Anda di halaman 1dari 31

Cedera Strain pada Hamstring : Rekomendasi untuk diagnosis,

rehabilitasi dan pencegahan Cedera


ryanC. Heiderscheit, PT, PhD1 • Marc A. Sherry, PT, DPT, LAT, CSCS2 • Amy Silder, PhD3Elizabeth S.
Chumanov, PhD4 • Darryl G. Thelen, PhD5

Cedera strain pada hamstring terdiri dari persentase penting dari cedera
muskuloskeletal akut yang terjadi selama aktifitas olahraga pada Sekolah menengah
atas, kuliah dan pada pendidikan tingkat profesi. 14,31,40,73 Perserta olahraga lari, sepak
bola, dan olahraga rugbi rentan mengalami cedera karena berhubungan dengan olahraga
lari cepat.14,31,40,73 sedangkan dancers (penari) memiliki supsebilitas yang sama karena
berhubungan dengan stretching (regangan) yang ekstrem yang terjadi pada otot
hamstring.6 Selama kurang lebih 10 tahun pemain dari klub sepak bola nasional (1998-
2007) mengalami cedera strain pada hamstring (n=85), terbanyak kedua setelah cedera
sprain pada lutut (n=120). 31 Jumlah rerata hari ketika mengalami cedera ini bervariasi
dari rentan 8-25, tergantung derajat keparahan bagian mana terkena cedera dan
lokasinya. 17,31 Secara potensial perhatian yang lebih besar ialah bahwa satu sampai tiga
dari cedera hamstring akan berulang dengan resiko terbesar selama 2 minggu pertama
kembalinya berolahraga.71 Cedera ulang yang terjadi lebih awal mengindikasikan tidak
terpenuhinya program rehabilitasi, terlalu cepat kembali berolahraga, atau kombinasi
keduanya.

Kejadian dari cedera strain hamstring selama lari dengan kecepatan tinggi secara
umum dipercaya menimbulkan fase swing terminal dari siklus berjalan, 37,70 persepsi ini
didukung oleh penemuan objektif dari 2 kasus cedera hamstring yang berbeda. 41,84
Selama pertengahan dari fase swing , otot hamstring dalam kondisi aktif, mengalami
perpanjangan dan mengabsorbsi energi dari deselerasi ekstremitas bawah pada
persiapan untuk kontak kaki. 21,93,105 Regangan muskulotendon yang paling besar terjadi
oleh bicep femoris, 94,96 yang mana dapat berkontribusi terhadap tendensi terjadinya
cedera yang lebih banyak lagi dibandingkan dari 2 otot hamstrring lainnya
(semimembranosus dan semitendinosus) selama lari dengan kecepatan tinggi
(GAMBAR 1). Berlari berhubungan dengan cedera strain hamstring yang terjadi
disepanjang tendon muskulus atau aponeurosis dan serabut otot yang berdekatan. 7,53
Selama recovery dari cedera, otot hamstring harus tepat direhabilitasi untuk keamanan
mengendalikan tnggiinya beban eksentrik sebelum kembali berlari.

1 Associate Professor, Department of Orthopedics and Rehabilitation, University of Wisconsin-Madison,


Madison, WI. 2 Director, Sports Rehabilitation, University of Wisconsin Health Sports Medicine Center,
Madison, WI. 3 Research Associate, Department of Biomedical Engineering, University of Wisconsin-
Madison, Madison, WI. 4 Research Associate, Department of Orthopedics and Rehabilitation, University
of Wisconsin-Madison, Madison, WI. 5 Associate Professor, Department of Mechanical Engineering,
University of Wisconsin-Madison, Madison, WI. Acknowledgement of funding sources: National Football
League Medical Charities, National Institutes of Health (AR 56201, RR 250121), University of Wisconsin
Sports Medicine Classic Fund. Address correspondence to Dr Bryan Heiderscheit, University of Wisconsin
School of Medicine and Public Health, Department of Orthopedics and Rehabilitation, 1300 University
Ave MSC 4120, Madison, WI 53706-1532. E-mail: heiderscheit@ortho.wisc.edu
SINOPSIS

Cedera strain hamstring menjadi sebuah tantangan untuk kedua atlet dan klinisi,
diberikan rentan insidensi tinggi dari cedera hamstring, penyembuhan yang lama, dan
gejala persisten. Lebih lagi, hampir 1/3 dari cedera berulang terjadi dalam tahun
pertama sewaktu kembalinya berolahraga, dengan seringnya terjadi cedera yang
selanjutnya banyak terjadinya keparahan. Rentan cedera ulang yang tinggi ini
mengindikasikan perlunya program rehabilitasi karena tidak terpenuhinya penyembuhan
karena timbulnya kelemahan muskular, penurunan ekstensibilitas jaringan, dan atau
berkurangnya pergerakan yang dihubungkan dengan terjadinya cedera. Lebih jauh lagi,
kriteria tradisional digunakan untuk menentukan kesiapan atlet untuk kembali
berolahraga yang membuat insentifitas dari defisit yang persisten ini yang akan
berdampak pada kembalinya berolahraga dalam waktu yang secepat mungkin. Ada
bukti bahwa resiko cedera ulang dapat diminimalkan dengan penggunaan rehabilitasi
dengan latihan mengontrol neuromuskular dan latihan kekuatan eksentrik,
dikombinasikan dengan pengukuran objektif untuk menilai proses penyembuhan
muskulotendon dan kesiapan kembali berolahraga. Dalam tulisan inii, kami pertama
menjelaskan uji diagnostik dari Cedera strain hamstring termasuk diskusi tentang nilai
menentukan lokasi cedera dalam estimasi durasi dari periode konvalsen. Berdasarkan
bukti data terbaru, kami kemudian mengajukan sebuah panduan klinis untuk rehabilitasi
cedera otot hamstring , termasuk kriteria spesifik dalam progresi terapi dan kembalinya
berolahraga. Akhirnya, kami menjelaskan arah penelitian kedepannya termasuk
program rehabilitasi khusus cedera, pengukuran objektif untuk menilai resiko cedera
ulang dan strategi untuk mencegah terjadinya cedera

LEVEL OF EVIDENCE : Diagnosis/therapy/prevention, level 5. J Orthop Sports


Phys Ther 2010;40(2):67-81. doi:10.2519/jospt.2010.3047

KATA KUNCI : rehabilitasi fungsional, cedera strain hamstring, pemeriksaan


radiologi, berlari, dan latihan kekuatan
Gambar 1. (A) kelompok otot hamstring terdiri dari otot bisep femoris,
semimembranosus,semitendinosus dengan caput longus bisep femoris terkena cedera
pada saat berlari dengan kecepatan tinggi.30 (B) selama fase swing berlari, otot
hamstring aktif, mengalami regangan (berubah panjang) dan mengabsorbsi energi saat
deselerasi dari ekstremitas bawah , menciptakan lingkungan yang potensial untuk
cedera kontraksi.

Cedera hamstring terjadi selama aktifitas seperti menari atau gerakan


menendang yang dapat terjadi selama perpindahan gerakan lambat dan cepat yang
melibatkan fleksi dan ekstensi lutut secara simultan. Pergerakan seperti itu membuat
posisi hamstring dalam kondisi regangan yang ekstrem, dengan cedera yang paling
sering pada semimembranosus dan tendon proksimal (berlawanan dengan tendon
intramuskular) cedera ini cenderung memerlukan periode penyembuhan yang lebih
lama dibanding periode sebelum individu mampu untuk kembali ke tingkat performa
sebelum terjadinya cedera. Disamping perbedaan mekanisme cedera dan waktu
pemulihan, pemeriksaan dan pendekatan rehabilitasi secara umum belum diperhatikan
pada lokasi cedera (contohnya , cedera tendon proksimal vs tendon intramuskular dan
serabut otot yang berdekatan) sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan klinis.6

Tujuan primer dari program rehabilitasi ialah kembalinya atlet dalam


berolahraga sesuai tingkat performa mereka berolahraga sebelum terjadinya cedera
dengan meminimalkan resiko terjadinya cedera. Capaian objektifnya ialah
membutuhkan pemahaman dan kesadaran dari defisit muskuloskeletal yang berdampak
dari cedera (contohnya pembengkakan, nyeri, kelemahan, dan hilangnya pergerakan)
begitu juga dengan faktor resiko yang menyebabkan terjadinya cedera. Sedangkan usia
dari individu dan riwayat sebelum cedera diidentifikasikan sebagai faktor resiko cedera
13,32,33,74,103
yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi
termasuk kelemahan hamstring, kelelahan otot, dan hilangnya fleksibilitas 1,23,42,103
dengan ketidakseimbangan kekuatan antara hamstring (eksentrik) dan quadrisep
(konsentrik) yang didukung oleh bukti. 3,28,104 Tambahan, fleksibilitas quadrisep yang
terbatas dan kekuatan dan defisit koordinasi dari otot pelvis dan otot trunkus dapat
berkontribusi terhadap cedera hamstring. Sebagai dampaknya, program rehabilitas
termasuk kombinasi target intervensi pada tiap faktor yang dapat dimodifikasi.

Tujuan dari komentar klinis ini ialah (1) untuk menjelaskan pemeriksaan
diganostik dari cedera strain hamstring dengan menekankan pada uji dan pengukuran
yang memiliki nilai prognostik, (2) untuk membuat panduan klinis rehabilitasi yang
komprehensif berdasar bukti yang bertujuan untuk meminimalkan kedua periode
konvalsen dan terjadinya resiko cedera dan (3) untuk mengindikasikan arahan untuk
penelitian di masa depan tentang mekanisme cedera dan pemulidan dengan tujuan untuk
mengembangkan pencegahan dan program rehabilitasi.

PEMERIKSAAN
Riwayat

Mayoritas individu dengan cedera strain hamstring hadir dalam cedera yang tiba tiba
dari paha posterior yang merupakan dampak dari aktifitas spesifik, kebanyakan karena
berlari dengan kecepatan yang tinggi.22 Altel dapat menjelaskan kejadian dari audible
pop, dengan onset nyeri yang lebih sering pada cedera yang melibatkan tendon
proksimal dan secara umum terbatas oleh nyeri yang berasal dari aktifitas lanjutan.
Individu juga melaporkan nyeri pada tuberositas ischia ketika duduk, kebanyakn
melibatkan tendon proksimal. Karena cedera strain hamstring memiliki rekurensi tinggi,
pasien dapat melaporkan cedera hamstring sebelumnya, sering berdekatan dengan lokasi
cedera.

Mekanisme dari cedera dan cedera jaringan telah menunjukkan nilai prognostik
yang penting dalam memperkirakan waktu rehabilitasi yang dibutuhkan sebelum
kembali berolahraga , sesuai tingkat performa saat sebelum terkena cedera (TABEL 1
dan 2). Ini menyatakan bahwa, keterlibatan cedera dari tendon intramuskular atau
aponeurosis dan serabut otot yang berdekatan (bicep femoris selama berlari dengan
kecepatan yang tinggi_ khususnya membutuhkan periode konvalsen yang lebih pendek
dibanding melibatkan tendon proksimal dan tendon bebas (semimembranosus selama
menari dan gerakan menendang). Penemuan ini sesuai dengan observasi bahwa cedera
melibatkan tendon bebas membutuhkan periode rehabilitasi yang lebih lama
dibandingkan dengan jaringan otot lainnya. Keparahan cedera seperti ruptur parsial atau
complete dari otot hamstring, berdampak dari fleksi panggul dan ekstensi lutut yang
penuh (ski air) dan sering membutuhkan intervensi dengan rehabilitasi post surgikal
yang ekstensif. Walaupun pemeriksaan diferensial selalu direkomendasikan, tidak
adanya mekanisme cedera yang spesifik seharusnya membuat pemeriksa menyadari
sumber potensial dari nyeri ada paha posterior (TABEL 3).

