Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN MASALAH PRIORITAS DALAM SURVEY KELUARGA SEHAT

BANJAR ANGGARKASIH DESA MEDAHAN KABUPATEN GIANYAR

1. Nama KK : Tn. BG
Daftar Masalah :
a. Merokok

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. BG pada Kamis, 8


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa Tn.BG merokok di dalam
lingkungan keluarga. Tn.BG mengatakan bahwa dirinya merokok sejak dirinya
duduk di bangku SMA sampai saat ini. Biasanya Tn.BG merokok sebanyak 2
bungkus sehari. Tn.BG mengatakan dirinya merasa lebih tenang setelah merokok.
Hal tersebut yang membuat Tn. BG terus merokok. Tapi Ny. KS, istri Tn.BG
mengatakan bahwa dulu Tn.BG pernah berhenti merokok selama 4 bulan namun
tidak tahan merokok lagi ketika melihat orang-orang di lingkungan sekitarnya
merokok. Pada saat survey keluarga sehat terlihat satu bungkus rokok yang ketika
ditanya mengenai siapa pemiliknya, Tn.BG mengakui bahwa itu miliknya. Keluarga
Tn. BG juga memiliki 3 orang anak yang salah satunya mASIh berumur di bawah 5
tahun.

Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang risiko merokok terutama
untuk anak-anak yang rentan menjadi perokok pASIf, komplikASI dan cara untuk
berhenti merokok agar dapat meningkatan derajat kesehatan keluarga. Intervensi
yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat ke-8 yaitu tidak
ada anggota keluarga yang merokok adalah memberikan promosi kesehatan berupa
penyuluhan tentang perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan mengenai perokok aktif dan
perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI merokok dan cara untuk berhenti
merokok. Pada saat pemberian penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif dalam
mendengarkan penjelasan dari mahASIswa dan mengajukan pertanyaan mengenai
cara efektif untuk berhenti merokok yang dijawab oleh mahASIswa dengan
menjelaskan metode 21 challenge yaitu 21 hari untuk mengurangi rokok. Penyuluhan
berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya sudah termasuk sesi tanya jawab.
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn.BG mengatakan sudah mengerti mengenai
bahaya merokok dan cara mengurangi merokok.

b. Keluarga Berencana

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. BG pada Kamis, 8


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa keluarga Tn.BG mengalami
masalah kesehatan pada indikator keluarga sehat ke-1 yaitu keluarga mengikuti
program KB. Ny. KS mengatakan bahwa dirinya sudah 3 kali mengganti jenis KB
diantaranya yaitu pada tahun 2001 Ny.KS menggunakan KB IUD namun Ny.KS
mengalami masalah menstruASI yaitu mens selama 1 bulan penuh. Tiga tahun
kemudian Ny.KS memutuskan untuk mengganti KB IUD menjadi KB pil namun
Ny.KS mengalami masalah kesehatan seperti pusing dan telinga berdenging lalu
setahun terakhir ini Ny.KS menggunakan KB suntik (1 bulan sekali).

Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya keluarga
berencana. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah
memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat,
efek samping, indikASI dan kontraindikASI dari penggunaan alat kontrasepsi.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan tentang penggunaan,
manfaat, efek samping, indikASI dan kontraindikASI dari penggunaan alat
kontrasepsi. Pada saat pemberian penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif
dalam mendengarkan penjelasan dari mahASIswa. Penyuluhan berlangsung selama
15 menit yang di dalamnya sudah termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan
penyuluhan keluarga Tn.BG mengatakan sudah mengerti mengenai program keluarga
berencana.

c. JKN (Jaminan Kesehatan NASIonal)

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. BG pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 18.00 WITA didapatkan data bahwa keluarga Tn.BG tidak
memiliki jaminan kesehatan nASIonal (JKN).Tn.BG mengatakan dirinya sudah
mencoba untuk membuat asuransi kesehatan, namun proses pembuatan asuransi di
tempatnya tinggalnya menghabiskan waktu yang sangat lama sehingga dirinya
merasa lelah menunggu. Saat ini Tn.BG berencana membuat jaminan kesehatan yang
baru. Tn. BG menyadari bahwa JKN adalah hal yang penting dan harus dimiliki.

Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi
keluarga. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga
sehat yang ke-9 yaitu sekeluarga sudah menjadi anggota JKN adalah memberikan
promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara
mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan tentang penggunaan, manfaat
dan cara mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal. Pada saat pemberian
penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif dalam mendengarkan penjelasan dari
mahASIswa. Penyuluhan berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya sudah
termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn.BG
mengatakan sudah mengerti mengenai manfaat dan cara mendapatkan kartu Jaminan
Kesehatan NASIonal (JKN).

