Anda di halaman 1dari 7

Pengaruh Temperatur dan Laju Aliran Gas CO2 pada Sintesis Kalsium

Karbonat Presipitat dengan Metode Bubbling


Sintesis

Dalam jurnal penelitian yang dilakukan Qudsiyyatul dkk digunakan metode Bubbling
untuk mengetahui pengaruh temperatur dan laju aliran gas CO2 pada sintesis kalsium
karbonat presipitat. Dalam melakukan penelitian tersebut bahan utama yang
digunakan adalah batu kapur dari Tuban, aquades, gas CO2, larutan HCl (12 Molar),
dan NH4OH (25%). Batu kapur Tuban digunakan karena batu kapur tersebut
mempunyai kemurnian yang tinggi dengan fraksi kalsium mencapai 98%. Kemurnian
batu kapur bergantung pada material tambahan yang terkadung didalamnya seperti
besi, kalium, iodin, dan logam berat yang dapat mempengaruhi kualitas produk CaCO 3
yang dihasilkan. Penetitian tersebut diawali dengan pembuatan larutan CaCl2 yang
dilakukan dengan mereaksikan CaO hasil kalsinasi batu kapur pada 900°C dengan HCl
(10 molar). Larutan NH4OH dan aquades hingga Ph awal 10. Setelah itu dilakukan
proses karbonisasi (bubbling) selama 10 menit dengan variasi temperatur 30°C, 50°C,
dan 70°C serta laju aliran gas CO2 2, 5, dan 7 SCFH. Selam proses karbonisasi
temperatur dijaga konstan dean diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan
kecepatan konstan. Hasil endapan proses karbonisasi disaring menggunakan kertas
saring kemudian dikeringkan pada temperatur 90°C selama ± 24 jam. Produk yang
dihasilkan dari kegitan tersebut berupa serbuk.

Karakterisasi

Karakterisasi hasil produk tersebut dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction


(XRD).

Berdasarkan karakterisasi yang dilakukan diperoleh hasil bahwa :

1. Pengaruh temperatur
Gambar 1. Pola difraksi pada temperatur variasi temperatur

Temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan fase


morfologi pada CaCO3. Dengan menggunakan tiga veriasi temperatur 30°C , 50°C , dan
70°C didapatkan pola difraksi pada gamabar 1. Dari pola difaksi tersebut dapat
diketahui bahwa pada temperatur 30°C terbentuk fase klasit dan vaterit. Pada
temperatur 50°C terbentuk fase kalsit, aragonit, dan vaterit. Ketiga fase dari CaCO 3
terbentuk karena berada pada temperatur intermediet. Pada temperatur 70°C hanya
fase aragonit saja yang terbentuk. Dari hal tersebut diketahui bahwa temperatur
mempengaruhi pembentukan fase dari CaCO3 .

2. Pengaruh Laju Aliran Gas CO2 pada temperatur 30°C


Gambar 2. Pola Difraksi sinar-x dengan laju aliran
bervariasi pada temperatur 30°C

Gambar 3. Hubungan antara fraksi volume dengan laju aliran gas


CO2 pada temperatur 30°C.
Berdasarkan pola difraksi pada gambar 2 dapat diketahui bahwa seiring
peningkatan laju aliran gas CO2, fase vaterit akan mulai terbentuk. Pada laju
aliran rendah hanya fase kalsit saja yang dominan terbentuk. Fase vaterit muncul
seiring peningkatan laju alran gas CO2. Hal tersebut disebabkan karena pada laju
aliran tinggi yaitu 7 SCFH jumlah gas CO2 yang ditambahkan akan semakin
banyak dan akan mempertinggi kelarutan dari gas CO2 itu sendiri di dalam
larutan. Pada keadaan tersebut akan terjadi pengumpulan ion-ion H+, HCO 3-,
dan CO32-, sehingga kan meningkatkan supersaturasi dari larutan. Keadaan
supersaturasi tinggi akan mempermdah dan mempercepat proses pengintian
dan pengendapan yang mana keadaan ini akan membatasi transformasi fase
vaterit menjadi kalsit. Sedangkan pada laju lairan gas CO2 rendah akan
menurunkan supersaturasi larutan karena kurangnya ketersediaan dari gas CO2
sehingga supersaturasi larutannya rendah. Pada keadaan supersaturasi rendah
pembubaran vaterit akan terjadi lebih baik sehingga mempercepat transformasi
dari fase vaterit menjadi fase kalsit. Maka dari itu fase yang terbentuk hanya
kalsit.

3. Pengaruh Laju Aliran Gas CO2 pada temperatur 50°C

Gambar 4. Pola difraksi sinar-x dengan laju


aliran bervariasi pada temperatur 50°C.
Gambar 5. Hubungan antara fraksi volume dengan laju aliran gas CO2
pada temperatur 50°C

Berdasarkan pola difaksi pada gambar 4 dapat diketahui bahwa pada


temperatur 50°C ketiga fase terbentuk dan seiring peningkatan laju aliran gas
CO2 fase metastabil menghilang dan hanya fase terdapat fase kalsit. Fase kalsit
merupakan fase yang paling stabil.
Berdasarkan gambar 5 dapat diketahui bahwa seiring peningkatan laju
aliran gas CO2 fase menstabil dari CaCO3 (aragonit dan vaterit) lenyap. Hal
tersebut terjadi karena pada fase-fase mentastabil tersebut bertansformasi mejadi
fase stabil siring peningkatan laju aliran gas CO2.

4. Pengaruh Laju Aliran Gas CO2 pada temperatur 70°C


Gambar 6. Pola difraksi sinar-x dengan laju aliran bervariasi pada
temperatur 70°C.

Gambar 7. Hubungan antara fraksi volume dengan laju aliran gas Co2 pada
temperatur 70 °C.
Berdasarkan pola difraksi pada gambar 6 dapat diketahui bahwa pada
temperatur 70°C terbentuk dua fase yaitu fase aragonit dan fase kalsit. Pada gambar
tampak bahwa seiring dengan penigkatan laju aliran gas CO2 fraksi volume fase
aragonit semakin menurun.

Aplikasi

Masing-masing bentuk kristal kalsium karbonat presipitat mempunyai aplikasi


yang berbeda. Kalsit biasa digunakan dalam industri cat, kertas, magnetic recording,
industri tekstil, detergen, plastik dan komestik. Aragonit mempunyai aplikasi sebagau
filter kertas yang menjadikan sifat-sifatnya lebih baik seperti high bulk, kecerahan, tak
tembus cahaya, dan kuat. Vaterit biasa digunakan sebagai katalis, teknologi separasi,
dan agrochemical. Partikel vaterit berongga merupakan partikel dari CaCO3 yang
digunakan dalam aplikasi kelas tinggi yaitu granula, dan adiktif dalam makanan
maupun industri farmasi.