PEMERIKSAAN FISIK
Pada saat kejadian dari cedera hamstring berdasarkan mekanisme cedera dan
gejala onset yang tiba tiba, tujuan dari pemeriksaan fisik lebih menentukan lokasi dan
keparahan cedera. Cedera strain hamstring lebih sering diklasifikasikan menurut nyeri,
kelemahan dan hilangnya gerakan, yang nanti akan digolongkan sesuai derajat , I
(ringan), II (Sedang), atau III (berat). Derajat cedera ini merefleksikan kerusakan dari
serabut otot dan juga kerusakan tendon (contohnya derajat I kerusakan yang minimal,
dengan derajat III ruptur atau robekan yang keseluruhan), dan dapat digunakan untuk
memperkirakan periode konvalsen dan untuk merancangkan program rehabilitasi.

Karena cedera melibatkan tendon intramuskular dan serabut otot yang


berdekatan, uji baterai yang mengukur panjang, rentan gerakan, dan nyeri dapat
memberikan perkiraan yang sesuai dari durasi rehabilitasi. Faktanya, durasi rehabilitasi
aktual diprediksikan dai kombinasi uji klinis seperti pengukuran dari keparahan cedera
yang didapatkan dari MRI (magnetic resonance imaging) . namun, untuk cedera tendon
bebas proksimal, jumlah kerusakan yang diidentifikasikan dari uji ini tidak prediktif
dari waktu pemulihan yang dibutuhkan untuk kembalinya ke tingkat sebelum terjadinya
cedera. Bagaimanapun juga, kami merekomendasikan bahwa pengukuran spesifik,
seperti yang dijelaskan dibawah, digunakan selama pemeriksaan cedera akut otot
hamstring, setidaknya berdasarkan baseline yang mana kemajuan pemulihan dapat
dinilai. Uji ini seharusnya disadari sebagai bagian dari pemeriksaan komprehensif untuk
identifikasi defisit pada struktur yang berdekatan yang dapat berkontribusi pada cedera
hamstring (contohnya, kekuatan otot lumbopelvis, kekuatan otot quadrisep)

Tabel 1. Kategori cedera strain hamstring berdasarkan mekanisme cedera, dengan


dihubungkan penemuan dari MRI

Mekanisme cedera
Berlari dengan kecepatan Gerakan yang melibatkan
maksimal/ hampir maksimal fleksi paha dan ekstensi lutut
Aktifitas Olahraga yang melibatkan Menari atau menendang
kecepatan tinggi dalam berlari
Otot yang terlibat Pokok: bisep femoris, caput Semimembranosus, tendon
longus proksimal
Sekunder : semitendinosus
Lokasi Aponeurosis dan serabut otot Tendon proksimal dan
yang berdekatan, proksimal sambungan tendon muskulus
lebih besar dibanding distal
Jarak dari 6,7± 7,1 (rentan -2,1 sampai -2,3 ± 0,8 (rentan -3,4 sampai
tuberositas ischia 21,8) 1,1)
(cm)
Panjang cedera 18,7 ± 7,4 (rentan 6 sampai 9,8 ± 5,0 (rentan 2,7- 17,2)
(cm) 34,6)

Jarak antara aspek caudal dari tuberositas ischia ke aspek cranial dari cedera. Nilai
negatif mengindikasikan aspek distal dari tuberositas ischial.
Pengukuran pada arah cranial-caudal
Tabel 2. Presentasi akut dan outcome dari cedera strain hamstring berdasarkan
mekanisme cedera

Mekanisme cedera
Berlari dengan kecepatan Gerakan yang melibatkan
maksimal/ hampir maksimal fleksi paha dan ekstensi lutut
Ekimosis Minimal Tidak ada
Defisit gerakan 40 20
meluruskan
Defisit kekuatan 60 20
fleksi lutut
Tingkat nyeri Sedang Kecil
Lokasi nyeri 12 ± 6 (rentan 5-24) 2 ± 1 (rentan 1-3)
maksimal (cm)
Panjang area nyeri 11 ±5 (rentan 5-24) 5 ±2 (rentan 2-9)
(cm)
Waktu pemulihan 16 (rentan 6-50) 50 (rentan 30-76)
seperti saat
sebelum terjadi
cedera

Persen defisit cedera ekstremitas bawah dibandingkan dengan ekstremitas yang tidak
cedera
Jarak dari nyeri palpasi maksimum terhadap tuberositas ischial
Pengukuran dengan arah cranial-caudal
Waktu yang dibutuhkan pada tingkat performa sebelum terjadinya cedera

KEKUATAN

Penilaian kekuatan dari otot hamstring direkomendasikan melalui resistensi manual


yang diaplikasikan pada lutut dan paha. Karena sifat biartikular dari otot hamstring dan
diikuti perubahan pada panjang tendon muskulus bahwa terjadinya fleksi lutu dan paha,
uji posisi multipel yang digunakan untuk menilai panjang isometri dan provokasi nyeri.
Untuk contohnya, dengan pasien pada posisi pronasi dan stabilisasi paha pada 0 derajat
dari ekstensi, kekuatan fleksi lutut seharusnya dinilai dengan resistensi yang
diaplikasikan pada kedua tumit pada posisi 15 derajat dan 90 derajat dari fleksi lutut.
Upaya bias medial atau lateral hamstring dengan rotasi internal atau eksternal dari lutut
bawah, masing masing, selama uji kekuatan dapat membantu dalam menentukan
keterlibatan otot. Karena, otot hamstring juga memperluas panggul, kami
merekomendasikan bahwa kekuatan ekstensi panggul dinilai dengan memposisikan
lutut 90 derajat dan fleksi 0 derajat ketika resistensi diaplikasikan ke paha distal
posterior dan tumit, masing masing.. penting untuk dicatat bahwa provokasi nyeri
dengan penilaian ini berhubungan dengan penemuan kelemahan dan perbandingan
bilateral seharusnya dilakukan untuk pengukuran masing masing
RENTAN PERGERAKAN

Serupa dengan tes kekuatan, uji rentan gerakan seharusnya disadari pada kedua paha
dan sendi lutut. Gerakan pasif dalam mengangkat panggul dalam arah lurus dan uji
gerakan aktif ekstensi lutut sering digunakan untuk memperkirakan fleksibilitas
hamstring dan kekuatan maksimum. Kekuatan hamstring digunakan pada panggul untuk
fleksi sebanyak 80 derajat selama gerakan pasif dalam meluruskan paha dan ekstensi
lutut 20 derajat pada uji ekstensi lutut. Ketika menilai panjang otot post cedera, panjang
gerakan sendi seharusnya berdasarkan onset ketidaknyamanan atau kekakuan yang
dilaporkan oleh pasien. Pada injuri akut, uji ini dibatasi oleh nyeri dan tidak
memberikan sebuah pengukuran yang akurat dari ekstensibilitas tendon muskulus. Satu
kali lagi, perbandingan bilateral direkomendasikan

PALPASI

Palpasi dari paha posterior berguna untuk mengidentifikasi daerah spesifik yang terkena
cedera melalui provokasi nyeri, begitu juga menentukan ada tidaknya defek saat palpasi
pada unit tendon otot. Dengan posisi pasien pronasi, pengulangan pergerakan fleksi
lutut dan ekstensi tanpa resistensi melalui gerakan kecil dapat mengidentifikasi lokasi
dari otot hamstring dan tendon. Dengan lutut dipertahankan pada ekstensi penuh, titik
maksimal nyeri dengan palpasi dapat ditentukan dan lokasi yang berhubungan dengan
tuberositas ischial, tambahannya pengukuran total panjang dari daerah yang nyeri.
Sedangkan kedua pengukuran ini digunakan, hanya lokasi dari titik nyeri maksimal
(berhubungan dengan tuberositas ischial) berhubungan dengan periode konvalsen.
Lokasi proksimal dari nyeri maksimal, lebih membutuhkan waktu yang lebih lama
dalam penyembuhan untuk kembali dalam kondisi sebelum terjadinya cedera

Tabel 3. Tanda dan Gejala umum dari cedera strain hamstring dibandingkan
dengan mereka yang dirujuk ke paha posterior dari sumber lainnya.

Mekanisme cedera
Tanda/gejala Cedera strain hamstring Dirujuk ke paha posterior
Onset Tiba tiba Tiba tiba atau bertahap
Nyeri Minimal-berat Minimal-sedang dapat
menjelaskan perasaan kramp
Fungsi Kesulitan berjalan atau berlari Mampu untuk berjalan dengan
perubahan minimal dari gejala
selama aktifitas : bahkan gejala
dapat berkurang selama
aktifitas tetapi meningkat
setelahnya
Hematom lokal, Serupa dengan cedera berat Tidak ada
bruit
Palpasi Nyeri lokalis; defek pada Minimal-tidak ada
daerah yang cedera
Penurunan dalam Substansial Minimal-tidak ada
kekuatan
Penurunan dalam Substansial Minimal-tidak ada
fleksibilitas
Uji slump Negatif Positif
Titik pencetusan Palpasi tidak mempengaruhi Palpasi mencetuskan gejala
gluteal gejala hamstring hamstring
Pemeriksaan Abnormal Abnormal
lumbal/sacral
Lokasi USG atau Abnormal Normal
MRI
Dimodifikasi dari Brukner dan Khan

PEMERIKSAAN DIFERENSIAL

Sebagai bagian dari proses pemeriksaan diferensial, sumber tambahan dari nyeri paha
posterior harus dicatat (TABEL 3). Untuk contohnya, tensi neural yang berlawanan
berimplikasi dengan nyeri paha posterior dan dapat dinilai menggunakan uji kemersotan
aktif. Gejala reproduksi berhubungan dengan postur kedepan yang mengindikasikan
kontribusi proksimal yang lebih banyak (contohnya nervus sciatic, spinal lumbalis)
terhadap posterior atau nyeri paha. Penemuan ini mengobservasi individu yang
memiliki cedera hamstring berulang karena inflamasi residual dan skar yang
mengindikasikan hubungan dengan mobilitas dari nervus sciatic normal. Pada individu
dengan strain derajat I, tensi neural buruk dapat menjadi penyebab gejalas, dengan
adanya cedera otot yang tidak aktual. Tidak adanya mekanisme cedera spesifik
seharusnya disadari pada beberapa kasus.