2. Nama KK : Tn. WK
Daftar Masalah :
a. Merokok

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WK pada Kamis, 8


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa Tn.WK merokok di dalam
lingkungan keluarga. Tn.BG mengatakan bahwa dirinya merokok sejak dirinya
duduk di bangku SMA sampai saat ini. Biasanya Tn.BG merokok sebanyak 1
bungkus sehari. Tn.BG mengatakan dirinya merasa lebih tenang setelah merokok.
Hal tersebut yang membuat Tn. WK terus merokok. Pada saat survey keluarga sehat
terlihat satu bungkus rokok yang ketika ditanya mengenai siapa pemiliknya, Tn.WK
mengakui bahwa itu miliknya. Keluarga Tn. WK juga memiliki 2 orang cucu yang
mASIh berumur dibawah 5 tahun.
Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang risiko merokok terutama
untuk anak-anak yang rentan menjadi perokok pASIf, komplikASI dan cara untuk
berhenti merokok agar dapat meningkatan derajat kesehatan keluarga. Intervensi
yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat ke-8 yaitu tidak
ada anggota keluarga yang merokok adalah memberikan promosi kesehatan berupa
penyuluhan tentang perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan mengenai perokok aktif dan
perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI merokok dan cara untuk berhenti
merokok. Pada saat pemberian penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif dalam
mendengarkan penjelasan dari mahASIswa dan mengajukan pertanyaan mengenai
cara efektif untuk berhenti merokok yang dijawab oleh mahASIswa dengan
menjelaskan metode 21 challenge yaitu 21 hari untuk mengurangi rokok. Penyuluhan
berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya sudah termasuk sesi tanya jawab.
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn.WK mengatakan sudah mengerti
mengenai bahaya merokok dan cara mengurangi merokok.

b. Keluarga Berencana

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WK pada Kamis, 8


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa keluarga Tn.WK mengalami
masalah kesehatan pada indikator keluarga sehat ke-1 yaitu keluarga mengikuti
program KB. Ny. WM mengatakan bahwa dirinya sudah 3 kali mengganti jenis KB
diantaranya yaitu pada saat dirinya berumur 26 tahun dirinya menggunakan KB IUD
dan sudah 4 kali melakukan pemasangan ulang karena Ny.WK merasa kurang
nyaman dan perutnya terasa sakit. Dokter mengatakan terdapat infeksi kecil akibat
pemasangan KB tersebut sehingga Ny. WM memutuskan untuk mengganti jenis KB
pada umur 47 tahun dengan jenis KB suntik yang bertahan selama 1 tahun karena
siklus menstruASInya tidak teratur. Sehinga ketika dirinya berumur 48 tahun, dirinya
mengganti jenis KB menjadi KB pil. Tapi sayangnya Ny.WM mengaku tidak
meminum pil KBnya setiap hari.
Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya keluarga
berencana. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah
memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat,
efek samping, indikASI dan kontraindikASI dari penggunaan alat kontrasepsi.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan tentang penggunaan,
manfaat, efek samping, indikASI dan kontraindikASI dari penggunaan alat
kontrasepsi. Pada saat pemberian penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif
dalam mendengarkan penjelasan dari mahASIswa. Penyuluhan berlangsung selama
15 menit yang di dalamnya sudah termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan
penyuluhan keluarga Tn.WK mengatakan sudah mengerti mengenai program
keluarga berencana.

c. JKN (Jaminan Kesehatan NASIonal)

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WK pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 18.00 WITA didapatkan data bahwa keluarga Tn.WK tidak
memiliki jaminan kesehatan nASIonal (JKN). Tn.WK mengatakan dirinya sudah
mencoba untuk membuat asuransi kesehatan, namun proses pembuatan asuransi di
tempatnya tinggalnya menghabiskan waktu yang sangat lama sehingga dirinya
merasa lelah menunggu. Saat ini Tn.WK berencana membuat jaminan kesehatan
yang baru. Tn. WK menyadari bahwa JKN adalah hal yang penting dan harus
dimiliki.

Oleh sebab itu mahASIswa membuat beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi
keluarga. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga
sehat yang ke-9 yaitu sekeluarga sudah menjadi anggota JKN adalah memberikan
promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara
mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa pada Senin, 19 Februari


2018 pukul 18.00 Wita adalah memberikan penyuluhan tentang penggunaan, manfaat
dan cara mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal. Pada saat pemberian
penyuluhan tampak keluarga sangat kooperatif dalam mendengarkan penjelasan dari
mahASIswa. Penyuluhan berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya sudah
termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn.WK
mengatakan sudah mengerti mengenai manfaat dan cara mendapatkan kartu Jaminan
Kesehatan NASIonal (JKN).

3. Nama KK : Tn. WS
Daftar Masalah :
a. Merokok

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WS pada tanggal 09


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa Tn. WS merokok di dalam
lingkungan keluarga. Tn. WS biasanya merokok setelah makan dan saat berkumpul
bersama dengan kerabatnya. Tn. WS mengatakan bahwa dirinya merokok sejak
dirinya duduk di bangku SMA sampai saat ini. Biasanya Tn. WS merokok sebanyak
1 dalam 3 hari, selain itu Tn. WS menggunaka tembakau yang dikuyah setiap hari.
Tn. WS sudah pernah mencoba berhenti merokok pada tahun 1998 sampai dengan
tahun 2000 hanya saja karena pengaruh teman kerjanya Tn. WS kembali merokok.
Dan sampai saat ini Tn. WS mASIh merokok dan menguyah tembakau setiap hari.

