Anda di halaman 1dari 11

Dilarang melaranG

Menu utama
Skip to content
https://acehmillano.wordpress.com/2014/09/21/vektor-penyakit/

vektor penyakit

1 Vote

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan saat ini diarahkan untuk menekan angka kematian yang
disebabkan oleh berbagai penyakit yang jumlahnya semakin meningkat. Masalah umum
yang dihadapi dalam bidang kesehatan adalah jumlah penduduk yang besar dengan
angka pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran penduduk yang belum merata,
tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang masih rendah. Keadaan ini dapat
menyebabkan lingkungan fisik dan biologis yang tidak memadai sehingga
memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit (Menkes, 2010).

Vektor adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tetapi menyebarkannya


dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lainnya. Vektor juga merupakan
anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari
sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat,
binatang yang termasuk kelompok vektor dapat merugikan kehidupan manusia karena
disamping mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit
seperti yang sudah di jelaskan di atas (Nurmaini,2001). Penyakit yang ditularkan melalui
vektor masih menjadi penyakit endemis yang dapat menimbulkan wabah atau kejadian
luar biasa serta dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat sehingga perlu
dilakukan upaya pengendalian atas penyebaran vektor tersebut (Menkes, 2010).

Adapun dari penggolongan binatang yang dapat dikenal dengan 10 golongan yang
dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak
sebagai perantara penularan penyakit malaria, demam berdarah, dan phylum chodata
yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes),
pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Sebenarnya disamping
nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih banyak binatang lain yang
berfungsi sebagai vektor dan binatang pengganggu (Nurmaini,2001).

Namun kedua phylum tersebut sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia, untuk
itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus ditanggulangi, sekalipun
demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya
mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu
yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini
untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu managemen pengendalian dengan
arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas
populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan.
1. Tujuan
Mengetahui definisi, jenis-jenis vektor penyakit, peranan yang dapat merugikan manusia,
serta mengetahui cara pengendaliannya.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Vektor Penyakit
Peraturan Pemerintah No.374 tahun 2010 menyatakan bahwa vektor merupakan
arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan
penyakit pada manusia. Sedangkan menurut Nurmaini (2001), vektor adalah arthropoda
yang dapat memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada
induk semang yang rentan.
Vektor penyakit merupakan arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit
sehingga dikenal sebagai arthropod – borne diseases atau sering juga disebut sebagai
vector – borne diseases yang merupakan penyakit yang penting dan seringkali bersifat
endemis maupun epidemis dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan sampai kematian.

Di Indonesia, penyakit – penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit


endemis pada daerah tertentu, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, kaki
gajah, Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Disamping
itu, ada penyakit saluran pencernaan seperti dysentery, cholera, typhoid fever dan
paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.

Menurut Chandra (2003), ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu
penyakit :
1. Cuaca
Iklim dan musim merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya penyakit
infeksi. Agen penyakit tertentu terbatas pada daerah geografis tertentu, sebab mereka
butuh reservoir dan vektor untuk hidup. Iklim dan variasi musim mempengaruhi
kehidupan agen penyakit, reservoir dan vektor. Di samping itu perilaku manusia pun
dapat meningkatkan transmisi atau menyebabkan rentan terhadap penyakit infeksi.
Wood tick adalah vektor arthropoda yang menyebabkan penularan penyakit yang
disebabkan ricketsia.

2. Reservoir
Hewan-hewan yang menyimpan kuman patogen dimana mereka sendiri tidak terkena
penyakit disebut reservoir. Reservoir untuk arthropods borne disease adalah hewan-
hewan dimana kuman patogen dapat hidup bersama. Binatang pengerat dan kuda
merupakan reservoir untuk virus encephalitis. Penyakit ricketsia merupakan arthropods
borne disease yang hidup di dalam reservoir alamiah.seperti tikus, anjing, serigala serta
manusia yang menjadi reservoir untuk penyakit ini. Pada banyak kasus,kuman patogen
mengalami multifikasi di dalam vektor atau reservoir tanpa menyebabkan kerusakan
pada intermediate host.

3. Geografis
Insiden penyakit yang ditularkan arthropoda berhubungan langsung dengan daerah
geografis dimana reservoir dan vektor berada. Bertahan hidupnya agen penyakit
tergantung pada iklim (suhu, kelembaban dan curah hujan) dan fauna lokal pada daerah
tertentu, seperti Rocky Mountains spotted fever merupakan penyakit bakteri yang
memiliki penyebaran secara geografis. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan tungau
yang terinfeksi.oleh ricketsia dibawa oleh tungau kayu di daerah tersebut dan dibawa
oleh tungau anjing ke bagian timur Amerika Serikat.
4. Perilaku Manusia
Interaksi antara manusia, kebiasaan manusia.membuang sampah secara sembarangan,
kebersihan individu dan lingkungan dapat menjadi penyebab penularan penyakit
arthropoda borne diseases.