Seperti pada cedera paha strain adduktor juga sering terjadi pada atlet, diferensiasi dari
otot yang cedera memerlukan kedekatan otot ini (contohnya gracilis dan adduktor
magnus dan longus) terhadap otot hamstring. Cedera strain adduktor terjadi selama
pergerakan cepat atau perubahan arah , begitu juga memerlukan abduksi panggul dan
rotasi eksternal. Kombinasi cedera hamstring (semimembranosus) dan adduktor panggul
(adduktor magnus) telah diobservasi selama pergerakan sagital pada beberapa olahraga
seperti tenis begitu juga dalam gerakan menendang dan menari. Nyeri secara khusus
didapatkan dengan palpasi dari aduktor tendon pada atau dekat dengan insersi ramus
pubicum, begitu juga dengan aduksi panggul. Prosedur radiologi diperlukan untuk
menentukan hasil akhir dari lokasi cedera dan untuk menentukan sebab memungkinkan
dari nyeri inguinal.

RADIOLOGI

Berbeda jika terjadinya fraktur avulsi dengan fragmen tulang atau fraktur apofisis,
radiografi sedikit digunakan dalam pemeriksaan cedera akut otot hamstring. Sebagai
gantinya, USG dan MRI dianjurkan dalam kasus kasus ini dengan area cedera (edem,
hemorage) yang digambarkan dengan ekotekstur dan intensitas sinyal yang tinggi
(radiologi T2-weighted) (GAMBAR 2) Sedangkan modalitas lain disadari sama
bergunanya dalam mengidentifikasi cedera hamstring ketika ada edema dan perdarahan.
MRI lebih superior dalam evaluasi cedera pada otot, atau ketika cedera hamstring yang
sebelumnya ada, residual dari skar dapat di salah interpretasikan pada gambaran USG
sebagai cedera akut. Karena sensitifitasnya meningkat dalam menunjukkan edema yang
halus, pengukuran dari ukuran cedera (panjang dan area yang berseberangan) lebih
akurat dengan pencitraan MRI.

Studi terbaru tentang Pencitraan dengan MRI, cedera strain dari derajat I dan II
mengindikasikan abnormalitas (contohnya edema) dapat mengkonfirmasi adanya dan
tingkat keparahan cedera, begitu juga memberikan perkiraan yang sesuai dari periode
rehabilitasi. Secara khusus, panjang dan area bersebrangan dari cedera diarahkan
proporsional terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan. Namun, investigasi 2
prosprektif menggambarkan bahwa tingkat atau derajat keparahan cedera ditentukan
dari MRI, tidak efektif dalam memprediksi cedera ulangan. Dengan demikian,
pencitraan dengan MRI dari cedera akut hamstring berguna dalam memperkirakan
waktu hingga seseorang mampu dalam berolahraga tetapi terbatas dalam
mengidentifikasi individu yang beresiko mengalami cedera ulang. Kuantifikasi dari
remodeling dari tendon otot dengan pengulangan MRI memberikan tambahan
penglihatan dari cedera otot dan seharusnya disadari perlu untuk penelitian kedepannya
(GAMBAR 2). Pada praktik klinis terbaru, pencitraan dengan MRI sering diaplikasikan
pada cedera berat dimana terdapat suspek adanya ruptur. Menentukan panjang (parsial
vs complete) dan lokasi ruptur begitu juga dengan retraksi tendon pada kasus ruptur
koomplit, penting dalam menentukan apakah prosedur operasi diperlukan.

Gambar 2. T2-weighted gambar coronal pada (A) 10 hari dan (B)30 hari diikuti cedera
pada bicep femoris kanan caput longus selama berlari dengan kecepatan tinggi. Edema
yang disadari dan hemoragik (sinyal intensitas tinggi) bukti pada lokasi cedera pada hari
10, dengan cairan persisten yang tersisa pada hari 30. Tambahan, jumlah skar
substansial (sinyal intensitas rendah) terdapat pada hari 30. Catatannya, individu ini
diizinkan boleh kembali olahraga 23 hari setelah terjadi cedera
PROGNOSIS

Seperti yang dinyatakan diatas, lokasi cedera dan keparahan berdasarkan penemuan dari
pemeriksaan awal dan MRI berguna dalam memperkirakan durasi rehabilitasi yang
diperlukan sebelum atlet kembali berolahraga. Secara khusus, faktor berikut
menunjukkan periode konvalsen : (1) cedera yang melibatkan tendon bebas proksimal,
(2) Kedekatan cedera dengan tuberositas ischial dan (3) peningkatan panjang dan area
cedera yang bersebrangan. Disamping cedera yang melibatkan tendon intramuskulus
dan serabut otot yang berdekatan dapat muncul dalam derajat yang berat (contohnya
nyeri palpasi yang lebih berat, hilangnya gerakan dan kelemahan) periode konvalsen
secara khusus kurang dibandingkan keterlibatan tendon bebas proksimal dalam cedera.
Ini merefleksikan peningkatan waktu remodeling yang dibutuhkan dari cedera tendon.
Alternatifnya, skar post cedera disepanjang aponeurosis dapat memfasilitasi transmisi
untuk melindungi remodeling jaringan yang dibutuhkan untuk kembali berolahraga

Penemuan dari pemeriksaan awal kurang bermakna dalam memperkirakan rekurensi


resiko cedera. Hal itu menandakan bahwa cedera dengan derajat berat, berdasarkan
pemeriksaan fisik atau MRI tidak memiliki rentan rekurensi cedera yang lebih besar.
Seperti yang dinyatakan sebelumnya, karakterisasi perluasan pemulihan tendon otot saat
pemulihan untuk kembali berolahraga membutuhkan nilai prognostik untuk resiko
cedera ulangan dan harus diperlukan untuk arahan penelitian di masa depan

REHABILITASI

Mengembalikan atlet untuk bisa kembali berolahraga seperti sebelum terkena cedera
dengan resiko cedera minimal menjadi objek dasar dari program rehabilitasi. Tingginya
rekurensi dari cedera hamstring membuat spekulasi terkait dengan pentingnya strategi
rehabilitasi. Telah disugestikan bahwa beberapa faktor berkontribusi dengan cedera
ulangan : (1) kelemahan persisten pada otot yang cedera, (2) pengurangan dari
ekstensibilitas dari unit tendon otot karena jaringan skar residual dan (3) perubahan
adaptif pada biomekanisme dan pola motorik dari gerakan cedera awal. Tambahannya
faktor resiko ini, faktor resiko yang dapat dimodifikasi dapat berkontribusi pada
terjadinya cedera awal (contohnya kekuatan dan kontrol otot lumbopelvis atau kekuatan
quadrisep) harus disadari penting dalam program rehabilitasi

Dengan sebuah fokus pada remodeling otot, latihan kekuatan eksentrik telah menjadi
intervensi dalam cedera hamstring. Hal itu dapat mengindikasikan bahwa tingginya
rekurensi cedera dapat membuat lebih singkatnya panjang tendon otot optimal untuk
ketegangan aktif pada cedera otot sebelumnya. Seperti sebuah hubungan gaya-dan
panjang dapat menjadi sebuah dampak latihan (contohnya pengulangan performa dari
kekuatan dengan latihan konsentris selama rehabilitasi). Secara alternatif, pergeseran ini
dapat merefleksikan adanya jaringan skar residual pada sambungan tendon otot.
Jaringan skar lebih kaku dibandingkan jaringan kontraktil dan dapat membuat kontraksi
mekanik dari tendon-otot. Secara spesifik, penurunan pada komplians akan menggeser
waktu gaya puncak perkembangan tendon otot lebih pendek. Pada subjek yang tidak
mengalami cedera, performa kekuatan eksentrik dikontrol oleh latihan dan memfasilitasi
pergeseran gaya puncak yang akan membuat tendon otot menjadi lebih panjang. Dengan
demikian, latihan kekuatan eksentrik diikuti cedera hamstring secara efektif
memperbaiki panjang tendon otot secara optimal untuk gaya yang aktif sampai dengan
normal, dengan demikian mengurangi resiko cedera ulang.

Satu kritisasi program rehabilitasi yang paling sering menekankan pada latihan
kekuatan eksentrik ialah kurangnya atensi terhadap kelompok otot didekat hamstring.
Hal ini mengindikasikan bahwa kontrol neuromuskular dari regio lombopelvis
dibutuhkan untuk memampukan fungsi optimal dari otot hamstring selama aktifitas
olahraga normal. Ini dapat menuntun klinisi untuk menggunakan bermacam stabilisasi
trunkus dan progresifitas kelincahan latihan untuk rehabilitasi hamstring. Sherry dan
best menyatakan reduksi signifikan pada rekurensi cedera ketika individu dengan cedera
akut hamstring diterapi menggunakan kelincahan progresif dan program stabilisasi
trunkus (PATS) dibandingkan dengan progresifitas program latihan dan peregangan
(STST). Program PATS terdiri dari latihan kontrol neuromuskular , dimulai dengan
mobilisasi aktif pada bidang frontal dan transversal kemudian meningkat ke gerakan
arah sagital. Dibandingkan dengan kelompok STST, secara statistik signifikan reduksi
pada rekurensi cedera pada kelompok PATS pada dua minggu (STST 50%; PATS 0%)
dan 1 tahun (STST 70%; PATS 8%) setelah kembali berolahraga. Hal ini belum jelas
yang mana faktor neuromuskular bertanggung jawab dalam reduksi resiko cedera ulang
pada kelompok PATS. Satu hipotesis yang menyatakan bahwa peningkatan koordinasi
dari regio lumbopelvis membuat hamstring berfungsi pada rentan panjang yang aman
dan beban selama pergerakan atletik, dengan demikiian menurunkan resiko cedera.
Penjelasan alternatif bahwa penggunaan mobilisasi awal membatasi efek samping
residual dari jaringan skar yang dibentuk pada proses remodeling awal.. mobilisasi awal
telah menunjukkan dukungan dalam penetrasi kolagen dan orientasi dari regenerasi
serabut otot melalui jaringan skar, begitu juga untuk rekapitalisasi dari area yang cedera.

Karena pengurangan gerakan pada otot dan panggul diikuti dengan cedera otot
hamstring, target fleksibilitas latihan otot hamstring ialah berhubungan dengan program
rehabilitasi. Namun, kebutuhan untuk latihan fleksibilitas diikuti dengan cedera akut
harus ditetapkan untuk pogram terapi, begitu juga dengan pencegahan nyeri dari
fleksibilitas muskulotendon. Pengaruh lattihan fleksibilitas pada cedera hamstring
dalam mencegah atau memulihkan masih belum sepenuhnnya jelas

Jika uji aktif slump positif ditemukan selama pemeriksaan, teknik mobilisasi neural
direkomendasikan sebagai bagian dari program rehabilitasi. Untuk sontohnya, inklusi
dari regangan slump telah menunjukkan waktu pengurangan dari olahraga pada individu
yang didiagnosis dengan cedera strain hamstring derajat I yang juga menggambarkan uji
slump positif. Penggunaan teknik mobilisasi neural atau cedera pada stadium awal dari
penyembuhan tidak diinvestigasi.