Oleh karena itu mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang risiko merokok terutama
untuk anak-anak yang rentan menjadi perokok pASIf, komplikASI dan cara untuk
berhenti merokok agar dapat meningkatan derajat kesehatan keluarga. Intervensi
yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat ke-8 yaitu tidak
ada anggota keluarga yang merokok adalah memberikan promosi kesehatan berupa
penyuluhan tentang perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa adalah memberikan


penyuluhan mengenai perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok. Pada saat pemberian penyuluhan tampak
keluarga sangat kooperatif dalam mendengarkan penjelasan dari mahASIswa dan
mengajukan pertanyaan mengenai cara efektif untuk berhenti merokok yang dijawab
oleh mahASIswa dengan menjelaskan metode 21 challenge yaitu 21 hari untuk
mengurangi rokok. Penyuluhan berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya
sudah termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn. WS
mengatakan sudah mengerti mengenai bahaya merokok dan cara mengurangi
merokok.

b. Hipertensi

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WS pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 18.00 Wita didapatkan data bahwa ayah Tn.WS mengalami
masalah kesehatan pada indikator kesehatan keluarga yaitu hipertensi. Pada saat
melakukan survey kesehatan didapatkan tekanan darah ayah Tn. WS 150/100 mmHg.
Tn. WS mengatakan ayahnya tidak selalu mengalami hipertensi, hanya saja pada saat
ayahnya merasa pusing dan kelelahan terkadang tekanan darah ayah Tn. WS
meningkat. Tn. WS mengatakan ayahnya tidak mengkonsumsi obat secara teratur
tetapi tetap mengukur tekanan darah secara rutin di Puskesmas.

Oleh karena itu mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang hipertensi. Penyuluhan
yang diberikan kepada Tn. WS mengenai tanda-tanda hipertensi, penyebab
hipertensi, pencegahan hipertensi, pola nutrisi yang bisa dikonsumsi untuk keluarga
yang mengalami hipertensi. Dalam memberikan penyuluhan mahASIswa
menggunakan leaflet sebagai media untuk mempermudah keluarga dalam memahami
informASI yang diberikan.

c. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN)

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. WS pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 18.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. WS tidak memiliki
jaminan kesehatan nASIonal (JKN). Tn. WS mengatakan dulu ia pernah
menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) hanya saja pada saat ayahnya masuk
Rumah Sakit karena hipertensi KIS nya tidak bisa digunakan sehingga Tn. WS sempat
berhenti menggunakan jaminan kesehatan. Saat ini Tn. WS berencana membuat
jaminan kesehatan yang baru. Tn. WS menyadari bahwa JKN adalah hal yang penting
dan harus dimiliki.
Oleh sebab itu, mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan
untuk meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi
keluarga. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga
sehat yang pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN.
Intervensi yang diberikan oleh mahASIswa kepada keluarga yaitu memberikan
promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara
mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal.

4. Nama KK : Tn. SP
Daftar Masalah :
a. Merokok

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. SP pada tanggal 09


Februari 2018 pukul 19.00 Wita didapatkan data bahwa Tn. SP merokok di dalam
lingkungan keluarga. Tn. SP mengatakan bahawa ia merokok sejak duduk dibangku
SMA. Dalam sehari Tn. WS merokok 1 bungkus dalam sehari dan anaknya juga
perokok aktif sejak duduk dibangku SMA. Anak Tn. WS merokok 1 bungkus dalam
sehari. Tn. WS dan anaknya belum pernah mencoba untuk berhenti merokok. Tn. WS
mengatakan merokok membuat dirinya merasa tenang, lebih rileks dan
menghilangkan rasa bosan saat bekerja.

Oleh karena itu mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang risiko merokok terutama
untuk anak-anak yang rentan menjadi perokok pASIf, komplikASI dan cara untuk
berhenti merokok agar dapat meningkatan derajat kesehatan keluarga. Intervensi
yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat ke-8 yaitu tidak
ada anggota keluarga yang merokok adalah memberikan promosi kesehatan berupa
penyuluhan tentang perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok.

ImplementASI yang telah dilakukan oleh mahASIswa adalah memberikan


penyuluhan mengenai perokok aktif dan perokok pASIf, risiko merokok, komplikASI
merokok dan cara untuk berhenti merokok. Pada saat pemberian penyuluhan tampak
keluarga sangat kooperatif dalam mendengarkan penjelasan dari mahASIswa dan
mengajukan pertanyaan mengenai cara efektif untuk berhenti merokok yang dijawab
oleh mahASIswa dengan menjelaskan metode 21 challenge yaitu 21 hari untuk
mengurangi rokok. Penyuluhan berlangsung selama 15 menit yang di dalamnya
sudah termasuk sesi tanya jawab. Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn. SP
mengatakan sudah mengerti mengenai bahaya merokok dan cara mengurangi
merokok.

b. Hipertensi

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. SP pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 19.00 Wita didapatkan data bahwa Tn. SP mengalami masalah
kesehatan pada indikator kesehatan keluarga yaitu hipertensi. Pada saat melakukan
survey kesehatan didapatkan tekanan darah Tn. SP 140/90 mmHg. Tn. SP
mengatakan bahwa dirinya tidak selalu mengalami hipertensi, hanya saja pada saat ia
merasa pusing dan kelelahan saat bekerja sampai larut malam terkadang kepalanya
terasa sakit dan tekanan darahnya meningkat. Tn. SP mengatakan bahwa ia tidak
mengkonsumsi obat secara teratur dan tidak mengukur tekanan darah secara rutin di
Puskesmas.

