Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

TUMOR PAYUDARA

A. Defenisi Penyakit
Tumor payudara adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae di mana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah.
(Kusuma, 2015).
Tumor payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada
payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini
menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak
dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada
bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah
bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel
kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit.
(Ardiansyah, 2012).
Tumor payudara adalah suatu pertumbuhan sel-sel abnormal
yang cenderung menginvansi jaringan disekitarnya dan menyebar
ketempat-tempat jauh (Corwin. 2009).
Tumor payudara merupakan kelainan payudara yang sering
ditemukan terutama pada wanita. Tumor ada yang bersifat jinak adapula
yang ganas. Tumor ganas inilah yang disebut kanker. Kanker memiliki
sifat khas, yaitu terdiri dari sel-sel ganas yang dapat menyebar ke bagian
tubuh yang lain. Penyebaran ini disebut metastasis dan dapat terj

B. Etiologi
Penyebab spesifik Tumor payudara tiadak diketahui, para peneliti
telah mengidentifikasi sekelompok faktor resiko. Riset lebih lanjut tentang
faktor-faktor resiko akan membantu dalam mengembangkan strategi yang
efektif untuk mencegah Tumor payudara. Faktor-faktor resiko mencakup :

1
1. Umur
Kejadian tumor payudara lebih sering ditemukan pada usi 40-
49 tahun (decade kelima) yaitu sekitar 30 % untuk kasus-kasus di
Indonesia. Satu dari keganasan payudara invasive ditemukan pada
wanita berusia dibawah 45 tahun. Dua pertiga keganasan payudara
invasive ditemukan pada wanita berusia 55 tahun. Insiden kanker
payudara akan berlipat ganda setiap 10 tahun tetapi akan menurun
drastic setelah masa menopause (Sjamsuhidajat, 2010).
2. Etnik
Resiko untuk kanker payudara lebih tinggi di Amerika Utara
dan Eropa Barat di bandingkan Asia dan Afrika. Perempuan asia yang
lahir di Asia memiliki resiko kanker payudara seumur hidup sangat
rendah, namn anak-anak perempuan mereka yang lahir di Amerika
Utara memiliki resiko kanker payudara seumur hidup yang sama
seperti perempuan Kaukasia Amerika (Black, 2014).
3. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga adalah salah satu resiko kanker payudara
yang diketahui. Sekitar 5-10% kanker payudara terjadi akibat adanya
predisposisi genetic. Jika menderita kanker payudata saat usia kurang
dari 40 tahun tahun dengan atau tanpa riwayat keluarga, menderita
kanker payudara atau kaker ovarium, menderita kanker payudara
bilateral, menderita kanker payudara ada usia berarapun dan dua tau
lebih kerabat tingkat pertama menderita kanker payudara payudara ini
merupakan faktor predisposisi genetic sebagai penyebab kanker
payudara (Sjamsuhidajat, 2010).
Mutasi gen BRCAI (kromosom 17q21.3), mutasi gen BRCA2
(13q12-13), mutasi gen ATM sebagai gen pengatur perbaikan DNA,
mutasi gen CHEK dan gen suppressor tumor p53 merupakan
predisposisi dari kanker payudara (Sjamsuhidajat, 2010).
4. Panjanan lama ke estrogen eksogen pasca menopause
Efek samping dari terapi sulih estrogen ERT (Estrogen
Replacement Therapy) dapat menyebabkan peningkatan insiden

2
kanker payudara. Penggunaan terapi sulih hormone yang digunakan
lebih dari 10 tahun akan meningkatkan resiko sebesar 1, 35 dan
penggunaan estrogen penguat kandung selama kehamilan juga
meningkatkan resiko dua kali lipat (Sjamsuhidajat, 2010).
5. Penggunaan kontrasepri oral
Estrogen sangat mempengaruhi pertumbuhan jaringan
payudara, wanita yang terpapar estrogen dalam waktu yang lama akan
memiliki resiko yang besar terhadap kanker payudara. Penggunaan
kontrasepsi oral dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan
resiko kanker payudara sebesar 1,24 kali (Sjamsuhidajat, 2010).
6. Radiasi pengion
Radiaso pengion ke daerah dada dapat meningkatkan resiko
kanker payudara namun resiko tersebut tergantung dari dosis radiasi,
waktu sejak pajanan dan usia.
7. Densitas jaringan payudara
Resiko terkena kanker payudara akan lebih tinggi pada wanita
dengan jaringan kelenjar lebih banyak dan sedikit jaringan lemak.
8. Lama menyusui
Kadar hormon estrogen dan hormone progesteron yang tinggi
selama masa kehamilan akan menurun drastic setelah melahirkan.
Kadar hormon estrogen dan hormone progesterone yang telah
menurun dalam darah selama menyusui akan mengurangi pengaruh
hormon tersebut terhadap proses poliferasi jaringan termaksud
jaringan payudara
9. Usia menstruasi pertama
Resiko kanker payudara akan lebih besar jika wanita tersebut
mengalami menarche sebelum usia 12 tahun an disertai dengan
menopause yang lebih lambat yaitu pada usia dari 55 tahun. Menarche
pada usia kurang dari 12 tahun memberikan resiko 1,7-2,4 kali lebih
tinggi disbanding dengan wanita yang mengalami mentruasi pda usia
lebih dari 12 tahun,hal ini berhubungan dengan lamanya paparan

3
hormone estrogen dan progesterone yang berpengaruh terhadap
poliferasi jaringan payudara
10. Gaya hidup
Obesitas yang terjadi pada pasca menopause akan
meningkatkan resiko kaknker payudara sedangkan obesitas
premonopause dapat menurunkan resiko kanker payudara. Hal ini
dapat disebabkan oleh efek tiap obesitas yang berbeda terhadap kadar
hormone endongen.
Olahraga selama 4 jam setiao minggu menurunkan resiko 30
%. Olahraga rutin pasca menopause juga menurunkan resiko 30-40 %.
American Cancer Society merekomendasikan olahraga selama 45-60
menit setiap hari. Komsumsi alcohol dapat meningkatkan resiko
kanker payudara karena alcohol dapat meningkatkan kadar estrogen
endogen sehingga mempengaruhi responsivitas tumor tehadap hormon
(Sjamsuhidajat, 2010).

