Anda di halaman 1dari 24

Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat berimplikasi

dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi gatal. Suhu yang tinggi
memudahkan seseorang berkertingat sehingga dapat mencetuskan gatal, hal ini
biasanya menyebabkan liken simpleks kronikus pada anogenital.
Selain lingkungan, gigitan serangga juga dapat menyebabkan reaksi radang
dalam tubuh yang mengakibatkan rasa gatal.
2.3.2 Faktor Interna
Dermatitis atopik, asosiasi antara liken simpleks kronikus dan ganguan
atopik telah banyak dilaporkan, sekitar 26 % sampai 75 % pasien dengan
dermatitis atopik terkena liken simplek kronikus.
Selain itu, psikologis dimana yang dimaksud adalah anxietas (cemas) telah
dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang mengakibatkan neurodermatitis
sirkumsripta. Anxietas sebagai bagian dari proses patologis dari lesi yang
berkembang. Telah dirumuskan bahwa neurotransmitter yang mempengaruhi
perasaan, seperti dopamine, serotonin, atau peptide opioid, memodulasikan
persepsi gatal melalui penurunan jalur spinal.
1.1 Patofisiologi
Stimulus untuk perkembangan neurodermatitis sirkumskripta adalah pruritus.
Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat berhubungan dengan gangguan
kulit, proliferasi dari nervus, dan tekanan emosional. Pruritus yang memegang
peranan penting dapat dibagi dalam dua kategori besar, yaitu pruritus tanpa lesi dan
pruritus dengan lesi. Pasien dengan neurodermatitis mempunyai gangguan metabolik
atau gangguan hematologik. Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada
penyakit sistemik, misalnya gagal ginjal kronik, obstruksi kelenjar biliaris, Hodgkins
lymphoma, polisitemia rubra vera, hipertiroidisme, gluten-sensitive enteropathy, dan
infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang disebabkan oleh kelainan kulit yang terpenting
adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, dan gigitan serangga.6
Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronik dapat
menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang nyata
dari garukan, maka disebut neurodermatitis sirkumskripta.Adanya garukan yang
terus-menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas enzim
proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan dan gosokan
timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf mengandung
immunoreaktif CGRP (Calsitonin Gene-Related Peptida) dan SP (Substance Peptida)
meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo nodularis, tetapi tidak pada
neurodermatitis sirkumskripta. Sejumlah saraf menunjukkan imunoreaktif
somatostatin, peptide histidine, isoleucin, galanin, dan neuropeptida Y, dimana sama
pada neurodermatitis sirkumskripta, prurigo nodularis dan kulit normal. Hal tersebut
menimbulkan pemikiran bahwa proliferasi nervus akibat dari trauma mekanik, seperti
garukan dan goresan. SP dan CGRP melepaskan histamin dari sel mast, dimana akan
lebih menambah rasa gatal. Membran sel schwann dan sel perineurium menunjukkan
peningkatan dan p75 nervus growth factor, yang kemungkinan terjadi akibat dari
hyperplasia neural. Pada papilla dermis dan dibawah dermis alpha-MSH (Melanosit
Stimulating Hormon) ditemukan dalam sel endotel kapiler.5,6
1.2 Gejala Klinis
Gatal yang berat merupakan gejala dari liken simpleks kronik. Menggosok dan
menggaruk mungkin disengaja dengan tujuan menggantikan sensasi gatal dan nyeri,
atau dapat secara tidak sengaja yang terjadi pada waktu tidur. Penderita mengeluh
gatal sekali, bila timbul malam hari dapat mengganggu tidur. Rasa gatal memang
tidak terus menerus, biasanya pada waktu yang tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan
untuk tidak digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk, setelah luka baruhilang rasa
gatalnya untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Keparahan gatal dapat
diperburuk dengan berkeringat, suhu atau iritasi dari pakaian. Gatal juga dapat
bertambah parah pada saat terjadi stress psikologis.7
Pada liken simpleks kronik, penggosokan dan penggarukan yang berulang
menyebabkan terjadinya likenifikasi (penebalan kulit dengan garis-garis kulit
