Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Setiap orang tua tentu mendambakan memiliki anak yang sehat baik

secara jasmani maupun rohani dan cerdas, berhasil dalam pendidikan dan

sukses dalam hidup. Kenyataanya tidak setiap anak terlahir dengan tumbuh

kembang yang normal, banyak diantara mereka yang mengalami gangguan

atau hambatan dalam bicara, bahasa, perilaku, emosional, pendengaran, dan

penglihatan. Anak merupakan aset yang berharga bagi masa depan bangsa dan

bagian dari generasi muda yaitu salah satu sumber daya manusia yang

merupakan potensi dan penerus cita-cita pejuang bangsa.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional (UUSPN) pada Pasal 5 ayat (2) dan pasal 32 ayat (1)

disebutkan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional,

mental, intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki

tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,

emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat

istimewa. Secara yuridis anak luar biasa memiliki hak yang sama untuk

mendapatkan pendidikan.

1
2

Anak-anak yang dikatakan berkebutuhan khusus ialah mereka yang

mengalami gangguan atau hambatan dalam proses perkembangannya, baik

pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Gangguan atau hambatan

yang dimaksud antara lain retardasi mental, kesulitan belajar, gangguan

emosional atau perilaku, gangguan bicara dan bahasa, gangguan pendengaran,

gangguan penglihatan, gangguan fisik (Indrijati, 2016). Anak dengan cacat

perkembangan sulit menghadapi berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-

hari (Kleinert, 2017).

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik

khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya seperti tunarungu,

tunagrahita (retardasi mental), autis, down syndrome, tunalaras (gangguan

emosi dan perilaku), tunadaksa (gangguan kelainan fisik), kesulitan belajar

(smart, 2010). Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children)

menurut Putri (2010) dapat juga diartikan sebagai anak yang lambat (slow)

atau mengalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di

sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya (Ardianto, 2013).

Penyandang cacat atau disabilitas fisik di dunia lebih dari 650 juta.

WHO memperkirakan sekitar 10% dari jumlah tersebut atau sekitar 200 juta

anak-anak dan remaja hidup dengan disabilitas fisik, alat panca indera,

maupun intelektual. Jumlah tersebut sekitar 80% hidup dinegara berkembang

(Byrnes 2007 ; Rosyidie et al 2011). Menurut data Pusat Informasi Nasional

(PUSDATIN) dari Kementerian Sosial pada tahun 2010 menyebutkan jumlah


3

penyandang disabilitas di Indonesia berjumlah sebesar 11.580.117 orang

dengan perincian tunanetra berjumlah 3.474.035 orang, tunadaksa berjumlah

3.010.830 orang, tunarungu 2.547.626 orang, tunagrahita 1.389.614 orang dan

1.158.012 penyandang disabilitas. Jumlah tersebut di asumsikan akan

meningkat setiap tahunnya (Nuansa 2014 ; Virlia & Andri 2015).

Pendidikan ABK dibutuhkan pendidik atau guru yang berlatar

belakang pendidikan khusus yang memegang peranan penting yang bukan

hanya menyampaikan materi pembelajaran saja tetapi juga sebagai pendidik

yang juga mampu mengembangkan pembelajaran dengan melandasi dan

menanamkan nilai-nilai pendidikan (Hidayatullah 2009; Wahyudi 2016).

Guru merupakan individu yang mempunyai tugas sebagai fasilitator di

sekolah. Fasilitator ini bertugas mengembangkan potensi dasar peserta didik

secara optimal melalui lembaga sekolah. Fasilitator yang baik bagi para

peserta didik, guru harus mempunyai kemampuan mendidik, membimbing,

mengajar, dan melatih anak didiknya (Suparlan 2006).

Tanggung jawab pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di

sekolah luar biasa (SLB) terletak di tangan pendidik yaitu guru SLB. Guru

pendidikan luar biasa merupakan salah satu komponen pendidik yang secara

langsung mempengaruhi tingkat keberhasilan ABK dalam memenuhi

perkembangannya (Ineupuspita 2008; Raharjaningtyas & Masykur 2013).

ABK mengalami gangguan atau hambatan yang bersifat kompleks

yang menyebabkan anak kesulitan untuk menerima pelajaran yang diberikan


4

kepadanya. Metode belajar yang bisa dilakukan pada ABK seperti akademik,

perilaku, sensori integritas, wicara dan okupasi. Metode lain yang bisa

digunakan karena terbukti efektif adalah terapi Metode Lovaas yaitu terapi

yang dikembangkan dari terapi Applied Behaviour Analysis (ABA). Inti dari

Metode Lovaas adalah program one-on-one theraphy, artinya penanganan satu

terapis dan satu pasien (Edelson 2008; Reza 2011).

Penelitian ekstensif membuktikan efektifitas Metode ABA ini terhadap

anak-anak autistik pada tahun 1967, Lovaas dan kawan-kawan berhasil

mempublikasikan suatu studi komprehensif yang memperlihatkan bahwa

Metode ABA sangat efektif untuk terapi anak autistik, terutama dalam

mengurangi perilaku yang bersifat merusak seperti tantrum, melukai diri-

sendiri, stimulasi-diri dan lain-lain (Mulyadi & Sutadi, 2014).