C. Manifestasi klinis
1. Kebanyakan tumor payudara tampak sebagai massa yang tidak nyeri
maupun peris, keras, berbentuk irregular dan tidak bergerak. Namun
sekitar 60 % kanker dapat digerakkan, 40% memiliki tepi yang regular
pada palpasi dan 40% dapat teraba lunak atau kistik. Bahkan jika tidak
tampak ada massa, temuan fisik lain seperti cairan dari puting,
indurasi dan cekung kulit dapat mengesankan keganasan. Panas dan
eritema pada kulit payudara dapat berkaitan dengan inflamasi namun
dapat juga mengindikasikan karsinoma inflamantori. Edema kulit
adalah karakteristik dari penyakit keganasan. Edema adalah akibat
invasi dan obstruksi limfatik dermal oleh tumor (Black, 2014).
2. Terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, dari
mulai ukuran kecil kemudian menjadi besar dan teraba seperti melekat
pada kulit, biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur (Kowalak
2014).

4
3. Keluar cairan abnormal dari puting susu, berupa nanah, darah, cairan
encer padahal ibu tidak sedang hamil (Kowalak 2014).
4. Ada perlengketan dan lekukan pada kulit.
5. Perubahan warna atau tekstur kulit pada payudara.
6. Payudara tampak kemerahan dan kulit disekitar puting susu bersisik.
7. Terjadinya luka yang tidak sembuh dalam waktu yang lama.
8. Rasa tidak enak dan tegang.
9. Retraksi putting.
10. Pembengkakan lokal.
11. Konsistensi payudara yang keras dan padat.
12. Benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm,
biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker
diluar payudara (Kowalak 2014).
13. Perubahan bentuk dan besar payudara, adanya lekukan ke dalam,
tarikan dan refraksi pada areola mammae.
14. Edema dengan peant d’orange (keriput seperti kulit jeruk).
15. Pengelupasan papilla mammae
16. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mammografi.
17. Pada stadium lanjut, bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan atau ulserasi kulit (Kowalak 2014).

D. Deskripsi Patofisiologi
Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan
cirri-ciri: proliferasi sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak
mengikuti pengaruh struktur jaringan sekitarnya. Neoplasma yang maligna
terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang tidak
terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi
dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ
yang jauh.
Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama
dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana

5
telah terjadi transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel
ganas di antar sel-sel normal (Helvia, 2014).
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses
rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan
promosi (Kowalak 2014):
1. Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel
yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik
sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa
berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari.
tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu
karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang
disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu
karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel
menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.
2. Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan
berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak
akan terpengaruh oleh promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor
untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu
karsinogen).
Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita
karena kanker. Penyebab pasti belum diketahui, namun ada beberapa
teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada
mammae, yaitu:
a. Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone
estrogen dan progesterone yang dihasilkan oleh ovarium
mempengaruhi factor pertumbuhan sel mammae. Dimana salah
satu fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel
mammae.
Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat
ovariumnya pada usia muda lebih jarang ditemukan menderita

6
karcinoma mammae, tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa
hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker mammae pada
manusia. Namun menarche dini dan menopause lambat ternyata
disertai peninmgkatan resiko Kanker mammae dan resiko kanker
mammae lebih tinggi pada wanita yang melahirkan anak pertama
pada usia lebih dari 30 tahun.
b. Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu
menyebabkan adanya massa abnormal pada sel yang sedang
mengalami proliferasi.
c. Genetik
1) Kanker mammae yang bersifat herediter dapat terjadi
karena adanya “linkage genetic” autosomal dominan.
2) Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi
kromosom 17 mempunyai peranan penting untuk
terjadinya transformasi malignan.
3) mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada
klien dengan riwayat keluarga kanker mammae dan
ovarium serta mutasi gen supresor tumor p 53.
d. Defisiensi imun
Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan
produksi interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya
proliferasi sel dan jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas
antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan menyebabkan
timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering
pada system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan
perkembangan sel atipikal. Sel ini akan berlanjut menjadi
karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker butuh waktu 7
tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa
yang cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker yang
mengenai jaringan yang peka terhadap sensasi nyeri akan
menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan pelksus saraf.

7
Benjolan yang tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada
kanker lanjut.
Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui
saluran limfe dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan
sampai di kelenjer limfe menyebabkan terjadinya pembesaran
kelenjer limfe regional. Disamping itu juga bisa menyebabkan
edema limfatik dan kulit bercawak (peau d’ orange). Penyebaran
yang terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya
metastasis pada jaringan paru, pleura, otak tulang (terutama
tulang tengkorak, vertebredan panggul). Pada tahap terminal
lanjut penderita umumnya menderita kehilangan progersif lemak
tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang
sangat, anoreksia dan anemia. Simdrom yang melemahkan ini
dinyatakan sebagai kakeksi kanker.

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:


1) Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker,
tapi bourgeois lingkungan mungkin memegang peranan besar
dalam terjadinya kanker pada manusia.
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-
tahun samapi bisa merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas.
Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat
karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya
terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain,
kerentanan jaringan dan individu.
2) Fase in situ: 1-5 tahun
Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi
pre-cancerous yang bisa ditemukan di serviks uteri, rongga mulut,
paru-paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya
ditemukan di payudara.