semakin terlihat) plak yang berbatas tegas dengan ekskoriasis, sedikit edematosa,
lambat laun edema dan eritema menghilang. Bagian tengah berskuama dan menebal,
sekitarya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Biasanya, hanya satu
plak yang tampak, namun dapat melibatkan lebih dari satu tempat.
Tempat yang biasa terjadi liken simpleks kronik adalah di skalp, tengkuk,
samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian
medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian bagian depan, dan
punggung kaki. Neurodermatitis di daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya
pada wanita, berupa plak kecil, di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke skalp.
Biasanya skuamanya banyak menyerupai psoriasis.
Variasi klinis dapat berupa prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan
tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus
berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama, lambat
laun menjadi keras dan berwarna lebih gelap (hiperpigmentasi). Lesi biasanya
multiple, lokalisasi tersering di ekstremitas.7
1.3 Diagnosis Banding5,6,7
2.6.1 Plak psoriasis
Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan
karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih keperakan, skuama
yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena tetesan lilin, auspitz dan
kobner. Llokasi terbanyak ditemukan didaerah ekstensor. Penyebabnya belum
diketahui secara pasti, tetapi beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa
penyakit ini bersifat autoimun, dan residif.
2.6.2 Dermatitis atopi
Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering
terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan peningkatan
kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit
berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi,
distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit pada remaja dan dewasa dapat berupa
plak papuler, eritematosa, dan berskuama atau plak likenifikasi yang gatal.
2.6.3 Dermatitis Numularis
Berbentuk seperti uang logam dan berbatas tegas, keluhan atau gejala: gatal,
lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel, konfluens, dan meluas dan membentuk
seperti uang logam, lesi lama berupa likenifikasi dan skuama, jumlah lesi dapat
hanya satu dapat pula banyak tersebar, bilateral dengan ukuran dari miliar sampai
numular.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
2.7.1 Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis sirkumskripta. Tetapi walaupun begitu, satu studi mengemukakan
bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta positif terhadap patch test.
Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes bisa terjadi likenefikasi generalisata
oleh sebab itu merupakan indikasi untuk melakukan patch test. Pada pasien
dengan pruritus generalisata yang kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan
metabolik dan gangguan hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus
dilakukan, juga dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid,
elechtroporesis serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi
(iron binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat meningkat
pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada neurodermatitis nonatopik.
Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium hydroksida pada pasien liken
simpleks genital untuk mengeleminasi tinea cruris (Wolff Klauss, A Lowell.
et.all., 2008).
2.7.2 Pemeriksaan histopatologi
Untuk menegakkan diagnosis neurodermatitis sirkumskripta adalah
menunjukkan proliferasi dari sel schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular
yang cukup besar. Juga ditemukan neural hyperplasia. Didapatkan adanya
hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan
rete ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papillo dermis.
Spongiosis bisa ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis
kadangkadang ditemukan. Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata
karena adanya jaringan nekrotik papila dermis superfisial. Fibrin dan neutrofil
bisa ditemukan, walaupun keduanya biasanya ditemukan pada penyakit