Intervensi tambahan, seperti agen elektrofisikal dan terapi massage mengindikasikan


cedera strain hamstring. Namun, bukti untuk mendukung penggunaan terapi masih
sedikit. Contohnya, terapi ultrasound telah direkomendasikan untuk meredakan nyeri
diikuti dengan cedera otot dan untuk meningkatkan stadium inisial dari regenerasi otot,
penggunaannya tidak menguntungkan pada penyembuhan otot. Serupa dengan bukti
yang masih bertentangan terkait dengan terapi massage dan dampak positif lainnya,
aktifitas otot hamstring dan fleksibilitasnya pada kesehatan dewasa dan tidak ada bukti
terkait dengan dampaknya pada penyembuhan dan pemulihan pada cedera strain akut
Dibawah ini diajukan panduan rehabilitasi cedera strain hamstring derajat I dan II
berdasarkan bukti yang terbaik (lihat APPENDIX untuk ringkasannya). Penggunaan
intervensi ini pada cedera dijelaskan pada status pasien dan waktu post cedera. Seperti,
panduan rehabilitasi dibagi menjadi 3 fase, dengan tujuan terapi spesifik dan kriteria
progresi untuk fase lanjut dan kembali berolahraga. Fokus selama fase 1 ini melibatkan
nyeri minimal dan edema, sedangkan melindungi pembentukan scar terutama selama
hari post cedera (1-5 hari). Intensitas rendah, latihan bebas nyeri melibatkan ekstremitas
bawah dan regio lumbopelvis yang diinisiasi melalui sebuah perlindungan (dibatasi dan
bebas nyeri) rentan pergerakan untuk meminimalkan atrofi dan kontrol perkembangan
neuromuskular. Selama fase 2, iintensitas dan rentan gerakan dari latihan meningkat
berdasarkan toleransi pasien dan peningkatan latihan, gerakan melibatkan gerak
eksentrik dari otot hamstring yang diinisiasi. Fase 3 melibatkan gerakan agresif,
pergerakan olahraga yang spesifik melalui gerakan yang penuh tanpa restriksi untuk
mempersiapkan atlet kembali memiliki aktifitas olahraga kembali. Harus dicatat bahwa
panduan ini secara dasar berdasarkan pada literatur yang melibatkan cedera hamstring
pada tendon intramuskular dan serabut otot yang berdekatan, begitu terdapat rendahnya
program rehabilitasi yang melibatkan tendon bebas proksimal, modifikasi latihan,
pergerakan olahraga yang spesifik dan kriteria progresifitas dapat dibutuhkan untuk
cedera yang melibatkan tendon bebas proksimal dari otot hamstring. Lebih jauh lagi,
panduan ini tidak sesuai untuk rehabilitasi post operasi dari ruptur hamstring atau
avulsi.
Gambar 3. Posisi supine kaki; pada gambar A Posisi membentuk jembatan supinasi
dan B dan C melakukan sebuah pergerakan progresif dari kaki menjah panggul, tetap
mempertahankan posisi
Gambar 4. Posisi supinasi eksteemitas pada kursi (A) 1 kaki dijadikan objek (B)
panggul dan pelvis diangkat menjauhi lantai

Gambar 5. Ekstremitas bawah tunggal menyentuh dumbel dmulai pada gambar


(A) posisi berdiri dengan dumbel diatas kepala dan (B) melakukan gerakan
dibawah kontrol posisi dan C menyentuh dumbel ke lantai

FASE 1
Proteksi Peregangan yang berlebihan dari cedera hamstring harus diabaikan, karena
dapat berdampak pada pembentukan skar didaerah cedera, menghambat regenerasi otot.
Namun, restriksi gerakan dari hamstring harus ditingkatkan dengan onset nyeri yang
digunakan untuk mendefinisikan batas pergerakan. Ini membutuhkan penggunaan lebih
pendek selama ambulasi, atau, pada beberapa kasus, penggunaan dari
kruk.tambahannya, ketika kruk digunakan, atlet seharusnya menginstruksikan untuk
mengabaikan pegangan lutut secara aktif pada saat fleksi untuk periode yang lama,
seperti bebas yang berlebihan pada jaringan yang sedang dalam proses pemulihan. Jalan
normal dapat dilanjutkan ketika ada nyeri.

Ice area yang injuri harus diberi es 2-3 kali per hari untuk membantu mengurangi nyeri
dan inflamasi, durasi dari waktu tergantung pada medium es (contohnya 3-5 menit
untuk es yang menggunakan gelas, dan 15-20 menit untuk kompres dingin.

NSAID anti inflamasi non steroid dapat digunakan selama hari awal cedera otot.
Namun, investigasi ini menyatakan bahwa kurangnya manfaat dan memungkinkan
dampak negatif pada proses pemulihan dari fungsi otot yang mendatangkan kontroversi
terkait dengan penggunaannya. Analgesik seperti acetaminofen, telah dijadikan
alternatif dari NSASI , diberikan karena mengurangi resiko dan biaya. Pada penelitian
kami, kebanyakn atlet dapat mengontrol nyrii dengan es dan modifikasi aktifitas sendiri

Latihan terapi Latihan dan pergerakan yang terpillih dirancangkan untuk


memfasilitasi kontrol neuromuskular dalam gerakan, meminimalkan resiko kerusakan
otot dalam remodeling. Latihan inisial ini termasuk isometrik dari kelompok otot
lumboplevis, ekstremitas yang diikuti keseimbangan dalam latihan dan langkah pendek
dalam latihan bertahap (contohnya grapevine), mengabaikan isolasi resistensi latihan
dari otot hamstring yang cedera. Latihan ini harus dilakukan tanpa nyeri dengan
intensitas latihan dari yang ringan sampai sedang yang dapat ditoleransi.

Kritera progresi Progresi pada fase 2 dapat dimulai dalam kriteria berikut . (1) jalan
normal tanpa nyeri, (2) joging dengan kecepatan yang sangat rendah tanpa nyeri dan
(3) ny bebas dari kontrraksi submaksimal (50%-70%) resistensi selama fleksi lutut
dalam posisi pronasi (90 derajat) tes kekuatan manual. Jika kriteria ini ada pada saat
kunjungan pertama , dapat dijadikan kasus dengan cedera yang kurang parah, kemudian
program rehabilitasi dimulai pada fase 2.

FASE 2
Proteksi untuk kembali kedalam gerakan yang penuh, ditingkatkan selama fase ini, dan
rentan akhir dari pemanjangan dari hamstring harus diabaikan jika terdapat kelemahan
yang bertahan. Adanya defisit kekuatan yang signifikan, pada unit muskulotendon tidak
mampu untuk melawan pemanjangan muskulotendon yang pasif, secara potensial
merusak perbaikan serabut otot.

Ice Es seharusnya dilakukan setelah terapi latihan rehabilitasi untuk membantu


mengurangi kemungkinan yang berhubungan dengan nyeri dan inflamasi

NSAID NSAID secara umum tidak digunakan selama fase ini karen memiliki efek
samping negatif yang berhubungan dengan penggunaan NSAID jangka panjang.
Tambahannya, nyeri palsu selama rehabilitasi berdampak pada progresifitas yang
berlebihan dari latihan rehabilitasi karena pasien tidak mampu untuk menilai respon
nyeri secara potensial.
Latihan Terapi Latihan pada fase dua dilakukan secara meningkat bertahap dalam
memanjangkan otot hamstring, dibandingkan dengan pembatasan gerakan pada fase 1.
Pendekatan ini berdasar observasi bahwa mobilisasi dari otot skeletal 5-7 hari setelah
cedera dapat meningkatkan regenerasi serabut otot. Dengan menekankan pada kontrol
neuromuskular, kelincahan dan stabilisasi trunkus saat latihan dengan peningkatan
progresifitas dalam kecepatan dan intensitas. Pergerakan dimulai dalam arah transversal
dan frontal untuk mencegah regangan yang berlebihan pada otot yang cedera
(contohnya, rotasi tubuh [VIDEO ONLINE], boxer shuffle [VIDEO ONLINE], tetapi
secara progresif ditransisikan dengan arah sagital, berdasarkan toleransi pasien dan
peningkatan (contohnya supinasi telapak kaki yang seperti tertekuk dalam posisi
terlentang [GAMBAR 3]. Kekuatan eksentrik submaksimal mendekati panjang
pertengahan dari otot diinisiasi sebagai pergerakan fungsional dibandingkan dengan
isolasi latihan dari hamstring. Pada persiapan atlet yang kembali olahraga, latihan
anaerobik dan keterampilan olahraga dimulai, hati hati dalam menghindari akhiran
pemanjangan dari otot hamstring atau kerja eksentrik substansial. Atlet yang berlari
pada kecepatan lebih besar dari 50% dari maksimum mereka. Pada pengalaman kami,
latihan diatas dikombinasikan dengan reduksi nyeri dan edema untuk mengembalikan
pergerakan penuh dari gerakan otot tanpa membutuhkan regangan spesifik.

Kriteria progresi Progresi sampai fase 3 dapat dimulai dengan kriteria berikut : (1)
kekuatan penuh (5/5) tanpa nyeri selama usaha pengulangan maksimal dari uji otot
manual isometrik pada posisi pronasi dengan fleksi lutut pada 90 derajat dan (2 joging
kedepan dan kebelakang pada 50% kecepatan maksimum tanpa nyeri

FASE 3
Proteksi Rentan gerakan tidak lebih panjang diretriksi, sama pentingnya dengan
kekuatan hamstring tanpa diikuti nyeri. Namun, sprint dan kecepatan eksplosif harus
diabaikan sampai atlet kembali berolahraga.

Ice Es seharusnya dilakukan setelah latihan rehabilitasi, dibutuhkan untuk membantu


mengurangi kemungkinan nyeri dan inflamasi

Latihan Terapi. Atlet diberikan kesempatan untuk kembali berolahraga, kelincahan,


dan latihan olahraga spesifik harus ditekankan bahwa keterlibatan dari perubahan arah
yang cepat dan teknik latihan. Latihan stabilisasi trunkus menjadi hal yang menantang
dengan gerakan transversal dan postur yang asimetri. Dengan menekankan pada pola
gerakan fungsional, latihan kekuatan eksentrik harus dilakukan untuk gerakan, dengan
peningkatan seperlunya dalam resistensi (contohnya supinasi salah satu ekstremitas
pada kursi [GAMBAR 4], keseimbangan salah satu ekstremitas dengan dumbel
[GAMBAR 5 dan VIDEO ONLINE], berjalan dengan rotasi trunkus berlawanan
dengan tangan dan T-lift [VIDEO ONLINE]. Gabungan dari pergerakan spesifik yang
melibatkan bermacam postur trunkus dan kepala, begitu juga dengan perubahan cepat
pada postur tersebut dapat dianjurkan.