Oleh karena itu mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang hipertensi. Penyuluhan
yang diberikan kepada Tn. SP mengenai tanda-tanda hipertensi, penyebab hipertensi,
pencegahan hipertensi, pola nutrisi yang bisa dikonsumsi untuk keluarga yang
mengalami hipertensi. Dalam memberikan penyuluhan mahASIswa menggunakan
leaflet sebagai media untuk mempermudah keluarga dalam memahami informASI
yang diberikan.

c. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN)

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. SP pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 18.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. SP tidak memiliki
jaminan kesehatan nASIonal (JKN). Tn. SP mengatakan ia dan keluarganya belum
pernah menggunakan jaminan kesehatan nASIonal karena Tn. SP malas untuk
mengurusnya sendiri dan menunggu Kepala Desa untuk memberikan jaminan
kesehatan. Tn. SP mengatakan bahwa jaminan kesehatan sangat penting karena Tn.
SP berencana ingin memiliki anak lagi sehingga memudahkan Tn. SP untuk
membayar biaya Rumah Sakit.
Oleh sebab itu, mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan
untuk meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi
keluarga. Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga
sehat yang pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN.
Intervensi yang diberikan oleh mahASIswa kepada keluarga yaitu memberikan
promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara
mendapatkan kartu jaminan kesehatan nASIonal

d. Keluarga Berencana

Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. SP pada tanggal 9


Februari 2018 pukul 19.00 Wita didapatkan data bahwa Ny. WW tidak menggunakan
KB karena Ny. WW berencana ingin menambah anak lagi. Ny. WW sempat
menggunakan pil KB selama dua tahun namun merasa dirinya tidak cocok dan sering
lupa minum pil KB, sehingga ibu memutuskan untuk berhenti menggunakan pil KB.
Sampai saat ini ibu mASIh bingung untuk menggunakan alat kontrasepsi yang tepat.

Oleh sebab itu, mahASIswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan


untuk meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya keluarga
berencana. Intervensi yang diberikan oleh mahASIswa kepada keluarga yaitu
memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat,
efek samping, indikASI dan kontraindikASI dari penggunaan alat kontrasepsi.

5. Nama KK : Tn. NY
Daftar Masalah :
a. JKN
Berdasarkan survey yang telah dilakukan pada keluarga Tn. NY pada tanggal
8 Februari 2018 pukul 17.00 didapatkan data bahwa keluarga Tn. NY belum
memiliki JKN. Keluarga Tn. NY khususnya Ny. M (istri) mengatakan bahwa
dirinya sudah sempat didata oleh pihak banjar untuk mendapatkan rekomendASI
penerimaan JKN. Namun, setelah sekian lama keluarga Tn. NY tidak kunjung
diberikan konfirmASI tentang program JKN tersebut. Keluarga Tn. NY juga
mengatakan sejak saat itu tidak pernah menanyakan bagaiamana kelanjutannya
sampai sekarang.
Berdasarkan permasalahan JKN tersebut, maka dibuat sebuah intervensi yaitu
memberikan promosi kesehatan tentang JKN, bagaimana alur proses JKN
tersebut. Setelah intervensi dibuat, maka dilakukan implementASI pada tanggal
19 Februari 2018 dengan sasaran seluruh anggota keluarga.
Setelah dilakukan penyuluhan selama 10 menit, keluarga Tn. NY mengatakan
akan segera mengurus sendiri JKN ke kantor kepengurusan JKN.