ABA juga meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi,

sosialisasi, bermain dan aktivitas bantu diri anak. Metode ABA adalah ilmu

terapan yang menggunakan prosedur perubahan perilaku, untuk mengajarkan

seseorang agar menguasai berbagai kemampuan atau aktivitas dengan ukuran

nilai-nilai atau standar yang ada di masyarakat (Mulyadi & Sutadi, 2014).

Tujuan dasar ABA adalah membentuk perilaku yang lebih dapat

diterima lingkungan sosial dan mengurangi perilaku yang bermasalah. Metode

ABA merupakan suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran untuk

memberikan rangsangan perkembangan sensorik, motorik, sikap dan perilaku

sehingga komunikasi, interaksi sosial, sikap, perilaku dan emosional dapat


5

berkembang (Ryan 2011; Prabowo et al 2014). Dasar-dasar ABA sudah

dikembangkan sejak lebih dari satu abad yang lalu, dan melalui berbagai

penelitian yang luas dan begitu banyak. Penerapan ABA bagi anak-anak

autistik, pertama kali dilakukan oleh Lovaas di University of California, Los

Angeles (UCLA) pada tahun 1962. Beliau mempublikasikan hasilnya pada

tahun 1967, disusul berbagai publikasi penelitian lain pada tahun-tahun

berikutnya (Mulyadi & Sutadi, 2014).

Metode ABA membantu guru untuk mengajarkan anak agar

meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi seperti memperhatikan,

mempertahankan kontak mata, dan dapat membantu mengontrol masalah

perilaku. Metode ABA dipilih sebagai media berdasarkan pada pertimbangan-

pertimbangan yaitu komunikasi dua arah yang aktif, sosialisasi ke dalam

lingkungan yang umum, menghilangkan atau menimimalkan perilaku yang

tidak wajar, mengajarkan perilaku yang akademik, dan kemampuan bantu diri

atau bina diri dan ketrampilan lain (Handojo ; 2009 Rinja 2016).

Laporan penelitian telah banyak dilakukan sebelumnya tentang terapi

ABA untuk penyembuhan anak autis, berawal dari penelitian yang dilakukan

sendiri oleh Lovaas pada tahun 1982 dari University of California, Los

Angeles (UCLA), dengan menggunakan program terapi intensif dengan

metode ABA terhadap anak-anak autistik berumur kurang dari 4 tahun,

terbukti menunjukkan tingkat keberhasilan sampai 89%. Dari 89% tersebut,

47% benar-benar mampu masuk mainstreaming (benar-benar sembuh) dan


6

42% mencapai berbagai tingkat integrasi atau inklusi. Penatalaksanaan

metode ABA ini membuktikan adanya perbaikan yang bersifat menetap

artinya tidak akan menunjukkan kekambuhan, maupun penampakan gejala-

gejala sisa (Mulyadi & Sutadi, 2014).

Metode ABA Lovaas dalam penelitiannya di tahun 1987 terhadap 19

orang anak autistik dengan terapi ABA 40 jam per-minggu selama 2 tahun,

maka pada anak-anak itu didapatkan peningkatan IQ (Intelligence Quotient)

yang demikian besar. Anak-anak autistik dengan tindakan serupa selama 10

jam per-minggu dalam jangka waktu sama, tidak menunjukkan perbaikan

yang berarti. Terapi perilaku yang dilaksanakan dengan intensif menjadi salah

satu keberhasilan terapi syarat lain agar Metode ABA berhasil baik yaitu

pelaksanaan sedini mungkin dan secara optimal (berkualitas) (Mulyadi &

Sutadi, 2014).

Penelitian lain dilakukan oleh Ariyanti tahun (2016) tentang Pengaruh

metode Cognitive Behavior Treatment Applied Behaviour Analysis (CBT

ABA) terhadap kepatuhan anak berkebutuhan khusus di klinik Yamet

Yogyakarta. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode ABA

mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatkan kepatuhan anak

berkebutuhan khusus terutama anak yang memiliki gangguan perilaku. Hasil

penelitian yang diperoleh membuktikan bahwa terapi ABA memiliki peran

yang sangat besar dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi seperti


7

memperhatikan, berkomunikasi, sosialisasi, bermain dan aktivitas bantu-diri

dan dapat membantu mengontrol masalah perilaku.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 4

januari 2017 di SLB Bina Anak Bangsa di dapatkan data jumlah guru 19

orang sedangkan SLB Cahaya Bangsa di dapatkan jumlah data guru 16 orang.

