Anda di halaman 1dari 20

Halaman Pengesahan

Laporan Terapi Modalitas Keperawatan Gerontik

TERAPI MODALITAS PADA LANJUT USIA DENGAN RHEMATOID ARTRHITIS


BALAI PELAYANAN DAN PENYANTUNAN LANJUT USIA PAGAR DEWA
Jl. Adam Malik No. 09

Laporan Terapi Modalitas Keperawatan Gerontik ini diajukan sebagai bagian dari persyaratan
pendidikan Akademik Keperawatan Gerontik di Prodi. Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan
Universitas Dehasen Kota Bengkulu
Anggun Permata Sari
Anisah Fitri
Ayu Sih Samasta Bhuana
Hikma Sari
Irawan Ikin Gustian
Levi Marlina
Maharani Nurul Fradila
Marliza Susanti

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal, Januari 2018


Ns. Murwati, S.Kep, M.Kes ( )

Ns. Mirawati, S.Kep ( )


BAB I
DASAR PEMILIHAN TERAPI
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan pemerintag dalam pembangunan nasional, telah
mewujudkan hasil yang positif diberbagai bidang, yitu adanya kemajuan ekonomi,
perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di
bidang medis atau ilmu kedokteran sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan
penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya penduduk yang
usia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat. Sehingga istilah huby boom
pada masa lalu berganti menjadi “ledakan penduduk usia lanjut” (Nugroho, 2000).
Badan pusat statistik menunjukan bahwa populasi penduduk lansia di Indonesia
pada tahun 2017 sebesar 20,24 juta dari keseluruhan jumlah penduduk. Sedangkan
jumlah penduduk lansia di propinsi Bengkulu pada tahun 2017 telah mencapai 894.934
orang atau ada sekitar 6,89% dari jumlah perempuan adalah 48,84 berbanding 51,16.
Bengkulu termasuk propinsi yang memasuki era penduduk berstuktur tua (aging
population), yaitu suatu propinsi dengan proporsi penduduk lansianya telah telah berada
pada patokan penduduk berstruktur tua (yakni 7% atau lebih penduduk tua). Di Bengkulu
di dirikan beberapa panti mengingat banyaknya jumlah lansia yang ada. Salah satunya
yaitu Balai Pelayanan Dan penyantunan Lanjut usia Pagar Dewa.
Usia lanjut atau lanjut usia bukanlah merupakan suatu penyakit, meskipun hal
tersebut dapat menimbulkan masalah social. Di beberapan Negara, terutama di Negara-
negara maju umur harapan hidup telah bertambah panjang sehingga warga-warga yang
berusia lebih dari 65 tahun juga bertambah. Adanya peningkatan jumlah penduduk usia
lanjut tersebut menyebabkan perlunya perhatian pada para lansia agar lansia tidak hanya
umur panjang, tetapi juga dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia serta
meningkatkan kualitas hidup mereka.
Tanda-tanda masa tua disertai dengan adanya kemunduran-kemunduran
kemampuan kerja panca indera, gangguan fungsi alat-alat tubuh, perubahan psikologi
serta adanya berbagai penyakit. Dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada lansia
banayak pula masalah kesehatan yang dihadapi.
Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada 15-18 januari 2018 diketahui bahwa
jumlah lansia di Panti Tresna Wherda Pagar Dewa Kota Bengkulu 60 lansia. Dari jumlah
lansia tersebut, terdapat sebanyak 34,5 % lansia yang menderita Rematik. Untuk
mempertahankan kesehatan lansia-lansia tersebut perlu adanya upaya-upaya baik bersifat
perawatan, pengobatan, pola hidup sehat dan juga upaya lain seperti senam lansia.
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, kelompok tertarik untuk mengajarkan
dan mendemostrasikan senam lansia dengan Rematik untuk mencegegah peningkatan
reproduksi asam urat .
1.2 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap pengumpulan data tentang individu, keluarga, dan
kelompok yang sistematis. Pengkajian yang dilakukan untuk mengetahui status
kesehatan, ketidakmampuan fungsional, kekuatan, keterbatasan, ketidakmampuan koping
terhadap stress, dan juga harapan. Pegumpulan data dapat dilakukan dengan metode
wawancara, observasi sistematis, pengkajian fisik, data laboratorium dan diagnostik
(Haryanto, 2007).
Pengkajian yang dilakukan pada 60 Lansia di Balai Pelayanan Dan Penyantunan
Lanjut Usia Pagar Dewa dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan
pengkajian fisik. Data yang diperoleh mengenai masalah kesehatan yang banyak dialami
oleh lansia di ruangan mandiri antara lain kejenuhan, hipertensi, penyakit kulit, rematik
dan psikososial. Presentasi hasil survey terhadap masalah kesehatan lansia mandiri yang
kami dapatkan yaitu, 35,5% kejenuhan, 26,4% hipertensi, 22,2% rematik, 8% masalah
kulit, dan 7,9% masalah psikososial. Dari kelima masalah kesehatan yang telah kami
dapatkan, baru masalah kejenuhan dan hipertensi yang sudah sering diberikan terapi
sedangkan rematik, masalah kulit dan psikososial masih belum begitu mendapatkan
perhatian dan terapi khusus. Untuk itu, kami mengambil masalah kesehatan lansia dengan
rematik untuk diberikan terapi modalitas karena masalah rematik didapatkan presentasi
yang lebih besar di antara masalah lain yang belum pernah dilakukan terapi modalitas.
Data mengenai masalah rematik diperoleh dengan metode wawancara dengan
menggunakan pertanyaan terbuka. Masalah atau keluhan yang sering dialami oleh lansia
terkait dengan gejala rematik yaitu nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta
adanya pembengkakan sendi dan gangguan gerak. Menurut Purwostuti (2009) Reumatik
dapat mengakibatkan perubahan otot hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada
bagian yang menderita tidak dilatih untuk mengaktifkan fungsi otot, untuk itu maka perlu
dilakukan terapi aktivitas kelompok untuk melatih otot-otot yang mengalami penurunan
fungsi pada lansia tersebut.
1.3 Jenis Terapi yang Akan Diberikan
1. Jenis Terapi
Jenis terapi yang akan dilakukan pada lansia yang mengalami rematik adalah jenis
terapi okupasi
2. Tujuan
Terapi okupasi bertujuan untuk memperbaiki, memperkuat, meningkatkan
kemampuan, serta meningkatkan derajat kesehatan
3. Manfaat
Terapi okupasi yang akan dilakukan yaitu dengan aktivitas yang merangang
edukasional lansia, adapun edukasi yang akan dilakukan yaitu dengan mengajarkan
gerakan-gerakan senam rematik. Diharapkan dengan aktivitas ini dapat bermanfaat
bagi lansia untuk mengatasi keluhan gejala rematiknya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Rematik