Kriteria kembali berolahraga. Menetapkan kriteria objektif untuk menentukan waktu


kembalinya atlet dalam olahraga masih menjadi tantangan dan area penting untuk
penelitian selanjutnya. Berdasarkan bukti terbaik dan pengalaman kami, kami
merekomendasikan bahwa atlet dapat sepenuhnya kembali olahraga ketika tidak ada
retriksi dalam menjalankan aktifiitas olahraga seperti pergerakan, kekuatan, dan
kemampuan fungsional lain (contohnya melompat , berlari ) dapat dilakukan tanpa
masalah keluhan nyeri dan kekakuan. Ketika menilai kekuatan, atlet seharusnya mampu
komplit 4, usaha maksimal repetisi bebas nyeri konsekutif dengan tes kekuatan manual
pada tiap posisi fleksi lutut (90 derajat dan 15 derajat). Jika mungkin, tes dengan
kekuatan isokinetik dapat dilakukan dibawah kondisi konsentrik dan eksentrik. Kurang
dari 5% defisit bilateral harus ada dalam rasio kekuatan eksentrik hamstring (30%)
untuk kekuatan konsentrik quadrisep (240 derajat/s). Tambahannya, sudut fleksi lutut
yang mana ada pada puncak konsentrik dari fleksi lutut tejadi antar ekstremitas yang
sama. Kemampuan tes fungsional harus besamaan dengan pergerakan spesifik atlet,
dengan iinteensiiitas dan kecepatan yang hampir maksiimum

ARAHAN KEDEPAN

Rehabilitasi spesifik terkait cedera


Ketika penemuan baru mengindikasikan lokasi cedera yang signifikan dan mekanisme
pada durasi periode konvalsen, sub tipe cedera ini tidak disadari dalam investigasi
strategi rehabilitasi. Bahwa, cedera hamstring menerima terapi yang sama pada lokasi
spesifik cedera atau mekanisme, disamping perbedaan substansial dalam durasi terapi
(TABEL 2). Dengan mayoritas dari program rehabilitasi yang dirancangkan hampir
eksklusif untuk la yang berhubungan dengan cedera, investigasi di masa depan butuh
untuk mengidentifikasi strategi rehabilitasi seperlunya untuk cedera yang melibatkan
tendon proksimal. Hal tersebut sesuai dengan intervensi untuk terapi tendinopati
(contohnya, tendinopati achiles) pada tipe cedera terakhir. Diberikan periode pemulihan
yang berhubungan dengan cedera tendon proksimal, ada potensial penting yang dapat
mengurangi waktu pemulihan.

EVALUASI RESIKO CEDERA ULANG


Klinisi menghadapi tekanan untuk mengembalikan atlet untuk kompetisi seceepat
mungkin, seringkali mengorbankan program rehabilitasi. Pengembalian atlet dalam
jangka yang lebih awal memiliki resiko tinggi cedera ulang. Disamping resiko ini, atlet
dapat kembali olahraga karena resiko cedera ulang sering menjadi cara yang sesuai
dbandingkan deengan pemanjangan waktu yang dbutuhkan untuk program rehabilitasi.
Namun, seharusnya cedera hamstring tidak terjadi, cedera yang kedua biasanya lebih
berat dari yang pertama, membuthkan waktu ganda. Sedangkan tidak ada konsensus
yang menyatakan bahwa atlet dapat dengan aman kembali berolahraga karena terdapat
cedera strain hamstring, rentan gerakan, kekuatan dan aktifitas fungsional (melompat
dan berlari) dapat dilakukan, sehingga dengan kriteria itu atlet dapat kembali bermain.
Namun, kriteria ini sepertinya terlalu tidak jelas, begitu juga dengan nyeri dan kekakuan
yang dihubungkan dngan cedera yang sembuh dalam waktu 1-2 minggu, sedangkan
cedera dan resiko berulang dapat berlangsung beberapa minggu. Studi prospektif
mewakili bahwa pemeriksaan fisik saat cedera tidak efektif dalam memprediksi
rekurensi cedera. Perkembangan dari parameter kuantitatif secara objektif sesuai dengan
pemulihan muskulotendon dan kesiapan kembali berolahraga, dengan demikian hal ini
penting untuk penelitian kedepannya.

Beberapa investigasi sebelumnya berpotensi menggunakan ketidakseimbangan


kekuatahn atau defisil bilateral untuk identifikasi mereka dengan cedera hamstring
berulang. Studi-studi ini menunjukkan bahwa kekuatan hamstring eksentrik dan sudut
kekuatan puncak tampaknya merupakan langkah yang paling menjanjikan. Sebagai
contoh, meskipun profil kekuatan konsentris normal dari otot hamstring setelah
rehabilitasi, Croisier dan rekannya mengamati bahwa 18 dari 26 atlet dengan cedera
hamstring berulang menunjukkan defisit bilateral persisten pada kekuatan hamstring
eksentrik, sebagaimana ditentukan oleh rasio kekuatan hamstring eksentrik (30 °). / s)
relatif terhadap kekuatan konsentris paha depan (240 ° / s). Mengikuti program
pelatihan isokinetik yang menekankan latihan eksentrik, pemulihan kekuatan hamstring
(kurang dari 5% defisit bilateral), kembali ke tingkat sebelum cedera, dan tidak
mengalami cedera ulang selama 12 bulan berikutnya. Meskipun temuan ini
menjanjikan, penting untuk dicatat bahwa 31% dari individu dengan cedera hamstring
berulang dalam penelitian ini menunjukkan kekuatan hamstring yang normal.
Menentukan sudut lutut di mana torsi puncak terjadi dapat lebih membantu dalam
mengidentifikasi mereka yang berisiko reinjury. Telah disarankan bahwa terjadinya
torsi puncak pada sudut fleksi lutut yang lebih besar (yaitu, panjang muskulotendon
optimal yang lebih pendek untuk tegangan aktif), dibandingkan dengan sisi
kontralateral, dapat meningkatkan risiko kekambuhan cedera karena peningkatan
kerentanan terhadap kerusakan dari latihan eksentrik. Selain defisit kekuatan yang
persisten dalam otot yang sebelumnya cedera, kami baru-baru ini menunjukkan
pengaruh substansial yang dapat dimiliki otot lumbopelvis pada seluruh hamstring.
Misalnya, aktivasi fleksor panggul uniarticular (iliopsoas) selama lari berkecepatan
tinggi menginduksi peregangan di kontralateral hamstring. Secara khusus, kekuatan otot
iliopsoas menginduksi peningkatan pelvis anterior selama fase swing awal, pada
gilirannya, peregangan hamstring yang lebih besar dari ekstremitas kontralateral, yang
secara simultan terjadi pada fase swing akhir. Kopling ini dapat, sebagian, menjelaskan
mengapa latihan rehabilitasi menargetkan kontrol otot neuromuskular di daerah
lumbopelvis efektif dalam mengurangi tingkat cedera ulang pada otot hamstring.

Selain itu, ada kemungkinan bahwa ketegangan pasif akibat regangan dari iliopsoas
selama fase stadium akhir mungkin memiliki efek yang sama (yaitu, menghasilkan
kemiringan anterior panggul dan regangan pada kontralateral hamstring). Investigasi
masa depan diperlukan untuk menentukan apakah kekuatan atau fleksibilitas defisit
pada otot lumbopelvis pada saat kembali ke olahraga meningkatkan risiko kekambuhan
cedera hamstring.

Kami baru-baru ini menyajikan bukti bahwa baik perbaikan tendon dan otot dapat
bertahan selama berbulan-bulan setelah cedera hamstring. Dalam penelitian kami,
gambar MR bilateral beresolusi tinggi diperoleh dari 13 atlet yang menderita cedera
derajat I / II yang didiagnosa secara klinis cedera bisep femoris antara 5 dan 19 bulan
sebelumnya tetapi bebas rasa sakit dan kembali pada aktifitas olahraga pada saat itu.
dari penelitian. Atropi dari bisep femoris caput longum sering diamati, dengan hipertrofi
yang menyertainya dari bisep femoris caput brevis. Bekas luka berdekatan dengan
sebelumnya
Bekas luka yang berdekatan dengan cedera sebelumnya juga terdeteksi, diwakili
oleh peningkatan sinyal intensitas rendah pada kedua gambar T-1 dan T2-weighted
(GAMBAR 6). Kami percaya bahwa remodeling ini mungkin terjadi dalam beberapa
minggu pertama setelah cedera awal, sebagaimana dibuktikan oleh pembentukan
jaringan parut pada atlet hanya setelah berhasil kembali ke olahraga (GAMBAR 2).
Kami melakukan pengujian biomekanik pada subset dari atlet yang sama dengan
cedera hamstring sebelumnya, dengan maksud mengidentifikasi perbedaan bilateral
fungsional antara anggota tubuh yang cedera dan tidak cedera sebelumnya. Tiga-
dimensi kinematika tubuh-penuh dan sinyal elektromiografi direkam sementara subjek
berlari di treadmill dengan kecepatan berkisar antara 60% dan 100% maksimum.
Karena jaringan parut dianggap mempengaruhi kedua sifat kekuatan-panjang pasif dan
aktif dari otot, hubungan panjang-gaya pasif dari hamsting juga diukur di setiap tungkai.
Meskipun asimetri bilateral yang signifikan hadir dalam morfologi hamstring dan
tendon pada atlet ini, temuan awal kami menunjukkan tidak adanya asimetri yang
konsisten dalam kinematika bersama atau aktivitas otot selama berlari, atau dalam
kekakuan hamstring musculotendon pasif.
Sementara itu mungkin bahwa analisis tingkat sendi tidak memadai dalam
mendeteksi perubahan yang terjadi pada tingkat musculotendon, investigasi lanjutan
diperlukan untuk menentukan pengaruh bahwa remodeling postinjury mungkin
memiliki kinerja fungsional dan kontribusi yang dihasilkan untuk risiko cedera ulang.
Pencitraan MR dinamis memiliki kemampuan untuk mengukur gerakan fasikula
otot, tendon, dan aponeurosis in vivo, yang tidak dapat dilakukan dengan menggunakan
analisis standar. Kami baru-baru ini merancang dan membangun perangkat yang
kompatibel dengan MR yang mampu menginduksi kontraksi otot saat pemendekan dan
pemanjangan di dalam MR standar. Teknik pencitraan MR Dinamis (misalnya, kontras
fase cine) dapat digunakan bersama dengan perangkat untuk menggambarkan otot di
bawah 2 kondisi pembebanan. Data citra dinamis awal kami dengan jelas
mengungkapkan pemendekan yang tidak seragam di seluruh otot, dan perbedaan antara
kondisi pembebanan. Studi masa depan kami merancang untuk melihat bagaimana
pemendekan non-akson ini dapat berkontribusi terhadap regangan geser di sepanjang
sambungan muskulotendon ketika otot mengalami kontraksi eksentrik, situasi yang
dapat berkontribusi terhadap risiko cedera di lokasi ini. Secara dinamis pencitraan
subjek yang sebelumnya cedera akan memungkinkan karakterisasi yang lebih
komprehensif dari dampak jaringan parut pada distribusi regangan, terutama sepanjang
batas muskuloskendon proksimal, memberikan pemahaman yang berharga tentang efek
yang mungkin memiliki bekascedera persisten pada performa fungsional dan risiko
cedera ulang
Gambar 6.Jaringan skar persisten dengan intenstas sinyal yang rendah, bukti dari
lokasi cedera proksimal muskulokutan bisep femoris caput longum dan pada
gamba A T-1weigheted axial dan B rekombinasi gambaran fase yang dibutuhkan
dengan potongan koronal 3D-IDEAL-SPGR. Scar diobservasi dalam waktu yang
lama (5-23 bulan post cedera). Gambaran koronal dihasilkan menggunakan 3D-
T1-weighted echo (SPGR) teknik pemisahan yang diketahui IDEAL ( Iterative
Decomposition of water and fat with Echo Asymmetry and Least-squares estimation)
gambar menunjukaan kombinasi air+lemak pada gambar fase dan direkonstruksikan
dengan IDEAL.