8
3) Fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi
meleui membrane sel ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah
serta limfe.Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara
beberpa minggu sampai beberapa tahun.
4) Fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan
penyebaran ke tempat-tempat lain bertambah (Iskandar, 2008).

E. Tahapan/Grade/Tingkatan Penyakit
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah metastase
keotak,hati,kelenjar adrenal,paru,tuang,dan ovarium (Iskandar, 2008)
Komplikasi potensial dari Ca payudara adalah limfederma. Hal ini
terjadi jika saluran limfe untuk menjamin aliran balik limfe ke sirkulasi
umum tidak berfungsi dengan adekuat. Jika nodus eksilaris dan sistem
limfe diangkat, maka sistem kolateral dan aksilaris harus mengambil alih
fungsi mereka (Masjoer, 2009).
Metastasis di parenkhim paru pada rontgenologis memperlihatkan
gambaran coin lesionyang multiple dengan ukuran yang bermacam-
macam. Metastatis ini seperti pula mengenai pleura yang dapat
mengakibatkan pleural effusion (Masjoer, 2009).
Metastatis ke tulang vertebra akan terlihat pada gambaran
rontgenologis sebagai gambaran obteolitik/destruk, yang dapat pula
menimbulkan fraktur patologis berupa fraktur kompresi (Masjoer, 2009).
1. Metastatis melalui istem vena :
Metastatis tumor ganas payudara melalui sistem vena, akan
menyebabkan terjadinya metastatis ke paru-paru dan organ-organ lain.
Akan tetapi dapat pula terjadi metastasis ke vertebra secara langsung,
melalui vena-vena kecil yang bermura ke v. interkostalis, dimana v.
interkostalis ini akan bermuara ke dalam vertebralis. V. Mammaria
interna merupakan jalan utama metastatis tumor ganas payudara ke
paru-paru melalui sistem vena.

9
2. Metastatis tumor ganas payudara melalui sistem limfe :
Metastatis melalui sistem limfe ini pertama kali akan mengenai
kelenjar getah bening regional.
a) Metastatis utama karsinoma mamma melalui limfe adalah ke
kelenjar getah bening aksila. Pada stadium tertentu, biasanya
kelenjar aksila inilah yang terkena.
b) Metastatis ke kelenjar getah bening sentral (Central nodes)
kelenjar getah bening sentral ini merupakan kelenjar getah bening
yang tersering terkena metastatis. Menurut beberapa
penyelidikan, hampir 90% metastatis kekelenjar aksila adalah
kekelenjar getah bening sentral.
c) Metastasis kekelenjar getah bening interpektoral (Rotter’s nodes)
d) Metastasis ke kelenjar getah bening sub klavikula
e) Metastatsis kekelenjar getah bening mammaria eksterna.
Metastasis ke kelenjar getah bening ini adalah paling jarang
terjadi dibanding dengan kelenjar-kelenjar getah bening aksila
lainnya.
f) Metastatsis kekelenjar getah bening aksila kontralateral. Jalan
metastatsis ke kelenjar getah bening kontralateral sampai saat ini
belum jelas. Bila metastatasis tersebut melalui saluran limfe kulit,
sebelum sampai ke aksila akan mengenai payudara kontralateral
lebih dulu.
g) Metastatsis kekelenjar getah bening supraklavikula
Bila Metastasis karsinoma mamma telah sampai kekelenjar
getah bening subklavikula, ini berarti bahwa metastasis tinggal 3-
4 cm dari grand central limfatik terminus yang terletak dekat
pertemuan v. subklavikula dan v. jugularis interna. Bila sentinel
nodes yang terletak disekitar grand central limftik terminus telah
terkena metastasis, dapat terjadi statis aliran limfe, sehingga bisa
terjadi aliran membalik, menuju kekelenjar getah bening
supraklavikula, dan terjadi metastasis kekelenjar tersebut.
Penyebaran ini disebut sebagai penyebaran tidak langsung. Dapat

10
pula terjadi penyebaran ke kelenjar subklavikula secara langsung
ke kelenjar subklavikula tanpa melalui sentinel nodes.
h) Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria interna
Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria interna
ternyata lebih sering dari yang di duga. Biasanya terjadi pada
karsinoma mamma di sentral dan kwadran medial. Dan biasanya
terjadi setelah Metastasis ke aksila.
i) Metastasis ke hepar
Selain melalui sistem vena, ternyata dapat terjadi
karsinoma mamma ke hepar melalui sistem limfe. Keadaan ini
terjadi bila tumor terletak ditepi bagian bawah payudara.
Metastasis melalui sistem limfe yang jalan bersama-sama vasa
epigastrika superior. Bila terjadi Metastasis ke kelenjar
preperikardial, akan terjadi stasis aliran limfe, dan terjadi aliran
balik limfe ke hepar, dan terjadi metastasis ke hepar (Masjoer,
2009).

F. Penetapan stadium
AJJS (American Joint Committee on Cancer) menyusun panduan
stadium dan derajat tumor gans payudara menurut sistem klasifikasi TNM
yang mengevaluasi ukuran tumor, jumlah nodus limfe yang terkena, dan
bukti adanya metastasis yang jauh (Sjamsuhidajat, 2010)
Tumor primer (T) :
1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan.
2. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer.
3. Tis : Karsinoma in situ,
a. Tis (DCIS) : Krsinoma duktal in situ,
b. Tis (LCIS) : Karsinoma lobular in situ
c. Tis (Paget) : Penyakit paget pada putting payudara tanpa teraba
tumor.
4. T1 : diameter terbesar tumor >2cm
a. Tia mic: diameter terbesar mikroinvasi <0.1 cm

11
b. T1a : diameter terbesar tumor >0,1 cm - < 0,5 cm
c. T1b : Diameter terbesar tumor 0,5 – 1 cm.
d. T1c : Diameter terbesar tumor 1 – 2 cm.
5. T2 : Diameter terbesar tumor 2 – 5 cm.
6. T3 : Diameter terbesar tumor > 5 cm.
7. T4 : Tumor berukuran apapun dengan penyebaran langsung ke
dinding thorax atau kulit :
a. T4a : Melekat pada dinding dada, tidak termaksud m. pektoralis.
b. T4b : Edema (termaksud peau d’orange) atau ulserasi kulit
payudara atau nodul satelit di kulit payudara yang sama.
c. T4c : gabungan T4a dan T4b.
d. T4d : Karsinoma inflamantorik (Sjamsuhidajat, 2010).