1. Pengertian Rematik
Rematik adalah penyakit yang sudah sangat familiar di telinga kita. Banyak
orang pernah mengeluhkan tentang penyakit yang biasanya diawali dengan gejala sakit
pada bagian persendian, tetapi tidak cukup mengetahui bahwa rematik bisa membuat
kecacatan (morbiditas), ketidakmampuan (disabilitas), menurunkan kualitas hidup, dan
meningkatan beban ekonomi penderita maupun keluarga.
Tulang pada tubuh manusia dilindungi oleh tulang rawan yang berfungsi untuk
menjaga agar tidak terjadi gesekan antartulang, misalnya saat kita berjalan, berjongkok,
dan melompat, tulang rawan beserta cairan sendi akan meredam benturan antartulang.
Struktur sendi terdiri dari tulang rawan, cangkang sendi, dan jaringan sekitar sendi. Jika
tulang rawan mengalami gangguan, maka akan timbul keluhan pada sendi-sendi yang
berperan pada aktivitas tersebut. Sendi berfungsi melindungi ujung tulang dari kerusakan
dan kehausan, menahan beban, dan meredam kejutan pada saat ada gerakan berulang.
2. Etiologi
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
1. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah yang
terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan akibat penuaan saja.
Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan eprubahan pada
osteoartritis.
2. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi. Sedangkan laki-laki lebih
sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan,
dibawah 45 tahun, frekuensi psteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki dan
wanita, tetapi diats usia 50 tahunh (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih
banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
patogenesis osteoartritis.
3. Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing suku bangsa. Hal
ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.
4. Genetik
Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks
histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif.
Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relative 4 : 1 untuk menderita penyakit ini.
5. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk
timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak
hanya berkaitan dengan oateoartritis pada sendi yang menanggung beban berlebihan,
tapi juga dnegan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Olehkarena itu
disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis),
diduga terdapat faktor lain (metabolit) yang berpperan pada timbulnya kaitan
tersebut.
6. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan
dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Olahraga yang sering menimbulkan
cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
7. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya
oateoartritis paha pada usia mudah
8. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya
osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak
membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi.
Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.
3. Gejala Rematik
Tanda dan gejala yang timbul akibat peradangan adalah merah, panas, sakit, dan
bengkak. Gejala-gejala ini timbul sabagai akibat peningkatan pereradara/aliran darah di
tempat reaksi peradangan, kemudian terjadi perpindahan cairan dari pembuluh darah ke
jaringan sekitarnya. Panas dan merah disebabkan karena peningkatan aliran darah,
sedangkan pembengkakan disebabkan karena adanya perpindahan cairan dari pembuluh
darah ke jaringan sekitar. Apabila tempat yang bengkak ditekan akan terasa sakit.
Gejala utama rematik biasa terjadi pada otot dan tulang, termasuk didalamnya
sendi dan otot sendi. Gangguan nyeri yang terus berlangsung menyebabkan aktivitas
sehari-hari terhambat. Menurut American Rheumatism Association pada tahun 1987,
gejala khas artritis reumatoid adalah sebagai berikut:
a. Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya, selama 1 jam sebelum
perbaikan maksimal.