STRATEGI PENCEGAHAN CEDERA


Mengingat insiden cedera regangan hamstring di berbagai olahraga dan kegiatan, dan
kecenderungan substansial untuk cedera berulang, dampak terbesar dapat dicapai
dengan mengembangkan teknik yang ditingkatkan untuk mencegah cedera awal.
Beberapa penyelidikan telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang
terkait dengan terjadinya cedera. Berdasarkan hubungan ini, strategi pencegahan telah
menyarankan bahwa target faktor risiko spesifik, seperti defisit dalam fleksibilitas dan
kekuatan hamstring. Namun, efektivitas program-program pencegahan yang diusulkan
untuk mengurangi terjadinya cedera hamstring terbatas pada beberapa investigasi..
Meskipun peregangan hamstring yang umumnya diadvokasi untuk pencegahan cedera,
dimasukkannya program fleksibilitas belum terbukti mengurangi insiden cedera strain
hamstring. Namun, durasi dan frekuensi peregangan hamstring telah disarankan sebagai
faktor penting dalam efektivitas program fleksibilitas dalam mengurangi terjadinya
cedera. Sementara penurunan fleksibilitas paha depan telah diidentifikasi sebagai faktor
risiko untuk cedera cedera hamstring, efek dari program peregangan paha depan atau
panggul fleksor pada kejadian cedera hamstring masih belum diketahui. Uji coba
terkontrol secara acak diperlukan untuk membandingkan antara program fleksibilitas
tertentu, serta terhadap kelompok kontrol, untuk menentukan apakah peregangan harus
tetap menjadi bagian dari strategi pencegahan cedera.

Sebaliknya, penggabungan latihan hamstring eksentrik sebagai bagian dari pelatihan


rutin telah ditemukan secara substansial mengurangi insidensi cedera hamstring
Investigasi prospektif baru-baru ini ditentukan melalui tes isokinetik bahwa
ketidakseimbangan kekuatan (20% defisit bilateral) antara hamstrings eksentrik (30 ° /
dtk) dan paha konsentris (240 ° / s) menghasilkan peningkatan rasio, risiko hamstring 4
kali lipat cedera (rasio risiko, 4,66; kepercayaan diri 95% internal: 2,01-10,8)
dibandingkan dengan profil kekuatan normal. Para penulis menyarankan bahwa
kapasitas eksentrik otot hamstring yang tidak memadai untuk mengimbangi aksi
konsentris dari quadriceps selama ayunan terminal mengakibatkan peningkatan risiko
cedera.

Penambahan dari latihan kekuatan eksentrik merupakan bagian dari latihan pemain
sepakbola dalam mengurangi insidensi cedera hamstring (risk ratio 0,43; interval
keppercayaan 0,19-0,98) sedangkan peningkatan ppuncak kekuatan eksentrik hamstring
diindikasikan untuk mengurangi resiko cedera, untuk resultan pergeseran gaya puncak
untuk lebih panjangnya pemanjangan otot. Karena kpeningkatan kejadian yang
berdampak pada latihan dan kemudian, kepatuhan pasien menjadi berkurang, sebuah
peningkatan beeban latihan dan intensitas direkomendasikan untuk meminimalkan efek
ini.

Akhirnya, karena penting dalam proses pemulhan cedera, target latihan kontrol
neuromuskular pada ekstremitas bawah dan daera lumbopelvis diindikasikan untuk
inklusi pada program pencegahan cedera hamstring. Contohnya seperti perpindahan
yang termasuk gerakan lutut, berlari cepat, gerakan berdiri dan jatuh dan permulaan
yang eksplosif, dengan sebuah fokus kontrol postur dan perkembangan kekuatan.
Latihan selama 6 minggu dimasukkan dalam latihan ini, peningkatan kontrol
ekstremitas bawah dan peningkatan diskriminiasi telah diobservasi dengan penulis yang
mengindikasikan sebuah kontribusi potensial untuk pencegahan cedera. Selain itu,
penekanan program pada perpindahan trunkus selama lari (contohnya, postur keats,
fleksi kedepan dan rotasi mengurangi kejadian cedera hamstring 70% pada periode 2
tahun. Diberikan penemuan yang menjanjikan, studi tambahan prospektif butuh
dijalankan pada skala besar dan melibatkan atlet dari semua jenis kompetisi (contohnya
SMA, kuliah, dan profesional), lebih jauh lagi, relevansi seperti latihan untuk mencegah
cedera hamstring melibatkan tendon proksimal harus ditentukan.
RINGKASAN

Cedera hamstring sering pada populasi atlet dan memiliki kejadian yang tinggi.
Menyadari sifat cedera hamstring, kekuatan otot dan otot yang didekatnya beegitu juga
pergerakan panggul dan lutut harus dievaluasi selama pemeriksaan fisik. Penemuan
tentang mekanisme cedera dan lokasi cedera dalam unit muskulotendon penting dalam
menentukan prognosis yang tepat. Penekanan pada kontrol neurmuskular dan kekuatan
eksentrik diindikasikan untuk kesuksesan atlet sebelum kembali berolahraga,
mengurangi resiku cedera ulang. Penelitian di masa depan harus mengevaluasi
efektifitas dari program rehablitasi terbaru, mengidentfikasi kriteria kembali
berolahrraga dapat menjadi prediktor resiko cedera ulang dan mengembangkan strategi
yang efektif untuk pencegahan terjadinya cedera.

DAFTAR PUSTAKA

1. Agre JC. Hamstring injuries. Proposed aetiological factors, prevention, and treatment.
Sports Med. 1985;2:21-33.
2. Anderson K, Strickland SM, Warren R. Hip and groin injuries in athletes. Am J
Sports Med. 2001;29:521-533.
3. Arnason A, Andersen TE, Holme I, Engebretsen L, Bahr R. Prevention of hamstring
strains in elite soccer: an intervention study. Scand J Med Sci Sports. 2008;18:40-48.
http://dx.doi.org/10.1111/j.1600-0838.2006.00634.x
4. Asakawa DS, Pappas GP, Blemker SS, Drace JE, Delp SL. Cine phase-contrast
magnetic resonance imaging as a tool for quantification of skeletal muscle motion.
Semin Musculoskelet Radiol. 2003;7:287-295. http://dx.doi.org/10.1055/s-2004-
815676
5. Askling C, Karlsson J, Thorstensson A. Hamstring injury occurrence in elite soccer
players after preseason strength training with eccentric overload. Scand J Med Sci
Sports. 2003;13:244-250.
6. Askling C, Saartok T, Thorstensson A. Type of acute hamstring strain affects
flexibility, strength, and time to return to preinjury level. Br J Sports Med.
2006;40:40-44. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2005.018879
7. Askling CM, Tengvar M, Saartok T, Thorstensson A. Acute first-time hamstring
strains during high-speed running: a longitudinal study including clinical and
magnetic resonance imaging findings. Am J Sports Med. 2007;35:197-206.
http://dx.doi.org/10.1177/0363546506294679
8. Askling CM, Tengvar M, Saartok T, Thorstensson A. Acute first-time hamstring
strains during slow-speed stretching: clinical, magnetic resonance imaging, and
recovery characteristics. Am J Sports Med. 2007;35:1716-1724.
http://dx.doi.org/10.1177/0363546507303563
9. Askling CM, Tengvar M, Saartok T, Thorstensson A. Proximal hamstring strains of
stretching type in different sports: injury situations, clinical and magnetic resonance
imaging characteristics, and return to sport. Am J Sports Med. 2008;36:1799-1804.
http://dx.doi.org/10.1177/0363546508315892
10. Ballinger A. Adverse effects of nonsteroidal anti-inflammatory drugs on the colon.
Curr Gastroenterol Rep. 2008;10:485-489.
11. Barlow A, Clarke R, Johnson N, Seabourne B, Thomas D, Gal J. Effect of massage
of the hamstring muscle group on performance of the sit and reach test. Br J Sports
Med. 2004;38:349-351.
12. Barlow A, Clarke R, Johnson N, Seabourne B, Thomas D, Gal J. Effect of massage
of the hamstring muscles on selected electromyographic characteristics of biceps
femoris during sub-maximal isometric contraction. Int J Sports Med. 2007;28:253-
256.
13. Bennell K, Tully E, Harvey N. Does the toe-touch test predict hamstring injury in
Australian Rules footballers? Aust J Physiother. 1999;45:103-109.
14. Bennell KL, Crossley K. Musculoskeletal injuries in track and field: incidence,
distribution and risk factors. Aust J Sci Med Sport. 1996;28:69-75.
15. Brockett CL, Morgan DL, Proske U. Human hamstring muscles adapt to eccentric
exercise by changing optimum length. Med Sci Sports Exerc. 2001;33:783-790.
16. Brockett CL, Morgan DL, Proske U. Predicting hamstring strain injury in elite
athletes. Med Sci Sports Exerc. 2004;36:379-387.
17. Brooks JH, Fuller CW, Kemp SP, Reddin DB. Incidence, risk, and prevention of
hamstring muscle injuries in professional rugby union. Am J Sports Med.
2006;34:1297-1306. http://dx.doi.org/10.1177/0363546505286022
18. Brukner P, Khan K. Clinical Sports Medicine. 3rd ed. Sydney, Australia: McGraw-
Hill; 2006.
19. Cameron ML, Adams RD, Maher CG, Misson D. Effect of the HamSprint Drills
training pro
gramme on lower limb neuromuscular control in Australian football players. J Sci Med
Sport. 2009;12:24-30. http://dx.doi.org/10.1016/j.jsams.2007.09.003
20. Canale ST, Cantler ED, Jr., Sisk TD, Freeman BL, 3rd. A chronicle of injuries of an
American intercollegiate football team. Am J Sports Med. 1981;9:384-389.
21. Chumanov ES, Heiderscheit BC, Thelen DG. The effect of speed and influence of
individual muscles on hamstring mechanics during the swing phase of sprinting. J
Biomech. 2007;40:3555-3562. http://dx.doi.org/10.1016/j.jbiomech.2007.05.026
22. Clanton TO, Coupe KJ. Hamstring strains in athletes: diagnosis and treatment. J Am
Acad Orthop Surg. 1998;6:237-248.
23. Clark RA. Hamstring injuries: risk assessment and injury prevention. Ann Acad Med
Singapore. 2008;37:341-346.
24. Cohen S, Bradley J. Acute proximal hamstring rupture. J Am Acad Orthop Surg.
2007;15:350-355.
25. Connell DA, Schneider-Kolsky ME, Hoving JL, et al. Longitudinal study comparing
sonographic and MRI assessments of acute and healing hamstring injuries. AJR Am J
Roentgenol. 2004;183:975-984.
26. Croisier JL. Factors associated with recurrent hamstring injuries. Sports Med.
2004;34:681-695.
27. Croisier JL, Forthomme B, Namurois MH, Vanderthommen M, Crielaard JM. Ham-
string muscle strain recurrence and strength performance disorders. Am J Sports
Med. 2002;30:199-203.
28. Croisier JL, Ganteaume S, Binet J, Genty M, Ferret JM. Strength imbalances and
prevention of hamstring injury in professional soccer players: a prospective study.
Am J Sports Med. 2008;36:1469-1475. http://dx.doi.org/10.1177/0363546508316764
29. Dadebo B, White J, George KP. A survey of flexibility training protocols and
hamstring strains in professional football clubs in England. Br J Sports Med.
2004;38:388-394. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2002.000044
30. De Smet AA, Best TM. MR imaging of the distribution and location of acute
hamstring injuries in athletes. AJR Am J Roentgenol. 2000;174:393-399.
31. Feeley BT, Kennelly S, Barnes RP, et al. Epidemiology of National Football League
training camp injuries from 1998 to 2007. Am J Sports Med. 2008;36:1597-1603.
http://dx.doi.org/10.1177/0363546508316021
32. Foreman T, Addy T, Baker S, Burns J, Hill N, Madden T. Prospective studies into
the causation of hamstring injuries in sport: a systematic review. Phys Ther Sport.
2006;7:101-109.
33. Gabbe BJ, Bennell KL, Finch CF. Why are older Australian football players at
greater risk of hamstring injury? J Sci Med Sport. 2006;9:327-333.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jsams.2006.01.004
34. Gabbe BJ, Bennell KL, Finch CF, Wajswelner H, Orchard JW. Predictors of
hamstring injury at the elite level of Australian football. Scand J Med Sci Sports.
2006;16:7-13. http://dx.doi.org/10.1111/j.1600-0838.2005.00441.x
35. Gabbe BJ, Branson R, Bennell KL. A pilot randomised controlled trial of eccentric
exercise to prevent hamstring injuries in community-level Australian Football. J Sci
Med Sport. 2006;9:103-109. http://dx.doi.org/10.1016/j.jsams.2006.02.001
36. Gabbe BJ, Finch CF, Bennell KL, Wajswelner H. Risk factors for hamstring injuries
in community level Australian football. Br J Sports Med. 2005;39:106-110.
http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2003.011197
37. Garrett WE, Jr. Muscle strain injuries. Am J Sports Med. 1996;24:S2-8.
38. Garrett WE, Jr., Califf JC, Bassett FH, 3rd. Histochemical correlates of hamstring
injuries. Am J Sports Med. 1984;12:98-103.
39. Gibbs NJ, Cross TM, Cameron M, Houang MT. The accuracy of MRI in predicting
recovery and recurrence of acute grade one hamstring muscle strains within the same
season in Australian Rules football players. J Sci Med Sport. 2004;7:248-258.
40. Hawkins RD, Hulse MA, Wilkinson C, Hodson A, Gibson M. The association
football medical research programme: an audit of injuries in professional football. Br
J Sports Med. 2001;35:43-47.
41. Heiderscheit BC, Hoerth DM, Chumanov ES, Swanson SC, Thelen BJ, Thelen DG.
Identifying the time of occurrence of a hamstring strain injury during treadmill
running: a case study. Clin Biomech (Bristol, Avon). 2005;20:1072-1078.
http://dx.doi.org/10.1016/j.clinbiomech.2005.07.005
42. Hennessey L, Watson AW. Flexibility and posture assessment in relation to
hamstring injury. Br J Sports Med. 1993;27:243-246.
43. Hopper D, Deacon S, Das S, et al. Dynamic soft tissue mobilisation increases
hamstring flexibility in healthy male subjects. Br J Sports Med. 2005;39:594-598;
discussion 598. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2004.011981
44. Hoskins W, Pollard H. Hamstring injury management--Part 2: Treatment. Man
Ther. 2005;10:180-190. http://dx.doi.org/10.1016/j.math.2005.05.001
45. Jarvinen MJ, Lehto MU. The effects of early mobilisation and immobilisation on the
healing process following muscle injuries. Sports Med. 1993;15:78-89.
46. Jarvinen TA, Jarvinen TL, Kaariainen M, et al. Muscle injuries: optimising
recovery. Best Pract Res Clin Rheumatol. 2007;21:317-331.
http://dx.doi.org/10.1016/j.berh.2006.12.004
47. Kaariainen M, Jarvinen T, Jarvinen M, Rantanen J, Kalimo H. Relation between
myofibers and connective tissue during muscle injury repair. Scand J Med Sci
Sports. 2000;10:332-337.
48. Kannus P, Parkkari J, Jarvinen TL, Jarvinen TA, Jarvinen M. Basic science and
clinical studies coincide: active treatment approach is needed after a sports injury.
Scand J Med Sci Sports. 2003;13:150-154