1. Jenis-jenis Vektor Penyakit


Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciri-ciri
kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya karena
hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang (Nurmaini,2001). Berikut jenis dan
klasifikasi vektor yang dapat menularkan penyakit :

Arthropoda yang dibagi menjadi 4 kelas :

1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang


2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu
3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau
4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk .
Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang perlu

diperhatikan dalam pengendalian adalah :


1. Ordo Dipthera yaitu nyamuk dan lalat
 Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria
 Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah
 Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur
1. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal
 Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes
1. Ordo Anophera yaitu kutu kepala
Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan typhus exantyematicus.

Selain vektor diatas, terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak sebagai binatang
pengganggu antara lain:

 Ordo hemiptera, contoh kutu busuk


 Ordo isoptera, contoh rayap
 Ordo orthoptera, contoh belalang
 Ordo coleoptera, contoh kecoak

Sedangkan dari phylum chordata yaitu tikus yang dapat dikatakan sebagai binatang
pengganggu, dapat dibagi menjadi 2 golongan :

1. Tikus besar, (Rat) Contoh :


 Rattus norvigicus (tikus riol )
 Rattus-rattus diardiil (tikus atap)
 Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan)
1. Tikus kecil (mice),Contoh:Mussculus (tikus rumah)
Arthropoda [arthro + pous ] adalah filum dari kerajaan binatang yang terdiri dari organ
yang mempunyai lubang eksoskeleton bersendi dan keras, tungkai bersatu, dan
termasuk di dalamnya kelas Insecta, kelas Arachinida serta kelas Crustacea, yang
kebanyakan speciesnya penting secara medis, sebagai parasit, atau vektor organisme
yang dapat menularkan penyakit pada manusia (Chandra,2003). Arthropoda yang
Penting dalam dunia Kedokteran adalah arthropoda yang berperan penting sebagai
vektor penyebaran penyakit (arthropods borne disease) dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

Tabel 1. Kelas dan Species dari Arthropoda yang Penting


1. Peranan Vektor Penyakit
Secara umum, vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular
penyakit. Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk, kecoa/lipas, lalat,
semut, lipan, kumbang, kutu kepala, kutu busuk, pinjal, dll. Penularan penyakit pada
manusia melalui vektor penyakit berupa serangga dikenal sebagai arthropod – borne
diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases. Agen penyebab
penyakit infeksi yang ditularkan pada manusia yang rentan dapat melalui beberapa cara
yaitu :

1. Dari orang ke orang


2. Melalui udara
3. Melalui makanan dan air
4. Melalui hewan
5. Melalui vektor arthropoda (Chandra,2003).
Vektor penyakit dari arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit dikenal sebagai
arthropod – borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases.

1. Arthropods Borne Disease


Istilah ini mengandung pengertian bahwa arthropoda merupakan vektor yang
bertanggung jawab untuk terjadinya penularan penyakit dari satu host (pejamu) ke host
lain. Paul A. Ketchum, membuat klasifikasi arthropods borne diseases pada kejadian
penyakit epidemis di Amerika Serikat seperti terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2. Arthropods Borne Disease di Amerika


Park & Park, membagi klasifikasi arthropods borne diseases yang sering menyebabkan
terjadinya penyakit pada manusia sebagai berikut :

Tabel 3.

No Arthropoda Penyakit Bawaan


Merupakan vektor dari penyakit Malaria, Filaria, Demam
kuning Demam berdarah, Penyakit otak, demam
1. Nyamuk haemorhagic
Merupakan vektor dari penyakit tipus dan demam
paratipus,diare, disentri, kolera, gastro-enteritis,
2. Lalat amoebiasis, penyakit lumpuh, conjunctivitis, anthrax
Merupakan vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci
3. Lalat Pasir dan bartonellosisi, Leishmania donovani,
4. Lalat Hitam Merupakan vektor penyakit Oncheocerciasis
5. Lalat tse2 Merupakan vektor dari penyakit tidur
Merupakan vektor dari penyakit tipus mewabah, relapsing
6. Kutu demam, parit
7. Pinjal penyakit sampar, endemic typhus
8. Sengkenit Penyakit Rickettsia (Rickettsia Rickettsii)
penyakit tsutsugamushi atau scrub typhus yang disebabkan
oleh Rickettsia tsutsugamushi,
9. Tungau
1. Transmisi Arthropoda Bome Diseases
Masuknya agen penyakit kedalam tubuh manusia sampai terjadi atau timbulnya gejala
penyakit disebut masa inkubasi atau incubation period, khusus pada arthropods borne
diseases ada dua periode masa inkubasi yaitu pada tubuh vektor dan pada manusia.