dermatosis yang lain. Pada papillary dermis ditemukan peningkatan jumlah
fibroblas. Pada lesi yang sudah sangat kronis, khususnya pada likenifikasi yang
gigantik besar, akantosis dan hiperkeratosis dapat dilihat secara gross,danrete
ridges tampak ireguler namun tetap memanjang dan melebar (Wolff Klauss, A
Lowell. et.all, 2008).
2.8 Diagnosis
Diagnosis untuk liken simpleks kronis dapat ditegakkan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pasien dengan neurodermatitis
sirkumskripta mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau lebih. Sehingga
timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi. Biasanya rasa gatal
tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku, lutut, pergelangan kaki.
Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal muncul pada saat pasien
sedang beristirahat dan hilang saat melakukan aktivitas dan biasanya gatal timbul
intermiten (Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008).
Pemeriksaan fisik menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas, dan
terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi (Wolff
Klauss, A Lowell. et.all., 2008). Pada pemeriksaan penunjang histopatologi
didapatkan adanya hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis
dengan pemanjangan rate ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan
dari papil dermis (Djuanda Adhi, 2008).
2.9 Penatalaksanaan
2.9.1 Nonmedikamentosa
Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggaruk pada bagian lesi nya,
dikarenakan dapat menyebabkan infeksi serta akan memperburuk keadaan
penyakit nya. Apabila terasa gatal cukup di usap secara lembut dengan
menggunakan kain, untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan antipruritus.
2.9.2 Medikamentosa
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi dan meminimalkan gatal yang ada
karena akibat dari menggosok dan menggaruk menyebabkan liken simpleks
kronis sehingga perlu dijelaskan kepada pasien untuk sebisa mungkin
menghindari menggaruk lesi karena garukan akan memperburuk penyakitnya.
Lingkaran setan dari gatal-garuk-likenifikasi harus dihentikan.
Untuk penatalaksanaan medikamentosa antara lain:
a. Steroid topikal
Steroid topikal merupakan pilihan saat ini karena dapat mengurangi
peradangan dan gatal-gatal, secara bersamaan dapat mengatasi
hiperkeratosis. Pengobatan dilakukan seumur hidup karena lesi kronis.
Tidak direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum, axilla, dan
wajah). Salep kortikosteroid dapat pula dikombinasi dengan tar yang
mempunyai efek anti-inflamasi. Perlu dicari kemungkinan ada penyakit
yang mendasarinya, bila memang ada juga harus di obati. Tar dan ekstrak
tar mempunyai efek antiinflamasi yang poten, walaupun kerjanya lambat
dibandingkan dengan glukokortikoid. Penggunaan tar harus dikombinasikan
dengan emolien, karena apabila digunakan sendiri dapat mengakibatkan
kulit kering. Efek samping dari penggunaan tar adalah folikulitis,
fotosensitasi, dermatitis kontak. Kombinasi terapi tar, steroid, dan
dihidohydroksiquin dapat digunakan untuk pengobatan penyakit ini. Contoh
steroid topikal yang dapat digunakan adalah; Clobetasol, Betamethasone
dipropionate cream 0,05%, Triamcinolone 0,0225%, 0,1%, 0,5%, atau
ointment, dan Fluocinolone cream 0,1%.
b. Antihistamin oral
Dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan histamin
secara endogen. Dengan efek sedatif, antipruritus dapat berupa antihistamin
yang mempunyai efek sedatif (contohnya: hidroksizin 25-100 mg/hari,
difenhidramin 25-50 mg 3-4x/hari, prometazin) atau tranquilizer.
c. Antihistamin topikal.
Obat topikal dapat menstabilisasi membran neuron dan mencegah inisiasi
dan transmisi impuls saraf sehingga memberi aksi anastesi lokal. Contoh
dari bentuk ini yang dapat diberikan yaitu krim doxepin 5% dalam jangka
pendek (maksimum 8 hari). Doxepine atau amitriptilin dapat juga digunakan
dalam dosis tunggal atau dalam dosis yang terbagi.
BAB III
ILUSTRASI KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. W
Umur : 40 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jebres, Surakarta
Agama : Islam