49. Kendall FP, McCreary EK, Provance PG, Rodgers MM, Romani WA. Muscles:
Testing and Function with Posture and Pain. 5th ed. Baltimore, MD: Lippincott,
Williams, & Wilkins; 2005.
50. Kirkland A, Garrison JC, Singleton SB, Rodrigo J, Boettner F, Stuckey S. Surgical
and therapeutic management of a complete proximal hamstring avulsion after failed
conservative approach. J Orthop Sports Phys Ther. 2008;38:754-760.
http://dx.doi.org/10.2519/jospt.2008.2845
51. Kornberg C, Lew P. The effect of stretching neural structures on grade one
hamstring injuries. J Orthop Sports Phys Ther. 1989;10:481-487.
52. Kornberg C, McCarthy T. The effect of neural stretching technique on sympathetic
outflow to the lower limbs. J Orthop Sports Phys Ther. 1992;16:269-274.
53. Koulouris G, Connell D. Evaluation of the hamstring muscle complex following
acute injury. Skeletal Radiol. 2003;32:582-589. http://dx.doi.org/10.1007/s00256-
003-0674-5
54. Koulouris G, Connell D. Hamstring muscle complex: an imaging review.
Radiographics. 2005;25:571-586. http://dx.doi.org/10.1148/rg.253045711
55. Koulouris G, Connell D. Imaging of hamstring injuries: therapeutic implications.
Eur Radiol. 2006;16:1478-1487. http://dx.doi.org/10.1007/s00330-005-0075-3
56. Koulouris G, Connell DA, Brukner P, Schneider-Kolsky M. Magnetic resonance
imaging parameters for assessing risk of recurrent hamstring injuries in elite athletes.
Am J Sports Med. 2007;35:1500-1506. http://dx.doi.org/10.1177/0363546507301258
57. Kujala UM, Orava S, Jarvinen M. Hamstring injuries. Current trends in treatment
and prevention. Sports Med. 1997;23:397-404.
58. Lempainen L, Sarimo J, Heikkila J, Mattila K, Orava S. Surgical treatment of partial
tears of the proximal origin of the hamstring muscles. Br J Sports Med. 2006;40:688-
691. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2006.028191
59. Lew PC, Briggs CA. Relationship between the cervical component of the slump test
and change in hamstring muscle tension. Man Ther. 1997;2:98-105.
http://dx.doi.org/10.1054/math.1997.0291
60. Maffey L, Emery C. What are the risk factors for groin strain injury in sport? A
systematic review of the literature. Sports Med. 2007;37:881-894.
61. Magee DJ. Orthopedic Physical Assessment. 5th ed. Philadelphia, PA: W.B.
Saunders Company; 2008.
62. Malliaropoulos N, Papalexandris S, Papalada A, Papacostas E. The role of
stretching in rehabilitation of hamstring injuries: 80 athletes follow-up. Med Sci
Sports Exerc. 2004;36:756-759.
63. Markert CD, Merrick MA, Kirby TE, Devor ST. Nonthermal ultrasound and
exercise in skeletal muscle regeneration. Arch Phys Med Rehabil. 2005;86:1304-
1310.
64. Marshall SW, Hamstra-Wright KL, Dick R, Grove KA, Agel J. Descriptive
epidemiology of collegiate women’s softball injuries: National Collegiate Athletic
Association Injury Surveillance

System, 1988-1989 through 2003-2004. J Athl Train. 2007;42:286-294.