b. Rasa nyeri dan pembengkakan pada persendian pada sekurang-kurangnya tiga sendi
secara bersamaan.
c. Pembengkakan sekurang-kurangnya pada satu persendian tangan.
d. Pembengkakan pada kedua belah sendi yang sama.
e. Nodul rhematoid (benjolan)di bawah kulit pada benjolan tulang.
f. Pada pemeriksaan darah terdapat titer abnormal faktor rematoid kurang dari 5 %.
g. Pada pemeriksaan radiologis pada pergelangan tangan yang lurus menunjukkan
adanya erosi yang berlokasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi.
4. Penanganan Rematik
Untuk mengatasi arthritis rematoid, ada beberapa jenis obat yang diberikan.
Beberapa hanya menangani tanda dan gejalanya yang lain bertujuan untuk memodifikasi
perjalanan penyakit dan dampak negatif dari efek sistemik arthritis rematoid, seperti
kelelahan dan anemia. Pengobatan saat ini antara lain :
1. Obat biologis
Ini adalah obat rekayas genetika yang mentargetkan penanda permukaan sel tertentu
atau substansi di pengantar sistem kekebalan tubuh yang disebut sitokin yag
diproduksi sel untuk mengatur sel-sel lain selama respon inflamasi. Contoh sitokin
spesifik yang menjadi target obat biologis adalah IL-6
2. Desease Modifying Anti Drug (DMARDs)
Ini adalah obat imunosupresif tidak spesifik yang dimaksudkan unutk memerangi
tanda-tanda dan gejala arthritis rematoid dan memperlambat kerusakan sendi yang
progresif. Pengobatan ini sering digunakan dalam kombinasi satu sama lain atau
dalam kombinasi dengan agen biologi untuk meningkatkan respon pasien.
3. Kortikosteroid
Ini adalah obat anti inflamasi yang berhubungan dengan cortisolsteroid yang
diproduksi secara alami di dalam tubuh yang bekerja untuk memerangi peradangan.
Namun, efek samping penggunaan glukokortikoid yang meliputi hiperglikemia,
osteoporosis, hipertensi, berat badan, katarak, masalah tidur, kehilangan otot, dan
kerentanan terhadap infeksi, membatasi penggunaannya.
4. Obat anti-inflamasi anti steroid (NSAID)
Ini mengelola tanda-tanda dan gejala arthritis rematoid, seperti mengurangi rasa sakit,
bengkak, dan peradangan tetapi tidak mengubah perjalanan perburukan penyakit atau
memperlambat perkembangan dari kerusakan sendi.
5. Cara Mengatasi Rematik
Setiap orang dapat dengan mudah mendeteksi gejala rematik, dari nyeri di
persendian akibat trauma atau bukan, kaki menjadi sakit jika terkilir, bahkan mudah
nyeri dan panas. Tindakan paling pertama yang dapat dilakukan jika muncul gejala
seperti ini adalah mengompres bagian tubuh yang sakit menggunakan es. Jika saat
bangun tidur pada pagi hari gejala tersebut baru muncul, tindakan paling awal yang
bisa dilakukan adalah mengompres bagian yang sakit dengan jahe hangat atau minyak
gosok. Bisa pula cukup dengan melakukan gerakan-gerakan tertentu, seperti
menggoyang-goyangkan badan atau bagian tubuh yang sakit tersebut.
Lain hal nya dengan rematik karena peningkatan kadar asam urat dalam darah
(penyakit asam urat), tindakan paling awal yang wajib dilakukan adalah melakukan
perencanaan makan yang baik, yakni makanan yang dikonsumsi harus rendah purin.
Selain itu, mengupayakan untuk selalu berolahraga dan menerapkan pola hidup yang
teratur.
Mendiagnosis gejala tersebut secara mendalam bisa dilakukan dengan cara
memeriksa dan meneliti fisik orang yang diduga menderita, yakni dengan memeriksa:
 Kulit dan kuku
 Tulang punggug dan lengkungan-lengkungan
 Gerakan setiap persendian
 Bagian siku, punggung tangan, tumit belakang, dan bagian sacrum (tulang duduk)
tubuh
Agar lebih pasti, jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut segeralah
memeriksakan tubuh ke laboratorium. Di tempat ini biasanya akan dilakukan analisis
faktor reumatoid, antibodi antinuklear (ANA), dan asam urat rendah. Saat ini, selain
dari kepastian laboratorium, kedokteran juga telah menemukan cara anallisis baru
untuk mendeteksi penyakit rematik, yaitu melalui diagnosis radiologik dan cairan
sendi dengan alat yang serba canggih.