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama: Nyeri daerah pinggang
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang pasien datang ke IGD diantarkan oleh keluarga dengan
keluhan nyeri daerah pinggang. Nyeri di daerah pinggang kanan saja.
Nyeri dirasakan kira-kira 4 hari sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Nyeri
terasa semakin hari semakin memberat sampai mengganggu aktivitas.
Terasa enakan saat istirahat. Belum diberikan obat apapun. Dirasakan juga
nyeri ketika berkemih. Keluhan nyeri ketika berkemih disertai dengan
peningkatan frekuensi berkemih, dan perasaan panas diakhir berkemih.
Pasien juga mengeluhkan demam dan nafsu makan pasien menurun.
Pasien juga mengeluh mual. Keluhan lain seperti muntah, pusing, batuk,
pilek, sesak nafas tidak dirasakan, BAB dalam batas normal.
Sebelum muncul keluhan nyeri daerah pinggang dan nyeri ketika
berkemih, pasien masih beraktivitas seperti biasa dan tidak merasakan
keluhan apapun. Pada pagi hari saat pasien beraktivitas, pasien merasa
nyeri daerah pinggang kanan, tetapi pasien tidak memeriksakan diri ke
dokter dan tidak meminum obat. Hari kedua, pasien merasa tidak enak
badan, demam, dan berkemih disertai nyeri dan semakin sering dengan
volume sedikit-sedikit. Kemudian pasien memeriksakan diri ke dokter dan
beristirahat di rumah. Hari ketiga, pasien merasa nyeri daerah pinggang
kanan memberat dan ada nyeri berkemih disertai panas ketika berkemih
semakin memberat, frekuensi berkemih semakin sering serta demam
sampai menggigil, pasien merasa mual juga. Pasien kemudian
memeriksakan diri ke IGD keesokan harinya.
Pasien mengaku belum pernah mengalami keluhan serupa
sebelumnya dan belum pernah mondok di Rumah Sakit. Riwayat alergi
obat dan riwayat asma disangkal. Pada keluarga pasien dan tetangga
sekitar rumah pasien tidak ada yang menderita sakit serupa dengan pasien.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat mondok karena penyakit serupa (-)
- Riwayat asma (-)
- Riwayat alergi (-)
- Riwayat DM (-)
- Riwayat hipertensi (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat asma (-)
- Riwayat alergi (-)
- Riwayat DM (-)
- Riwayat hipertensi (-)