65. Mason DL, Dickens V, Vail A. Rehabilitation for hamstring injuries. Cochrane
Database Syst Rev. 2007;CD004575.
http://dx.doi.org/10.1002/14651858.CD004575.pub2
66. Mehallo CJ, Drezner JA, Bytomski JR. Practical management: nonsteroidal
antiinflammatory drug (NSAID) use in athletic injuries. Clin J Sport Med.
2006;16:170-174.
67. Mishra DK, Friden J, Schmitz MC, Lieber RL. Anti-inflammatory medication after
muscle injury. A treatment resulting in short-term improvement but subsequent loss
of muscle function. J Bone Joint Surg Am. 1995;77:1510-1519.
68. Mjolsnes R, Arnason A, Osthagen T, Raastad T, Bahr R. A 10-week randomized
trial comparing eccentric vs. concentric hamstring strength training in well-trained
soccer players. Scand J Med Sci Sports. 2004;14:311-317.
http://dx.doi.org/10.1046/j.1600-0838.2003.367.x
69. Nicholas SJ, Tyler TF. Adductor muscle strains in sport. Sports Med. 2002;32:339-
344.
70. Orchard J. Biomechanics of muscle strain injury. N Z J Sports Med. 2002;30:92-98.
71. Orchard J, Best TM. The management of muscle strain injuries: an early return
versus the risk of recurrence. Clin J Sport Med. 2002;12:3-5.
72. Orchard J, Best TM, Verrall GM. Return to play following muscle strains. Clin J
Sport Med. 2005;15:436-441.
73. Orchard J, Seward H. Epidemiology of injuries in the Australian Football League,
seasons 1997-2000. Br J Sports Med. 2002;36:39-44.
74. Orchard JW. Intrinsic and extrinsic risk factors for muscle strains in Australian
football. Am J Sports Med. 2001;29:300-303.
75. Orchard JW, Farhart P, Leopold C. Lumbar spine region pathology and hamstring
and calf injuries in athletes: is there a connection? Br J Sports Med. 2004;38:502-
504; discussion 502-504. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2003.011346
76. Pappas GP, Asakawa DS, Delp SL, Zajac FE, Drace JE. Nonuniform shortening in
the biceps brachii during elbow flexion. J Appl Physiol. 2002;92:2381-2389.
http://dx.doi.org/10.1152/japplphysiol.00843.2001
77. Price RJ, Hawkins RD, Hulse MA, Hodson A. The Football Association medical
research programme: an audit of injuries in academy youth football. Br J Sports Med.
2004;38:466-471. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2003.005165
78. Proske U, Morgan DL, Brockett CL, Percival P. Identifying athletes at risk of
hamstring strains and how to protect them. Clin Exp Pharmacol Physiol.
2004;31:546-550. http://dx.doi.org/10.1111/j.1440-1681.2004.04028.x
79. Rahusen FT, Weinhold PS, Almekinders LC. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs
and acetaminophen in the treatment of an acute muscle injury. Am J Sports Med.
2004;32:1856-1859.
80. Rantanen J, Thorsson O, Wollmer P, Hurme T, Kalimo H. Effects of therapeutic
ultrasound on the regeneration of skeletal myofibers after experimental muscle
injury. Am J Sports Med. 1999;27:54-59.
81. Reeder SB, McKenzie CA, Pineda AR, et al. Water-fat separation with IDEAL
gradient-echo imaging. J Magn Reson Imaging. 2007;25:644-652.
http://dx.doi.org/10.1002/jmri.20831
82. Reynolds JF, Noakes TD, Schwellnus MP, Windt A, Bowerbank P. Non-steroidal
anti-inflammatory drugs fail to enhance healing of acute hamstring injuries treated
with physiotherapy. S Afr Med J. 1995;85:517-522.
83. Sarimo J, Lempainen L, Mattila K, Orava S. Complete proximal hamstring
avulsions: a series of 41 patients with operative treatment. Am J Sports Med.
2008;36:1110-1115. http://dx.doi.org/10.1177/0363546508314427
84. Schache AG, Wrigley TV, Baker R, Pandy MG. Biomechanical response to
hamstring muscle strain injury. Gait Posture. 2009;29:332-338.
http://dx.doi.org/10.1016/j.gaitpost.2008.10.054
85. Schneider-Kolsky ME, Hoving JL, Warren P, Connell DA. A comparison between
clinical assessment and magnetic resonance imaging of acute hamstring injuries. Am
J Sports Med. 2006;34:1008-1015. http://dx.doi.org/10.1177/0363546505283835
86. Shankar PR, Fields SK, Collins CL, Dick RW, Comstock RD. Epidemiology of high
school and collegiate football injuries in the United States, 2005-2006. Am J Sports
Med. 2007;35:1295-1303. http://dx.doi.org/10.1177/0363546507299745
87. Sherry MA, Best TM. A comparison of 2 rehabilitation programs in the treatment of
acute hamstring strains. J Orthop Sports Phys Ther. 2004;34:116-125.
http://dx.doi.org/10.2519/jospt.2004.1062
88. Silder A, Heiderscheit BC, Thelen DG, Enright T, Tuite MJ. MR observations of
long-term musculotendon remodeling following a hamstring strain injury. Skeletal
Radiol. 2008;37:1101-1109. http://dx.doi.org/10.1007/s00256-008-0546-0
89. Silder A, Thelen DG, Tuite MJ, Heiderscheit BC. Long-term morphological and
functional changes following an acute hamstring strain injury [abstract]. North
American Congress on Biomechanics. Ann Arbor, MI: 2008.
90. Silder A, Westphal C, Reeder SB, Thelen DG. Differences in hamstring mechanics
between shortening and lengthening contractions revealed by dynamic MRI
[abstract]. North American Congress on Biomechanics. Ann Arbor, MI: 2008.
91. Silder A, Whittington B, Heiderscheit B, Thelen DG. Identification of passive
elastic joint moment-angle relationships in the lower extremity. J Biomech.
2007;40:2628-2635. http://dx.doi.org/10.1016/j.jbiomech.2006.12.017
92. Slavotinek JP, Verrall GM, Fon GT. Hamstring injury in athletes: using MR
imaging measurements to compare extent of muscle injury with amount of time lost
from competition. AJR Am J Roentgenol. 2002;179:1621-1628.
93. Thelen DG, Chumanov ES, Best TM, Swanson SC, Heiderscheit BC. Simulation of
biceps femoris musculotendon mechanics during the swing phase of sprinting. Med
Sci Sports Exerc.
2005;37:1931-1938.
94. Thelen DG, Chumanov ES, Hoerth DM, et al. Hamstring muscle kinematics during
treadmill sprinting. Med Sci Sports Exerc. 2005;37:108-114.
95. Turl SE, George KP. Adverse neural tension: a factor in repetitive hamstring strain?
J Orthop Sports Phys Ther. 1998;27:16-21.
96. Van Don B. Hamstring injuries in sprinting [thesis]. Iowa City, IA: The University
of Iowa; 1998.
97. Verrall GM, Kalairajah Y, Slavotinek JP, Spriggins AJ. Assessment of player
performance following return to sport after hamstring muscle strain injury. J Sci Med
Sport. 2006;9:87-90. http://dx.doi.org/10.1016/j.jsams.2006.03.007
98. Verrall GM, Slavotinek JP, Barnes PG. The effect of sports specific training on
reducing the incidence of hamstring injuries in professional Australian Rules football
players. Br J Sports Med. 2005;39:363-368.
99. Verrall GM, Slavotinek JP, Barnes PG, Fon GT, Esterman A. Assessment of
physical examination and magnetic resonance imaging findings of hamstring injury
as predictors for recurrent injury. J Orthop Sports Phys Ther. 2006;36:215-224.
http://dx.doi.org/10.2519/jospt.2006.2086
100. Verrall GM, Slavotinek JP, Barnes PG, Fon GT, Spriggins AJ. Clinical risk factors
for hamstring muscle strain injury: a prospective study with correlation of injury by
magnetic resonance imaging. Br J Sports Med. 2001;35:435-439; discussion 440.
101. Warren P, Gabbe BJ, Schneider-Kolsky M, Bennell KL. Clinical predictors of time
to return to competition and of recurrence following hamstring strain in elite
Australian footballers. Br J Sports Med.
2008;http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2008.048181
102. Westphal C, Silder A, Thelen DG. A MR-compatible loading device for
dynamically imaging shortening and lengthening muscle contractions. The North
American Congress on Biomechanics. Ann Arbor, MI: 2008.
103. Worrell TW. Factors associated with hamstring injuries. An approach to treatment
and preventative measures. Sports Med. 1994;17:338-345.
104. Yeung SS, Suen AM, Yeung EW. A prospective cohort study of hamstring injuries
in competitive sprinters: preseason muscle imbalance as a possible risk factor. Br J
Sports Med. 2009;43:589-594. http://dx.doi.org/10.1136/bjsm.2008.056283
105. Yu B, Queen RM, Abbey AN, Liu Y, Moorman CT, Garrett WE. Hamstring
muscle kinematics and activation during overground sprinting. J Biomech.
2008;41:3121-3126. http://dx.doi.org/10.1016/j.jbiomech.2008.09.005
106. Zhou H, Novotny JE. Cine phase contrast MRI to measure continuum Lagrangian
finite strain fields in contracting skeletal muscle. J Magn Reson Imaging.
2007;25:175-184. http://dx.doi.org/10.1002/jmri.20783
APENDIX

Diajukan panduan untuk rehabilitasi dari cedera strain. Diindikasikan latihan termasuk
pengulangan. Progresifitas hingga fase 3 diperkirakan 2-6 minggu tetapi harus sesuai
progres dan kriteria spesifik pasien harus diindikasikan

Fase 1
Tujuan
1. melindungi perkembangan skar
2. meminimalkan atrofi

Proteksi
Mengabaikan gerakan hamstring yang berlebihan (aktif maupun pasif)
(2-3 kali per hari)

Latihan terapi (dilakukan harian):


1. bersepeda x 10 menit
2. langkah langkah x 10 m, 3x1 menit, rendah sampai sedang, kecepatan bebasn
nyeri
3. grapevine x 10 m, 3x1 menit, rendah sampai sedang dengan intensitas moderat
4. kecepatan langkah, 2x1 menit
5. posisi tubuh seperti gambar 4,5 5x10 detik
6. side body bridge 5x10 detik
7. Posisi supinasi 10x5 detik
8. Latihan keseimbangan dari ekstremitas dari mata terbuka hingga tertutup , 4x20
detik

Kriteria untuk progresifitas fase selanjutnya :


1. Jalan normal tanpa nyeri
2. Kecepatan joging sangat rendah tanpa nyeri
3. Kontraksi isomerik bebas nyeri melawan submaksimal (50-70%) resistensi
fleksi dengan kecepatan manual 90 derajat

Fase 2
Tujuan :
1. Kekuatan hamstring bebas nyeri, dimulai dengan rentan sedang dan progres
hingga pemanjangan hamstring
2. Perkembangan kontrol neuromuskular dari trunkus dengan peningkatan
kecepatan latihan

Perlindungan
Abaikan pemanjangan hamstring rentan akiir dengan kelemahan hamstring

Ice
Post latihan, 10-15 menit

Latihan terapi (dilakukan 5-7 hari/minggu)


1. Sepeda x 10 menit
2. Latihan gerak 10m, 3x1 menit, sedang sampai berat, bebas nyeri
3. Grapevine x 10 m, 3x1 menit, sedang sampai berat, bebas nyeri
4. Boxer x 10 m,2x1 menit, rendah sampai sedang, bebas nyeri
5. Rotasi tubuh, 5 kali tiap sisi,2 x 10 pengulangan
6. Supinasi lutut gambar 3 , 3x10 pengulangan
7. Latihan keseimbangan, 4x8 pengulangan tiap ekstremitas
8. Rotasi trunkus, beerlawanan dengan jari yangan dan T-lift, 2 x 10 langkah tiap
ekstremitas
9. Keseimbangan ekstremitas berlawanan dengan ekstensi panggul, 5x10 per
ekstremitas

Kriteria untuk progres ke fase slanjutnya:


1. Gerakan penuh (5/5) tanpa nyeri selama fleeksi lutut (90 derajat) dengan uji
kekuatan manual
2. Jalan bebas nyeri, iintensitas sedang

Fase 3
Tujuan
1. Bebas nyeri (nyeri dan kekakuan) selama beraktifitas
2. Kekuatan hamstring konsentris dan eksentris gerakan penuh dan kecepatan
3. Peningkatan kontrol neuromuskular trunkus dan pelvis
4. Kontrol postur dalam pergerakan olahraga

Proteksi :
Mengabaikan semua intensitas jika nyeri/kekakuan

Ice :
Post latihan 10-15 menit jika dibutuhkan

Latihan terapi (dilakukan 4-5 hari/minggu)


1. Bersepeda x 10 menit
2. Berjalan x30 menit, 3x1 menit, sedang sampai berat, bebas nyeri
3. Grapevine x 10 m, 3x1 menit, sedang sampai berat, bebas nyeri
4. Boxer x 10 m,2x1 menit, rendah sampai sedang, bebas nyeri
5. A dan b dilangkahi pada ukuran lutut yang pendek dan peningkatan secara
progresif, bebas nyeri
a. Langkahi A jika gerakan kedepan dari gerakan kaki dengan berlawanan
dengan bahu (sama dengan berlari), selama melompat, lutut yang
berlawanan difleksikan dan kemudian lutut dan panggul diekstensikan
bersama untuk membuat langkah selanjutnya
b. Langkah B dilangkahi jika progresifitas langkah A dilangkahi; namun,
ekstensi lutut yang berlawanan sesuai dengan ekstensi panggul pada fase
swing dari berlari. Kaki kemudian diarahkan kebelakang pada gerakan
melangkah. Komponen sama dengan A
6. Kecepatan kedepan dan kebelakang, 3x1 menit, dimulai 5m, progres hingga 10
m, kemudian 20 m
7. Rotasi tubuh dengan dumbel 5 detik tiap sisi,2x10 pengulangan
8. Supinasi ekstremitas, 3x15 pengulangan, kecepatan lambat hingga cepat
(Gambar 4)
9. Keseimbangan ekstremitas dengan dumbel 4x8 pengulangan (gambar 5 )
10. Berjalan dengan rotasi trunkus, berlawanan dengan menyentuh dumbel dan T-
lift, 2x10 langkah
11. Olahraga spesifik yang bersamaan dengan kontrol postur dan kecepatan
progresifitas

Kriteria kembali olahraga :


1. Kekuatan penuh tanpa nyeri
a. 4 latihan pengulangan dari uji kekuatan manual ditiap posisi fleksi lutut (90
derajat dan 15 derajat)
b. Kurang dari defisit bilateral 5% pada kekuatan eksentrik hamstring
(30derajat/detik); quadrisep konsentrik (240 derajat/detik) rasio selama uji
isokinetik
c. Simetrisitas bilateral pada sudut fleksi lutut dari fleksi lutut konsentris
isokinetik pada 60 derajat tiap detik
2. Gerakan penuh tanpa nyeri
3. Replikasi dari pergerakan olahrga spesifik dekat kecepatan maksimal tanpa nyeri
4. Contohnya uji sprint untuk atlet dalam berlari)