b. Merokok
Selain tidak memiliki JKN, keluarga Tn. NY khususnya Tn. EA (anak) dan
Tn. A (anak) memiliki kebiasaan merokok. Pada hari yang sama Tn. EA dan Tn.
A mengatakan memiliki kebiasaan merokok sekitar 1 bungkus setiap harinya. Tn.
EA mengatakan sudah merokok sejak mASIh SMA begitu juga dengan Tn. A
yang melihat kakaknya merokok akhirnya “ikut-ikutan” merokok.
Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. NY
khususnya Tn. EA dan Tn. A mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan.
Dilanjutkan dengan implementASI yang dilakukan tanggal 19 Februari 2018
pukul 17.00 dengan sasaran Tn. EA dan Tn. A. Dijelaskan oleh petugas tentang
pengertian rokok, bahaya rokok, kandungan rokok, zona aman rokok dll.
Setelah selesai diberikan penyuluhan Tn. EA dan Tn. A mengatakan sudah
mengerti dengan penjelasan petugas dan dapat menyebutkan kembali zona aman
merokok yang sudah dijelaskan sebelumnya.
c. Hipertensi
Permasalahan lain yang ada di keluarga Tn. NY yaitu adanya salah satu
anggota keluarga yang didiagnosis Hipertensi akan tetapi tidak mengonsumsi obat
secara teratur. Adalah Ny. M, yang merupakan istri dari Tn. NY mengatakan
sudah didiagnosis Hipertensi sejak sekitar 7 tahun yang lalu. Pada saat pengkajian
tanggal 8 Februari berdasarkan hASIl pengukuran tekanan darah didapatkan
hASIl 145/90 mmHg. Saat pengkajian Ny. M mengeluh nyeri pada tengkuk dan
kebetulan saat itu Ny. M sedang tidak enak badan. Ny. M mengatakan salah satu
faktor yang membuat kondisinya drop adalah karena stress memikirkan anaknya
yang saat ini sedang terlibat hokum tentang kasus kecelakaan. Pernah dikatakan
oleh Ny. M sekitar seminggu yang lalu kondisinya sangat lemas dan hampir
pingsan. Saat diperiksa dokter tekanan darahnya 160/100 mmHg.
Setelah didapatkan data seperti diatas, maka disusun intervensi tentang
penanganan hipertensi yaitu promosi kesehatan tentang penanganan hipertensi
secara tepat. Kemudian dilakukan implementASI pada tanggal 19 Februari 2018
pukul 17.00 selama 15 menit dengan sasaran Ny. M. Sebelumnya dilakukan
pemeriksaan tekanan darah pada Ny. M dan didapatkan hASIl 140/90 mmHg.
Setelah implementASI selesai, Ny. M mengatakan sudah memahami tentang
penanganan hipertensi dan akan dating ke dokter untuk mengonsultASIkan
kondisinya.
d. Tidak melakukan pemantauan tumbuh kembang balita
Di keluarga Tn. NY juga terdapat seorang anak balita yang berumur 3 tahun yaitu
An. G. Ibu An. G (Ny. T) mengatakan sudah sekitar 1 tahun tidak mengajak
anaknya ke posyandu. Menurut Ny. T hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai
alasan sehingga anaknya sampai tidak diajak ke posyandu antara lain seperti
anaknya sedang tidur saat akan diajak ke posyandu, tidak ada yang mengantar
karena anggota keluarga sedang bekerja dan lupa pada saat jadwal ke posyandu.
Data subyektif juga divalidASI oleh buku KMS yang diperlihatkan oleh Ny. T
bahwa memang benar An. G mendapatkan pemantauan tumbuh kembang 1 tahun
yang lalu dengan hASIl BB: 14 kg.
Berdasarkan permasalahan tersebut kami membuat sebuah intervensi yaitu
penyuluhan tentang pentingnya pemantauan tumbuh kembang bagi balita. Setelah
intervensi selesai maka selanjutnya dilakukan implementASI pada tanggal 19
Februari 2018 pukul 17.00 dengan sasaran semua anggota keluarga Tn. NY.
ImplementASI berlangsung selama 15 menit dengan media pendukung yaitu
leaflet dan flayer tentang pemantauan tumbuh kembang balita.
Selama implementASI berlangsung keluarga Tn. NY khususnya Ny. T
memperhatikan penjelasan petugas dengan seksama. Setelah penyuluhan selesai,
petugas menanyakan kembali kepada keluarga apakah sudah dimengerti dan Ny.
T mengatakan sudah mengerti dan akan kembali mengajak An. G untuk
mendapatkan pemantauan tumbuh kembang balita.