5. Riwayat Kebiasaan
- Kebiasaan olahraga : tidak teratur
- Kebiasaan merokok : (-)
- Kebiasaan alkohol : (-)

6. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah seorang perempuan berusia 40 tahun dengan status
menikah. Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien
mempunyai seorang suami bernama Tn. I berusia 43 tahun dan 2 orang
anak yang tinggal satu rumah dengan pasien. Pasien bekerja sebagai
pedagang. Pasien memiliki jaminan kesehatan BPJS.
7. Anamnesis Sistemik
Kepala : pusing (-), nggliyer (-), nyeri kepala (-), perasaan
berputar-putar (-), rambut rontok (-).
Mata : pandangan kabur (-), mata kuning (-), pandangan
dobel (-), berkunang-kunang (-)
Hidung : pilek (-), mimisan (-), hidung tersumbat (-)
Telinga : pendengaran berkurang (-), keluar cairan (-),
berdenging (-)
Mulut : mulut terasa kering (-), bibir biru (-), sariawan (-),
gusi berdarah (-), gigi berlubang (-), bibir pecah-
pecah (-)
Tenggorokan : nyeri telan (-), serak (-), gatal (-)
Respirasi : sesak (-), batuk (-), dahak (-), mengi (-)
Kardiovaskular : nyeri dada (-), pingsan (-), kaki bengkak (-),
berdebar-debar (-)
Gastrointestinal : mual (+), muntah (-), perut terasa perih (-),
kembung (-), sebah (-), nafsu makan menurun (+),
muntah darah (-), perubahan BAB (-)
Genitourinaria : BAK warna seperti teh (-), BAK warna merah (-),
nyeri saat BAK (+), rasa panas saat BAK (+),
sering kencing malam hari (-).
Muskuloskeletal : lemas (+), nyeri otot (-), nyeri sendi (-),kesemutan
(-).
Extremitasatas : pucat (-/-), kebiruan (-/-), bengkak(-/-), luka (-/-),
terasa dingin (-/-)
Ekstremitas bawah : pucat (-/-), kebiruan (-/-), bengkak (-/-), luka (-/-),
terasa dingin (-/-)
Kulit : kering (-), gatal (-), luka (-), pucat (-), kuning (-),
kebiruan (-), keringat malam hari(-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : compos mentis, tampak sakit sedang.
Status gizi : BB = 50 kg
TB = 155 cm
BMI = 20,8
Kesan : status gizi kesan normoweight
Tanda vital :
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 76 x/menit, reguler, isi cukup
c. Respirasi : 18 x/menit
d. Suhu : 38,5ºC (per axiller)
Kulit : warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-),
venectasi (-), spider naevi (-), turgor menurun (-)
Kepala : bentuk mesocephal, luka (-), rambut warna hitam
dengan sedikit uban, mudah rontok (-)
Mata : cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-
), reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm),
oedem palpebra (-/-)
Telinga : sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-)
Hidung : napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-)
Mulut : bibir kering (-), sianosis (-), stomatitis (-), mukosa
pucat (-), gusi berdarah (-), lidah kotor(-)
Tenggorokan : tonsil hipertrofi (-), faring hiperemis (-)
Leher : simetris, trachea di tengah, JVP tidak meningkat
(5+2), KGB servikal membesar (-), tiroid membesar (-
), nyeri tekan (-)
Thorax : normochest, simetris, retraksi interkostal (-), spider
nevi (-), pernapasan tipe thoraco-abdominal, SIC
melebar (-)
Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
Palpasi : Ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas jantung
Batas jantung kanan atas : SIC II LPSD
Batas jantung kanan bawah : SIC IV LPSS
Batas jantung kiri atas : SIC II LPSS
Batas jantung kiri bawah : SIC V LMCS
Kesan :batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : HR : 76 kali/menit, ireguler, BJ I-II
murni, intensitas normal, reguler, bising (-)
Paru : Depan
Inspeksi : simetris statis dan dinamis
Palpasi : fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), ST (-/-)
Belakang
Inspeksi : simetris statis dan dinamis
Palpasi : fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultas : suara dasar vesikuler (+/+), ST (-/-)
Abdomen : Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
Auskultasi : peristaltik usus melemah
Perkusi : timpani, acites (-), pekak alih (-)
Palpasi : supel, nyeri ketok costovertebral
(+/-), hepar dan lien tidak teraba, nyeri titik mc
burney (-)
Extremitas Atas : pitting edem (-/-), akral dingin (-/-), luka (-/-),
clubbing finger (-/-), spoon nail (-/-)
Ekstremitas Bawah : pitting oedem (-/-), akral dingin (-/-), luka(-/-),
clubbing finger (-/-), spoon nail (-/-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
1. Laboratorium
15-8-17 Hasil Rujukan Satuan
Hb 13,2 12-16 g/dl
HCT 40,1 38-47 
RBC 4,5 4,2-5,4 106/l
WBC 16,1 4,5-11 103/l
AT 348 150-440 103/l
GD B
GDS 105 <110 mg/dL
Ureum 45 10-50 mg/dL
Cr 1 0,6-1,1 mg/dL

2. Foto Rontgen Thoraks


Kesan: Cor an Pulmo dalam batas normal

E. RESUME
Pada anamnesa diketahui: Seorang pasien datang ke IGD dengan
keluhan nyeri daerah pinggang kanan. Nyeri dirasakan kira-kira 4 hari
sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Nyeri terasa semakin hari semakin
memberat sampai mengganggu aktivitas. Terasa enakan saat istirahat.
Pasien mengeluh juga nyeri ketika berkemih yang disertai dengan
peningkatan frekuensi berkemih, dan perasaan panas diakhir berkemih.
Pasien juga mengeluhkan demam, mual, dan nafsu makan menurun. Pada
pagi hari saat pasien beraktivitas, pasien merasa nyeri daerah pinggang
kanan, tetapi pasien tidak memeriksakan diri ke dokter dan tidak
meminum obat. Hari kedua, pasien merasa tidak enak badan, demam, dan
berkemih disertai nyeri dan semakin sering dengan volume sedikit-sedikit.
Kemudian pasien memeriksakan diri ke dokter dan beristirahat di rumah.
Hari ketiga, pasien merasa nyeri daerah pinggang kanan memberat dan ada
nyeri berkemih disertai panas ketika berkemih semakin memberat,
frekuensi berkemih semakin sering serta demam sampai menggigil, pasien
merasa mual juga. Pasien kemudian memeriksakan diri ke IGD keesokan
harinya.
Pada anamnesa sistem dan pemeriksaan fisik diperoleh keterangan:
nyeri daerah pinggang kanan (+), suhu 38,50C, mual (+), nafsu makan
menurun (+), nyeri saat BAK (+), lemas (+), nyeri ketok
costovertebral kanan (+). Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
peningkatan leukosit 16,1103/l.