Nodus limfe regional (N) :


1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan.
2. N0 : Tidak teraba kelenjar aksila.
3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak
melekat.
4. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat
satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya.
5. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral (Sjamsuhidajat,
2010).
Metastas jauh (M) :
1. Mx : Metastase tidak dapat di nilai
2. M0 : Tidak terdapat metastasis
3. M1 : Terdapat metastase (Sjamsuhidajat, 2010).

Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:


1. Stadium 0: DCIS, termaksuk penyakit paget pada putting payudara
dan LCIS.
2. Stadium I Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) atau kelenjar getah bening (KGB) dan tanpa

12
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi
pada kulit dan otot pektoralis.
3. Stadium IIA Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan
keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor
yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN)
dan tanpa penyebaran jauh.
4. Stadium IIb Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan
keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor
yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh.
5. Stadium IIIA Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan
keterlibatan limfonodus (LN) tanpa penyebaran jauh.
6. Stadium IIIB Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan
keterlibatan limfonodus (LN) dan terdapat penyebaran jauh berupa
metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan limfonodus (LN)
supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema
pada tangan. Tumor telah menyebar ke dinding dada atau
menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara.
Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah atau bisa
juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan
lengan atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh.
7. Stadium III C Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis
kelenjar limfe infraklavikular ipsilateral, atau bukti klinis
menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mammaria interna
dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar limfe
supraklavikular ipsilateral.
8. Stadium IV Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang,
paru-paru, liver atau tulang rusuk (Sjamsuhidajat, 2010).

13
G. Pemeriksaan diagnostik
1. Mamografi
Mamografi dapat digunakan sebagai metode pilihan deteksi dini
kaknker payudara pada tumor yang tidak teraba saat palpasi. Hasil
dari mamografi dikonfirmasi dengan Fine Needle Aspiration Biopsy
(FNAB), core biopsy atau biopsy bedah (Sjamsuhidajat, 2010).
2. Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit
dengan kista (Sjamsuhidajat, 2010).
3. Pemeriksaan laboratorium meliputi morfologi sel darah, LED, Test fal
marker (CEA) dalam serum/plasma, pemeriksaan sitologis (Wijaya,
dkk, 2013).
4. Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan
sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sedimental dan
sentriifugasi darah. (Wijaya, dkk, 2013).
5. CT Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carcinoma
payudara pada organ lain (Wijaya, dkk, 2013).
6. Biopsi
Setiap ada kecurigaan dari hasil pemeriksaan fifk dan mammografi,
biopsy harus dilakukan: (Sjamsuhidajat, 2010).
a. Fine needle aspiration biopst (FNAB)
Jaringan tumor dengan juarum harus lalau di periksa
dibawah mikroskop. Kekeurangan dari FNAB ini kadang tidak
dapat menentukan grade tumor dan kadang tidak memberikan
diagnosisyang jelas sehingga dibutuhkan biopsy lainnya
b. Core biopsy
Menggunakan jarum yang ukurannya cukup besar lalau
diambil specimen silinder jaringan tumor. Kelebihannya adalah
dapat membedakan tumor yang nonfasif dan invasive serta
grade tumor
c. Biopsy terbuka
Indikasi dilakukan biopsy terbuka jika pada mamografi
terlihat adanya kelainan yang mengarah ke keganasan, hasil

14
FNAB atau core biopsy yang meragukan. Biopsy eksisional
adalah mengangkat seluruh massa tumor dan meyertakan sedikit
jaringan sehat disekitar massa tumor .
d. Sentinel node biopsy
Dilakukan untuk menentukan keterlibatan dari kelenjar
limfa aksila dan parasternal
e. Pemeriksaan histopatologi (Gold Standard diagnostic)
Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan
atau paraffin. Bahan pemeriksaan histopatologi diambil melalui:
 Core biopsy
 Biopsy eksisional untuk tumor ukuran <3 cm
 Biospsi insisional untuk tumor operable ukuran >3 cm
seelum operasi defenitif dan inoperable
 Pemeriksaan imunohistokimia
 Specimen matektomi disertai dengan pemeriksaan
kelenjar getah bening (Sjamsuhidajat, 2010).

H. Penatalaksanaan medis/operatif
Tatalaksana kanker payudara meliputi tindakan pembedahan, kemoterapi,
radioterapi, hormonal terapi, tetapi rehabilitasi medic dan terapi paliatif
(Sjamsuhidajat, 2010).
1. Pembedahan
Jenis pembedahan yang dilakukan adalah
a) Mastektomi parsial (eksisi tumor local dan penyinaran).
Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental
(pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).
b) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara,
semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.
1) Mastektomi radikal yang dimodifikasi seluruh payudara,
semua atau sebagian jaringan aksial.
2) Mastektomi radikal, yaitu seluruh payudara, otot pektoralis
mayor dan minor dibawahnya, seluruh isi aksial.