6. Nama KK : Tn. Ws
Daftar masalah :
a. JKN
Berdasarkan survey keluarga sehat yang dilakukan pada tanggal 7 Februari
2018 pukul 18.00 wita dengan 12 indikator keluarga sehat, maka didapatkan 3
masalah dalam keluarga Tn. Ws yaitu tidak memiliki JKN, tidak menggunakan
alat kontrasepsi dan terdapat balita yang tidak mendapatkan ASI Ekslusif. Tn. Ws
mengatakan sudah mengurus JKN yaitu BPJS tetapi terdapat kendala dari waktu
karena Tn WS mengatakan sibuk bekerja. Maka dari itu Tn. Ws sampai saat ini
belum memiliki JKN.
Dari persamasalahan tersebuat maka dibuat intervensi yaitu dengan
memberikan KIE kepada semua anggota keluarga mengenai JKN, bagaimana alur
proses membuat JKN, dan pentingnya memiliki JKN. Setelah dibuatkan intervensi
maka pada tanggal 19 Februari 2018 dilakukan implementASI dengan sasaran
seluruh anggota keluarga.
Pada tanggal 20 Februari 2018 dilakukan evaluASI yaitu didapatkan keluarga
Tn WS sudah dalam proses membuat JKN.
b. Alat kontrasepsi
Dalam keluarga Tn. Ws yaitu Ny.KR tidak menggunakan alat kontrasepsi
setelah anak keduanya lahir yaitu sejak 7 bulan yang lalu. Ny KR mengatakan
tidak menggunakan alat kontrasepsi karena Ny. KR memiliki trauma dengan alat
kontrasepsi yaitu alat kontrasepsi suntik 1 bulan. Ny.KR mengatakan
mendapatkan perdarahan yang sangat banyak saat menggunakan alat kontrsepsi
tersebut hingga badannya lemas dan hampir pinsan.
Berdasarkan masalah tersebut maka dilakukan intervensi yaitu dengan
memberikan KIE kepada NY. Kr dan suami mengenai macam-macam KB,
keuntungan dan kelemahan dari KB tersebut.
Pada tanggal 19 Februari dilakukan implementASI kepada Ny Kr dan suami
dengan memberikan penyuluhan mengenai alat kontrasepsi selama 15 menit.
Setelah dilakukan implementASI tersebut maka didapatkan evaluASI yaitu Ny. Kr
akan membicarakan masalah kontrasepsi tersebut dengan suami terlebih dahulu,
stelah mendapat pilihan yang tepat Ny Kr bersedia pergi ke tenaga kesehatan.
c. ASI Eksklusif
Didalam keluarga Tn. Ws terdapat balita yang tidak mendapatkan ASI
ekslusif. Ny. Kr mengatakan tidak memberikan ASI Ekslusif kepada anaknya
karena ia sibuk bekerja dan tidak sempat untuk memerah ASInya. Ny.KR
mengatakan di tempat ia bekerja mendapat waktu istirahat yang sangat kurang,
sehingga ia tidak bias memerah ASInya di tempat kerja.
Berdasarkan masalah tersebut kami merencanakan intervensi yaitu dengan
memeberikan KIE mengenai ASI esklusif dan cara menyimpan ASI pada ibu
bekerja.
Pada tanggal 19 februari dilakukan penyuluhan kepada seluruh anggota
keluarga dengan memberikan penyuluhan mengenai ASI Ekslusif dan
penyimpanan ASI pada ibu bekerja. Setelah penyuluhan tersebut didapatkan
semua anggota keluarga paham dan dapat mengulang penjelasan yang telah
diberikan. Dan seluruh anggota keluarga akan berusaha mendukung Ny. Kr untuk
membeikan ASI Ekslusif kepada anaknya.

7. Nama KK : Tn. NA
Daftar Masalah :
a. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. NA pada tanggal 8
Februari 2018 pukul 07.30 WITA didapatkan data bahwa Tn. NA tidak memiliki
jaminan kesehatan nasional (JKN). Tn. NA mengatakan tidak memiliki dana untuk
mengurus JKN dan melakukan pembayaran rutin perbulannya nanti. Tn. NA
mengatakan tidak perlu mengurus JKN karena bukan kebutuhan saat ini. Dana yang
dimiliki lebih dipergunakan untuk hal yang lebih penting. Tn. NA malas untuk
mengurusnya dan memerlukan waktu yang lama.
Oleh sebab itu, mahasiswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan untuk
meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi keluarga.
Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat yang
pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN. Intervensi yang
diberikan oleh mahasiswa kepada keluarga yaitu memberikan promosi kesehatan
berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara mendapatkan kartu jaminan
kesehatan nasional. Setelah diberikan penyuluhan oleh petugas, keluarga Tn. NA
memahami tentang manfaat JKN.
b. Merokok

Selain tidak memiliki JKN, keluarga Tn. NA khususnya Tn. NA memiliki


kebiasaan merokok. Pada hari yang sama Tn. NA memiliki kebiasaan merokok sekitar
satu bungkus setiap harinya. Tn. NA mengatakan sudah merokok sejak lama. Tn. NA
mengatakan merasa tenang setelah merokok dan beban terasa berkurang.
Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. NA
khususnya Tn. NA mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan. Dilanjutkan dengan
intervensi yang dilakukan tanggal 18 Februari 2018 pukul 19.00 dengan sasaran Tn.
NA. Dijelaskan oleh petugas tentang pengertian rokok, bahaya rokok, kandungan
rokok, zona aman rokok dan lainnya.

Setelah selesai diberikan penyuluhan Tn. NA mengatakan sudah mengerti dengan


penjelasan petugas dan dapat menyebutkan kembali zona aman merokok yang sudah
dijelaskan sebelumnya

c. Jamban
Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. NA pada tanggal 8
Februari 2018 pukul 07.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. NA tidak memiliki
jamban. Keluarga mengatakan bahwa tidak memiliki jamban karena keterbatasan dana.
Tempat untuk pembuatan jamban di pekarangan rumah sudah tersedia, namun karena
keterbatasan dana, maka keluarga lebih memilih sungai sebagai penggantinya.
Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. NA
memahami tentang manfaat pentingnya memiliki jamban. Intervensi dilakukan dengan
melakukan promosi kesehatan tentang manfaat jamban pada keluarga dan melakukan
advokasi dengan pemangku kebijakan tentang program bedah jamban. intervensi
dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2018 pukul 19.40 WITA. Setelah selesai
diberikan penyuluhan, Tn. NA mengatakan sudah mengerti dengan penjelasan petugas
dan dapat menyebutkan kembali pentingnya memiliki jamban.