F. DIAGNOSIS BANDING
- Pielonefritis akut ren dextra
- Apendisitis akut
- Cystitis
- Uretritis
- Ureteritis

G. DIAGNOSIS
Pielonefritis akut ren dextra

H. TUJUAN PENGOBATAN
1. Untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah.
2. Memperbaiki kondisi pasien.
3. Mencegah kekambuhan.

I. PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
a. Rawat Inap
b. Edukasi untuk menjalani perawatan rumah sakit hingga kondisi
membaik.
c. Edukasi mengenai cara membersihkan alat kelamin dengan benar
untuk mencegah infeksi berulang maupun infeksi baru.
d. Konsumsi makanan yang bergizi dan minum minimal 8 gelas sehari.
2. Medikamentosa
a. Infus NaCl 0,9% 20 tpm
b. Diet TKTP 1700kkal
c. Injeksi Ceftriaxone 1 x 1000mg selama 3 hari
d. Paracetamol tablet 3 x 500mg bila demam
e. Injeksi Metoclopramid 1 x 10mg

Penulisan resep:
R/ Natrium Chlorida 0,9% inf fl No.III
Cum Infus set No. I
IV catheter no.20 No. I
∫ imm 20 tpm intravena

R/ Ceftriaxone inj mg 1000 vial No. I


Cum dispossible syringe cc 10 No. I
Cum dispossible syringe cc 1 No. I
Aquabidest cc 10 No. I
∫ imm intravena

R/ Paracetamol tab mg 500 No X


∫ prn (1-3) dd tab I aggr Febr

R/ Metoclopramide inj mg 10 No. I


Cum dispossible syringe cc 3 No.I
∫ imm intravena

Pro : Ny. W (40 th)

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada dasarnya prinsip terapi pasien neurodermatitis adalah dengan


pemberian obat steroid topikal dimana potensi obat disesuaikan dengan derajat
inflamasi, selain itu bisa ditambahkan antihistamin baik yang sedatif ataupun
tidak. Prinsip ini merujuk pada pedoman tatalaksana neurodermatitis yang ada
dalam PPK PERDOSKI tahun 2017.
Pada pasien ilusrasi tersebut diberikan klobetasol propionat 0,05%,
merupakan Antibiotik yang digunakan adalah ceftriaxone, yaitu golongan
sefalosporin broad-spectrum yang banyak tersedia di rumah sakit dengan sediaan
parenteral. Dosis yang digunakan adalah 1000 mg dengan interval 12 jam. Berikut
adalah daftar antibiotik parenteral yang dapat digunakan untuk terapi ISK.
Tabel 3.1. Obat parenteral pada ISK atas akut berkomplikasi

2.7.3 KOMPOSISI
Tiap vial Ceftriaxone mengandung ceftriaxone sodium setara dengan
ceftriaxone 1 gram.
2.7.4 FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin. Ceftriaxone mempunyai
spektrum luas dan waktu paruh eliminasi 8 jam. Ceftriaxone efektif terhadap
mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Ceftriaxone juga sangat stabil
terhadap enzim beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri.
2.7.5 INDIKASI
Indikasi Ceftriaxone adalah infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh
bakteri gram positif maupun gram negatif yang resisten atau kebal terhadap
antibiotika lain :
 Infeksi saluran pernapasan
 Infeksi saluran kemih
 Infeksi gonore
 Sepsis
 Meningitis
 Infeksi tulang dan jaringan lunak
 Infeksi kulit
2.7.6 KONTRAINDIKASI
Hipersensitif terhadap Ceftriaxone atau sefalosporin lainnya.
2.7.7 CARA PENGGUNAAN
Injeksi intravena dan intramuskuler.
2.7.8 EFEK SAMPING
 Gangguan pencernaan : diare, mual, muntah, stomatitis, glositis.
 Reaksi kulit : dermatitis, pruritus, urtikaria, edema, eritema multiforma,
dan reaksi anafilaktik.
 Hematologi : eosinofil, anemia hemolitik, trombositosis, leukopenia,
granulositopenia.
 Gangguan sistem syaraf pusat : sakit kepala.
 Efek samping lokal : iritasi akibat dari peradangan dan nyeri pada tempat
yang diinjeksi.
 Gangguan fungsi ginjal : untuk sementara terjadi peningkatan BUN.
 Gangguan fungsi hati : untuk sementara terjadi peningkatan SGOT atau
SGPT.
2.7.9 PERINGATAN DAN PERHATIAN
 Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar
plasma obat perlu dipantau.
 Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil (khususnya trimester I).
 Tidak boleh diberikan pada neonatus (terutama prematur) yang
mempunyai resiko pembentukan ensephalopati bilirubin.
 Pada penggunaan jangka waktu lama, profil darah harus dicek secara
teratur.