15
3) Mastektomi radikal yang diperluas, yaitu sama seperti
mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria
interna.
2. Non Pembedahan.
a. Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak
dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang,
metastase kelenjar limfe aksila.
Penyinaran radiasi biasa dilakukan setelah insisi massa
tumor untuk mengurangi kecenderungan kekambuhan dan
menyingkirkan kanker residual. Radiasi penyinaran eksternal
dengan foton yang diberi melalui akselarasi limer, di beri setiap
hari selama > 45 minggu dari seluruh ragio payudara pasca
radiasi.
Efek samping bersifat sementara yaitu reaksi kulit sekitar 2
minggu setelah pengobatan komplikasi radiasi mencakup
pneumonitis, fraktur iga dan fibrosis payudara yang jarang terjadi.
b. Kemotrapi
Adjuvan sistemik setelah mastektomi; paliatif pada
penyakit yang lanjut. Kombinasi obat-obatan untuk membunuh
sel-sel yang berkembangbiak dengan cepat atau menekan
perkembangbiakannya dan obat-obat penghambat hormon (obat
yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan
sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker di
seluruh tubuh.
Preparat yang sering digunakan dalam kombinasi adalah :
cytoxan ©, methorexate (m), fluorouracil (F) dan adrilamycin (A)
kombinasi yang biasa digunakan adalah cmf atau CAF.
Pemberian kombinasi kemoterapi didasarkan pada usia, status
fisik, penyakit, dan akut tidaknya dalam percobaan klinik.

16
Efek samping: Mual, muntah, perubahan rasa kecap,
alopesra, mukosis, demotitis, keletihan, peningkatan BB, depresi
sumsum tubuh.
c. Terapi biologi
Berupa terapi anti ekpresi HER/neu menggunakan
pemberian trantuzumab
d. Terapi hormone dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen,
androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.
e. Keputusan pemberian terapi hormonal didasarkan pada indeks
reseptor astrogen. Progesterone dari pemeriksaan uji jaringan
tumor diambil saat biopsy.
Preparat yang digunakan :
a. Temoxifen
Indikasi : pasca menopause dengan reseptor estrogen dan
nodus aksilaris +.
Efek samping : mual, muntah, rasa panas, refeni cairan, dan
depresi.
b. Diethyustriibestrol
Menghambat pelepasan FSH dan IH untuk menurunkan
ekstrogen dan ikatan ekstrogen.
Efek samping : peningkatan BB, fetasi cairan, mual.
c. Mengestrol untuk menurunkan reseptor ekstrogen.
Efek samping : peningkatan BB, peningkatan nafsu makan.
d. Auksimesteron (halotestin) yang menekan ekstrogen dengan
menekan IH dan FSH.
Efek samping : veriksasi (peningkatan pertumbuhan bulu
wajah, suara lebih dalam).
e. Amihognitotimid (cytodren) yang mengubah androgen
menjadi astrogen.
Efek samping : ruam, frasitus (Sjamsuhidajat, 2010).

17
I. Rencana Asuahan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan kanker payudara menurut Doenges,
Marilynn E (2000) dalam Oktavian, 2013 diperoleh data sebagai
berikut:
a. Aktifitas/istirahat:
Gejala: kerja, aktifitas yang melibatkan banyak gerakan
tangan/pengulangan, pola tidur (contoh, tidur tengkurap).
b. Sirkulasi
Tanda: kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem
limfe).
c. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.
d. Integritas Ego
Gejala: stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah.
Stres/takut tentang diagnosa, prognosis, harapan yang akan
datang.
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pada penyakit yang luas/metastatik (nyeri lokal
jarang terjadi pada keganasan dini). Beberapa pengalaman
ketidaknyamanan atau perasaan lucu pada jaringan payudara.
Payudara berat, nyeri sebelum menstruasi biasanya
mengindikasikan penyakit fibrokistik.
f. Keamanan
Tanda: massa nodul aksila. Edema, eritema pada kulit sekitar.
g. Seksualitas
Gejala: adanya benjolan payudara, perubahan pada ukuran dan
kesimetrisan payudara.
h. Perubahan pada warna kulit payudara atau suhu, rabas puting
yang tak biasanya, gatal, rasa terbakar atau puting meregang.
Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia 12 tahun),

18
menopause lambat (setelah 50 tahun), kehamilan pertama lambat
(setelah usia 35 tahun). Masalah tentang seksualitas/keintiman.
Tanda: perubahan pada kontur/massa payudara, asimetris. Kulit
cekung, berkerut, perubahan pada warna/tekstur kulit,
pembengkakan, kemerahan atau panas pada payudara. Puting
retraksi, rabas dari puting (serosa, serosangiosa, sangiosa, rabas
berair meningkatkan kemungkinan kanker, khususnya bila
disertai benjolan).
i. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat kanker dalam keluarga (ibu, saudara wanita, bibi
dari ibu atau nenek). Kanker unilateral sebelumnya kanker
endometrial atau ovarium.

2. Diagnosa keperawatan
1. Pre Operasi
1) Ketidakefektifan pola nafas (00032:4:4)
2) Nyeri kronik (00133:12:1)
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
(00002:2:1)
4) Defisit pengatahuan (00126:5:4)
5) Gangguan citra tubuh (00118:6:2)
6) Resiko infeksi (00004:11:1)
7) Kecemasan (00146:9:2)

2. Post operasi
1) Nyeri akut (00132:12:1)
2) Kerusakan integritas kulit (00046:11:2)
3) Resiko infeksi (00004:11:1)
4) Kecemasan (00146:9:2)
5) Hambatan mobilitas fisik (00085:4:2)
6) Defesit pengetahuan (00126:5:4)

19
3. Rencana keperawaan Pre operasi

No Diagnosa keperawata Tujuan dan kriteria Intervensi (NIC)