2.1 Prinsip Senam Reumatik


1. Prinsip Pertama: Latihan Pernapasan
Duduklah dengan nyaman dan tegakkan punggung Anda. Tarik napas melalui
hidung hingga tulang rusuk terasa terangkat dan hembuskan napas melalui mulut seperti
meniup lilin (untuk mengeceknya: letakkan tangan Anda pada bagian dada). Latihan ini
sangat berguna untuk mengurangi rasa nyeri saat rematik datang. Lakukan secara
kontinu, minimal 4 set dengan istirahat antar set 1-2 menit.
2. Prinsip Kedua: Pemanasan
Cara melakukan : Sebelum berlatih, Anda dianjurkan untuk melakukan
pemanasan selama 5-10 menit. Pemanasan dalam senam rematik atau senam sakit sendi
ini dapat dilakukan dengan berjalan atau bersepeda santai, atau dengan peregangan
ringan.
3. Prinsip Ketiga: Latihan Persendian
Beberapa contoh latihan berikut sangat cocok untuk melatih beberapa titik sendi
Anda, adalah sebagai berikut :
Sendi Leher. Cara melakukan : Tegakkan kepala Anda. Putar kepala ke kanan perlahan
lahan hingga kembali ke posisi awal. Lanjutkan dengan memutar kepala ke kiri secara
perlahan-lahan hingga kembali ke posisi awal. Lakukan secara berulang.
Sendi Bahu. Cara melakukan : Berbaringlah dengan nyaman dengan posisi lengan rileks
di samping tubuh Anda. Angkat lengan kanan secara perlahan ke arah samping menjauhi
tubuh Anda, kemudian kembalikan pada posisi semula. Ulangi gerakan yang sama untuk
lengan kiri Anda. Lakukan secara bergantian antara lengan kiri dan kanan. Mulailah
dengan posisi siku ditekuk ke arah samping dan posisi telapak tangan menyentuh bahu.
Gerakkan kedua siku Anda ke arah depan, hingga kedua siku saling menyentuh.
Lanjutkan dengan menggerakkan siku hingga kembali ke posisi awal. Rasakan dada Anda
tertarik ketika menarik siku kembali ke posisi awal.

