-Pemulihan


1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat MP-ASI, PMT-Pemullham
2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan mendapat MP-ASI, PMT-
Pemulihan

g. Pembinaan Gizi Institusi


1) Data jumlah edukasi gizi yang direncanakan per bulan dan per tahun
Institusi diluar Puskesmas
2) Data jumlah edukasi gizi yang dilaksanakan per bulan dan per tahun di
Institusi diluar Puskesmas

h. Surveilans Gizi
1) Jenis kegiatan surveilans yang perlu dilakukan Puskesmas
30
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

2) Jenis kegiatan surveilans yang telah dilakukan Puskesmas

i. Kerjasama Lintas sektor dan Lintas Program


1) Jumlah rencana rapat LP/LS per bulan dan per tahun
2) Jumlah realisasi rapat LP/LS per bulan dan per tahun

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan Gizi perlu


diperhatikan keselamatan sasaran dengan melakukan identifikasi resiko terhadap segala
kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan
resiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap –tiap kegiatan yang akan
dilaksanakan

31
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Gizi perlu diperhatikan


keselamatan kerja karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait dengan melakukan
identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat
pelaksanaan kegiatan.Upaya pencegahan resiko terhadap keselamatan kerja harus
dilakukan tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan
32
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Kinerja pelaksanaan kegiatan Gizi dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan


indikator sebagai berikut:

3) 1.Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadual

33
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

4) 2.Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan

5) 3.Ketepatan metode yang digunakan

6) 4.Tercapainya indikator Gizi

7) Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap tribulanan

BAB IX
PENUTUP

Penyusunan buku pedoman Pelayanan Gizi Puskesmas di UPT Puskesmas


PANCUR telah dilakukan melalui serangkaian kegiatan melibatkan lintas sektor dan lintas
program terkait.Buku ini akan menjadi pelengkap dari berbagai buku petunjuk tehnis
sesuai dengan jenis pelayanan gizi yang diberikan.
Buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi tenaga gizi puskesmas
dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan gizi dipuskesmas .

34
Akreditasi Puskesmas Pancur Dokumen

35