(NANDA 2015) hasil (NOC)
1. Ketidakefektifan pola nafas NOC NIC
berhubungan dengan: a. Respiratory status : a. Posisikan pasien untuk
Hiperventilasi Ventilation memaksimalkan ventilasi
Penurunan energi/kelelahan b. Respiratory status : b. Pasang mayo bila perlu
Perusakan / pelemahan Airway patency c. Lakukan fisioterapi dada jika
muskuloskletal c. Vital sign Status perlu
Obesitas Setelah dilakukan d. Keluarkan sekret dengan
Kelelahan otot perna- fasan tindakan eperawa-tan batuk atau suction
Hipoventilasi sindrom selama pasien e. Auskultasi suara nafas, catat
Nyeri menunjukan keefektifan adanya suara tambahan
Kecemasan pola napas, dibuktikan f. Berikan bronko-dilator
Disfungsi Neuromus-kuler dengan : g. Atur intake untuk cairan
Injuri tulang belakang Kriteria Hasil : mengopti-malkan keseim-
a. Mendemon-strasikan bangan.
DS batuk efektif dan h. Monitor respirasi dan status
Dyspnea suara nafas yang O2
Nafas pendek bersih, tidak ada i. Bersihkan mulut, hidung dan
DO sianosis dan dyspneu secret trakea
Penurunan tekanan (mampu j. Pertahankan jalan nafas yang
inspirasi/ekspirasi mengeluarkan paten
Penurunan pertukaran udara sputum, mampu k. Observasi adanya tanda-tanda
permenit bernafas dengan hipo-ventilasi
Menggunakan otot per- mudah, tidak ada l. Monitor adanya kecemasan
nafasan tambahan pursed lips) pasien terhadap oksigenasi
Orthopnea b. Menunjukkan jalan m. Monitor vital sign
Pernafasan pursed-lip nafas yang paten n. Informasikan pada pasien dan
Tahap ekspirasi ber- (klien tidak merasa keluarga tentang teknik relak-
langsung sangat lama tercekik, irama nafas, sasi untuk memperbaiki pola
Penurunan kapasitas vital frekuensi perna-fasan nafas
respirasi < 11- 24x/menit dalam ren- tang o. Ajarkan bagaimana batuk
normal, tidak ada secara efektif
suara nafas abnormal)
c. Tanda Tanda vital
dalam rentang normal
(tekanan darah, nadi,
pernafasan)

20
2. Nyeri kronis b.d agen injuri a. Comfort level Pain Manajemen
biologis (penurunan perfusi b. Pain control 1. Monitor kepuasan pasien
jaringan perifer) ditandai c. Pain level terhadap manajemen nyeri
dengan: Setelah dilakukan 2. Tingkatkan istirahat dan
DS: tindakan keperawatan tidur yang adekuat
Kelelahan selama …. nyeri kronis 3. Kelola anti analgetik
Takut untuk injuri ulang pasien berkurang dengan 4. Jelaskan pada pasien
DO: kriteria hasil : penyebab nyeri
Atropi otot 1) Tidak ada gangguan 5. Lakukan tehnik
Gangguan aktifitas tidur nonfarmakologis (relaksasi,
Anoreksia 2) Tidak ada gangguan masase punggung)
Perubahan pola tidur konsentrasi
Respon simpatis (suhu dingin, 3) Tidak ada gangguan
perubahan posisi tubuh , hubungan
hipersensitif, perubahan berat interpersonal
badan) 4) Tidak ada ekspresi
menahan nyeri dan
ungkapan secara
verbal
5) Tidak ada tegangan
otot
3. Ketidakseimbangan nutrisi a. Nutritional status:
1. Kaji adanya alergi makanan
kurang dari kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient
2. Kolaborasi dengan ahli gizi
b.d. ketidakmampuan b. Nutritional Status:
untuk menentukan jumlah
mengabsorpsi nutrien, kurang food and Fluid Intake
kalori dan nutrisi yang
asupan makan ditandai dengan: c. Weight Control dibutuhkan pasien
DS: Setelah dilakukan
3. Monitor adanya penurunan
Nyeri abdomen tindakan keperawatan
BB dan gula darah
Muntah selama….nutrisi kurang
4. Monitor mual dan muntah
Kejang perut dapat teratasi dengan
5. Monitor pucat, kemerahan,
Rasa penuh tiba-tiba setelah indikator: dan kekeringan jaringan
makan 1) Albumin serum konjungtiva
DO: 2) Pre albumin
6. Monitor intake nuntrisi
Diare serum 7. Informasikan pada klien dan
Rontok rambut yang berlebih 3) Hematokrit keluarga tentang manfaat
Kurang nafsu makan 4) Hemoglobin nutrisi
Bising usus berlebih 5) Total iron binding
8. Atur posisi semi fowler atau
Konjungtiva pucat capacity fowler tinggi selama makan
Denyut nadi lemah 6) Jumlah limfosit
9. Kelola pemberan anti emetik:
10. Anjurkan banyak minum
4. Kurang Pengetahuan NOC : NIC :
berhubungan dengan 1. Kowlwdge : disease Teaching : disease Process

21
keterbatasan kognitif, process. 1. Berikan penilaian tentang
interpretasi terhadap informasi 2. Kowledge : health tingkat pengetahuan pasien
yang salah, kurangnya Behavior. tentang proses penyakit yang
keinginan untuk mencari Kriteria Hasil : spesifik.
informasi, tidak mengetahui 1. Pasien dan keluarga 2. Jelaskan patofisiologi dari
sumber-sumber informasi menyatakan penyakit dan bagaimana hal
ditandi dengan: pemahaman tentang ini berhubungan dengan
penyakit, kondisi, anatomi dan fisiologi, dengan
DS/DO: prognosis dan cara yang tepat.
program pengobatan. 3. Gambarkan tanda dan gejala
Memverbalisasikan adanya 2. Pasien dan keluarga yang biasa muncul pada
masalah, ketidakakuratan mampu melaksanakan penyakit, dengan cara yang
mengikuti instruksi, perilaku prosedur yang tepat.
tidak sesuai. dijelaskan secara 4. Gambarkan proses penyakit,
benar. dengan cara yang tepat.
3. Pasien dan keluarga 5. Sediakan informasi pada
mampu menjelaskan pasien tentang kondisi,
kembali apa yang dengan cara yang tepat
dijelaskan 6. Hindari harapan yang kosong.
perawat/tim kesehatan 7. Sediakan bagi keluarga
lainnya. informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang
tepat.
8. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan.
9. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan.
10. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat.
11. Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat

.
5. Gangguan citra tubuh NOC: NIC :
berhubungan dengan : Biofisika 1. Body image Body image enhancement

22
(penyakit kronis), kognitif / 2. Self esteem 1. Kaji secara verbal dan
persepsi (nyeri kronis), kultural Setelah dilakukan nonverbal respon klien
/ spiritual, penyakit, krisis tindakan keperawatan terhadap tubuhnya
situasional, trauma / injury, selama …. Gangguan 2. Monitor frekuensi mengkritik
pengobatan (pembedahan, body image pasien dirinya
kemoterapi, radiasi) teratasi dengan kriteria 3. Jelaskan tentang pengobatan,
DS: hasil : perawatan, kemajuan dan
Depersonalisasi bagian tubuh 1. Body image positif prognosis penyakit
Perasaan negatif tentang tubuh 2. Mampu 4. Dorong klien mengungkapkan
Secara verbal menyatakan mengidentifikasi perasaannya
perubahan gaya hidup kekuatan personal 5. Identifikasi arti pengurangan
DO : 3. Mendiskripsikan melalui pemakaian alat bantu
Perubahan aktual struktur dan secara faktual 6. Fasilitasi kontak dengan
fungsi tubuh perubahan fungsi individu lain dalam kelompok
Kehilangan bagian tubuh tubuh kecil
Bagian tubuh tidak berfungsi 4. Mempertahankan
interaksi social

5. Rencana keperawatan Post Operasi

No Diagnosa keperawata Tujuan dan kriteria Intervensi (NIC)


(NANDA 2015) hasil (NOC)
1. Nyeri akut berhubungan dengan kontrol nyeri Menejemen nyeri
Agen injuri (biologi, kimia, tingkat nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
fisik, psikologis), kerusakan Setelah melakukan secara komperenship
jaringan tindakan keperawatan termaksud lokasi, kerateristik,
DS: ...×24 jam nyeri kalien lokasi durasi frekuensi dan
Laporan secara verbal dapat berkurang atau kualitas.
DO: teratasi dengan 2. Observasi TTV
Posisi untuk menahan nyeri memperlihatkan hasil 3. Gunakan tehnik relaksasi
Tingkah laku berhati-hati dengan indikator : teraupetik untuk mengetahui
Gangguan tidur (mata sayu, 1. mengenali faktor pengalaman nyeri klien
tampak capek, sulit atau penyebab (sama 4. Kontrol lingkungan yang
gerakan kacau, menyeringai) sekali memenuhi dapat mempengaruhi nyeri
Terfokus pada diri sendiri dengan nilai 5) seperti suhu ruangan,
Fokus menyempit 2. menggunakan pencahayaan, dan kebisingan
(penurunan persepsi waktu, metode analgetik
Pemberian analgetik
kerusakan proses berpikir, untuk mengurangi
5. Berikan analgetik untuk
penurunan interaksi dengan nyeri (sama sekali
mengurang nyeri
orang dan lingkungan) memenuhi dengan

23
Tingkah laku distraksi, nilai 5) 6. Tentukan analgetik pilihan,
contoh : jalan-jalan, 3. Laporkan frekuensi rute pemberian, dan dosis
menemui orang lain dan / nyeri (sama sekali optimal
atau aktivitas, aktivitas memenuhi dengan 7. Pilih rute pemberian secara
berulang-ulang) nilai 5) IV, IM secara teratur
Respon autonom (seperti 4. Lamanya nyeri 8. Pemberian analgetik tepat
diaphoresis, perubahan berlangsung (sama waktu terutama nyeri hebat
tekanan darah, perubahan sekali memenuhi
nafa s, nadi dan dilatasi dengan nilai 5)
pupil) 5. Ekspresi wajah
Perubahan autonomik dalam terhadap nyeri (sama
tonus otot (mungkin dalam sekali memenuhi
rentang dari lemah ke kaku) dengan nilai 5)
Tingkah laku ekspresif 6. Perubahan TTV
(contoh: gelisah, merintih, (sama sekali
menangis, waspada, iritabel, memenuhi dengan
nafas panjang / berkeluh nilai 5)
kesah)
Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
2. Kerusakan integritas kulit
a. Tissue Integrity: Skin Pressure Management
berhubungan dengan : and Mucous 1. Anjurkan pasien untuk
Eksternal : Membranes menggunakan pakaian yang
Hipertermia atau hipotermiab. Wound Healing: longgar
Substansi kimia primer dan sekunder 2. Hindari kerutan pada tempat
Kelembaban tidur
Faktor mekanik (misalnya : Setelah dilakukan 3. Jaga kebersihan kulit agar
alat yang dapat menimbulkan tindakan keperawatan tetap bersihdan kering
luka, tekanan, restraint) selama .......x24 jam 4. Mobilisasi pasien (ubah
Immobilitas fisik integritas jaringan: kulit posisi pasien) setiap dua jam
Radiasi dan mukosa normal sekal
Usia yang ekstrim dengan indikator: 5. Monitor kulit akan adanya
Kelembaban kulit 1) temperatur jaringan kemerahan
Obat-obatan dalam rentang yang 6. Monitor aktivitas dan
diharapkan mobilisasi pasien
Internal : 2) elastisitas dalam 7. Observasi luka : lokasi,
Perubahan status metabolik rentang yang dimensi, kedalaman luka,
Tonjolan tulang diharapkan karakteristik,warna cairan,
Defisit imunologi 3) hidrasi dalam granulasi, jaringan nekrotik,
Berhubungan dengan dengan rentang yang tandatanda infeksi lokal,
perkembangan diharapkan formasi traktus
Perubahan sensasi 4) pigmentasi dalam 8. Ajarkan pada keluarga