8. Nama KK : Tn. KS
Daftar Masalah :
a. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. KS pada tanggal 8
Februari 2018 pukul 08.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. KS tidak memiliki
jaminan kesehatan nasional (JKN). Tn. NA mengatakan tidak memiliki dana untuk
mengurus JKN dan melakukan pembayaran rutin perbulannya nanti. Tn. KS
mengatakan tidak perlu mengurus JKN karena bukan kebutuhan saat ini. Dana yang
dimiliki lebih dipergunakan untuk hal yang lebih penting. Tn. KS malas untuk
mengurusnya dan memerlukan waktu yang lama.
Oleh sebab itu, mahasiswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan untuk
meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi keluarga.
Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat yang
pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN. Intervensi yang
diberikan oleh mahasiswa kepada keluarga yaitu memberikan promosi kesehatan
berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara mendapatkan kartu jaminan
kesehatan nasional.
b. Merokok

Selain tidak memiliki JKN, keluarga Tn. KS khususnya Tn. KS memiliki


kebiasaan merokok. Pada hari yang sama Tn. KS memiliki kebiasaan merokok sekitar
satu bungkus setiap harinya. Tn. KS mengatakan sudah merokok sejak lama. Tn. KS
mengatakan meraasa tenang setlah merok dan beban terasa berkurang.

Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. KS
khususnya Tn. KS mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan. Dilanjutkan dengan
intervensi yang dilakukan tanggal 18 Februari 2018 pukul 08.00 dengan sasaran Tn.
KS. Dijelaskan oleh petugas tentang pengertian rokok, bahaya rokok, kandungan
rokok, zona aman rokok dan lainnya.

Setelah selesai diberikan penyuluhan Tn. KS mengatakan sudah mengerti dengan


penjelasan petugas dan dapat menyebutkan kembali zona aman merokok yang sudah
dijelaskan sebelumnya

c. Hipertensi

Permasalahan lain yang ada di keluarga Tn. KS yaitu adanya salah satu anggota
keluarga yang didiagnosis Hipertensi akan tetapi tidak mengonsumsi obat secara
teratur. Tn. KS memiliki tekanan darah tinggi yaitu 210/120 mmHg. Saat pengkajian
Tn. KS tidak mengeluh apapun selama memiliki tekanan darah tinggi. Tn. KS
mengatakan memiliki tekanan darah tinggi karena sering begadang.

Setelah didapatkan data seperti diatas, maka disusun intervensi yaitu promosi
kesehatan tentang bahaya hipertensi. Setelah dilaksanakan penyuluhan, tn. KS
mengerti bahaya hipertensi dan bagaimana cara menurunkan hipertensi dengan pola
makan yang sehat dan bergizi, rajin berolah raga, istirahat yang cukup, mengurangi
merokok, dan mengelola stress. Tn. KS juga mengatakan akan datang ke puskesmas
untuk mengobati hipertensinya.

9. Nama KK : Tn. MJ
Daftar Masalah :
a. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. MJ pada tanggal 9
Februari 2018 pukul 08.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. MJ tidak memiliki
jaminan kesehatan nasional (JKN). Tn. MJ mengatakan tidak memiliki dana untuk
mengurus JKN dan melakukan pembayaran rutin perbulannya nanti. Tn. MJ
mengatakan tidak perlu mengurus JKN karena bukan kebutuhan saat ini. Dana yang
dimiliki lebih dipergunakan untuk hal yang lebih penting. Tn. MJ malas untuk
mengurusnya dan memerlukan waktu yang lama.
Oleh sebab itu, mahasiswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan untuk
meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi keluarga.
Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat yang
pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN. Intervensi yang
diberikan oleh mahasiswa kepada keluarga yaitu memberikan promosi kesehatan
berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara mendapatkan kartu jaminan
kesehatan nasional.
b. Merokok

Selain tidak memiliki JKN, keluarga Tn. MJ khususnya Tn. MJ memiliki


kebiasaan merokok. Pada hari yang sama Tn. MJ memiliki kebiasaan merokok sekitar
satu bungkus setiap harinya. Tn. MJ mengatakan sudah merokok sejak lama. Tn. MJ
mengatakan meraasa tenang setlah merok dan beban terasa berkurang.

Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. MJ
khususnya Tn. MJ mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan. Dilanjutkan dengan
intervensi yang dilakukan tanggal 18 Februari 2018 pukul 16.00 dengan sasaran Tn.
MJ. Dijelaskan oleh petugas tentang pengertian rokok, bahaya rokok, kandungan
rokok, zona aman rokok dan lainnya.

Setelah selesai diberikan penyuluhan Tn. MJ mengatakan sudah mengerti dengan


penjelasan petugas dan dapat menyebutkan kembali zona aman merokok yang sudah
dijelaskan sebelumnya
c. Hipertensi

Permasalahan lain yang ada di keluarga Tn. MJ yaitu adanya salah satu anggota
keluarga yang didiagnosis. Khususnya Ny. WM didiagnosis Hipertensi akan tetapi
tidak mengonsumsi obat secara teratur. Ny. WM memiliki tekanan darah tinggi yaitu
200/100 mmHg. Saat pengkajian Ny. WM mengeluh terkadang ia merasa sakit
kepala.