A. PARACETAMOL
1. FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
 Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang mempunyai efek
mengurangi nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik).
Parasetamol mengurangi nyeri dengan cara menghambat impuls/rangsang
nyeri di perifer. Parasetamol menurunkan demam dengan cara
menghambat pusat pengatur panas tubuh di hipotalamus.
 Paracetamol (parasetamol) sering digunakan untuk mengobati berbagai
penyakit seperti sakit kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi, flu dan
demam. Parasetamol mempunyai efek mengurangi nyeri pada radang
sendi (arthritis) tapi tidak mempunyai efek mengobati penyebab
peradangan dan pembengkakan sendi.
2. INDIKASI
 Mengurangi nyeri pada kondisi : sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, nyeri
pasca operasi minor, nyeri trauma ringan.
 Menurunkan demam yang disebabkan oleh berbagai penyakit. Pada
kondisi demam, paracetamol hanya bersifat simtomatik yaitu meredakan
keluhan demam (menurunkan suhu tubuh) dan tidak mengobati penyebab
demam itu sendiri.
3. KONTRAINDIKASI
 Parasetamol jangan diberikan kepada penderita hipersensitif/alergi
terhadap Paracetamol.
 Penderita gangguan fungsi hati berat.
4. PERINGATAN DAN PERHATIAN
 Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak
menghilang, segera hubungi Unit Pelayanan Kesehatan.
 Gunakan Parasetamol berdasarkan dosis yang dianjurkan oleh dokter.
Penggunaan paracetamol melebihi dosis yang dianjurkan dapat
menyebabkan efek samping yang serius dan overdosis.
 Hati-hati penggunaan parasetamol pada penderita penyakit hati/liver,
penyakit ginjal dan alkoholisme. Penggunaan parasetamol pada penderita
yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan fungsi
hati.
 Hati-hati penggunaan parasetamol pada penderita G6PD deficiency.
 Hati-hati penggunaan parasetamol pada wanita hamil dan ibu menyusui.
Parasetamol bisa diberikan bila manfaatnya lebih besar dari pada risiko
janin atau bayi. Parasetamol dapat dikeluarkan melalui ASI namun efek
pada bayi belum diketahui pasti.
5. EFEK SAMPING
 Mual, nyeri perut, dan kehilangan nafsu makan.
 Penggunaan jangka panjang dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan
hati.
 Reaksi hipersensitivitas/alergi seperti ruam, kemerahan kulit, bengkak di
wajah (mata, bibir), sesak napas, dan syok.