1. Inokulasi (Inoculation)
Masuknya agen penyakit atau bibit yang berasal dari arthropoda kedalam tubuh manusia
melalui gigitan pada kulit atau deposit pada membran mukosa disebut sebagai inokulasi.

2. Infestasi (Infestation)
Masuknya arthropoda pada permukaan tubuh manusia kemudian berkembang biak
disebut sebagai infestasi, sebagai contoh scabies.

3. Extrinsic Incubation Period dan Intrinsic Incubation Period


Waktu yang diperlukan untuk perkembangan agen penyakit dalam tubuh vektor Disebut
sebagai masa inkubasi ektrinsik, sebagai contoh parasit malaria dalam tubuh nyamuk
anopheles berkisar antara 10 – 14 hari tergantung dengan temperatur lingkungan dan
masa inkubasi intrinsik dalam tubuh manusia berkisar antara 12 – 30 hari tergantung
dengan jenis plasmodium malaria.

4. Definitive Host dan Intermediate Host


Disebut sebagai host definitif atau intermediate tergantung dari apakah dalam tubuh
vektor atau manusia terjadi perkembangan siklus seksual atau siklus aseksual pada
tubuh vektor atau manusia, apabila terjadi siklus sexual maka disebut sebagai host
definitif, sebagai contoh parasit malaria mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk,
maka nyamuk anopheles adalah host definitive dan manusia adalah host intermediate.
5. Propagative, Cyclo – Propagative dan Cyclo – Developmental
Pada transmisi biologik dikenal ada 3 tipe perubahan agen penyakit dalam tubuh vektor
yaitu propagative, cyclo – propagative dan cyclo – developmental, bila agen penyakit
atau parasit tidak mengalami perubahan siklus dan hanya multifikasi dalam tubuh vektor
disebut propagative seperti plague bacilli pada kutu tikus, dengue (DBD) bila agen
penyakit mengalami perubahan siklus dan multifikasi dalam tubuh vektor disebut cyclo –
propagative seperti parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles dan terakhir bila
agen penyakit mengalami perubahan siklus tetapi tidak mengalami proses multifikasi
dalam tubuh vektor seperti parasit filarial dalam tubuh nyamuk culex.
1. Pengendalian Vektor Penyakit
Peraturan Mentri No.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa pengendalian vektor
merupakan kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor
serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya
penularan penyakit di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor
sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor dapat di cegah (MENKES,2010).
Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau
mekanis, penggunaan agen biotik kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat
perkembangbiakannya dan atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat
mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal sebagai alternative. Beberapa
faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber binatang
antara lain adanya perubahan iklim, keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat.
Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. Faktor risiko
lainnya adalah keadaan rumah dan sanitasi yang buruk, pelayanan kesehatan yang
belum memadai, perpindahan penduduk yang non imun ke daerah endemis.

Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi
geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor, belum
teridentifikasinya spesies vektor ( pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis,
belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor,
peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida tertentu, keterbatasan
sumberdaya baik tenaga, logistik maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan
dalam pengendalian vektor.

Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai


tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan
populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun
hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi
vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai,
bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep yang
benar. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu :

1. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT)


Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis dan social
budaya, maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sector kesehatan
saja tetapi memerlukan kerjasama lintas sector dan program. Pengendalian vektor
dilakukan dengan memakai metode pengendalian vektor terpadu yang merupakan suatu
pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metoda pengendalian vektor yang
dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas, efektifitas pelaksanaannya
serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya.

1. Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah


1. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi sebagai metode atau cara
pengendalian
2. Dapat meningkatkan program pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit
tular vektor
3. Melalui kerjasama lintas sector hasil yang dicapai lebih optimal dan saling
menguntungkan.
Pengendalian Vektor Terpadu merupakan pendekatan pengendalian vektor menggunakan
prinsip-prinsip dasar management dan pertimbangan terhadap penularan dan
pengendalian peyakit. Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses
pengambilan keputusan yang rasional agar sumberdaya yang ada digunakan secara
optimal dan kelestarian lingkungan terjaga.