Setelah didapatkan data seperti diatas, maka disusun intervensi yaitu promosi
kesehatan tentang bahaya hipertensi. Setelah dilaksanakan penyuluhan, Ny.WM
mengerti bahaya hipertensi dan bagaimana cara menurunkan hipertensi dengan pola
makan yang sehat dan bergizi, rajin berolah raga, istirahat yang cukup, mengurangi
merokok, dan mengelola stress. Ny.WM juga mengatakan akan datang ke puskesmas
untuk mengobati hipertensinya.

d. ASI Esklusif

Selain masalah diatas,terdapat anggota keluarga yaitu bayi berumur 4 bulan


tidak asi eksklusif .Keluarga Tn. MJ khususnya ibu bayi yaitu Ny.N mengatakan
bahwa bayi N sudah 3 bulan dikarenakan bayi N tidak mau asi karena putting
payudara tidak keluar.Ny.N mengatakan sudah memaksa untuk menyusui bayi tetapi
tetap tidak mau.

Pada saat survey keluarga sehat terlihat ada anggota keluarga berumur 4 bulan
dengan keadaan fisik sehat dengan berat badan 8 kg dan Tinggi badan 60 cm. Pada
saat survey keluarga sehat terlihat ada botol susu , dan setelah ditanyakan botol berisi
susu formula BMT.

Setelah didapat data diatas , maka disusun intervensi yaitu Memberikan


promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang Pentingnya Asi Eksklusif dalam
peningkatan capaian Asi Eksklusif pada hari Minggu, 18 Februari 2018 pukul 16.00
WITA dengan menjelaskan manfaat asi bagi ibu dan bayi dengan tujuan
meningkatkan pengetahuan anggota keluarga tentang tentang Peningkatan capaian Asi
Eksklusif .
10. Nama KK : Tn. NN
Daftar Masalah :
a. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Berdasarkan survey yang telah dilakukan di keluarga Tn. NN pada tanggal 9
Februari 2018 pukul 08.00 WITA didapatkan data bahwa Tn. NN tidak memiliki
jaminan kesehatan nasional (JKN). Tn. NN mengatakan tidak memiliki dana untuk
mengurus JKN dan melakukan pembayaran rutin perbulannya nanti. Tn. NN
mengatakan tidak perlu mengurus JKN karena bukan kebutuhan saat ini. Dana yang
dimiliki lebih dipergunakan untuk hal yang lebih penting. Tn. NN malas untuk
mengurusnya dan memerlukan waktu yang lama.
Oleh sebab itu, mahasiswa melakukan beberapa intervensi yang bertujuan untuk
meningkatakan pengetahuan anggota keluarga tentang pentingnya JKN bagi keluarga.
Intervensi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari indikator keluarga sehat yang
pertama yaitu semua kepala keluarga anggota keluarga memiliki JKN. Intervensi yang
diberikan oleh mahasiswa kepada keluarga yaitu memberikan promosi kesehatan
berupa penyuluhan tentang penggunaan, manfaat dan cara mendapatkan kartu jaminan
kesehatan nasional.
b. Merokok

Selain tidak memiliki JKN, keluarga Tn. NN khususnya Tn. NN memiliki


kebiasaan merokok. Pada hari yang sama Tn. NN memiliki kebiasaan merokok sekitar
satu bungkus setiap harinya. Tn. NN mengatakan sudah merokok sejak lama. Tn. NN
mengatakan meraasa tenang setlah merok dan beban terasa berkurang.

Setelah didapatkan data tersebut, maka dibuat intervensi agar keluarga Tn. NN
khususnya Tn. NN mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan. Dilanjutkan dengan
intervensi yang dilakukan tanggal 19 Februari 2018 pukul 16.00 dengan sasaran Tn.
NN. Dijelaskan oleh petugas tentang pengertian rokok, bahaya rokok, kandungan
rokok, zona aman rokok dan lainnya.

Setelah selesai diberikan penyuluhan Tn. NN mengatakan sudah mengerti dengan


penjelasan petugas dan dapat menyebutkan kembali zona aman merokok yang sudah
dijelaskan sebelumnya

c. Hipertensi
Permasalahan lain yang ada di keluarga Tn. NN yaitu adanya dua anggota
keluarga yang didiagnosis. Khususnya Ny. MC dan Tn.NN didiagnosis Hipertensi
akan tetapi tidak mengonsumsi obat secara teratur. Tn. NN memiliki tekanan darah
tinggi yaitu 140/100 mmHg dan Ny. MC memiliki tekanan darah 140/90. Saat
pengkajian Ny. MC dan Tn. NN mengeluh terkadang ia merasa sakit kepala.

Setelah didapatkan data seperti diatas, maka disusun intervensi yaitu promosi
kesehatan tentang bahaya hipertensi. Setelah dilaksanakan penyuluhan, Ny.MC dan
Tn. NN mengerti bahaya hipertensi dan bagaimana cara menurunkan hipertensi
dengan pola makan yang sehat dan bergizi, rajin berolah raga, istirahat yang cukup,
mengurangi merokok, dan mengelola stress. Ny. MC dan Tn. NN juga mengatakan
akan datang ke puskesmas untuk mengobati hipertensinya.