Sendi Pinggul. Cara melakukan : Berbaringlah dengan nyaman dengan posisi ujung
tumit menempel. Jauhkan kaki kanan Anda secara perlahan dari tubuh, lalu
kembalikkan ke posisi awal. Lakukan secara bergantian antara kaki kanan dan kiri.

Pergelangan Kaki. Cara melakukan : Putar pergelangan kaki kanan searah jarum jam
secara perlahan kemudian lakukan arah sebaliknya (berlawanan jarum jam). Lakukan
secara bergantian antara pergelangan kaki kanan dan kiri.
Pergelangan Tangan. Cara melakukan : Tekuk jari–jari tangan Anda, putar
pergelangan tangan Anda searah jarum jam dan kemudian berlawanan dengan jarum
jam.
Ruas Jari. Cara melakukan : Sentuh tiap jari-jari tangan Anda dengan ibu jari. Ulangi
hingga 5 kali.

a. Latihan Kekuatan.
Latihan ini bertujuan untuk melatih otot. Dilakukan sebanyak 3–5 set, dengan
istirahat antar set selama 1-2 menit. Ada beberapa latihan kekuatan dalam senam
rematik atau senam sakit sendi, antara lain :
Seated cross legged press. Cara melakukan : Duduklah pada kursi yang diganjal
bantal. Silangkan pergelangan kaki kanan di atas pergelangan kaki kiri. Tekan
kaki kanan ke kaki kiri, dan di saat bersamaan, tekan kaki kiri maju melawan kaki
kanan Anda. Tahan posisi ini selama 3-6 detik, lalu lepaskan. Ulangi dengan
posisi pergelangan kaki kiri di atas pergelangan kaki kanan.

Pelvic tilt. Cara melakukan : Berbaringlah dengan lutut ditekuk dan telapak kaki
menyentuh lantai. Angkat panggul dari lantai dengan punggung atas dan tengah
serta tangan tetap menyentuh lantai. Rasakan adanya kontraksi pada pantat dan
perut Anda. Tahan posisi ini beberapa detik, sambil mengambil napas dalam-
dalam dan perlahan.

Rubber band . Cara melakukan : Taruh karet gelang di kelima jari tangan Anda.
Rentangkan jari-jari Anda selebar yang Anda bisa. Perlahan lepaskan tekanan dari
karet gelang tersebut dan kembali ke posisi awal.

b. Latihan Peregangan
Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas sendi dan otot. Untuk sesi
ini, Anda dapat menggunakan iringan musik lembut untuk membangun suasana
rileks.
BAB III
PERENCANAAN TERAPI MODALITAS