1. Prinsip-prinsip PVT meliputi:


1. Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang bioekologi vektor setempat,
dinamika penularan penyakit, ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat
spesifik local( evidence based)
2. Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif berbagai sector dan
program terkait, LSM, Organisasi profesi, dunia usaha /swasta serta masyarakat.
3. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metoda non
kimia dan menggunakan pestisida secara rasional serta bijaksana
4. Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi dan prinsip
ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
A. Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut:
5. Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah,
mengurangi, menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor
secara fisik dan mekanik.
Contohnya:

 modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan


lumut, penenman bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll)
 Pemasangan kelambu
 Memakai baju lengan panjang
 Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier)
 Pemasangan kawat
2. Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic
 predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll)
 Bakteri, virus, fungi
 Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll)
3. Metode pengendalian secara kimia
 Surface spray (IRS)
 Kelambu berinsektisida
 larvasida
Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan
sebagai berikut :

1. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian


agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/
membahayakan.
2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi
terhadap tata lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001)
2. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan memanfaatkan
kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vector. Ini dapat dilakukan
dalam jangka waktu yang lama
3. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan
bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor. Ini hanya dapat dilakukan
sementara.
A. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation
improvement)
B. Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) yaitu
dengan modifikasi/manipulasi lingkungan
C. Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan
memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator, fertilisasi
D. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan
karantina
E. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control)
(Afrizal, 2010).

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
1. Vektor penyakit merupakan vector yang berperan sebagai penular penyakit.
Vektor penyakit akibat serangga dikenal dengan arthropod – borne diseases atau
sering juga disebut sebagai vector – borne diseases
2. Jenis-jenis dan klasifikasi vector penyakit yaitu phylum Arthropoda yang terdiri
dari crustacea Kelas Myriapoda Kelas Arachinodea Kelas hexapoda dan phylum
chodata yaitu berupa tikus.
3. Peranan vektor penyakit adalah sebagai pengganggu dan penular penyakit dari
host ke pejamu (manusia)
4. Pengendalian yang dapat dilakukan dalam mengendalikan vector penyakit adalah
Pengendalian Vektor secara Terpadu (PVT), Pengendalian secara alamiah
(naturalistic control) dan Pengendalian terapan (applied control)

DAFTAR PUSTAKA
Afrizal, D. 2010. http://fkmutu.blogspot.com/2010/12/makalah-pengendalian-
vektor- penyakit.html diakses pada tanggal 5 Maret 2011
Chandra,budi. 2003.Vektor Penyakit Menular Pada
Manusia. http://files.buku- kedokteran.webnode.com/200000024-
3716638102/Vektor%20Penyakit.pdf . diakses tanggal 4 maret 2011.
Nurmaini. 2001. Identifikasi vektor dan binatang pengganggu serta pengendalian
anopheles Aconitus secara sederhana.http://www.solex-
un.net/repository/id/hlth/CR6-Res3-ind.pdf. diakses tanggal 4 maret 2011.
Peraturan Mentri Republik Indonesia nomor 374/Mekes/PER/III/2010.tenteng Pengendalian
Vektor. http://www.depkes.go.id/downloads/Pengendalian Vektor%20.pdf. diakses
tanggal 4 maret 2011.
Rahayu, Subekti. 2004. Semut Sahabat Petani.
http://www.blueboard.com/kerengga/pdf/rahuya.pdf. di akses tanggal 4 maret 2011

Bagikan ini:

 Bagikan

Terkait
uksdalam "MAKALAH"
ECOLIdalam "IPA"
ECOLIdalam "MAKALAH"

By Acehmillano Ganto • Posted in MAKALAH


Navigasi pos
MEMAHAMI DAN MEMILIKI WAWASAN TENTANG BEBERAPA PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI PENTING
VALIDITAS DAN RELIABILITAS TES
Tinggalkan Balasan

Acehmillano Ganto

Tulisan Terakhir
 AKHLAK MURID TERHADAP GURU DAN AKHLAK GURU TERHADAP MURID
 AGAMA DAN MASYARAKAT
 STRESS DAN ADAPTASI
 Perwasitan Dalam Sepakbola
 Zakat Ternak
Kategori

Kategori
Arsip
 Maret 2016
 Februari 2016
 Januari 2016
 September 2014
 Juni 2013
 Maret 2013
Top Rating
Posts | Pages | Comments
All | Today | This Week | This Month
 ALAM SEMESTA DAN TATA SURYA
5/5 (1 vote)
 BUNGA SEDERHANA
5/5 (1 vote)
 DAMPAK PERKEMBANGAN IPA DAN TEKNOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL
5/5 (1 vote)
 GIRO SYARIAH
5/5 (1 vote)
 KARATE (OLAHRAGA)
5/5 (1 vote)
 Ikuti