24
Perubahan status nutrisi rentang yang tentang luka dan perawatan
(obesitas, kekurusan) diharapkan luka
Perubahan status cairan 5) warna dalam 9. Cegah kontaminasi feses dan
Perubahan pigmentasi rentang yang urin
Perubahan sirkulasi diharapkan 10. Lakukan tehnik perawatan
Perubahan turgor (elastisitas 6) tektur dalam luka dengan steril
kulit) rentang yang 11. Berikan posisi yang
diharapkan mengurangi tekanan pada
DO: luka
Gangguan pada bagian tubuh
Kerus akan lapisa kulit
(dermis)
Gangguan permukaan kulit
(epidermis)

3. Risiko infeksi a. Immune Status 1. Pertahankan teknik aseptif


Faktor-faktor risiko : b. Knowledge: 2. Batasi pengunjung bila perlu
Prosedur Infasif Infection control 3. Cuci tangan setiap sebelum
Kerusakan jaringan dan c. Risk control dan sesudah tindakan
peningkatan paparan Setelah dilakukan keperawatan
lingkungan tindakan keperawatan 4. Gunakan baju, sarung tangan
Malnutrisi selama…… pasien tidak sebagai alat pelindung
Peningkatan paparan mengalami infeksi 5. Tingkatkan intake nutrisi
lingkungan patogen dengan kriteria hasil: 6. Berikan terapi antibiotik
Imonusupresi 1) Klien bebas dari 7. Monitor tanda dan gejala
Tidak adekuat pertahanan tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
sekunder (penurunan Hb, infeksi 8. Inspeksi kulit dan membran
Leukopenia, penekanan 2) Menunjukkan mukosa terhadap kemerahan,
respon inflamasi) kemampuan panas, drainase
Penyakit kronik untuk mencegah 9. Monitor adanya luka
Malnutrisi timbulnya infeksi 10. Dorong masukan cairan
Pertahan primer tidak 3) Jumlah leukosit 11. Dorong istirahat
adekuat (kerusakan kulit, dalam batas 12. Ajarkan pasien dan keluarga
trauma jaringan, gangguan normal tanda dan gejala infeksi
peristaltik) 4) Menunjukkan
perilaku hidup
sehat
5) Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam batas
normal

25
4. Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan Faktor keturunan, 1. Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
Krisis situasional, Stress,2. Koping kecemasan)
perub ahan status kesehatan,
Setelah dilakukan asuhan 1. Gunakan pendekatan yangb
ancaman selama …………… pada
kematian, menenangkan
perubahan konsep diri, klien, kecemasan teratasi 2. Nyatakan dengan jelas
kurang pengetahuan dan dgn kriteria hasil: harapan terhadap pelaku
hospitalisasi. 1. Klien mampu pasien
mengidentifikasi dan 3. Jelaskan semua prosedur dan
DO/DS: mengungkapkan apa yang dirasakan selama
Insomnia gejala cemas prosedur
Kontak mata kurang 2. Mengidentifikasi, 4. Temani pasien untuk
Kurang istirahat mengungkapkan dan memberikan keamanan dan
Berfokus pada diri sendiri menunjukkan tehnik mengurangi takut
Iritabilitas untuk mengontol 5. Berikan informasi faktual
Takut cemas mengenai diagnosis, tindakan
Nyeri perut 3. Vital sign dalam prognosis
Penurunan TD dan denyut batas normal 6. Libatkan keluarga untuk
nadi 4. Postur tubuh, mendampingi klien
Diare, mual, kelelahan ekspresi wajah, 7. Instruksikan pada pasien
Gangguan tidur bahasa tubuh dan untuk menggunakan tehnik
Gemetar tingkat aktivitas relaksasi
Anoreksia, mulut kering menunjukkan 8. Dengarkan dengan penuh
Peningkatan TD, denyut berkurangnya perhatian
nadi, RR kecemasan. 9. Identifikasi tingkat kecemasan
Kesulitan bernafas 10. Bantu pasien mengenal situasi
Bingung yang menimbulkan
Bloking dalam pembicaraan kecemasan.
Sulit berkonsentrasi

26
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Muhammad. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Yogjakarta:


DIVA Press
Brunner & Suddarth 2016 Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta
Black & Hawks, 2014: “Medical Surgical Nursing” edisi 2, elsevier: Singapore.
Bulechek, Gloria M, dkk, 2015, Nursing Intervention Classification, America:
Elsevier.
Elizabeth, J, Corwin. 2009. Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta
Junaedi, Iskandar dr., (2007) Kanker. Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer
Kowalak 2014. Buku Ajar Patofisiologi. EGC. Jakarta
Kusuma, Amin. 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosis medis.
Moorhead, Sue, dkk, 2015, Nursing Outcomes Classification, America: Elsevier.
Muhammad Husni, dkk, 2012. Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas
hidup pasien kanker payudara di instalasi rawat inap bedah rsup dr.
Mohammad hoesin palembang tahun 201.
Muttaqin. 2014. Pengkajian Keperawatan Aplikasi dan Praktik Klinik. Salemba
Medika : Jakarta
NANDA International. 2015-2017. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan
Klasifikasi T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan
Nike Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid,
Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
Septarini, Helvia. 2014. Gambaran Kejadian Tumor Payudara di RSUD Serang
Tahun 2014.
Sjamsuhidajat, R. & Jong, V. 2010. Buku- Ajar Ilmu Bedah .Edisi 3, 757, Jakarta.
EGC.
Wijaya, Andre & Yessie Putri. 2013. Buku KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogjakarta: Nuha Medika

27