Pokok Bahasan : Terapi Klien dengan Rematik


Sub Pokok Bahasan : Senam Rematik
Hari/tanggal : Jumat, 19 Januari 2018
Jam : 09.30-11.30 WIB
Tempat : Aula Panti Tresna Wherda Padang Harapan Kota Bengkulu
Sasaran : Lansia dengan keluhan rematik
3.1 Tujuan
1. Tujuan Umum
Klien mampu melakukan senam reumatik dengan baik
2. Tujuan Khusus
a. Pasien mampu melakukan senam reumatik secara mandiri
b. Nyeri sendi berkurang setelah melakukan senam reumatik.
3.2 Sasaran
Berdasarkan pengamatan dan kajian status klien maka sasaran klien yang dilibatkan
dalam terapi aktivitas kelompok ini adalah klien dengan masalah nyeri sendi, berjumlah
10 orang.
3.3 Metode
Metode yang digunakan demonstrasi dan redemonstrasi
3.4 Strategi pelaksanaan
1. Deskripsi struktur kelompok
a. Leader dan Co leader
 Memimpin acara; menjelaskan tujuan dan hasil yang diharapkan.
 Menjelaskan peraturan dan membuat kontrak dengan peserta
 Memberikan motivasi kepada peserta
 Mengarahkan acara dalam pencapaian tujuan
 Memberikan reinforcemen positif terhadap peserta
b. Fasilitator
 Ikut serta dalam kegiatan kelompok
 Memberikan stimulus/motivasi pada peserta lain untuk berpartisipasi aktif
 Memberikan reinforcement terhadap keberhasilan peserta lainnya
 Membantu melakukan evaluasi hasil
c. Observer
 Mengamati dan mencatat respon klien
 Mencatat jalannya aktivitas terapi
 Melakukan evaluasi hasil
d. Peserta
 Mengikuti seluruh kegiatan
 Berperan aktif dalam kegiatan
 Mengikuti proses evaluasi
2. Langkah-langkah kegiatan
a. Fase Orientasi
Waktu : 10 menit
 Salam terapeutik
 Kontrak :
Waktu : 45 menit
Tempat : Ruang Aula Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 4
Topik : Senam Reumatik
 Tujuan aktivitas : Melatih gerakan sendi para lansia agar meminimalisasi
sakit akibat nyeri sendi.
Aturan main : Setiap peserta harus memperhatikan, mengikuti dan
kemudian dapat mempraktekkan hal yang diajarkan.
b. Fase Kerja
Waktu: 30 menit
a. Menjelaskan pentingnya senam reumatik
b. Menjelaskan cara-cara melakukan senam reumatik
c. Melatih pasien mempraktekkan senam reumatik (Gerakan Terlampir)
d. Beri pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan memberi tepuk tangan
c. Fase Terminasi
Waktu: 15 Menit
Evaluasi :
1. Pemimpin TAK mengeksplorasikan perasaan anggota kelompok setelah
mempraktekkan cara mandi. Contoh: “Bagaimana perasaannya setelah
mengikuti kegiatan hari ini?”
2. Pemimpin TAK memberikan umpan balik positif pada anggota kelompok
3. Pemimpin TAK meminta anggota kelompok untuk mencoba
mempraktekkan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
3.5 Media dan Alat
a. Media : LCD, Laptop.
b. alat: Tape Radio, Mic.
3.6 Setting Tempat

Keterangan :
: Leader
: Co Leader
: Fasilitator
: Observer
: Klien
3.7 Organisasi kelompok
c. Leader : Marliza Susanti
d. Co leader : Levi Marlina
e. Fasilitator : Ayu Sih Samasta Bhuana, A nisah Fitri, Anggun Permata Sari,
dan Hikma Sari
f. Observer : Maharani Nurul Fradila
g. Dokumentasi : Irawan ikin gustian
h. Peserta : Penghuni di Panti Tresna Wherda yang menderita dan gejala
rematik.

3.8 Evaluasi dan Dokumentasi


1. Bentuk form evaluasi
Evaluasi proses dilakukan oleh observer terhadap jalannya acara dan kesesuaian
dengan tujuan yang diharapkan.
 Evaluasi Hasil ditentukan berdasarkan kriteria :
 Respon fisik dan verbal yang ditunjukkan oleh klien yang menjadi peserta TAK
Penilaian ulang respon klien akan penilaian diri dua jam setelah kegiatan oleh
observer dan fasilitator.
2. Pendokumentasian di masing-masing proses keperawatan klien
 Klien mendengarkan dan memperhatikan secara seksama dan antusias apa yang
disampaikan oleh terapis
 Klien dapat mempraktekkan dengan benar apa yang telah diajarkan
BAB V
HASIL KEGIATAN
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, diakses pada tanggal 28 Januari 2014 dari web http://gejalarematik.com/


Anonim, diakses pada tanggal 28 Januari 2014 dari web http://www.hilo.co.id/6-prinsip-senam-
rematik-sakit-sendi
Purwostuti, Th. Endang. Waspadai Gangguan Rematik. Yogyakarta: Kanisius. 2009