Peneliti melakukan wawancara dengan kepala sekolah di SLB Cahaya Bangsa

didapatkan informasi bahwa guru sudah tahu tentang metode ABA tetapi

metode ABA sulit di terapkan di sekolah karena keterbatasan jumlah guru

pendamping dan waktu mengajar. Sekolah tersebut menerapkan kurikulum

pembelajaran sama seperti sekolah pada umumnya, selain itu sebagian guru-

guru di SLB Cahaya Bangsa sudah mendapatkan pelatihan tetapi untuk

pelatihan tentang metode ABA sangat jarang dilakukan karena biaya pelatihan

yang cukup mahal.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu guru di SLB

Bina Anak Bangsa bahwa metode ABA belum sepenuhnya diterapkan karena

keterbatasan tenaga kerja dan waktu yang disebabkan metode ABA

menggunakan prinsip satu terapis satu anak. Terapi yang diterapkan di SLB

Bina Anak Bangsa seperti terapi wicara, terapi perilaku, terapi sensorik

integrasi dan terapi akademik yaitu kurikulum pembelajaran sama seperti

sekolah pada umum namun disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.

Guru-guru di SLB Bina Anak Bangsa sudah pernah mengikuti pelatihan

tentang ABA dan belum pernah dilakukan penelitian tentang pelaksanaan


8

metode ABA untuk menilai tingkat pengetahuan yang berhubungan dengan

perilaku mengajar guru pada anak berkebutuhan khusus. Sehingga peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian ini.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 4

januari 2017 di SLB Bina Anak Bangsa di dapatkan data jumlah guru 19

orang sedangkan SLB Cahaya Bangsa di dapatkan jumlah data guru 16 orang.

Peneliti melakukan wawancara dengan kepala sekolah di SLB Cahaya Bangsa

didapatkan informasi bahwa guru sudah tahu tentang metode ABA tetapi

metode ABA sulit di terapkan di sekolah karena keterbatasan jumlah guru

pendamping dan waktu mengajar. Sekolah tersebut menerapkan kurikulum

pembelajaran sama seperti sekolah pada umumnya, selain itu sebagian guru-

guru di SLB Cahaya Bangsa sudah mendapatkan pelatihan tetapi untuk

pelatihan tentang metode ABA sangat jarang dilakukan karena biaya pelatihan

yang cukup mahal.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu guru di SLB Bina

Anak Bangsa bahwa metode ABA belum sepenuhnya diterapkan karena

keterbatasan tenaga kerja dan waktu yang disebabkan metode ABA

menggunakan prinsip satu terapis satu anak. Terapi yang diterapkan di SLB

Bina Anak Bangsa seperti terapi wicara, terapi perilaku, terapi sensorik

integrasi dan terapi akademik yaitu kurikulum pembelajaran sama seperti


9

sekolah pada umum namun disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.

Guru-guru di SLB Bina Anak Bangsa sudah pernah mengikuti pelatihan

tentang ABA dan belum pernah dilakukan penelitian tentang pelaksanaan

metode ABA untuk menilai tingkat pengetahuan yang berhubungan dengan

perilaku mengajar guru pada anak berkebutuhan khusus. Sehingga peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian ini.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat

pengetahuan tentang metode Applied Behaviour Analysis (ABA) dengan

perilaku mengajar Guru bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Bina

Anak Bangsa dan Cahaya Bangsa Kota Pontianak.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini sebagai berikut :

1.3.2.1 Mengetahui karakteristik Guru SLB Bina Anak Bangsa dan

Cahaya Bangsa Kota Pontianak.

1.3.2.2 Mengetahui tingkat pengetahuan Guru terkait pelaksanaan

Metode pembelajaran Applied Behaviour Analysis (ABA) di

SLB Bina Anak Bangsa dan Cahaya Bangsa Kota Pontianak.


10

1.3.2.3 Mengetahui perilaku mengajar Guru tentang penerapan Metode

pembelajaran Applied Behaviour Analysis (ABA) di SLB Bina

Anak Bangsa dan Cahaya Bangsa Kota Pontianak.

1.3.2.4 Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang Metode

Applied Behaviour Analysis (ABA) dengan perilaku mengajar

Guru bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Bina Anak

Bangsa dan Cahaya Bangsa Kota Pontianak.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini sebagai berikut :

1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi, dan

literatur khususnya mengenai metode Applied Behaviour Analysis

(ABA).

1.4.2 Bagi Sekolah Luar Biasa Bina Anak Bangsa Pontianak

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penerapan pada

aplikasi proses pembelajaran anak autis dan anak berkebutuhan khusus

lainnya. Institusi pendidikan sekolah luar biasa untuk mengoptimalkan

pembelajaran metode Applied Behaviour Analysis (ABA) terhadap

anak berkebutuhan khusus.


11

1.4.3 Bagi Instansi Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi tentang

metode Applied Behaviour Analisys (ABA). Pada penanganan asuhan

keperawatan anak dengan kebutuhan khusus.

1.4.4 Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah

pengetahuan masyarakat tentang metode Applied Behaviour Analisys

(ABA) khususnya kepada orang tua yang memiliki anak dengan

gangguan perkembangan, sehingga pola asuh dapat efektif dan optimal

pada penerapannya.

1.4.5 Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti dan menjadi

data dasar bagi peneliti selanjutnya terkait hubungan tingkat

pengetahuan tentang penerapan metode Applied Behaviour Analysis

(ABA) dengan perilaku mengajar Guru bagi Anak Berkebutuhan

Khusus dengan metode penelitian yang lebih baik lagi.