B. METOCLOPRAMIDE
1. FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
Metoclopramide secara cepat diabsorbsi di saluran cerna. Konsentrasi puncak
plasma dicapai dalam wakti 1-2 jam setelah pemberian oral. Waktu paruh
eliminasi obat ini adalah 5-6 jam. Metabolisme obat ini di hati sedikit sekali
dan dieksresikan melalui ginjal serta ditemukan di urin kurang lebih 20% dari
total bersihan dalam bentuk utuh.
2. INDIKASI
Gangguan lambung-usus, mabuk perjalanan, mual di pagi hari pada wanita
hamil, mual dan muntah yang diinduksi oleh obat, anoreksia (kehilangan nafsu
makan), aerofagi (penelanan udara), ulkus peptikum, stenosis pilorik (ringan),
dispepsia, nyeri pada ulu hati, gastroduodenitis, dispepsia setelah gastrektomi,
endoskopi dan intubasi.
3. KONTRAINDIKASI
Penyumbatan usus, feokromositoma, epilepsi.
4. PERINGATAN DAN PERHATIAN
Anak-anak dan remaja, wanita hamil dan menyusui, diabetes, depresi, pasien
yang menggunakan obat-obat lain yang bisa juga menyebabkan reaksi
ektrapiramidal.
Interaksi obat :
• Efek diantagonis oleh antikolinergik dan analgetik narkotik.
• Sedasi meningkat dengan depresan susunan saraf pusat.
• Absorpsi obat-obat (Digoksin, Simetidin) bisa terganggu dan absorpsi dari
usus kecil meningkat (Parasetamol, Tetrasiklin, Levodopa).
• Kebutuhan Insulin mungkin berubah akibat perubahan waktu pengantaran
makanan ke usus.

5. EFEK SAMPING
Reaksi ekstrapiramidal, pusing, kelelahan, mengantuk, sakit kepala, depresi,
kegelisahan, gangguan lambung-usus, hipertensi.
BAB IV
PENUTUP

 Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis, tubula dan
jaringan interstisiel. Penyakit ini sering terjadi akibat infeksi oleh bakteri
yang telah menyebar dari kandung kemih ke ureter dan ginjal akibat refluks
vesikouretral. Penyebab lain pielonefritis mencakup obstruksi urine atau
infeksi, trauma, infeksi yang berasal dari darah, penyakit ginjal lainnya,
kehamilan, atau gangguan metabolik
 Gambaran klinis klasik dari pielonefritis adalah demam tinggi dengan disertai
menggigil, nyeri di daerah perut dan pinggang, disertai mual dan muntah.
Kadang-kadang terdapat gejala iritasi pada buli-buli, yaitu berupa disuri,
frekuensi, atau urgensi
 Prognosis pasien dengan pielonefritis akut, pada umumnya baik dengan
penyembuhan 100% secara klinik maupun bakteriologi bila terapi antibiotika
yang diberikan sesuai. Bila terdapat faktor predisposisi yang tidak diketahui
atau sulit dikoreksi, maka 40% pasien PNA dapat menjadi kronik atau PNK.
Pada pasien PNK yang didiagnosis terlambat dan kedua gginjal telah
mengisut, pengobatan konservatif hanya semata-mata untuk mempertahankan
faal jaringan ginjal yang masih utuh. Dialisis dan transplantasi dapat
merupakan pilihan utama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II. Edisi V. Jakarta: Jakarta: Pusat Penerbit IPD FK UI;
2009.

2. Djuanda, S., dan Sri A., 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin,
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
3. Harahap, M., Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates : Jakarta.2007 Siregar, R.
S., 2008. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Ed 2., EGC : Jakarta

4. Brown R.G, Burns T. 2005. Liken Simplek Kronik dan Prurigo. Lecture
Notes On Dermatology. Ed 8. Jakarta : Penerbit Erlangga

5. Susan Burgin, MD. 2008. Numular Eczema and Lichen Simplex


Chronic/Prurigo Nodularis. Dalam: Fitzpatrick TB, Eizen AZ, Woff K,
Freedberg IM, Auten KF, penyunting: Dermatology in general medicine,
7th ed, New York: Mc Graw Hill

6. Odom RB, James WD, Berger TG. 2000. Atopic dermatitis, eczema,
and noninfectious immunodeficiency disorders. Dalam: Andrew’s
Diseases of The Skin: Clinical Dermatology. 9th ed. Philadelphia:
WBSaunders

7. C.A. Holden & J. Berth-Jones. Lichen Simplex Chronic. Dalam: Rook’s Text
Book of Dermatology. Blackwell Publishing. 2004:17.41-17.43.